SARANGKOT….adalah nama sebuah desa berketinggian 1.400 mdpl di Distrik Kaski, Zona Gandaki. Terletak tepat di kota Pokhara yang merupakan pusat turisme di Nepal menjadikan Sarangkot sebagai salah satu destinasi favorit. Kenapa demikian?….Karena Sarangkot adalah viewpoint terbaik untuk mengamati Pegunungan Himalaya.
Delapan puncak Himalaya yang bisa dilihat dari desa ini mendorongku menaruh nama desa ini dalam itineraryku.
Hari
pertama tahun 2018….Happy New Year, Donny!
Sarangkot seakan dekat di pelupuk mata. Taxi sewa harian seharga 1.100 Rupee sudah kupesan di Pokhara Lodge Hotel tempatku menginap. Kabar baiknya Aku akan membayarnya secara patungan dengan 3 turis lain.
Haripun
masih gelap ketika Mr. Raj si pengurus hotel membangunkanku, “driver sudah siap di bawah”, sahutnya.
Hanya bersikat gigi dan membasuh muka, Aku segera menuruni tangga hotel untuk
bertemu sang driver.
Keramahannya
tersirat dari setiap senyum yang terlempar di hadapanku. Aksen Inggrisnya yang
menakjubkan menunjukkan bahwa Dia juga seorang pemandu yang baik untuk setiap
tamunya. Menurutnya, kemampuan berbahasa Inggris menjadi sebuah kewajiban
mengingat pariwisata adalah jantung perekonomian Nepal.
Pagi-pagi buta Aku memulai lawatan ke Sarangkot. Perjalanan sejauh 12 km ini porsi besar jalurnya akan melewati jalan Pokhara-Baglung.
Aku menjadi orang yang beruntung, karena sejak malam langit terlihat cerah. Artinya Aku akan melihat indahnya Himalaya tanpa halangan awan.
Memasuki gerbang Sarangkot, kendaraan diberhentikan
dan Aku harus mengeluarkan 50 rupee untuk ditukar dengan entrance ticket. Total hanya perlu 30 menit untuk tiba tepat di
pelataran parkir Sarangkot.
Entrance ticket
Menaiki
puluhan anak tangga, tersadar bahwa Aku berada di ketinggian. Tetapi gulitanya
pagi, membuatku susah melihat pemandangan di bawah.
Sekejap
kemudian, Aku tiba di luasnya pelataran. Sepertinya ini adalah titik pandang
Himalaya yang dimaksud. Sudah lumayan banyak turis yang duduk di bibir bukit
menunggu datangnya fajar. Beberapa photographer professional terlihat sibuk
mempersiapkan kamera dan peralatan lainnya.
Suhu 4o
Celcius terkalahkan dengan bayangan
pesona Himalaya yang memenuhi alam
imajinasiku.
Waktu seolah berjalan lama ketika Kita menantikan sesuatu yang dicinta….begitupun Surya di Sarangkot….seakan menggodaku dengan menunda-nunda kemunculannya untuk menghangatkan Himalaya.
Pucuk di
cinta ulam pun tiba
Dia mulai
menunjukkan batang hidungnya
Tinggal pilih aja…hidung matahari atau hidung si charming itu….
Penduduk desa itu pasti bahagia, setiap hari melihat indahnya Himalaya.
Lihatlah puncak Machhapuchhare yang lancip itu….
Ketika
sinar surya menerpa lapisan es di puncak Himalaya, maka warna keemasan akan
memancar dan itu membuat mataku susah berkedip. Takut kemewahan itu sirna
begitu saja…….Hadeuh….Bahasamu Don.
Pagi yang
sudah tersibak, Aku baru bisa melihat bentuk pelataran sesungguhnya. Ini dia:
Pelataran untuk menikmati indahnya Himalaya
Yang ga puas dan kurang tinggi….boleh naik ke atap di kiri pelataran
Atau atap di kanan pelataran.
Segeralah
berpindah ke sisi pelataran lain. Kamu akan melihat pemandangan penutup, yaitu
Phewa Lake yang secara geografis terletak di sebelah selatan desa Sarangkot.
Jangan liat orangnya…liat aja danaunya…fokus!…fokus!.
Setelah
berdiam diatas selama 2,5 jam. Kuputuskan untuk turun kembali. Pemandangan desa
yang tak tampak ketika Aku berangkat, akhirnya terlihat dengan jelas dan indah
ketika Aku perlahan meninggalkan puncak Sarangkot.
Perumahan warga dari atas.
Menuruni puluhan anak tangga
Sebetulnya jika tak mau repot berangkat pagi-pagi dari kota Pokhara, Kamu bisa menginap di sekitar Sarangkot dan datang sehari sebelumnya. Di Sarangkot terdapat beberapa penginapan yang menyediakan kamar untuk turis yang akan menikmati Himalaya.
Salah satu penginapan disana.
Restoran pun banyak
Menuruni
punggung bukit selama 15 menit, akhirnya Aku tiba kembali di pelataran parkir.
Mobil pengunjung di tempat parkir.
Menemui driver taxi yang menemaniku, kemudian Aku di ajaknya menuju Purana Bazaar untuk melihat aktivitas perniagaan di pasar yang terkenal di Pokhara.
My trip when going back from Fo Guang Shan ended at Kaohsiung Main Station and was greeted by little drizzle which began to fall.
My time began to be counted down during 2 hours from that time because the next destination would close precisely at 5 pm.
I took my KPP Taiwan Pass out. I got it at Kaohsiung International Airport MRT Station a day before. I immediately moved towards Ecological District Station.
KPP Pass is a cloud-based pass card which used in three regions i.e Kaohsiung, Pingtung, Penghu (three major cities in southern Taiwan)
Finding a bus shelter and waiting for bus no. R35A to get access towards Lotus Lake would be my next step. I waved my hand when bus was fastly running at Bo’ai 3rd Road towards me. Maybe the driver thought that there wasn’t passenger at bus shelter. Nimbly stepping aside, finally bus stopped in front of me.
Apparently the driver was a woman, asking me about where is my destination in Taiwan language made me speechless.
I: “Dragon-Tiger Pagodas, Mam”
Driver: shake her head, her eyes were closed and raised her hand as surrender sign that she didn’t understand my words.
I: “Hahahaha …….”
Driver: looked like a little annoyed when I laugh.
I: “Wait … wait”. I took my smartphone out, I looked for the pagoda image which I meant and I showed it to her.
Driver: “A little shouted excitedly….yeah….yeah….while thumbing up.
After paying USD 0,5 by entering my coin into the fare box, I stood behind.
It took 10 minutes only to arrive at Lotus Lake and finally the twin pagodas were clearly visible.
