• <—-Kisah Sebelumnya

    Aku berusaha menyejajari Mr. Park yang tampak gesit untuk kecepatan langkah seusianya. Menunggui Seoul Metro di satu sisi platform, kami bercakap ringan saja. Aku bercerita tentang perjalananku menyusuri Asia Timur kepadanya. Kuselipkan beberapa kisah petualangan di Tokyo, Osaka dan Busan beberapa hari lalu. Mr. Park tampak cukup terkesima mendengarkan alur kisah yang kusampaikan seringkas mungkin.

    Sedangkan Mr. Park, In Chul Park nama lengkapnya….Menceritakan aktivitas sehari-harinya yang berprofesi sebagai seorang Dokter Spesialis Obsetri dan Ginekologi (Obgyn) di Myongji Hospital  di Distrik Deokyang.

    My job is to help the baby to be born”, begitulah dia menyampaikan perihal aktivitas kesehariannya.

    Seoul Metro tiba….

    Berada di Line 6, kami berdua memasuki gerbong tengah. Seluruh gerbong tampak sepi pagi itu. Para pekerja belum banyak yang memulai aktivitasnya. Kami berdua terduduk di bangku tengah dan melanjutkan percakapan ke topik-topik ringan berikutnya, mulai dari keluarga kecilnya hingga sedikit menyampaikan serba-serbi Kota Seoul, aku kebanjiran informasi berharga pagi itu. Aku lebih banyak berperan sebagai pendengar yang baik dalam percakapan kami berdua.

    Dua puluh menit menjadi perjalanan bersama yang berharga bersama Mr. Park. Aku berpamitan lebih dahulu, karena aku harus turun di Stasiun Euljiro 3 (sam)-ga untuk berpindah ke Seoul Metro Line 2. Sementara Mr. Park masih melanjutkan perjalanan sejauh 14 stasiun lagi menuju Stasiun Hwajeong.

    Turun di platform Stasiun Euljiro 3 (sam)-ga, aku mulai mencari koridor terusan menuju Stasiun Hongik University. Melihatku kebingungan mencari koridor itu, seorang lelaki tambun menghampiriku.

    Dia: “Hello, Where will you go?”, dia mulai menyapa dengan pertanyaan.

    Aku: “Hongik University Station, Sir. Which corridor should I choose?

    Dia: “Wait….

    Diapun tampak kebingungan dan berinisiatif mencegat seorang petugas Seoul Metro yang sedang melangkah di sebuah koridor. Mereka berdua tampak bercakap dan petugas Seoul Metro itu tampak menunjuk-nunjuk sisi lain bangunan stasiun.

    Dia: “You must steps over there!”, lelaki tambun nan baik itu menunjukkanku sebuah arah setelah beberapa menit lalu bertanya kepasa petugas Seoul Metro.

    Aku: “Thank you very much, Sir. You are a kind man”, aku sungguh merasa terbantu atas pertolongannya.

    Pantas saja susah ditemukan, koridor itu ada di bagian ujung bangunan stasiun dengan bukaan koridor yang tak terlalu besar. Menelusuri koridor, membuatku sampai pada sebuah platform. Kini aku sudah berada di platform yang benar dengan kode warna hijau di setiap petunjuk.

    Lima menit kemudian Seoul Metro tiba, aku segera mengalir di lorong-lorong bawah tanah Kota Seoul bersamanya. Seoul Line 2 tampak ramai dengan para mahasiswa. Mimik-mimik muda berpendidikan tampak berjejal di gerbong. Tak mendapatkan tempat duduk, membuatku harus berdiri di sepanjang 20 menit perjalanan lanjutan.

    Akhirnya aku tiba di Stasiun Hongik University…..

    Saatnya menuju ke Kimchee Guesthouse Sinchon

    Kisah Berikutnya—->

  • That winning prize hadn’t been redeemed for almost two years. December before the end of last year, I won an internal competition at the company which I worked for. Entitled “Education Consultant Training Camp“, I and other colleagues were being trained and tested in the mastery of profound knowledge for a sake of embedding good personal capabilities as a professional who being engaged in education. At the end of this training stage, I proudly came out as winner. That victory provided a meaningful reward in the form of a overnight stay voucher for IDR 1,000,000.

    That morning, I felt tired after performing the Eid al-Adha Prayers in the courtyard of an elementary school near where I lived. I sat down enjoying a glass of coffee and a few pieces of fried cassava. This is the first day of a long weekend break in the last week of September.

    Yeah, my holiday just ends at home…“, I lightly muttered.

    Surfing in cyberspace to enjoy the beauty of Grand Canyon, I suddenly remembered a term…. Yupz, “Green Canyon”. It was in Pangandaran if I wasn’t mistaken. Now my cyberspace surfing screen lead to one of beaches in the south of West Java.

    The distance isn’t far to be covered by a four-wheeled vehicle ….“, I started to get excited.

    I decided to make a call for one of marketing support staff at my company. Putri was her name.

    Putri, Can I can my competition prize two years ago?. But this was really sudden“, I briefly said through my smartphone.

    Ah, you always like sudden things. Please try to emailing our boss, if she’s OK, I’ll take care of it later ”, Putri was like that when she spoke to me. A little fierce, but that was normal for me.

    I didn’t send an email, nor did I sent any messages, I immediately picked up my smartphone to call the boss. The result was unexpected, I got access to use the voucher during that long holiday weekend.

    Yeaay….

    I explained to Putri where I was going and the planned hotel entry date. Usually Putri would do it quickly. She already understood such matters.

    —- **** —-

    At nine o’clock in the evening, I grabbed my favorite backpack which I had prepared since morning, I threw it into back seat of “The Silver” (my Toyota car). Exiting the public garage, I started driving The Silver to Pangandaran Regency, which was 250 Km from my residence in the east of Jakarta.

    Armed with hot coffee in a tumbler, my eyes strongly glared at Cikampek and Purbaleunyi toll road sections which had long routes.

    Exiting Cileunyi toll gate, I didn’t stop. Now my feet were stepping on gas pedal deeper and combing a dark route to south of Java Island. Nimbly swerving on Nagreg incline, bending following road contours to Lingkar Gentong, Tasikmalaya and then deciding to stop for a moment at a Refueling Station in Banjar City.

    I took a sip of my hot coffee for a moment, getting ready to cross a quiet street off the southern route of Java Island towards the coast. I never worried about the safety of this tourism route which I would go through even though the situation would definitely be quiet.

    I was 75% in completing my journey. Not thinking much longer, now I was back to drive The Silver to south, through village, forests and quiet rice fields streets. Several times I let some motorbikes overtake me, as if they were farmers who rushing to rice fields. I didn’t know why they left so early in the morning? Some of motorbikes looked like they were going to the same place as me, there were long sticks of fishing rods on their backs.

    Sleeping enough on this noon made me able to survive from the onslaught of sleepy during eight hours of driving.

    At 5 am, my arrival in Pangandaran was accompanied by a WhatsApp message which sent by Putri. I was so curious about hotel name which listed on a PDF document which containing a hotel booking invoice that was paid off with my company budget. “Nyiur Resort Hotel”, that was hotel name which I managed to read.

    Next Story—->

  • Berjalan kaki menyusuri Jalan Veteran, aku perlahan mendekati Hotel De Kock untuk melalukan check-in. Sejuk dan damai itulah gambaran awal di kepalaku mengenai Bukittinggi  ketika pertama kali tiba.

    1. Jembatan Limpapeh

    Setengah perjalanan menuju penginapan, aku sudah terpesona dengan sebuah jembatan gantung. Adalah Jembatan Limpapeh yang membentang diatas Jalan Ahmad Yani. Didirikan pada tahun 1992 dan berfungsi sebagai penghubung antara Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan dengan kawasan Benteng Fort De Kock. Membentang sepanjang sembilan puluh meter dengan lebar kurang lebih tiga meter, menjadikan jembataan ini begitu gagah terlihat dari jalanan.

    2. Jam Gadang

    Sebotol coca cola menutup sesi check-in ku sekaligus sebagai penanda mula untuk penelusuranku sore itu di sekitaran Pasar Atas. Menelusuri Jalan Yos Sudarso yang naik turun, langkahku tiba di sebuah landmark fenomenal yang terkenal di seantero Indonesia.

    Jam Gadang, landmark pemberian Ratu Wilhelmina itu tampak gagah menjulang. Lama untuk sekedar menunggu lampu aneka warna muncul dan menyirami seluruh bangunan jam raksasa itu sebagai penanda bergantinya sore ke malam.Karena ketersohorannya, Jam Gadang  telah ditetapkan sebagai Titik Nol Kilometer Kota Bukittinggi. Atapnya yang berbentuk gonjong atau atap yang biasa dipakai pada Rumah Gadang menjadikan karya arsitektur Eropa itu memiliki kekayaan adat lokal.

