7 Destinasi Kilat Pematang Siantar

<—-Kisah Selanjutnya

Duduk di ruang tunggu, tatapku terus tertuju pada jam tangan dan halaman kantor bus INTRA….Tak pernah melihat kapan dia tiba, dari ujung halaman sebelah kanan dia berteriak memanggilku. Senangnya hati, bertemu teman lama.

Kebaikan dan kesederhanaannya masih sama seperti Bang Erwin yang kukenal di Kuala Lumpur 2013 silam. Kembali teringat ketika dia menyodorkan sekotak kue berwarna merah di atas Hop on Hop off Kuala Lumpur. Dan kini dia menghadiahkan waktunya selama empat jam kepadaku untuk menikmati Pematang Siantar.

Ayo bang, naik!”, katanya sambil memutar tas punggungnya ke arah depan. Sekejap aku meluncur di atas motor bebek Jepang keluaran era 90-an menuju kediamannya. Dia harus mengganti seragam dinas pengajar yang dipakainya sebelum berkeliling kota.

1. Warung Miso Pematang

Makan siang dulu yuk, bang! Ada yang spesial buat, abang. Yukkss!”, senyumnya menghiraukan penolakanku karena dia hanya ingin menjadi tuan rumah yang baik. Menelusuri jalan tikus yang aku tak pernah tahu lokasi persisnya, kurasakan ban belakang yang sedikit oleng. Membuatku yakin bahwa Bang Erwin ini orang yang tulus nan sederhana.

Warung Miso Pematang. Oh, inikah hidangan spesial yang dimaksud?”, gumamku. Bang Erwin bergegas memasuki resto yang berpintu depan di belakang. Sedangkan aku masih saja di pelataran, sibuk menangkap gambar. Enak luar biasa semangkuk Miso itu, campuran mie kuning-putih yang terguyur kuah sop bercampur tahu goreng, hati-ampela dan jamur seharga Rp. 17.000.

Hidangan ditutup dengan es jeruk segar….Hmmmh.
Makanan khas Siantar pertama yang  kucicipi.

2. Pedicab Monument BSA (Birmingham Small Army).

Yuk, kutunjukkan icon Siantar!”, selorohnya sambil menggenjot engkol starter motornya. Kuacungkan jempol sebagai pengganti kata setuju. Menyusuri Jalan Sudirman hingga akhirnya tiba di sebuah tugu bermahkota becak bermotor. Konon kota ini memiliki hampir 1.000 motor perang jenis ini. Oleh karenanya kamu harus mengantri untuk bisa berfoto di depan tugu.

Tokoh utama kali ini.

3. Perpustakaan Umum Sintong Bingei

Tepat di belakang tugu adalah perpustakaan umum milik pemerintah kota sedangkan di seberang kanan adalah Balai Kota Pematang Siantar dimana Sang Wali Kota berkantor.

Perpustakaan Umum Sintong Bingei. Sintong Bingei adalah ayah dari Raja Rokok Sumatera Utara Edwin Bingei Purbo Siboro.

4. Balai Kota

Balai Kota Pematang Siantar adalah bangunan Belanda berusia persis seabad.

Ornamen cicak di sebagian besar gedung-gedung besar di Siantar membuatku mengajukan pertanyaan tentangnya. Bang Erwin menjelaskan singkat bahwa cicak adalah simbol kebijaksanaan dan kekayaan bagi Suku Batak. Orang lokal menyebutnya sebagai Gorga Boraspati.

5. Hangout Area dekat Pedicab Monument

Sementara di sisi kanan tugu adalah deretan kedai kopi yang sepertinya hanya menunggu waktu untuk dipenuhi oleh para kaum millennial kota untuk ber hangout di malam hari.

Sayang aku tak sempat menyeruput kopinya.

6. Taman Bunga Kota Pematang Siantar

Sementara tepat di belakangnya adalah Taman Bunga Pematang Siantar. Sebagai Ruang Terbuka Publik Ramah Anak (RTPRA) menjadikan taman ini menjadi tempat favorit untuk menghabiskan waktu bersama keluarga selepas penat bekerja.

Tempat tepat untuk merayakan weekend para warga kota.

7. Toko Roti Ganda

Bang, sudah sore, ayo kembali ke kantor INTRA!”, Bang Erwin mengingatkanku. Aku melompat ke motor dan bergegas  menuju kantor bus INTRA. Upss….”Kenapa Toko Roti?”, aku curiga.

Jangn Ge eR, aku ga beliin roti buat abang, tapi beli buat keluargaku  di rumah”, dia tersenyum tipis. Aku tertawa terbahak melihat polahnya. Kusempatkan sejenak menikmati etalase dengan aroma harum roti yang menggoda.

Toko Roti Ganda yang legendaris sejak 1979.

Sepuluh menit kemudian, aku sudah berdiri di luar dan menunggunya menuntaskan pembayaran di kasir. Dannnn…..Ditentengnya dua bungkus roti di kedua tangannya.

Nih, buat sarapan besok di perjalanan”, ujarnya sambil menyodorkan sebungkus roti tawar dengan selai srikaya yang katanya terkenal enak. Dilarang menolaknya maka kuterima saja dengan banyak berterimakasih.

Yuk, sekarang beneran ke kantor Bus INTRA dan ga mampir-mampir lagi!”, katanya sambil tertawa. Itulah akhir petualangan kilatku di Pematang Siantar.

Thank You Bang Erwin. See you later.

Kisah Selanjutnya—->

Taksi Hitam dari Toba ke Pematang Siantar

<—-Kisah Sebelumnya

Aku memasuki kamar Eloise untuk mengambil backpack  yang kutitip sejak pagi. Aku check out di pagi hari dan berlanjut mengeksplorasi Samosir seharian bersamanya. Aku berpamitan padanya dan bersiap menuju Pematang Siantar, sedangkan dia masih semalam lagi di Samosir.

Staff Bagus Bay Homestay mengarahkanku untuk menunggu ferry di pelabuhan terdekat. Berbelok ke kiri setelah keluar hotel, beberapa puluh meter kemudian, aku memasuki gang di kiri jalan. Tetap melangkah hingga tiba di sebuah warung, tepat di sisi pelabuhan.

