• <—-Previous Story

    It would take a little longer to take a free service to the inn than riding the LRT “Laluan Kelana Jaya”. But in order to get around for the lack of Ringgit, I still decided to just take the free service of Go KL City Bus.

    Hurrying to leave KLCC Park, I headed towards the KLCC bus stop which is located right in front of Suria KLCC. Arriving under the bus stop auspices, the green line of the “Free Bus Service” had been waiting for its passengers.

    I rode it to reach the interchange point between lines, namely the Pavilion bus stop. From there I would catch the Go KL City Bus purple line to reach the Pasar Seni Bus Hub, the closest bus stop to my accommodation, namely The Bed Station.

    —-****—-

    Cheating underhandedly, I stepped up The Bed Station stairs, hoping not to be spotted by the receptionist when I crossed the inn’s front door. It was because I had checked out that morning, but that time, I forced myself to take a shower in the inn’s shared bathroom on the 3rd floor.

    I made it through the reception room on the 2nd floor, at a glance I saw the reception staff were busy serving the inn’s guests who seemed to only just be arriving, indeed I arrived when the check-in period had opened.

    Quickly moving, I immediately took a shower to clean all the sweat after walking around town that morning.

    As soon as I finished bathing, I immediately went down to the reception desk to pick up the backpack I had left since morning.

    The long queue at the reception desk made me invisible when I just came down from the top floor which wasn’t my right to enter it again, let alone to do any activity on that floor….Damn, Donny.

    —-****—-

    Succeeding to get a backpack, I rushed to Pasar Seni LRT Station which is only 200 meters from the inn.

    When I arrived, I rushed to the automatic vending machine to exchange 1.3 Ringgit for a round blue token. That token would guarantee me to move toward KL Sentral.

    The LRT Laluan Kelana Jaya with four wagons arrived to pick me up on the second-floor platform, and then I was following its spinning wheels heading to KL Sentral, which wasn’t even one station apart.

    Within 15 minutes, I arrived at KL Sentral….

    Down the escalator, I arrived at the first floor, and without long thinking, I immediately rushed to the basement level. I had an advantage in that I memorized the whole layout of KL Sentral, at least I had visited that famous transportation hub seven times. That was what made that so easy for me to reach the Aerobus ticket sales counter.

    Aerobus is transportation from KL Sentral to Kuala Lumpur International Airport Terminal 2 (KLIA2) which offers cheap travel when compared to using taxis, the KLIA Transit train, or the KLIA Ekspres.

    I handed over 12 Ringgit to get a ticket to the airport.

    —-****—-

    A quarter of an hour past four in the afternoon….

    After traveling for 45 minutes, I arrived at the 1st floor of Kuala Lumpur International Airport Terminal 2. I was dropped off at one of the platforms at the transportation hub at Gateway@klia2.

    Even though my flight would take place at nine in the evening, that didn’t stop me from going straight to the 3rd floor to see more detailed flight information. As usual, I was always detailed and strict about flight schedules, at least that afternoon I had to find out the number of the check-in desk I would exchange my e-ticket for a boarding pass and at what gate my plane would take off.

    I couldn’t hide a slight smile from my lips when I managed to get that information on the giant LCD on the 3rd floor.

    “17:20, it turns out….”, I thought when I found out when the check-in desk would open.

    I decided to do the last congregational prayer in the mosque on the 2nd floor and of course, planned to have dinner afterwards.

    Not as usual when I was looking for food at KLIA2. That afternoon the regular restaurant serving cheap Indian food was closing. Was NZ Curry House whose location was covered by renovation boards.

    But I don’t bother….

    In 2015, I ate at a food court located on the 2M floor. I slightly forgot the position of the food court. But I intended to look for it until I found it. There was a padang-typical restaurant that offers cheap food in the food court.

    “That’s it….”, I cheered inside when I saw the food court from a distance.

    “Quizinn by RASA….”, I recited the name of that food court.

    “Restoran Padang Kota Group….”, yupzzz I saw the restaurant I was looking for.

    Presumably not able to linger, I headed for the Padang-typical restaurant and then looked for a menu according to the condition of my wallet. That was when my Ringgit would run out.

    Fifteen minutes before checked-in, I was finally able to enjoy a portion of rice for 5.9 Ringgit. That was the rice I ate after I last ate it a day before.

    Level 2 Gateway@klia2.
    View from Gateway@klia2 Floor 2M.
    Several restaurants at Gateway@klia2.
    So, that was Quizinn by RASA food court.
    My menu that night: White rice, hard-boiled eggs, and vegetables.

    Taking a seat, I enjoyed the dinner and then got ready to take my flight.

    Was I going home?….

    No….The real adventure was about to begin.

    I would fly to a city in southern India….KOCHI.

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Gelisah, menengokkan muka ke kanan dan kekiri, sesekali tetapan mata memeriksa aplikasi di telepon pintar.

    Sementara waktu yang tak menganggap keberadaanku, terus bergulir. Surya sudah semakin meredup di ufuk barat.

    Sebentar lagi gelap, adzan maghrib telah siap dikumandangkan.

    Sementara di sisi lain jalanan kota, pengemudi ojek itu tampak kebingungan mencari jalan menjemputku. Berkali-kali merubah haluan walau jarak sebetulnya sudah sangat dekat. Beberapa kali menjauh kembali mencari ruas jalan lain.

    Apalagi kalau bukan kemacetan kota yang memaksanya berbuat demikian. Beberapa titik jalanan stuck, dipenuhi warga kota yang bereuforia menyambut waktu berbuka puasa. Ramadhan sudah memasuki hari keempat belas ketika aku berkunjung ke Palangkaraya.

    “Dinn….Dinn….Dinn”, suara klakson sepeda motor terdengar dari sisi kiri, ketika tatapanku terus kuarahkan ke kanan karena memang seharusnya ojek online itu akan datang dari sisi kanan.

    Aku lekat memperhatikan plat nomor kendaraannya. Benar itu adalah ojek online yang sedang kutunggu.

    Aku menghampirinya.

    “Maaf, Kaka….Jadi lama nunggunya, macet dimana-mana, susah cari jalannya, Ka”, pengemudi berperawakan kecil dengan wajah khas suku Dayak itu sopan menyampaikan alasan.

    “Tak apa, Kaka…Ayo kita segera berangkat ke tujuan saja”, aku berfokus mencapai tujuan.

    Dengan gesit, pengemudi itu menggeber sepeda motornya menuju ke timur, meninggalkan Taman Pasuk Kameloh dan keindahan sempandan Sungai Kahayannya.

    “Wah pas banget ini, Kakanya ke Dermaga Rambang. Jam segini sedang ramai-ramainya, Ka”, dia memberikan informasi yang semakin menguatkan semangatku.

    “Oh gitu ya, Ka. Saya ke sana selain mau hunting foto juga sekalian mau berbuka puasa”, aku menambahkan.

    “Wah kalau memang demikian berarti sudah pas, Kaka. Ada pasar kuliner di sana. Anak muda Palangkaraya sedang nongkrong di sana di jam-jam segini”, dia menutup percakapan.

    Sepuluh menit perjalanan mengantarkanku untuk tiba di pintu gerbang demaga.

    Aku turun dari motor, mengucapkan terimakasih kepada pengemudinya, menghela nafas sejenak dan segera memperhatikan situasi sekitar.

