Menunggu Pagi di Seoul Express Bus Terminal

<—-Kisah Sebelumnya

Temperatur anjlok….Sudah dibawah titik beku.

Jam dinding bulat putih di arrival hall memamerkan jarumnya yang mulai merapat ke angka pertama dalam putarannya.

Arrival Gate Seoul Express Bus Terminal.

Kembali ke sepuluh menit sebelumnya, ketika aku bergegas melipat jemuran t-shirt dan kaos kaki dari jok ketika bus putih berkelir merah itu merapat di Seoul Express Bus Terminal.

Selamat Datang Seoul….Engkau akan menjadi kota terakhir dalam petualangan awal tahun itu.

Seturun dari bus, setiap penumpang bergegas menuju bangunan terminal demi menghinda hawa dingin kota. Sejenak arrival hall berubah ramai, beberapa toko penjaja makanan ringan dan kopi yang masih buka menjadi serbuan sebagian penumpang. Sementara sebagian yang lain memilih angkat kaki dari terminal, mengandalkan taksi untuk melanjutkan perjalanan ke titik akhir masing-masing.

Mencari tempat untuk tidur.

Aku berdiri terdiam, mengawasi lokasi sekitar, mencari tempat bermalam yang nyaman. Aku sudah faham bahwa MRT akan mulai beroperasi pagi nanti, sekitaran setengah enam. Jadi aku tak perlu berepot-repot memaksa diri menuju bangunan stasiun.

Tuah keberuntungan itu datang, dipojok kiri sana terlihat dua kolom bangku panjang, masing-masing besekat tiga tanpa sandaran dengan besi pembatas antar sekat. Membuatnya tak mungkin menjadi tempat tidur darurat dini hari itu. Kutaruh backpack di pojok bangku dan aku mulai duduk menghabiskan sisa malam.

Menunggu benar-benar sepi untuk mengakuisisi bangku.

Seiring bergulirnya jarum jam, para penumpang yang sedari tadi menikmati kopi panas dan makanan ringan mulai hengkang, menyisakan sepi. Beruntung toko-toko itu tak menutup diri walau si empunya pasti tertidur di lantai sambil menunggui dagangannya. Setidaknya aku tak merasa sendiri.

Bangungan terminal ini sungguh manusiawi. Bersih, terang dan aman walaupun aku tetap mengeluhkannya karena tetap saja tak kuasa menahan hawa beku dari luar sana. Hawa itu masuk menembus jendela-jendela kaca, membuatku tak sanggup memejamkan mata sama sekali.

Di tengah kesenyapan, aku beranjak bangkit, mencoba mendekati kios-kios makanan itu. Mengamati beberapa kaleng minuman yang mungkin bisa menemaniku malam itu. Aku sedang khusyu’ memilihnya ketika tiba-tiba sekerumun penumpang berjejal memasuki bangunan terminal. Sebuah armada bus antar kota tampak menyalakan lampu hazard sembari memuntahkan seluruh muatannya.

Nona Cantik: “Hello, how do I get to downtown?

Aku: “If you want to go there now, you have to take a taxi, Ms. MRT isn’t operating yet now”, buseet, guwe yang orang asing aja lebih tahu.

Nona Cantik: “Oh. Is’n operating yet?”, aroma nafasnya tercium wangi Soju.

Aku: “Yes absolutely, you can go by taxi or waiting here until morning”, berharap dia bisa menemaniku di terminal

Nona Cantik: “Oke..Oke”, dia tampak menuju ke sisi dinding terminal….”Oppaaaa…….@#$%^&*!?><”. Ah dia malah menelpon kekasihnya. Musnah sudah harapan.

Aku kembali ke jajaran minuman kaleng, mengambil salah satunya dan menebusnya dengan 800 Won.

Minum kopi manis dulu lah…..

Dalam sekejap, bangunan terminal kembali sepi. Aku terduduk lagi di bangku. Kali ini seorang sopir bus antar kota sudah duduk di barisan bangku sebelah, bersandar pada tembok dan tidur dengan lelapnya.

Sedangkan aku yang sangat terganggu dengan hawa beku, berusaha terus bergerak hingga pagi. Beruntung aku menyempatkan tidur dalam bus selama dua setengah jam dalam perjalanan malam tadi.

Ayolah Seoul, segeralah datang matahari pagi!….

Kisah Selanjutnya—->

Leave a Reply