Tigaraja Bang?, tunggu setengah jam ya!”, ucap seorang timer padaku. Setengah jam yang lebih dari cukup untuk menyantap semangkuk mie instan bertopping telur mata sapi seharga Rp. 15.000 di pojok warung.

Ferry terlihat merapat dan sang timer diam menunjuk mukaku, lalu telunjuknya bergeser menunjuk ke arah ferry. Aku faham maksudnya.

Belum juga merapat sempurna, aku melompat ke ferry. Segenap penumpang di deck kiri berteriak. “Awasssss, Banngg!”. Aku melambaikan tangan bak artis. Ternyata kemampuanku bermain perahu motor di Waduk Jatiluhur saat menjadi sales ikan budidaya karamba masihlah mumpuni.

Zoe’s Paradise Hotel (putih) dan Dumasari Hotel (merah) menatapku pergi meninggalkan Samosir.
Menuju Pelabuhan Tigaraja dalam 50 menit.

Pria berjaket jeans biru pudar menatap lekat dari kejauhan ketika aku menuruni ferry. Tak ada jalan lain untuk menghindarinya. Seperti ditunggu seorang preman yang siap menerjangku.

Siantar, Bang. Empat puluh ribu?”, ujarnya sembari membayangi langkahku. “Oh, jasa taksi”, ujarku. Mengejar Bus INTRA yang akan berangkat jam tujuh malam, aku mengiyakan saja. Dan aku dibawa ke kantor Bagus Taxi.

Kebelet pipis tapi tak kebagian toilet, ada yang kelamaan mandi….Asem.
Sopir dan penumpang pun bermusuhan lewat adu bidak kayu.

Sepertinya akulah pengisi terakhir di manifest taksi. Begitu cepat, aku sudah duduk saja di sisi kanan bangku tengah.

Tepat di kiriku, seorang bapak yang gemar merokok sepanjang perjalanan.

Avanza hitam berputar-putar mengukur jalanan untuk menjemput penumpangnya satu persatu. Penjemputan diakhiri dengan satu insiden ketika seorang ibu ketinggalan dompet di kilometer kelima perjalanan kami. Hal menjengkelkan tetapi mampu membuatku tertawa kecil. Tak ada pilihan, taksi berputar balik untuk mengambil dompet si ibu.

Meninggalkan Toba, kebutan taksi memaksaku membuka pejaman mata. Aku diajaknya meliuk-liuk menikmati indahnya pemandangan alam Simalungun. Kebun sawit, hamparan ladang, perbukitan dan lembahnya dilewati satu-persatu. Sesekali si sopir menciptakan humor, salah satunya ketika panik memasang sabuk pengaman yang tak dikenakannya bebarengan dengan penumpang di sebelah, pontang-panting memasangnya, bahkan tak berhasil hingga melewati area operasi polisi….Beruntung tak ditangkap.

Dalam satu jam 20 menit, taksi mulai memasuki tepian kota,kemudian menuju pusat kota melalui Jalan Gereja dan Jalan Merdeka dengan dua tugu sebagai landmark kota.

Tugu Adipura. Siantar pernah 4 kali menyabet penghargaan lingkungan ini.
Monumen Wahana Tata Nugraha era Soeharto, penghargaan atas apiknya tata kelola transportasi.

Bang, begitu sampai Parluasan langsung ke pool aja, hati-hati ya!”, kata Bang Erwin (teman backpacker yang tak sengaja bertemu di diatas Bus HoHo KL 2013 silam). Mungkin dia mengkhawatirkanku memasuki Parluasan yang terkenal dengan premannya. Tapi aku menanggapinya dengan santai karena aku tahu akan diturunkan tepat di depan pool bus INTRA.

Sampai…..

Mari menunggu Bang Erwin menjemputku untuk berkeliling Pematang Siantar sejenak.

Kisah Selanjutnya—->

Tiga Tarian Melayu di Merdeka Walk

<—-Kisah Sebelumnya

Selepas mencicip pecel lele khas Waroenk Nenek, langit terlihat sesekali melempar kilat. Seakan mengumumkan kepada penduduk bumi bahwa sebentar lagi dia akan menjatuhkan hujan yang tak mampu ditahannya lagi.

Sepertinya aku tak pernah mengindahkan pengumuman itu. Tombol hijau “Order GoRide” sudah terlanjur kusentuh dan mengundang pengendaranya hadir dihadapanku dalam 4 menit. Bermotor sepanjang 4.5 km, aku turun tepat didepan gedung Pos Indonesia. “Anno 1911” tertulis tepat diatas jendela tua dengandaun kolom empat baris tiga, telah menjadi akta lahir gedung itu, artinya usianya telah beranjak 109 tahun.

Gerbang warna-warni Merdeka Walk yang hanya berjarak 150 meter dari titik turun, kudekati dengan berjalan kaki. Kali ini aku melewati gedung tua berikutnya yang telah menjadi kantor Bank Indonesia dan disebelahnya lagi kutemukan Old City Hall yang elegan tersiram lampu tembak berwarna kuning dari atapnya.

Tibalah di pertigaan besar, tepat di depan adalah destinasiku berikutnya dan di seberang selatan itu adalah Gedung Bank Mandiri.
Old City Hall di Utara Bank Mandiri

Perlahan aku menapak memasuki pusat kuliner kota Medan. Pepohonan besar menjadi pemandangan pertama yang menarik perhatian mata. Betapa rindangnya jika tiba di siang hari, perandaian yang kubayangkan seketika.

Yuk lah, masuk!….Jangan bengong aja donk.

Deretan panjang meja dan kursi diatur memanjang mengikuti arah tenant yang berbaris sejajar dengan Jalan Balai Kota menyambutku. Tak menghitung tapi mendengar bahwa Merdeka Walk menyediakan 700 kursi untuk para pengunjung.

Nongkrong disitu enak deh kayaknya.

Tempat ini juga menyediakan variasi menu dari makanan Asia hingga ala Eropa. Tapi ya begitulah diriku, kamu pasti bisa menebaknya….Aku tak pernah sekalipun duduk dan mencicipi makanan di tempat ini.

Duduk situ juga asekkk….Sepertinya lagi.

