Grand Souq-Bur Dubai: “You Broke My Heart”

Aku melompat turun dari perahu yang difungsikan sebagai taksi air di Dubai Creek. Aku tiba di Bur Dubai Water Taxi Station yang terletak di seberang selatan sungai.

Ketibaanku disambut dengan hamparan plaza yang terlindung oleh pepohonan nan rindang dan aktivitas warga yang duduk bersantai di dalamnya.

Tampak keramaian di booth dominan merah yang menjual tiket Dubai Hop-on Hop-off Bus Tour. Sementara gerai Tropical Sno di tepian sungai yang menjual berbagai minuman dingin dan air kelapa muda tampak dipenuhi para pengunjungnya.

Aku segera meninggalkan plaza yang di sisi timurnya dimarkahi oleh satu menara pengawas klasik bak benteng mungil. Aku berjalan menuju gerbang pasar yang tepat berada di sisi 34th Street.

Tiba di bawah gerbang, langkahku terhenti oleh sepasang turis asal Jepang yang meminta tolong kepadaku untuk mengambilkan foto mereka berlatarkan gerbang pasar. Aku menuntaskan permintaan mereka dengan baik dan aku mendapatkan balasan yang sama, difotokan tepat di bawah gerbang pasar.

Pasar itu Bernama Grand Souq-Bur Dubai…..Sebuah pasar tua di Dubai yang memiliki koridor utama dengan atap kayu berukiran khas.

Aku baru tersadar karena mengunjungi pasar ini di hari Minggu. Padahal pasar ini biasa mencapai puncak keramaian di setiap Jumat, hari yang biasanya akan dimeriahkan oleh karnaval yang dihadiri oleh warga lokal, wisatawan dan para ekspatriat yang mengenakan pakaian serba meriah.

“Tak apalah….Lebih baik menikmati pasar apa adanya”, aku membatin dengan senyum.

Aku mulai berjalan menelusuri koridor utama. Sejauh mata memandang, pasar itu banyak menjual berbagai jenis kain, seperti sutra, katun, satin, dan beludru. Aku begitu menikmati atmosfer perdagangan di pasar tersebut.

Tetiba langkahku terhenti….


Aku tertegun ketika mendapati sebuah bangunan kios bertajuk “Indonesia”, tentu itu adalah nama tanah air tercintaku. Pada detik itu aku tak segera paham kenapa “Indonesia” menjadi nama sebuah kios.

Gerbang Grand Souq-Bur Dubai.
Koridor utama pasar.
Banyak penjual kain kan?
Yuk masuk lebih dalam.
Bangunan tempo dulu.
Kios Indonesia.
Menjelang koridor akhir.
TIba di bagian akhir pasar.

“Apakah untuk menarik wisatawan atau tenaga kerja asal Indonesia?”, aku menerka-nerka karena biasanya warga asal Indonesia memang suka berbelanja….Ah, entahlah.

Aku pun segera mengambil beberapa photo bangunan itu. Dan ketika hendak meninggalkan sisi itu, seorang pedagang yang kuduga berkebangsaan Pakistan menghampiri.


“Halo brother, do you need help?….I can take your photo”, dia menawarkan bantuan.


“Oh, sure, Sir. You are very kind”, aku memberikan gawai pintarku kepadanya setelah mengaturnya sehingga menu kamera siap digunakan.


Snap….snap….snap.


“Thanks, Sir”, aku menerima soloran tangannya yang mengembalikan gawai pintarku.


“Sir, We have nice scarfes for you”, pedagang itu menjulurkan tangan ke arah kiosnya demi membujukku.


“I don’t come here for shopping, Sir….Just for sightseeing”, aku halus menolaknya.


Tak menyerah, salah satu temannya datang dari kios menghampiriku dengan membawa beberapa helai syal. Penuh senyum dia mulai memamerkan kain-kain indah itu di depanku.


“Thanks for your offering, I can’t buy your scarfes”, aku untuk terakhir kali menolaknya halus.


“Oh, brother, you broke my heart”, dia tersenyum rela bahwa syalnya tidak laku dijual kepadaku.


Aku berpamitan kepadanya dan melanjutan penelusuranku di Grand Souq-Bur Dubai.

Menelusuri koridor sepanjang tak kurang dari tiga ratus meter, aku menemukan nuansa klasik Dubai di seantero pasar. Bangunan-bangunan tempo dulu yang difungsikan sebagai kios masih sangat terawat dan berdiri dengan anggun.

Akhirnya aku tiba di ujung pasar yang ditandai dengan keberadaan Grand Bur Dubai Mosque.

Leave a Reply