• Arriving at Tokyo Station.

    As usual, perpetuating oneself in front of important spots in other countries was a natural habit. So before entering Tokyo Station, I took a time to pose in front of its gate. It was right in front of the “Yaeshu North Entrance”.

    “If you go to Tokyo. You rarely met people above the surface, Donny. But once you enter the underground station, Tokyo residents are like bees in it. Try to prove Donny if you don’t believe it!”, that was what an officemate said who had gone to Tokyo. I was surprised at that time.

    Now I was in Tokyo and hoping to prove it. As it turned out, a thing on the surface which people would rarely meet….That was clearly wrong. Tokyo was still a busy city in the world with high population mobility on it. Then, the “underground beehive”….Yeah, that was right. Even before I got to the bottom room, Tokyo station was full of people. Extraordinary.

    When entering station building, I prefered to stand attached to a large pole and recorded the back and forth of train passengers who were very tightly packed….. Super busy. Maybe I became the most relaxed human being that morning throughout Tokyo station because I still had time to stand for a long time recording the activities in it.

    Now was the time to hunt for train tickets. I had intended to get a one day pass so I could explore Tokyo until midnight. Queued myself at a ticketing vending machine. In the queue, I kept a close eye on how everyone operated the machine. However, when it was my turn, I still didn’t understand. All screens were full of buttons and numbers representing ticket prices. I didn’t know where that destination was. I looked back, I was annoying the queues because I was looking for tickets for too long. I gave up, I stepped back and let  other passengers who seemed very rushed with their time. I continued to stand a bit away from ticketing vending machine and watched them when using it. Still confused…. because they chose to use kanji characters.

    In the end I decided to look for the other side of station which was quieter. I found it in the left hallway. The ticketing vending machine was empty. I slowly approached, quietly and I watched carefully every button. Finally I found the “ENG” button which would lead me to use an international language. But I didn’t immediately find the word “One Day Pass”.

    I kept looking in the “Discount Card” directory and the words “Tokunai Pass” popped up. Luckily, I had read an article about Japanese railways before setting out on an adventure. In the article it was mentioned that the One Day Pass for Japan was called the Tokunai Pass. So happy I solved the problem. Oh, it turned out that it was easy. I pressed it and then paying for 750 Yen.

    Tokunai Pass.
    This might be the receipt.

    As far as I know, the Tokunai Pass ia available at all JR Line stations. And can be used to ride all local JR Line trains (within Tokyo city) whose rails are located above ground level. So it can’t be used for Tokyo Subway underground train.

    As soon as I got the ticket, I headed straight for the platform in the direction of Nakano.

    Nakano is located east of Tokyo with a distance of 15 Km and travel time by train is around 20 minutes. I purposely looked for a place to stay that was a bit far from the city center because its price was cheap.

    Platform to Nakano.
    Arriving at Nakano Station.

    I took the Chuo Line to Nakano. At 13:30 hours, I arrived at Nakano Station. And get ready to walk to Yadoya Guesthouse.

  • Aku menginjak pedal kembali. Kali ini aku akan mengunjungi Museum Kailasa karena museum ini menyimpan berbagai hal terkait Dieng, seperti catatan kehidupan masyarakat, kebudayaan, sistem kepercayaan, flora dan fauna serta sejarah Dieng.

    Museum itu hanya berjarak satu kilometer dari Hotel Gunung Mas, oleh karenanya tak perlu waktu lama bagiku untuk tiba. Hanya saja, begitu tiba, museum tampak senyap, tak satupun pintu yang nampak terbuka. Tempat parkir pun sengaja dihalangi oleh palang-palang bambu yang meyebabkanku tak bisa memarkirkan mobil.

    Menghentikan mobil di salah satu sisi Jalan Arjuna Barat, aku turun dan berusaha bertanya kepada siapapun di sekitar museum itu.

    “Oh, karena saat ini masih PPKM Level 3 jadi seluruh tempat wisata di Kabupaten Banjarnegara ditutup, Mas. Hanya tempat wisata yang terletak di Kabupaten Wonosobo saja yang buka”, begitu informasi yang kuterima dari seorang lelaki muda di area parkir museum.

    Sore itu juga, aku baru faham bahwa sebagian tempat wisata Dieng masih ditutup, tentu aku masih bisa mendapatkan tempat wisata Dieng untuk dikunjungi, yaitu tempat wisata Dieng yang dimiliki oleh Kabupaten Banjarnegara.

    Informasi itu membuatku terbengong sesaat, bertolak pinggang menatap ke arah ujung Jalan Arjuna Barat….Damn.

    Aku kembali ke balik kemudi. Tanganku lincah di layar telepon pintar demi menyortir kembali destinasi wisata yang bisa kusambangi. Dan demi menghindari kehilangan banyak waktu maka aku segera mengarahkan kemudi menuju Batu Pandang Ratapan Angin.

    Destinasi itu ada di tenggara, dua kilometer jauhnya.  Maka aku mempercepat laju mobil untuk segera sampai di sana.

    Menjelang setengah empat sore aku pun tiba di area parkir destinasi itu. Tanpa pikir panjang, aku segera memasuki area wisata. Menebus tiket dengan uang sepuluh ribu rupiah, aku mulai menanjaki lereng bukit menuju ke puncaknya.

    Aku terus menapaki tangga-tangga berbatu yang tampak disusun dengan rapi, melintasi lahan yang ditanami kentang di sepanjang jalur penanjakan. Menanjak ke atas tentu harus berbagi tangga dengan beberapa pengunjung yang turun.

    Dalam dua puluh menit aku mencapai puncak pandang. Perlu waktu lama untuk tiba di puncak karena aku tak mau terburu-buru menikmati suasana dan pemandangan yang tertampil dengan sangat indah ketika menaiki bukit.

    Tiba di bagian atas, titik pandang yang jalurnya dibuat dari panggung yang ditopang besi-besi kokoh diantara dua julangan bukit batu, aku begitu leluasa menikmati keindahan Telaga Warna dan Telaga Pengilon dari ketinggian. Paduan warna alami yang sangat sempurna tertampil di depan pandangan. Telaga Warna memendarkan warna hijau lumut sedangkan Telaga Pengilon menampilkan kejernihannya kepada segenap pengunjung Batu Pandang Ratapan Angin.

    Tanjakan pertama.
    Hampir sampai….Hufth.
    Titik pandang tertinggi.
    Dua warna berbeda….
    Canteekkknya….
    Sekoteng penangkal hawa dingin.

    Tak sedikit muda-mudi yang berlama-lama mengambil foto dengan latar belakang yang instagramable. Membuatku harus sabar menunggu dan mengantri untuk mendapatkan titik terbaik pengambilan gambar. Tentu aku pun harus berempati dengan pengunjung lain yang mengantri untuk mendapatkan sudut pandang terbaik itu. Hanya lima menit saja aku berusaha memaksimalkan diri ketika mengakuisisi posisi terbaik untuk mengambil gambar kedua telaga. Setelahnya aku memutuskan untuk turun.