Kedua sayap tenant Merdeka Walk akan berpusat pada satu area lapang yang disebut Center Piece. Malam itu, area ini disulap menjadi sebuah panggung berkarpet merah yang berfungsi sebagai jalur catwalk. Musik keras yang dihantarkan oleh sound system di belakang panggung di sambut dengan ayunan langkah kaki-kaki kecil dalam satu garis lurus. Model-model cilik itu mampu bergaya bak model dewasa dan berpengalaman.

Di Center Piece juga sedang ada aktivitas syuting TV lokal.

Tak berselang lama, langit benar-benar menumpahkan hujan dengan derasnya. Tak kubayangkan, mereka yang menyeruput kopi panasnya dengan cepat atau mereka yang mengunyah hidangan yang baru saja disajikan dengan tempo tinggi pula….Geli melihatnya. Sementara aku?….Gampang….Tinggal lari dan berteduh di sebuah tenant kosong lalu menunggu hujan selesai.

Ada apa di belakang Merdeka Walk?.

Malam semakin beranjak, dalam gerimis lembut aku menuruni anak tangga di bagian belakang Merdeka Walk untuk melihat aktivitas di Lapangan Merdeka. Sepertinya lapangan ini menjadi area pilihan buat anak-anak yang memungkinkan baginya untuk berlarian dengan lega atau sekedar berkendara keliling dengan mobil-mobilan yang bergemerlap lampu warna-warni.

Pendopo.

Kemudian langkahku sampai pada sebuh pendopo besar dimana para beberapa keluarga berkumpul sembari menggelar tikar dan menikmati makan malam bersama dengan bekal rantang dari rumah. Sungguh keluarga harmonis.

Dan ketika bermaksud mengakhiri kunjungan di Merdeka Walk, aku mendengar sayup musik melayu yang selang beberapa waktu terdengar suara seseorang yang kuduga adalah MC. Suara itu bersumber dari utara. Aku pun bergegas menghampiri

Ternyata pertunjukan gratis tarian Melayu.

Sejenak aku menikmati 3 buah tarian Melayu yang diselenggarakan tepat di depan Bangunan “Tourist Service” yang berwarna hijau kekuningan.

Malam penutup yang indah di Medan karena keesokan harinya aku akan menuju Danau Toba….Tak sabar rasanya.

Kisah Selanjutnya—->

Menguak Kisah Sang Dermawan di Tjong A Fie Mansion

<—-Kisah Sebelumnya

Museum Uang Sumatera dan Rumah Tjong A Fie hanya berjarak tiga blok dan melewati satu perempatan besar yang memisahkan Jalan Pemuda dimana museum terletak dan Jalan Jend. Ahmad Yani dimana rumah itu berada.

Security: “Hei, Bang. Foto-foto apa, Kau?”, tangan kiri parkir di pinggang, tangan kanan mengepal tongkat-T.

Aku: “Oh, itu pak….Gedungnya bagus, klasik banget”, sedikit membungkuk  menanda maaf.

Security: “Oh iya, bagus ya….Ga nyadar saya”. Berucap sambil berdiri disisi kananku mengarah ke bangunan yang sama.

Aku: “Tuh kan, pak….Bapak sudah lama kerja disini aja baru nyadar”, sambil menahan bahak di dada.

Kirain mau merampas gambarku lalu menghapusnya….Ternyata, Hahaha!

—-****—-

Gerbang rumah itu begitu kecil dan sempat sedikit terlewat olehku. Berbalik badan lalu berjalan pelan mendekatinya.

Kebiasaan buruk: terdiam lama sekali di pelataran bahkan sepertinya tak berkedip.

Para staff muda penjaga meja tiket terus memperhatikanku dari teras. Senang mereka mendapatkan tamu kembali. Beberapa waktu kemudian aku sadar sedang dinanti mereka.

Staff: “Bang, tas ranselnya boleh kok dititip di sini. Rumahnya luas loh, nanti Abang capek”.

Aku: “Terimakasih Dinda Non, Saya taruh disini….Aman kan ya?”.

Staff: “Saya yang jaga, Bang….Ga perlu khawatir”.

Aku: “Jaga juga dong hatiku….Thanks ya Non”.

OK….Mari mulai memasuki Tjong A Fie Mansion.

Tokoh multikultural asal Guangdong

Tahu Tjong A Fie?….Beliau adalah warga Medan keturunan Tionghoa yang dalam perjalanan hidupnya menjadi seorang saudagar kaya raya dan menjadi tokoh penting di Medan karena kedermawanannya dalam membangun kota Medan pada masanya. Dia bahu membahu bersama Sultan Makmun Al Rasyid Perkasa Alamsyah membangun perekonomian. Kala itu Deli mendunia dan terkenal akan tembakaunya yang berkualitas tinggi bahkan Deli dijuluki sebagai Dollar Landsh atau Tanah Dolar.

Keelokan kediaman berusia 120 tahun miliknya sungguh memikat mata. Memiliki empat ruang tamu dengan konsep berbeda dan untuk menerima tamu dari kalangan berbeda pula.

Ruang tamu dominan kuning untuk menerima tamu dari Kesultanan Deli yang asli Melayu.
Tamu keturunan Tionghoa diterima disini.
Nah ini untuk menerima tamu dari pemerintah Belanda.

Aku beruntung bertemu dengan dua pengunjung dari Aceh yang menggunakan jasa tour guide. Melihatku berkunjung sendirian, Pak Syaiful tersenyum sembari melambaikan tangan lalu mengajakku untuk bergabung.  “Ayolah dik, ikut sini biar ramai”, ujarnya ringan. Beruntung sekali nasibku ini.

Saking kayanya, banyak perabot rumah tangga miliknya yang diimpor dari Eropa seperti lemari besi, hiasan keramik atau oven yang berada di dapurnya.

Meja makan yang pernah digunakan untuk menjamu keluarga Sultan Deli dalam perayaan tahun baru China (Imlek).

Eksplorasi berikutnya mempertontonkan foto keseluruhan keluarga Tjong A Fie yang terhitung berjumlah 21 anggota keluarga. Foto itu tampak diambil pada saat perayaan ulang tahunnya yang ke-60 di awal abad-20.