Kaohsiung bear doll like its image in my KPP Taiwan Pass
Panda is an iconic animal in Taiwan, so you will often meet its profile in public places. I found it at this pagoda also.
If you want buy souvenirs, enter that building!
Visitor Souvenir Center
Entering pagodas area, clearly seen the Dragon statue and the Tiger one:
According to the myth, I must enter from dragon mouth and come out from tiger mouth….And I would luck.
This seven-story pagodas with yellow floors and red pillars emit a solemn aura in the middle of Lotus Lake.
Lotus Lake as far as eye can see.
Opposite in front of Pagodas stand the magnificent Tzu Chi Palace
I left Lotus Lake on 16:45 to looking for dinner at Kaisyuan Night Market.
My confusion was started here, I didn’t know which bus number must I take and where I must go. At that time, I just used map and compass when traveling there, I didn’t use Google Maps just for save my budget because I didn’t need to buy internet quota. So as long as I don’t get WiFi, then my presence in a country willn’t be detected … It’s cool, I am like CIA agent….Hahaha
If I am confused, I will randomly take a city bus….wherever. Then I will stop near famous spots which I’ve learned before visiting that country. Finally, I randomly took a bus that afternoon. And in confusion, I finally saw Kaohsiung Arena (the biggest soccer stadium in Kaohsiung). I stopped at its nearest bus stop. Either it was free or driver didn’t know, I never tap my KPP pass on automatic fare machine.
There is Kaohsiung Arena MRT Station near it.
From this station, I finally managed to find Kaisyuan Night Market.
Kalau ditanya, berapa kali pernah ngelayap ke Negerinya Bhumibol Adulyadej?….udeh 3x, bang…..Pertanyaan mudah level pertama.
Lalu kalau ditanya, Apa yang paling berkesan ketika mengunjungi Negeri Gajah itu?…...tom yam atau ladyboynya, bang….jawaban mudah pertanyaan level kedua.
OKAY….sebelum masuk question berikutnya
Kamu semua tahu lah, apa enaknya “ngelayap edan” ke negeri orang versi travelingpersecond.com….kacamata biasa aja menjawabnya ”nothing fine“.
Tapi, kali ini Aku sedikit sombong. Karena Aku ternyata menyimpan satu kisah perjalanan borju ke Negeri yang ladyboy nya sangat aduhai itu.
Begini….Apa yang akan Kamu lakukan jika dikasih uang 10 juta dan Kamu diminta menghabiskan uang sejumlah itu selama 3 hari 2 malam di negerinya si super cantik Baifern Pimchanok?…Nah ini nih pertanyaan level ketiga.
Gile lu Don….Uang segitu aja banyak. Pan banyak orang bawa uang segitu buat jalan-jalan disono. Wadaw….Aku norak banget sih. Tapi swearrrrr….segitu buat Aku sangatlah buanyakkkkk.
Uang segitu akan menjadi berkesan tentunya, jika bisa digunakan untuk menginap di hotel mahal di Bangkok.
Yes, Aku nginep di Baiyoke Sky Hotel.
Baiyoke Sky Hotel memiliki tingggi 309 meter dan menjadi hotel tertinggi ke-7 di dunia. Tak hayal jika Kamu perlu mengeluarkan kocek sebesar 1,5 juta per malam apabila mau bermalam dimari.
Inilah maket hotel 85 lantai itu.
wujud aslinya
Hotel yang terletak di Khet Ratchathewi (Khet artinya distrik), Propinsi Bangkok. Ratchathewi sendiri berasal dari nama seorang permaisuri yaitu Phra Nangchao Sukumalmarsri Phra Ratchathewi.
Nah Selain memiliki Victory Monument sebagai landmark, Ratchathewi juga memiliki landmark terkenal yaitu Baiyoke Sky Hotel yang kali ini sedang Kubahas.
Hotel ini terletak di area terkenal….namanya, Pratu Nam. Di sana juga ada destinasi terkenal lainnya yaitu Pratu Nam Market. Kamu harus mengunjungi pasar tersebut jika ke Bangkok.
Hotel ini sendiri memiliki 2 tower utama. Tower I memiliki tinggi 151 meter dan digunakan untuk Baiyoke Suite Hotel. Sedangkan Tower II bertinggi 309 meter, digunakan untuk Baiyoke Sky Hotel
Aku membayar Rp 125.000 (THB 250) ke pengemudi airport taxi setelah Dia mentransferku dari Don Mueang International Airport ke Baiyoke Sky Hotel.
Sebelum memasuki pintu hotel, Kuperhatikan kesibukan aktivitas perdagangan di commercial shops yang terletak di lantai terbawah Baiyoke Sky Hotel.
Mulai memasuki pintu bawah hotel, antrian begitu panjang di depan lift. Aku pun berdiri di ekor antrian.
Oh Donny……Dasar ndeso. Doorman itu menghampiriku, rupanya Dia tahu aku baru saja mengambil antrian di belakang.
Dia: “Excuse me, Sir….Do you want to stay in or just go to observation deck?”
Aku: “I want to stay sir”
Dia:”Oh Okay, Sir….This queue is for observation deck only. You can use that lift to go to lobby”
Aku: “Oh thank you sir”. Baca petunjuk dong Don….Ndeso (Hatiku bergumam). Aku pun mulai berpindah ke lift sebelah yang sepi antrian.
Lift itu
pun mengantarkanku ke Lobby.
Reception hall yang bernuansa klasik
Selesai proses check-in dan mendapatkan access card. Aku segera menuju keatas untuk rehat sejenak. Ada tiga koridor lift di lantai tempat resepsionis berada. Koridor pertama digunakan untuk menuju pintu keluar hotel di lantai terbawah. Koridor kedua dan ketiga digunakan khusus untuk tamu menuju kamarnya dan menuju beberapa tempat menarik di hotel, seperti Baiyoke Floating Market, Bangkok Sky, Observation Deck, Stella Palace, Bangkok Balcony, Crystal Grill dan Roof Top Bar.
Menelusuri koridor mencari keberadaan kamar.
Aku mulai
memasuki kamarku……
Kasur empuk
Aku ga punya tamu….
Bawaan cuma seransel kecil kok….
Mandi di bath up tiap pagi sore
Untuk urusan makan, Aku tak perlu mengunyah sepasang toast seperti biasanya. Karena ini bukan dormitory bung….Ayeee
Makan
sepuasnya lah biar buncit dah….
Appetizer, main course, dessert tiap hari….
Bread plus berbagai selai…bikin bingung
Selain itu, Kamu juga bisa merasakan makan dalam balutan konsep floating market. Maksudnya, tidak ada air ya gaes di lantai ke-75 dimana floating market berada. Hanya saja buffetnya berwujud perahu dan ada pedagang di setiap perahunya
Namanya juga Second-Tallest Hotel di Bangkok, akan sangat rugi jika Kamu tak menikmati pemandangan Bangkok dari 360-degree revolving viewpoint di ujung Tower II.