    3. Plaza Bukittinggi

    Renovasi besar pada Taman Sabai Nan Aluih, menjadikanku hanya mampu menikmati keindahan Jam Gadang dari pelataran sebuah mall yang letaknya berseberangan dengan jam besar itu.

    Plaza Bukittinggi dalam beberapa kurun waktu terakhir telah menjadi mall terbaik di Bukittinggi. Brand Ramayana menjadi pemain utama yang menempati tujuh puluh persen dari kapasitas keseluruhan mall ini.

    4. Masjid Raya Bukittinggi

    Keasyikan menikmati keelokan Jam Gadang hampir saja membuatku kehilangan Shalat Maghrib. Aku mencoba menelusuri asal adzan beberapa puluh menit sebelumnya. Menuju ke utara, akhirnya aku tiba di Masjid Raya Bukittinggi.

    Masjid yang pada saat terjadinya gempa bumi tahun 2007 menjadi tempat perlindungan bagi warga yang mengungsi karena kerusakan yang diakibatkan oleh gempa besar itu.

    5. Pasar Atas Bukittinggi

    Jalan Cindua Mato menuju Pasar Atas

    Masjid raya yang terletak tepat di pusat Pasar Atas inilah yang membuatku tertarik untuk sekalian menelusuri jalanan menuju ke Pasar Atas. Gelap yang terus melahap hari, membuat pemilik deretan ruko mulai menutup tokonya satu-persatu.

    Pasar Atas adalah pasar yang menempatkan beberapa penjual Nasi Kapau, Es Ampiang Dadiah dan Kerupuk Sanjai yang menjadi kerupuk favorit untuk oleh-oleh bagi para pengunjung kota Bukittinggi.

    Laparnya perut telah memaksa diriku untuk segera mencari menu santap malam. Makan malam di bawah Jembatan Limpapeh akhirnya menutup dua jam penjelajahan pada malam pertamaku di Bukittinggi

    6. Tugu Pahlawan Tak Dikenal

    Hari keduaku dimulai dengan beranjaknya diriku dari hotel pada pagi sepi. Bahkan aktivitas warga belum tampak. Sepi nan dingin tak menyurutkan langkah untuk mengunjungi Tugu Pahlawan Tak Dikenal.

    Tugu ini dibangun untuk mengenang perlawanan para pahlawan yang tak bisa dikenali secara pasti dalam menentang Kolonialisme Belanda pada tahun 1905. Tugu dengan ornamen berbentuk lingkar ular naga besar dan diatasnya berdiri patung seorang pemuda memegang bendera.

    7. Taman Monumen Proklamator Bung Hatta

    Sementara di seberang depan tugu,  tampak sebuah taman dengan patung hitam Bung Hatta. Dikenal dengan nama Taman Proklamator Bung Hatta, taman ini didedikasikan untuk Mohammad Hatta, putera asli Bukittinggi yang memproklamirkan kemerdekaan Indonesia bersama Ir. Soekarno.

    8. Janjang Ampek Puluah

    Kembali menelusuri Jalan Cindua Mato yang kulewati semalam, aku menuju sebuah tangga penghubung antara Pasar Atas dan Pasar Bawah serta Pasar Banto. Sebuah tangga beton curam dengan empat puluh anak tangga berusia 112 tahun. Inilah perwujudan integrasi fasilitas publik versi tempoe doele. Pada waktu itu, Pemerintah Hindia Belanda dengan satuan kekuasaan setempat sepakat menghubungkan setiap pasar yang ada di Bukittinggi, salah satunya dengan pembuatan janjang atau anak tangga.

    9 Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta

    Keluar dari gapura bawah dan melewati Banto Trade Centre yang tampak tak terawat, aku menuju ke kediaman Bung Hatta semasa kecil. Walaupun sesungguhnya rumah ini hanya berupa bangunan rekonstruksi, akan tetapi penataan interior dan penampilan eksterior dibuat semirip mungkin dengan kondisi rumah aslinya yang telah runtuh. Jika kamu ingin mengetahui sejarah hidup di balik kegemilangan Bung Hatta dalam karir politiknya, maka datanglah ke tempat ini.

    10. Fort De Kock

    Selesai berkunjung di Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta, aku niatkan berjalan kaki menuju Benteng Fort de Kock melalui Jalan Pemuda yang lumayan panjang mendaki dan berkelok dari selatan ke utara. Tapi ternyata aku tak mampu lagi di pertengahan jalan, kupanggil tranportasi online untuk mengantarkanku tepat di gerbang depan Fort de Kock.

    Benteng Fort de Kock ini didirikan oleh Kapten Bauer pada tahun 1825 di atas Bukit Jirek sebagai kubah pertahanan Pemerintah Hindia Belanda dalam menghadapi perlawanan rakyat dalam Perang Paderi yang dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol.

    11. Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan (TMSBK)

    Dari Fort de Kock, aku hanya perlu menyeberangi Jembatan Gantung Limpapeh menuju sebuah kebun binatang terkenal di Bukittinggi.

    Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan (TMSBK) merupakan salah satu kebun binatang tertua yang ada di Indonesia dan satu-satunya di Sumatra Barat dengan koleksi hewan terlengkap di pulau Sumatra.

    12. Museum Rumah Adat Baanjuang

    Semakin berkembangnya kebun binatang ini, maka pada tahun 1935 dibangunlah Rumah Adat Baanjuang di dalamnya.

    Difungsikan sebagai museum, rumah adat ini didedikasikan untuk mengangkat kebudayaan tradisional masyarakat Minangkabau. Di dalamnya dipertunjukkan berbagai pakaian, perhiasan dan alat-alat kesenian khas Minang.

    13. Museum Zoologi

    Tak jauh….Di timur laut kebun binatang, terdapatlah Museum Zoologi berwarna hijau sengan harimau sumatera dan ikan mas sebagai ikon museum. Museum yang didirikan bersamaan dengan Museum sejenis di Bogor pada 1894. Dua ribu jenis binatang diawetkan dan dipamerkan di dalam museum ini.

    14. Ngarai Sianok

    Aku meninggalkan Fort de Kock dari pintu masuknya. Niatan berikutnya adalah bermain ke Ngarai Sianok. Sebuah lembah yang terbentuk dari patahan alami, memiliki dinding tegak lurus dengan sungai Sianok mengalir di tengahnya.Tetapi sangat disayangkan hujan turun begitu lebatnya. Selepas turun dari ojek online, aku serasa tak bardaya dan menunggu hujan reda. Dibawah pohon aku terus mengamati lembah siku-siku pada topografi area ini.

    Cekungan dereta tebing itu seakin diperindah dengan alira air sungai tepat d bawah jurang-jurang tinggi.

    15. Lobang Jepang

    Hujan mulai menipis tapi tetap tak kunjung reda, mengakibatkan asa menikmati  ngarai lebih lama harus kuakhiri. Aku mendapatkan ojek online dengan pengendara wanita berjilban berumur setengah baya. Di bawah hujan yang mulai mengerimis aku menuju Taman Panorama.

    Sebelum mengeksplore Taman Panorama aku sempatkan untuk menelusuri sebuah lobang pertahanan terpanjang di Asia. Lobang Jepang yang dibuat atas perintah Letnan Jenderal Moritake Tanabe, Panglima Divisi ke-25 Angkatan Darat Balatentara Jepang. Sangat dalam, panjang dan mengagumkan.

    16. Taman Panorama

    Akhirnya kunjungan penutup jatuh di Taman Panorama, sebuah taman besar dengan dua buah pintu masuk di tepian Jalan Panorama. Dengan tiket seharga Rp. 15.000, aku bisa berusaha menikmati taman rindang ini pada detik-detik terakhirku di Bukittinggi.

    Meninggalkan taman dan kembali ke hotel, aku bersiap menuju kantor travel untuk menuju Padang. Pukul 13:00 aku akhirnya benar-benar meninggalkan Kota Bukittinggi. Selamat tinggal Bukittinggi.

    Jadi bagi kalian yang berniat ke Sumatera Barat….Berkunjunglah Ke Bukittinggi dan nikmati sejuknya udara kota.

    Kisah Selanjutnya—->

  • Apakah Anda tinggal di sekitar Tempat Pemrosesan Akhir (TPA)?

    Bersyukurlah jika rumah Anda jauh dari TPA. Karena pada umumnya, daya jangkau dari aroma tak sedap yang dihasilkan TPA bisa mencapai radius 8 hingga 10 Km. Bisa dibayangkan, betapa terganggunya aktivitas warga yang bertempat tinggal di sekitar TPA.

    Bukan hanya pemukiman di sekitar TPA, bahkan tempat tinggal yang berlokasi di jalur truk sampah untuk menuju TPA juga mendapat imbas dari paparan aroma tak sedap akibat cairan sampah yang ditumpahkan oleh truk sampah tersebut di sepanjang perjalanan menuju TPA.

