• <—-Kisah Sebelumnya

    Setelah total 3 jam perjalanan dari Melaka Sentral ke Hotel Pudu 88, akhirnya Gw bisa rehat sejenak di kamar hotel sambal mengatur kemana tujuan selanjutnya untuk malam ini dan besok pagi yang paling memungkinkan, karena besok jam 12:30 adalah batas akhir petualangan Gw sebelum kembali ke KLIA.

    Setelah selesai check-in dan mandi, jam 19:30 Gw makan di jajanan kaki lima di jalan Pudu. Dengan 9 Ringgit Gw dapat nasi putih, sayur kacang panjang dan ikan kembung plus segelas es teh tarik.

    Setelah makan dengan santai sambil mengamati lalu lalang orang lokal dan kendaraan hampir satu jam, Gw memutuskan untuk menghabiskan malam di Petronas Twin Tower saja. Memang tahun 2014 dan 2016 Gw sudah pernah mampir ke sana tapi kala itu di siang hari. Nah kali ini Gw akan melihat Petronas Twin Tower di malam hari. Penasaran saja.

    Jl Ampang

    Untuk menuju kesana dari Jl. Pudu adalah naik LRT Laluan Sri Petaling dari stasiun Plaza Rakyat dan turun di stasiun Masjid Jamek. Dari stasiun ini Gw hanya perlu berpindah ke laluan LRT Kelana Jaya untuk menuju stasiun KLCC. Harga tiketnya hanya 2,2 Ringgit.

    Turun di Stasiun LRT KLCC, Gw menuju ke exit KLLC Mall di Jalan Ampang yang indah dengan hiasan lampu

    Dari jalan Ampang, sudah terlihat sisi kiri Petronas Twin Tower, jadi Gw tinggal mendekat dan menyebrang jalan ke arahnya.

    petronas twin tower

    Memang benar kata orang-orang, Menyala indah di saat malam.

    Taman Twin Tower

    Air mancur di pelataran depan Petronas Twin Tower juga ikut menyala indah.

    20 menit Gw berbaur dengan keramaian para turis lain menikmati keindahan Petronas Twin Tower, akhirnya Gw harus kembali segera ke hotel sebelum jam operasional LRT berakhir yaitu jam 23:00.

    Kembali melalui jalur berangkat tadi. Gw tiba di Hotel Pudu 88 sekitar jam 22:15. Waktu yang tepat untuk segera istirahat untuk persiapan menghabiskan pagi tersisa keesokan harinya.

    Keesokan harinya, Gw baru keluar hotel jam 9:30 sekalian check out. Yah, Gw rada kecapean sebetulnya karena sehari sebelumnya Gw menjelajah Melaka hingga sore.

    Pagi ini tujuan Gw hanya ke Batu Caves setelah itu baru bertolak ke KLIA.

    Menuju Batu Caves, Gw bertolak kembali dari stasiun LRT Plaza Rakyat menuju Stasiun LRT Bandaraya menggunakan laluan Sri Petaling dengan tarif 1,3 Ringgit. Turun di stasiun LRT Bandaraya, Gw menuju gate keluar untuk berpindah ke Laluan Komuter Seremban, tepatnya di stasiun Bank Negara.

    Walah….malah nyasar, Gw ga merhatiin ada lorong jembatan di sebelah kanan jalan setelah keluar pintu stasiun LRT Bandaraya. Gw sudah nanya orang lokal yang sedang nungguin bus, malahan mereka ga tahu jalur kereta komuter dimana. Nanya juga sama orang keturunan India, ternyata dia juga turis….hahaha.

    Jalan Raja Laut

    Kebablasan berjalan sepanjang Jl. Raja Laut ke arah Dataran Merdeka

    Sudah di ujung Jalan Raja Laut, Gw harus berhemat energi karena backpack sudah menempel di punggung , Gw putuskan tidak balik lagi ke arah stasiun Bandaraya tapi Gw akan menjadikan daerah ujung Jalan Raja Laut menjadi venue wisata.

    Panggung Bandaraya

    Terletak di Merdeka Square, tempat pertunjukan teater seni ini kokoh berdiri sejak 1904

    Gw gak tahu kenapa jalanan di depan Panggung Bandaraya menuju Dataran Merdeka ditutup. Gw sendiri tidak menuju Dataran Merdeka yang sudah terlihat di depan karena Gw pernah mengunjunginya pada tahun 2014.

    Jadi tujuan Gw selanjutnya adalah jalan kaki menuju Masjid Jamek tepat di bawah stasiun LRT Masjid Jamek. Gw ke masjid ini dengan maksud akan bertolak dari Stasiun Masjid Jamek mengulang menuju Batu Caves kembali.

    Masjid Jamek

    Kiri atas : Stasiun LRT Masjid Jamek

    Kiri bawah : Majjid Jamek dilihat dari pintu masuk (free entrance yaa….)

    Kanan atas : Pakaian yang harus dipakai masuk ke Masjid Jamek apabila pengunjung tidak memakai pakaian muslim

    Kanan bawah : Masjid Jamek dilihat dari halaman dalam.

    Setelah selesai mengunjungi Masjid Jamek, Gw segera naik ke dalam stasiun LRT Masjid Jamek. Gw akan bertolak ke stasiun Bandaraya (kembali mengulang untuk menemukan stasiun komuter Bank Negara untuk menuju Batu Caves).

    Ketika menunggu LRT ada orang lokal yang tanya ke Gw kemana arah stasiun PWTC, katanya dia mau mengunjungi travel fare untuk cari tiket ke Bali. Lucu juga ya orang lokal nanya arah tujuan ke Gw….hahahaha (Malaysia sudah kaya Negara sendiri aja).

    Gw naik begitu kereta datang dan turun di stasiun Bandaraya. Nah, kali ini Gw ga mau kesasar 2x. Begitu keluar stasiun Bandaraya gw segera mencari jembatan penghubung menuju stasiun komuter Bank Negara. Akhirnya ketemu juga.

    Jembatan Bandaraya bank negara

    Belok kanan pintu keluar stasiun LRT Bandaraya, dalam jarak 100m kemudian belok kanan maka akan ketemu jembatan penghubung ke stasiun komuter Bank Negara

    Hunting tiket di mesin tiket otomatis stasiun komuter Bank Negara kok tidak ada tujuan Batu Caves, Gw nanya ke ibu petugas kebersihan stasiun, katanya rute komuter dari KL Sentral ke Batu Caves sudah tidak beroperasi. Kereta komuter menuju Batu Caves saat ini bertolak dari stasiun komuter Sentul. Jadi Gw harus menuju stasiun itu jika mau ke Batu Caves. (Jika Gw bertolak dari KL Sentral sebetulnya ada free bus dari KL Sentral ke stasiun komuter Sentul baru kemudian di sambung dengan kereta komuter dari stasiun Sentul ke stasiun Batu Caves…..sesi ini akan Gw ceritakan di tulisan berikutnya).

    Karena sudah jam 11:30 dan penerbangan Gw ke Jakarta jam 16:30, maka Gw putuskan untuk membatalkan trip ke Batu Caves. Gw segera ke KL Sentral untuk menuju KLIA.

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Artikel ini diupdate kembali pada 18 Agustus 2019.

    Karena artikel ini sudah dibaca sebanyak 12.206 kali, maka kuputuskan untuk diupdate kembali supaya lebih bermanfaat bagi kalian yang memerlukannya. Selamat mambaca ya, teman-teman backpacker….