    Indah sekali….Pelita warna-warni telah menghiasi setiap sudut dermaga.

    Inilah Dermaga Rambang yang pernah berjaya sebagai pusat utama transportasi kota sebelum fungsinya digantikan oleh Jembatan Kahayan yang dibangun dua dekade silam. Dermaga Rambang pernah berjasa menghubungkan berbagai daerah di Palangkaraya yang terpisahkan oleh Sungai Kahayan.

    Di sisi kanan gerbang, deretan stand kuliner pasar malam, menyala terang benderang. Meja-meja telah dipenuhi muda-mudi dengan menu makanan pilihan masing-masing.

    Lurus menatap ke depan, sebuah perahu besar tampak bersandar di salah satu sisi berth. Mengangguk-angguk anggun diterpa aliran Sungai Kahayan dan memendarkan terpaan cahaya senja yang menghantam dari sisi barat.

    Sementara di sisi kiri gerbang, hamparan dermaga apung berbahankan kayu telah diakuisisi oleh muda-mudi yang lebih memilih berlesehan demi menunggu adzan Maghrib tiba, juga lengkap dengan menu makanan yang telah dipesannya dari stand kuliner.

    Tak mau kehilangan semburat senja terakhir di sore itu, aku melangkah cepat menuju berth area. Mengabadikan beberapa spot menarik Dermaga Rembang yang masih indah diterpa senja.

    Akan tetapi, baru saja mendapatkan beberapa jepretan menarik. Adzan Maghrib benar-benar tiba. Namun. misiku mencari gambar-gambar terbaik belumlah usai, maka aku memutuskan untuk terus melanjutkan berburu foto-foto terbaik. Aktivitasku itu hanya terhenti sejenak karena harus berbuka dengan meminum air mineral yang telah kusiapkan sedari hotel.

    Lebih dari lima belas menit lamanya dari waktu berbuka aku tetap berfokus pada bidikan lensa Canon EOS M10. Sedangkan di belakang punggungku, para pengunjung Dermaga Rembang telah larut dalam kenikmatan menu-menu makanan mereka.

    Dermaga Rambang sebelum gelap.
    Kapal restoran bersandar di Dermaga Rambang.
    Dermaga kayu, tempat pavorit untuk lesehan.
    Pasar Kuliner Dermaga Rambang.
    Gagal menyantap Asam Padeh.

    Usai mendapatkan foto yang cukup, aku berbalik badan dan memutuskan untuk mulai berburu menu berbuka puasa. Sayangnya, beberapa stand kuliner penjual makanan khas Palangkaraya tampak tutup, padahal jenis makanan itu yang sedang kucari.

    Menurut para penjual, memang selama Ramadhan, pasar kuliner tersebut mengalami penurunan jumlah pengunjung dan biasanya akan normal kembali setelah Ramadhan usai. Oleh karenanya beberapa stand kuliner lebih memilih untuk menutup standnya dan akan membukanya kembali usai Ramadhan.

    “Ikan Padeh, Kaka….Ayo mampir !”, seorang ibu penjual makanan  laut menyapaku.

    “Oh, Ikan Peda, Bu?”, aku menanggapi antusias.

    “Padeh….Padeh”, dia mengulang lagi

    “Peda…?”, aku terus berasumsi sendiri.

    “Asam Padeh….”, dia menunjuk sepiring ikan kembung asam manis yang sedang disantap pelanggannya

    “Oh, Asam Manis…”, aku tertawa cekikikan.

    “Ya sudah, Ikan Kembung goreng saja, Bu”, aku yang sedang menghindari makanan pedas memutuskan untuk duduk di Warung Mama Putri untuk menghemat waktu.

    Saatnya berbuka puasa.

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Aku tak bisa berlama-lama di atas Jembatan Kahayan. Waktuku tak banyak, waktu berbuka puasa di Palangkaraya setengah jam lebih cepat dari waktu berbuka puasa di Ibu Kota. Oleh karenanya kuputuskan untuk segera menyudahi eksplorasi di Jembatan Kahayan.

    Aku memasukkan Canon EOS M10 ke dalam folding back di punggung. Lalu untuk terakhir kali menatap sejenak pesona di bawah jembatan. Baru kemudian benar-benar beranjak pergi meninggalkan eksotisme itu.

    Tetapi sebelum sepenuhnya pergi, aku melambaikan tangan kepada photographer professional di seberang trotoar. Dia tersenyum mengangguk sebagai respon atas lambaian tangan yang kuberikan. Mungkin kami berdua memiliki kemistri dan saling paham sebagai pemburu pesona alam.

    Sesuai dengan niat yang tetiba hinggap dalam diri semenjak melihat hijau mempesonanya Masjid Darul Amin dari atas jembatan, maka aku pun bergegas menuju masjid itu. Masjid mungil itu berada di sudut timur sebuah taman kota. Oleh karenanya, secara otomatis aku akan menikmati sejenak taman kenamaan itu.

    Berjalan memutar dengan titik balik di pangkal selatan jembatan, aku berhasil mencapai gerbang taman dengan cepat.

    Gerbang taman itu terlihat khas, berupa gapura dengan ornamen dan motif Dayak lekat tersemat di setiap jengkalnya. Sementara signboard penunjuk arah ke berbagai kota ada di sebelahnya.

    Tanpa ragu aku memasuki taman dan sejenak mengambil tempat duduk di area teater terbuka. Duduk ditangga paling atas, aku dengan leluasa bisa menikmati aktivitas warga di seluruh penjuru taman.

    Rona Bahagia terpancar dari setiap wajah pengunjung taman. Kondisi itu turut membuat moodku kembali menanjak setelah sesiangan dihajar dehidrasi yang hampir melemahkan langkah.

    Itulah keajaiban taman kota….

    Jika kamu ingin menemukan kebahagiaan maka jangan ragu untuk pergi ke taman kota. Niscaya kamu akan mudah sekali mendapatkan atmosfer itu. Boleh dikata, setiap orang akan pergi ke taman kota dengan suasana riang dengan beragam tujuan. Bertemu teman, menyambut senja, merasakan sejuknya udara kota di bawah naungan pepohonan rindang serta menikmati kuliner lokal dari deretan kedai sekitar.

    Kontan senyumku merekah ketika duduk di ketinggian, menikmati semua suasana itu dengan seksama.

    Sekelompok muda-mudi telah bersiap diri menyambut waktu berbuka puasa dengan berbincang-bincang dengan sesamanya, sembari menghadap sajian takjil yang di gelar di tengahnya. Beberapa yang lain, tampak berkumpul di sebuah patung raksasa Burung Enggang dengan sibuk berfoto berlatarkannya. Selebihnya, mereka menikmati aliran deras Sungai Kahayan dari teras lantai dua Masjid Darul Amin.

    Beberapa saat kemudian, aku bangkit dari duduk dan melewati seperangkat air mancur yang sedang tidak dioperasikan.

    “Alangkah indahnya taman ini jikalau air mancur ini memancar sesuai dengan pola yang dihasilkannya”, aku melihatnya sepintas.

    Kemudian….

    Aku bergegas menuju ke masjid demi menunaikan shalat tahiyatul masjid seperti yang telah kuniatkan.

    Aku melewati sebuah nameboard besar berwarna kuning emas.