Tempat tidur berbahan kayu ukir klasik dengan kelambu putih.

Dinding dapur berwarna oranye dengan tiga lubang tungku berbahan bakar kayu bersebelahan dengan ruang terpisah dengan dua buah penggiling tepung berbahan batu dan satu buah rolling pin dengan bahan yang sama.

Aula berisi deretan foto perjalanan keluarga.

Disisi lain, aku menemukan family tree keluarga Tjong A Fie, beberapa foto bangunan penting kota yang dibangun atas bantuan dana darinya (seperti Masjid lama Gang Bengkok, Masjid lama di Sipirok bahkan Masjid Raya Al Mashun), juga foto komisaris Bank Kesawan yang didirikan oleh Tjong A Fie.

Jendela yang tinggi dengan jumlah dominan menjadikan rumah begitu luas.

Tour guide bertutur bahwa pada masa orde baru, negara mengakuisisi perkebunan Tjong A Fie dan dileburkan ke dalam kepemilikan PT. Perkebunan Nusantara (PTPN).

Akhir petualangan di Tjong A Fie Mansion. Gerbang rumahnya dilihat dari lantai 2.

Kisah Selanjutnya—->

Menggores Tanda Tangan di Museum Uang Sumatera

<—-Kisah Sebelumnya

Aku mulai menapaki  jalur keluar Taman Sri Deli.

Langkahku begitu harmonis dengan tekanan telunjuk untuk mengabadikan gambar-gambar terbaik di sepanjang Jalan Sisingamangaraja.

Bebek Merah” tiba-tiba turun dari aspal dan hentakan remnya melempar debu yang membuatku sesaat menutup hidung. Muka yang tersembunyi di balik helm itu menoleh ke arahku sembari melambaikan tangan. Aku terdiam sambil berfikir ada apakah. Sedikit curiga, aku melangkah kepadanya sembari menjaga jarak aman.

Si Bapak: “Bang, jangan nenteng kamera bagus seperti itu. Disini banyak jambret. Disimpan saja!”, berbicara setelah perlahan melepas helmnya.

Aku: “Oh, terimakasih pak….Baik pak”, Jawabku lega.

Si Bapak: ”Hati-hati ya Bang. Assalamu’alaikum”.

Aku: ”Wa’alaikumsalam pak”. Orang baik selalu ada di sekitarku ternyata.

—-****—-

Gagah walau tua.

Aku tertegun dibawah Tirtanadi Tower sembari duduk dan menaruh backpack di sebelah batang pohon untuk berlindung dari panasnya surya. Kemudian aku mengisi kedua botolku dengan krain air minum gratis di kiri depan kantor PDAM Tirtanadi.

Khawatir senja yang sudah mengantri hadir, aku kembali melangkah menuju ke kediaman Tjong A Fie. Melewati persimpangan jalur kereta api lalu masuk ke Jalan Pemuda, tak sengaja aku meewati roll up banner bertajuk “Museum Uang Sumatera”.

Kiranya cukup 30 menit, mampir sebentar!”, bisik batin menggodaku. Tanpa perlawanan argument, aku kini sudah bercakap dengan Nona L -perempuan muda manis berjilbab biru langit- sang penjaga merangkap tour guide museum. Dia mengambil souvenir berupa dua uang koin buatan Kesultanan Palembang dengan lubang di tengah yang di wrapping rapi sekaligus memberikan selembar kertas hijau seukuran tiket bertulis “Biaya Souvenir Rp. 10.000”.

—-****—-

Lantai 2.

Aku menaiki tangga dan terus mengamati bangunan klasik itu. Kata Nona L, saya sedang berada di Gedung Juang ’45. “Ga perlu buru-buru, Bang. Museum tutup jam 5 sore kok”, selorohnya menjelaskan lewat senyuman.

Tiba di lantai 2, aku disuguhi pemandangan berupa mesin cetak Oeang Republik Indonesia Tapanoeli (ORITA) yang digunakan pada masa awal pemerintahan Soekarno.

ORITA.

Didirikan 3 tahun lalu oleh Saparudin Barus, ruang koleksi ini menjadi museum uang pertama di Sumatera. Seakan niat pribadi sang kolektor diamini pemerintah daerah setelah Gedung Juang ’45 dipilih sebagai lokasi museum. Gedung ini sendiri mempunyai peran penting sebagai markas Barisan Pemuda Indonesia dalam melakukan perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda.

Tahun 1726 untuk pertama kali VOC mencetak uang koin yang dikenal dengan nama DOIT atau DUIT.

Menjelajah dari etalase satu ke etalase yang lain diiringi dengan penjelasan dari Nona L, aku mulai hanyut dalam aliran arus sejarah bangsa melalui urutan koin yang diurutkan berdasarkan masa digunakannya.

Koin Indonesia dari masa ke masa beserta koin Malaysia.

Menjadi satu-satunya pengunjung di siang itu, aku rela mengulang kembali untuk mengamati beberapa alat tukar perdagangan pada era keemasan Kerajaan Sriwijaya. Atau kertas berbahan goni yang dikeluarkan kerajaan Buton di Sulawesi .

Duh lebar banget sih, uang kertas era Soekarno !

Di akhir kunjungan, Nona L mengarahkanku pada kain panjang berwarna putih dan dia menjelaskan singkat bahwa setiap pengunjung akan diminta sukarela menuliskan pesan kesannya tentang museum dan diakhiri dengan bubuhan tanda tangan dibawahnya. Oke lah, tak perlu pelit untuk menulisi kain itu. Goresan tanda tanganku mengakhiri kunjungan wisata edukasi kali ini.

Etalase museum yang kaya koleksi uang dari berbagai masa.

Beruntung sekali melewat dan melawatnya….Yuks, lanjut!

Kisah Selanjutnya—->

Delapan Segi ala Masjid Al Mashun

<—-Kisah Sebelumnya

Masjid hijau dominan putih itu terlihat jelas dari gerbang istana. Itu adalah masjid berumur 111 tahun yang menjadi kenangan kebesaran Kesultanan Deli. Menurut cerita, Sang Sultan berkehendak membangun masjid lebih elok daripada istana yang beliau tinggali sebagai bakti buat agama. Jadi istana dan masjid adalah satu paket arsitektur karya Sultan Deli yang harus kalian kunjungi ketika berada di Medan.