    Karena aku sudah tuntas menikmati pemandangan sekitar saat menaiki bukit, maka kali ini aku dengan cepat menuruni bukit.

    Aku tiba di parkiran dan begitu tergoda dengan jajanan di kedai-kedai kuliner yang memanjang di depan area parkir. Maka untuk menghilangkan rasa penasaran itu, aku memutuskan untuk menikmati segelas Sekoteng panas. Aku membelinya dari sebuah kedai dan kemudian menikmatinya dari dalam mobil demi menghindari hawa dingin yang mulai menyelimuti kaki bukit.

    Sudah pukul empat sore ketika aku usai menikmati Sekoteng. Kufikir, sudah tak ada lagi destinasi wisata yang buka. Lebih baik aku kembali ke hotel dan bersiap untuk berwisata kuliner nanti malam.

  • I jumped from the front door and then white and slanted eyes faces were intently watching me. It was nice to be able to mingle with the middle class citiziens on the bus. I and all passengers would move towards downtown Tokyo. Then I sat down in the third row from back, right next to window pane. I was helped by the presence of an electric socket to increase my smartphone power, but unfortunately I couldn’t use the Wi-Fi.

    Bus with green and white color combination consistently emited a mixture of emissions and water vapor from its exhaust at the freezing limit of Narita’s air. The color combination of red-green name was very striking to remember that transportation mode brand which shared the same ownership with the giant private railway company in two prefectures of Chiba and Tokyo. Keisei was the name of that transportation company.

    The “Tokyo Shuttle” as the bus was called, would travel for an hour to Chiyoda District where Tokyo Station was located. Down the city streets for 65 Km, bus passed Higashi Kanto Expressway.

    Higashi Kanto Expressway in Chiba Prefecture.
    JR Bus Kanto passed by.
    Willer Express Bus which pursuit it.

    The toll road were bordered by guard rails and each segment only consists of two lanes. An ordinary inter-district toll road. Some of trees which looked barren due to dormancy became a frequent sight on this trip, leaving the finger of branches pointing at the sky.

    Meanwhile, giant sutets consistently straddled toll road, supplying electricity between cities with valor. Going further, my journey began to show wide and clean canals maintained with several low, medium and high apartments at a distance which couln’t be called close together.

    When most of the passengers fell asleep and were swallowed by bus speed, my thoughts were getting worse. I couldn’t feel the smooth stamping of driver’s gas pedal which managed to hypnotize all passengers to sleeping.

    “Will it be as easy as turning my palms when looking for a train to Nakano?”

    “How to find a button to buy a one day pass at the station later?”.

    “Can I endure stifling cold out there?”

    I was drowning in my own anxiety in whole way. Unabled to fully enjoy beautiful scenery out there. In fact that all time I had miss Japan. Hmmh….

    The shorter of distance from downton, the scenery changed. The canals which were still clean were crammed with apartment and office buildings which closely lined up along the canals. But still, everything looked neat, clean and orderly. That nation was really civilized.

    Entering Koto District, Tokyo Prefecture.
    Ariake-nishi canal.
    Heikyu River.

    I arrived at Tokyo Station and was dropped off at bus stop in the shape of a rectangle with 5 feet which placed on its two sides, on the edge of Sotobori-dori Avenue right in front of Tekko Building. I had never found any definitive directions to station gate.

    Not even looking for clues, I had been struggling against Japan’s winter air. It became even more surprising why local residents just walk around in a layer of office clothes, without gloves, without covering their heads and ears. Unliked me, who had a second layer of jacket with an additional t-shirt in first layer of my clothes, winter gloves and earmuffs. Still I trembled against the freezing temperature.

    I continued down the street without Latin clue. Until I found the first Latin writing since I got off the Tokyo Shuttle bus. “Tokyo Station”, I slowly read a large signboard above station building. “TOKYO STATION Yaesu North Entrance”.

    Let’s heading for Nakano.

    I thought I’d better get into the station and got some warmth than freeze out there.

    It was time to think about heading to Nakano.

    Video link of this trip: https://youtu.be/pwb_kv0CaeY

    Transportation from Narita International Airport to Tokyo city can also be found on 12Go or the following link: https://12go.asia/?z=3283832

  • Menjelang pukul dua siang….

    Titik air sesekali jatuh dari langit, menengadahkan muka ke atas maka aku cukup yakin bahwa hujan belum akan turun dalam waktu dekat. Aku memang berharap demikian karena masih berharap bisa mengeksplorasi Dieng hingga gelap nanti.

    Aku bergegas dengan langkah cepat menuju area parkir, menyalakan mesin kendaraan dan meninggalkan area Wisata Telaga Warna setelah menyerahkan biaya parkir sebesar Rp. 5.000 di gerbang keluar yang sekaligus berfungsi sebagai gerbang masuk ke area parkir kendaraan.

    Aku menginjak pedal menuju ke utara sejauh dua setengah kilometer demi menyelesaikan proses check-in di Hotel Gunung Mas. Hotel itu telah kupesan melalui e-commerce penginapan ternama pada dini hari sebelum keberangkatan dari ibu kota. Tak mahal, aku hanya mengeluarkan budget sebesar Rp. 190.000 untuk satu malam menginap.

    Dalam lima belas menit aku tiba. Sempitnya area parkir hotel yang persis berada di tepian Jalan Dieng, memaksaku untuk memilih tempat parkir di dalam. Hotel ini memang berbentuk Letter-O dan menyisakan lahan di bagian tengah sebagai tempat parkir.

    “Ini kuncinya. Besok pagi dapat sarapan ya, Mas Donny”, begitulah resepsionis pria setengah baya menjelaskan ketika aku check-in.

    Menyelesaikan administrasi di lobby akhirnya aku mendapatkan kamar untuk menaruh segenap perlengkapan.

    Aku mendapatkan kamar yang cukup sederhana. Ranjang kayu nan lebar dengan sebuah almari kecil setinggi pinggang beserta sebuah jemuran berbahan alumunium di dalamnya. Sedangkan kamar mandi menyediakan bak berukuran sedang. Sebenarnya tersedia air hangat untuk keperluan mandi di hotel tetapi mungkin karena suhu udara yang dingin membuatku tak mampu merasakan hangatnya air yang mengalir ke dalam bak. Sementara di luar kamar tersedia kursi dan meja untuk bersantai. Tentu kamar ini tidak memiliki pendingin ruangan mengingat udara Dieng yang super dingin.

    Terletak di jalan utama menjadikan hotel ini sangat stratagis sehingga sangat mudah bagiku untuk menemukan resto, minimarket, gerai kuliner dan beberapa toko cendera mata.

    Hanya saja aku tak menyadari dengan area parkir hotel yang sungguh terbatas dan tak sebanding dengan jumlah kamar yang disediakan. Satu hal yang membuatku tertawa sendiri adalah kejadian menjelang tidur. Aku memperhatikan mobilku terhimpit di pojokan area parkir oleh keberadaan mobil lain. Padahal pada esok dini hari, aku berencana berangkat menuju Puncak Sikunir demi menyaksikan pertunjukan alam yaitu terbitnya matahari di langit Dieng.