    Setelah 5 jam berkeliling di Melaka, Aku bermaksud menginap di Kuala Lumpur saja karena keberangkatan pesawatku esok hari ke Jakarta melalui KLIA (Kuala Lumpur International Airport Terminal 1). Selain untuk mendapatkan waktu yang lebih leluasa dalam menjelajah tempat lain di negeri jiran itu, Aku juga akan merasa tenang karena lebih dekat dengan KLIA.

    Aku pun sudah memesan Hotel Pudu 88 via online di dekat terminal bus Puduraya.

    Langkah pertama, tentunya Aku harus kembali ke Melaka Sentral untuk mendapatkan bus menuju Kuala Lumpur. Untuk kembali ke Melaka Sentral, Aku memakai cara termudah….yaitu kembali ke titik awal dimana tadi pagi Aku di drop bus panorama di Bangunan Merah, Melaka. Cukup lama menunggu bus datang….30 menit kemudian bus baru benar-benar datang.

    Tentunya bus ini akan membawaku keliling Melaka terlebih dahulu, sebelum kembali ke Melaka Sentral. Inilah yang bisa dimanfaatkan layaknya bus tour untuk melihat hiruk pikuk Melaka.

    Bus panorama model baru….saat berangkat, Aku naik yang model lama.

    Dengan membayar 2 Ringgit saja, Aku dibawa cukup lama berkeliling Melaka. Dan 45 menit kemudian baru sampai di Melaka Sentral.

    Begitu sampai di Melaka Sentral, Aku langsung menuju ke bagian Terminal Bus Antar Kota (dalam bahasa Malaysia: Terminal Bas Antara Negeri).

    Aku hanya mengikuti tanda ini untuk menemukan bus ke Kuala Lumpur.

    Tidak perlu lama mencari, akhirnya Aku menemukan beberapa konter bus ini:

    Ga usah khawatir….banyak pilihan bus dan harga….tinggal pilih….keberangkatan rata-rata tiap 30 menit. Mau lebih mudah dan tepat waktu?….beli online saja!.

    Aku sempat keluar ruangan menuju platform bus untuk melihat beberapa bus yang bagus untuk dipilih. Ternyata semua bus mirip dan kufikir sama saja. Jadi kuputuskan untuk ambil bus yang berangkat tercepat saja.

    Akhirnya terbelilah tiket bus Mayangsari yang akan berangkat jam 15:15. Saat beli tiket, sangat diburu-buru oleh si bus timer karena bus akan berangkat 2 menit lagi. Kasian bapak tua yang antri di belakangku karena tak mendapat bangku dan musti menunggu setengah jam lagi.

    Aku berlari menuju bus dan akhirnya mendapatkan bangku paling belakang, tidak sesuai dengan nomor kursi di tiket. Sempat nanyain mbak cantik yang duduk di bangkuku, eh….Seorang Bapak di belakangnya menganjurkanku untuk duduk dimana saja….bebas. Oh ternyata begitu aturannya. Karena tinggal bangku yang dibelakang, ya itulah yang menjadi tempat tidurku….eh bangkuku….hahaha.

    Bagian dalam bus Mayangsari rute Melaka Sentral-Kuala Lumpur.
    Penampakan bus Mayangsari ketika tiba di Terminal Bersepadu Selatan (TBS), Kuala Lumpur.
    Murah kan….cuma 10 ringgit bisa berpindah dari Melaka ke Kuala Lumpur.

    Aku ga tahu bus ini melewati tol apa dan dimana….yang pasti 2 jam kemudian Aku tiba di Terminal Bersepadu Selatan (TBS).

    Kesan pertama melihat TBS ini sangatlah kagum, baru kai ini lihat terminal bus yang besar dan bersih serta papan LED informasinya sangat besar untuk ukuran terminal bus.

    Berikut beberapa sisi Terminal Bersepadu Selatan (TBS):

    Arrival Hall.
    Konter tiket.
    Papan informasi kedatangan dan keberangkatan.
    Papan petunjuk menuju jaringan LRT dan kereta KLIA Express.

    Karena ini adalah terminal bus yang terintegrasi dengan jalur kereta ke tengah kota Kuala Lumpur, maka mataku dengan cermat menyapu papan informasi untuk mendapatkan arah menuju stasiun Bandar Tasik Selatan yang terintegrasi dengan Terminal Bersepadu Selatan.

    Terminal Bersepadu Selatan dan Stasiun Bandar Tasik Selatan dihubungkan dengan sebuah lorong jembatan diatas jalan raya.

    Terminal Bersepadu Selatan (TBS).
    Stasiun Bandar Tasik Selatan.
    Jembatan penghubung stasiun Bandar Tasik Selatan dan Terminal Bersepadu Selatan.
    Tanda di lorong jembatan penghubung menuju Stasiun Bandar Tasik Selatan.

    Setelah berada di Stasiun Bandar Tasik Selatan, Aku membeli token di mesin tiket otomatis seharga 3 ringgit untuk menuju ke stasiun Plaza Rakyat karena Hotel Pudu 88 tempatku menginap ada di dekat stasiun ini. LRT yang kunaiki adalah jalur LRT Sri Petaling.

    Turun di stasiun Plaza Rakyat, Aku harus memutar mengelilingi UTC (Urban Transformation Centre) Pudu Sentral melalui sebuah lorong panjang.

    Stasiun LRT Plaza Rakyat.
    Lorong panjang keluar stasiun Plaza Rakyat menuju Jalan Pudu.
    UTC Pudu Sentral adalah bangunan tempat berkantornya beberapa institusi pemerintahan seperti Royal Malaysian Police (PDRM), Jabatan Imigresen Malaysia dll.

    Setelah berada di ujung blok, Aku memutar untuk menyusuri Jalan Pudu. Tak lama berjalan di sebelah kanan terlihatlah Terminal Bus Puduraya.

    Terminal Puduraya disisi kanan jalan.

    Setelah melewati terminal bus Puduraya sejauh 250 meter, akhirnya Aku menemukan Hotel Pudu 88.

    Tempatku menginap.

    Perjalanan sore hari itu ke Kuala Lumpur berhenti disini. Hotel yang murah dan nyaman untuk menginap.

    Ingin mendapat tiket di Melaka dan Kuala Lumpur tanpa antri?. Boleh coba gunakan jasa 12go Asia

    Berikut link nya:  https://12go.asia/?z=3283832

    Selamat ber-backpacker ria, teman.

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Kesempatan 5 jam adalah waktu yang sangat berharga sekali buat Gw untuk menikmati keindahan Melaka, Malaysia.

    Karena tidak mau kehilangan momen yang sebentar ini, maka Gw persiapkan itinerary baik-baik dari Jakarta .

    Setelah berjibaku mendapatkan bus dari KLIA2 ke Melaka dan setelah berhasil menyapu pemandangan di sekitaran Dutch Square, maka Gw akan melanjutkan petualangan berjalan kaki mengunjungi tempat lain di pusat kota Melaka ini.

    Bertolak dari titik Melaka 0 Mile, Gw sempatkan melihat Jajaran Tembok Portugis di pertigaan jalan setelah Melaka 0 Mile. Reruntuhan ini dipagari dengan baik untuk menjaga keterawatan situs. Pemerintah Malaysia memang serius menggarap pariwisata mereka yang mampu menyumbang pendapatan negara sekitar 18 miliar dollar per tahun.

    Jajaran Tembok Portugis Melaka

    Tembok kota Melaka ini adalah tembok pertahanan kota Melaka di Abad 16

    Oh ya….Tujuan utama kunjungan kali ini adalah Gereja St. Paul, Benteng A Famosa, Melaka River Cruise dan Jonker Street.