    “PASUK KAMELOH….Oh, itu nama taman ini”, aku termanggut-manggut.

    Pasuk Kameloh merujuk pada sebuah makna dalam Bahasa Dayak. “Pasuk” merujuk pada “Bakul atau Barang”, sedangkan “Kameloh” merujuk pada “Gadis Dayak Ngaju”. Secara singkat bisa dikatakan bahwa Pasuk Kameloh memiliki makna sebagai barang berharga yang dimiliki seorang gadis Dayak yang cantik.

    Gerbang Taman Pasuk Kameloh.
    Taman penuh motif Dayak.
    Sempadan Sungai Kahayan dilihat dari teras Masjid Darul Amin.
    Interior masjid.
    Salah satu spot kongkow taman.
    Patung Burung Enggang.

    Kembali pada langkahku menuju ke masjid.

    Melalui sebuah jembatan mini, aku tiba di teras atas masjid. Melepaskan alas kaki, aku memasuki area teras dan langsung menuju ke bagian teras yang berhadapan langsung dengan aliran Sungai Kahayan.

    Tampak aliran deras air sungai berwarna kecoklatan yang dihiasi dengan lalu-lalang kapal penumpang berukuran kecil yang melintas di tengahnya. Sedangkan di sepanjang sempadan, tepat di bawah tempatku berdiri , berjajar deretan cafe-cafe panggung yang mulai dibanjiri muda-mudi demi menikmati hadirnya senja.

    Selanjutnya, aku mulai meninggalkan pemandangan indah itu, mengambil air wudhu untuk kemudian menunaikan shalat tahiyatul masjid dua raka’at. Hatiku berasa damai ketika bersujud di atas sajadah. Mudah sekali bagiku untuk masuk ke dalam kekhusyu’an, karena hanya diriku seorang yang berada di dalam masjid mungil itu. Itulah kesempatanku untuk memanjatkan syukur kepada Sang Kuasa yang berkehendak mengantarkan langkahku hingga tiba di “Kota Cantik”.

    Kota Cantik….Yups, begitulah julukan bagi Kota Palangkaraya.

    Usai melaksanakan shalat, aku termangu terpesona dengan interior masjid yang dominan klasik oleh karena furniture berbahan kayu jati berusia tua. Menunjukkan bahwa taman kota dan seisinya itu didesain dengan sempurna demi menaikkan kebahagaian masyarakat Palangkaraya.

    Lantas aku meninggalkan masjid itu ketika waktu sudah semakin merapat ke waktu berbuka puasa. Waktuku telah terhitung mundur sejauh sepuluh menit semenjak itu.

    Tapi demi melengkapi eksplorasiku, sejenak aku melangkahkan kaki menuju patung raksasa Burung Enggang yang masih saja ramai dikerubuti oleh pengunjung.

    Burung Enggang memang menjadi burung terkenal khas Kalimantan yang dianggap oleh mayarakat sebagai titisan dewa yang menyebarkan perdamaian di muka bumi. Sejenak aku termangu memperhatikan bentuk paruh burung itu yang memiliki keunikan tersendiri.

    Namun, karena waktu yang tak lama lagi, aku segera beranjak menuju gerbang taman. Aku harus segera beranjak menuju Dermaga Rambang.

    Aku akan berbuka puasa di tempat itu.

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Previous Story

    The sun was at the peak of its power when I decided to retreat from Petronas Twin Towers’ yard. I couldn’t hide the wry smile on the corner of my lips and felt like I was a traveler who didn’t understand priorities just because I visited the Twin Towers right in the middle of the day.

    I tried to make peace with myself and intended to make up for that mistake by presenting a new destination in my adventure history. Not a prestigious place, but it could make up for my priority error before. On the other side, this place could be the right spot to drown out the sun’s arrogance.

    I stepped towards the east. While trying with all my heart to resist the temptation of the magnificent Suria KLCC gate, the shopping paradise in downtown Kuala Lumpur. How could it not be, a long line of classy four-wheeled vehicles willingly queued in front of it while the visitor’s flow kept flowing in and out of this upscale shopping center?

    Arriving at the two-section road on the east side of Suria KLCC, I continued heading south. I still tried to hide from the sun under the palm trees that line up neatly in the middle of the sidewalk….yupzz, a single sidewalk that perfectly divides the road into two lanes.

    Slowly, at the end of the road, lush large trees began to appear, giving the city a contrasting atmosphere. It was as if I was heading to an oasis in the middle of the concrete jungle of the city.

    Even from afar, I was able to feel the fresh air blowing from that green area. Automatically made me speed up my steps toward it. After passing over an underpass base, I found a green area’s gate.

    This was Kuala Lumpur City Center Park….People knew it as KLCC Park.

    I entered the park from its entrance which was on the left side of the KLCC Park Office building. Entering the park, I took a seat in the resting area which was in a gazebo form right on the east side of Symphony Lake. Wooden benches with concrete legs can be seen scattered all over the park, placed under the shade of large trees whose identities were displayed in barcodes on yellow paper and taped to each stem.

    Perhaps this was where the most favorite part of the park was because visitors could intensely stare at the patterned fountain against the background of the Petronas Twin Towers which were supported by Suria KlCC’s low-extended buildings. As if I didn’t want to quickly leave my sitting position.

    The city park with a Brazilian-style architectural touch began to be traced deeper when I started to get up from my seat. Stepping along its jogging track, I decided not to pass a bridge that connects Symphony Lake and the children’s pool.

    I preferred to pass the jogging track on the north side to get closer to the KLCC Park Children’s Pool. The crowd and coolness that appeared at the children’s pool held back my power to look away. Instead of leaving, I was unconsciously leaning on one of the benches at the edge of the pool.

    The main actor in the pool with a depth of just above the ankles was a sculpture of a jumping white whale which was dramatized with the help of a fountain in the tail. While the sculpture of two dolphins also jumped on its side. In addition, the walls of the pool decorated with artificial waterfalls were very inviting for children to get wet under them.

    A perfect concept, when the Children’s Pool was juxtaposed with the Children’s Playground in the east. This allowed children to choose one of them or even play in both alternately. Like a Children’s Playground in general, this section was filled with swings, seesaws, and rides up-down stairs with the playground’s floor covered with Ethylene Prophylene Diene Konomer which created a soft and safe tile sensation for children.

    For finally….

    My adventure in the park ended on a stretch of grass perfectly circled by a jogging track.

    It was past noon…

    I had to have lunch before returning to the inn and in the end I would stop at the airport to determine my next steps.

    Since the afternoon before, my Ringgit had run out and was only enough for the budget to take the bus to the airport and had dinner in it later…..So I decided to eat from a potluck lunch, especially if it wasn’t the same menu as last night’s dinner and breakfast that morning….That was oat powder which only need to be watered with mineral water. A circle of jogging tracks with grass in the middle became the backdrop for my lunch that day.

    KLCC Park Tasik Simfoni (Lake Symphony Fountain) on the west side.
    Jogging track and bridge linking Lake Symphony and Children’s Pool.
    Cool and chill garden atmosphere.
    KLCC Park Children’s Pool was right in the middle of the park.
    KLCC Children Playground.
    KLCC Children Playground.
    The spot I found for lunch.

    KLCC Park, a one-hectare city park….

