Category: Asia

  • <—-Kisah Sebelumnya “Kamsahanida……”, ujarku keras terlontar teruntuk petugas kasir perempuan CU Minimarket di pojok sana. Aku telah rampung menyantap nasi putih kemasan dan cup noodle yang membuat bibirku terasa membara saking pedasnya. “Cheonmanneyo….”, kasir cantik putih itu melempar senyum sembari melambai tangan ketika aku sudah berada di depan pintu kaca hendak menjangkau handlenya. Keluar dari…

  • <—-Previous Story Horn sound made me see to left when I just walked out of a noodle food stall in Tashiling. Yes, that shrill sound came from Mr. Tirtha’s taxi which I never knew since when it had been parked under a tree right out of Tashiling area. “I think we don’t need to go…

  • <—-Kisah Sebelumnya Pukul setengah sembilan pagi, aku sudah merapat di Stasiun Hongik University, menyusuri koridor panjang stasiun dan menaiki escalator panjang an tinggi menuju permukaan tanah. Tata arsitektur stasiun menyambutku dengan taman berhiaskan bunga-bunga indah dipadu dengan bebrapa sculpture ikonik. Aku mulai menelusuri gang utama menuju Sinchon-ro Avenue di utara stasiun. Yang kutahu, guesthouse yang…

  • <—-Previous Story I already understood before Mr. Tirtha told me that my next destination was Tashiling, A Tibetan refugee settlement in Pokhara. Nepal itself provided access to this migration because since ancient times, Tibet and Nepal have had close close relations in economy, diplomacy and culture. They have repeatedly signed various cooperation agreements in their…

  • <—-Kisah Sebelumnya Aku berusaha menyejajari Mr. Park yang tampak gesit untuk kecepatan langkah seusianya. Menunggui Seoul Metro di satu sisi platform, kami bercakap ringan saja. Aku bercerita tentang perjalananku menyusuri Asia Timur kepadanya. Kuselipkan beberapa kisah petualangan di Tokyo, Osaka dan Busan beberapa hari lalu. Mr. Park tampak cukup terkesima mendengarkan alur kisah yang kusampaikan…

  • <—-Previous Story Mr. Raj nicely prepared a special dish for me. Two bull’s-eye eggs served together with a banana, two layers of toast covered with mango jam and a cup of hot Nepalese tea. While Mr. Tirtha seemed to say goodbye and went home to enjoy his breakfast which made by his wife in his…

  • <—-Kisah Sebelumnya Gosok Gigi…. Itulah problema utama pagi itu. Tak ada tempat layak  untuk menunaikannya. Berbeda dengan bandara yang umumnya memiliki toilet kelas hotel berbintang. Ini terminal bus, man! Tak sempat berfikir untuk sarapan, aku segera bangkit, memanggul kembali backpack biruku, melanjutkan identitas sebagai seorang backpacker. Kini aku akan menuju ke tengah kota. Berada di…

  • <—-Kisah Sebelumnya Temperatur anjlok….Sudah dibawah titik beku. Jam dinding bulat putih di arrival hall memamerkan jarumnya yang mulai merapat ke angka pertama dalam putarannya. Kembali ke sepuluh menit sebelumnya, ketika aku bergegas melipat jemuran t-shirt dan kaos kaki dari jok ketika bus putih berkelir merah itu merapat di Seoul Express Bus Terminal. Selamat Datang Seoul….Engkau…

  • <—-Previous Story It was still quite early in the morning when I started leaving Bindhyabasini Temple. Back in riding Mr. Tirtha’s daily rental taxi, I along with a trio of backpackers from hotel started down Pokhara-Baglung Street heading south. Mr. Tirtha planned to take me to an old market which was more than 250 years…

  • <—-Kisah Sebelumnya Jeda tipis antara ketibaanku dan keberangkatan bus berbuah manis, menjadikanku tak terlalu lama menunggunya berangkat. Beberapa menit lalu, aku telah menanyakan demi mencari bus yang akan kunaiki kepada salah seorang pengemudi di Busan Central Bus Terminal. Telunjuk jarinya jelas mengarah pada armada berwarna putih dengan kelir merah. Aku pun bergegas menuju bus itu…