Pemandangan seharga Rp. 200.000 untuk umum, Kali ini Aku bisa menikmatinya secara gratis sebagai tamu penginap.
Malam pertama, Aku kemalaman dan 360-degree revolving viewpoint di lantai ke-84 Baiyoke Sky Tower sudah berhenti berputar. Aku tak bertahan lama di revolving roof deck dan kuputuskan untuk turun. Aku hanya mendapatkan ini:
heran, si Peter Parker kuat banget. Dah 3 hari kek gitu di lantai 83
Terpampang juga foto para juara tiap tahun dari Baiyoke Run Up International (lomba lari menaiki tangga menuju puncak Baiyoke Sky Tower).
Aku baru bisa mendapatkan view kota Bangkok 360o di malam kedua. Putaran 360-degree revolving viewpoint membuatku terpana melihat keindahan Bangkok di malam hari.
Jalan tol Sirat Expressway dari atas
The Berkeley Hotel Pratunam dari atas
Berburu foto di 360-degree revolving viewpoint
Baiyoke Sky Hotel juga menyediakan museum mini untuk mendisplay beberapa arca dan artefak Buddha.
masih banyak lagi patung di mini museum
Kuliner Terdekat
Tepat diseberang hotel, Kamu akan menjumpai Indra Square Shopping Mall. Buka dari jam 10 pagi hingga jam 9 malam, seperti kebanyakan shopping mall pada umumnya, Kamu dengan mudah akan menemukan banyak pakaian, aksesoris, souvenir, sepatu dan tas yang dijual melalui proses tawar- menawar. Banyak trader keturunan India mengadu nasib disini.
Kembali ke kuliner, Kamu bisa menemukan Indra Food Square di lantai paling atas.
Beli kupon untuk ditukar makanan
Mau pilih halal atau haram?….hush
Mau Belanja di Jalanan?
Sepanjang jalan didepan Baiyoke Sky Hotel menghadirkan night market yang menarik para tamu hotel untuk mengunjunginya. Cobain duren Bangkok tepat disebelah kiri depan hotel deh….maknyussss.
My third-flight and also my last flight with Jet Airways were deliberately priority to be written. Remembering every Jet Airways flights that are very important in completing my exploration in South Asia region.
Early morning flight (2:05 p.m.) which was departed from Chhatrapati Shivaji International Airport in Mumbai made me lack of sleep time since checked-in until landing (04: 35).
Entering airport, I immediately sought a pray room. Entering prayer room, I was greeted by a man who was wearing an ihram cloth (Ihram cloth is specific cloth for hajj or umrah in Mecca) among a group of umrah tour which were praying together. His hospitality smile welcomed me after ablutions.
He : “Assalamu’alaikum, hi brother, where are you come from?”
Me: “Hi sir …. from Indonesia“. I threw a smile to him.
He: “I’m from Bangadesh, I think you are from Malaysia“. He smiled again.
Me: “Yeaa….Malaysian and Indonesia are looking same”. I shaked his hand
He: “Where will you go?”
Me: “I will go to Colombo…Oh ya three days ago, I visit your country”
He: Suddenly hugging me … ” Really, How about my country? nice? “
Me: “Yeaa, exotic country….very original….I will come again next time”.
He: smile again and patted my shoulder.
I also found some Indians praying at some airport corridors.
Dinner at that night were some authentic Indian street fried foods which I got from the last rupee after exploring Mumbai”
A thing that I always do when traveling is to exchange my last local moneys into USD before leaving a country which I visited and then spending last coins which can’t be exchanged to buy a menu for next meal. In fact, sometimes I will eat it in next country.
Last 2 hours waiting time was used to charge all my electronic devices which low battery after I use it in exploring Mumbai.
Airport information calls which don’t use Indian-English accent at all make me feeling like at European airports (It’s still dream….I’ve never set foot in Europe). Yeah cool.…all information calls at this airport is accented with native english .
It was really nice to see my plane leaned on gate 85D, a sign that I would set foot in Colombo soon.
My plane just arrived and was unloading
1 hour later boarding process started.…
through aviobridge I finally caught my third flight with Jet Airways.
Online checking-in that I did 24 hours before flight made me free to choose a window seat. This position is always my choose at every flight to easy documenting every moment during flight.
boarding process before I really fell asleep.
Trying to still awake by reading “Jet Wings”, I hoped cabin crews would immediately distribute in-fligt meal.
this is Jet Airways’ inflight magazine.
Even when I fell asleep, inflight meal never came. Apparently, there wasn’t food on this flight. Or whether I missed it. Because I really fell asleep very hard. Because less sleep during Mumbai exploration.
I was awakened by flight attendants to immediately establish my seat, signaling that I would land in Colombo soon.
I deftly set up my Canon EOS M10 and turned it on. I would catch some city view when plane prepared to touch down at Bandaranaike International Airport.
I was stunned by a row of lights that were patterned straight and neat. There wasn’t doubt that it must be a beach that would ll be my destination in Colombo.
View along the famous Galle Face beach.
10 minutes later, Jet Airways actually landed in Colombo. Hmmmh… couldn’t wait to get down soon.
Bandaranaike International Airport could be seen from plane’s window.
My arrival was at 4:35 a.m., I had to wait until morning to catch first airport bus which would go to downtown.
Jet Airways was in unloading process at Bandaranaike International Airport
Subha udesenak! “Pearl of the Indian Ocean“….kindly welcomed me, please….hehehe.
Tulisan
pertamaku tentang Thailand tak akan kuambil dari Bangkok yang menjadi
Ibukotanya. Tapi Aku akan membuatmu penasaran dengan menghadirkan Phuket.
Membayangkan keindahan Phuket sejak 2013, Aku baru benar-benar bisa melihat keindahan itu dengan mata telanjang pada 2019. Enam tahun lamanya Aku hanya bisa melihat Phuket dari sebuah foto yang kutempel di meja kerjaku. Banyak alasan tentunya kenapa harus selama itu. Mulai dari waktu, kesibukan dan tentunya dompet….hihihi, kayaknya masalahku yang terakhir itu deh.
OK, by the way….
PHUKET….merupakan
sebuah propinsi ber-area pulau di sebelah selatan Bangkok. Jika diukur,
panjangnya sepanjang Jakarta-Cikampek dan lebarnya hanya sepanjang Jakarta
Timur ke Jakarta Barat.
Phuket
memang terkenal dengan wisata pantainya. Tapi jangan salah, 70% wilayahnya
adalah perbukitan. Artinya, Kamu bisa melihat keindahan kota dan pantainya dari
atas.