    It was a simple place that I had wanted to visit since 2014, but I had visited it many times or just stopped by in Kuala Lumpur, and many times I had failed to visit it, of course, the big obstacle was the very difficult time available each time I visited Kuala Lumpur.

    This is my best redemption with the success of stopping by that afternoon. I deliberately pushed my way through the traffic jam to Kuala Lumpur City Center but I didn’t put my intention on the Twin Towers but on my main goal that day….KLCC Park.

    I left the park feeling happy…Time to go back to the inn, pack up, and went to the airport.

    Next Story—->

  • Sejenak aku terduduk di sebuah taman mungil di sisi selatan Jalan Kinibalu. Memang sengaja untuk sejenak aku mendinginkan tubuh setelah sengatan surya yang masih menjadi-jadi walau waktu sudah tak lagi di puncak hari. Duduk bersama beberapa warga lokal yang sama gerahnya atas cuaca kota.

    Toh di sepanjang dudukku, aku tak diam. Jemariku lincah mencari destinasi yang memungkinkan untuk kukunjungi dalam jarak dekat.

    Aku hanya punya waktu kurang dari tiga jam untuk mengeksplorasi kota di hari pertama eksplorasi. Itu semua karena aku turut dalam penerbangan siang Citilink bernomor QG 452 dari ibu kota.

    “Jembatan Kahayan….Ya itu!”, aku memutuskan.

    Jembatan kota itu bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Berjarak tak lebih dari satu kilometer dari tempatku duduk.

    “Hanya perlu melangkah ke utara sekejap saja”, aku membatin yakin.

    Dalam beberapa saat, aku mulai mengayunkan langkah. Energiku masih penuh, toh aku baru saja mendarat di Tjilik Riwut Airport beberapa jam lalu.

    Aku mulai beranjak untuk mengikuti kontur melekuk jalanan yang mengelilingi area alun-alun kota yang tertutup rapat dengan lembaran-lembaran seng proyek renovasi.

    Hingga kemudian aku berbelok ke barat di Jalan Tjilik Riwut.

    Sudah dua kali aku menyebut nama Tjilik Riwut. Itu siapa ya sebenernya?

    Tjilik Riwut adalah nama Pahlawan Nasional dari Palangkaraya. Sebelum menjadi Gubernur Kalimantan Tengah, dahulu kala Tjilik Riwut adalah seorang perwira Angkatan Udara yang menyandang pangkat Marsekal Pertama dan mengabdi di Korps Pasukan Khas. Beliaulah yang menginisiasi bergabungnya Borneo ke pelukan NKRI.

    Kembali ke kisah eksplorasiku,

    Sesuai dengan nama jalan yang siang itu sedang kutapaki, maka berdirilah sculpture Tjilik Riwut di sisi utara jalan. Ketika melihat keberadaannya, sontak aku menyeberangi jalan demi bisa berdiri tepat di bawahnya hanya demi mencari informasi apa saha mengenai Tjilik Riwut. Aku duduk berhadapan dengan sculpture itu untuk beberapa saat, sembari mengindahkan tatapan aneh para pengemudi kendaraan roda empat yang melintas tepat di sisi kiriku.

    “Harusnya aku memberi hormat saja kali ya, supaya para pengemudi itu semakin yakin kalau aku sedang tidak waras”, aku senyam-senyum menahan tawa atas rencana gilaku sendiri.

    Aku tak bisa berlama-lama di situ,

    Aku melanjutkan langkah, kali ini menyisir tepian jalan yang tak bertrotoar, membuatku harus sesekali berhenti memperhatikan laju kendaraan dari belakang hingga kemudian aku merubah haluan di Jalan Kapten Pierre Tendean.

    Di titik awal jalan itu, aku sempat-sempatnya mengintip aktivitas para pekerja renovasi alun-alun kota. Aku masih penasaran, sebetulnya bangunan menjulang apa yang akan dibangun di tengah-tengah alun-alun. Tetapi tetap saja aku tak bisa menebaknya.

    “Sudahlah, aku harus segera mencapai jembatan itu”, aku menyerah.

    Melewat Jalan Piere Tendean, aku melambatkan langkah, menikmati teduhnya trotoar di sepanjang ruasnya. Tapi di sisi lain, sejenak aku terenyuh dengan keberadaan seorang anak kecil yang sibuk mengenakan kostum badut. Sepertinya dia akan mulai aksi mengamennya di ruas jalan itu.

    “Oh Tuhan, anak ini sungguh tak beruntung hidupnya”, aku menatapnya iba dan refleks merogoh saku dan memberikan selembar uang kepadanya. Anak itu tersenyum hingga terlihat sepasang gigi kelincinya. Tampak lucu dan riang saja.

    “Terimakasih Om”, serunya kepadaku. Aku membelalakkan mata dan tersenyum kepadanya.

    “Waduh….Om Donny….Aku dipanggilnya begitu….Hahaha”, aku terkekeh dalam batin usai mendengar kata-kata badut cilik itu.

    Aku dengan cepat meninggalkan anak itu karena pangkal jembatan sudah terlihat dihadapan.

    “Tak ada yang istimewa” aku sudah terburu menilai penampilan tengara kota itu.

    Sudah terlanjur sampai, aku harus menaiki jembatan itu hingga tepat di tengahnya. Mungkin ada sesuatu yang akan kudapatkan.

    Dari rambu-rambu yang terpasang, setiap kendaraan yang melintas di jembatan hanya boleh menggeber gas dengan kecepatan maksimum 20 km/jam saja demi menjaga keselamatan pengguna yang lain.

    Nyaliku ciut ketika menaiki jembatan itu langkah demi langkah. Dasar jembatan selalu bergoyang saat kendaraan angkutan melintas. Membuatku sering berhenti karenanya.

    Perlahan aku mendekati titik tengah jembatan, sempadan sungai mulai terlihat jelas. Aku semakin bersemangat melangkah, tak memperdulikan sengatan surya yang masih menyengat kulit. Sewaktu kemudian aku benar-benar tiba di tengahnya. Aku berdiri mematung menatap ke arah timur, speechless.

    Di sejauh mata memandang, lekukan panjang tak berujung Sungai Kahayan tampak memikat mata. Tak kalah indah dari bentangan Musi, Batanghari, Kapuas ataupun Martapura yang pernah kusambangi.

    Membentang dengan lebar lebih dari setengah kilomater. Menyematkan aura perkasa sungai itu.

    “Ini dia aset besar Palangkaraya”, aku membatin, masih menyedekapkan kedua tangan sembari menatapnya lekat-lekat.

    Kahayan Bridge terlihat dari Taman Pasuk Kameloh.
    Masjid Darul Amin tampak dari atas jembatan.
    Sungai Kahayan.
    Senja mulai hadir.

    Sempadan sungai di sekitar jembatan terlihat sangat hidup dengan aktivitas ekonomi. Resto dan cafe apung tampak mendominasi aktivitas itu.

    Sementara itu, Taman Pasuk Kameloh di sempadan sungai sisi selatan tampak hidup dengan keramaian para pengunjung yang bersiap menyambut waktu berbuka puasa.

    Matahari mulai mengejar ufuknya di sisi barat. Sengatannya mulai melemah, membuat seorang photographer professional datang dan sibuk menyiapkan peralatannya di trotoar jembatan sisi seberang tempatku berdiri.

    “Sepertinya dia mengincar latar senja yang mulai terpendar indah”, aku memperhatikan sejenak kesibukannya memasang tripod.

