Mengakhiri transaksi dan menggenggam tiket bus Pokhara-Kathmandu, aku berniat cepat menuju penginapan. Jarum jam serasa bergerak cepat dan gelap perlahan pasti menyelimuti kota, hingga kemudian aku menyatakan setuju pada sopir taksi untuk mengantarkanku ke New Pokhara Lodge.

Taksi putih mungil lincah membelah patahan-patahan gang kecil. Sekali dia tampak kebingungan hingga memaksanya turun dan bertanya kepada sosok muda yang sedang terlena pada secangkir kopi dan sebungkus sigaret. Kemudian tunjukan tangan sang pemuda membuat si sopir mengangguk faham.

—-****—-

Aku terduduk dan mengamati pecahan uang kertas berbagai bangsa yang tersusun rapi  menjadi galeri lobby. Salah satunya adalah pecahan bergambar Tuanku Imam Bonjol.

Lobby New Pokhara Lodge

Selang beberapa waktu, muncul pria setengah baya yang tampak telah melambat gerakannya tetapi berusaha untuk tetap tersenyum. Selanjutnya aku mengenalnya sebagai Mr. Raj, penanggung jawab hotel yang sangat baik dalam memberikan pelayanan untuk para tamunya di New Pokhara Lodge.

Aku ditempatkan di lantai dua di hotel berbentuk letter-U, berlantai tiga dan berwarna oranye itu. Ruang inap yang kutebus dengan harga sebesar Rp.108.000 kini menjadi basecampku selama berkelana di Pokhara.

—-****—-

Mr. Raj menasehatiku singkat,  “Don’t worry about your security in New Year Celebration!. Don’t drink too much and back soon!….Enjoy your night and Happy New Year”.

Suasana Lakeside Road.

Berjalan kaki sejauh 650 meter menuju tepian Phewa Lake , aku menelusuri jalur kecil yang hanya bisa dilalui kendaraan roda dua. Hanya dua menit hingga tiba di keramaian Lakeside Road. Tampak panggung yang tak lebih baik dari panggung Kelurahan Ciracas telah disiapkan di tepian danau.

Aroma kuliner kaki lima ditengah riuhnya rombongan muda mudi Nepal menjadi paduan sempurna di dinginnya Pokhara. Suhu 8o C perlahan mengintimidasi  lambung. Dan rasanya tak sanggup jika harus makan dan duduk berlama-lama di trotoar, suhu dingin malam telah membuat tangan dan mukaku yang tak berpelindung menjadi kaku. Pada akhirnya, langkah kaki mengantarkanku memasuki AM/PM Organic Cafe. Secangkir Masala tea beserta vegetarian fried race menjadi penghangat tubuh menjelang tengah malam yang sedang ditunggu manusia sejagat.

Menunggu pesanan datang.

Makanan yang sudah habis tak bersisa, cangkir teh yang telah mengering dan pelayan yang terus memperhatikan, membuatku tak enak hati. Firasatku mengatakan untuk segera keluar dari cafe karena tentu si empunya berharap meja yang kini kutempati bisa segera dijualnya ke pengunjung lain.

Kini aku berusaha menyelinap ke kerumunan untuk menghindari hembusan angin dingin dari arah danau. Perawakan dan gurat muka yang mirip Nepali membuatku terlihat seperti penduduk lokal yang semuanya berdiri mengelilingi panggung.

Artis lokal silih berganti memberikan performance terbaiknya, anak-anak usia sekolah dasar tak mau kalah dengan tariannya, kesemuanya dipandu oleh MC berperawakan ideal, berambut klimis tanpa kumis dan berparas layak aktor Bollywood.

Panggung sekecil itu ditengah banyaknya penonton.

Malam itu, warga Pokhara serasa menjadi manusia paling bahagia di dunia sedangkan aku merasa kembali ke era 1986 dimana aku masih menjadi siswa kelas satu SD di Semarang kala itu.

Aku tak yakin akan ada riuh gempita pesta kembang api. Keyakinan itu membuatku perlahan mengundurkan diri dari kerumunan. Berjalan pelan dan terngiang petuah Mr. Raj yang memperingatkanku akan kemungkinan yang bisa terjadi karena memang banyak pemuda yang terlalu banyak minum di jalanan.

Belum juga menikung menuju sebuah gang, kerumunan mulai keras berhitung mundur bersambung luncuran kembang api ke udara dan meledak tepat di pusat Phewa Lake. Momen yang kutunggu hingga hampir diputus-asakan oleh dingin. Aku berbalik badan dan menikmati suasana itu. Danau yang semula gelap dan tampak hitam saja, kini airnya memantulkan spektrum cahaya kembang api yang bergantian meledak di atasnya.

