Lelap Sejenak  di Kimchee Guesthouse Sinchon

<—-Kisah Sebelumnya

Pukul setengah sembilan pagi, aku sudah merapat di Stasiun Hongik University, menyusuri koridor panjang stasiun dan menaiki escalator panjang an tinggi menuju permukaan tanah. Tata arsitektur stasiun menyambutku dengan taman berhiaskan bunga-bunga indah dipadu dengan bebrapa sculpture ikonik.

Aku mulai menelusuri gang utama menuju Sinchon-ro Avenue di utara stasiun. Yang kutahu, guesthouse yang kupesan berada di dalam gang di seberang jalan sana. Aku melintas pada zebra cross tunggal yang ada pada ruas jalan dihadapan. Seoul Bus Rapid Transit dominan biru langit kelir putih, dengan AC outdoor compartment  memanjang di bagian atap melengkapi body panjangnya tampak berlalu lalang mengambil warga lokal yang mulai beraktivitas meghargai fajar.

Aku memutuskan untuk tak bertanya  kepada siapapun perilah letak guesthouse tempatku menginap, aku yakin di tengah Ibu Kota yang super sibuk, akan sangat langka bagi siapapun untuk mengetahui letak sebuah guesthouse kecil jauh di dalam gang antah berantah.

Aku mengambil peta dan dengan cepat memahami gang sebelah mana yang harus kumasuki. Aku mulai memasuki  Gang Sinchon –ro 3-gil dan berbelok ke kanan pada pertigaan pertama. Sesuai dugaan, aku akan mudah menemukannya.

Memasuki pintunya yang tak terkunci, aku menemukan meja resepsionis yang gelap dan kosong, lorong tangga, dapur dan ruang makan sama temaramnya. Tamu-tamu guesthouse rupanya masih tampak malas dalam selimutnya masing-masing, seakan enggan berjibaku dengan dinginnya hawa di luaran sana.

Tak ada pilihan, aku memasuki shared lounge yang sama temaramnya, mengambil tempat duduk, menaruh backpack dan menangkupkan muka dalam sedekapan tangan untuk turut terlelap dengan kondisi terduduk. Setidaknya shared lounge itu tak sedingin ruangan Seoul Express Bus Terminal dini hari tadi.

Lelapan pulasku terbangunkan oleh suara berisik seseorang yang tampak merapikan ruang resepsionis. Rupanya aku telah terlelap selama satu jam lamanya. Lelaki muda Korea itu tampak melihat kearahku tanpa ekpresi. Aku mengucek mata untuk membuat muka segera segar. Beranjak dari bangku dan segera menujunya.

Aku ; “Hello, I’m Donny from Indonesia. I had booked a room in this guesthouse. This is my booking confirmation”.

Dia: “Let me see”, dia seksama membaca detail lembaran itu. “I think you will get your room on 1 pm, so I’m sorry”, aku terkagum dengan aksen British pengucapan englishnya.

Aku: ‘Oh, It’s OK. I know that. I just want to put my backpack here and I will go to sightseeing the city”.

Dia: “Yeaa, It will be better. Just put your backpack there”, dia menunjuk sebuah pojok ruangan yang penuh tumpukan backpack.

Aku: “Ok, thanks, Sir”.

Usai sukses menaruh backpack yang mulai membuat punggungku terasa berat. Aku segera meninggalkan guesthouse. Aku harus mencari sarapan sebelum menuju ke destinasi pertamaku di Seoul. Semenjak bercakap dengan Mr. In Chul Park di Seoul Metro tadi pagi, aku mulai menahan rasa lapar yang menyerang lambung.

Menyeberang kembali Sinchon-ro Avenue aku memasuki gang menuju Stasiun Hongik University. Di dalam gang aku perlahan melangkah demi menemukan sebuah minimarket. Yups….Akhirnya aku menemukan sebuah CU minimarket.

Menelusuri rak berisi makanan, aku menemukan cup noodle dan kemasan nasi putih, tanpa ragu aku memungutnya dan membawanya ke kasir. Seperti minimarket di Busan, CU minimarket Seoul juga menyediakan pojok makan, lengkap dengan microwave dan air panas. Pelanggan dituntut untuk bisa mengoperasikan peralatan pemanas itu dan melayani dirinya sendiri untuk menyantap makanan yang dibelinya.

Aku yang sungguh kelaparan, menyantap cup noodle dan nasi kemasan itu dengan cepatnya. Untuk kemudian segera bergegas menuju destinasi wisata pertama.

Kisah Selanjutnya—->

Leave a Reply