Category: East Asia

  • <—-Kisah Sebelumnya Pukul setengah sembilan pagi, aku sudah merapat di Stasiun Hongik University, menyusuri koridor panjang stasiun dan menaiki escalator panjang an tinggi menuju permukaan tanah. Tata arsitektur stasiun menyambutku dengan taman berhiaskan bunga-bunga indah dipadu dengan bebrapa sculpture ikonik. Aku mulai menelusuri gang utama menuju Sinchon-ro Avenue di utara stasiun. Yang kutahu, guesthouse yang…

  • <—-Kisah Sebelumnya Aku berusaha menyejajari Mr. Park yang tampak gesit untuk kecepatan langkah seusianya. Menunggui Seoul Metro di satu sisi platform, kami bercakap ringan saja. Aku bercerita tentang perjalananku menyusuri Asia Timur kepadanya. Kuselipkan beberapa kisah petualangan di Tokyo, Osaka dan Busan beberapa hari lalu. Mr. Park tampak cukup terkesima mendengarkan alur kisah yang kusampaikan…

  • <—-Kisah Sebelumnya Gosok Gigi…. Itulah problema utama pagi itu. Tak ada tempat layak  untuk menunaikannya. Berbeda dengan bandara yang umumnya memiliki toilet kelas hotel berbintang. Ini terminal bus, man! Tak sempat berfikir untuk sarapan, aku segera bangkit, memanggul kembali backpack biruku, melanjutkan identitas sebagai seorang backpacker. Kini aku akan menuju ke tengah kota. Berada di…

  • <—-Kisah Sebelumnya Temperatur anjlok….Sudah dibawah titik beku. Jam dinding bulat putih di arrival hall memamerkan jarumnya yang mulai merapat ke angka pertama dalam putarannya. Kembali ke sepuluh menit sebelumnya, ketika aku bergegas melipat jemuran t-shirt dan kaos kaki dari jok ketika bus putih berkelir merah itu merapat di Seoul Express Bus Terminal. Selamat Datang Seoul….Engkau…

  • <—-Kisah Sebelumnya Jeda tipis antara ketibaanku dan keberangkatan bus berbuah manis, menjadikanku tak terlalu lama menunggunya berangkat. Beberapa menit lalu, aku telah menanyakan demi mencari bus yang akan kunaiki kepada salah seorang pengemudi di Busan Central Bus Terminal. Telunjuk jarinya jelas mengarah pada armada berwarna putih dengan kelir merah. Aku pun bergegas menuju bus itu…

  • <—-Kisah Sebelumnya Tatapanku hanya melakukan repetisi sedari tadi. Jam tangan-route board-jam tangan….begitu seterusnya. Kecemasan menghukumku dengan tak mampunya diri menikmati gerbong nyaman Humetro. Aku masih tak memilih duduk, kakiku tegak menopang badan di tiang gerbong dekat pintu keluar. Aku bersiap untuk turun di Stasiun Seomyeon untuk mengakhiri perjalanan di Humetro Line 2 (Green Line) demi…

  • <—Kisah Sebelumnya Pukul 16:30, terduduk khawatir di bawah naungan halte bus mungil di bilangan Gijang-daero Avenue yang lengang, tatapanku terus menoleh ke kiri, menantikan kedatangan bus bernomor 181. Beberapa menit lalu aku telah tervonis tersesat. Berpetualang amatiran demi sekedar menemukan Haedong Yonggungsa Temple yang terletak di tepian Selat Korea. Dua setengah jam waktuku terbuang sia-sia…

  • <—-Kisah Sebelumnya Belum genap langkahku mencapai Stasiun Toseong, nada perut mengirim pertanda. “Oh iya, aku belum makan siang”, respon cepat dalam fikirku. Terakhir aku menyantap snack jalanan Bungeoppang dua jam lalu di jalan yang sama dengan tempat berdiriku sekarang, Kkachigogae-ro Avenue. Menuju Haedong Yonggungsa Temple perlu waktu yang tak sebentar. Aku berhenti sejenak di satu…

  • <—-Kisah sebelumnya. Pukul sebelas siang, daerah Nopo-dong, Distrik Geumjeong…. Akhirnya aku mendapatkan tiket bus menuju Seoul. Karena bus baru berangkat malam nanti, aku memutuskan untuk melanjutkan eksplorasi di Busan hingga sore nanti. Kini aku mulai meninggalkan Busan Central Bus Terminal, menyusuri koridor integrasi menuju Stasiun Nopo. Setiba di stasiun, tak lama menunggu, Humetro Line 1…

  • <—-Kisah Sebelumnya Drama kamar mandi memang sering mewarnai cerita perjalanan, mengingat aku sering memilih dormitory sebagai tempat singgah selama berpetualang. Malam pertama di Busan. Aku sedang sebal sekali, kloset duduk yang tertutup itu baru saja ku-flush, maksud hati yang tak ingin melihat “zonk” saat membukanya…..Eh, malah air itu tumpah mbeleber kemana-mana bersama muatannya. Brengsek….Ini pasti …