Atas dasar itulah, sebelum menikmati segenap pantai di Phuket, Aku melakukan satu hal yang jarang dilakukan turis lainnya….Yes, Aku mulai menanjaki perbukitan itu untuk melakukan “Phuket helicopter view”.
Siang itu, maskapai Nok Air mendaratkanku di Phuket Internatonal Airport. Disambungkan dengan airport bus, Aku benar-benar diturunkan tepat di pusat kota. Selepas check-in di Fulfill Phuket Hostel dan lunch di sekitarnya, Aku segera bergegas menggeber sepeda motor sewaan ke sebuah bukit di barat laut hotel.
1.Khao Rang Viewpoint.
Khao Rang
atau Rang Hill adalah sebuah viewpoint yang terletak di utara Phuket.
Menurut petugas yang kutanyai, Khao Rang
biasa dikunjungi penduduk Phuket di malam hari selepas penat bekerja atau di weekend untuk merayakan libur setelah 5
hari sibuk bekerja.
Kebetulan sekali Aku hadir disini pada Minggu siang, jadi sangat mudah menemukan warga Phuket yang hilir mudik.
Hanya perlu
waktu sekitar 10 menit dari Fulfill Phuket Hostel untuk benar-benar masuk ke
Khao Rang melalui gerbang selatan (ada dua gerbang untuk menuju Khao Rang, satu
di selatan dan satu lagi di utara).
Memarkirkan
motor dengan terburu-buru karena ketidaksabaranku melihat bagaimana wajah
Phuket, Aku tak memperdulikan banyak pasangan muda-mudi yang terlihat duduk
bermesraan di setiap sudut Khao Rang.
Aku segera
melihat sekitar untuk menentukan dari titik mana akan melihat Phuket. Yes…..itu viewpoint yang kucari:
Sebuah bangunan gaya eropa terpampang di ujung Khao Rang.
Wadaaawww…..tata
kota Phuket yang dibatasi dengan garis pantai dan tersekat-sekat dengan
perbukitan kecil disetiap sisi pandang membuatku tertegun lama dan mengalahkan panasnya
sengatan matahari siang itu.
Jika mau lebih lama di Khao Rang, Kamu bisa menikmati Phuket sambil menyantap kuliner khas Negara Gajah Putih di Tunk Ka Cafe. Kalau ga mau masuk cafe karena mahal, Kamu cukup menikmati jajanan ringan atau air kelapa di beberapa stand makanan diluar restoran itu.
Lalu Aku?…..Kagak beli apa-apa…..Aku lebih memilih kabur ke viewpoint berikutnya.
2. Phuket’s Big Buddha
Keluar dari
area parker Khao Rang, Aku mengarahkan sepeda motorku ke arah barat daya. Aku bersama
motorku akan menjelajah sejauh 20 km untuk menuju patung Big Buddha.
Melewati
panasnya jalanan Phuket, Aku menyempatkan mampir di sebuah pasar tradisional di
tengah perjalanan. Menyibak seisi pasar untuk melihat orang-orang lokal
berniaga, perlahan Aku mendengar sayup-sayup bahasa Sunda diantara riuh
rendahnya nada pasar.
“Aku harus
menemukan orang ini”, batinku. Kudekati suara itu hingga menemukan dua anak
muda asal Sukabumi yang sedang menjalani pertukaran pelajar yang menjadi
program sebuah SMK Pariwisata di daerahnya. Dia ditugaskan di sebuah resort di
Phuket dan saat itu sedang berbelanja atas perintah sang kepala koki.
Meninggalkan pasar, Aku kembali meneruskan perjalanan mendaki bukit yang meliuk-liuk menuju puncak.
Kuperhatikan
para turis asal China bersukaria menaiki ATV menuju ke tempat yang sama, bahkan
beberapa bule terlihat menuju puncak bukit dengan ber-jogging dan beberapa berjalan kaki….gile, itu kan jauh banget.
Boleh dikatakan ini “combo venue”. Karena selain mendapatkan viewpoint yang lebih tinggi, Kamu juga akan sekaligus menikmati keindahan dan kesakralan patung ini.
Tibalah Aku
di Big Buddha
Terletak di puncak Bukit Nakkerd, patung setinggi 45 meter ini dibangun pada 2004.
Berjalanlah ke ujung plaza
patung raksasa itu, inilah yang akan Kamu dapatkan:
guys…itu penampakan Ao Chalong Bay yang eksotik….seeksotik Jennifer Garner (upsss….ketauan deh idola guwe).
Big Buddha
menjadi trip penutup dari segenap pendakianku pada Minggu itu.
Aku harus bersabar untuk mendaki lagi dikeesokan hari.
3. Kao Khad View Point
Hari
berikutnya….
Aku akan
lebih lama duduk di Kao Khad, jadi kuputuskan memasuki Family Mart di seberang
hotel untuk menyiapkan beberapa kacang kemasan dan soft drink untuk menikmati keindahan Phuket.
Menuju selatan, Aku kembali turun ke jalanan Phuket. Kali ini Aku akan menempuh jarak 8 km. Melewati kemacetan di beberapa titik jalan yang sedang direnovasi hingga proyek pembuatan underpass, Aku menikmati wajah-wajah lokal yang sedang bergerak menuju ke tempat mencari nafkahnya masing-masing.
Viewpoint yang tak begitu tinggi memudahkan motorku
untuk berjalan lebih kencang dan mencapai tujuan hanya dalam 12 menit.
Ini dia,
Kao Khad viewpoint:
Dilihat darimanapun, seisi pulau itu sungguh memanjakan mata
Kao Khad beach….yuhuiiii
So…..setelah
melihat sedikit pemandangan yang kuberikan….Maukah Kamu ke Phuket?
I left Lake Toba by a taxi (in Jakarta, it may be called “omprengan”.…(using minibus to transport passengers) for USD 3 with 1 hour 50 minutes travel time. It finally led me to visit a new city … yes, Pematang Siantar. The city that I never think to visit it.
The taxi dropped me off in Parluasan area, an area which famous as hoodlums producer in Indonesia. Horrific, but for me this was an extraordinary mental experience.
The driver drove me right across INTRA bus office on Sisingamangaraja street. A INTRA bus parked to upload passengers makes it was easy for me to make sure that I didn’t get it wrong.
INTRA office
Hurrying up and heading to ticket sales counter then paid for my ticket which was ordered by phone call a day before. Fearing if my order didn’t recorded and I could miss Pekanbaru in next day.
Buy a ticket here !….You better order at least a day before departing
Thank to God, my name was in list and I gave USD 17,5 to exchange with a sheet of ticket to Pekanbaru … Yes, welcome Pekanbaru.