    Bahkan ketika pembahasan dampak aroma tak sedap itu dipersempit, maka sampah di depan rumah kita lah yang pertama kali menyebarkan aroma itu selama masa tunggu untuk diangkut ke TPA.

    Sampah tidak hanya membebani kesehatan air dan tanah tetapi juga kualitas udara yang kita hirup.

    Apa dampak negatif lainnya dari sampah?

    Kita harus faham bahwa ketika sampah terbentuk, maka proses penciptaan gas Metana (CH4) mulai dilakukan oleh bakteri metana secara anaerobik. Metana selain mengancam kesehatan juga akan merusak bumi karena Metana memiliki emisi gas rumah kaca 23 kali lebih merusak dibandingkan Karbondioksida (CO2). Dampak negatif Metana tidak hanya terjadi di area sekitar TPA, dampak itu justru dimulai pada area hulu (tempat terjadinya) sampah yaitu rumah tangga, pasar, pertokoan, perkantoran, dan unit pertama aktivitas ekonomi lainnya. Karena pada hakikatnya, unit-unit inilah yang menjadi mata rantai pertama pembentukan sampah.

    Jadi solusi pemecahan masalah sampah akan menjadi salah kaprah jika dialamatkan kepada TPA. Karena pada dasarnya persentase terbesar penyusun sampah adalah sampah organik dan  pembusukan sampah jenis ini terjadi sangat cepat. Oleh karena itu, solusi paling tepat untuk mengurangi dampak negatif sampah adalah dengan mereduksi terjadinya Metana di tempat pertama terbentuknya sampah.

    Selama ini masyarakat mengalami salah persepsi dengan menganggap TPA sebagai Tempat Pembuangan Akhir. Padahal dalam konsep pengelolaan sampah yang benar, TPA adalah Tempat Pemrosesan Akhir yang berarti TPA berfungsi untuk memroses jenis-jenis sampah yang tidak bisa dikomposkan dan tidak bisa didaur ulang.

    Jadi untuk menyelamatkan bumi dan memurnikan kembali peran TPA maka kita harus berfokus pada pengelolaan sampah di bagian hulu.

    Personal Waste Management

    Berdasarkan data dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) terungkap bahwa hanya dalam periode tiga bulan (April hingga Agustus 2019) berbagai perusahaan di Indonesia telah mengimpor 882 kontainer skrap plastik (remah plastik) dan kertas untuk kebutuhan bahan baku industri. Hal ini mendapat tanggapan dari Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Berbahaya Beracun (PSLB3) KLHK bahwa impor sampah terjadi karena ketidakmampuan pemerintah daerah dalam menggerakkan masyarakat untuk memilah sampah dengan benar.

    Berdasarkan Katadata Insight Center dapat diketahui bahwa 60,8% masyarakat Indonesia belum memilah sampah. Kebiasaan kurang baik ini tentu memunculkan dampak negatif, seperti menumpuknya sampah di TPA, memicu peningkatan kebutuhan impor sampah serta eksploitasi berlebihan terhadap energi dan sumber daya alam untuk kegiatan manufaktur.

    Untuk mengurangi dampak negatif tersebut, maka pengelolaan sampah di bagian hulu harus dilakukan. Dan cara paling mudah dan paling sederhana yang bisa dilakukan adalah dengan cara memilah sampah. Dengan memilah maka semua sampah akan bisa dimanfaatkan sesuai jenisnya, kualitas sampah tersisa akan semakin berkualitas dan membantu industri daur ulang untuk terus berkembang. Ketersediaan bahan baku manufaktur dari aktivitas daur ulang akan mengurangi kebutuhan impor sampah dari luar negeri.

    Memilah sampah secara sederhana berarti memisahkan sampah organik dan sampah anorganik. Baru kemudian dilanjutkan dengan memilah secara lebih detail sampah anorganik untuk keperluan daur ulang.

    Sedangkan cara terbaik untuk mengolah sampah organik adalah adalah melalui composting. Pengomposan (composting) adalah proses penghancuran sampah organik oleh bakteri alami dengan bantuan udara dan suhu hangat. Composting bisa menjadi salah satu bentuk personal waste management sederhana yang  bisa dilakukan oleh siapapun dengan mudah. Hanya diperlukan kemauan dan konsistensi dalam melaksanakannya.

    Mari berhitung dengan angka tentang seberapa besar dampak composting pada level sederhana, yaitu rumah tangga.

    Berdasarkan pengalaman pribadi bahwa penulis menghasilkan sampah harian seberat 750 hingga 1.000 gram. Setelah dilakukan pemilahan maka dihasilkan sampah organik seberat 600 hingga 800 gram atau sekitar 80%.  Setiap harinya, sampah organik seberat itu bisa terkompos dengan baik dalam tiga lubang biopori dengan diameter 15 cm dan kedalaman 1,5 meter.  Pengomposan mandiri ini memberikan pengaruh positif dengan semakin jarangnya pengambilan sampah anorganik oleh tukang sampah. Selain itu, aroma tak sedap pun hilang dengan sendirinya. Bahkan dalam 3-4 bulan sekali, penulis bisa memanen kompos untuk meyuburkan tanaman di halaman depan rumah.

    Lubang biopori (dokumen pribadi).

    Pemilahan sampah merupakan bagian dari circular economy atau ekonomi melingkar yang bertujuan untuk menyimpan sumber daya dalam siklus tertutup. Dengan terbentuknya siklus material maka terbentuknya sampah di bagian akhir siklus bisa dihindari.

    Kesuksesan pemilahan sampah ini sangat ditentukan oleh kerjasama antara pemerintah, penggiat lingkungan dan setiap elemen masyarakat yang ada. Sehingga dampak positif terhadap kelestarian energi dan sumber daya, penyelamatan lingkungan dan pertumbuhan ekonomi akan benar-benar terwujud di masa depan.

    Membebaskan TPA dari beban berlebih

    Kembali pada kesalahan persepsi terhadap makna TPA….

    Jika masyarakat kita terus bersepsi bahwa TPA adalah Tempat Pembuangan Akhir, maka hal ini akan memberikan dampak negatif terhadap usia TPA karena masyarakat akan terus membuang seluruh sampahnya ke TPA. Hal ini tentu akan menyebabkan bertambahnya volume sampah secara eksponensial. Menumpuknya sampah inilah yang kemudian menjadikan umur TPA menjadi pendek.

    Daftar TPA di Indonesia yang kapasitasnya hampir habis (sumber: Waste4Change).

    Akan menjadi sebuah permasalahan lingkungan yang serius apabila sebuah kawasan tidak memiliki TPA yang sehat secara fungsi dan ideal secara kapasitas. Kebutuhan TPA yang ideal menjadi sebuah keharusan bagi kawasan urban yang menghasilkan sampah harian dalam skala besar. Oleh karenanya, untuk mejaga tingkat keidealan sebuah TPA maka kita harus mengirimkan sampah yang sudah dipilah saja menuju TPA demi memperpanjang umur TPA itu sendiri. Dengan begitu, kita bisa mengendalikan fungsi TPA secara berkelanjutan.

    Tetapi mari kita lihat kondisi TPA sesuai dengan realita saat ini. Untuk melihat kemampuan sebuah TPA maka kita harus mengukur seberapa besar input sampah harian ke TPA.

    Mari kita melihat kemampuan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang yang menjadi andalan Ibu Kota untuk memroses sampahnya. Berdasarkan data dari Dinas Lingkungan Hidup Jakarta bahwa sejak awal tahun 2019, dari 49 juta ton kapasitas maksimal TPST Bantar Gebang, saat ini hanya menyisakan 10 juta ton sebagai kapasitas tersisa. Jika volume sampah harian yang dibawa ke TPST berkisar 7.500 ton dan jika sampah dibuang tanpa pemilahan maka TPST Bantar Gebang akan penuh pada pertengahan tahun 2022. Mengerikan bukan?

    Jika kita melihat data bahwa 39% dari keseluruhan sampah yang dibawa ke TPST Bantar Gebang merupakan sampah organik. Maka dapat diperkirakan, apabila pengomposan dilakukan di seantero kota, maka usia TPST Bantar Gebang bisa menjadi dua kali lebih lama. Tentu dengan menampung sampah anorganik yang tidak bisa didaur ulang saja, maka proses insenerasi dan pembetukan emisi Metana bisa ditekan dengan maksimal. Wah, keren bukan?

    Sampah dalam angka (sumber: Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Provinsi DKI Jakarta).

    Membangun Budaya

    Membangun sikap peduli sampah memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Sebagai contoh, Jepang membutuhkan waktu lebih dari 20 tahun untuk membentuk pribadi warganya yang peduli akan sampah.

    Seperti yang kita ketahui, chonaikai (gerakan masyarakat peduli lingkungan) mulai muncul pada pertengahan 1970-an dimana masyarakat Jepang mulai belajar memilah sampah dengan konsep 3R (Reduce, Reuse dan Recycle).