    Bagian depan hotel beserta lobby dan area parkir.
    Area parkir bagian dalam.
    Koridor menuju kamar.
    Nah ini nih kamarnya.
    Air anget…Oh, air anget.

    “Wah, Masnya ga bilang ke saya kalau besok pagi mau ke Sikunir. Tahu begitu tadi parkirnya di depan hotel saja, Mas. Aman kok parkir di luar”, resepsionis itu pun sudah tak sanggup membantu untuk mengeluarkan mobilku pada esok dini hari.

    Hahaha….Ndak mungkin juga aku harus mbangunin tamu seisi hotel untuk memindahkan mobil mereka yang sudah terparkir manis di area parkir bagian dalam”, aku tersenyum lebar sembari menggeleng-gelengkan kepala ketika melihat padatnya kendaraan di area parkir.

    Walaupun pada akhirnya masalah itu terselesaikan dengan sangat mudah. Resepsionis setengah baya itu rela mencarikan ojek yang bisa mengantarkanku esok dini hari ke Puncak Sikunir.

    Kembali pada momen setelah check-in….

    Masih jam setengah tiga sore, tak berlama-lama menaruh perlengkapan di kamar hotel, aku akhirnya kembali menginjak pedal menuju destinasi berikutnya.

  • When “The Beauty” Maeda stood up and raised the microphone, that was a happy moment for me. I knew, she would tell us that the Vanilla Air JW 130 would be landing at Narita International Airport soon. How could I wasn’t be happy, Japan, which had always been just a dream and had become something unattainable, finally this moment anchored me at its gate. The passion for Japan was also caused by my own stupidity of torturing myself by wasn’t visiting that country immediately after understanding the rhythms and habits of backpacker world. I was more selfish to exploring Southeast Asia for 3 years, even the first edition to explorind East Asia, I prefered Hong Kong, China and Macau as my first destination. Japan deliberately became the dessert of my adventure in East Asia. Yes, that was right….That country was at my east asia exploration peak with other county, i.e South Korea. Make this story felt special.

    The aerobridge attached to plane door marked my first step to Japan. Narita International Airport’s Terminal 3 warmly welcomed me even though I knew the temperature outside had reached 2 Celsius degree….“Hopefully the blood doesn’t flow from my nose”, I firstly mumbled when I was walking down the aerobridge.

    Nervous and scared, that was how I felt when I walked down the arrival hall to the immigration counter. “What if they check the amount of money I brought?”, “What if they refuse me to entering the city?”…The amateur worries still haunted me. Understandably, for me, Japan felt like a country with different caste in my eyes.

    “Is this your filst time in visiting Japan?”, his face was flat but not too scary when investigate me.

    “Yes, Sir”.

    “How long will you stay in Japan?”, standard question.

    “4 days, Sir”

    “Hoooohhh….Just foul days. Very sholt time”, he was still flipping through my passport details, looking at my adventure track record.

    “Ale you alone?”, began to put my passport in his right hand and focus on talking to me.

    “Upss, address …. Don’t let him ask for money in my pocket”, I palely thought.

    “Okay, what will you do in Japan?” started interrogating.

    “!@#$%….^&*()?…..,”:}{[]/”, my hands moved here and there while telling at length about all my plans. I wasn’t worried at all because I was a reliable itinerary maker….. Yup, an itinerary that was too economical.

    “Good….Good….Good, nice toulist”, I saw his smile even though he immediately hid it. Immigration officers were like that, putting on a fierce look was the first procedure.

    “Do you bling your itinelaly?”, his last defense, looked like I would easily break through.

    “This is, Sir”, with a bright face, I handed him six itinerary sheets, complete with details of the time, places I would visit, costs to be incurred, and the address of each destination on it. I’ve beaten him.

    “Hoooohh….You would go to Osaka too”, nodded but still read page after page.

    “Yes, Sir. That’s a nice city to visit”.

    “Yes…yes..yes….Good, welcome to Japan”, he reopened my passport and put the arrival stamp on the tiny pink visa waiver.

    Yessssss….I entered Japan.

    Oopsss….The inspection hadn’t finished yet, apparently.

    “Stop, please!”, a middle-aged man in a black jacket with its zipper which was left open so that it was clear that his thick gray sweater. He was blocking my steps now.

    “Put your bag….Thele!”, he pointed to a place to put my bag while carrying two hand-held metal detectors in both hands. Without further ado he swept my backpack with that tool with his right hand and then his left hand followed.

    “Hand-held metal detectors are layered like that,” I muttered admiring Narita’s tightness.

    “Can I inspect you?”, he showed me a sheet of paper with a picture of a standard series of inspections of all limbs by touching.

    “Yes, sure!”, I took off the used winter jacket from Pasar Baru.

    “Hooohh…you don’t need to take youl jacket off…..Hoooohh…..Do you using t-shilt? Sully? This is Japan, you will fleeze with your t-shilt…..Hahaha”, he kindly chuckled.

    I spread my arms and he started checking. Oh, how polite that person was, for checking me he asked for permission. The first social value I got from Japan on my visitation.

    But….

    I was starting to get confused with all this country’s transportation system. There were many types of trains available to the city. Starting from Narita SKY ACCESS Line, Keisei Main Line or JR Sobu Line train, but I never knew which line I would take to get to Tokyo. Ticketing Vending Machine buttons were not easy for me to understand, not liked I usually do. I was swallowed by this country sophistication.

    Train fares to downtown.
    One of the Ticketing Vending Machines.

    Never mind…. I sat down first to calm myself down on a brightly colored soft sofa which was placed along the side of arrival hall corridor whose was designed like a running race track. Smart, insists it was a path for people to walk inside airport terminal. While sitting down, sadly I saw the price of food along Narita food court, it was expensive for me.

    “Onigiri….yes….Onigiri, it’s the cheapest. I have to look for it at the convenience store”, my hungry stomach suddenly had an idea. I started to walk on the “running track” and quickly found Lawson booth at a corridor corner.

    “What a shame!”, I cursed myself when I was asked to circle retreat in a following the queue which I really didn’t notice. A woman in the front line smiled when she saw me back in a circle past the shelves of mini market.

    I left Lawson with a win for finding my first cheap meal in Japan. I ventured to sit at a dining table around Narita’s food court to eat it.

    Two pieces of onigiri for 248 Yen for lunch that time.
    Why did I take a trash can photo at that time!

    “Bus…Yes, buses….Don’t worry about the cheapest train to downtown. Buses were been still the cheapest transportation in all parts of the world”, I kept looking around for bus ticket counter while eating the last piece of my onigiri.

    It wasn’t difficult, I saw the table at far left in front of where I was sitting. I immediately approached a young lady at the counter and didn’t hesitate to ask for a ticket to Tokyo.

    “Youl bus will depalt on 5 minutes… Hully up”, she lightly said when she received Yen from me. “Damn, so fast”, I thought hiding the tension. I didn’t want to argue whether my ticket will be forfeited when I miss the bus, because the departure time listed on the LCD counter was 11:30 hours.