Langkah tak sabar membuatku terengah penuh keringat dan punggung yang semakin pegal karena terbeban oleh backpack bahkan telah kupanggul selama 4 jam semenjak keluar dari Kualanamu.

Satu, dua, tiga, empat, lima, enem, tujuh, delapan….Oh delapan segi”, gumam hati ketika aku mengelilingi setiap bidang luar masjid tertua di Medan itu. Kubah utamanya yang berwarna gelap di kelilingi oleh tiga kubah kembar. Bentuk yang unik dan jarang kutemukan di masjid manapun.

Sultan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alam menanti selama 3 tahun untuk menunggu bangunannya selesai.

Adzan Dzuhur menegurku untuk segera mematikan kamera dan mensucikan diri di sebuah bangunan terpisah di timur masjid.

Tempat berwudhu.

Usai menitipkan sepatu aku melangkah di jalur beralas karet menuju ruangan ibadah masjid. Aku bak orang kampung yang celingukan kesana kemari memperhatikan interior masjid yang sangat menawan.

Mampu menampung 1.500 jamaah dalam satu waktu.

Delapan pilar penyangga yang dilapisi marmer yang konon didatangkan oleh Meneer Tingdeman dari Italia. Dipadukan dengan keelokan lampu gantung bak kue ulang tahun terbalik khas Perancis. Kemudian dinding di berbagai sisi di cipta mirip lengkungan pintu Spanyol dengan kaca patri besar buatan Tiongkok. Kemudian nuansa islam Taj Mahal direpresentasikan pada motif dinding dan ukiran mimbar….MENAKJUBKAN.

Kubah Masjid Al Mashun yang dari luar tampak berwarna hitam.

Selepas shalat, aku mengamati para rombongan mudi Aussie mengunjungi masjid dengan menggunakan jilbab yang disediakan masjid. Mereka tampak terpesona ketika memasuki pintu masjid.

Beberapa jamaat masjid terlihat menuju makam disisi barat untuk berziarah ke makam para Sultan. Masjid Al Mashun terlihat khusyu’ luar dalam.

Tahukah kamu makna kata “Al Mashun”….”Diperlihara” adalah makna namanya.

Jembatan penyeberangan yang bentuknya tertular arsitektur masjid.

Aku mencoba mendekati sisi Jalan Sisingamangaraja untuk menikmati masjid dari kejauhan. Keindahan semakin menjadi ketika aku mengamatinya dari atas jembatan penyeberangan itu.

Madani Hotel di seberang masjid. Lihat dong punya kubah juga….Ishhh cuakep.

Begitulah petualanganku di destinasi kedua Medan….Yuk ikut aku lagi ke destinasi bagus lainnya!.

Kisah Selanjutnya—->

Kuning Emas Istana Maimun

<—-Kisah Sebelumnya

Sebut namanya Yunus, pemuda tanggung berwajah Melayu dengan PeDe nya menepuk pundakku dari belakang. Fokusku menjepret gambar istana dari posisi terbaik pudar.

Yunus: “Bang bisa fotoin saya?”

Aku: “Oh Sinih. Jangan disitu….ke tengah aja!”, aku mengarahkan posisinya bak photographer professional.

Dia baru datang dari Pangkalan Brandan untuk mengadu nasib di kota Medan selepas meraih ijazah SMK jurusan Teknik Otomotif. Mau bekerja di bengkel tuturnya lugu. Dia begitu terpesona dengan penampilanku hingga dia menebakku sebagai seorang wartawan dengan kamera yang menurutnya berharga mahal. Padahal……

Ganti fotoin saya dong, boy!”, kataku. “Oh Okay bang, senyum bang” atur Yusuf….Jepreeeettttt….Mirip wartawankah?

Obrolan ringan kami terselesaikan dengan langkah kakiku menuju bangunan terpisah di kiri istana. Kuintip didalamya ada meriam yang ujungnya patah. Itu adalah Meriam Buntung/Puntung . Tak tanggung, potongan meriam itu jatuh sejauh 75km di selatan istana saking panasnya meriam yang di tembakkan terus- menerus.  

Konon meriam ini adalah jelmaan Putri Hijau ketika Deli diserang raja dari Aceh yang murka karena pinangannya ditolak.

“Dee Eerste Steen Van Dit Gebouw

Is Celeco Op Den

26 Augustus 1888

Door Z. H. Den Sultan Van Deli

Mahmoed El Rasjid Perkasa Alamsja

Kubaca dengan lekukan bibir mirip pak meneer di  dasar pilar tepat sebelum menaiki tangga bermarmer putih keabu-abuan.

Membenahi backpack untuk persiapan eksplorasi seisi istana dilanjutkan dengan membeli tiket masuk seharga Rp. 5.000 di anak tangga teratas maka kakiku mulai menapaki lantai istana.

Tempat duduk Raja dan Ratu.

Pintu istana berwarna kuning yang begitu banyak jumlahya, mengadopsi gaya Eropa dikombinasi daun jendela dominan hijau dengan lengkungan dibagian atas ala arsitektuk Mughal India menjadi pemandangan pertama yang ku ingat.

Pelaminan agung berwarna kuning keemasan.

Kemudian “si kuning dan si hijau” dikombinasi dengan “si merah”menandakan istana ini jelas milik banga Melayu seutuhnya. Kuning menunjukkan kebijaksanaan, hijau merepresentasikan Islam dan merah mewakili warna adat.

Ornamen lampu di atas tingginya langit-langit istana.

Begitu banyak wajah kelaurga Kesultanan Deli yang diperkenalkan ke khalayak melalui foto-foto klasik yang terpigura rapih dan menempel erat di dinding kayu istana.

Alhasil, Aku tertegun pada wajah cantik sendu Yang Mulia Raja Noorsida yang merupakan Istri Seripaduka Sultan Osman Al Sani Perkasa Alam

Foto Sultan Deli saat ini:  Seripaduka Baginda Tuanku Sultan Mahmud Arya Lamanjiji Perkasa Alam Shah.