    Okay, Gw akan bahas satu persatu.

    Menuju Gereja St. Paul

    Untuk menemukan gereja ini Gw menemukan petunjuk arah yang memudahkan Gw kemana harus mengambil arah. Penunjuk arah ini ada di pertigaan sebelah selatan Melaka 0 Miles.

    tanda ke bukit st paul

    Berada di Melaka perlu kejelian mata untuk menemukan banyak tanda seperti ini. Ini yang memudahkan turis menjelajahi Melaka

    Berjalan sejauh 100 meter, Gw menemukan Muzium Senibina Malaysia (Malaysia Architecture Museum). Muzium Senibina Malaysia

    Didirikan kolonial Belanda di abad 18, bangunan ini sempat digunakan sebagai kantor Badan Air Melaka

    Terus melewati museum ini sejauh 50 m, Gw akhirnya menemukan petunjuk menuju Gereja St. Paul yang mengarahkan Gw untuk belok ke kiri melalui pintu terbuka kecil tepat dipinggir Jalan Kota.

    Tangga ke Bukit St Paul

    Barisan anak tangga ini hanyalah salah satu dari beberapa akses masuk menuju gereja

    Sejumlah anak tangga yang cukup tinggi menanti didepan mata. Ga ada cara lain selain menaiki tangga itu satu persatu…..telan aja, hahaha….Banyak turis yang kedodoran dan beristirahat di tepi tangga.

    Begitu sampai di bagian jeda anak tangga bagian atas, mata Gw terkesima dengan pemandangan lautan luas dengan deretan perumahan dan pertokoan berwarna putih yang cukup rapi.

    Pemandangan Laut Lepas

    Jika ingin melihat keindahan Melaka dari atas…hanya perlu menaiki wahana Menara Taming Sari Melaka itu….

    Akhirnya Gw sampai di bagian atas Bukit St. Paul dan mulai memasuki pekarangan luar Gereja St. Paul. Sengaja Gw ga langsung memasuki bagian dalam gereja untuk menikmati keindahan bangunan gereja ini dari luar.

    Gereja St Paul Outside

    Kiri : Gereja St Paul tampak depan    ;  Kanan : Gereja St Paul tampak belakang

    Setelah cukup puas menikmati bagian luar bangunan, Gw mulai masuk ke bagian dalam. Berikut bagian dalam dari Gereja St. Paul.

    interior st paul

    Atas : Tembok bagian dalam gereja

    Bawah : Gravestone yang diletakkan bersandar di dinding gereja

    Setelah 20 menit menjelajah bagian dalam gereja, Gw putuskan untuk segera turun karena Gw sadar waktu Gw tidaklah banyak. Gw kembali menuruni anak tangga untuk kembali ke Jalan Kota.

    Menuju Benteng A Famosa

    Meneruskan perjalanan sepanjang Jalan Kota yang sempat terpotong karena mampir di Gereja St. Paul. Sekitar 15 m berjalan Gw melewati Muzium Islam Melaka

    Muzium Islam Melaka

    Bangunan ini awalnya adalah kantor Dewan Islam Melaka 

    Berjalan sejauh 75 m kembali Gw menemukan beberapa museum berikut

    Muzium UMNO

    Muzium UMNO (United Malays National Organisation), partai politik terbesar di Malaysia yang mendominasi kekuasaan sejak kemerdekaan Malaysia

    muzium setem malaysia

    Museum perangkonya Malaysia

    Muzium Dunia Islam

    Museum ini menjelaskan tentang penyebaran Islam di dunia, tokoh-tokoh muslim penting dan beberapa bangunan penting Islam.

    Tidak perlu waktu lama untuk mecapai Benteng A Famosa karena jaraknya memang hanya sekitar 300 m dari akses masuk Gereja St Paul.

    Berikut keindahan Benteng A Famosa:

    A Famosa 1

    Benteng A Famosa tampak dari kiri depan

    A Famosa 2

    Benteng A Famosa tampak dari depan

    Memasuki bagian dalam benteng, turis di sambut dengan pengamen dengan live musicnya menyanyikan lagu-lagu western. Pertunjukan yang cukup menghibur ditengah teriknya matahari Melaka.

    Gw sempat berbincang dengan pak Yusuf, dia adalah turis lokal dari Sabah yang sedang ada tugas kantor ke Melaka dan menyempatkan diri untuk berpiknik.

    Bangunan benteng yang terkelupas alami di bagian dinding ini menunjukkan betapa kokohnya benteng yang sudah berusia 507 tahun ini.

    Beberapa bagian informatif membuat Gw terkesima sejenak

    A. Famosa 3

    Ternyata benteng ini dibangun oleh Alfonso D’Alboquerque yang pada awalnya datang ke Melaka hanya untuk membebaskan tawanan.

    D’Alboquerque ini sendiri sangat terkenal di Maluku, Indonesia karena pernah mengirimkan utusan untuk mencari rempah-rempah ke Maluku.

    Waktu sudah menunjukkan pukul 12:10, sudah saatnya Gw meninggalkan Benteng A Famosa untuk menuju Melaka River Cruise.

    Menuju Melaka River Cruise dan Jonker Street

    Beranjak dari Benteng A Famosa, Gw baru sadar bahwa benteng ini berseberangan dengan mall

    dataran pahlawan

    Dataran Pahlawan Mall merupakan tempat popular untuk shopping di Bandar Hilir, Melaka

    Berjalan menyusuri Jalan Kota yang dibangun dari susunan pavling block di tengah hari bolong mengharuskan Gw banyak minum air mineral untuk menjaga tubuh dari dehidrasi.

    Berjalan sejauh 200 m, Gw menemukan Taman Kenderaan Sejarah Melaka.

    taman kereta

    Sepertinya ini adalah taman berbayar untuk bermain anak-anak Melaka.

    Setelah berjalan selama 10 menit, Gw sampai di tepian Melaka River. Sebelum menikmati keindahan sungai Melaka, Gw menyempatkan diri mengunjungi Bastion Middleburg.

    benteng dekat river

    Dibangun oleh kolonial Inggris, bangunan ini berfungsi sebagai pusat pengawasan perdagangan di Melaka kala itu

    Dan tepat disebelah bangunan ini adalah Melaka River.

    melaka river

    Sungai ini adalah jalur penting perdagangan pada abad ke-15

    Setelah melihat lalu lalang Melaka River Cruise, perut mulai keroncongan dan saatnya cari makan siang sekaligus mengakhiri petualangan di Melaka.

    Sengaja Gw akan mencari menu makan di Jonker Street. Setelah menyeberangi jembatan yang menghubungkan antar sisi Melaka river, Gw melewati titik ini

    jonker street

    Pada masa Belanda, Jonker Street adalah tempat tinggal para pegawai Belanda. Namun setelah Belanda tidak berkuasa, Jonker Street menjadi tempat tinggal para pedagang dan pebisnis kaya peranakan

    Gw mulai fokus untuk mencari makanan halal ini. Susah menemukan makanan seperti ini di Jonker Street tapi bukan berarti tidak ada.

    Setelah 2 blok baru Gw menemukan warung makan milik muslim melayu dan terpampang tulisan halal. Akhirnya Gw masuk ke dalam untuk makan dan menutup trip ini

    lunch melaka

    Makan siang seharga 10 Ringgit

    Nah berakhir sudah 5 jam perjalanan Gw di Melaka….Sudah saatnya kembali ke Ibu Kota Kuala Lumpur untuk melanjutkan explorasi Malaysia.

    Kisah Selajutnya—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Berikut adalah pemandangan yang bisa ditemukan di Dutch Square, Melaka Malaysia.

