Kecantikan Dewi Hidup di Kumari Ghar

Adalah Raja Prithvi Narayan Shah yang pertama kali menggunakan bendera dua segitiga ketika berhasil mempersatukan semua kerajaan di Nepal pada 1768. Ya, dua segitiga pada bendera nasional Nepal itu melambangkan dua dinasti besar yang pernah ada di Negeri Seribu Dewa yaitu Dinasti Shah dan Dinasti Rana.

Aku menemukannya dimana-mana.

Please, come!….Please, come!” seorang pria menyuruhku memasuki sebuah bangunan mengkilat merah bata. Para turis Eropa beserta tour guidenya yang sepertinya telah tahu alasan mengapa mendatangi tempat ini tampak berbondong memasuki gerbang. Aku yang belum menyimpan informasi apapun, hanya mengandalkan senyuman bersahaja dari pria itu. Sebentar kemudian aku sudah di dalam.

Pria berjaket abu-abu yang berjasa menemukanku pada seorang Dewi.

Pria lain di dalam menyambutku, “Welcome to Kumari Ghar…The house of Kumari”. Kumari adalah Dewa hidup dalam mitologi Hindu bahkan Buddha. Kumari sendiri adalah istilah Sansekerta yang berarti “Putri (princess)”. Kumari dipilih oleh kepala Pandita dan dianggap sebagai reinkarnasi dari Dewi Taleju, Sang Dewi Penjaga Kota.

Mencincang daging kerbau untuk persembahan esok hari.

Aku terus menguping penjelasan tour guide kepada para pelancong Eropa itu. Konon raja terakhir Malla sering  bertemu secara rahasia dengan Dewi Taleju yang diminta untuk melindungi kerajaan. Istrinya yang curiga, pada suatu malam membututi sang Raja ketika hendak bertemu Sang Dewi. Sontak Sang Dewi murka karena keberadaannya terungkap. Tetapi Sang Dewi masih berbaik hati untuk tetap bersedia melindungi kerajaan, tetapi dengan satu syarat yaitu disediakannya seorang gadis sebagai reinkarnasi darinya. Nah, gadis inilah yang akan kulihat kali ini.

Salah satu sisi Kumari Ghar yang telah berusia 263 tahun.

Semua mata mengarah pada tiga jendela hitam di lantai teratas Kumari Ghar. Dari situlah Kumari akan dipertontonkan secara kilat. Para lelaki tegap tampak mulai menyebar ke segala sudut dan matanya tak berkedip mengawasi kami. Wajah mereka menyapu suluruh turis di pelataran, mereka berjaga jangan sampai ada sorotan video atau tangkapan kamera yang mengarah ke Kumari saat dipertontonkan nanti.

Gelisah untuk segera melihatnya.

Saatnya tiba, semua hening melihat jendela yang perlahan dibuka. Kumari belum juga keluar, aku tak berkedip karena khawatir kehilangan penampakannya yang akan singkat. Para pengawas di bawah berteriak lantang kepada pengawas di atas, entah apa yang dilaporkannya. Mungkin kondisi sudah siap untuk Kumari muncul di jendela.

Dua perempuan mengecek kembali kondisi di bawah dari atas. Sewaktu kemudian, mereka memberikan kode ke arah dalam. Sekejap kemudian, gadis cantik berbusana serba merah, bermahkota lembaran emas dengan mata ketiga di keningnya muncul di lubang jendela. Hanya sebentar, tak sampai setengah menit.

Wooouwww”, ucapan seragam yang terlontar dari para pelancong dan kemudian meraka sibuk berbisik dengan temannya masing dengan bahasa bangsanya. Sementara aku masih saja memandangi jendela yang sudah tertutup sejak tadi sambil tersenyum. Gila rasanya bisa bertemu dengan seorang Dewi yang benar-benar hidup…..Hahaha.

Seperti inilah penampakan Kumari.

Mengikuti kepercayaan, Kumari akan selesai menjadi reinkarnasi Dewi Taleju ketika mengalami menstruasi dan akan digantikan oleh Kumari baru. Kumari akan dipilih sejak berusia tiga tahun dengan persyaratan yang sangat ketat seperti tidak boleh ada bekas luka, tidak takut pada pria bertopeng yang menari di atas darah kerbau yang disembelih, tidak akan menginjak tanah selama menjadi Kumari dan hanya keluar sekali setahun dalam acara acara Bhoto Jatra yaitu festival perayaan musum hujan  sekaligus panen.

Magis ya budaya Nepal ini….Luar biasa.

Madira di Hanuman Dhoka Durbar Square

Masih pagi….Tak ragu, aku menukar Rp. 125.000 dengan tiket putih-kemerah jambuan sebagai akses menikmati sejarah Hanuman Dhoka Durbar Square.

Menapaki jalanan Layaku Marg yang keabuan berlapis andesit serta debu tipis yang dilemparkan oleh sapu lidi para petugas kebersihan, aku telah bersiap memasuki Nepal tempoe doeloe yang masih berbentuk kerajaan.

Kuil untuk menyembah “Dewi Ilmu Pengetahuan” kulewati dengan cepat untuk kemudian ku jumpai kerumunan warga yang sibuk membakar dupa, menabur bunga dan kemudian menyatukan kedua telapak tangannya di dada meghadap patung hitam enam lengan yang dipercaya sebagai perwujudan Dewa Siwa Sang Pemusnah.

