SARANGKOT….adalah nama sebuah desa berketinggian 1.400 mdpl di Distrik Kaski, Zona Gandaki. Terletak tepat di kota Pokhara yang merupakan pusat turisme di Nepal menjadikan Sarangkot sebagai salah satu destinasi favorit. Kenapa demikian?….Karena Sarangkot adalah viewpoint terbaik untuk mengamati Pegunungan Himalaya.
Delapan puncak Himalaya yang bisa dilihat dari desa ini mendorongku menaruh nama desa ini dalam itineraryku.
Hari pertama tahun 2018….Happy New Year, Donny!
Sarangkot seakan dekat di pelupuk mata. Taxi sewa harian seharga 1.100 Rupee sudah kupesan di Pokhara Lodge Hotel tempatku menginap. Kabar baiknya Aku akan membayarnya secara patungan dengan 3 turis lain.
Haripun masih gelap ketika Mr. Raj si pengurus hotel membangunkanku, “driver sudah siap di bawah”, sahutnya. Hanya bersikat gigi dan membasuh muka, Aku segera menuruni tangga hotel untuk bertemu sang driver.
Keramahannya tersirat dari setiap senyum yang terlempar di hadapanku. Aksen Inggrisnya yang menakjubkan menunjukkan bahwa Dia juga seorang pemandu yang baik untuk setiap tamunya. Menurutnya, kemampuan berbahasa Inggris menjadi sebuah kewajiban mengingat pariwisata adalah jantung perekonomian Nepal.
Pagi-pagi buta Aku memulai lawatan ke Sarangkot. Perjalanan sejauh 12 km ini porsi besar jalurnya akan melewati jalan Pokhara-Baglung.
Aku menjadi orang yang beruntung, karena sejak malam langit terlihat cerah. Artinya Aku akan melihat indahnya Himalaya tanpa halangan awan.
Memasuki gerbang Sarangkot, kendaraan diberhentikan dan Aku harus mengeluarkan 50 rupee untuk ditukar dengan entrance ticket. Total hanya perlu 30 menit untuk tiba tepat di pelataran parkir Sarangkot.

Menaiki puluhan anak tangga, tersadar bahwa Aku berada di ketinggian. Tetapi gulitanya pagi, membuatku susah melihat pemandangan di bawah.
Sekejap kemudian, Aku tiba di luasnya pelataran. Sepertinya ini adalah titik pandang Himalaya yang dimaksud. Sudah lumayan banyak turis yang duduk di bibir bukit menunggu datangnya fajar. Beberapa photographer professional terlihat sibuk mempersiapkan kamera dan peralatan lainnya.
Suhu 4o Celcius terkalahkan dengan bayangan pesona Himalaya yang memenuhi alam imajinasiku.
Waktu seolah berjalan lama ketika Kita menantikan sesuatu yang dicinta….begitupun Surya di Sarangkot….seakan menggodaku dengan menunda-nunda kemunculannya untuk menghangatkan Himalaya.
Pucuk di cinta ulam pun tiba
Dia mulai menunjukkan batang hidungnya



Ketika sinar surya menerpa lapisan es di puncak Himalaya, maka warna keemasan akan memancar dan itu membuat mataku susah berkedip. Takut kemewahan itu sirna begitu saja…….Hadeuh….Bahasamu Don.
Pagi yang sudah tersibak, Aku baru bisa melihat bentuk pelataran sesungguhnya. Ini dia:



Segeralah berpindah ke sisi pelataran lain. Kamu akan melihat pemandangan penutup, yaitu Phewa Lake yang secara geografis terletak di sebelah selatan desa Sarangkot.

Setelah berdiam diatas selama 2,5 jam. Kuputuskan untuk turun kembali. Pemandangan desa yang tak tampak ketika Aku berangkat, akhirnya terlihat dengan jelas dan indah ketika Aku perlahan meninggalkan puncak Sarangkot.


Sebetulnya jika tak mau repot berangkat pagi-pagi dari kota Pokhara, Kamu bisa menginap di sekitar Sarangkot dan datang sehari sebelumnya. Di Sarangkot terdapat beberapa penginapan yang menyediakan kamar untuk turis yang akan menikmati Himalaya.


Menuruni punggung bukit selama 15 menit, akhirnya Aku tiba kembali di pelataran parkir.

Menemui driver taxi yang menemaniku, kemudian Aku di ajaknya menuju Purana Bazaar untuk melihat aktivitas perniagaan di pasar yang terkenal di Pokhara.
aaah aku dengki sama kamu, jalan-jalan muluuu….
Wadaawwww…..ayolah ikut mbak… Hehehe….. Jalan-jalan sdh menjadi candu buatku mbak… Mungkin aku harus masuk rehabilitasi mental…. Hahaha