    Aku yang tak mau kalah keren walau memang sebetulnya telah kalah telak, mengeluarkan kamera andalan, Si “EOS M10”, demi berburu beberapa gambar terbaik dari keadaan sekitar.

    Kisah Selanjutnya—->

  • Melintas keluar dari exit gate bangunan terminal di Bandar Udara Fatmawati Soekarno (sebut saja FatSoe), aku melengos, menghindari incaran para sopir taksi yang sedang berburu penumpang.

    Nampaknya strategi itu tak berjalan baik. Tetap saja para sopir taksi itu mengejarku. Mereka menyejajari langkahku yang akhirnya membuatku terpaksa berkamlufase dengan melemparkan kebohongan kepada setiap pengemudi taksi yang datang menghampiri, “Di jemput teman, Bang”, itu saja alibi yang mampu kusampaikan.

    Ternyata ampuh cara itu…..

    Lepas dari sasaran pengemudi taksi, aku bergegas menuju sisi timur bangunan bandara. Ke arah bangunan terminal baru. Sesampai di sana, tatapku cepat mencari keberadaan petugas Aviation Security untuk menanyakan satu hal, apalagi kalau bukan keberadaan DAMRI.

    Melihat seorang petugas yang sedang sibuk memberikan penjelasan kepada dua penumpang wanita belia yang tampak kebingungan, maka aku menghampirinya. Aku sabar menunggu percakapan mereka usai.

    “Pak, adakah Bus DAMRI ke pusat kota di bandara ini?”, aku bertanya tanpa basa-basi terlebih dahulu.

    “Oh, tidak ada, Bang. Lebih baik naik taksi saja”, dia menjawab cepat.

    “Kalau ojek online bisa ambil penumpang dari bandara atau tidak, Pak?”

    “Bisa, Bang. Tapi harus diluar gerbang, di pinggir jalan raya sebelah sana”. Dia menunjuk satu titik di luar area bandara.

    “Terimakasih ya, Pak” aku pun melangkah meninggalkannya.

    Aku berjalan meninggalkan bandara melalui beberapa jalur di sekitaran area parkir demi menuju ke gerbang bandara. Aku harus menuju ke salah satu titik di ruas Jalan Depati Payung Negara yang berjarak tak jauh dari bangunan terminal bandara, tak lebih dari tiga ratus meter tepatnya.

    Bandar Udara Fatmawati Soekarno.
    Bye Fatsoe.
    Jalan Depati Payung Negara.
    Menunggu ojek online di sini.

    Melintas kantin bandara yang letaknya berdekatan dengan pos polisi bandara, maka aku sudah bisa melihat ruas jalan yang kumaksud. Melangkah cepat mendekatinya, aku tiba di gerbang bandara beberapa saat kemudian.

    Aku berjalan sembari memainkan jari di layar telepon pintar demi mencari jasa “ojek online buatan anak bangsa”. Tetapi sial, aplikasi ojek online di layar smartphone terus menyampaikan informasi bahwa driver tidak tersedia dalam jangkauan. Aku berkali-kali mengulang pemesanan. tetapi tetap saja demikian….Nihil,

    Aku memutuskan melangkah ke barat, hampir dua ratus meter jauhnya. Kemudian memutuskan untuk berhenti dan duduk di salah satu bangku trotoar berpeneduh pokok nan lebat. Keberadaanku yang seorang diri di sepanjang trotoar nan sepi dalam keadaan memanggul backpack 25L, menjadikanku sasaran empuk bagi para ojek pangkalan yang terus datang menawariku jasa. Aku yang sedikit gugup terus menolak setiap tawaran itu sembari mencari ojek online.

    “Kenapa aku tidak mencoba jenis jasa ojek online yang satu lagi?”, aku memutuskan dengan cepat untuk menginstall aplikasinya dan berburu daripadanya.

    “Yes….”, aku mendapatkannya. Hanya saja posisi sepeda motor di layar smartphoneku itu lama sekali tak bergerak. Bersyukur aku bisa menghubungi pengemudi itu dan dia memintaku untuk tetap menunggu karena si pengemudi ojek online itu tampaknya sedang bersiap keluar rumah untuk mulai bekerja.

    Hampir lima belas menit, pengemudi itu tiba. Menggunkan motor manual model lama. Tanpa ragu aku menaikinya.

    “Fort Malborough, Bang”, aku menegaskan tujuan kepadanya.

    Tak perlu waktu lama, sepeda motor meluncur menuju ke pusat kota. Jalanan menuju pusat kota masih sepi siang itu. Membuat sepeda motor yang kutumpangi bisa melesat dengan cepat walau motor itu sudah tergolong tua.

    Perjalanan terindah menaiki ojek online tersebut adalah ketika melintas di Jalan Pariwisata karena di sepanjang mata memandang di sisi kiri jalan itu membentang keelokan Pantai Panjang yang memamerkan debur ombak Samudra Hindia.

    Gerbang terdepan Fort Malborough.
    Lihatlah kanal yang mengelilingi benteng.

    Beruntung pengemudi ojek online bisa diajak bercakap di sepanjang fokus menatap ke arah depan. Pengemudi ojek belia itu memberikan informasi-informasi penting mengenai Festival Tabot yang sedang berlangsung di Bengkulu dan titik-titik terbaik untuk menikmati senja di sepanjang Pantai Panjang.

    Usai menempuh perjalanan selama setengah jam dan menempuh jarak sepanjang tujuh belas kilometer, akhirnya aku tiba di pintu gerbang Fort Malborough.

    Kisah Selanjutnya—->

  • Menjelang sore ketika aku beringsut meninggalkan Bukit Clara. Memunggungi aksara raksasa tersohor, aku mengikuti koridor memanjang tepat di tengah tenda-tenda kuliner di area WTB Food Market.

    WTB Food Market sendiri adalah pasar kuliner di Kota Batam yang aktif di malam hari. Sayang sore itu aku sedang berpuasa Tarwiyah, membuatku hanya sekelebat saja menikmati awal keramaian yang mulai tampak. Para pelapak kuliner sedang sibuk-sibuknya menata bangku, membuka payung-payung raksasa, mengelap gerobak-gerobak makanan, beberapa dari mereka sudah mulai memanaskan minyak di penggorengan raksasa.

    Jalur pasar kuliner malam itu memanjang tak kurang dari 150 meter. Membuat bau harum makanan menyebar ke setiap sudutnya. Aku mencoba membayangkan keramaiannya saat malam tiba beberapa waktu ke depan dengan berdiri dari salah satu sisi sehingga bisa menyapukan pandangan ke segenap penjuru pasar kuliner tersebut.

    “Hmmhh….Jadi ini semua tadi adalah permata wisata di daerah Teluk Tering”, aku sejenak merangkum perjalananku sedari dua jam sebelumnya dimana aku telah menyempatkan bersujud syukur di Masjid Raya Batam, menikmati keindahan Bukit Clara dengan tengara raksasanya hingga detik itu bediri di salah satu sudut WTB Food Market.

    WTB Food Market yang tampak sedang bersiap menyambut malam.
    Lihat Selembayung di sudut atap Kantor DPRD Kota Batam itu.