Sitting in a waiting room, my gaze was fixed on my watch and INTRA office yard … Never seen when He arrived, from right end of bus office yard He shouted for me. Happy, meet old friend.
His name is Andy Erwin, we met on Hop On Hop Off (HoHo) bus in Kuala Lumpur in 2013. Since it, we have been friend and I never thought that I could stop by to his home….an umpteenth surprise on my journey.
waiting room at INTRA bus office
Waiting for four hours wasn’t a pleasant thing, it would be nice to go around city. Incidentally, Erwin was ready to take me around by his motorbike. I won’t discuss what I got for 4 hours journey in the city, I’d better tell it in another article.
After returning from my exploration in city which famous for its “war veteran bentor” (bentor is public transportation in Pematang Siantar which using old Harley Davidson) , I went back to INTRA bus office and was ready for departing to Pekanbaru. Thanks Erwin for brought me to sightseeing Pematang Siantar.
Me and Erwin.
Slowly I started to get in INTRA Bus. It is embedded in my mindset that I must ready to ride this land roller coaster all night. There is a lot of info which I have gotten in internet that this “running box” will run very fast through roads towards Riau. Indeed, drivers from Sumatra are very well known for their high adrenaline in driving cars or buses. I’ll also tell you later when I couldn’t sleep when riding ANNANTA travel from Pekanbaru to Bukittinggi which is just as crazy in its speed.
That soft seats that I will occupy for 14 hours to travel about 600 km towards Pekanbaru.
I said that this bus is very comfortable, as comfortable as Jakarta to Solo buses (Jakarta is capital city of Indonesia, Solo is my hometownin Central Java) that I often ride when going to my hometown.…Well, you just know my origin.
It will become perfect if a socket under my seat is functioning, so I can just write on laptop or just charge my camera which is low battery. Unfortunately, all socket on all seats didn’t work.
Of course, I can’t enjoy night views out there because condition was really dark. I can only enjoy speed of bus in preceding every vehicle in front of it. This driver is amazing.
On next day, I could see real views from suburb of Trans Sumatra Highway.
Gardens belonging to residents
Or economic growth was seen from appearance of these shop houses.
Only 1 or 2 traffic jams which I encountered along the way because there was a road renovation, so all vehicles had to queue with other side to get through half of road.
Entering Pekanbaru city, bus began to slow down because urban traffic would certainly be more dense.
It wasn’t a terminal like I imagined where I will be taken down. But it was only a non-permanent building which is the final destination of INTRA bus:
A restaurant with a row of clean toilets.
After cleaning my body then I was exiting the building, I was offered by motorbike and taxi drivers to head to downtown. But to avoided a high price, I prefered to use online transportation services to go to Hotel.
I put my backpack and started exploring “Madani City” (madani city is another name of Pekanbaru city)
PAHAWANG….Berasal
dari kata dasar HAWANG yang merupakan nama seorang Tiongkok yang datang ke
pulau ini pada Abad ke-18. HAWANG seterusnya berketurunan dan kemudian berakulturasi
dengan pendatang lain dari penjuru Nusantara untuk menempati dan memakmurkan PAHAWANG.
Kedatanganku
ke Lampung kali ini memang karena Pahawang. “Dia” membuat tidurku tak pernah
nyenyak sebelum Aku benar-benar
menjejakkan kaki kesana.
Kaki baru
juga diselonjorin untuk mengusir lelah setelah mudik lebaran dari Solo, bahkan
belum genap 24 jam beristirahat….Aku langsung mengisi backpackku dan berangkat ke Lampung untuk segera membunuh rasa
penasaranku akan Pahawang.
Berbagi
dengan budget mudik lebaran, Aku memutuskan untuk mengunjugi Pahawang dalam One Day Trip saja. Biaya perahu dan sewa
penginapan di Pulau Pahawang yang relatif mahal, mengalahkan egoku untuk
bermalam di Pahawang.
Dan untuk
menghemat pengeluaran, jalan terbaik adalah bergabung dalam open trip. Berhubung Aku memiliki teman
kantor asal Lampung, akhirnya Aku dihubungkan dengan Aero Travelindo Utama yang
merupakan salah satu dari sekian banyak penyelenggara open trip disana.
Inti dari open trip itu kan menanggung biaya trip yang mahal dengan cara patungan.
Tak perlu berfikir panjang, Aku segera mentransfer Down Payment daribiaya One Day Trip Pahawang. Oh ya, biaya keseluruhannya adalah Rp. 175.000/pax includelunch.
Memulai trip ke Pahawang, Aku menggeber sepeda
motorku menuju meeting point yang
ditetapkan yaitu Dermaga 4 Pelabuhan Ketapang.
Jam 05:30 mulai meninggalkan hotel dan lewat di Banking Monument Lampung
Sesuai
perkataan driver ojek online sehari sebelumnya, jalur yang kulewati memang
sangat ramai dengan lalu lalang para anggota TNI-AL yang berkejaran dengan
waktu masuk kerja mereka.
Keberadaan
mereka di jalanan saat kondisi masih gelap membuatku merasa sangat nyaman.
Berkendara perlahan Aku berusaha menikmati suasana Jalan Raya Way Ratay sebagai
akses utama menuju Dermaga 4 Ketapang.
Patung “Selamat Datang” di kawasan wisata Pesawaran.
Perlahan
Sang Surya mulai menyibak gelapnya pagi, perlahan juga sepeda motorku melaju
tepat di garis pantai untuk menyuguhkan kehadiran riuhnya suara laut di sisi
kiri perjalananku.
Perlahan
Aku melewati setiap pintu Dermaga Ketapang dari pintu Dermaga 1, hingga
akhirnya pintu Dermaga 4 berhasil kujejaki.
Jam 06:31 Dermaga 4 Ketapang ada dihadapanku.
Memarkirkan
sepeda motorku di Dermaga dengan selembar puluhan ribu, kemudian Aku hinggap di
menu lontong sayur sekitar dermaga. Dengan membayar Rp. 12.000, perutku sudah
merasa siap untuk segera berlayar.
Dering
telfon dari penyelenggara open trip
memanduku menuju ke kantor mereka di sekitar Dermaga 4 untuk melunasi
pembayaran dan mengambil pelampung dan snorkel.
Tak sabar memeluk Pahawang
Tepat jam 9
perahu memulai perjalanannya, perlahan keindahan perkampungan di pesisir itu
terpampang jelas ketika Aku menjauhi dermaga. Perkampungan dibawah bukit dengan
siraman cahaya kuning “Sang Surya” pagi dikombinasikan dengan beberapa titik kepulan
asap tipis putih hasil aktivitas warga mampu membuatku duduk terpana di ujung geladak
belakang.