Di beberapa sudut, aku mengamati dengan tekun beberapa senjata peninggalan sultan seperti Keris Bentara, Tumbok Lada, Keris Cenderahati. Juga beberapa alat musik, perhiasan, piring keramik dan pakaian kebesaran Sang Sultan.

Tombak Kesultanan Deli.

Semakin siang maka pengunjung pun semakin meramaikan seisi istana. Banyak yang rela mengantri untuk memakai baju adat Melayu dan berpose di kursi raja dan ratu. Anak-anak sekolah pun tak segan duduk menghampar di lantai istana untuk mendengarkan penjelasan pak guru yang terus bercerita lantang hingga urat lehernya menampakkan diri.

Persewaan baju adat Melayu.

Kunjunganku ke Istana Maimun ini sungguh meninggalkan kesan mendalam karena baru kali ini aku mengunjungi sebuah istana di tanah Sumatera.

Sampai bertemu lagi Istana megah nan bersahaja.

Yuk….Lihat kreasi Kesultanan Deli berikutnya….Masjid Raya Al Mashun. Ga jauh kok…..

Kisah Selanjutnya—->

10 Destinasi Medan: Sebentar yang Merindukan

<—-Kisah Sebelumnya

Aku tak pernah memberi kesempatan sedikitpun terhadap otak untuk berfikir panjang. Menunggang ojek online, aku mengucap sayonara pada Terminal Amplas yang sepertinya tak rela ditinggal pengunjung yang sudi meluangkan waktu untuk mengenalnya.

15 menit kemudian, aku sudah hinggap di destinasi utama kota Medan. Tak lain lagi dialah:

1. Istana Maimun

Istana yang namanya bermakna “Berkah” ini telah berjasa selama hampir 130 tahun merepresentasikan agungnya Kesultanan Deli. Dibangunnya istana ini sekaligus sebagai penanda berpindahnya ibukota kerajaan dari Labuhan ke Medan.

Kuning adalah warna khas Melayu yang melambangkan kebijaksanaan.

Menebus tiket masuk bernilai Rp. 5.000, aku menjelajah setiap sudut istana dan terus mengagumi setiap detail perpaduan arsitektur India, Timur Tengah dan Eropa. Lima hektar area istana membuat siapa saja leluasa menikmati keindahan istana dari berbagai sisi pandang.

Destinasi berikutnya hanya berjeda 2 menit dengan berjalan kaki, yaitu:

2. Masjid Raya Al Mashun

Terletak di barat istana, bangunan suci bersegi delapan ini berdiri megah tak bergeming melintas masa. Karya fenomelal milik Sultan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alam ini menyiratkan bahwa beliau lebih mengutamakan keagungan masjid dibanding istana tempat tinggalnya.

Marmernya didatangkan langsung dari Italia

Tepat waktu Dzuhur, aku menyempatkan diri berbaur dengan masyarakat Medan untuk mencicipi sejuknya hawa masjid tua berusia 110 tahun tersebut. Kemegahan masjid merupakan penanda kemakmuran Kesultanan Deli di masanya.

Jangan beranjak dulu dari area sekitar istana dan masjid karena masih ada satu tempat lagi yang diyakini sebagai peninggalan Kesultanan Deli, yaitu:

3. Taman Sri Deli

Melangkah 100 meter ke utara masjid, aku telah hadir di pusat taman.  Untuk meresapi nilai sejarahnya, aku mencoba membayangkan menjadi putra Sultan yang sedang bersantai di sore hari kemudian membasuh badan di kolam trapesium yang terletak di tengah taman.

Taman yang mampu meredam panas kota.

Taman ini menjadi penutup eksplorasi mengenang kejayaan Melayu dibawah pimpinan Sri Paduka Tuanku Sultan (gelar Sultan Deli).

4. Menara Air Tirtanadi

Terus berjalan mengambil arah utara, dalam 800 meter aku menemukan tandon air raksasa milik PDAM Tirtanadi Provinsi Sumatera Utara. Penampung air raksasa ini telah lama menjadi wisata landmark kota.

Jangan lihat wajah tuanya tapi lihat perannya.

Siapa sangka toren belang merah putih ini adalah buatan Belanda  di permulaan abad 20. Sesuai makna nama Sansekertanya, Tirtanadi memiliki peranan vital dalam mensuplai kebutuhan air bersih warga kota sejak pertama kali dibangun hingga kini.

Tahu kan arti kata Tirtanadi?….Yups, Tirta berarti air dan Nadi bermakna kehidupan.

5. Museum Uang Sumatera

Ayo melangkah lagi !….Tanggung nih.

Sekitar 300 meter di barat Tirtanadi Tower, aku menemukan koleksi berbagai rupa uang dari berbagai zaman dalam sebuah museum yang pendiriannya diinisiasi oleh seorang kolektor uang bernama Saparudin Barus.

Bahkan uang dari zaman Kesultanan Deli pun masih tersimpan dengan baik

Museum ini tidak bertiket masuk. Hanya saja mereka akan memberikan souvenir berupa 2 uang koin dengan lubang ditengah dan dihargai Rp. 10.000.

6. Tjong A Fie Mansion

Kali ini, aku singgah di destinasi penting lain kota Medan. Ini adalah rumah saudagar kaya raya keturunan Tiongkok yang mempunyai peran besar dalam pembangunan kota. Sang dermawan ini bernama Tjong A Fie. Dan yang tersisa selain dari kebesaran namanya adalah rumah tempat tinggal beliau.

Setiap ruang dalam rumah Tjong A Fie memiliki fungsi khusus yang membuatku terkagum.

Aku rela membayar tiket masuk seharga Rp. 35.000. Tetapi nilai itu terbayar lunas begitu memahami cerita tempoe doeloe yang membahas setiap sisi rumah dan menapak tilas kiprah Tjong A Fie dalam membesarkan bisnis dan membangun Medan.

7. Kampung Madras

Tak ada alasan shahih yang bisa kujelaskan mengapa aku harus mengunjugi Kampung Madras. Satu alasan sederhana saja, itu adalah efek domino karena aku menginap di Dazhong Backpacker’s Hostel yang berada di pusat Kampung Madras.

Berbaur dengan warga keturunan India!

Madras diambil dari nama sebuah daerah di India Selatan yang merupakan asal nenek moyang warga Medan keturunan India Tamil.