    An airport bus ticket to downtown for 1,000 Yen.

    I quickly focused on finding the bus sign or logo. I found the picture of bus and ran towards it. Unknowingly, I wasn’t wearing a winter jacket and when I arrived at the door to bus shelter, I was shocked. “Crazy!” I screamed, the 2o C air pierced my bones mercilessly. For a moment I couldn’t breathe. I rushed back into the room and many people had strange faces looking at me. “Please, Donny….This isn’t the tropics anymore”, I sighed, since I was still reflecting that the air outside was still the same as Kuala Lumpur air I visited three days ago. I quickly put on my jacket and watched from afar the bus driver who was standing at the back door of bus. He looked at his watch and looked around for someone. I ran towards him. “Come on, Sil….I am waiting fo you”, he briefly said, pointing to the front door. I jumped at the front door and prepared to head to Tokyo. I shouldn’t have panicked, I think he was told by the counter staff that there was still one passenger who was going to board the bus.

    Anyway….Welcome Tokyo.

  • Hotel yang hendak kuinapi berlokasi di salah satu ruas arah pertigaan yang sedang kulintasi. Hanya karena sangkala masih bertengger di bilangan sebelas pagi, maka aku memutuskan untuk langsung bertolak menuju destinasi perdana. Toh, waktu check-in baru bisa kulakukan dua jam lagi.

    Maka dari ruas Jalan Dieng, aku merubah haluan ke selatan menuju Telaga Warna melalui ruas Jalan Arjuna Barat.

    Pemandangan klasik mulai terekspos di sepanjang jalan tersebut. Di sebelah timurnya tampak kompleks Candi Arjuna yang terdesain dengan sangat rapi. Sementara itu tampilan gagah Candi Gatotkaca menjadi rangkaian peninggalan sejarah berikutnya dan kemudian Candi Bima menjadi tengara pamungkas di ujung Jalan Arjuna Barat sebelum aku meneruskan penelusuran di Jalan Arjuna Selatan. Tampak di pelataran Candi Bima berjejer mobil Jeep dengan gardan ganda yang pengemudinya aktif menawarkan perjalanan wisata menuju Kawah Sikidang yang merupakan kawah aktif  terbesar di Dataran Tinggi Dieng.

    Sedangkan di ujung Jalan Arjuna Selatan tampak riuh rendah para pedagang jajanan khas Dieng seperti Carica, Terong Belanda, Kopi Purwaceng, Teh Tambi dan Keripik Tempe Kemul. Walaupun jajaran oleh-oleh itu disusun begitu menarik, aku tetap memutuskan untuk tak membeli apapun terlebih dahulu karena waktuku di Dieng masih sampai esok hari.

    Melanjutkan perjalanan di ruas Jalan Telaga Warna, aku akhirnya tiba di destinasi pertama, Telaga Warna & Telaga Pengilon.

    Mataku seketika awas, melihat keberadaan area parkir wisata ini yang berada sisi timur jalan sedangkan kedua telaga itu ada di sisi baratnya.

    Usai memarkirkan kendaraan di area parkir yang tampak sangat padat, aku menghiraukan godaan warung-warung kuliner yang berjajar rapi di sepanjang salah satu sisi area parkir.

    Tiba di pintu gerbang destinasi itu, aku menebus tiket masuk seharga Rp. 21.000 dan dengan mudahnya aku melewati hadangan thermogun dan screening barcode aplikasi PeduliLindungi. Dari papan informasi tarif, aku dengan jelas membacanya bahwa tarif masuk untuk wisatawan asing adalah Rp. 163.500….Hmmhhh, delapan kali lipat dari tarif wisatawan Nusantara.

    Saatnya menikmati keindahan Telaga Warna….

    Area parkir pengunjung Telaga Warna & Telaga Pengilon.
    Gerbang masuk Telaga Warna & Telaga Pengilon.
    Telaga Warna yang menghijau di tepiannya.
    Tampak surut.
    Melihat lebih dekat.
    Tetap saja cantik.
    Ngopi atau menikmati gorengan hangat.
    Tempat duduk beton di sisi telaga.

    Aku mulai menapaki jalur pengunjung menuju telaga. Pengelola tempat wisata tampak dengan baik mengelola destinasi ini sehingga setiap pengunjung dipermudah untuk menemukan denah wisata, spot kuliner, dan fasilitas umum lainnya. Jalur wisatawan pun tampak diberikan pemisah permanen untuk memudahkan wisatawan yang akan masuk ataupun keluar dari lokasi wisata.

    Siang itu Telaga Warna tampak surut dan memendarkan warna hijau di pelupuk mata. Konon warna air di telaga ini sering berubah warna ketika diterpa sinar surya tergantung dari kadar belerang yang berada di dasar telaga.

    Dengan keringnya telaga tentu pesona itu menjadi enggan menampakkan diri. Memang aku datang ke Dataran Tinggi Dieng pada masa akhir musim kemarau. Tentu pada akhirnya, aroma menyengat belerang menjadi perasa dominan dalam wisata alam kali ini.

    Berlama-lama di sisi telaga memang tetap saja membuat hati ceria. Apalagi tak mudahnya bagi diriku untuk menemukan suasana seperti ini di perkotaan. Apalagi kedai-kedai gorengan dan kopi banyak berada di sisi telaga. Kedai-kedai itu tampak penuh dikunjungi wisatawan yang tentu tak ingin cepat merasakan atmosfer alam yang berada di hadapan pandangannya.

    Jika tak ingin mengeluarkan budget apapun, kam juga bisa menikmati pemandangan dari bangku-bangku kayu di pinggir telaga atau tempat duduk beton beratap yang tersedia di beberapa bagian sembari menikmati beberapa spot taman edukasi di sekitarnya.

    Di akhir kunjungan, aku keluar melalui pintu sisi utara dan berniat menuju Hotel Gunung Mas di daerah Batur.

  • Halo travelers….

    Kali ini saya akan mengajak Anda semua menuju Kota Bandung. Saya yakin bahwa segenap traveler baik yang pernah dan belum mendapat kesempatan berwisata ke sana pastinya telah mengenal Kota Bandung.

    Dari segi pariwisata, Kota Bandung memang menawarkan banyak destinasi yang menarik untuk dikunjungi oleh traveler manapun.

    Destinasi eklektik di sepanjang Jalan Braga, Gedung Sate yang tersohor, Gedung Asia Afrika yang melegenda atau wisata berkeliling kota menggunakan bus Bandros (Bandung Tour on Bus) adalah sedikit dari sekian banyak atraksi wisata yang bisa disambangi.

    Tetapi kali ini, saya akan membahas satu hal penting dibalik indahnya pariwisata Kota Bandung. Travelers…Ketika berwisata di tengah Kota Bandung, tentu saja mata kita akan dimanjakan dengan panorama dan kebersihan kota yang akan menambah kenyamanan kita berwisata.