Saraswati Temple.

Sementara para pedagang dupa di pelataran Indorapur Mandir membuat area itu menjadi sangat ramai dibanding area lain di Kathmandu Durbar Square. Selaras padu dengan kesibukan ratusan merpati dalam menyantap sarapan pemberian para pelancong yang sudah datang lebih dulu

Kaal Bhairav bermahkota emas perwujudan Dewa Siwa.

Lapis-lapis atap segenap kuil tampak sama dan membawaku pada nuansa rekaan Majapahit di perfilman tanah air. Atmosfer Ksatria Hindu yang sangat kental di pagi itu, mampu melemparku sejenak dari dunia yang fanatik dengan teknologi.

Biji jagung yang dijual untuk merpati.

Istana Kerajaan Malla yang kemudian dilanjutgunakan oleh Dinasti Shah adalah icon penting  di Kathmandu Durbar Square. Oleh karena dijaga patung Dewa Hanuman di gerbang depan, UNESCO World Heritage Sites ini dikenal dengan sebutan Hanuman Dhoka Durbar Square. Beberapa khalayak menyebutnya Basantapur Durbar Khsetra karena istana ini terletak di area Basantapur.

Itu gerbangnya.

Selepas gerbang maka pelataran istana nan luas menyambut. Dikenal dengan sebutan Nasal Chowk. Nasal berarti tarian, merujuk pada Dewa Siwa yang menari Tandava Nataraja  ketika menghancurkan semesta yang sudah usang. Pelataran yang mirip dengan plaza ini dikepung oleh bangunan-bangunan istana di keempat sisinya.

Bangunan putih di sisi barat istana.

Sementara di sisi selatan pelataran terpampang papan nama proyek yang didanai oleh Kementrian Perdagangan Republik Rakyat China untuk merenovasi istana yang mengalami kerusakan hebat pasca gempa tektonik yang dihasilkan dari tumbukan lempeng India dan Eurasia di Himalaya pada 2015.

Basantapur Tower Sembilan tingkat yang telah runtuh.
Ruang yang didalamnya terdapat patung Dewa Siwa yang sedang menari.
Sun Dial, penunjuk waktu sebelum ditemukannya jam.

Lalu, di sisi utara terpampang bentuk arsitektur Newar dengan jendela hijau mencolok. Berjuluk Sisha Baithak yang berfungsi sebagai ruang audiensi kerjaan. Di lantai bawah bangunan itu, terpampang deretan foto para raja. Dan dua polisi penjaga istana nampak mondar-mandir dengan senapan laras panjangnya di sekitar bangunan ini.

Dari kiri adalah King Rana Bahadur Shah (Raja Nepal ketiga) dan anaknya King Girbanayuddha Bikram Shah (Raja keempat-foto kanan)
Bersama Guard Police di Sisha Baithak sebelum meninggalkan istana.

Aku meninggalkan istana sembari melempar kata terimakasih dan sampai jumpa kepada Guard Police itu. Sontak temannya yang baru tiba berucap kepadanya dalam bahasa Nepal, kutebak berbunyi “Darimana dia berasal?”, karena polisi yang kuajak berfoto berujar singkat “Indonesia”.

Satu tips ketika berada di kawasan Kathmandu Durbar Square adalah coba pahami satu-persatu bangunan yang kamu lewati, karena setiap bangunan disana memiliki fungsi dan nilai historis yang mengagumkan.

Kembali aku menemukan bangunan unik. Sebuah kuil bertahtakan Shwet Bhairav yang diyakini sebagai perwujudan paling kuat dari Dewa Siwa. Disembunyikan dalam tirai kayu dan menunggu Indrajatra Festival untuk menampakkan diri secara penuh kepada penduduk Newar. Saat festival tiba, dari mulutnya akan di pancurkan Madira (alkohol) sebagai bentuk berkah bagi manusia.

Shwet Bhairav.

Beranjak siang….Matahari kini mulai mampu menembus setiap celah alun-alun, menghangatkan tubuhku yang sedari pagi terpapar hawa dingin. Saatnya meneruskan langkah menuju destinasi berikutnya.

Selanjutnya akan kutunjukkan kecantikan paras seorang Dewi dalam mitologi Hindu dan Buddha di Nepal.

Yuks….Ikuti aku!

Indra Chowk sebelum Kathmandu Durbar Square

Bersiap sarapan.

Tak seperti biasanya, santapan pagi sedikit mewah telah disiapkan di lantai teratas Shangrila Boutique Hotel. Nasi goreng bertabur potongan dadu daging kerbau, dua potong sosis dan selembar telur mata sapi. Masih pula disiapkan dua lapis toast berselai selembar keju. Kemudian ditutup dengan secangkir kopi hitam panas.

Perut kenyang dan aku siap memasuki kejayaan Nepal masa lalu yang akan tersirat pada tiap jengkal area di Kathmandu Durbar Square, satu diantara tiga Durbar Square terkenal di Nepal. “Durbar” sendiri berarti “istana”, sementara “square” berarti “alun-alun”. Jadi sebenarnya Durbar Square adalah alun-alun istana pada umumnya.