8. Waroenk Nenek

Selesai bertemu teman dekat di Medan, gelapnya hari membujuk untuk kembali ke hotel.  Tetapi badai lapar yang tak terbendung , membuatku terpaksa mencari makan malam sebelum aku benar-benar sampai di hotel.

Destinasi bonus.

Hinggaplah langkah di sebuah rumah makan bermoto “Semua Ada”  di bilangan Jalan Patimura. Seporsi pecel lele yang disuguhkan oleh dara-dara cantik berhijab menjadi hadiah terindah malam itu.

9. Merdeka Walk

Segarnya badan setelah makan malam membuatku urung kembali ke hotel. Aku menambah kembali koleksi dengan mengunjungi pusat kuliner dan hiburan kota yang biasa dipanggil eMWe.

Gerimis mulai turun ketika aku tiba.

Dibuat pada 2005 dan mampu menampung 700 pengunjung dalam satu waktu menjadikan tempat ini sebagai destinasi favorit saat weekend tiba. Terutama buat anak-anak muda yang ingin melepas penat setelah berkerja padat sepanjang minggu

10. Pendopo Kota Medan

Masih satu area dengan Merdeka Walk yang menempati salah satu sisi Lapangan Merdeka. Pendopo ini akan menjadi pusat alun-alun kota Medan di masa depan pasca revitalisasi yang sedang dirancang oleh pemerintah kota.

Jam 21:00 pun pendopi masih kedatangan pengunjung.

Ketersediaan taman di sekitar pendopo menjadikan tempat ini ramai akan berbagai aktivitas dari sekedar berkumpul bersama keluarga, berolah raga ataupun aktivitas beberapa komunitas muda Medan.

Itulah kunjungan kilat di Medan yang membuatku rindu untuk kembali.

Kisah Selanjutnya—->

DAMRI Kualanamu: Mengejar Amplas yang Semakin Menua

<—-Kisah Sebelumnya

Bahkan seminggu sebelum terbang, pilihan telah kutetapkan. Bukan “Si cepat dari Woojin”, apalagi “si burung biru”yang biasa berlalu lalang di Kualanamu. Pilihanku tetap pada transportasi ala rakyat yang bersahabat dengan kantong. Tak lain lagi, itu DAMRI.

Terduduk kantuk di ruang tunggu stasiun kereta bandara lalu mengamati para eksekutif menggeret kopernya, berkejaran dengan waktu keberangkatan kereta. Atau sebaliknya, langkah cepat para penumpang necis yang baru saja keluar dari kereta untuk mengejar waktu penerbangan mereka masing-masing. Aku menjadi manusia tersantai pagi itu di Kualanamu. Ya iya lah…Aku kan lagi ngelayap, bukan sedang dalam perjalanan dinas.

Mereka yang pada sibuk

15 menit mengamati lalu lalang “Si Biru Langit”, Aku keluar stasiun dengan memanggul backpack biru cetakan Tiongkok yang kudapat lewat salah satu e-commerce ternama setahun lalu.

Senyum Sersan Kepala menyambut sembari membantu menyeberangkanku melewati jalur mobil untuk kemudian aku mengarahkan langkah menuju platform airport bus.

Tuh doi ngumpet di samping “si merah”

Berbelok ke ujung kanan pintu keluar bandara maka konter penjualan tiket DAMRI sangat mudah terlihat dan ditemukan. Terbaca dengan jelas “Amplas, Siantar atau Binjai”, sebagai beberapa tujuan transportasi umum keluar Kualanamu. Sudah kupelajari dengan baik dan tertuang jelas di itinerary, Amplas adalah tolakanku berikutnya.

Menebus selembar tiket seharga Rp. 15.000 saja, aku kini berakses untuk mencicipi transportasi milik pemerintah yang sudah terlanjur melegenda di hati masyarakat.

Murah bingit.

Abang lihat papan petunjuk daerah tujuan aja ya, bang! Disana bang”, seloroh petugas tiket berseragam sembari telunjuk dan matanya menuju ke arah yang sama.

Ok, bang”, aku menjawab singkat.

DAMRI medium berpenumpang 24 yang tak kunjung penuh.

Memasuki pintu tunggalnya aku duduk tepat disebelah pintu, tak sampai semenit aku sudah di bangku belakang, bahkan sejurus kemudian sudah di bangku tengah. AC ventilator itu sudah tak berpenutup, kaca bagian belakang itu sudah sangat kusam sehingga kameraku pun kehilangan kejernihannya, di tengah pun sama reclining seat tak berfungsi selayaknya. Aku selalu memaklumi dengan kondisi ini, ini DAMRI kannnn.

AC super dingin yang membuatku menggigil sepanjang perjalanan.

 “Mana tiket Kau?”, sapa kondektur dengan kerasnya yang membuatku terperanjat. Kalau di Kampung Rambutan itu seperti hentakan preman.

Ah, ini mah Medan ternyata”, batinku yang akhirnya membuatku bersikap wajar dan tak perlu kaget.

Amplas, Bang”, kusodorkan tiket kepadanya. Ternyata dibalik wajah garang sang kondektur ada senyum tipis terlepas otomatis di bibirnya. Aku mulai jatuh cinta dengan Medan.

Melaju menjauhi Kualanamu

Aku sangat sibuk berpindah di bangku manapun demi menciptakan jepretan terbaik (walau akhirnya gagal….Hahaha), karena DAMRI ini hanya mengangkut 5 penumpang. Aku tahu pak sopir terus mengawasiku lewat kaca spion. Demi membuatnya wajar, aku mengacungkan jempol kepadanya dan uniknya dia juga mengacungkan jempolnya tinggi-tinggi. Semua penumpang tertawa melihatku….Kacau.

Suasana gang sebuah perkampungan

Kebun yang luas milik warga

Tak berasa DAMRI pun sudah melaju di jalan tol Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi dengan cepatnya.

Bersiap masuk jalur cepat.

Tiga puluh menit DAMRI merangsek ke barat hingga akhirnya tiba di Terminal Terpadu Amplas yang sangat tersohor di Medan itu. Terminal yang tak sesangar seperti yang kubayangkan. Tak seorangpun menggangguku ketika selama 20 menit mengekplore seisi terminal itu.