    Padahal kita semua sebagai traveler belum tentu mengetahui bagaimana hakikatnya perjuangan kota dalam menampilkan sisi terbersih dan terindahnya bagi para wisatawan. Oleh karenanya, saya akan mengajak Anda untuk melihat lebih dalam dibalik kebersihan yang tertampil di kulit luar pariwisata Kota Bandung. Bahwa sesungguhnya ada perjuangan ekstra gigih dalam pengelolaan sampah untuk menjadikan Kota Bandung sebagai kota yang memiliki budaya yang baik terkait sampah.

    Nah, beruntung sekali bagi saya karena telah diundang dalam sesi studi kasus “Menjajaki Transisi: Perjalanan Bandung Menuju Zero Waste Cities”. Acara ini berlangsung berkat Prakarsa dari YPBB (Yaksa Pelestari Bumi Berkelanjutan), Forum BJBS (Bandung Juara Bebas Sampah) dan DLH (Dinas Lingkungan Hidup) Kota Bandung.

    Yuk, kita simak bersama hal-hal apa saja yang saya dapatkan dalam studi kasus tersebut.

    Moderator dan ketiga narasumber.

    Teman-teman traveler,

    Pengelolaan sampah selalu saja menjadi momok bagi banyak perkotaan di negara ini bahkan di dunia. Tak sendikit kota yang babak belur menangani kesehatan masyarakat dan lingkungannya karena ketidakberhasilan menangani sampah yang dihasilkan oleh aktivitas kota itu sendiri.

    Lalu bagaimana Kota Bandung bergerak dalam program pengelolaan sampah.

    Kawasan Bebas Sampah (KBS)

    Berdasarkan alur cerita yang disampaikan oleh Ratna Ayu Wulandari yang merupakan perwakilan dari YPBB, pada tahun 2015, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung menginisiasi program Kawasan Bebas Sampah (KBS) dimana pengelolaan sampah dilakukan di sumber yaitu di tingkat Rukun Warga (RW). Inisiasi ini kemudian diperkuat oleh aksi YPBB pada tahun 2017 melalui program pendampingan di level kelurahan, yaitu Kelurahan Sukaluyu dan Kelurahan Neglasari.

    YPBB kemudian mengintensifkan perannya dengan membangun kelurahan model dalam pelaksanaan Rencana Teknis Pengelolaan Sampah (RTPS) yang minim intervensi pada tahun 2020, yaitu Kelurahan Cihargeulis dan Sukamiskin. Tidak berhenti disitu, YPBB pun melanjutkan aksinya dengan memberikan asistensi transisi TPS Terjadwal.

    Bahkan proses advokasi YPBB dan BJBS menjadikan kolaborasi apik dalam memberikan input kepada pemerintah tentang Kawasan Bebas Sampah (KBS) di 30 kecamatan. Pada saat ini keseluruhan 30 kecamataan di Kota Bandung adalah cikal bakal Kawasan Bebas Sampah (KBS). Dari 151 kelurahan, 94 kelurahan diantaranya memiliki cikal bakal KBS. Kemudian dari 1.858 RW, sekitar 180 RW diantaranya melakukan upaya pengelolaan dengan konsep program KBS. Pencapaian ini tentu memerlukan dorongan dan peranan pemerintah secara kontinyu dan akan sempurna apabila terdapat kolaborasi dengan berbagai pihak non-pemerintah.

    Di tahap selanjutnya, atas input YPBB dan Non-Govermental Organization lainnya maka implementasi Kawasan Bebas Sampah (KBS) berkembang dari sekedar pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sampah menjadi program penguatan pengelolaan sampah itu sendiri, contohnya adalah pengelolaan sampah dari sampah tercampur menjadi sampah terpilah.

    Dari pemilahan sampah ini maka produk olahan sampah bisa dimanfaatkan masyarakat dan pihak yang membutuhkan. Sampah terpilah tentu bisa dimasukkan ke sarana pengolahan, bank sampah dan pengembang biodigester. Dengan pengurangan jumlah sampah ini maka bisa diterapkan Tempat Pembuangan Sementara (TPS) Terjadwal. Sehingga sampah yang mengalir ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) adalah benar-benar sampah residu.

    Tentu hal ini akan mengurangi tipping fee yang lebih besar ketika Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Kota Bandung akan berpindah dari TPS Regional Sarimukti ke TPA Legok Nangka. Oleh karenanya Kawasan Bebas Sampah yang sukses menjalankan program pengelolaan sampah harus terus direplikasi di Kawasan Bebas Sampah yang baru.

    Untuk kesuksesan pengembangan Kawasan Bebas Sampah maka penggunakan icon campaign KBS, yaitu Kang Pisman harus terus diinternalisasikan dalam budaya pengelolaan sampah di masyarakat Kota Bandung”, tegas Ria Ismaria sebagai perwakilan dari Forum BJBS di acara tersebut.

    Eh….Teman-teman traveler tahu kan “Kang Pisman”?…. Kang Pisman adalah singkatan dari “Kurangi, Pisahkan, Manfaatkan”. Nah, Kang Pisman ini adalah program kampanye pengentasan masalah sampah yang dimiliki pemerintah Kota Bandung.

    Lalu bagaimana peran YPBB dalam mendukung keberhasilan Kawasan Bebas Sampah ini?…..Nah, YPBB selama ini berperan dalam mengembangkan konsep Kawasan Bebas Sampah melalui program Zero Waste Citiesnya.

    Pelaksanaan Kawasan Bebas Sampah

    YPBB selalu konsisten dengan konsep pengelolaan sampah dimana metode kumpul, angkut, buang yang sudah lama membudaya di masyarakat harus dirubah ke arah pelaksanaan metode pengurangan sampah di sumbernya dengan memilah, mengurangi dan mendaur ulang. Bekerjasama dengan pemerintah Kota Bandung maka YPBB konsiten dalam menerapkan konsep metabolisme sirkuler. Dalam konsep ini sampah selalu dianggap sebagai materi yang bisa didaur ulang dan diusahakan memiliki life time yang panjang.

    Perlu diketahui bahwa beban sampah Kota Bandung adalah sebesar 1.324 ton per hari. Oleh karena itulah diperlukan strategi efektif untuk mengurangi jumlah tersebut. Beban tersebut tentu hanya bisa dikurangi dengan cara penanganan sampah lebih banyak di sumber sehingga akan mengurangi beban di bagian hilir.

    YPBB pun fokus dalam pengembangan model sampah terpilah. Konsisten dalam melakukan edukasi masyarakat dari rumah ke rumah, edukasi petugas sampah dan edukasi keluarga. Edukasi ini kemudian didukung dengan penguatan infrastuktur dan master plan di tingkat kelurahan. Kemudian usaha yang dilakukan YPBB ini telah membantu pemerintah dalam menciptakan 181 Kawasan Bebas Sampah di Kota Bandung hingga saat ini.

    Ini semua dilakukan oleh YPBB demi membantu visi pemerintah dari dilaksanakannya Rencana Induk Pengelolaan Sampah yaitu terciptanya banyak Kawasan Bebas Sampah (KBS) di seluruh penjuru Kota Bandung.