    Venue Sekitar Clock Tower

    Peta ini adalah satu spot yang secara 360 derajat, Kamu bisa melihat beberapa venue secara langsung tanpa berpindah tempat

    1. Titik Dropping Bus

    17 Maret 2018. Perjalanan Gw mencapai Dutch Square Melaka sudah Gw ceritakan di artikel “Bus dari KLIA 2 ke Melaka, Malaysia”.

    Bus Panorama No 17 dari Melaka Sentral menurunkan Gw disini:

    Drop from the Bus

    Bus pariwisata dan bus kota menurunkan penumpang disini.

    Karena titik ini adalah titik yang spaling crowded, maka banyak polisi standby disini untuk memastikan mobil atau bus tidak berhenti terlalu lama di titik ini.

    Masyarakat menyebut daerah ini sebagai Bangunan Merah. Jadi kalau mau bilang ke pak sopir maka bilang aja “turunin saya di Bangunan Merah”. Mulai dari tembok bangunan hingga jalanan batako berwarna merah.

    2. Malacca Clock Tower.

    Setelah turun dari bus, maka yang terlihat paling menonjol pertama adalah tower tinggi berwarna merah. Tower ini dikenal sebagai Malacca Clock Tower. Memiliki tiga tingkatan bangunan dengan jam besar di keempat sisinya. Tower ini dibangun oleh seorang jutawan Malaysia Tionghoa.

    Clock Tower

    Berusia 132 tahun, bangunan ini masih terlihat kokoh

    3. Spot “I Love Melaka”

    I Love Melaka

    Lama banget ngantri disini….antrian selalu disodok sama turis yang ga sabaran….hahaha

    Tepat di bawah Malacca Clock Tower dan selalu menjadi incaran kamera karena untuk berfoto di spot ini. Dengan foto spot ini tentu orang lain akan tahu kalau kamu sedang berada di kota Melaka.

    4. Queen Victoria Fountain

    Dibangunnya air mancur ini adalah untuk memperingati 60 tahun Ratu Victoria memegang tahta kerajaan Inggris. Pembangunannya sendiri dilakukan 4 tahun setelah 60 tahun ratu Victoria menjadi raja yaitu pada tahun 1901.

    Victoria Regina fountain2

    Boleh dibilang ini adalah jejak asli kolonial Inggris di Melaka

    5. Muzium Sejarah dan Ethnografi

    Bangunan ini adalah peninggalan kolonial Belanda. Dibangun pada pertengahan abad ke-17, bangunan ini pernah digunakan untuk gedung pemerintahan Belanda di Melaka. Nama asli bangunan ini adalah Stadthuys dan merupakan penanda penaklukan Portugis oleh Belanda di Melaka.

    stadhyus

    6. Christ Church Melaka

    Secara strategis pemerintahan, Christ Church ini dibangun untuk memperingati seratus tahun penaklukan Melaka dari Portugis oleh Belanda. Tapi secara fungsi, Christ Church dibangun dikarenakan sudah tuanya usia gereja yang aktif kala itu yaitu gereja St. Paul di puncak bukit St. Paul.

    Christ Church

    Angka 1753 diatas bangunan gereja ini menunjukkan tahun pembangunannya

    7. Balai Seni Lukis Melaka

    Bangunan dua lantai ini digunakan untuk 2 museum yang berbeda. Lantai pertama digunakan untuk Muzium Belia Malaysia (Malaysia Youth Museum), sedangkan lantai atas untuk Balai Seni Lukis Melaka (Melaka Art Gallery).

    Balai Seni Lukis Melaka

    AD 1931….pada tahun itu bangunan ini awalnya adalah bangunan sekolah Anglo-China.

    8. Windmill Dutch Square Melaka

    Windmill berukuran kurang dari 1/10 dari ukuran normal ini juga dibangun sebagai penanda penaklukan portugis oleh Belanda. seperti fungsi historis Stadthuys.

    dutchmil

    9. Melaka 0 Mile

    Merupakan titik pusatnya Melaka. Jadi semua jarak di kota Melaka diukur dari titik ini.

    Melaka 0Km

    Oke….spot-spot lain di kota Melaka akan Gw ceritakan melalui artikel berikutnya ya….

    Kisah Selanjutnya—->

  • May 9, 2015 – The main principle that I hold to be a continuos traveler is never give up to everything that hinder my plan. If I meet obstacles then I will find another way to achieve the goal.

    This was the first incident that almost made me failed to depart. Never give up attitude has changed my planned trip into a trip without a plan.

    Trip to Brunei Darussalam was a replacement trip without an itinerary. It was occurred due to unapproved my travel leave ” Jakarta-Vientiane-Luang Prabang-Chiang Mai-Bangkok-Yangon-Jakarta, 8-17 May 2015″.

    These were ticket modifications that I made:

    ilustrasi tiket

    Two useless tickets and three new tickets have to be issued

    spending extra budget was sure, but no problem than I canceled my trip.

    8-10 May 2015, Brunei Darussalam trip came finally. Without detailed preparation, I went.

    The new impression in this flight was It became my first time for flying over the South China Sea …. it sounds pretty good.

    Air Asia AK272 landing at 10:05 pm at Brunei International Airport.

    OLYMPUS DIGITAL CAMERA

    As main airport of a country…..I could say that it was quiet Airport. 

    While waiting for bus to downtown, I went to KFC …. shocked when I knew that the waiter came from Pacitan, Center Java, Indonesia. He said that many Javanese worked at Brunei Darussalam …… Interesting, I would feel like in my country.

    KFC
    So….I spoke Javanese at KFC

    The bus finally came after 1 hour waiting, the bus just stopped a moment, so I must run to catched the bus that slowly left the airport …. BND 1 could deliver me to BSB (Bandar Seri Begawan) Bus Terminal.
    bus
     

    Bus interiors … a few passengers.

    bus2

    Small city buses at BSB Bus Terminal

    To saved my time, because it was 13:00, I decided for directly went to venues. I skipped about hostel firstly, because I was doing a very short trip now.

    1. Kampong Ayer

    By walk, I moved from BSB Bus Terminal to Kampong Ayer. To reached the center of Kampong Ayer, you only needed to spend BND 50 cents for payed the boat.
     
    kampong ayer
    The settlement is viewed from Kampong Ayer Cultural & Tourism Gallery

    The Free Venue at this area was Kampong Ayer Cultural & Tourism Gallery, to got in it, you just needed to fill in guest book at reception. Visitation to the gallery was combined by sightseeing Kampong Ayer settlement was very interesting.
     
    Although these waters were used for settlements, but the cleanness of the water was very well preserved … ..salute …. how did they manage household waste?

    2. Pasar Tamu Kianggeh
     
    Satisfy walked around in Kampong Ayer, I immediately pulled over. I wanted to go to the main traditional market at Brunei Darussalam.

    This time I was glorified by a father with his son on a boat with me when went to the edge, because He knew that I was tourist, he paid my boat coast. Although only BND 50 cents, it is very touching.
    perahu
     

    Boats to Pasar Tamu Kianggeh stopped here

    OLYMPUS DIGITAL CAMERA

    Got around Pasar Tamu Kianggeh for souvenirs ….. I didn’t find


    Just got around for 30 minutes to saw how their trading.

    3. K.H Soon Resthouse

    Finally I started to looking for dormitory around the market. Online searching on Agoda.com and Booking.com someday before departing hasn’t worked, so it needed to spent the time to searched hostel on the spot.

    The first Dormitory that I checked was Pusat Belia Youth Hostel. Off course, This was the most popular dormitory at Bandar Seri Begawan.