    Adapun kunci sukses Jepang dalam mengelola sampah adalah

    1. Tingginya pemahaman masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah daur ulang.
    2. Tingginya tekanan sosial dari masyarakat apabila seseorang tidak membuang sampah pada tempat dan jenisnya. Sehingga tekanan sosial ini mampu menciptakan rasa malu pada siapapun yang melanggar. Rasa malu inilah yang kemudian menjadi kunci efektivitas dalam pengelolaan sampah di sana.
    3. Program edukasi yang masif perihal tata cara pengelolaan sampah sejak usia dini. Pendidikan pengelolaan sampah sudah diberikan sejak siswa duduk di bangku Sekolah Dasar.

    Lalu, apakah suatu saat masyarakat kita bisa menyamai prestasi masyarakat Jepang dalam mengelola sampah?

    Jawabannya adalah sangat bisa. Saat ini sudah banyak sekali gerakan masyarakat yang menaruh kepedulian pada sampah.  Beberapa Pemerintahan Daerah juga telah menaruh prioritasnya terhadap sampah dengan mengeluarkan peraturan daerah tentang pengelolaan sampah. Jika kita secara serempak mendukung semua perkembangan di atas dengan diiringi kesadaran diri dalam mengelola sampah yang kita hasilkan, maka tinggal menunggu waktu saja bagi masyarakat kita untuk bisa mensejajari prestasi Jepang dalam keberhasilan mengelola sampah.

    Membangun sikap peduli sampah ibarat membangun sebuah budaya. Jika kita berhasil melakukannya maka di masa depan bangsa ini akan memiliki generasi yang peduli terhadap sampah.

    Tingkat minimal yang harus dicapai atas budaya peduli sampah adalah kemampuan warga dalam mengolah sampahnya secara mandiri sehingga membantu mengurangi beban bumi.

    Bisa dibayangkan, betapa bersihnya kota apabila pemilahan sampah menjadi aturan resmi bagi warga dan composting telah menjadi budaya penanganan sampah dari hulu. Kemudian dipadukan dengan aktivasi konsep Reduce, Recycle dan Reuse dalam pengelolaan sampah anorganik, maka kita tidak pelu membutuhkan TPA yang luas.

    Selanjutnya gaya hidup less-waste ini harus kontinyu ditingkatkan untuk memastikan terjadinya keseimbangan lingkungan kawasan.

    Kolaborasi Pengelolaan Sampah

    Setelah membahas pemilahan sampah, apakah Anda ingin memaksimalkan pengelolaan sampah mandiri?

    Baik sebelum menjawab pertanyaan tersebut, mari kita melihat beberapa fakta lain yang bisa digunakan sebagai rujukan untuk membahas pengelolaan sampah secara profesional.

    Terdapat satu permasalahan utama lagi mengenai pengelolaan sampah di negeri ini. Berdasarkan data dari Asosiasi Pengusaha Sampah Indonesia (APSI) bahwa hingga saat ini, hanya 39% wilayah di Indonesia yang sampahnya tercover dengan baik. Sedangkan sisanya 61% adalah wilayah yang sampahnya belum tertangani dengan layak. Tentu rendahnya nilai kolektibilitas ini menunjukkan bahwa Indonesia masih membutuhkan keterlibatan pihak swasta untuk mengelola sampah yang berasal dari daerah yang sampahnya belum tercover.

    Profil singkat Waste4Change (sumber: https://waste4change.com/).

    Merujuk pada fakta tersebut, maka terdapat sebuah entitas lingkungan yang bisa kita jadikan tempat berkonsultasi yang tepat. Adalah Waste4Change yang merupakan salah satu entitas Waste Management Indonesia yang didirikan dengan tujuan menyelesaikan pengelolaan sampah dari hulu ke hilir melalui dukungan 4C yaitu:

    1. Consult yaitu menyediakan riset berbasis data serta masukan dari ahli-ahli persampahan dalam rangka mengoptimalkan solusi pengelolaan sampah.
    2. Campaign yaitu memfasilitasi program sosialisasi dan edukasi antar pemangku kepentingan untuk menciptakan perubahan ekosistem dalam rangka mewujudkan Ekonomi Sirkular.
    3. Collect yaitu memfasilitasi klien dengan pengangkutan sampah terpilah, tempat sampah terpilah, serta laporan mengenai alur sampah.
    4. Create yaitu memproses sampah yang terkumpul dengan cara bertanggung jawab untuk diubah menjadi material daur ulang.

    Dalam konteks sampah rumah tangga maka Waste4Change berinisiatif menghadirkan Personal Waste Management Program untuk membantu siapa saja yang ingin memaksimalkan aktivitas pemilahan sampah dengan menghadirkan program pengelolaan sampah lanjutan demi memastikan bahwa sampah yang tersisa (anorganik) dapat di daur ulang dengan maksimal. Sehingga kita akan berkontribusi dalam mengkonversi masalah sampah ke dalam manfaat bagi lingkungan.

    Salah satu program Personal Waste Managemet dari Waste4Change.

    Apabila kita belum bisa bergabung dengan program Personal Waste Management di atas karena pihak Waste4Change sedang berfokus pada peningkatan kualitas layanan program tersebut, maka kita bisa  bisa mengikuti program Recycle With Us.

    Program Recycle With Us sudah mampu menarik 3.200 pengguna layanan dan telah berhasil mendaur ulang sampah hingga 27.000 Kg. Program ini bertujuan untuk memudahkan pengguna layanan dalam mendaur ulang sampah anorganik secara bertanggung jawab sehingga sampah tersebut tidak berakhir di TPA ataupun di laut. Recycle With Us juga berkolaborasi dengan perusahaan atau brand yang sudah menerapkan konsep Extended Producer Responsibility dan berkomitmen mendaur ulang produk atau kemasannya.

    Waste4Change menjadi penggiat Extended Producer Responsibility Indonesia dengan menjadikannya sebagai salah satu pelayanan yang memastikan pengelolaan sampah berlabel brand atau sampah produk kemasan kliennya diolah secara bertanggung jawab. Melalui layanan ini, Waste4Change juga akan memastikan bahwa kemasan bekas pakai produk klien mereka akan terkelola dengan baik dan tidak berakhir di TPA. Di lain sisi, program Extended Producer Responsibility juga akan menjaga brand kliennya dari penyalahgunaan produk kemasan yang tidak lagi terpakai. Dan program ini akan disempurnakan dengan pelaporan semua kemasan produk dari kliennya yang terkumpul dan di daur ulang sehingga data tersebut bisa dijadikan bahan pertimbangan untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan keberlangsungan bisnis setiap kliennya.

    Selain berbagai manfaat dari program Extended Producer Responsibility, maka Recycle With Us juga menawarkan beberapa keuntungan lain secara personal, yaitu:

    1. Memastikan bahwa sampah yang disetorkan akan terdaur ulang secara bertanggung jawab.
    2. Proses daur ulang sampah anorganik yang dihasilkan dari rumah menjadi sebuah proses yang mudah, menyenangkan dan tidak merepotkan.
    3. Dan setiap sampah kemasan dari brand program yang disetorkan ke Waste4Change dapat ditukar dengan berbagai macam produk. Wahhh, asyikk kann?….

    Nah, dari sekian banyak informasi tentang pengelolaan sampah di atas, Marilah kita mulai melakukan pemilahan sampah demi keberlangsungan bumi dan generasi.

    “Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog Waste4Change Sebarkan Semangat Bijak Kelola Sampah 2021

    Nama penulis: Donny Suryanto”

    #BijakKelolaSampah

    #HariPeduliSampahNasional

    Beberapa sumber penulisan:

    1. https://waste4change.com/
    2. https://m.liputan6.com/
    3. https://m.cnnindonesia.com/
    4. https://diskominfotik.jakarta.go.id/
    5. https://www.indozone.id/
    6. https://web.facebook.com/Kesehatanlingkungan.id/
  • <—-Previous Story

    Mr. Raj nicely prepared a special dish for me. Two bull’s-eye eggs served together with a banana, two layers of toast covered with mango jam and a cup of hot Nepalese tea. While Mr. Tirtha seemed to say goodbye and went home to enjoy his breakfast which made by his wife in his own home and then he would come back to pick me up and go around Pokhara until afternoon.

    Precisely on 11 o’clock, he came. Then we were joking for a moment in lobby while waiting for another trio backpackers to appear. One thing that I kept from our conversation last morning that I had to try a Nepalese typical culinary called Nepali Thali.

    Yups, time to explored….

    This 3 km trip to southeast was only interrupted once when Mr. Tirtha stopped and waiting for me to exchange dollars at a small money changer at Phewa Lake edge.

    Description: D:BC ReportsFoto and VideoGo Abroad15. NepalIMG_20180101_151846723_HDR.jpg
    15 minutes later, I arrived.