Terminal Amplas yang telah berusia 29 tahun

Bahkan aku sempatkan bercakap dengan petugas Dishub perihal cara menuju Toba dari terminal ini. Juga bercakap dengan seorang kondektur bus PO Sejahtera untuk menanyakan keberangkatan pertama armadanya menuju danau vulkanik terbesar di dunia itu.

Warung biru tempat aku bercakap dengan warga lokal.

Senang mendengar kabar bahwa Terminal Amplas akan direvitalisasi oleh Mister Menteri dan akan menjadi terminal yang terintegrasi dengan mall dan hotel. Keren yaaaa.

Yuk, jangan lama-lama di terminal. Mari kutunjukkan Medan seperti apa.

Panggil ojek online! Explore Medan!

Kisah Selanjutnya—->

Memecah Rekor bersama SJ 010

Yessss….Akhirnya aku terbang ke Medan melalui rute itu.

Adalah SJ 010, penerbangan pagi Sriwijaya Air menggunakan BOEING 737-900ER yang mengantarkanku ke Kota Melayu Deli. Perjalanan menakjubkan yang sebetulnya tak terencana. Berbeda dengan kebiasaanku ketika menjelajah ke luar negeri dengan perencanaan matang hingga setahun sebelum perjalanan tersebut dieksekusi.

Jam 03:58 pagi, aku sudah merapat ke Terminal 2 Soetta

Berawal dari ledekan setiap pagi di kantor tercinta yang selalu saja aku menjadi korbannya. “Ah lo mah Don, ga cinta tanah air, pergi ke luar negeri melulu. Negeri kita ini indah, mengapa harus ke luar negeri?”. Beuh padahal yang ngomong juga jarang piknik kemana-mana….Hahaha.

Setiba bandara, aku langsung menuju konter check-in.

Perjalanan ini juga terobsesi karena kejadian menggelitik lain. Bermula dari rencana ngebolang bersama teman-teman marketing ke Danau Toba yang selalu direncanakan setiap akhir tahun. Bahkan sudah tiga tahun berlalu atau boleh dibilang hingga aku telah menjelajah lebih dari sepuluh bangsa, tak kunjung direalisasikan.

Pasang cabin baggage tag mu sendiri, Donny!

Ya begitulah, terkadang teman-teman itu hanya semangat di bibir. Jadi kalau aku sendiri yang tidak melakukan action maka aku tak akan pernah melanglang keluar Jakarta.

Bersiap melewati x-ray security screening di gate F.

Akhir Oktober adalah waktu dimana aku biasa mendapat cuti tambahan 5 hari. Ini adalah benefit yang kudapat semenjak menjadi supervisor di kantor (Sombong kan aku….Supervisor gitu loh….Hahaha). Entah kenapa pembahasan Danau Toba di briefing Kamis pagi membuatku iseng untuk membuka sebuah situs pencarian tiket.

Jam 5:46…Mari kita boarding!

Mengikuti jemari yang terus menari diatas keypad, aku bak terbius karena tahu-tahu sudah mengakhiri sesi payment gate di situs itu dengan membawa e-ticket Cengkareng-Kualanamu seharga Rp. 552.950. Damn, dasar travel maniac….Aku harus bersiap 18 hari ke depan untuk menjelajah pulau Sumatra.

Gagahnya Sriwijaya Air SJ 010.

Kini aku akan berstatus menjadi marketer pertama di kantor yang akan melihat indahnya Danau Toba. Tak perlu banyak rencana, tak perlu banyak bicara….Berangkat aja sesuka hatimu, Donny!

Tak cuma jalan tol….Mau terbang melalui runway Soetta pun harus mengantri.

Aku berharap sepulang dari ekspedisi Sumatra, teman-teman tak akan nyinyir lagi bahwa aku tak mencintai negeriku sendiri….#dasartukangbaper.

Jam 06:41 aku melayang di atas Jakarta.
Dan bersarapan pagi ala Sriwijaya Air

Dan perlu kamu tahu, perjalanan kali ini berawal dari Medan dan akan berakhir di Padang. Setelah pulang nanti, aku akan dijuluki traveler gila untuk pertama kalinya oleh seisi kantor….Wuakakakakak.

Kenapa Sriwijaya Air selalu mengeluarkan bunyi-bunyi aneh bak reot selama terbang.

Aku sengaja tak mendarat di Silangit karena begitu kuat keinginanku untuk merasakan menjelajah daratan Sumatra Utara untuk melihat alamnya serta berbaur dengan masyarakat lokal yang unik dari berbagai cerita yang kudengar.

Pemandangan di luar yang mampu melupakan kebisingan suara-suara aneh dalam kabin.
Penerbangan dengan zero turbulence
Selat Malaka yang berkilau tersiram fajar.
Garis pantai Sumatra Utara yang mengagumkan.

Penjelajahan terjauhku di pulau Sumatra selama ini hanya mencapai tepian kota Martapura, Sumatera Selatan. Tapi itu bukan dalam rangka traveling, tetapi hanya untuk memenuhi kewajiban ketika aku menjadi sales ikan air tawar bertahun-tahun lalu….Wah, buka kartu nih.

Sudah sampai….Ayo turun!
Itu dia bangunan utama Kualanamu International Airport.

Ada satu komen menarik di medsos milikku ketika baru saja mendarat di Kualanamu. “Mas Donny mah selalu Work Hard-Travel Harder”…..Sepertinya aku harus mengamini jargon dari temanku itu.

Menunggu di jemput apron shuttle bus.
Nah itu busnya datang….

Seperti mimpi saja, akhirnya bisa mengunjungi Sumatera Utara. Satu hal yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Memang harus begitu untuk menjelajah indahnya Indonesia. Tak perlu mikir panjang, berangkat saja….Kalau hilang ga akan kemana kan….Hahaha

Menjelajah Medan dimulai dari pintu ini….Yukss!

Lihat videonya disini: https://youtu.be/3Bwjm3VULPc

Cari tiket penerbangan dari Jakarta ke Medan melalui 12go Asia. Berikutnya linknya:  https://12go.asia/?z=3283832

Kisah Sebelumnya—->