Kekaguman yang bahkan tak kudapatkan pada momen yang sama setahun lalu di Osaka. Keindahan yang membuatku lupa mengabadikan momen itu sendiri. Tapi tak apa lah, otakku masih merekamnya dengan baik hingga kini.

Lihat situasi menjelang tahun baru di tepi Phewa Lake:

https://www.youtube.com/watch?v=0K87N2E0imk

Malam yang sempurna.

Posted in , , ,

22 responses to “Berganti Tahun di Tepian Phewa Lake”

  1. morishige Avatar

    Wiiih… Postingannya makjleb, Mas Donny. Jadi kangen duduk-duduk malam-malam sambil lihat bianglala di pinggiran Phewa Lake 😀

    Like

    1. travelingpersecond Avatar

      Enak yo mas…..pengen kesana lagi jadinya…..

      Like

      1. morishige Avatar

        Mangkane merinding baca postingan Mas Donny soal Nepal… Hahahaha 😀

        Like

      2. travelingpersecond Avatar

        Nepal emang otentik….semuanya….alam, kuliner dan orangnya. Tahun baru di negeri orang sdh jadi langganan, berdoa tahun ini masih bisa juga seperti tahun tahun sebelumnya mas….biasanya sejak Feb or Mar sdh pegang tiket, ini belum sama sekali…..kondisi sdg menegangkan disini.

        Like

      3. morishige Avatar

        Iya, Mas. Kalau balik ke sana kayaknya bakal berasa “pulang.”

        UNWTO sudah pakai hashtag #TravelTomorrow sekarang Mas Donny. Kayaknya recovery-nya bakal lama ini. Dan perjalanan bakalan jadi klasik lagi kayak zaman-zaman Marco Polo hahahaha…

        Like

      4. travelingpersecond Avatar

        Weh betul mas……tahun ini nulis aja sampe jeleh….hahaha.

        Like

      5. morishige Avatar

        Bener, Mas. Ben sesuk nek dolan meneh PR-e ora kakean. 😀

        Like

      6. travelingpersecond Avatar

        Iyo bener ki…….josss pokoke. Timur tengah ae wes gatel ngantri di ketik….macam skripsi aja. Dedlen

        Like

      7. morishige Avatar

        Nek nulis skripsi asyik ngeneki, mesti luluse banter banget, Mas. Hahahaha.

        Like

      8. travelingpersecond Avatar

        Mangkane……Fakultas Pariwisata. Program Studi Backpacker. Penjurusan Solo Traveler.

        Like

      9. morishige Avatar

        Hahahaha… Seru mesti 😀

        Like

      10. morishige Avatar

        Sama kayaknya saya perlu buka-buka arsip lawas Mas Donny. Pasti banyak cerita seru di sana. Hahaha

        Like

      11. morishige Avatar

        Yoi, Mas Donny. 🙂

        Like

  2. Sita Avatar

    wait, lu kls 1 tahun 86? lahir tahun brp sih don? 🤐😛

    Like

    1. travelingpersecond Avatar

      Hahahha…bocah tua nakal mbak…..38 taon….masih ngelayap aja…….

      Like

      1. Sita Avatar

        hahaha, ga masalah take your time.

        Like

      2. travelingpersecond Avatar

        Kondisi udah susah…jadi kita ga boleh ikut susah, selalu happy aja…..happy di dunia, pesta di Syurga……wah idaman banget tuh…..hahahaha.

        Like

      3. Sita Avatar

        atuur aja broh hahaha

        Like

  3. jelajahlangkah Avatar

    “Tampak panggung yang tak lebih baik dari panggung Kelurahan Ciracas telah disiapkan di tepian danau”

    Aku baca sambil tungguin ulasan panggung musik Kelurahan Ciracas iku kok nggak ada ya? Pasti speakernya wis mawut dan suaranya sember hahahaha…

    Like

    1. travelingpersecond Avatar

      Panggung ciracas ga pernah tuntas….kukutan di tengah….sewa micnya belum kelar mas….hahaha

      Like

      1. jelajahlangkah Avatar

        Naaah… tanggung nek pas lagi enak joget dan nyawer ternyata penyanyinya diam di tengah lagu; panggung kukutan – mic separo dibayar 😀

        Apes banget yak

        Like

      2. travelingpersecond Avatar

        Nah itu….parah habis….langsung ambil toa…..lanjuttttttt

        Like

Leave a reply to Sita Cancel reply