    Beberapa saat kemudian, aku mulai merelakan pergi meninggalkan tempat itu, Melangkah melalui sebuah bundaran mini yang merupakan akses menuju rumah wakil rakyat, Kantor DPRD Kota Batam. Satu hal yang langsung tetangkap dalam pikiranku ketika melihat kantor wakil rakyat itu adalah sematan “Selembayung” di ujung atapnya.

    Kamu tahu ga sih makna aksesoris “Selembayung” pada bangunan melayu di Provinsi Riau Kepulauan?

    Gaes….Selembayung melambangkan makna kerukunan dan kesetiaan. Selembayung jika diamati dari dekat berwujud sulur berjalin dari bunga-bunga yang indah. Biasanya berwarna emas yang merupakan simbol kemakmuran masyarakat Melayu.

    Melanjutkan langkah hingga memotong Jalan Engku Putri maka aku tiba di Gerbang Selatan Dataran Engku Putri. Kedatanganku ternyata menemui masalah karena pintu gerbang itu tampak terkunci rapat-rapat. Aku perlu menunggunya hingga 10 menit dengan duduk di salah satu sisinya. Tetapi tetap saja gerbang itu tak bergerak sedikitpun.

    Tak mau kehabisan waktu, aku memutuskan mencari cara lain untuk memasuki Kawasan Dataran Engku Putri. Bergerak ke barat untuk mulai menyusuri Jalan Ahmad Yani  maka aku mulai menelusuri lebuh itu.

    Beruntung setelah mengayunkan langkah hampir setengah kilometer jauhnya, aku menemukan gerbang barat alun-alun utama Kota Batam itu, tepatnya di salah satu sisi Jalan Ahmad Yani. Dari pintu itulah aku akan masuk. Ternyata memang hanya gerbang itu yang terkesan ramai saking banyaknya warga lokal yang memarkir berbagai jenis kendaraannya di salah satu sisinya.

    Perlahan aku memasuki pintu gerbang tersebut, berdiri tepat di sisi dalam dan kemudian berdiri tertegun menikmati suasana di dalam Dataran Engku Putri. Panorama hijau dan klasik sungguh mendominasi.

    Sabuk hijau tampak rapat mengelilingi di keempat sisi alun-alun, sedangkan sebuah bundaran plaza di pusat alun-alun juga dibatasi oleh sabuk hijau dari bagian lain di sekitarnya. Membuat bundaran plaza itu menjadi focal point dan bagian terindahnya.  

    Sebelum kuperlihatkan konten apa yang ada di dalam alun-alun itu, beginilah kiranya intermezzo  yang mungkin bisa sedikit memperkaya ruang memori kalian.

    Dataran Engku Putri, sejatinya siapakah beliau?

    Engku Putri adalah tokoh nasional dari tahun 1800-an. Beliau merupakan seorang putri penguasa Kerajaan Riau-Lingga. Bapaknya bernama Raja Haji Fisabilillah, merupakan raja ke-4 Kerajaan Riau-Lingga. Engku Putri pada masa dewasanya adalah permaisuri dari Sultan Johor ke-3 yang bernama Sultan Mahmud Riayat Syah. Dari kisah ini, bisa kita ambil kesimpulan bahwa Kerajaan Riau-Lingga masih memiliki hubungan darah dengan banyak Kesultanan besar di Negeri Jiran. Makanya jangan berantem ya ama negeri sebelah, masih saudara sendiri loh!…..Hihihi.

    Semasa hidup, Engku Putri berperan sebagai pemegang regalia kerajaan. Regalia adalah semua alat yang menjadi tanda kebesaran dan keagungan kerajaan.

    Nah udah paham lah ya….

    Gerbang Selatan Dataran Engku Putri.
    Skatepark di selatan Dataran Engku Putri.
    Batam Centre Park.
    Museum Batam Raja Ali Haji.

    Mari kembali ke alun-alun….!

    Aku hinggap di sisi selatannya, tertegun dengan kehadiran beberapa bule yang berlatih di skatepark. Entah, kenapa sesuatu yang berbau bule itu selalu menarik di negeri ini, pikiranku telah tercemar dengan budaya itu. Skatepark sederhana itu seakan menjadi oase bagi pecinta olah raga “Papan seluncur beroda”. Selama mengeksplorasi Batam, memang jarang kutemukan keberadaan skatepark di Propinsi Kepulauan Riau tersebut.

    Sedangkan di sisi timur skatepark, membentang lapangan bola sepak dengan latar belakang julangan meninggi Kantor Walikota Batam. Tapi bukan titik itu yang kemudian menjadi tempatku menaruhkan minat. Melainkan aku pergi ke bagian inti alun-alun, sebuah bundaran bertajuk Batam Centre Park.

    Bundaran itu berdiameter 150 meter, berkelilingkan jogging track yang ramai dijejali warga lokal yang sedang menguras kalori, sedangkan di sisi lain, terdapat kesibukan sekelompok orang yang sedang mempersiapkan alun-alun sebagai tempat pelaksanaan ibadah shalat Idul Adha yang akan diselenggerakan esok hari.

    Duh, kamu jadi tahu deh kalau aku ke Batam pas ada long weekend karena Hari Libur Nasional Idul Adha. Bandel emang, bukannya lebaran di rumah, malah kelayapan ke Batam.

    Sementara itu di sisi utara , sebuah bangunan klasik berwarna putih berdiri elegan. Adalah Museum Batam Raja Ali Haji yang menjadi tengara penting di Alun-Alun Batam. Raja Ali Haji adalah pemegang tampuk pertama pemerintahan Kota Batam masa lampu. Beliau sendiri adalah cucu dari raja ke-4 Kesultanan Riau-Lingga. Museum itu sendiri menayangkan perkembangan berbagai sektor Kota Batam dari masa kesultanan, penjajahan hingga masa modern.

    Eksplorasiku di Dataran Engku Putri akhirnya terhenti di Museum Batam Raja Haji Ali. Hal ini terjadi selesai mengeksplorasi museum menjelang pukul enam sore. Hari mulai gelap, aku yang sedang berpuasa harus segera mencari tempat berbuka yang nyaman.

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Akhinya Ku Menemukanmu….#naff.

    Samar aku melihat pemberhentian bus kota itu, tapi aku belum yakin benar apakah itu halte bus yang sedang kucari. Aku terus melangkah mendekatinya.

    Aku tiba beberapa menit kemudian….

    Halte bus itu berukuran tak telalu besar untuk standar ukuran halte bus bandara. Tak semegah halte bus DAMRI Soetta tentunya.

    Setiba di halte, aku berhenti sejenak, mengamati segenap petunjuk yang bisa memberikanku informasi penting. Tapi tak kunjung menemukannya. “Aku harus mencari cara lain berburu informasi”, aku memutuskan cepat.

    Hingga akhirnya aku melihat kehadiran sosok pemuda yang sedang menunggu bus di salah satu sisi halte, pemuda itu sedang sibuk dengan tab di tangannya.

    “Ini bisa menjadi opsi terbaikku”, aku pun melangkah mendekati pemuda itu.

    “Hello, brother. Will bus No. 67 pass this shelter?”, aku mengajukan pertanyaan kepadanya.

    “Oh, that’s right”, dia membuang tatapnya dari tab di tangannya.

    “Oh, thank you for your information. Do I need a card or not to get on the bus?”, aku mengimbuhkan.

