Heritage House: Mendengar Usul Sang Pangeran

Destinasi berikutnya….Masih berlokasi di Kawasan Heritage Distrik Deira….Adalah Heritage House.

Lokasi Heritage House ini tepat berada bersebelahan dengan Al Bait Al Qadeem Restaurant and Cafe, di sisi selatannya. Tentunya Heritage House ini lebih menjulang tinggi karena memiliki dua lantai secara keseluruhan, memiliki warna coklat tua dan memiliki luasan hampir 500 meter persegi.

Terletak di tepi Al Ahmadiya Street, bangunan bersejarah ini pun tampak tutup saat aku menyambanginya. Aku mencoba mencari tahu dari warga yang melintas di depannya.

This house is under renovation, Sir”, ucap seorang dari mereka yang mengerti pertanyaan yang kulontarkan.

“Damn….Kenapa harus tutup segala sih….Hmhh”, aku mengeluh berat atas ketidakberuntunganku sendiri.

Aku segera mengambil keputusan. Melakukan eksplorasi-eksplorasi kecil di sekitar Heritage House menjadi hal terbaik daripada aku pergi begitu saja tanpa hasil.

Hal pertama yang kulakukan kemudian adalah mencoba melihat bentuk asli Heritage House dari sudut pandang yang lebih luas dan lebar. Cara terbaik untuk bisa melakukan itu adalah dengan menyeberangi Al Ahmadiya Street dan mengambil titik pandang dari trotoar seberang.

Aku menarik nafas panjang ketika berhasil melihat bentuk rumah ini secara utuh….”Benar-benar klasik”, aku membatin kagum.

Aku terus memandangi rumah berusia 132 tahun yang dibangun oleh Matar Saeed bin Mazina itu, bertanya kepada diri sendiri kenapa terdapat 21 jendela besar yang mengelilingi terasnya. Sedangkan balkon sepanjang tak kurang dari lima belas meter membentang megah di lantai duanya. Konon sang pemilik berikutnya yang bernama Sheikh Ahmed bin Dalmouk adalah saudagar mutiara paling terkenal di seantero kawasan Al Ras. Beliau membangun rumah megah ini dari asalnya yang memiliki dua ruangan kamar saja.

Untuk mengurangi rasa penasaran, aku mulai berjalan melalui gang sempit untuk menikmati cipta arsitektur ini lebih dekat. Seperti bangunan-bangunan khas Timur Tengah lainnya, cukup jelas terlihat bahwa pilar-pilar bagian atap bangunan ini menembus tembok-tembok terluarnya.

Sedangkan di salah satu sisi Heritage House, tampak gang sempit itu dilindungi oleh bentangan kain-kain polos berwarna coklat di atasnya. Sudah bisa ditebak bahwa hal ini dilakukan untuk mengurangi daya sengat matahari ketika siang tiba, sehingga bisa membuat nyaman para pengunjung.

Jendela-jendela berukuran kecil yang terlindung oleh teralis-teralis besi itu dibiarkan terbuka, Hal itu memungkinkanku untuk mengintip bagian dalam Heritage House. Membuatku sedikit bisa tersenyum daripada aku tidak bisa melihat sama sekali bagian dalam rumah legendaris tersebut.

Konon, 28 tahun lalu, pemerintah kota Dubai membeli rumah tersebut dari pemilik terakhirnya yaitu Ibrahim Al Said Abdullah dan kemudian mendedikasikan rumah tersebut untuk pelestarian budaya Dubai sekaligus sebagai tempat wisata.

Dan menurut cerita, pemerintah Kota Dubai melakukan semua itu setelah mendapat masukan dari Pangeran Charles dari Kerjaan Inggris yang sedang melakukan kunjungan kenegaraan ke Uni Emirat Arab.

Wah….Keren ya.

Leave a Reply