Bangunan Stasiun Nakano memiliki dua tingkat di atas tanah dengan delapan platform. Bagian selasar depan stasiun dijulurkan dengan kanopi berbahan Alumunium Composite Panel hingga tepat di gerbang depan Nakano Sun Mall. Ketika tiba di sana, aku keluar di pintu utara dengan halaman beraspal yang sangat luas dan dihiasi oleh aktivitas makan siang para merpati.
Sementara hari sudah menuju sore, tetapi tetap saja dingin walau jarum jam sudah menunjuk pukul 13:40. Aku hanya berfikir untuk segera menuju hotel, menaruh backpack dan memulai petualangan perdanaku di Tokyo.
Aku memintas jalan sejajar sebelah kanan gerbang utara stasiun. Memelipir di kaki-kaki angkuh Sumitomo Mitsui Trust Bank. Hanya deretan mural art pada julangan pagar beton pembatas jalur kereta yang mampu memberikan mood booster siang itu..
Tak lama kemudian, aku mulai memasuki gang-gang sempit selebar tiga meter menuju ke utara. Pagi itu, setiap jalanan yang kulewati terlihat sepi, hiruk pikuk sangat tak kentara di sepanjang gang yang kulalui di Distrik Nakano. Mungkin saja karena penduduk Nakano yang hanya berjumlah tiga ratus ribuan penduduk. Ah, aku sok tau perihal populasi.
Pun restoran yang menjamur di sepanjang gang, masih tertutup rapat, nantinya aku akan menemui kemeriahan restoran itu saat malam tiba. Malam dimana di setiap rumah makan itu akan berdiri seorang laki-laki yang mempersilahkan setiap orang untuk masuk ke dalamnya. Di memori kepala, aku masih mengingat beberapa nama retoran tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa aku sangat terkesan selama tinggal di Distrik Nakano. Izakaya, Tsuyamaru, Gyu No Simonya, Hakata Mangetsu dan Ikkenme Sakaba adalah beberapa nama restoran disana. Apakah aku mencicipi masakan mereka?. Tidak jawabnya, kuperjelas lagi βTIDAKβ. Karena sehari-hari di Nakano, setiap menginjak waktu untuk memenuhi kebutuhan perut, aku hanya sanggup membeli dua potong onigiri di sebuah FamilyMart langganan di bilangan Fureai Road.



βHi, Where are you come from?β, tanyaku pada resepsionis dormitory. Aku tak mau hanya menikmati kecantikannya dengan diam. Lebih baik aku memulai pembicaraan.
βHi Donny, Iβm Janessa from Portugalβ, tentu dia tahu namaku, karena dia sedang mengecek nomor pasporku sebelum memberikan bunk bed tempatku tidur di Yadoya Guesthouse.
βHi Janessa, I’m very surprised because the receptionist is not Japanese, but youβ, aku mulai melempar senyum perkenalan.
βYeaaa, Iβm working here. Itβs nice countryβ, senyumnya tampak bahagia.
βDonny, your bunk bed is at fourth level. So enjoy to burning your calorie by walking on stairs thereβ, Janessa menambahkan sambil sedikit bercanda.
βOkay, Janessa. Itβs no matter. Iβm strong backpackerβ, Aku menutup percakapan itu.
Yadoya Guesthouse begitu banyak meninggalkan kesan. Banyak kekonyolan di dalamnya yang membuatku kadang tertawa ketika mengingatnya. Beberapa diantaranya adalah saat suatu malam aku harus berbasuh dengan air sedingin es karena tak kunjung menemukan letak tombol pemanas, atau sebuah pagi di saat aku menemukan dua sejoli asal Eropa tertidur berdekapan mesra dalam sebuah kotak kecil bunk bed dengan selimut tebalnya atau saat dimana pada tengah malam aku susah setengah mati memejamkan mata karena kasurku serasa ikut membeku. Mungkin memang dormitory seharga 2,000 Yen per malam tak cocok untuk tinggal di Jepang saat musim dingin.




Dari enam belas bunk bed dalam kamar itu, aku bertemu tetangga dekat yaitu seorang solo backpacker asal Brunei Darussalam, berparas manis dalam balutan jilbabnya. Ya, aku tahu asalnya karena menemukan gambar bulan sabit dengan kedua tangan menengadah yang menjadi lambang negaranya tertempel jelas di bagian atas backpack.
Apapun yang kurasakan, Distrik Nakano tetap memberikan kesan yang mendalam dalam petualanganku mengenal Tokyo dan Yadoya Guesthouse menjadi rumah kesekian dalam bagian perjalananku.
Leave a reply to Sondang Saragih Cancel reply