Membilang di Amrit Marg, hangatnya mentari pagi meringankan langkah ketika harus menembus suhu 9 derajat yang masih saja enggan beranjak naik. Sementara batuk telah menghuni tenggorokan sejak sehari lalu akibat debu yang terus terhisap tak terkendali. “Tak apa, besok aku terbang menuju New Delhi, pasti udara akan lebih bersih disana”, batinku menenangkan diri. Keyakinan itu membuat Ambroxol yang kubawa dari Jakarta masih saja utuh.

Kini aku mulai memasuki sejumlah tikungan rumit sempit. Jalanan berlapis andesit dengan deret ruko penghadang surya dan bertabur signboard tak beraturan. Bahkan di bilangan Jyatha Marg diperparah dengan untaian kabel listrik yang bersimpul sangat kusut.

Petugas PLN Nepal pasti mahir menangani kerusakan listrik.
Penjual bunga Gemitir di tepian Chandraman Singh Marg.

Tiba saatnya melangkah di perempatan terakhir sebelum memasuki area terkenal Indra Chowk. Waktu sudah jam 10 pagi tetapi pertokoan di sepanjang Chandraman Singh Marg masih saja tutup. Sementara itu, sepeda motor yang berlalu-lalang tercacah dalam hitungan jari..

Pengayuh becak yang beranjak mengais rezeqi.
Mencicip kacang rebus.

Beberapa dasa langkah, area yang kusasar ada di depan mata, simpang lima dengan kesibukan sangat tinggi. Gemuruh perniagaan pagi yang membuatku tertegun mengamatinya di suatu sisi. Inilah Indra Chowk, area yang selama berabad-abad telah menjadi sentra perdagangan tersohor di distrik Kathmandu. Siapa saja yang ingin berburu pakaian khas Nepal, souvenir untuk dibawa pulang ataupun merasakan aneka makanan lokal, maka datanglah kesini!

Pangkalan becak di Indra Chowk.

Memasuki area simpang lima dari sisi utara melalui Chandraman Singh Marg, aku bisa melihat keempat jalan lain sebagai penyusun simpang yaitu Siddhidas Marg (dari Timur Laut), Watu Marg, Sukra Path, dan Siddhidas Marg (dari Barat Daya). Kelimanya bermuara pada lingkaran luas dengan pemandangan ikonik kuil Aakash Bhairav.

Aakash Bhairav yang bersejarah menjadi istana raja pertama Nepal.

Melangkah kembali, menjauhi kebisingan Indra Chowk sembari mencangking Dhaka Topi yang kubeli ketengan, jalanan yang tak begitu ramai kembali menyambut.

Abege di  Siddhidas Marg….Manis ya?….Hahaha.

Di jalan inilah terdapat satu spot menarik. Khalayak mengenalnya sebagai Makhan Tole. Spot kesenian terkenal di Kathmandu. Karya seni rupa banyak dijumpai disini dan tentu banyak pelancong yang memburunya.

Gerbang Makhan Tole.

Dari Makhan Tole, hanya memerlukan 5 menit berjalan kaki menuju Kathmandu Durbar Square.

Akhirnya aku sampai juga.

Yuk kita eksplore apa saja yang ada di Kathmandu Durbar Square ini…….

Goyang Bollywood di Jalanan Thamel

Aku ditempatkan di kamar lantai pertama dibalik sebelah kanan meja resepsionis Shangrila Boutiqe Hotel. Menaruh backpack 45 liter dan melepas ikat sepatu boots maka selang beberapa waktu, kubiarkan air hangat lama menyiram tubuh lelahku pasca hampir setengah hari berjibaku pada perjalanan darat meninggalkan Pokhara.

Tak ingin terjebak kejenuhan di dalam kamar, aku mulai menaiki tangga berkarpet merah menuju atap hotel. Di atas, seorang pemuda berdiri di meja kasir menyapa ringan dan menawarkan menu spesial restoran. Tak ada menu spesial yang kupesan, aku hanya akan menghabiskan senja dengan secangkir teh hangat dan menikmati pesona Thamel dari atas.

Restoran Shangrila Boutique Hotel.

Hingga kemudian hasrat petualanganku menggoda. Rasanya akan merugi jika tak merapat ke jalan dan menikmati suasana secara langsung. Thamel sungguh istimewa. Betapa tidak, jalanannya tiap malam dipersembahkan khusus untuk para tamu negara itu. Setiap ujung jalan dijaga oleh polisi yang tak akan membiarkan satu pun kendaraan bermotor lolos melintas masuk. Thamel selalu ramai ditumpahi para pelancong untuk menghabiskan malam Kathmandu.

Aku mulai ke jalanan.
Suasana sore menjelang gelap.

Tetap berdebu….Aku menelusuri jalanan yang dibatasi dengan kios-kios pashmina, souvenir, restoran, money changer, hotel ataupun kantor agen pariwisata di kiri-kanannya. Tips buat kamu…Jika tak berminat membeli pashmina, maka jangan berusaha menawarnya, penjual akan mengajakmu bertransaksi di dalam kios dan mereka adalah para negosiator ulung dan kupastikan kamu akan keluar dengan menenteng salah satu dari dagangan mereka.

Kios-kios penggoda kantong.
Khas bendera warna-warni seperti pada kuil mereka.