    IMG-20150609-WA0004

    This popular dormitory fully booked due to the students’ sports week in Brunei


    I rushed to the second dormitory -K.H. Soon Resthouse- that no far from the first dormitory. Yess … there were 3 bed slots left …. so I immediately taked it and didn’t need long thinking.

    OLYMPUS DIGITAL CAMERA

    Dormitory belongs to Brunei Chinese…..My roommate were from USA, England and Semarang.


    My roommate-Erza- departed from Pontianak after completing his duties as a lecturer (he teached at Semarang). According to him, got in Brunei by land is very tight, he must showing all contents of his bag one by one to checking by immigration officer included his wallet…..hahaha … .nice experience.

    He was my first travelmate who I found when backpacking …. and we were still on contact each other or sharing an itinerary sometimes.

    4. Omar Ali Saifuddien Mosque

    No long sitting in dormitory, we finally continued Bandar Seri Begawan exploration.

    The nearest mosque from dormitory is Omar Ali Saifuddien Mosque. Before entering for the Asr prayer, I needed to filled in the guest book in front of mosque main door.

    OLYMPUS DIGITAL CAMERA

    Prohibited for taking photos inside and provided prayer clothes in front of the entrance

    OLYMPUS DIGITAL CAMERA

    View of mosque courtyard

    5. The Mall Gadong

    After knew that Regalia Royal Museum near the mosque closed, I rushed to BSB Bus Terminal for The Mall Gadong.

    OLYMPUS DIGITAL CAMERA

    Bus no. 01 taked us to The Mall Gadong for BND 1

    If I compare with common mall in Jakarta, this mall is still small. I just walked around in the mall to see local people activities.

    While The Mall Gadong inside, I was self-conscious that I would walk to dormitory when I backed, because the bus only operated until 17:00 ….. just enjoyed it.

    6. Gadong Night Market

    Gadong Night Market is about 350m from The Mall Gadong. Because of a culinary market, I decided to got dinner here because all prices were cheap. I could eat for BND 2 here.

    gadong
    gadong2
    gadong3

    Arguably this was the most memorable venue because finally I found a crowd that rarely met since morning. This market was much visited by citizens who backed to home from work to bought take away dinner.

    I just sit on the asphalt and enjoyed dinner with my travelmate …..hahaha. So surely this night market provided a large parking lot to accommodated the visitors who 90% drove a car …. For 2 days in Brunei I only saw motorcycles 4 times on the streets and those were big cc motor sport. I thought Brunei was rich country.

    7. Jame Asr Hassanil Bolkiah Mosque

    Satisfy tried some local culinary, I fininshed my trip for Maghrib prayer at Jame Asr Hassanil Bolkiah Mosque.

    OLYMPUS DIGITAL CAMERA

    This mosque is classified as magnificent because it’s marble is very good.

    After Maghrib prayer and admired the beauty of this largest mosque in Brunei, I went to hostel.

    Surely, you already knew, guys …. I must walk 4 km for 1 hour to dormitory …. This was a part which I always miss every trip….i.e walking.

    Continue to part 2

    Next Story—->

  • Ini adalah traveling teranyar gw, tepatnya 5 hari lalu. Keberangkatan kali ini, Gw percayakan pada Air Asia milik Malaysia AK 383 dengan pesawat A320. Bersyukurnya adalah Gw akan mencicipi pertama kalinya Departure Hall nya Terminal 3-Ultimate (3U).

    Singkat kisah, jam 23:00 Gw sudah menginjakkan kaki di Terminal 3U setelah perjalanan menggunakan bus DAMRI selama 1 jam dari terminal Kampung Rambutan. Karena sudah web check-in, maka Gw langsung menuju Gate 6. Gate ini sebelum dipakai AK 383 pada jam 00:50, sempat dipakai untuk boarding China Southern Airlines menuju Shenzen, China sejak sejam sebelumnya.

    Pesawat yang Gw naikin terlihat pesawat berusia lama. Tapi Gw percaya sama perawatan pesawat Air Asia. Setelah mengudara 2 jam, Gw menginjakkan kaki kembali di KLIA 2 untuk ke tujuh kalinya. Memang KLIA 2 terlihat berhasil menjaring penumpang untuk transit atau memang untuk berkunjung ke negara jiran itu.

    Sebelum Gw meluncur ke Melaka, Gw sempatkan mampir di tempat makan langganan Gw, NZ Curry House Lantai 1. Cukup dengan MYR 9 sudah bisa sarapan fried rice dan teh O (teh kosong)….nyammmm.

    Setelah shalat subuh dan beres urusan toilet, Gw langsung cari tiket bus Transnasional di lantai 1:

    Konter Bus KLIA2

    Lumayan panjang juga ngantrinya….

    ticket Bus KL Melaka

    Bukan bus Transnasional yang Gw dapatkan…..tetapi Star Mart Express seharga MYR 24,3.

    Yang perlu Kamu ketahui bahwa pintu tunggu bus di KLIA2 ada 3 yaitu Door 1, Door 2 dan Door 3. Dan setelah keluar Door makan akan ada shelter A01, A02, A03 dst…B01, B02, B03 dst. Kalau Gw musti nunggu di Door 1 Shelter A01.

    Bus Star Mart

    Bus datang jam 07:45 (telat 15 menit) dan bus berangkat jam 7:55.
    Sebelum masuk ke bus, petugas bus akan menyobek tiket penumpang satu persatu.

    Bus Star Mart interior

    Interior bus sangat nyaman. terdiri dari 3 kursi per baris.

    Di tengah perjalanan akan ada pengecekan penumpang oleh petugas bus yang bertugas sebagai timer di wilayah tertentu tidak jauh dari KLIA.

    Lalu lintas boleh dibilang sangat lancar. Perjalanan sejauh 135 km ini ditempuh dalam waktu 2 jam saja.

    Lalu dimanakah Kamu akan diturunkan?

    Yup betul di Melaka Sentral, tepatnya disini penumpang akan di drop:

    Melaka Sentral

    Kemudian masuk saja ke pintu terdekat, maka Kamu otomatis sudah masuk ke dalam terminal Melaka Sentral.

    Ini salah satu sudut Melaka Sentral:

    Melaka Sentral2

    Pemandangan ikonik di dalam Melaka Sentral

    Kemudian carilah ruang tunggu ke Terminal Bus Dalam Negeri (dalam kota). Ini adalah ruang tunggu bus dalam kota Melaka yaitu bus Panorama:

    Melaka Sentral3

    Sepi tapi nyaman, ber AC dan ruangan bersih

    Dan bus Panorama yang menuju ke pusat wisata Melaka adalah bus panorama no. 17. Kalau Kamu mau buru-buru ke Bangunan Merah saya sarankan segera naik bus yang sudah standby. Karena Gw keasyikan ngambil foto sana-sini, Gw membiarkan bus no 17 ini pergi begitu saja, ternyata lama nunggunya untuk kedatangan bus berikutnya, hampir 30 menitan. Kamu harus menunggunya di dekat nomor ini:

    Melaka Sentral4

    dan Kamu hanya perlu membayar MYR 2 untuk trip dari Melaka Sentral ke Bangunan Merah (Clock Towernya Melaka).

    ticket Bus KL Melaka2

    Lalu bagaimana keseruan di Melaka? 5 jam petualangan yang sangat berkesan.

    Akan Gw bahas pada tulisan berikutnya ya……thanks, gaes.

