BAS KITē ….Bus Kota Andalan Kuala Terengganu

<—-Kisah Sebelumnya

Usai mencuci celana jeans, t-shirt dan kaos kaki, aku pun berbasuh. Membuat badan segar dan mengusir lusuh. “Masih terlalu dini untuk tidur, lebih baik aku nongkrong di shared-kitchen saja untuk mengisi botol-botol air minumku yang mulai surut”, ideku tetiba muncul.

Mulai turunlah aku ke lantai dua dimana meja resepsionis dan shared-kitchen berada. Sesampainya di sana, tampak keberadaan Mr. Okamoto yang perlahan menyeduh kopi.

Where was you going today, Mr. Okamoto?”, aku mendahului bertanya ketika dia melempar senyum saat aku mengucurkan air kran ke dalam botol-botol minumanku.

Hi Donny, I didn’t go everywhere today. I was tired. I decided to take a rest all day in my room”, dia terkekeh sembari menyereput kopi seduhannya sendiri.

Ohhhhh…..I think you have found a nice day today….Hahahaha. I see you are very fresh now”, aku menyegerakan duduk di hadapannya dan melanjutkan percakapan.

Entah bagaimana mulanya, Mr. Okamoto mengisahkan banyak hal malam itu….Dari kisah menawannya  budaya Okinawa, kenangan minum kopi bersama warga lokal Aceh, perilaku gadis-gadis Jepang di zaman modern, kelucuan seorang muridnya yang berasal dari Yogyakarta, serta kisah suka dukanya berprofesi menjadi guru Bahasa Inggris di ibu kota.

Sedangkan aku menimpali sedikit cerita mengenai petualanganku mengunjungi Jepang tiga tahun silam, menjelajah Terengganu di hari pertama tadi siang hingga  rencanaku menjelajah Timur Tengah beberapa hari dihadapan.

Keistimewan dari percakapan itu adalah teraciknya secangkir kopi oleh Mr. Okamoto untukku.

Beuh….Kopi Arabica itu masih terbayang nikmatinya hingga kini.

—-****—-

Senin pagi itu, aku sengaja bangun sedikit siang. Usai Shalat Subuh, aku kembali tidur dan baru bangun tepat pukul sembilan pagi. Usai berbasuh, aku bersarapan dengan menyesap bubuk oat yang kubawa dari rumah, kusajikan serbuk itu dalam tuangan air panas dan mencampurnya dengan sesendok gula pasir yang ada di dapur penginapan.

Dua puluh menit kemudian aku rampung bersarapan, aku mulai beranjak turun ke lantai satu dan bersiap melanjutkan eksplorasi. Melihat langit, sepertinya hari keduaku di Kuala Terengganu akan sepanas kemarin. Aku melangkah melewati Jalan Engku Pengiran Anom 2 untuk menggapai Jalan Air Jernih yang apabila ditarik lurus ke utara akan mengantarkanku kepada Hentian Bas Majlis Bandaraya Kuala Terengganu.

Terminal bus itu masih saja menjadi sekutuku dalam membedah keindahan Kuala Terengganu. Setidaknya aku sudah tahu harus kemana saja di sepanjang Senin itu.

Oh ya, kembali pada kisah sehari sebelumnya, setiba di terminal bus setelah diantar oleh myBAS dari Bandar Udara Sultan Mahmud, aku meluangkan waktu sekejap untuk merapat ke hentian BAS KITē. Aku sengaja mendokumentasikan rute bus kota andalan warga Kuala Terengganu itu. Keberadaan BAS KITē sendiri sudah kupantau dari Jakarta dua bulan sebelum keberangkatan.

Aku aja naik BAS KITē….Masak kamu engga?
Icip-icip BAS KITē lah….
Inilah rute pertama yang kunaiki.
Kagak naik di rute ini guwe mah….
Nah, Laluan C02 adalah rute terakhir yang kunaiki.

Nah, kalau kamu ke Kuala Terengganu dan ingin menghemat ongkos dalam mengeksplorasi kotanya, maka BAS KITē adalah solusi terbaik. Lha daripada naik taksi kemana-mana….Kan mahal….Ya toh.

Yuk kita intip apa itu BAS KITē?

Menurut hasil percakapanku dengan pengemudi BAS KITē ketika menuju Masjid Kristal, jumlah bus ini hanya ada lima unit di Kuala Terengganu, pengemudinya pun hanya lima orang. Tetapi pada papan rute yang berhasil aku foto, BAS KITē ternyata hanya memiliki empat rute….Hhmmmhh, mungkin satu unitnya berupa bus cadangan….Ah, aku mana tahu, lagian ngapain guwe pikirin yak.

Keunikan bus kota ini terletak pada desainnya. Jika dilihat dari luar maka badan bus kota ini menyerupai arsitektur rumah khas Terengganu. Kaca bus didesain bak jendela lengkung, sedangkan atap bus diberikan sentuhan lisplang berukiran khas. Sedangkan di bagian dalam bus, tempat duduk serta area pembatas antara pengemudi dan penumpang di dominasi oleh kombinasi bahan besi dan kayu penuh ukiran khas Terengganu….Ciamik deh pokoknya.

Bus kota berkapasitas 36 penumpang ini, usaha operasionalnya dimiliki oleh Cas Ligas SDN. BHD yang kantornya berada di Menara PERMINT, menara yang setiap hari berkali-kali aku lewati. Cas Ligas SDN. BHD sendiri adalah bisnis pengangkutan darat dan air di Kuala Terengganu. Kalau di Jakarta mungkin semacam PPD kali yak…..

Untuk bisa menaiki bus kota ini menuju berbagai destinasi wisata maka kamu harus mempersiapkan ongkos berkisar antara 1 hingga 5 Ringgit tergantung dengan jarak. Murah kan?…..

Bus kota yang berangkat paling pagi adalah BAS KITē jurusan Kuala Nerus (arah bandara tetapi tak mampir di bandara, jika kamu ingin menuju ke bandara gunakan saja jasa myBAS). BAS KITē jurusan ini berangkat tepat pukul setengah delapan pagi dan berangkat dengan interval waktu 1,5 sebelum tengah hari dan kemudian berangkat dalam interval 2 jam sekali ketika sudah lewat tengah hari. Bus terakhir berangkat jam setengah lima sore dari Hentian Bas Majlis Bandara Kuala Terengganu.

Sedangkan bus kota yang berangkatnya paling siang adalah BAS KITē jurusan Masjid Kristal. BAS KITē jurusan ini berangkat pertama kali pukul 9:30 pagi dan hanya menyediakan empat trip dalam sehari. Trip terakhir berangkat pukul lima sore dari Hentian Bas Majlis Bandara Kuala Terengganu.

Murah tapi terbatas……Tenang bisa di siasati kok.

Dengang jarak rerata dua jam untuk setiap keberangkatan maka setidaknya aku bisa mengunjungi minimal tiga destinasi dalam rute yang berbeda. “Nikmati saja, ga usah buru-buru…….”, begitulah fikirku menyikapi keterbatasan itu.

Supaya suasana hati tetap happy….Ya, kan?

Kisah Selanjutnya—->

3 thoughts on “BAS KITē ….Bus Kota Andalan Kuala Terengganu

Leave a Reply