    Adapun prinsip Program Kawasan Bebas Sampah (KBS) diantaranya adalah desentralisasi dengan mendekatkan pengelolaan sampah ke sumber, perubahan sistem tercampur menjadi terpilah, mengurangi penimbulan sampah, kebiasaan memilah-mengolah-memanfaatkan hasil, penegakan aturan, dan mendasarkan partisipasi dari bawah.

    Kefektifan Program Kawasan Bebas Sampah

    Dalam sesi ini disampaikan bahwa pengembangan model Kawasan Bebas Sampah memang sudah maksimal dilakukan oleh pemerintah tetapi dampak yang diberikan ternyata masih belum signifikan

    Pemerintah sedang giat-giatnya dalam inovasi sarana prasarana, biaya operasional, sumber daya manusia untuk melakukan edukasi dan pengangkutan serta pengolahan sampah. Akan tetapi, walaupun dukungan pemerintah dilakukan secara kontinyu, ternyata dukungan tersebut masih berfokus  pada aspek operasional dan berdurasi pendek.

    Intervensi akan membawa dampak kurang bagus. Selalu terdapat ketergantungan pada insentif, penokohan, dan tenaga pendamping yg diterjunkan DLH Kota Bandung di lapangan. Hal ini akan menimbulkan pemborosan sumber daya.

    Maka pertanyaan baru akan muncul,”Seberapa lama warga terus tergantung pada edukasi dan pendampingan?”, Hal inilah yang harus segera dibenahi, ungkap Ratna Ayu Wulandari sebagai perwakilan dari YPBB.

    Sesi itu mencontohkan Kelurahan Cihargeulis yang dalam menjalankan pengelolaan sampah masih terdapat intervensi pada prosesnya. Tetapi diantara sekian banyak Kawasan Bebas Sampah di Kota Bandung, tetap saja ada yang berhasil berjalan secara mandiri. Sukamiskin menjadi model Kawasan Bebas yang telah melakukan pengelolaan sampah secara mandiri baik dalam operasioanal dan inisiatif.

    Perjalanan Bandung Menuju Zero Waste Cities

    Menurut Deti Yulianti sebagai perwakilan dari DLH Kota Bandung bahwa pada tahun 2017 hingga sekarang, jumlah sampah yang dikirim ke TPA masih berkisar 80% dari total timbulan sampah. Hal inilah yang mendasari YPBB untuk memberikan reminder kepada pemerintah untuk melakukan shifting segera ketika program Kawasan Bebas Sampah, inisiatif relawan dan Dinas Lingkungan Hidup masih  bergerak secara sporadis dalam pengelolaan sampah. Upaya-upaya tersebut masih belum maksimal dan masih mengandalkan participatory base.

    Kemudian muncul faktor pengaruh luar yaitu Perpres JAKSTRADA (Kebijakan Strategi Daerah)  yang memberikan pekerjaan rumah bagi Kota Bandung untuk mendorong pengurangan sampah hingga 30% dan menurunkan penanganan sampah hingga 70%. Secara kalkulasi, Kota Bandung harus bisa mendorong pengurangan sampah lebih dari 34% karena TPA akan segera berpindah.

    Pada tahun 2020 dilakukan ujicoba pengelolaan sampah non-participatory base, pada waktu itu disiapkan tenaga sampah terpilah, tenaga pendamping dan sarana prasarana. Pendampingan dilakukan selama satu tahun di dua kelurahan. Ternyata kinerja ketaatan mencapai 60%, sampah menurun hingga 40%. Jika hal ini bisa diterapkan di 51 kelurahan di Kota Bandung maka target 30% pengelolaan sampah akan terlampaui.

    Pada tahun 2021, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung memiliki peran ganda sebagai regulator dan operator. Beban DLH juga semakin besar untuk operasional penyelenggaraan pengelolaan sampah. Dan pada tahun 2012, dorongan peningkatan pengelolaan sampah semakin besar. Terdapat gap target ketercapaian pengelolaan sampah hingga 12% dari capaian existing. Sehingga kekurangan itu harus dikejar.

    Tentunya, inovasi harus cepat dilakukan karena TPA Legok Nangka hanya memberikan kuota sampah 800-1.025 ton per hari untuk Kota Bandung. Padahal Kota Bandung apabila perilaku masyarakatnya tidak berubah maka akan menghasilkan sampah sekitar 1.750 ton per hari. Itu artinya Kota Bandung harus bisa mengurangi sampah sebesar 750 ton per harinya.

    Sedangkan pada saat ini pengurangan sampah Kota Bandung hanya berkisar 150 ton per hari. Tentu angka itu akan berfluktuatif tergantung dari partisipasi sektor informal dan masyarakat. Kota Bandung harus meningkatkan akses rumah tangga terhadap sitem pemilahan sampah yang terintegtasi dari sumber sampai TPA

    YPBB selalu mendukung pemerintah Kota Bandung untuk mengembangkan model Kawasan Bebas Sampah dengan perbaikan tata kelola pengelolaan sampah secara menyeluruh yang meliputi aspek regulasi dan masyarakat. Titik berat pemerintahan harus diletakkan pada distribusi wewenang sampai tingkat kelurahan untuk memilah sampah hingga penegakan aturan dan sanksi. Tentu YPBB siap untuk memberikan saran dan rekomendasi terbaik sehingga pengelolaan sampah bisa dilakukan lebih optimal di masa depan.

    Semoga impian Kota Bandung untuk menjadi Zero Waste Cities di masa depan bisa terwujud dan memberikan teladan bagi kota-kota lain di Indonesia dan dunia tentang bagaimana seharusnya sinergi berbagai pihak dalam sebuah kota bisa menangani sampah yang ditimbulkannya.

    #zerowastecities

    #konferensipersZeroWaste

    @ypbbbandung

  • Vanilla Air JW 130 flight path (source: https://www.radarbox.com/).

    The beautiful stewardess in a blue uniform with a flower in her right ear looked the youngest….Also the prettiest. Her smile was also the happiest. Short brown hair along the shoulders but a little longer on the left side and of course, an oriental look was completing her beauty.

    Her name is Maeda….

    I don’t know, if traced, she is positioning in the lineage with Tadashi Maeda, a Rear Admiral who played an important role in Indonesia independence.

    The name Maeda is historically known as a Samurai Clan in Japan. Having honest, brave, loyal and upholding commitment to the truth.

    Hunting for Yen at Kaohsiung International Airport.
    Got ready to check-in.
    Yes, boarding pass was in hand.
    Headed to the gate after being interrogated for quite a while at immigration.

    That morning, she was the busiest over the East China Sea. A Chinese family was too stubborn to acquire a row of seats for a small family to sit together on this Vanilla Air flight. “The Beauty” Maeda continued to persuade them to sit according to number listed on the boarding pass. It turned out that her soft voice had never succeeded in persuading that family to part until half the flight. Even Maeda seduced them with squat in front of the passenger.

    I didn’t know why until now I still remember Maeda,

    Maeda was a bonus for choosing an airline I didn’t really know well before. My search time on a flight filter site based on several categories, settled me on this Air Asia Japan acquirer. At a later date, tickets which cost about 6.780 Yen finally flew me from Kaohsiung in Taiwan to Tokyo.