    “There are two options. You can use a card like this (dia menunjukkan kartu berlangganan busnya) or you can pay on the bus”. Bahasa Inggris pemuda itu sangat fasih

    “Oh Okay…I understand. How much for the fare?”, aku terus menyelidik.

    “It’s really cheap, only 1,400 Som….By the way, where are you from?”, untuk pertama kalinya dia menyerobot sebuah pertanyaan.

    “I’m Donny from Indonesia…. Did you just come home from work?”

    “Call me Umid. I’m from Samarkand….Oh no, I’m a student at Tashkent University of Information Technologies.”, dia akhirnya memperkenalkan diri.

    Pertemuan singkatku dengan Umid menjadi momen yang cukup berkesan karena aku beruntung menemukan seseorang yang bisa berbahasa Inggris dengan baik dan banyak memberikan informasi yang berguna bagi eksplorasiku di Tashkent beberapa hari ke depan.

    Umid memberikan informasi bahwa aku harus mencicipi “Palov” makanan khas mereka. Dia juga menjelaskan bahwa 97% penduduk Uzbekitan beragama muslim, jadi budaya Islam sangat kuat tercermin di setiap sendi kehidupan “Negeri Jalan Sutera” tersebut. Dia juga memberikan pernyataan yang menenangkan hati bahwa jalanan di Tashkent sangatlah aman ditelusuri walau malam telah tiba. Satu lagi, dia menyarankanku untuk menggunakan bus kota dan MRT saja untuk melakukan eksplorasi karena tarif kedua jenis transportasi itu sangatlah murah. Apalagi, seluruh penjuru kota Tashkent terhubung oleh dua moda transportasi tersebut.

    Ah, satu lagi yang masih kuingat. Dia menyebutku sebagai lelaki pemberani dan suatu saat setelah dia mendapatkan pekerjaan pasca kuliah, dia akan mulai menjelajah dunia sepertiku…..Wah, tersanjung banget aku tuh….Wkwkwkwk.

    Meluncur ke pusat kota.

    “Beinnxxx…..Beinnxxx”, sebuah bus berukuran besar merapat di platform. Seorang kondekur laki-laki paruh baya melompat ke platform dan otomatis tersenyum lebar di depanku. Dia berbicara Bahasa Uzbek kepada Umid yang aku tak paham akan maknanya.

    Maka aku yang penasaran, memulai melempar tanya kepada Umid.

    “What he say about me?”

    “He asked where you came from, I answered Indonesia. Then he said your national football team plays well in last Asian Cup Qualifiers”, pungkas Umid.

    Pernyataan Umid itu langsung mengingatkan memoriku tentang kemenangan heroik Timnas Indonesia atas Kuwait dengan skor 2-1.

    “Ahahaha, Umid….Tell him, My national team usually loses if against the Uzbekistan national team”

    Akhirnya kami bertiga tertawa terbahak ketika Umid dengar cerdas dan cepat menjadi penerjemah percakapanku dengan seoramg kondektur bus yang baru datang.

    Akhirnya, bus kota bernomor 47 yang ditunggu-tnuggu Umid tiba. Setelah berpamitan denganku akhirnya dia menaiki bus sarat penumpang itu.

    Sementara aku masih penuh kesan menunggu kedatangan bus bernomor 67.

    Berselang lima menit…..bus itu datang.

    “Bu avtobus…*1).” Kondektur itu rupanya diberi tahu Umid mengenai nomor bus kota yang sedang aku tunggu sehingga kodektur itu mengetahui nomornya.

    “Thank you, Sir”, aku membungkukkan badan dan beringsut meninggalkannya.

    Aku melompat masuk dari pintu tengah ke dalam bus bernomor 67 yang langsam berhenti. Lalu duduk di salah satu bangku sisi tengah. Bus masih tampak kosong. Lima menit menaikkan penumpang seadanya untuk kemudian bus itu meluncur pergi meninggalkan Terminal 2, Islam Karimov Tashkent International Airport.

    Bus menyusuri Jalan Bobur Ko’chasi menuju pusat kota.

    Sambil menunggu penumpang lain naik. Aku bertanya kepada seorang penumpang pria tentang bagaimana cara membayar tarif bus kepada kondektur.

    Maka terjadilah pecakapan terunik di dunia.

    “How to pay the bus fare?”, aku menunjukkan selembar 5.000 Som.

    “Ty*2)” Menujuk mukaku,

    “Den’g*3)”, menunuk selembar uang 5.000 Som yang kupegang.

    “Ona zhenshchina*4)”. Dia menunjuk ke kondektur wanita yang berdiri  di bagian depan.

    “Podoyti blizhe*5)‘” dia menggerakkan telapak tangannya dari depan ke belakang.

     â€śDen’g”, menunjuk lagi uangku lalu berganti menunjuk ke kondektur itu.

    Aku hanya terus tersenyum demi memahami setengah bahasa isyarat itu.

    Okay….Sepertinya petualanganku sudah terselip sebuah permainan teka-teki. Aku menunduk, mengangguk-anggukkan kepala.

    “Setidaknya 50 menit ke depan, aku akan aman di dalam bus kota yang kunaiki ini”, aku membatin dan senyumku tak terbendung.

    Note:

    Bu avtobus*1)                     = Itu bus

    Ty*2)                                = Anda

    Den’g*3)                         = Uang

    Ona zhenshchina*4)   = Perempuan itu

    Podoyti blizhe*5)         = Datang Mendekat

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Di depanku telah berkerumun berbagai orang dengan kepentingannya masing-masing. Batas berdiri meraka tertahan di sebuah pembatas metal yang ditempatkan di area setelah drop-off zone, berjarak tak kurang dari lima puluh meter dari exit gate bangunan bandara.

    Sebagian banyak dari mereka adalah para penjemput. Mereka berseru-seru memanggil nama para penumpang pesawat yang satu-persatu keluar dari exit gate. Tentu tak akan ada seorang pun yang berharap atas kedatanganku. Bahkan ketika aku telah tegak berdiri di depan exit gate dan menatap lekat kerumunan itu. Hanya ada satu kelompok penunggu saja yang memposisikan aku sebagai tamu istimewa di mata mereka….Ya, siapa lagi kalau bukan para pengemudi taksi yang tampak sumringah melihat kehadiranku di pintu bandara.

    “Taxiiii…..Taxiiii”, suara-suara yang jamak terdengar ketika aku keluar dari sebuah bandara. Aku yang sedari beberapa waktu lalu telah siap menghadapi para pengemudi taksi, akhirnya melangkah menuju halte bus yang letaknya berada di bangunan terminal bandara sebelah.

    Aku melangkah cepat melalui kerumunan itu, mengabaikan banyak pengemudi taksi yang mengajakku berbicara demi menaiki taksi mereka.

    Ternyata langkahku tak mulus hingga seorang pengemudi taksi menguntitku dari belakang. Sepertinya dia tak mudah menyerah sepertiku.

    “Brother, my taxi is cheap….Only ten Dollar, brother….Come!”, dia memegang tangan kananku dengan maksud menarik ke taksinya.

    “Sorry, Sir. I will go by city bus, My destination isn’t far”, aku menolaknya pelan dengan menarik tanganku kembali sembari terus melangkah menuju sisi kiri Terminal 1 bandara.