    I started to enter a courtyard with a sandy ground base. Dust spread in all directions when cars passed by. Then at a ticket counter in the form of a small stone-patterned building, I got an entrance ticket for 450 Rupee.

    Description: D:BC ReportsFoto and VideoGo Abroad15. NepalIMG_20180101_152021714_HDR.jpg
    Taking the queue….

    It was necessary to pass a special pedestrian path to reach museum’s main building. The path was lined by a row of towering trees but not so shady.

    Description: D:BC ReportsFoto and VideoGo Abroad15. NepalIMG_20180101_152013349_HDR.jpg
    Let’s walked.

    Arriving at front courtyard, a small monument welcomed me. A monument dedicated to Himalayan climbers who never descended again because they had their souls resided in a blanket of Himalayan snow.

    Description: D:BC ReportsFoto and VideoGo Abroad15. NepalIMG_20180101_140118842_HDR.jpg
    They were called mountaineers.
    Description: D:BC ReportsFoto and VideoGo Abroad15. NepalIMG_20180101_140412276_HDR.jpg
    The Museum.

    Stepping stairs to reached museum front gate, then I was greeted by a simple x-ray gate. In early hallways, museum displayed photographs of world’s iceberg peaks. Also displayed the typical clothes of countries concerned.

    Slovenia with several icebergs, namely Triglav (2,864 m asl), Stol (2,236 m asl), Prisojnik (2,547 m asl) and Porezen (1,630 m asl) along with Gorenjska clothes.

    Entering next corridor, the museum introduced ethnic diversity throughout Nepal. The tribe name and its distinctive clothes were nicely displayed. It should be noted that this country, which covering no more than 8% of the land area of ​​the Republic of Indonesia, had 126 ethnicities in it.

    Description: D:BC ReportsFoto and VideoGo Abroad15. NepalIMG_20180101_144106128_HDR.jpg
    Etnis Thakali darEthnic Thakali from Mustang District, Zona Dhaulagiri.

    Entering central hall, museum displayed names of Himalayas peaks. The Himalayas alone provide 18 main peaks which challenge hikers from all over the world to climb them.

    Description: D:BC ReportsFoto and VideoGo Abroad15. NepalIMG_20180101_144414344_HDR.jpg
    Makalu peaks (8,464 m asl) and Lhotse (8,516 m asl).

    Finally, at the end, the museum presented heroic stories of the Himalayas conquest by first-class climbers. In this section also described a number of tragedies which they have experienced with their various climbing missions. Very touching and heart wrenching.

    Visitation in this museum was ended by walking along second floor towards museum exit gate. Here was a destinations in Pokhara which were eye-opening about Nepal and the Himalayas.

    Please stop by if you visit Pokhara.

    Next Story—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Gosok Gigi….

    Itulah problema utama pagi itu. Tak ada tempat layak  untuk menunaikannya. Berbeda dengan bandara yang umumnya memiliki toilet kelas hotel berbintang. Ini terminal bus, man!

    Tak sempat berfikir untuk sarapan, aku segera bangkit, memanggul kembali backpack biruku, melanjutkan identitas sebagai seorang backpacker. Kini aku akan menuju ke tengah kota.

    Berada di Seoul Express Bus Terminal berarti aku berada di ujung selatan kota, tertahan semalaman di Distrik Seocho demi menunggu kereta pertama beroperasi. Aku bergegas menuju Stasiun Express Bus Terminal….Yupz, stasiun itulah yang terintegrasi dengan terminal dimana aku bermalam.

    Sementara residu udara beku masih terasa lekat di kulit ari begitu setengah langkahku terjulur keluar dari gerbang terminal. “Gilaaa….”, batinku yang membatin. Kusegerakan langkah dengan menaikkan tempo kaki menuju gerbang stasiun.

    Damn….”, gerbang itu masih terhalang oleh standing barrier.

    Belum boleh masuk….”, batinku membuat kesimpulan.

    Tergopohlah diri kembali menuju terminal. Kuputuskan menunggu hingga genap satu jam, melebihi setengah jam dari rit pertama kereta beroperasi.

    Satu jam yang kumanfaatkan dengan membuka kembali lembaran peta dasa jalur Seoul Metro. Jumlah jalur yang satu lebih banyak dari jalur MRT-LRT milik Negeri Singa. Kapankah Jakarta akan mengejarnya?

    Genap enam puluh menit menanti, kini aku merepetisi jejak menuju gerbang Stasiun Express Bus Terminal. Standing barrier itu telah sirna, penanda bahwa stasiun telah membuka diri bagi setiap tamunya.

    Memasuki bangunan stasiun, pohon-pohon natal masih saja menyambut walau ini sudah hari ketiga bulan Januari, patung Santa Claus dengan sembilan rusa kutub kesayangannya menyapa dan tepat di pojokan sana security berbadan tambun dengan kelebihan bentuk perut melempar senyum. Dengan sigap dia menyambar topi dan Tongkat-T putihnya lalu berlari kecil menujuku. Sepertinya dia faham bahwa aku bukanlah penduduk Negeri Ginseng, oleh karenanya, dia berniat membantu. Walaupun sebetulnya, aku lebih tertantang menemukan untuk platform dengan caraku sendiri. But, It’s OK, lah.

    Security tambun: “Hellooo, where wil you go?

    Aku: “Hongik University Station, Sir”.

    Security tambun: “Oh, OK. Where are you come from?

    Aku: “Indonesia

    Security tambun: “Hmmh, Malaysia?

    Aku: “No Sir. Indonesia. A country at south of Malaysia”.

    Security tambun: “Oh really, follow me!…follow me!”

    Aku pun menguntitnya dari belakang

    This way”, dia menunjuk sebuah lorong menuju salah satu platform”.

    Thank you, Sir”, aku menutup percakapan sebelum dia kembali menempati posnya.

    Menyusuri lorong hingga ujung, aku mulai mencari keberadaan ticket vending machine. Mesin itu ada di salah satu sisi. Lorong masih sepi, memungkinkanku untuk mengeksplorasi layar mesin itu. Tekun menjelajah layar, tak ada satu kata pun yang bisa menuntunku untuk mendapatkan One Day Pass.

    Aku memunculkan sebuah inisiatif untuk menghadap ke petugas stasiun. Ruangan itu jelas ada di samping sana. Dua orang staff berseragam tampak memulai hari di meja kerjanya. Aku terlanjur mengetuk pintu kaca dan tatapan mereka serempak menuju ke arahku lalu diiringi lambaian salah satu diantara mereka sebagai tengara bahwa mereka mempersilahkan aku untuk masuk menghadapnya.

    Aku: “Good morning, Sir?

    Staff: “Yes, Can I help you?

    Aku: “Does Seoul Metro sell One Day Pass for passenger?

    Staff: “No No No, you must buy a regular card

    Aku: “What is that?

    Merasa kerepotan berbahasa Inggris, dia beranjak dari bangku dan menuju pintu. Dia melambaikan tangan kepadaku untuk mengikutinya. “there!”, dia menunjuk kepada sebuah kotak mesin.

    Merasa peluang untuk mendapatkan One Day Pass menipis, aku pun menyerah dan menutup percakapan. “Oh, OK

    Langkah kakiku cepat menuju kotak mesin itu. Merasa penasaran dengan apa yang bisa dijual oleh benda penuh teknologi itu. Aku berhenti sejenak, mengamati lekat penampakannya. Belum juga aku memencet apapun maka berdirilah di sampingku seorang lelaki, umurnya 40-an tetapi masih terlihat segar bugar, murah senyum dan tampak berpendidikan.

    Dia: “Helloo…..Can I help you? Where are you come from?

    Aku: “Hi, Indonesia Sir. Yeaa, I looking for the One Day Pass in this machine, Sir”.

    Dia: “Oh, there isn’t One Day Pass in Seoul Metro. You must buy T-Money for your journey using Metro

    Aku: “Oh, ya

    Dia: “OK, I will help you to get it”. Dia mulai mendekat ke layar, kemudian gesit memencet-mencet tombol hingga tiba pada menu akhir ekseskusi. “You need to insert 3.000 Won to this machine!

    Aku: “Oh , Ok, I see”….aku memasukkannya dan dia mulai memencet tombol eksekusi terakhir.

    T-Money itu keluar dari mesin dengan packingan rapi  berwarna putih. Lelaki itu mengambilnya dan menyerahkan kepadaku.

    Kemasan T-Money.
    Ini dia wujud T-Money.

    So now, you can explore Seoul by this. Come on we go to platform. Where is your destination?”, dia mulai megajakku melangkah

    Hongik University Station, Sir”, aku mencoba mengimbangi kecepatan langkahnya.

    Oh, do you study there?”.

    Oh, No Sir, I am just traveling now. What is your name, Sir?

    In Chul Park. Call me Park”, dia mengulurkan tangan

    Donny, Sir”, aku menjabat tangannya.