    Even my times before I met Maeda weren’tt as beautiful as I imagined. I forced myself to sleep in whole night at Kaohiung International Airport in a lobby of Departure Hall.

    Waking up early….Even still sleepy, because I was carried away by talking with other passengers until after midnight, I grumbled to the check-in desk after exchanging the remain of my New Taiwan Dollars into Yen. The check-in counter numbered D18 with an LCD with the airline’s name on it quickly completed my check-in process.

    Gate 30, the place to waiting for Vanilla Air JW 130 to arrived.
    Happy boarding.
    Look for seat numbered 27D.

    Another problem arose,

    At the immigration desk, there was an agenda to clarify everything that made me separated from the queue and seated on a seat at the end of counter row.

    “Why do your visa look like this?”, my Visa Waiver was suspected.

    “It’s a new waiver visa for Indonesian e-passport holder, Mam”

    “Wait, let me check to my boss!”.

    The young woman hastily left me into a room. I was still calm waiting for her to come back, up to 15 minutes.

    “Ahh … I will pass this process”, I thought.

    “Ok, Sir, It’s valid”, her chatter broke my frozen face who was observing a corner of terminal building.

    After that, she let me go into a corridor with arched ceilings with artificial trees on  left leading to gate number thirty.

    That was “The Beauty” Maeda.
    Disembarkation Card and Customs Declaration to enter Japan.

    Then what about the Chinese family who had been persuaded by “The Beauty” Maeda?

    Thankfully, the lead flight attendant stepped in to help her and managed to separate that small family according to flight procedures.

    Impressive! Vanilla Air is number fourteen of twenty-eight airlines I have rode. Grateful of course to be able to enjoying flight services of this subsidiary of ANA (All Nippon Airways).

    That morning the pilot explained there was a slight storm coming from Philippine Sea, but thankfully, the turbulence didn’t last long on the way. The flight using an Airbus A320, as far as 2,500 Km, three hours later at an altitude of 37,000 feet was really fun. Maybe, because this was my culmination point in exploring Asia. Who doesn’t want to visit the Land of Samurai?

    On eleven more minutes, I finally arrived at Narita International Airport.

    Let’s have an adventure in Tokyo!

    Alternatives for airline tickets from Kaohsiung to Tokyo can be found on 12Go or the following link: https://12go.asia/?z=3283832

  • Usai sukses menunaikan perjalanan singkat dalam satu hari ke Pantai Ujung Genteng pada akhir tahun perdana pandemi, aku mulai berani melakukan perjalanan lebih jauh pasca menerima dosis vaksin Sinovac kedua.

    Kali ini tujuanku adalah Negeri di Atas Awan….yakz, Dieng.

    Dieng mulai menyelinap ke dalam bucket list ketika aku banyak menguping dari cerita para pecandu tari yang berkumpul di lereng Gunung Merapi, tepatnya di Desa Tutup Ngisor pada perhelatan Festival Lima Gunung ke-18 di Kabupaten Magelang.

    Dan perjalanan menuju Dieng terwujud dalam rentang waktu lebih dari dua tahun setelah festival itu rampung.

    Masih mengikuti tema utama, yaitu Pandemi COVID-19 maka untuk menghindari paparan virus ganas itu selama perjalanan, maka aku memilih berpetualang bermodakan mobil.

    Walaupun di hari Seninnya menjadi hari kejepit nasional karena tersematnya perayaan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW di lembar kalender nasional, toh aku tetap tak memanfaatkan hari itu untuk meng-extend libur. Aku memilih berlibur kilat saja….Cukup Sabtu dan Minggu saja aku akan mengeksekusinya.

    Karena singkatnya waktu, tentu aku memulai perjalanan pada Sabtu dini hari dengan harapan tiba di Dieng pada kepagin harinya.

    Memulai perjalanan dari Kawasan timur ibu kota, aku memilih ruas tol lingkar luar barat dengan sasaran keluar di gerbang tol Batang/Subah/Kandeman.

    Perjalanan berlangsung lancar hingga aku tiba di atas jalan Tol MBZ Sheikh Mohammed Bin Zayed. Tetapi aku kemudian tersadar bahwa jarum indikator bahan bakar telah merapat di garis merah dan aku sepenuhnya faham bahwa aku belum mengisi e-toll untuk perjalanan ini.

    Oleh karenanya aku memutuskan berhenti di Km 57 untuk menyelesaikan problema ini. Perasaan tetiba berubah resah karena padatnya kendaraan yang memasuki rest area. “Sepertinya memang banyak khalayak yang memanfaatkan libur panjang ini untuk keluar ibu kota”, aku mengambil kesimpulan.

    Lepas dengan kepayahan memarkirkan mobil, aku pun mulai mencari minimarket untuk mengisi e-toll. Perasaan menjadi tak enak ketika beberapa minimarket yang kumasuki mengalami masalah jaringan dalam proses top-up e-toll. Dan benar adanya, aku tak mendapatkan kesempatan sama sekali untuk mengisi ulang e-toll yang kupunya.

    Melaju di ruas tol MBZ Sheikh Mohammed Bin Zayed.
    Kemacetan sebelum rest area 57.

    “Apa boleh buat aku harus lewat jalur pantura”, aku memutuskan cepat daripada eksplorasi menemui kegagalan. Karena memutuskan hendak menyusuri jalur pantura maka kuputuskan untuk mengisi bahan bakar di luar tol saja.

    Well guys, perjalanan Panjang melalui jalur reguler pun dimulai….

    Dengan cepat aku berhasil mendapatkan bahan bakar di daerah Cikampek. Setelah selesai berurusan dengan bahan bakar maka aku berfokus untuk melahap tahap-demi tahap jalanan pantura. Tentu perjalanan di pantura tak sepadat seperti dahulu ketika tol trans jawa belum tuntas dibangun.

    Bernostalgia melewati jalur pantura seperti dahulu di saat melakukan ritual mudik menjadi bumbu perjalanan malam itu.

    Pagi hari, hampir pukul lima, aku menyentuh pinggiran timur Cirebon dan berinisiatif melakukan break untuk menuaikan Shalat Subuh di sebuah stasiun pengisian bahan bakar. Aku juga memutuskan berburu sarapan di sekitarnya.

    Tak lupa memenuhi kembali tangki bahan bakar maka perjalan kembali kutempuh secara non-stop hingga aku tiba di sebuah pertigaan kecil di Desa Tulis, Kabupaten Batang. Hampir pukul sebelas siang maka perjalanan berganti suasana. Aku mulai menginjak pedal gas di sepanjang Jalan Sendang-Tulis di etape terakhir sebelum mencapai Dataran Tinggi Dieng.

    Kali ini keberuntungan memihak kepadaku. Di Jalan Raya Sampar, aku menemukan sebuah minimarket untuk mengisi ulang e-toll sehingga membuka harapan bagiku untuk pulang melalui tol trans jawa di keesokan harinya.