    Keliling Melaka dan Kuala Lumpur dengan tiket dari 12go Asia ?. Boleh dicoba, berikut link nya: https://12go.asia/?z=3283832

    Kisah Selanjutnya—->

  • December 28, 2016 – After Kuala Lumpur International Airport 2 (KLIA2), Changi International Airport, Nội Bài International Airport and Ninoy Aquino International Airport, finally I could try one more airport in East Asia for sleeping. That was Kaohsiung International Airport. Even afterwards I also had time to enjoy beautiful night also at Kansai International Airport, Osaka, Japan.

    But this session is about impression that I got overnight staying at Kaohsiung International Airport, Taiwan.

    Kaohsiung is Taiwan’s second largest city. I felt lucky to visit it for 3 days 2 nights before went to next city …. Tokyo, Japan.
    I practiced habit of reducing my lodging budget by sleeping in Kaohsiung International Airport on second night.
    First night in Kaohsiung, I chose my option of staying at Paper Plane Hostel for TWD 450 (IDR 180K). For me, it could use for 4 until 5x eat budget. So what I did could save my budget if on 2nd night I slept for free at airport.

    At 22:30, I arrived at airport.
    IMG_20161228_223904
     Being the 2nd largest airport in Taiwan ….the airport is nice.

    F
    irst step that I did, of course, got around in airport to found best place to slept. But the 1st floor of Departure Hall airport was very small, so I tried up to level 2 using lift. When got down from lift, I directly faced to check-in counter and the room has been turned off the lights. I met an airport employee and I asked could I sleep on the 2nd floor?. She said that I could stay but just on  level 1 only. 

    So I decided to went on level 1.
    Finally free staying action was started ….

    And These were 5 experiences and impressions that I got during staying at Kaohsiung International Airport.

    1. Sign up for staying

    Before staying, I must register to security that I would stay at the airport. I wrote my name, passport number, country of origin, destination city after leaving Kaohsiung and the last was my signature. The airport security checked my passport and matched what I wrote in the airport’s staying register booker. After matched, then I could stay.

    In the queue during registration, I had talked to the Japanese tourists who queued behind me. He was smiling to me, he thought what happened was funny and it also been his first registering before staying at the airport. He was staying because he would to go to Vietnam tomorrow morning.

    2. All shops / stores in the airport hall were closed at 12pm.

    I knew about it after bought tea in the Family Mart Airport. I asked Family Mart employees whether minimarket was open for 24 hours. He said that they would open until 24:00 only and closed afterwards.

    So I must prepare some foods/drinks if didn’t want to thirsty or hungry. I only bought 600 ml of tea and didn’t buy any food because before went to the airport, I already ate at Kaisyuan Night Market.

    3. The lights would be off at 12 pm.

    When I talking some interesting topic with a Indonesian. Suddenly, the main light was turned off. But it seems more interesting, I could sleep soundly …. many people snoring here. I heard that because I didn’t sleep and involved in interesting chatting until 3 am ……

    So if you stayed in Kaohsiung International Airport just needed to carefully on keeping your bag or luggage because of the dark hall. I still had tips to secured the backpack …. .I made my backpack as a pillow for my head.

    4. Place to staying only one room ie Departure Hall on the 1st floor.
    This was the Departure Hall :
    Lobby bandara3

    Hurry up!….looking for a bench  to slept rather than sleeping without carpet

    5. Three sets of benches for sleeping

    Every three stools have arms, so I couldn’t sleep normally.
    Didn’t need to scrambled benches ….. people who staying could count by fingers.

    One more addition, the toilet at the airport was guaranteed clean so didn’t worry about staying here.

    At 4:30 am the airport activity could felt. I was still sleepy because of sleeping lately, after brushing teeth and washing I went up to 2nd floor for check-in process.

    Konter check in2Sometime I will tell to you about my experience on Vanilla Air flight

    After check-in process, let’s see how the situation of Kaohsiung International Airport to Departure Gate:

    Koridor ke Gate2Towards Gate 30

    Gate 302

    get ready to fly to Tokyo

    My adventures at Kaohsiung International Airport for 8.5 hours ended at this gate. Hopefully you can landing at this tiny and impressive airport sometime.

     

  • <—-Kisah Sebelumnya

    7 Januari 2015

    Setelah bermalam di Top Banana Guesthouse & Rooftop Bar, Gw dapat merasakan suasana pagi Cambodia di sekitar guesthouse.

    Situasi sekitar guesthouse

    Suasana lengang pagi hari di sekitar guesthouse

    Setelah mandi dan packing gw breakfast di bar guesthouse:

    Bar Top Banana

    Tinggal pilih makan atau minum apa….hayo lengkap nih

    Tidak berlama-lama Gw bergegas menuju ke venue. Gw akan mengunjungi dua venue utama di Phnom Penh. Batasan waktu Gw adalah jam 14:30, sebab itu adalah waktu Bus Mekong Express akan berangkat dari Phnom Penh, Cambodia ke Ho Chi Minh City, Vietnam.

    Untuk menghemat waktu, Gw memutuskan menyewa jasa Tuk Tuk sebesar USD 20 untuk mengunjungi dua venue dan terakhir akan mengantarkan Gw ke pool bus Mekong Express. Sebagai informasi, awalnya pemilik Tuk Tuk menawarkan jasa sebesar USD 25 tetapi Gw bisa menawar ke harga USD 20.

    Okay trip dimulai….Tuk Tuk berjalan ke arah selatan sejauh 17 km. Setelah melewati jalanan berdebu selama 45 menit, Gw sampai di:

    1. Choeung Ek Genocidal Center

    100_2199

    Pintu gerbang

    100_2198

    Bangunan tempat penyimpanan tengkorak-tengkorak korban, alat-alat yang digunakan untuk pembantaian dan beberapa seragam tersisa dari tentara Khmer Merah dan baju-baju korban.

    Venue ini adalah lokasi pembantaian warga Cambodia oleh pemimpinnya sendiri, Pol Pot. Menurut data dari tempat ini mengatakan bahwa 1 diantara 4 warga Cambodia dibunuh oleh Pol Pot.

    Biaya masuk mandiri adalah USD 3. Kamu akan mendapatkan head set yang menyediakan berbagai pilihan bahasa untuk mendengar penjelasan tentang setiap spot yang akan kamu kunjungi. Dan Gw memilih bahasa pengantar Melayu supaya memudahkan diri untuk memahami seluk beluk tempat ini.

    100_2164

    Setiap pengunjung akan fokus masing-masing dengan head set nya. Beberapa menangis sesenggukan sendirian.  

    Bahkan Gw lihat ada turis Aussie menangis tersedu-sedu karena mendengar ada warga negara Aussie yang ikut menjadi korban.

    Killing Fields2

    Di setiap spot akan disediakan nomor audio dan kamu tinggal sesuaikan dengan nomor di remote.

    Killing Fields3

    Ini adalah korban yang ditemukan di kuburan masal di lokasi ini.

    Killing Fields4

    Konon pasukan Khmer Merah menyalakan lagu/musik dengan kencang di pohon ini untuk menutupi suara penyiksaan dan pembantaian.

    Killing Fields5

    Sisa tulang belulang dan gigi korban yang sering terlihat ketika musim penghujan.

    Gw ga bisa ceritain satu-persatu ya gaes…..Semoga kalian yang belum sempat kesana, ada kesempatan dan rezeqi buat mengunjungi tempat ini di lain waktu.

    Selepas berkeliling tempat ini hampir 1,5 jam, Gw sempat mondar mandir nyariin sopir tuk tuk yang nungguin entah dimana. setelah 15 menit mencari akhirnya ketemu juga. Lebih baik Kamu janjian ketemu dimana apabila kalian akan menggunakan jasa tuk tuk.