Sedikit kesulitan mencarinya karena sengaja menghindari menu restoran. Aku berjibaku mencari sebuah kedai untuk bersantap malam. Keluar masuk gang hingga akhirnya menemukannya, benar-benar jauh masuk ke dalam gang. Beruntung kedai kecil itu menyediakan momo.  Menyempurnakannya, aku memesan segelas kecil honey lemon tercampur potongan memanjang ginger yang membuatku terasa hangat.

Momo khas Nepal.

Kembali ke jalanan setelah hampir satu jam duduk di kedai itu. Menelusuri  jalanan yang berbeda, aku terhenti seketika di sebuah perempatan dan menoleh ke kanan. Sebuah kerumunan dengan musik menghentak-hentak di bilangan Chaksibari Marg. Setelah mendekatinya , ternyata sekelompok dancer sedang berlatih tarian Bollywood. Asik juga melihat secara langsung tarian itu secara langsung. Untuk tak ada pohon, bisa-bisa aku ikut menari mengelilinginya.

Mereka berlatih untuk sebuah film.

Semakin dingin, aku meninggalkan kerumunan  dan segera menuju ke hotel. Tapi yang namanya daerah wisata, para penggoda kembali menghentikan langkah. Kali ini seorang pemuda memanggil dan menawariku untuk menghabiskan malam dengan hangat di sebuah bar. “You can enjoy our band performance”, ungkapnya. Aku yang seumur hidup tak pernah memasuki bar kini mulai tergoda, “Oke lah, tak ada salahnya”, batinku.

Alhasil, aku mulai menaiki tangga Sisha Bar & Restaurant. Benar adanya, sebuah band lokal beranggota 4 pemuda millennial dengan 1 vokalis perempuan sedang melantunkan pop lokal yang membuatku bersemangat untuk segera duduk dan menikmati pertunjukan itu. Hingga aku menghabiskan dua porsi besar hot lemon with honey saking khusu’nya.

Malam yang indah dan tak terlupakan di Thamel

Salah Bangku di Tourist Bus Pokhara-Kathmandu.

Mr. Tirtha masih saja menemaniku berbincang, kami berdua berdiri bersandar di taksi mungilnya sembari mengamati kesibukan di sekitar Tourist Bus Park. Beberapa pedagang asongan silih berganti naik turun di seluruh bus berukuran tiga perempat menawarkan dagangannya.

Sewaktu kemudian, Mr. Tirtha  merentangkan tangannya lebar dan kami berpeluk ringan sebagai pengganti ucapan “terimakasih dan sampai jumpa”. Aku sengaja memasuki bus setengah jam sebelum keberangkatan. Akan lebih baik karena Mr. Tirtha bisa dengan segera melanjutkan mencari nafkah dengan taksinya.

Si kondektur menunjukkanku tempat dimana aku harus duduk. Baris kedua dibelakang sopir yang dibatasi sekat kaca. Kini pemandangan menjadi tegang, ketika sepasang suami istri India beradu mulut dengan si kondektur. Sejoli itu merasa dirugikan karena agen tiket di Kathmandu menjanjikan bangku paling depan buat mereka. Si kondektur dengan santainya balik menggertak, “This is Pokhara, Not Kathmandu”. Seketika suasana hening. Aku baru sadar, sejoli itu mengincar bangkuku….Hahaha, padahal jika disuruh tuker aku juga tak menolak. Ada-ada saja.

Europeans di depan itu seru bermain kartu sepanjang perjalanan.

Tiga setengah jam setelah keberangkatan pukul 7 pagi, bus berhenti untuk breakfast break selama 20 menit setelah sejam sebelumnya bus sudah sekali melakukan 15 menit toilet break. Sarapan yang diberikan Mr. Raj di pagi hari nampaknya cukup efektif bagiku untuk tak mengeluarkan budget konsumsi apapun kali ini. Yuk, kuperlihatkan bagaimana restoran tempatku berhenti:

Makan prasmanan aja ya!
Itu tarifnya.
Kopyah yang dipakai kasir itu bernama Dhaka Topi.
Ah masih kenyang….Ngopi aja lah.

Aku baru merasa kelaparan pada lunch break pukul 13:30,  menikmati se-thali (piring lebar khas India) makanan yang kuambil dari meja prasmanan seharga  Rp. 52.000 dan sebuah free-orange juice yang diberikan pada semua penumpang sejak pemberangkatan di Pokhara.

Lumayan free….  
Aku naik yang warna putih.

Jarum jam menunjuk pukul 15:34. Toilet break terakhir kali ini menjadi bagian paling berkesan.  Kumanfaatkan waktu dengan menelusuri area di sekitar tempat peristirahatan. Aku bergerak menuju tepian jalan dan menikmati panorama lembah dan jurang dibawahnya.

Kebanyakan truk di Nepal adalah Tata Motor.

Tergeletik dengan kehidupan di pinggiran jalan, aku memasuki sebuah gang kecil dan melihat sekelumit aktivitas warga lokal yang hidup di pinggiran jalan. Mengamati sebuah spanduk yang tertempel di sebuah sisi tembok beton, aku mencoba sedikit membuka kulit luar perpolitikan di Nepal.

Nepal adalah negara berbentuk republik parlementer yang memiliki empat partai politik utama. Communist Party of Nepal (CPN) menjadi partai pemenang di Nepal yang menempatkan dua tokoh pentingnya yaitu Khadga Prasad Sharma Oli sebagai Perdana Menteri dan Bidhya Devi Bhandari sebagai  Presiden negara tersebut.

