Gosok Gigiβ¦.
Itulah problema utama pagi itu. Tak ada tempat layak untuk menunaikannya. Berbeda dengan bandara yang umumnya memiliki toilet kelas hotel berbintang. Ini terminal bus, man!
Tak sempat berfikir untuk sarapan, aku segera bangkit, memanggul kembali backpack biruku, melanjutkan identitas sebagai seorang backpacker. Kini aku akan menuju ke tengah kota.
Berada di Seoul Express Bus Terminal berarti aku berada di ujung selatan kota, tertahan semalaman di Distrik Seocho demi menunggu kereta pertama beroperasi. Aku bergegas menuju Stasiun Express Bus Terminalβ¦.Yupz, stasiun itulah yang terintegrasi dengan terminal dimana aku bermalam.
Sementara residu udara beku masih terasa lekat di kulit ari begitu setengah langkahku terjulur keluar dari gerbang terminal. βGilaaaβ¦.β, batinku yang membatin. Kusegerakan langkah dengan menaikkan tempo kaki menuju gerbang stasiun.
βDamnβ¦.β, gerbang itu masih terhalang oleh standing barrier.
βBelum boleh masukβ¦.β, batinku membuat kesimpulan.
Tergopohlah diri kembali menuju terminal. Kuputuskan menunggu hingga genap satu jam, melebihi setengah jam dari rit pertama kereta beroperasi.
Satu jam yang kumanfaatkan dengan membuka kembali lembaran peta dasa jalur Seoul Metro. Jumlah jalur yang satu lebih banyak dari jalur MRT-LRT milik Negeri Singa. Kapankah Jakarta akan mengejarnya?
Genap enam puluh menit menanti, kini aku merepetisi jejak menuju gerbang Stasiun Express Bus Terminal. Standing barrier itu telah sirna, penanda bahwa stasiun telah membuka diri bagi setiap tamunya.
Memasuki bangunan stasiun, pohon-pohon natal masih saja menyambut walau ini sudah hari ketiga bulan Januari, patung Santa Claus dengan sembilan rusa kutub kesayangannya menyapa dan tepat di pojokan sana security berbadan tambun dengan kelebihan bentuk perut melempar senyum. Dengan sigap dia menyambar topi dan Tongkat-T putihnya lalu berlari kecil menujuku. Sepertinya dia faham bahwa aku bukanlah penduduk Negeri Ginseng, oleh karenanya, dia berniat membantu. Walaupun sebetulnya, aku lebih tertantang menemukan untuk platform dengan caraku sendiri. But, Itβs OK, lah.
Security tambun: βHellooo, where wil you go?β
Aku: βHongik University Station, Sirβ.
Security tambun: βOh, OK. Where are you come from?β
Aku: βIndonesiaβ
Security tambun: βHmmh, Malaysia?β
Aku: βNo Sir. Indonesia. A country at south of Malaysiaβ.
Security tambun: βOh really, follow me!β¦follow me!β
Aku pun menguntitnya dari belakang
βThis wayβ, dia menunjuk sebuah lorong menuju salah satu platformβ.
βThank you, Sirβ, aku menutup percakapan sebelum dia kembali menempati posnya.
Menyusuri lorong hingga ujung, aku mulai mencari keberadaan ticket vending machine. Mesin itu ada di salah satu sisi. Lorong masih sepi, memungkinkanku untuk mengeksplorasi layar mesin itu. Tekun menjelajah layar, tak ada satu kata pun yang bisa menuntunku untuk mendapatkan One Day Pass.
Aku memunculkan sebuah inisiatif untuk menghadap ke petugas stasiun. Ruangan itu jelas ada di samping sana. Dua orang staff berseragam tampak memulai hari di meja kerjanya. Aku terlanjur mengetuk pintu kaca dan tatapan mereka serempak menuju ke arahku lalu diiringi lambaian salah satu diantara mereka sebagai tengara bahwa mereka mempersilahkan aku untuk masuk menghadapnya.
Aku: βGood morning, Sir?β
Staff: βYes, Can I help you?β
Aku: βDoes Seoul Metro sell One Day Pass for passenger?β
Staff: βNo No No, you must buy a regular cardβ
Aku: βWhat is that?β
Merasa kerepotan berbahasa Inggris, dia beranjak dari bangku dan menuju pintu. Dia melambaikan tangan kepadaku untuk mengikutinya. βthere!β, dia menunjuk kepada sebuah kotak mesin.
Merasa peluang untuk mendapatkan One Day Pass menipis, aku pun menyerah dan menutup percakapan. βOh, OKβ
Langkah kakiku cepat menuju kotak mesin itu. Merasa penasaran dengan apa yang bisa dijual oleh benda penuh teknologi itu. Aku berhenti sejenak, mengamati lekat penampakannya. Belum juga aku memencet apapun maka berdirilah di sampingku seorang lelaki, umurnya 40-an tetapi masih terlihat segar bugar, murah senyum dan tampak berpendidikan.
Dia: βHellooβ¦..Can I help you? Where are you come from?β
Aku: βHi, Indonesia Sir. Yeaa, I looking for the One Day Pass in this machine, Sirβ.
Dia: βOh, there isnβt One Day Pass in Seoul Metro. You must buy T-Money for your journey using Metroβ
Aku: βOh, yaβ
Dia: βOK, I will help you to get itβ. Dia mulai mendekat ke layar, kemudian gesit memencet-mencet tombol hingga tiba pada menu akhir ekseskusi. βYou need to insert 3.000 Won to this machine!β
Aku: βOh , Ok, I seeββ¦.aku memasukkannya dan dia mulai memencet tombol eksekusi terakhir.
T-Money itu keluar dari mesin dengan packingan rapi berwarna putih. Lelaki itu mengambilnya dan menyerahkan kepadaku.


βSo now, you can explore Seoul by this. Come on we go to platform. Where is your destination?β, dia mulai megajakku melangkah
βHongik University Station, Sirβ, aku mencoba mengimbangi kecepatan langkahnya.
βOh, do you study there?β.
βOh, No Sir, I am just traveling now. What is your name, Sir?β
βIn Chul Park. Call me Parkβ, dia mengulurkan tangan
βDonny, Sirβ, aku menjabat tangannya.
Kini aku memiliki teman berbincang selama perjalanan menuju Kimchee Guesthouse Sinchon.
Thank you very much Mr. Parkβ¦.
Leave a comment