Category: Asia

  • <—-Kisah Sebelumnya Makan malam….Akhirnya kucicipi ramen kesayangan itu setelah genap dua minggu berpetualang meninggalkan kampung halaman. Membuat mood perjalananku kembali ke puncak….Hahaha. Di keesokan harinya, menjelang siang tetapi masih saja dingin menusuk, pukul sepuluh pagi, aku memulai petualangan hari kedua di Qatar. Menaiki Karwa Bus langganan bernomor 12, kutuju Al Ghanim Bus Station. Untuk ketigakalinya,…

  • <—-Kisah Sebelumnya Aku meninggalkan kesibukan Dhow Harbour untuk menuju ke destinasi berikutnya.  Sepintas aku melewati deretan ferry jenis Catamaran yang bersandar di salah satu sisi dengan penjagaan ketat para security bertubuh besar. Yang kupahami sekilas adalah itulah pelayaran menuju Banana Islands Resort Doha yang terkenal itu. Mainan para wisatawan kaya raya yang harus menghambur tujuh…

  • <—-Kisah Sebelumnya Mengunjungi The Pearl Monument membuatku bahagia tak terkira, selain mendalami sejarah Qatar, mata dimanjakan dengan indahnya pemandangan Doha Corniche. Promenade sepanjang tujuh kilometer ini menampakkan lengkungan Teluk Doha yang dijejali gedung pencakar langit di ujungnya. Sementara sebaran traditional dhow boat wisata yang diam terjangkar di sepanjang teluk menjadi interior alam yang mengelokkan suasana.…

  • <—-Kisah Sebelumnya Pedestrial tunnel itu dimulai dari sebuah lift dalam ruangan berkaca di utara Souq Waqif, tepat di depan Al Jomrok Boutique Hotel yang memiliki logo jangkar hitam, maklum kini aku berada di pesisir timur Qatar. Meluncur ke bawah tanah dalam satu sentuhan tombol, aku melangkah di bawah permukaan dua jalan utama yaitu Abdullah Bin…

  • <—-Kisah Sebelumnya Melewari gate bernomor  empat, aku kembali keluar di jalanan pasca menjelajah dalaman City Souq. Kantor dua lantai milik badan independen Qatar menjadi bangunan pertama yang kulewati. Tampak lima bendera Qatar berukuran besar mempergagah markas Central Municipal Council. Aku menikung ke kiri begitu berpapasan dengan Abdullah Bin Jassim Street. Dua ratus meter kemudian, aku…

  • <—-Kisah Sebelumnya Selamat tinggal Domes Mosque, masjid penuh sejarah di kawasan Old Doha. Aku mengucapkan “wadaa’aan” dari pintu belakangnya di tepian Al Jabr Street. Menapaki gang sempit yang dibatasi tembok halus di sisi kiri dan tembok kasar di sisi kanan. Kini, saatnya menemukan sebuah kedai makan untuk mengerem protes perut yang kian menjadi. Yes…Aku menemukannya…

  • <—-Kisah Sebelumnya Kumandang suara adzan sayup memanggilku ketika sedang berkeliling Souq Faleh. Itulah saat yang kutunggu. Imajinasiku shalat berjama’ah dengan Qataris untuk pertama kali akan segera terwujud. Karena alasan itulah, aku bergegas menuruni tangga menuju lantai satu dan segera meninggalkan pusat perbelanjaan sederhana itu. Selamat tinggal Souq Faleh ! Terletak 200 meter di tenggara, tak…

  • <—-Kisah Sebelumnya Matahari sedang giat menanjaki puncaknya, udara mulai menghangat, mengikis rasa dingin pelan-pelan dari telapak tangan dan guratan muka. Aku meninggalkan Al Ghanim Bus Station….. “Hello, Filippino”, tiga Qataris petugas Mowasalat menyapaku di gerbang luar terminal. “Hi, Sir”, jawabku singkat sambil membatin “Alhamdulillah aku dikaruniai muka ajaib yang cocok dengan muka berbagai bangsa Asia”.…

  • <—-Kisah Sebelumnya Seperti yang kukisahkan di awal, jika kamu membedah seisi Qatar menggunakan Karwa Bus maka secara otomatis kamu akan berhilir mudik di sebuah terminal sentral di kota Doha yaitu Al Ghanim Bus Station. Aku sendiri yang adalah backpacker penggila bus kota dan selama di Qatar tercatat selama tujuh kali dalam lima hari, aku menyambangi…

  • <—-Kisah Sebelumnya Semakin ke barat, nyatanya biaya backpackeran semakin tinggi. Harga hotel dan tiket pesawat tak bisa tertolak kemahalannya. Perlu kejelian dalam berburu tiket dan hotel murah. Hal inilah yang kemudian membuatku mengalah untuk tinggal di penginapan yang jauh dari pusat kota, demi mendapatkan harga yang sesuai dengan budget. Tentu walaupun tinggal di penginapan pinggiran,…