Itu dia lambang CPN.

Kembali berada di bangku bus, perjalanan kali ini mengalami kemacetan luar biasa ketika menuruni bukit terakhir menjelang perbatasan Kathmandu. Layaknya kemacetan di Cianjur saat weekend tiba.

Bus merapat di Kanti Path pada pukul 17:08. Kelelahan yang teramat sangat membujukku untuk segera menemukan Shangrila Boutique Hotel di area Thamel. Aku menelusuri banyak gang-gang sempit dan menanyakan kepada penduduk lokal untuk menemukan lokasinya. Hanya berjalan selama 20 menit, akhirnya penginapan itu kutemukan.

Kuserahkan Rp. 280.000 sebagai tarif menginap per malam. Kali ini aku akan bermalam 2 petang di Kathmandu untuk menikmati wisata kota.

Himalayan Coffee dan Nepali Thali

Sebelum benar-benar tuntas menuruni Bukit Anadu, aku terhenti pada sebuah kedai.  Kedai kelontong yang menjual beberapa snack, air mineral, juga minuman beralkohol ringan. Kedai mungil beraroma harum kopi  yang dihasilkan dari tungku roasting di sebelah kanannya.

Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\15. Nepal\IMG_20180101_181723470.jpg
Somersby berkadar 5%….Terkenal di Pokhara. Aku mah air putih aja….murahhhhh.

Himalayan coffee bean”, tutur si penjual ketika aku memperhatikan caranya me-roasting kopi. Buat beberapa orang, passion memang segalanya. Seperti pria ini, dia rela melepas kewarganegaraan Jepang dan memilih berganti menjadi Nepalese demi cintanya pada kopi Himalaya.

I take it”, aku menunjuk kemasan 250 gram untuk kuseduh di Jakarta.

—-****—-

Mr. Tirtha, your country is unique. Some Nepalese faces are like Indians, sometimes I find them similar to Chinese”, ucapku ketika Mr. Tirtha mulai menginjak pedal gas taksinya menjauhi bukit.

Yess….Nepal is flanked by India in south and China in north. So some Nepalese have mixed marriages”, tutur beserta senyum ramahnya menjawab pertanyaan.

Kami bergerak ke timur laut dengan memutari Phewa Lake untuk kembali ke hotel yang berjarak 6 km. Setiba di New Pokhara Lodge, aku mengucapkan terimakasih kepada Mr. Tirtha yang sejak jam 4 pagi menemaniku dalam eksplorasi Pokhara. Kuserahkan Rp. 600.000 sebagai biaya jasanya, itu artinya aku hanya perlu mengeluarkan budget transportasi sebesar Rp. 150.000 karena aku memborongnya bersama trio backpacker sehotel.

Belum hilang juga nuansa perayaan tahun baru di Lakeside Road, aku kembali menjelajah pinggiran Phewa Lake setelah berbasuh dan meluruskan kaki. Kali ini, aku kelaparan dan harus makan besar. Masih ada janji pada diri pasca percakapan sepanjang hari dengan Mr. Tirtha. Ya….Aku akan mencicipi Nepali Thali.

Jajanan kaki lima sepertinya tak akan mampu meredam kelaparanku, aku bergegas memasuki sebuah resto. Terduduklah diriku di bagian dalam untuk mendapatkan udara hangat, lalu disambut oleh pelayan perempun berparas manis. Tak perlu lama memilih. “Nepali Vegetarian Thali and orange juice”, pintaku setelah melihat menu yang kubaca. Makanan khas Nepal seharga Rp. 40.000 dan juice seharga Rp. 23.000 menjadi penutup hariku malam itu.

Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\16. India\WA\IMG-20180102-WA0004.jpg
@Bellas Garden Restaurant.

—-****—-

Malam berganti pagi, aku menyeruput teh panas dan menghabiskan menu sarapan di pelataran hotel. Kemudian kembali ke kamar dan memanggul backpack biruku untuk bersiap pamit pada Mr. Raj. Kujabat tangan keriputnya dan kutepuk berulang kali lengan atasnya.

Aku:  “Thank you Mr. Raj for your kindness and hope to see you again next time”.

Mr. Raj: “Be careful, Donny. Thank you for stopping by in New Pokhara Lodge”.

Aku tahu Mr. Raj masih memaksakan dirinya bekerja karena anak terakhirnya masih berkuliah di Kathmandu University. Karena perkerjaannya pula, dia masih terlihat bugar.

Kali ini Mr. Tirtha datang untuk terakhir kalinya memberikan jasa taksi kepadaku. Kami berdua menuju Tourist Bus Park, mengantarkanku menuju Kathmandu.

Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\16. India\WA\IMG-20171231-WA0017.jpg
Bisa ga sih bertampang parlente dikit….Hadeuh, Donny!

Kuncir Kuda di Shanti Stupa

 “Prepare your leg to climb Anadu Hill !”, tutur Mr. Tirtha sambil mengepalkan tangan kanannya ke depan.

Ya, aku tahu. Di bagian akhir kali ini, aku harus menaklukkan ratusan anak tangga untuk menikmati keindahan pagoda berusia 47 tahun, satu dari delapan puluh pagoda perdamaian yang tersebar di seluruh penjuru bumi.

Menanjak ke barat laut, mesin taksi mungil itu menggerung hampir 20 menit untuk menuntaskan perjalanan sejauh 3,5 km. Tiba di area parkir, Mr. Tirtha menunjukkan darimana aku harus mulai menanjak.