    Kini aku memiliki teman berbincang selama perjalanan menuju Kimchee Guesthouse Sinchon.

    Thank you very much Mr. Park….

  • <—-Previous Story

    On ten o’clock in the evening, I left Brievenbus van Djokdja. Along the shoulder of Panembahan Senopati section towards Malioboro bus parking area. The fleet was ready, of course, slowing down its engine while loading its passangers.

    I ran a little because there were no more colleagues back there, worried about being left behind on the way to the capital.

    I boarded the fleet when its seats were full.

    Where have you been, Donny, you’ve been waiting for?“, A female committee member lightly joked. I was just saying that I was interrupted for a moment by a small but important business …. the event was short farewell, one of admins in my sales team.

    I immediately immersed myself in middle seat, preparing physically for long journey to Jakarta. The fleet slowly advanced, leaving the bustle of Panembahan Senopati section, leaving Malioboro which still partying.

    Meanwhile, two consumption committee members distributed travel snacks. But I was still focused to watching an atmosphere outside from windowpane. A reflection continued to stalk in the memory of my head.

    A memory which reminded me of last night’s party. The party which kept me busy guiding it by taking on the role of being one of  trio Master of Ceremonies. But it wasn’t about the role which I reflected on, but on my achievement as one of the nominees for Best Leader in my company and also 7 Loyalty Years award. It turned out that I had been ordained to be a senior at my company. Where was I going to make the next decision?

    The bus fleet was now on Yogyakarta outskirts, heading north and would pass northern toll road on Java Island. That evening, the flow was quite smooth, so that within a span of two hours, the fleet reached Salatiga City and allowed all its passengers to enjoy dinner before being involved in marathon journey again.

    Taking dinner for a while and praying before I finally got really involved in fleet’s fast running. Kanaya Bus which was rented this time was still relatively new, so it was very comfortable to run with.

    All passengers have no more energy left to carry out arrogance in the front cabin for karaokeing. They prefered to fall asleep in their dreams. The marathon trip was really tiring, but it was the most lavish Year End Party celebration in my company’s history.

    Before this trip was realized, usually my company would hold the same party by choosing a routine area such as Puncak area, Bogor City or at the most distant Bandung City. But this time the party was taken to Education City, i.e Yogyakarta.

    For me, this trip might be a normal thing, but for other participants who rarely traveled in long distances ,it was certainly a happy luxury item.

    In the midst of cabin’s quiet atmosphere with dim lights, I decided to immediately close my eyes to recover my energy by resting like other passengers. All committee colleagues have also fallen asleep before, now the journey leaves behind the driver and conductor to escort the safe journey to destination.

    I didn’t need to worry about anything, the new trip would reach the capital city tomorrow, so I decided to just sleep that night.

    Thank you Yogyakarta.

    Welcome back to Jakarta.

    THE END

  • Sebagai seorang Sarjana Perikanan maka makanan laut sudah menjadi menu favorit bagi saya. Nah, kali ini, saya akan mencoba bertanya, apakah Anda penggemar ikan bandeng juga seperti saya?

    Hhhmmhhh….Saya yakin mayoritas dari Anda akan menjawab IYA.

    Ikan bandeng memang terkenal sebagai bahan pangan berprotein tinggi dan bercita rasa gurih dan lezat. Pantas jika khalayak mengidolakan ikan jenis ini. Selain harganya yang terjangkau, secara distribusi, ikan jenis ini mudah ditemukan di pasar ikan manapun.

    Selain itu, secara ekonomis, bandeng adalah jenis ikan yang mudah dibudidayakan dan memiliki potensi keuntungan budidaya yang tinggi. Oleh karenanya budidaya bandeng sangat cepat berkembang dan diminati masyarakat pesisir demi sebuah keuntungan.

    Secara nasional, kita boleh berbangga dengan pesatnya kenaikan angka produksi perikanan budidaya pesisir sejak tahun 2.000-an. Berbagai daerah mengebut pencapaian angka ini dengan memanfaatkan potensi wilayah pesisirnya. Tentu daerah-daerah yang memiliki wilayah pesisir yang luas akan mendatangkan harapan baru dalam mengembangkan bisnis perikanan budidaya ini.

    Kembali ke budidaya bandeng. Sebagai informasi bahwa secara kuantitas, produksi bandeng nasional mengalami peningkatan sangat pesat dari tahun ke tahun. Sebagai informasi bahwa produksi bandeng nasional mencapai 237.401 ton pada tahun 2013, kemudian meningkat tajam menjadi 740.720 ton pada tahun 2016. Secara statistik, kenaikan ini berada pada kisaran 14% setiap tahunnya.

    Sedangkan daerah penghasil bandeng terbesar secara nasional adalah Jawa Timur dengan angka 155.202 ton pada tahun 2016 lalu. Sedangkan Sulawesi Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Sulawesi Tenggara menguntit secara berututan di belakangnya. Data ini saya sampaikan berdasar rilis dari Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya.

    Mengorbankan Fungsi Hutan Bakau

    Pada umumnya, bisnis perikanan budidaya bandeng paling jamak dilakukan dengan menggunakan metode budidaya tambak. Manisnya keuntungan bisnis ini mendorong pembukaan hutan-hutan bakau untuk dikonversi menjadi lahan pertambakan bandeng.

    Tambak di pesisir Serang (sumber: https://kabarbanten.pikiran-rakyat.com/)

    Mengerucut pada pesisir Pulau Jawa. Pengembangan bisnis lain di kawasan pesisir selain untuk pertambakan, juga semakin menambah lebar saja bukaan hutan bakau yang tentu menambah beban pada kawasan konservasi. Padahal kawasan ini sangat diandalkan sebagai perlindungan daerah pesisir dari kerusakan serta berfungsi ganda sebagai kawasan ruang terbuka hijau.

    Sedangkan mengenai ruang hijau, ada beberapa miskonsepsi dalam masyarakat kita saat ini dimana ketika berbicara mengenai emisi karbon maka persepsi pertama yang terbentuk adalah keberadaan hutan tropis kita yang akan menjalankan fungsi sebagai peredam emisi tersebut.

    Padahal ada beberapa fakta menarik yang perlu saya sampaikan bahwa dalam luasan yang setara dengan hutan tropis, maka hutan bakau mampu menyimpan karbon tiga hingga lima kali lebih banyak. Sebagai ilustrasi saja bahwa hutan bakau dengan luasan satu hektar ternyata mampu menyerap seribu ton karbon per hektar.  Fakta ini menunjukkan bahwa hutan bakau memiliki peran yang sangat krusial dalam perubahan iklim.

    Disamping itu. arti penting hutan bakau bagi kawasan pesisir adalah kemampuannya dalam menjaga keberlangsungan populasi ikan, kerang, udang dan biota lainnya. Hal ini tentu disebabkan karena hutan bakau merupakan tempat favorit untuk perkembangbiakan dan pembesaran beberapa spesies hewan khususnya udang dan nener.

    Dampak Ganda

    Indonesia boleh jumawa sebagai pemilik hutan bakau terluas didunia. Hampir dua puluh persen dari luasan hutan bakau dunia ada di Indonesia. Luas hutan mangrove di Indonesia sendiri berkisar tiga setengah juta hektar.

    Terjadinya konversi lahan dengan alasan seperti di atas, telah menyebabkan delapan puluh persen hutan bakau di Pulau Jawa mengalami kerusakan cukup parah. Kerusakan hutan bakau di Pulau Jawa sendiri ikut menyumbang lima puluh persen kerusakan hutan bakau secara nasional.

    Konversi hutan bakau untuk pertambakan ataupun bisnis lain telah berkontribusi negatif dalam pemanasan global. Pemanasan global ini kemudian berdampak pada kenaikan permukaan air laut. Jika populasi hutan bakau tidak diperbaiki maka pelan tapi pasti, tambak-tambak yang dibuat dengan mengkonversi hutan bakau itu juga akan tenggelam dengan sendirinya.

    Belum lagi jika kita bicara produksi perikanan secara global. Bahwasannya produksi perikanan ditentukan oleh keberhasilan perikanan tangkap dan perikanan budidaya. Nah, bicara mengenai perikanan tangkap, data mengatakan bahwa secara langsung ataupun tidak, delapan puluh persen hasil perikanan tangkap sangat bergantung pada kelestarian hutan bakau.

    Jadi bisa dipastikan, konversi hutan bakau akan mengakibatkan kerugian ganda. Secara pasti, masyarakat pesisir akan merugi secara lingkungan karena hilangnya kawasan hutan bakau. Ditambah lagi dengan dampak berikutnya yaitu ancaman abrasi bibir pantai yang akan mengundang bencana serta membuka peluang untuk hilangnya area tambak beberapa tahun pasca pembukaan hutan bakau.

