Category: Central Asia
-
<—-Kisah Sebelumnya Aku masih mengatur napas panjang, mencoba tenang di meja konter penjualan SIM Card. Mencoba untuk tidak panik. “I have failed to set up a SIM card with this quota five times. Or maybe, Do you want to try another type of data quota? Maybe better.” Dia menjelaskan. “No, I don’t want”, aku menukas…
-
<—-Kisah Sebelumnya Sekali lagi aku menyapukan mata dengan cermat ke segenap penjuru bangunan bandara. Pelan-pelan tatapan mataku meyelidik di setiap sudutnya. Dan akhirnya aku menemukan money changer di salah satu sudut, konter penukarannya berukuran mungil serta menjadi satu-satunya money changer yang ada di Terminal 1. Aku bergegas melangkah mendekatinya, masuk ke dalam antrian dan membuka…
-
<—-Kisah Sebelumnya Aku menarik shoulder strap kuat-kuat untuk menegakkan backpack di punggung. Maklum aku baru menginjak hari pertama petualangan, muatan backpackku masih sempurna penuh, enam koma delapan kilogram beratnya, tidak kurang, tidak pula lebih. Menatap sejenak dinding kaca bangunan terminal hingga ke setiap sudut, selanjutnya aku menaiki tangga di depan entrance gate Terminal 1 –…
-
<—-Kisah Sebelumnya Satu budaya baru dari Kawasan Asia Tengah yang kudapatkan dalam penerbangan Uzbekistan Airways HY 554 adalah cara pegungkapan respek dan rasa terimakasih segenap penumpang kepada air crew. Seluruh penumpang asal Uzbekistan tampak bertepuk tangan meriah ketika roda pesawat berhasil menyentuh landas pacu untuk pertama kalinya. Aku mengira kejadian itu hanyalah hal insidentil yang…
-
<—-Kisah Sebelumnya Aku duduk menatap ke jendela sisi kanan. Hamparan putih salju di pegunungan Revoljucii menjadi pemandangan utama di sejauh mata memandang. Keindahannya telah menyirap segenap penumpang untuk berebut menontonnya. Ketika penumpang di kolom tengah berdiri dan berseru-seru melihat keindahan alam itu, justru aku hanya duduk termangu menatap hal yang sama. “Ini sama tatkala aku…
-
<—-Kisah Sebelumnya Tepat satu setengah jam kemudian, para pramugari mulai sibuk berhilir mudik mempersiapkan inflight meal. Mereka sudah berganti pakaian, paduan baju lengan pendek dengan corak merah dan syal warna hijau menjadikan mereka tampak anggun bak model di sepanjang aisle. Mereka gesit membagikan makanan dan minuman kepada penumpang. Aku sendiri menerima satu set inflight meal…
-
<—-Kisah Sebelumnya Menjelang pukul dua belas siang, aku memasuki kabin Uzbekistan Airways HY 554. Melalu aisle sisi kanan, aku merangsek ke kabin kelas ekonomi. Bangku bernomor 32-J adalah tujuanku. Melewati kabin business class aku cukup mengagumi kemewahan Boeing 787-8 yang akan kutumpangi itu. Kuris kelas business hanya di set dengan dua tempat duduk di setiap…
-
<—-Kisah Sebelumnya Tibalah aku di depan konter imigrasi….Aku tenang. “Hi, Donny, tenanglah!.….Ini akan mudah”, aku membatin. Maka ketika sedang mengantri di salah satu line konter imigrasi, tetiba datang serombongan jama’ah umrah yang bercakap dalam Bahasa Indonesia dengan aksen Melayu. Salah satunya, yang kutebak sebagai pemimpin rombongan tampak sibuk mencari angka yang dicocokkan dengan angka di…
-
<—-Kisah Sebelumnya Usai menandaskan sarapan, maka aku mencari stop kontak untuk mengisi daya telepon pintarku. Sejak malam sebelumnya, aku menghabiskan dayanya. Beberapa stop kontak di dinding bangunan bandara tampaknya tak berfungsi dengan baik. Hingga akhirnya, aku menemukan sebuah stop kontak di salah satu sisi selasar. Tetapi aku harus berbagi dengan dua pelancong India yang sedang…
-
<—-Kisah Sebelumnya Tak sedikit dari temanku yang bertanya, “Bagaimana sih rasanya tidur di bandara, Don?”……. Ya aku jawab jujur saja ya, ga ada rasa takut sih, ya cuman faktanya aku akan sering terbangun….Ya, itulah rasa yang sebenarnya, aku tidak pernah bohong….Eh, maaf, salah…..Pernah dink. Malam itu….Aku tertidur di salah satu sisi deret bangku di Lantai…