Perlu waktu lama untuk menaklukkan seluruh anak tangga. Terengah….Aku sejenak menyandari pagar tangga di tengah perjalanan. Pelan menenggak air mineral tersisa, aku beristirahat sejenak sembari menikmati wajah-wajah ayu gadis Nepal yang terus melintas. Para gadis Nepal berperawakan langsing yang gemar memiliki rambut hitam panjang teurai, berkulit cokelat dan berwajah khas Asia Selatan. Akan beruntung jika kamu menemukan yang bermata sipit….cantik otentik….Aduhai.

Seperti kilat, aku tergagap ketika seorang gadis Nipon melewatiku dan melempar senyum sembari berucap singkat “Hi”. Otomatis bibirku menyungging senyum kepadanya sambil mengawasinya lekat. Aku masih terbengong ketika dia menanjak semakin jauh. “Siapa dan Kenapa?”, batinku terus bertanya.

Oh, astaga…..Itu si cantik berkuncir kuda bermarga Kawaguchi yang duduk di sisi kiriku dalam penerbangan Thai Airways TG 319”, ingatanku menyadarkan lamunan. Dia sudah menghilang di tikungan. Aku bertekad mencarinya di atas nanti.

Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\15. Nepal\IMG_20180101_175219546.jpg
Patung buatan 5 November 2001.

Mulai memasuki  pelataran nan luas dan disambut oleh patung Mr. Meen Bahadur Gurung, Deputi Menteri Pertahanan Nepal yang telah berjasa dalam pengembangan stupa.

Jalan setapak menuju stupa.

World Peace Pagoda dikenal dengan nama lain Shanti Stupa. Shanti adalah bahasa Sansekerta yang berarti perdamaian. Jadi pada dasarnya ini adalah monumen perdamaian yang didirikan berwujud stupa. Stupa ini dibagun oleh sebuah ordo Buddhist dari Jepang bernama Nipponzan-Myohoji.

Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\15. Nepal\IMG_20180101_175609084.jpg
Berdiri di ketinggian 1.110 m dpl.
Ruangan di belakang stupa.

Pelataran depan begitu hening, hanya terdengar satu jenis dengung yang dibunyikan oleh seorang biksu dalam sebuah ruangan. Hening dan sakral. Sementara di sisi jauh tertampil tepian selatan dari Phewa Lake dan lekukan Himalaya yang luar biasa memikat.

Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\15. Nepal\IMG_20180101_174802127.jpg
Pokhara dari atas bukit.
Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\15. Nepal\IMG_20180101_174751420.jpg
Phewa Lake dan Himalaya….Aset Pokhara.

Jantung terasa berhenti ketika helikopter berwarana merah mendadak menukik tajam jatuh ke danau. Baru kali ini melihat helikopter jatuh menghujam dengan tajamnya.

Nafasku yang mendadak berhenti, akhirnya mampu menarik udara kembali dengan cepat ketika helikopter itu mampu mensejajarkan moncongnya dengan permukaan danau. Astaga….Itu hanya permainan adrenalin berbayar, pastas saja pengunjung di sekitarku mengacuhkannya….Ndeso kamu, Donny.

Helikopter pembohong.

Mataku menyusuri segenap arah mencari keberadaan Kawaguchi. Berdebar berharap menemukannya. 15 menit sudah…..Tak kunjung pula aku melihat batang hidungnya. Mungkin dia sudah keburu pulang, hilang sudah kesempatan untuk meminta maaf karena aku tak mengingatnya dengan baik….Sudahlah.

Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\15. Nepal\IMG_20180101_174943517.jpg
Senyum palsu dibalik kekecewaan.

Sudah sore, saatnya pulang ke hotel.

Lihat suasana Shanti Stupa di sini: https://youtu.be/wSOfTsqJjX8

Mengintip Devi’s Fall di Gupteshwor Mahadev Cave

Bunyi klakson membuatku menoleh ke kiri ketika baru saja beranjak keluar dari sebuah kedai mie di Tashiling. Ya, suara cempreng itu berasal dari taksi Mr. Tirtha yang entah sejak kapan sudah terparkir di bawah sebuah pohon tepat di arah keluar area Tashiling.

I think we don’t need to go to Devi’s Fall because its water debit is low now. So you can see the beauty of Devi’s Fall from the cave”, tutur Mr. Tirtha sembari memutar setirnya ke kiri memasuki jalan Shital Path. Aku mengiyakan saja informasi itu.

Devi’s Fall sering dijuluk David’s Fall sejak berpuluh-puluh tahun lalu ketika seorang Swiss tenggelam termakan arus di air terjun ini.

OK….We are arriving”, seloroh Mr. Tirtha sambil menjentikkan jari ketika baru saja berbelok ke kanan mengikuti arus jalanan Siddhartha Rajmag.

Aku mulai memasuki gapura Gupteshwor Mahadev Cave yang di puncaknya didudukkan Dewa Siwa yang gagah bersila menggenggam trisula. Melewatinya, untuk kemudian menelusuri jalur masuk beratap terpal dengan deretan kios souvenir di kiri-kanan. Kemudian aku disambut dengan kehadiran patung Dewa Wisnu yang tertidur di sebelah bangunan utama.

Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\15. Nepal\IMG_20180101_165707863_HDR.jpg
Balkon utama.

Saatnya menuju ke bagian balkon beton untuk membeli selembar tiket seharga Rp. 13.500. Sebelum menuruni tangga menuju mulut goa, sejenak aku memperhatikan detail dinding tangga yang dengan jarak teratur menampilkan pahatan Dewa-Dewi yang mungkin secara implisit menampilkan sebuah lakon tertentu.

Tangga menuju mulut goa.

Perbedaan suhu sudah mulai terasa pada pijakan pertama di mulut goa. Kini aku bersiap menelusuri goa terpanjang di Nepal.

Cow Shed”, aku tertegun memperhatikan sebuah kandang sapi berpagar besi biru. Bertanyalah aku kepada orang lokal yang sedang berbincang di depannya. Katanya singkat bahwa sapi ini melindungi Dewa Siwa. Aku mengangguk seakan faham.

Menuruni tangga melalui sisi kanan kandang aku merasa tarikan nafas semakin berat. Ruang sempit gelap lembab membuatnya demikian. Kemudian cahaya terang kembali kujumpai pada sebuah kuil yang didedikasikan untuk memuliakan Dewa Siwa.

Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\15. Nepal\IMG_20180101_170114903_HDR.jpg
Dasar Donny….Kamu mencuri gambar….Kan “No Camera”….Parah.

Konon goa ini ditemukan pada abad ke-16 dengan kondisi mulut goa tertutup rerumputan. Orang lokal menamai goa ini Bhalu Dulo. Ketika ditemukan, sudah terdapat ukiran beberapa Dewa Dewi Hindu seperti Mahadev, Parvati, Nageshwor dan Saraswati.

Kini tangga menuju ka dasar goa semakin tajam dan licin. Air terus menetes dari stalagtit yang terhampar merata di atap goa. Sedikitnya lampu penerangan membuat perjalanan ke bawah menjadi sangat pelan.

Hati-hati ya…..

Akhirnya penampakan dasar goa terpampang menakjubkan. Ruangan yang sangat luas berada di bawah tanah. Kemudian di salah satu sisi tertampil sebuah celah alami yang menjadi satu-satunya lubang untuk menikmati keindahan Devi’s Fall.

Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\15. Nepal\IMG_20180101_170803449_HDR.jpg
Itu Devi’s Fall….Keren kan ya?.

Lihat situasi Gupteshwor Mahadev Cave disini:

https://www.youtube.com/watch?v=7p0Yjhocidg

Karya alam milik Tuhan yang luar biasa….

Semangkuk Mie di Tashiling Tibetan Refugee Camp

Aku sudah faham sebelum Mr. Tirtha memberitahuku bahwa destinasi berikutnya adalah Tashiling, pemukiman para pengungsi Tibet di Pokhara. Nepal sendiri memberikan akses migrasi ini karena sejak zaman dahulu, Tibet dan Nepal telah memiliki hubungan kerjasama yang erat dalam bidang ekonomi, diplomasi dan budaya. Kedua belah pihak pernah berulangkali dalam sejarah menandatangi berbagai perjanjian kerjasama sebagai dua bangsa yang saling berdaulat.

Bertolak dari International Mountain Museum, taksi kini merapat ke timur dan berlari sejauh 3,5 km. Kali ini Mr. Tirtha yang berganti menginterupsi perjalanan, dia berhenti di sebuah apotek untuk membeli seracik obat. Dia bertutur dengan tabah, bahwa ayah kandungnya mengalami gangguan liver yang mengharuskannya menyisihkan penghasilan dari menyopir taksi untuk pengobatan sang ayah.

Namaska”, teriaknya pada teman-teman seprofesinya di jalanan. Dia sedikit menjelaskan bahwa Namaska adalah sapaan yang mirip dengan “Namaste”. 

Kemudian, dia menegaskan bahwa pariwisata bak emas buat negaranya. Jadi banyak orang seusianya berjuang memiliki sebuah mobil kecil untuk dipekerjakan menjadi sebuah taksi. Dan english adalah kunci bagi mereka untuk menggaet wisatawan….”Maaf Mr Tirtha, kalau di Jakarta, aku lebih memilih menjadi salesman dengan komisinya”….Hahaha, dia tertawa lebar.

15 menit kemudian, taksi keluar dari jalan utama Siddhartha Rajmarg. Berhenti di sebuah jalanan tanah. “Welcome to Tashiling”, Ucap Mr. Tirtha.

Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\15. Nepal\IMG_20180101_155437418_HDR.jpg
Pemandangan Tashiling dari dropping point.

Langkahku langsung tertuju pada deretan kios penjual souvenir. Yesss….Disitulah para Tibetan mengais rezeqi untuk menyambung hidup di pengungsian. Dalam perjalanan pulang nanti, Mr. Tirtha menyayangkan para Tibetan yang bermigrasi ini karena saat ini Tiongkok sudah lebih memperhatikan kesejahteraan Tibet.

Si bapak yang begitu ramah menjelaskan berbagai makna dari barang dagangannya.

Memasuki perkampungan berusia 56 tahun ini, aku bisa mengintip sedikit budaya Tibet. Cara mereka berpakaian dan beribadah adalah hal yang gampang ditangkap dalam kunjungan singkat ini. Keramahan penduduk berbadan mungil dengan kulit sawo matang dan bermata sipit menjadi sesuatu yang tak terlupakan. Menurut pengakuan dari salah satu mereka, ada sekitar 700 pengungsi Tibet di kampung ini. Bahkan di masa-masa awal pengungsian terdapat hampir 2.000 warga.