    Dampak lain adalah berkurangnya produksi perikanan tangkap kawasan pesisir. Lalu buat apa meningkatkan produksi perikanan budidaya jika produksi perikanan tangkap mengalami penurunan?. Bukankah konversi hutan bakau akan menimbulkan preseden lingkungan yang buruk?

    1000 Gagasan: Ekonomi Hijau dan Pemberdayaan Masyarakat

    Perubahan paradigma masyarakat pesisir harus mulai dirubah demi terwujudnya keseimbangan antara keberlanjutan ekonomi dan kelestarian lingkungan pesisir. Maka terdapat sebuah konsep terbaik yang bisa diterapkan untuk menjadikan keseimbangan tersebut terwujud. Konsep itu bernama ekonomi hijau.

    Ekonomi hijau merupakan konsep ekonomi yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus mengurangi risiko lingkungan secara signifikan. Ekonomi hijau menekankan penerapan kegiatan perekonomian yang rendah atau tidak menghasilkan emisi karbondioksida dan polusi lingkungan, hemat sumber daya alam dan berkeadilan bagi masyarakat.

    Untuk mencapai tujuan itu, tentu konsep ekonomi hijau ini tidak bisa dikerjakan oleh segelintir kalangan saja. Pengembangan potensi sumber daya alam dengan konsep ekonomi hijau di wilayah pesisir akan mencapai hasil maksimal jika melibatkan banyak stakeholder terkait, seperti pemerintah pusat, pemerintah daerah, pengusaha, aparat desa, penggiat lingkungan, lembaga penelitian dan masyarakat sekitar serta pemangku kepentingan lain yang semestinya berpegang teguh pada kelestarian lingkungan.

    Mengacu pada permasalahan di atas, perlu dilakukan pergeseran strategi pengelolaan hutan bakau menuju ekonomi hijau pesisir. 1000 Gagasan perlu dikembangkan demi menjamin keberhasilan strategi ini dan gagasan tersebut harus direalisasikan melalui aksi secara serempak, sinergis dan terukur. Masyarakat pesisir harus mulai diarahkan untuk tidak bergantung pada lahan pertambakan, tetapi harus mulai diajarkan bisnis pesisir lainnya yang selain bisa memberikan penghidupan yang layak, juga akan memastikan perbaikan dan kelestarian hutan bakau di kawasan mereka tinggal.

    Di beberapa daerah pesisir, ambil contoh saja di Kecamatan Gunung Anyar Surabaya, setelah diberikan perubahan paradigma tentang kelestarian lingkungan yang akan menentukan keberlanjutan ekonomi pesisir maka masyarakat sudah mulai merintis kegiatan perekonomian lain dengan prinsip ekonomi hijau. Kegiatan  baru perekonomian itu diantaranya adalah produksi batik mangrove, produksi makanan dan minuman berbahan baku bakau (kue, roti, tempe dan sirup), pewarna berbahan limbah  organik bakau, pemanfaatan bakau sebagai alternatif bahan bakar serta industri sabun dan pembersih lantai.

    Tentu industri kawasan pesisir seperti ini bisa konsisten dikembangkan seiring dengan pelaksanaan program konservasi hutan bakau karena pada hakikatnya masyarakat memiliki ketergantungan terhadap keberadaan dan kesehatan hutan bakau untuk menjalankan industri tersebut.

    Lalu bagaimana peran pemerintah pusat, pemerintah daerah dan para pemilik modal dalam konsep ekonomi hijau ini?

    Dengan potensi ini, pemerintah pusat bisa menetapkan regulasi demi menjaga kelestarian hutan bakau dan keberlangsungan industri kawasan pesisir. Sementara pemerintah daerah yang lebih memahami karakteristik daerahnya hendaknya membantu menciptakan saluran-saluran pemasaran dari produk-produk yang dihasilkan industri ini. Kemudian para pengusaha harus mulai peduli untuk menciptakan bisnis berkesinambungan dan berkelanjutan . Untuk kemudian para pengusaha ini bisa berperan untuk menyukseskan industri kawasan pesisir ini melalui penciptaan modal yang akan mendorong kelancaran operasional bisnis dan memperbesar skala industri kawasan pesisir.

    Lalu bagaimana dengan area-area pertambakan yang sudah terlanjur dibuka?

    Untuk merealisasikan konsep ekonomi hijau, maka diperlukan keseimbangan antara luasan lahan untuk pertambakan dan luasan untuk konservasi hutan bakau. Karena hanya dengan pembentukan kawasan pesisir yang seimbang maka keseimbangan fungsi lingkungan pesisir akan terwujud dan pada akhirnya akan menjamin keberlangsungan industri kawasan pesisir.

    Perbaikan kawasan pertambakan di pesisir bisa dilakukan dengan konsep silvofishery. Perlu diketahui bahwa silvofishery adalah sistem pertambakan teknologi tradisional yang menggabungkan antara usaha perikanan budidaya dengan penanaman pohon bakau, sistem ini berfokus pada pengelolaan pertambakan dengan meminimalkan input dan mengurangi dampak terhadap lingkungan.

    Konsep silvofishery (sumber: https://indofishery.id/)

    Dengan silvofishery maka kita masih bisa memberdayakan perikanan budidaya masyarakat pesisir tanpa melewatkan usaha pelestarian lingkungan.

    Pertanyaanya berikutnya, pasti akan ada penurunan jumlah produksi bandeng apabila semua konsep diatas dilakukan?

    Inilah peran yang harus diambil oleh pemerintah dan masyarakat untuk mulai berfikir mengejar produksi bandeng dengan mengoptimalkan budidaya bandeng air tawar. Beberapa daerah terbukti sukses menerapkan budidaya bandeng  air tawar. Ambil saja contoh, perikanan budidaya bandeng air tawar di Kecamatan Kayen dan Kecamatan Gabus, Kabupaten Pati telah menjadi primadona bagi perekonomian masyarakat. Strategi seperti ini bisa diterapkan di daerah manapun. Hanya dibutuhkan keseriusan, fokus dan aksi nyata untuk mewujudkan strategi tersebut.

    Di lain sisi, pengurangan produksi bandeng pada awal perbaikan hutan bakau di kawasan pesisir nantinya akan tergantikan dengan melimpahnya produksi perikanan tangkap kawasan. Hal ini tentu berbanding lurus dengan fungsi utama keberadaan hutan bakau yaitu meningkatkan produksi perikanan tangkap di pesisir secara alami.

    Kunci Keberhasilan

    Sehubungan dengan diperlukannya keserasian gerak langkah dari setiap stakeholder yang terlibat dalam pelestarian hutan bakau maka dibutuhkan informasi yang akurat mengenai permasalahan yang terjadi di lingkungan tersebut. Informasi yang dibutuhkan bisa berupa data dan kumpulan pengetahuan terkait dengan masalah yang sedang dihadapi.

    Oleh karenanya diperlukan lembaga yang kredibel dan terpercaya, yaitu lembaga yang tidak meletakkkan profit di atas semua kepentingan. Untuk tujuan ini, terdapat sebuah lembaga yang telah berpengalaman dalam penyediaan data lingkungan. Lembaga nirlaba ini bernama Madani yang berdiri dibawah naungan Yayasan Madani Berkelanjutan (Manusia dan Alam untuk Indonesia Berkelanjutan).

    Madani bekerja dengan cara membentuk hubungan strategis antar stakeholder. Menghubungkan ide, rencana dan tindakan demi melahirkan kemitraan strategis.

    Madani juga membantu para stakeholder lingkungan untuk memperhitungkan resiko, potensi, manfaat dan ide-ide berharga untuk menciptakan perubahan lingkungan yang positif.

    Bahkan Madani secara aktif menciptakan keterlibatan publik dalam rangka meningkatkan kesadaran publik terkait masalah hutan serta perlindungan hak-hak masyarakat.

    Pada akhirnya, keberlangsungan ekonomi masayarakat pesisir dalam mencapai kesejahteraan bersama bisa berlangsung bersamaan dengan kelestarian hutan bakau yang merupakan jaminan jangka panjang dalam kegiatan perekonomian masyarakat pesisir itu sendiri.

    Bukankah dengan begitu, rasa ikan bandeng akan menjadi lebih enak, teman-teman?

    #1000GagasanEkonomi

    #Selamatkanhutan

    #TemenanLagi

    #IndonesiaTangguh.

    Sumber Penulisan:

    1. https://madaniberkelanjutan.id/
    2. https://www.poetramerdeka.com/
    3. https://www.tubasmedia.com/
    4. https://nationalgeographic.grid.id/
    5. https://www.suaramerdeka.com/
    6. https://www.mongabay.co.id/
    7. https://id.wikipedia.org/
    8. https://ejournal-balitbang.kkp.go.id/
    9. https://indofishery.id/
    10. https://kabarbanten.pikiran-rakyat.com/
  • <—-Kisah Sebelumnya

    Begadang dengan sahabat sejati.