    Tujuan selanjutnya berada di sebelah utara sejauh 12 km dan tuk tuk menempuhnya selama 30 menit. Inilah tempatnya:

    2. Genocide Museum Tuol Sleng

    Tuol Sleng1

    Bagian depan bekas sekolah yang dijadikan museum oleh pemerintah Cambodia.

    Tiket masuk museum ini USD 3. Tempat ini adalah penampungan sementara para korban sebelum di eksekusi di Choeung Ek Genocidal Center. Selama masa menunggu itu para tahanan akan dipekerjakan paksa oleh pemerintah Khmer Merah. Para korban umumnya adalah warga yang berseberangan pemikirannya dengan pemerintah Khmer Merah dibawah pemimpin Pol Pot.

    Tuol Sleng4

    Terenyuh melihat wajah ibu beserta anaknya, mereka berdua adalah calon korban yang terlihat baru masuk penjara dan didata.

    Tuol Sleng3

    Ruang tahanan beserta borgol kaki untuk tahanan.

    Didalam tahanan ini tentunya identik dengan penyiksaan. Tapi gw ga perlu tampilkan gambarnya ya gaes….kagak tega.

    Di bagian akhir dari museum ini ada beberapa penjual buku-buku tentang Pol Pot dan kisah beberapa orang survivor yang selamat dari tragedi ini walaupun sudah dijadwalkan untuk di eksekusi.

    Okay….waktu semakin mendekat ke arah jam 14. Saatnya Gw harus menuju pool bus Mekong Express untuk menuju Ho Chi Minh, Vietnam.

    Pool bus berjarak 5 km di utara museum ini. Perlu waktu 20 menit menuju kesana. Bahkan awalnya sopir tuk tuk tidak tahu dimana letak pool Mekong Express. Gw coba bantu menunjukkan di peta, tetap dia belum ngerti. Akhirnya Gw nanya ke salah satu warga disana dan Alhamdulillah ada satu warga yang tahu dan menunjukkan dimana letaknya kepada sopir tuk tuk ini.

    Begitu sampai, sopir tuk tuk minta tambahan tip USD 2. Ya gw kasih aja lah….kasian juga lihatnya.

    100_2240

    Pool Mekong Express di National Highway 5. Terlihat kota-kota tujuan bus.

    Ketika masuk ke kantor Mekong Express….si ibu yang bertugas dengan pedenya nanyain Gw pakai Bahasa Kamboja….bengong Gw….dia sampai nanya tiga kali. Gw bilang aja turis dan sudah pesan via email sambil menunjukkan paspor. Dia ketawa dan minta maaf ke Gw karena muka Gw mirip orang Kamboja katanya…jadi akrab sama si Ibu karena hal ini.

    Mekong Express Email

    Tiket Gw pesan di Jakarta seharga USD 14/penumpang

    Sambil menunggu bus yang akan berangkat satu jam lagi. Gw putuskan untuk makan siang di warung tenda seberang jalan di depan pool. Gw makan sup ikan plus nasi seharga USD 1….murah kan gaes.

    Setelah selesai makan ya tentunya Gw berangkat menuju Vietnam.

    Mekong Express

    Tuh….bus sudah siap berangkat

    Gw malah santai-santai di depan pool. Padahal bus sedang boarding di belakang pool. Gw fikir bus akan boarding di depan pool. Pas Gw masuk bus….Ibu yang ngurusin tiket Gw tadi bilang….”Kemana aja kamu, Aku nyariin dari tadi”, sambal tersenyum dan menepuk-nepuk pundak Gw….””I’m sorry mam…I’m at the front”.

    Perjalanan Gw masuk meninggalkan Phnom Penh dan menuju Ho Chi Minh akan Gw ceritakan terpisah ya gaes…..

  • Throughout my experience as a backpacker, Bus is cheapest mode of transportation in every country I’ve ever visited. Therefore, if you want to minimize your budget for traveling around the world then you should be able to understanding local bus routes.

    Okay, I will tell about Macau specifically. Macau is a country without MRT or LRT on 2016, so if you want to explore Macau, there are only three choices of movement i.e by taxi, by bus or walking. The combination of bus and walking is the best way for a backpacker under 4 people in a group.

    This was my experience how I explored Macau by this combination all day. Before I started the story ….. you should get and understand this map:

    Macau Tourism and Bus Map1

    Macau Tourism and Bus Map

    Source: http://ontheworldmap.com/macau/macao-city-bus-map.html

    You can get a map of the venue and the bus line at the Tourist Information- Outer Harbor Ferry Terminal (because I arrived into Macau through here): Tourist Information2

    Tourist information at Outer Harbour Ferry Terminal, Macau

    Here where I got that full page map.
    OK, the main resources for exploring Macau was in hand. And how did I execute it?

    Flashback before:
    January 6, 2016 – At 7 am, I sailed for 55 minutes from Hong Kong to Macau by Cotai Jet for HKD 170 (IDR 298K). I docked at Outer Harbor Ferry Terminal in Macau area (Oh yes, Macau is a special administrative region of the People’s Republic of China composed of three major islands namely Macau, Taipa and Coloane).

    Let’s … hunting city bus….

    1. Bus from Outer Harbor Ferry Terminal to Villa Ka Meng Hotel

    After I have browsed at Booking.com and Agoda.com a few months before started my trip, I only got Villa Ka Meng Hotel which had the lowest price …. so I choosed it.

    How did i find Villa Ka Meng Hotel in Macau?

    I met local man who can speak Javanese and was offering tour package to me at ferry terminal. He said he had lived in Java. I rejected his offering and talked honestly to him if I wanted to take city bus. He friendy told me to get off the bus at Ponte Cais No 16 (this is name of Hotel & Casino), he said that Villa Ka Meng Hotel is nearby from it.

    Oh yes …. Famous hotels and casinos usually provide free bus service from ferry terminal to hotel.

    These are their shelters at ferry terminal gaes:

    Free Shelter Bus2

    Free bus shelters to Hotels & Casinos at Outer Harbour Ferry Terminal, Macau

    Maybe, I could take this free bus and get off at hotel & casino nearest Ponte Cais No 16, then I walked to Villa Ka Meng Hotel. But I undoubtedly wanted to try their city bus.

    Okay …. I went to bus counter to buy tickets, I actually wanted to get one day pass or regular card are commonly used by local people. Because the officer couldn’t speak english, I pointed the cards are brought by local people. But she just said “”No…No” while showed bus fares table No 10A and pointing coloumn was marked MOP 3.2.

    Yes …. I finally got bus No 10A and got off at Kam Pex Community Center shuttle. From it, I walked to hostel.

    Shelter Bus Macau2

    Bus Shelter at Macau

    After checked in in at Villa Ka Meng Hotel, I found a halal restaurant near hotel. It’s the restaurant:

    CIMG2050

    Next….I continued walk to The Ruins of St. Paul and Senado Square.
     The Ruins of St Paul2

    Senado Square and The Ruins of St. Paul

    after satisfy got around, I decided to go to Macau Tower which is used by tourists for bungee jumping.

    2. Bus from Senado Square to Macau Tower.
    Visiting Macau Tower was an insidental idea when relaxed sitting in Senado Square. At first I wanted to go to Venetian directly and spent time until evening there. Well, When I saw the map I found Macau Tower, my memory was just bungee jumping. because of out of curiosity, I finally decided to go there.
    If you read a map that I hold, it means I have to get bus No 9A, 18, 21, 23 or 32 which will stop at Macau Tower. And for got one of them, the best way for foreigners who don’t know the ins and outs of Macau is going to main bus terminal. And I’ve marked its location before entering Macau ….. It is located in the south of Hotel & Casino Lisboa.