Punggung-punggung bukit itu menjadi pemandangan sepanjang berlayar.
Berkejaran dengan perahu cepat menuju Pahawang.
Sepanjang
waktu berlayar, Aku terus diliputi penasaran.
Hal ini dikarenakan penyelenggara tak pernah memberikan briefing sebelum perjalanan dimulai.
Apakah yang akan dilakukan pertama kali dalam trip ini?.
Perlu
menunggu 1 jam 15 menit, Aku baru mengetahui bahwa aktivitas snorkeling lah
yang menjadi pembuka trip ini. Untuk
menemukan lokasi snorkeling, pengelola tempat wisata membuatkan sebuah rumah
apung untuk bersandar setiap perahu yang membawa wisatawan.
Sebentar lagi bersandar
Aku lebih
memilih melompat langsung dari perahu ketika para pelancong lain mengantri
untuk menuju rumah apung itu. Menikmati pemandangan karang di bawah perairan
itu membuatku tertegun dengan kepadatan karang dibawahnya. Perlahan kuumpankan
biskuit kering ditanganku untuk mengamati lebih dekat para penghuni karang yang
lucu dan imut.
Sedikit
sedih juga, ketika melihat beberapa wisatawan yang tak faham bagaimana
seharusnya menikmati wisata karang….seakan tak peduli, beberapa mereka
menginjak karang untuk menjadikannya tumpuan berdiri….paraaaaahhhhh.
”Selamat Datang di Pahawang”dari atas rumah apung.
Aku harus
sedikit lebih cepat menginterupsi keasyikanku menikmati karang, karena Aku tahu
ubur-ubur menyapaku dengan sengatan pedihnya. Terpaksa Aku naik ke perahu untuk
mengurangi penyebaran racun ubur-ubur itu di leherku.
Menunggu yang lain selesai…..
1,5 jam
melakukan snorkeling membuatku tahu bahwa agenda berikutnya pasti makan
siang….lapar ampun.
Perlahan
menjauhi tempat snorkeling, Aku menuju ke Pulau Pahawang. Melewati gerbang
kedatangan, Aku langsung menuju ke bawah rimbunan pohon kelapa untuk menyantap
bawal laut bakar beserta sayur asem yang baru keluar dari tungku.
Tiba di pulau Pahawang.
Ludes dalam sekejap.
Aku pun tak
membuang waktu percuma dengan berkeliling pulau untuk menikmati kenyamanan
Pahawang.
Memaksimalkan 1,5 jam untuk eksplorasi Pahawang.
Tepat jam
13:30, Aku meninggalkan pulau Pahawang dan berlayar menuju ke Taman Nemo untuk
melihat aktivitas ikan badut.
Sedikit
koloni anemon laut yang menjadi tempat tinggal ikan badut terlihat di taman
ini. Ikan badut yang berhabitat disini juga mayoritas masih berukuran kecil.
Sepertinya taman ini sedang dikembangkan untuk menjadi habitat ikan badut di
masa depan.
Di bagian
akhir,….
Trip ini ditutup dengan mengunjungi Pulau Kelagian
pada jam 15:30. Kebanyakan wisatawan melakukan ibadah shalat, merebahkan diri
di deretan saung sewaan, bermain sepak bola di lembutnya pasir putih atau
menikmati kelapa muda langsung dari batoknya di pulau ini.
Pulau Kelagian yang dikelola oleh TNI AL
Lembutnya pasir putih yang melenakan.
Tepat pukul
16:00 One Day Trip Pahawang ini
benar-benar berakhir. Kembali ke Dermaga 4 untuk kemudian balik ke hotel dan
mempersiapkan diri untuk merelaksasi diri di Teropong Kota Bukit Sindy yang
kutetapkan sebagai destinasi wisata malamku berikutnya di Bandar Lampung.
That morning 8:27 am, I was getting ready to deeply explore Kaohsiung. A sliver of toast, a banana and a cup of tea became a free breakfast which provided by the hostel that morning.
felt like at home
Apparently, That Vietnamese and Indo-American backpackers were still asleep in Paper Plane Hostel’s clean and soft beds. They certainly enjoyed traveling in their ways which were different from mine. They looked more relax than me who is always agile everywhere for chasing time. My minimum budget that required me to visit many destinations in shorter vacation time.
Yes, I only slept in this cool hostel for a night because in next morning I would check out and leave my backpack at reception. I would take back it after completing my visitation on my last day in Kaohsiung.
MRT slowly moved away from Houyi Station and drove me to Kaohsiung Main Station.
My eyes were immediately aware from an existence of bus terminal near this MRT station.
Yess … I was indeed hunting for a bus towards the largest Buddhist monastery in Taiwan i.e Fo Guang Shan.
What is Fo Guang Shan? …..
Based on a reference which I got, It was an order in Buddhism that was very well-known in its efforts to modernize Buddhism in China. Because this order is very technologically literate … That’s about it.
In several minutes, I din’t see yet a bus number 8010 or 8011 which came into terminal, finally I asked someone who I thought he was a bus timer.
Bus station near Kaohsing Main Station
Maybe, because of often ask by tourists, it doesn’t take long time for him to understand my question. And I was asked to wait for the bus at end side of terminal.
Finally, The bus arrived.…got in it from front door, I asked driver whether the bus was really heading there. After saying “yes”, I immediately paid for about USD 2 and he gave me a ticket.
The journey began:
The joy of that day began with a pinky interior.
35 km journey with 45 minutes travel time was unable to make my eyes closed against my preoccupation on observing charms of Kaohsiung streets. Observing local people’s activities and passing various landmarks made me stunned along the way.
The front yard before entering monastery
I finally arrived …
There is no charge for entering this Buddhist monastery. Through front lobby, I found several shops which sell jewelry and souvenirs and several coffee shops (one of them is Starbuck) also.
I wasn’t interested in this area because I didn’t carry an adequate budget….Immediately come out and I found an incredible view:
Size of monastery plaza is very wide and became a camera’s target by anyone who visited this place.
Get close to Buddha statue! … surely you will be more impressed:
Under Buddha statue is location of Buddhist Museum and there are several prayer rooms for visitors.
I was also welcome to entering worship room to just see how worship procession do.
1.5 hours was a very valuable time because I could visit this place.
I closed my hunger by eating a serving of dinsum. I got it from a canteen which located in parking lot in front of monastery.
By the way, it was on 13:15 hrs.… I still had a lot of time … Where was my next destination?