Tashiling sendiri hanya merupakan salah satu dari 12 kamp pengungsian di seluruh penjuru Nepal. Seperti diketahui bahwa semenjak perlawanan Dalai Lama, banyak warga Tibet yang bermigrasi ke Nepal pada tahun 1959-1961.

Puas melihat muka Tashiling, aku menyempatkan diri untuk duduk di sebuah kedai makan milik mereka. Kupesan semangkuk mie sebagai menu makan siang. Menu sederhana seharga RP. 20.000 yang membuatku siap untuk melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya.

Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\15. Nepal\IMG_20180101_162806742_HDR.jpg
Enak euy….Ada minyak babinya engga ya?….Hahaha.

Yuk, jalan lageeeeeeh….

Sayatan Hati di International Mountain Museum.

Mr. Raj dengan baiknya menyuguhkan hidangan spesial untukku. Telur dengan dua mata sapi disajikan bebarengan dengan satu buah pisang, dua lapis toast berselai manga dan secangkir teh panas khas Nepal. Sementara Mr. Tirtha tampak pamit dan beranjak pulang demi menikmati sarapan buatan istri di kediamannya sendiri untuk kemudian dia akan kembali lagi menjemputku dan berkeliling Pokhara hingga sore.

Jam 11 tepat, dia datang. Kemudian dengan segarnya kami bercanda sejenak di lobby sembari menunggu trio backpacker lain muncul. Satu hal yang kusimpan dari percakapan kami berdua bahwa aku harus menjajal makanan khas Nepal berjuluk Nepali Thali.

Yups, waktunya berangkat….

Perjalanan 3 km menuju tenggara kali ini hanya terinterupsi satu kali ketika Mr. Tirtha berhenti menungguiku untuk menukar dolar di sebuah money changer kecil di tepian Phewa Lake.

Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\15. Nepal\IMG_20180101_151846723_HDR.jpg
15 menit kemudian tiba.

Aku mulai memasuki pelataran dengan alas tanah berpasir. Debu menyeruak ke segala arah ketika kendaraan melaluinya. Kemudian di sebuah ticket counter yang berwujud bangunan kecil bermotif batu kali, aku mendapatkan tiket masuk seharga Rp 55.000.

Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\15. Nepal\IMG_20180101_152021714_HDR.jpg
Ambil antrian….

Perlu melewati jalur khusus pejalan kaki untuk mencapai bangunan utama musium. Jalur yang dibatasi oleh deretan pepohonan yang menjulang tinggi tapi tak begitu rindang.

Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\15. Nepal\IMG_20180101_152013349_HDR.jpg
Yuk jalan kaki.

Tiba di pelataran depan, sebuah monumen kecil menyambut. Monumen yang didedikasikan untuk para pendaki Himalaya yang tak pernah turun lagi karena telah merelakan jiwanya bersemayam dalam selimut salju Himalaya.

Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\15. Nepal\IMG_20180101_140118842_HDR.jpg
Mereka disebut mountaineers.
Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\15. Nepal\IMG_20180101_140412276_HDR.jpg
Minggir….ngehalangin jalan lo….

Menaiki tangga untuk mencapai gerbang depan museum, kemudian aku disambut dengan x-ray gate sederhana. Di selasar awal, museum menampilkan foto-foto puncak pegunungan berlapis es di dunia. Ditampilkan pula pakaian khas negara-negara yang bersangkutan.

Slovenia dengan beberapa gunung ber-esnya yaitu Triglav (2.864 m dpl), Stol (2.236 m dpl), Prisojnik (2.547 m dpl) dan Porezen (1.630 m dpl) beserta pakaian Gorenjska.

Memasuki koridor berikutnya, museum memperkenalkan keanekaragaman etnis di seantero Nepal. Nama suku beserta pakaian khasnya ditampilkan dengan apik.  Perlu diketahui bahwa negara yang luasnya tak lebih dari 8% luas daratan NKRI ini memiliki 126 etnis didalamnya.

Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\15. Nepal\IMG_20180101_144106128_HDR.jpg
Etnis Thakali dari Distrik Mustang, Zona Dhaulagiri.

Masuk ke selasar tengah, museum menampilkan nama-nama puncak pegunungan Himalaya. Pegunungan Himalaya sendiri menyediakan 18 puncak utama yang menantang para pendaki dari seluruh dunia untuk menanjakinya.

Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\15. Nepal\IMG_20180101_144414344_HDR.jpg
Puncak Makalu (8.464 m dpl) dan Lhotse (8.516 m dpl).

Akhirnya di bagian akhir, museum mempersembahkan kisah-kisah heroik penaklukan Himalaya oleh para pendaki kelas wahid. Di bagian ini juga, dipaparkan sejumlah tragedi yang dialami mereka dengan berbagai misi pendakiannya masing-masing. Sangat mengharukan dan menyayat hati.

Kunjugan di museum kuakhiri dengan menyusuri lantai dua menuju exit gate museum. Inilah destinasi di Pokhara yang membuka mata tentang Nepal dan Himalaya.

Silahkan mampir ya kalau berkunjung ke Pokhara.