    Malam paripurna di Pekanbaru menjadi sesi nostalgia dalam aroma durian dan gurihnya seporsi Malon (Manuk Londo) yang tampak montok di atas piring. Inilah pertemuan yang sengaja kupersiapkan bersama seorang pengusaha durian yang entah berapa lama tak bersua, sebelum meninggalkan Pekanbaru esok hari.

    —-****—-

    Pagi menyambut bebarengan dengan kunyahan toast buatan Toko Roti Ganda yang masih saja tersisa sedari kedatanganku di Kota Madani, tawar tapi masih cukup lezat disantap.

    Dering smartphone yang kunanti akhirnya tiba.

    Ini Donny ya?”, tegurnya singkat.

    Annanta ya, Bang?”, singkat pula sapa balasku.

    Iya, Don. Hotelnya ancer-ancernya apa ya?”, tanyanya mulai mendetail.

    Bereflek cepat, aku berlari menuju meja resepsionis dan menyerahkan smartphone ke staff yang bertugas. Entah bagaimana staff itu menjelaskan kepada sang sopir. Yang kufaham, mereka bercakap dalam bahasa Minang.

    Sepuluh menit kemudian, Toyota Kijang hitam berlabel “ANNANTA” menghentikan raung mesinnya di pelataran Hotel Sri Indrayani. Berucap terimakasih kepada staff resepsionis, aku beranjak meninggalkan lobby dan memasuki mobil travel di jok belakang sebelah kanan.

    Snack dan air mineral yang disediakan pihak travel.

    Emang ngerti Bahasa Jawa, Uda?”, penasaran karena sang sopir memutar lagu Didi Kempot yang tersimpan di flashdisk birunya.

    Ah, ga begitu ngerti, Don. Enak aja didengernya”, katanya terbahak.

    Ha ha ha”, tawaku lepas.

    Aku menjadi penumpang pertama yang dijemputnya. Kunikmati saja setiap injakan pedal gas memasuki gang-gang sempit dan jalanan di beberapa perumahan untuk menjemput lima penumpang lain. Pada jemputan kedua, akhirnya aku menemukan pasangan sebelah bangku yaitu seorang nenek murah senyum yang hanya bisa berdialek Minang. Sedangkan, penumpang terakhir adalah seorang pemuda gempal yang didudukkan di jok terdepan sebelah pengemudi.

    Suasana dalam travel.

    Perjalanan sejauh 222 km ini akan ditempuh dalam selang waktu 7 jam dan melewati tepian Sungai Kampar yang tersohor itu. Jalan Raya Pekanbaru-Bangkinang bak trek pacu jalanan ala Sirkuit Monaco. Tavel Annanta ini begitu lincah meliuk-liuk diantara truk-truk barang bermuatan berat nan lambat. Si nenek di sebelah hanya sesekali tersenyum menghadapku menikmati balapan tunggal itu.

    Memasuki Kota Payakumbuh, aku terus terjaga. Tak mau kehilangan momen singkat melewati sebuah scenic spot. Tak lain adalah Kelok Sembilan. Begitu terpesonanya aku ketika melintas jembatan layang sepanjang 2,5 km dan setinggi 58 meter itu. Tinggi, gagah dan mempesona siapa saja yang melintasnya.

    Terpesona ketika Marshall Sastra dan David John Schaap mengupasnya dalam program TV “My Trip My Adventure”.

    Perjalanan darat seharga Rp. 160.000 ini melewati 4 Kabupaten ( Kampar, Rokan Hulu, Lima Puluh Kota dan Tanah Datar) dan 3 Kota (Pekanbaru, Payakumbuh dan Bukittinggi) serta menyisakan keindahan alam yang menggoda mata.

    Perjalanan yang hanya menyediakan sekali lunch break.  Toast tadi pagi sudah tak mampu lagi menahan rasa lapar, bahkan angin telah mengakuisisi lambung. Siang itu rendang hitam khas Minang menjadi teman santapku. Baru kali ini merasakan rendang di tanah asalnya.

    Travel Annanta Si Kencang dari Sumatera.
    Rumah Makan Uwan Labuak Bangku di Kabupaten Lima Puluh Kota.

    Hujan mulai turun ketika perjalanan memasuki Kota Bukittinggi melalui tepiah Kabupaten Tanah Datar. Aku mulai bersiap untuk turun, karena Travel Annanta bertujuan akhir di Padang. Aku diturunkan di Jalan Veteran, tepat di sebuah pertigaan dengan Monumen Tuanku Imam Bonjol yang berada di tengahnya.

    Tiba di Bukittinggi.

    Menjelang gelap, aku haru menuju ke Hotel De Kock.

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Temperatur anjlok….Sudah dibawah titik beku.

    Jam dinding bulat putih di arrival hall memamerkan jarumnya yang mulai merapat ke angka pertama dalam putarannya.

    Arrival Gate Seoul Express Bus Terminal.

    Kembali ke sepuluh menit sebelumnya, ketika aku bergegas melipat jemuran t-shirt dan kaos kaki dari jok ketika bus putih berkelir merah itu merapat di Seoul Express Bus Terminal.

    Selamat Datang Seoul….Engkau akan menjadi kota terakhir dalam petualangan awal tahun itu.

    Seturun dari bus, setiap penumpang bergegas menuju bangunan terminal demi menghinda hawa dingin kota. Sejenak arrival hall berubah ramai, beberapa toko penjaja makanan ringan dan kopi yang masih buka menjadi serbuan sebagian penumpang. Sementara sebagian yang lain memilih angkat kaki dari terminal, mengandalkan taksi untuk melanjutkan perjalanan ke titik akhir masing-masing.

    Mencari tempat untuk tidur.

    Aku berdiri terdiam, mengawasi lokasi sekitar, mencari tempat bermalam yang nyaman. Aku sudah faham bahwa MRT akan mulai beroperasi pagi nanti, sekitaran setengah enam. Jadi aku tak perlu berepot-repot memaksa diri menuju bangunan stasiun.

    Tuah keberuntungan itu datang, dipojok kiri sana terlihat dua kolom bangku panjang, masing-masing besekat tiga tanpa sandaran dengan besi pembatas antar sekat. Membuatnya tak mungkin menjadi tempat tidur darurat dini hari itu. Kutaruh backpack di pojok bangku dan aku mulai duduk menghabiskan sisa malam.

    Menunggu benar-benar sepi untuk mengakuisisi bangku.

    Seiring bergulirnya jarum jam, para penumpang yang sedari tadi menikmati kopi panas dan makanan ringan mulai hengkang, menyisakan sepi. Beruntung toko-toko itu tak menutup diri walau si empunya pasti tertidur di lantai sambil menunggui dagangannya. Setidaknya aku tak merasa sendiri.

    Bangungan terminal ini sungguh manusiawi. Bersih, terang dan aman walaupun aku tetap mengeluhkannya karena tetap saja tak kuasa menahan hawa beku dari luar sana. Hawa itu masuk menembus jendela-jendela kaca, membuatku tak sanggup memejamkan mata sama sekali.

    Di tengah kesenyapan, aku beranjak bangkit, mencoba mendekati kios-kios makanan itu. Mengamati beberapa kaleng minuman yang mungkin bisa menemaniku malam itu. Aku sedang khusyu’ memilihnya ketika tiba-tiba sekerumun penumpang berjejal memasuki bangunan terminal. Sebuah armada bus antar kota tampak menyalakan lampu hazard sembari memuntahkan seluruh muatannya.

    Nona Cantik: “Hello, how do I get to downtown?

    Aku: “If you want to go there now, you have to take a taxi, Ms. MRT isn’t operating yet now”, buseet, guwe yang orang asing aja lebih tahu.

    Nona Cantik: “Oh. Is’n operating yet?”, aroma nafasnya tercium wangi Soju.

    Aku: “Yes absolutely, you can go by taxi or waiting here until morning”, berharap dia bisa menemaniku di terminal

    Nona Cantik: “Oke..Oke”, dia tampak menuju ke sisi dinding terminal….”Oppaaaa…….@#$%^&*!?><”. Ah dia malah menelpon kekasihnya. Musnah sudah harapan.

    Aku kembali ke jajaran minuman kaleng, mengambil salah satunya dan menebusnya dengan 800 Won.

    Minum kopi manis dulu lah…..

    Dalam sekejap, bangunan terminal kembali sepi. Aku terduduk lagi di bangku. Kali ini seorang sopir bus antar kota sudah duduk di barisan bangku sebelah, bersandar pada tembok dan tidur dengan lelapnya.

    Sedangkan aku yang sangat terganggu dengan hawa beku, berusaha terus bergerak hingga pagi. Beruntung aku menyempatkan tidur dalam bus selama dua setengah jam dalam perjalanan malam tadi.

    Ayolah Seoul, segeralah datang matahari pagi!….

    Kisah Selanjutnya—->