WAY KAMBAS….Diambil dari nama sungai yang mengalir di dalam area Taman Nasional itu sendiri. Taman Nasional seluas 125 ribu hektar ini merupakan rumah bagi program konservasi beberapa hewan langka seperti gajah, badak dan harimau sumatera
Hanya saja
ketika Aku bertanya kepada salah satu petugas di Pusat Pelatihan Gajah (PLG)
Way Kambas, Pusat Konservasi Badak dan Harimau Sumatera belumlah dibuka untuk
umum.
Beberapa jam sebelum kedatanganku di TNWK………………….??????
Hari itu
adalah hari keduaku dalam eksplorasi Lampung. Pada malam hari sebelumnya, Aku
sibuk mencari informasi tentang keamanan menggunakan sepeda motor menuju Way
Kambas dengan bertanya kepada empat temanku yang asli Lampung. Dari keempatnya,
tiga diantara temanku meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja sedangkan
seorang lagi lebih ragu jika aku bermotor ke Way Kambas karena Aku bukan asli
orang Lampung…..takut begal lah intinya….seakan otakku sudah tercemar media
yang sering mengabarkan hal itu…..”tentang Lampung dan tentang begal motor”.
Simple saja akhirnya….karena pendapat mereka tiga
berbanding satu, Aku putuskan untuk berangkat ke Way Kambas keesokan harinya
menggunakan sepeda motor sewaan.
Perjalanan
dimulai,
Berangkat dari Redoorz @ Jalan Pangeran Diponegoro di daerah Teluk Betung, Bandar Lampung tepat pukul 07:25. Menyusuri jalanan kota Bandar Lampung selama 35 menit akhirnya Aku benar-benar meninggalkan Kota melalui gerbang akhirnya:
Gerbang “Selamat Jalan Bandar Lampung” di Jalan Lintas Barat Sumatera.
Aku mulai menyusuri jalanan yang banyak dilewati bus antar kota dan truk-truk bermuatan logistik. Jalur cepat ini mengharuskanku menarik gas sepeda motorku supaya tidak diklakson terus-menerus dari belakang.
Pada menit ke-40, Aku tiba di keramaian warga lokal. Aku mencari papan alamat disekitar, baru Kutahu bahwa ini adalah pasar Natar.
Pasar Natar….nadi ekonomi diantara Bandar Lampung dan Metro.
Melanjutkan
perjalananku kembali, di menit ke-55, Aku sampai di depan Bandara Internasional
Radin Inten.
Bandara ini tepat sekali berada di pinggiran Jalan Lintas Barat Sumatera.
Tertegun sejenak dan duduk diatas sepeda motor yang kumatikan, Aku mengamati sebentar aktivitas di sekitar Bandara. Sengaja kuluangkan waktu, karena Aku belum pernah mencicipi sama sekali Bandara ini. Sayang kedatanganku ke propinsi paling selatan Sumatera ini menggunakan jalur darat yang dikombinasikan dengan jalur laut Merak-Bakauheni.
Perjalananku
di sepanjang Jalan Lintas Barat Sumatera ini berkejaran dengan bus ukuran tiga
perempat.
ayolah bang sopir, Kita balapan.
Sebetulnya Aku bisa saja naik bus ini menuju Metro lalu berganti lagi dengan bus lain menuju Way Jepara (daerah terdekat dari Way Kambas yang terakses dengan angkutan umum). Dari Way Jepara bisa berlanjut dengan ojek menuju Way Kambas.
Atau bisa
juga menggunakan Bus DAMRI, yang menurut info terkini yang kudapat, hanya
berangkat sekali setiap hari dari Terminal Rajabasa di Bandar Lampung pada
pukul 8 pagi dan berhenti tepat di Pusat Latihan Gajah, Way Kambas.
Tapi Aku
lebih memilih menggunakan motor sewaan seharga Rp. 150.000/hari karena sepulang
dari Way Kambas, Aku bisa leluasa mengeksplore kota Metro. Selain itu, Aku
lebih bisa mendeteksi secara akurat jalur yang akan Kulewati menuju Way Kambas.
Menit
ke-65, Aku tiba di sebuah pertigaan besar yang
kedua percabangannya sama-sama menuju ke Metro.
Tugu Punduk (sebutan untuk keris asli Lampung)….Pilih lurus atau ke kanan?
Aku lebih memilih memakai jalur alternatif ke kanan. Menurut google maps, jalur ini lebih cepat dan tidak macet.
Benar bro…kagak
macet….swear
tapi sepi minta ampun…..Jalan Raya Kota Metro memacu detak jantungku….mulai sedikit jiper.
Setelah
melewati hamparan kebun karet itu, Aku selalu mengikuti lekukan jalanan dan
kanal disisi kanannya.
kanal disisi kanan jalan Raya Kota Metro.
Senangnya hati
berhasil melewati kesepian itu ketika menembus gerbang awal Kota Metro
Menit ke-90, Selamat Datang Kota Metro.
Kembali
menemukan keramaian, kuputuskan untuk memenuhi tangki bahan bakarku sebelum Aku
terjebak dalam kesepian kembali.
Tugu Pos Polisi ini adalah landmark pertama yang kulewati ketika memasuki pusat Kota Metro.
Menit ke-115….bye-bye keramaian…
Aku meninggalkan Kota Metro di Jalan AH Nasution
Gerbang “Selamat Datang Kabupaten Lampung Timur “bersebelahan dengan Gerbang “Selamat Jalan Kota Metro”.
Terjebak dalam kemacetan panjang, Aku penasaran, ada apakah gerangan?. Mecoba merangsek ke depan dengan Honda Beat sewaanku menerobos jalan tanah di pinggiran aspal jalan raya, akhirnya kutemukan jawabnya….Bus penumpang besar mogor di tengah jalan karena kehabisan bahan bakar, mencoba didorong banyak penumpang dengan pengawasan para polisi lalu lintas.
Menit 120. Welcome Pasar Pekalongan !….pasti disini banyak orang keturunan Jawa….namanya aja begituh.
Pasar Pekalongan di jalan AH Nasution
Menit
ke-130, Aku kembali dihadapkan pada dua pilihan….dirimu atau dirinya?
Aku lebih
memilih Dia…..#apaansih.
Ambil belokan ke kanan menuju Jalan Raya Batanghari Nuban
Taman Maskot tepat di tengah pertigaan itu.
Beginilah suasana Jalan Raya Batanghari Nuban
Halusnya
aspal Jalan raya ini akan berlanjut hingga Jalan Raya Sukadana….tapi ya begitu,
Akulah si pemilik jalan raya….sepi brur.
Pada menit
ke-150, tibalah diperempatan ini:
Perempatan Jalan Soekarno-Hatta dan Jalan Lintas Timur Sumatra
Muara jalan
ini sebetulnya sama:
Ke Kanan ke
Way Jepara dan Kamu akan menelusuri Jalan Lintas Timur Sumatera.