    Beberapa kali menemukan jalanan sempit, aku berhasil bergantian jalan dengan beberapa mobil dari lawan arah. “Hmmhh, ini mah jalur buat satu mobil”, aku membatin kecut.

    Keadaan berikutnya menjadi sedikit mengkhawatirkan karena mesin mobil terasa lebih panas. Dan pada sebuah tikungan terdapat sebuah papan petunjuk yang memberi setiap pengendara sebuah nasehat untuk berhenti sejenak sebelum menaklukkan tanjakan tercuram nan berbahaya. Maka demi keselamatan, aku pun menuruti petunjuk itu dan berhenti selama lebih dari setengah jam di tepi jalan….”Oh, ini toh tanjakan Krakalan yang dimaksud”, aku menatap tajam ke arah atas tanjakan.

    Hingga suhu mesin menurun, aku pun mulai menanjak dan berhasil melewati tanjakan setelah dibantu dengan aba-aba oleh Crew Krakalan di tanjakan itu. Pada saat memadamkan mesin mobil di bawah tanjakan, dua orang Crew Krakalan menghampiri dan menawari jasa pengawalan menuju Dieng. Sudah pasti aku menolaknya, tentu menjadi kurang menantang jika perjalanan ini harus dikawal.

    Aku cukup lega bisa menaklukkan tanjakan terhebat Desa Deles itu dengan selamat.

    Terus memacu kendaraan tanpa henti, akhirnya aku tiba di area dengan pemandangan paling menakjubkan, Adalah Tol Kahyangan di Desa Pranten yang menyuguhkan hamparan pertanian kentang di lereng perbukitan yang indah berselimut kabut.

    Memasuki Kabupaten Batang.
    Jalan Sendang-Tulis.
    Memasuki jalan perkampungan.
    Jalan Bawang.
    Ngademin mesin dulu, guys.
    Mulai memasuki Tol Kahyangan.
    Welcome Dieng.
    Pipa gas panas bumi menjadi pemandangan normal di Dieng.

    Beberapa kendaraan wisatawan tampak berhenti demi menikmati suasana dan berfoto ria. Tetapi aku memutuskan untuk terus melanjutkan perjalanan saja karena tak mau kehilangan waktu lebih banyak. Aku masih ada waktu untuk singgah di Tol Kahyangan saat pulang nanti saja

    Tak lama kemudian aku memasuki kawasan Dataran Tinggi Dieng. Tentu aku takjub dengan pemandangan pegununungan yang dihiasi kabut. Tampak kepulan asap dari gas panas bumi muncul di beberapa titik. Pipa-pipa gas yang mengalirkan gas dari panas bumi tampak dominan di beberapa titik. Sedangkan lahan pertanian kentang dan sayuran juga menjadikan pemandangan menjadi lebih hijau nan indah.

    Pukul setengah satu siang akhirnya aku benar-benar tiba di tujuan. Aih-alih langsung menuju penginapan, aku memilih opsi lain untuk langsung menuju ke destinasi pertama di Dataran Tinggi Dieng….Yupz, Telaga Warna.

  • In front of Gate 11 waiting to fly.
    Philippine Airlines PR 535 had arrived.
    Came on in!

    “Ms, sorry I sit at No. 38K”, I greeted a tired looking young woman who leaning her head against the window.

    “Excuse me, can I exchange it or not?”, began to guess that she was Javanese because of her typical accent.

    “Sorry, Ms. It’s better to sit according to seat number which be shown in boarding pass. Let it be in accordance with the manifest. Anticipating that something might happen while flying, I happened to need to take some pictures from the window seat,” I quietly said. Although I understoodd that this plane wouldn’t be completely full.

    Slightly swayed, she came out of the row of seat and let me take the seat and she was still pouting in the aisle seat.

    “Hmmh, she’s cute when pouting, maybe more beautiful when she smile”, my mind said, I mischief started to relapse.

    Every passenger’s face twisted, perhaps because the flight was delayed for up to five hours. I thought that a compensation for a piece of bread only happened in Indonesia. It turned out that a compensation for a meat burger for the delay also happened in Manila….I wryly smiled, because I had lost my appetite. How could, I just got on the plane at twelve o’clock at night, then a short message was sent from my manager, He was hoping that I could attend the inauguration of the new office building at nine o’clock on the morning in Jakarta.

    Yess, I got the right for my seat.
    The NAIA apron area as seen from the window.
    Bustle around the apron.

    Even though I was already happy by arriving on time at Ninoy Aquino International Airport at 15:30 hours to welcoming Philippine Airlines flight PR 535 at nine o’clock in the evening. I understood the wrong date in my passport and the missing flight number on airport’s LCD screen. But I was so excited when I heard the news that I would still go to fly in the middle of night due to the impact of Mount Taal eruption in the Tagatay area.

    I knew the magnitude of this eruption impact after three weeks of my returning to my hometown. My client, a Filipino national, was flying with Cebu Pacific when the eruption occurred. She said that The “Yellow White Blue” plane seemed to be sucked down and then dived upwards with an incoherent announcement from flight captain. Only after landing, the Cebu Pacific captain apologized for the incident in air due to volcanic eruption.

    That night I was very tired, after taking some necessary pictures, I automatically felt asleep. Extreme exhaustion and missed for my home food made this flight was been the most comfortable flight since I left home three weeks earlier.

    Being on the Manila sky.
    Goodbye Manila, see you soon Philippines!.
    Do you know the meaning of Mabuhay? ….”Life or long life”
    FPML (Fruit Platter Meal)….Let’s had dinner before sleeping.

    The 2,800 km flight with an average speed of 700 km per hour lasts in 3 hours 55 minutes. That night I closed the windoe tightly and hoped that when I opened my eyes, I would be in Jakarta.

    There wasn’t special story that I got from this flight. It was just in that night I felt very relieved because during my journey to Malaysia, India and the Middle East region went very smoothly without the slightest problem. This trip added to my courage and calm to dream of welcoming Russia, Uzbekistan, Kazakhtan, Turkmenistan and their neighbors in the future.

    But who knows, I didn’t even know that the pandemic would come, even it happened whem I wasn’t in my country but when I was in Dubai. A dream that had definitely been delayed for soe times.

    Ancol coast in the early morning.
    Getting ready to landing.
    Smoothly touchdown.

    Then why did I choose Philippine Airlines? Wasn’t is that an expensive airline for you, Donny?

    I never even dreamed of riding that flag carrier, maybe God had blessed me by showing me the cheapest ticket in my search button on a ticket reservation application. A coincidence that made me happy. This was the tenth wide body plane I’ve boarded after

    Air Asia Korea to Kuala Lumpur…

    Thai Airways Jakarta Bangkok, Bangkok-Kathmandu, New Delhi-Bangkok and Bangkok-Jakarta….

    Srilankan Airlines Mumbai-Colombo, Kochi-Colombo, Colombo-Dubai ….and

    Swiss Air Dubai-Muscat.

    Thank God for safely landing me.
    Oh, Kampung Rambutan….I love you.

    Alternatives to finding flight tickets from Manila to Jakarta can be found on 12Go or the following link : https://12go.asia/?z=3283832

    THE END