    I just needed to see my compass that I always take in every trip to abroad. I just needed to go south. For you, don’t worry, the main island of Macau have 4 km in diameter, so even if you stray, you will not be far …. hahahaha.

    This is a tricky part …… .. and I like it

    After sitting and understanding the map …. to save my step, I have an idea …. that is intercepting the bus at shelter between the main bus terminal and Macau Tower. Of course, I didn’t know where is the shelter, but surely I would get it if down the main road between the main terminal and Macau Tower.
    Here’s the bus picking strategy in the middle bus route……
    Misi Pencegatan Bus2

    Walking from Senado Square to bus shelter where bus will ride toward Macau Tower

    Then How is the route:

    From Senado Square I walked down Avenue de Almeida Ribeiro to east, then would find crossroads and then turn right on Avenue Da Praia Grande. Well, along this avenue  I began to focus for finding shelter bus because this avenue was located between main bus terminal and Macau Tower. It’s true …… when I met the first shelter, there were buses sign i.e 9A, 18 and 23. So I just waited for the bus … whichever comes sooner I would ride. Finally the first bus 9A came. I went up and only need to pay MOP 3.2 (IDR 5.000) …. very cheap.

    I didn’t notice how many stops, but I only remembered the shape of Macau Tower and while I saw it then I would get off at the nearest stop. But didn’t worry, i saw running text information inside bus about the next shelter bus would stop….it was above the driver, so you could watch it too. It was easy to understanding Macau bus routes in Macau.
    CIMG2167
    Bus 9A at shelter near Macau Tower
    The park around Macau Tower is usually used by residents to exercise and spend the twilight.
    After I satisfied to sightseeing and see bungee jumping, I had to go to Venetian soon.
    3. Bus from Macau Tower to Venetian.
    In Map that I hold, bus to Venetian is bus MT4. And I was very grateful because there was a MT4 bus shelter near Macau Tower. This is it:
    Shelter Bus MT4 2
    In this route …. I would move from Macau Peninsula to Cotai island through legendary Macau-Taipa Bridge (Ponte Governador Nobre de Carvalho). I just taked 15 minutes to reach Venetian.

    Of course, the first goal was ate …. I was really hungry. Finally I went straight to food court on top floor…. I finally got fried rice for MOP 55 (IDR 93K) …. That was cheapest food that I got in Venetian …. I didn’t buy water … . I brought from hotel for free …. hahaha

    A
    fter it, I got around Venetian … not for shopping…. but saw shopping activity there …. hahaha…. saw Venetian gondola also and my trip was ended by looking casino. To entering casino, my passport was checked by casino officer.
    Foreigners could play in casino if they was at least 18 years old.

    I wasn’t see for long time in casino, just saw at one table that was playing gambling then out from it then rushed to hotel.

    4. Venetian to Villa Ka Meng Hotel.

    Absolutely
    …. this route was already beyond my head …… very easy. Take the Free Venetian Shuttle Bus to Ferry Terminal then move to the 10A bus as it was first time in Macau tin the morning.

    How guys … ..?

    It’s easy to get on a city bus in Macau.
    Saving my budget, I just spend MOP 12.8 (IDR 21K) for a day around in Macau.
    So, happy trying….
    Oh yes. You can try to use 12go Asia ticket service to traveling in Macao.
  • 4th January 4, 2016

    5:40 am. After spending my night at Ninoy Aquino International Airport, finally Cebu Pacific 5J108 taked off towards Hong Kong International Airport.
    07:40. I landed smoothly in Hong Kong. Cumpled because i couldn’t take a shower for last 24 hours …. hahaha.

    The next good news is for 12 hours later I wouldn’t find a shower again because I decided to go directly to Big Buddha and Disneyland instead of go towards hotel at Kowloon area. Oh yess, I would stay at Hong Kong Taiwan Hotel.
    In order to save budget. I may not go to Kowloon area first then back to Lantau Island where Airport, Big Buddha and Disneyland are located.

    This strategy can save HKD 38-100 (IDR 66K-175K) depending on the type of selected transportation and can save time about 2 hours.

    So this is a cheapest route that I take:

    peta jalur hemat hongkong day1

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    I had a favorable condition because I brought backpack 5.5 kg only. I always concern about weight of backpack. That’s why during traveling I never buy luggage in the hull plane and my backpack always lightly take everywhere.

    Route 1. Hong Kong International Airport to Big Buddha.

    Don’t be nervous at Hong Kong immigration. Very quickly, the officer will scan your passport and then print automatically small paper like this:

    Visa Hong Kong

    So your passport will not have a Hong Kong immigration stamp. Don’t be omitted the paper…. just in case if immigration officer ask you when you depart from Hong Kong.

    Okay … ..next step, you need to find octopus ….. a card to pay all types of integrated transportation there. You just need to find this counter then buy octopus card here:

    CIMG1880

    I paid HKD 150 (IDR 263K) include HKD 50 are held for deposit. I took the deposit at Sheung Wan station when I departed out Hong kong towards Macau by fast ferry-boat. The officer charged 9 dollars to me, so I just got 41 dollars from my deposit.

    After got octopus, I could take a bus to Tung Chung Station (nearest MTR Station from Big Buddha). You can ride Airport Express train to Tung Chung station also but expensive. Choose it:
    – HKD 3.5 dollar for bus (IDR 6.000)
    – Airport Express combine MTR HKD 79.3 (IDR 140.000)

    To find the bus, I only needed to show this picture to airport officer, she knew it immediately.

    Airport Bus Map

    I saved this picture in my mobile phone. The picture shows you several shuttle buses to several destinations in town.

    I got double-decker S56 bus to Tung Chung Station and arrived after 30 minutes journey.

    CitygateLeft: Tung Chung station with MTR logo

    Right: Citygate mall

    I was descended near Citygate mall that adjacent to Tung Chung MTR station. I needed breakfast before going on. My choice was Mc.D omlet burger package for HKD 15 (IDR 26.000).

    After that … .I rushed to Tung Chung bus terminal for Big Buddha ..
    This is comparison of transportation types:
    – ride cable car HKD 96 return way

    –  ride bus HKD 17 one way

    Tiba di Big Buddha

    Left: Bus no 23 to the Big Buddha in 30 minutes
     Top right: Big Buddha gate
           Bottom right: 268 steps to Big Buddha

    On the top stair of Big Buddha, I didn’t ask to pay the ticket…..just went straight. If you want to see museums then must pay HKD 33 include vegetarian lunch.

    I just spent about 1.5 hours around Big Buddha and back to Tung Chung Station for Disneyland.

    Route 2. Big Buddha to Disneyland

    Take Tung Chung line and stop at Sunny Bay Station (HKD 10.1) then connect to Disneyland Resort Line (HKD 6.7). This line is only for train to Disneyland. The train is unique because all interior is Disney characters.

    Disneyland

    Top: Disneyland resort station
    Bottom left: Train interior to Disneyland
    Bottom right: Disneyland gate.

    Route 3. Disneyland to Hostel

    I stayed at Hong Kong Taiwan Hotel for HKD 105 (IDR 180K) per night. Located at Kowloon area. The nearest station is Tsim Sha Tsui station. The fare from Sunny Bay station is HKD 14.3. And it takes 30 minutes journey.

    I arrived in hotel at 16:00. Happily for saw water. Took a break and then continued to night walk.

    So … see you to next article about the hustle and bustle of Hong Kong