Atau bisa
juga lurus, Ke Way Jepara juga sih….tapi Kamu akan melewati perkampungan warga
dan akan tembus kembali ke Jalan Lintas Timur Sumatera.
Tentu
kupilih yang lurus, supaya aku bisa melihat aktivitas para warga Sukadana.
Mencapai Pusat Perbelanjaan Sukadana di menit ke-160
Tak berselang lama, Kamu akan melewati landmark ini:
Tugu Kota Sukadana sebagai kecamatan yang menjadi ibu kota Kabupaten Lampung Timur.
Tugu kota
Sukadana ini menampilkan sosok pejuang kemerdekaan dari Kecamatan Sukadana
yaitu Kolonel Arifin.
Dari tugu
ini luruslah hingga bertemu perempatan di dekat Kantor Kecamatan Sukadana, lalu
segeralah berbelok kekiri
Menuju Jalan Minak Rio Ujung setelah belok kiri
Pada menit ke-170, Aku memasuki Jalan Lintas Timur Sumatera setelah melewati landmark ini:
Taman Banding menampilkan patung pahlawan Nasional Kiai Haji Ahmad Hanafiah
Boleh
kubilang aspal jalanan Lintas Timur Sumatera di Lampung Timur ini sangat mulus.
Jalan Lintas Timur Sumatera kayak aspal sirkuit motogp ya….
Tugu Selamat Jalan Kecamatan Sukadana kulewati di menit ke-175
Aku
berganti memasuki Kecamatan Way Jepara. Dan yang kutunggu tiba……ya, Aku ingin
melihat bagaimana aktivitas pasar Tridatu. Pasar yang terkenal di dunia maya
karena sering disebut para traveler ketika menuju ke Way Kambas.
Pasar Tridatu di menit ke-180.
Aku tak
akan berbelok kekiri dari pasar ini untuk menuju ke Way Kambas. Aku lebih
memilih lurus untuk menambah kembali referensiku dan kubagikan ke kalian.
Ya….Aku lebih memilih menuju Pasar Gunung Terang (sayang Aku lupa membuatkan fotonya untuk kalian) yang berjarak 5 menit berkendara motor lalu baru berbelok ke kiri.
Belokan setelah Pasar Gunung Terang, masuk gerbang Desa Labuhan Ratu VI
Semakin
dekat dengan Pusat Latihan Gajah Way Kambas, Aku memasuki desa Labuhan Ratu VI
Jalanan sepanjang Desa Labuhan Ratu VI
Rest Area Labuhan Ratu di ujung desa
Rest area
ini banyak digunakan para wisatawan yang akan menuju atau bahkan telah usai
dari wisata PLG Way Kambas.
Karena rest area ini tepat berada dipertigaan
di pinggiran Taman Nasional Way Kambas, maka aku mengikuti petunjuk arah dengan
berbelok ke kanan.
Perhatikan tanda panah….belok ke kanan menyusuri jalanan yang membelah Taman Nasional Way Kambas
Jalan sepanjang Taman Nasional Way Kambas
Disepanjang jalan TNWK, Aku sesekali menemukan mobil para wisatawan berhenti untuk sekedar memberi makan kepada sekawanan monyet liar yang sering melintas jalanan.
Akhirnya penantianku tiba….MENIT KE 205 Aku tiba di gerbang Pusat Latihan Gajah, Taman Nasional Way Kambas.
Bahagia banget sampai di Gerbang Pusat Latihan Gajah Way Kambas.
AMANKAH
perjalananku?…..Boleh kusimpulkan sangat aman dan tak ada nuansa kriminalitas
disini. Hanya pesan dari para temanku yang asli Lampung….Jangan pulang melebihi
jam 6 sore.
Sometime, My cheap traveling habit often sacrifice an important thing. A thing which often becomes a traveler concern when visiting a new destination i.e tasting the destination’s culinary wealth.
But this traveling was different. This was a business trip which allowed me to explore Belitung taste from famous culinary places. For a moment, I would leave street foods which usually be my daily meal when traveling.
So this is the point … for 3 days – 2 nights in Belitung, I visited these culinary places. Places where you can certainly visit also when traveling there.
1. BelitungNoodle
Belitung Atep Noodle
My visitation in Belitung was welcomed with Belitung’s noodle dish. Yellow noodles plus sprouts smothered in shrimp sauce, combined with “emping” (Indonesian chips) and shrimp “bakwan” (an Indonesian fried meal consisting of vegetables and batter) made this visit so memorable.
Don’t forget to eat “kepiting isi” (processed crab meats) at this “Mie Atep” resto. You don’t have to bother in breaking the crab, because its meat has been separated and put back into its head shell with a thin bandage of egg yolk. Very nice…… it can’t be revealed.
Combined with “jeruk kunci” (a kind of orange) ice, it will help to cooling your body from hot Belitung weather.
2. Kepayang Island Seafood
My sunburned face
Starved tourists after snorkling and sightseeing in Lengkuas Island waters will visit this restaurant.
A restaurant with seafood menus majority is located on Kepayang Island.
Don’t ask about the taste ! … How does it feel when you starve in waters then eat fresh grilled fish on an exotic island … hmmm. I am just still remember the delicious taste when writing it in this article.
3. Dapoer Belitung
Located on edge of Sudirman road and has seafood dishes with a combination of spices which make my tongue very addict. Combined with various variants of fruit juice, making my night in Belitung very special
4. Kedai Kelapa
A right place to relax in the night after a day sea tour is cafe. A cafe which be our choice that night was Kedai Kelapa.
Try its milk coffee ! … so wonderfully delicious, I spent two glasses until late at night.
A place where very identic with young people. It can be seen from three-dimensional art in its interior. It made me feel like I’m in a modern cafe as good as cafes in Jakarta (Indonesia capital city).
Come to Jalan Nuri and spend your night at this café !…. I guarantee, it will be nice.
5.Kupi Kuli
Do you want to sip coffee from Belitung with its famous aroma?
Order a cup of Kuli Kupi in back room of Andrea Hirata Word Museum !
You can enjoy coffee which is commonly brewed for tin mining workers only for USD 0,3. Coffee which boiled with firewood and drunk in a typical Belitung tavern.
You might be able to try it…It must.
6. FegaRestaurant.
Enjoying lunch on Serdang beach is a beautiful closing for my adventure in Belitung. Resto which is directly connected to pier, makes it so crowded because it was visited by many tourists.
The two-storey main building which was shaped like a ship gives a characteristic that this restaurant is a good sea food presenter.
Located in eastern part of Belitung and standing right on edge of brackish water lake, this restaurant feels calm and suitable to be used as a combination of culinary tourism as well as a place for your fatigue relaxation after exploring Belitung.