    “The bus is closed now, Sir….It wasn’t operating at this time”, Dia terus menguntitku. Tetapi aku adalah smart traveler yang tak akan mudah tertipu. Dari berbagai sumber yang telah kubaca sebelum berangkat berpetualang, aku tahu bahwa jam operasioanl city bus di Tashkent akan tutup pukul sepuluh malam. Dan itu masih dua setengah jam lagi. Aku masih punya cukup waktu tentunya.

    “I will wait for 10 minutes, Sir. If It doesn’t operate, I will use your cab”, aku tersenyum demi menjaga perasaan pengemudi taksi itu.

    Aku terus melangkah cepat hingga dia memilih meninggalkanku dan kemudian mencari penumpang lain yang lebih menguntungkan baginya.

    “Yeaaa….”, Aku mengepalkan tangan, memenangi pertarungan kecil itu. Meninggalkan area parkir Terminal 1 dan bergegas menuju ke Terminal 2. Kali ini musuhku bukan sopir taksi, melainkan udara super dingin yang dengan mudah menembus winter jacketku. aku lupa mengenakan setelan long john sedari berangkat dari Kuala Lumpur sembilan jam sebelumnya.

    Bangunan Terminal 2 bandara sudah terlihat di kejauhan. Aku terus melangkah dengan sedikit rasa panik karena udara dingin yang terus mengintimidasi ditambah lagi dengan suasana pinggiran Terminal 1 bandara yang nampak senyap.

    Saking paniknya, ketika menyeberang di salah satu jalur penghubug antar terminal, aku lupa melihat ke kiri dan ke kanan. Itu juga karena fur-trimmer hood dari winter jacketku menutupi sempurnanya pandangan mata.

    “Bimmm…..Bimmmm….Bimmm”, sebuah sedan putih berhenti mendecit tepat beberapa sentimeter di sebelah kaki kiriku.

    “Astaga…..” aku refleks melompat, lalu berhenti di depan sedan yang telah berhenti sempurna tersebut. Aku menengok ke arah pengemudi. Dia membuka kaca pintu mobilnya dan berteriak “Heyy…..” sembari menjulurkan tangannya ke depan.

    “I’m sorry, Sir….I’m sorry….I didn’t see”, aku menangkupkan kedua telapak tangan di dada sembari melangkah mendekatinya.

    “Be careful, brother!….. It would have been a problem if I had bumped you a few minutes ago.” Dia mengingatkanku sembari meredakan kekesalannya.

    “I understand and sorry….”

    “No matter….”, dia menutup pintu kaca dan menginjak pedal gasnya kembali, menghilang di tikungan dan meninggalkanku sendiri lagi.

    Dan heeeiiii…..Tetiba aku merasakan tangan dan kakiku bergemetar. Ini bukan karena hawa dingin sekitar melainkan karena takut setelah insiden beberapa menit sebelumnya.

    “Entah apa jadinya, jika aku cedera karena tertabarak mobil tadi”. Aku menelan ludah. Mungkin petualanganku akan terhenti di Tashkent dan masuk ke rumah sakit kota. Sejenak aku berhenti melangkah demi memikirkan itu.

    “Sudahlah….”, aku harus segera melupakan insiden tersebut.

    “Ya, Tuhan….Sebetulnya dimana halte bus yang sedang kucari?”, aku menghela napas, kemudian kembali menaruh fokus untuk memperhatian sekitar.

    “Beeinxxx….Beeeinxx”, ah aku mendengar klakson bus itu. Menoleh ke arahnya, dan terlihat jelas kelir hijau warnanya di salah satu sudut Termina 2 bandara.

    “Oh, di situ….”, aku tersenyum telah menemukan tempatnya.

    Maka aku bergegas melangkah menujunya.

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Suasana di Stasiun Demang.

    Aku bergegas melompat ke salah satu gerbong LRT Sumatera Selatan. Di gerbong tengah tepatnya. Suasana di dalam gerbong tentu tak akan pernah penuh karena aturan PPKM Level 3 yang masih diterapkan pemerintah provinsi. Bangku LRT itu berselang-seling diduduki penumpang.

    Aku?….Ya, aku lebih memilih berdiri saja di dekat pintu gerbong.

    Sesaat kemudian, LRT berjalan lagi menyusuri jalur layangnya.

    Di satu sisi, suara gesekan roda dan rel yang khas Ketika LRT berjalan membuatku rindu akan suasana serupa yang sering kutemukan di luar negeri. Maklum hamper dua tahun lamanya aku absen bepergian ke luar negeri.

    Di sisi lain, aku sangat bangga karena salah satu provinsi di Indonesia telah berhasil membangun dan mengoperasikan LRT. MRT dan LRT selalu saja menjadi transportasi elit dalam pola pikirku.

    Aku sungguh beruntung, dengan berdiri di dalam gerbong, aku bisa dengan leluasa mengamati pemandangan kota di bawah jalur layang LRT. Pemandangan terindahnya tentu ketika rangkaian gerbong LRT melintasi lebarnya sungai Musi.

    Heiiii…..Aku tak berhenti di Stasiun Ampera walaupun tiket yang kubeli seharusnya hanya bisa mengantarkanku hingga stasiun itu. Aku memang salah memilih tujuan ketika membeli tiket di Stasiun Demang.

    Aku cuek saja mengikuti arus LRT demi menuju Stasiun Jakabaring. Aku sudah bersiap diri apabila harus membayar denda ketika turun beberapa menit ke depan.

    Dalam 25 menit akhirnya aku benar-benar tiba….

    Melompat dari gerbong, aku langsung menuju ticket collection gate. Memindai tiket yang kumiliki dan ternyata gerbang keluar itu terbuka. Itu artinya aku tidak perlu membayar biaya tambahan atas kesalahanku dalam membeli tiket.

    Mungkin saja rute Stasiun Demang menuju Stasiun Jakabaring dan Stasiun Demang menuju Stasiun Ampera memilki tarif yang sama. “Ah itu tak perlu dipermasalahkan….Yang terpenting aku sudah tiba di tujuan”, aku membatin.

    Aku bergegas menuruni stasiun melalui sebuah escalator dan akhirnya berdiri tepat di sisi Jalan Gubernur H. Bastari. Sudah menjadi kebiasaan, aku mulai mengabadikan beberapa situasi di sekitar Tugu Parameswara.

    Parameswara sendiri adalah nama seorang raja besar di Palembang. Dipercaya dalam berbagai jejak sejarah bahwa seluruh keturunan etnis Melayu berasal dari Kota Palembang. Hal ini tentu tak bisa dipisahkan dari perpindahan Raja Parameswara dari Kota Palembang menuju ke Temasek (sekarang Singapura). Di masa keemasannya, beliau terkenal dengan julukan Iskandar Syah setelah menjadi penguasa di Kesultanan Melaka di Malaysia.

    Suasana Tugu Parameswara sangatlah ramai ketika aku mengambil beberapa foto ikonik. Hal ini dikarenakan letak tugu yang berada di sebuah bundaran. Selain itu, tugubtersebut juga menjadi tengara utama di pintu masuk kompleks Jakabaring Sport City.

    Jakabaring?…Apa sebetulnya makna katanya?

    Jakabaring adalah singkatan “Ja” yang berarti Jawa, “Ka” berarti Kaba (sebutan orang Semendo), “Ba” berarti Batak, dan “Ring” yang berarti Komering. Itulah keempat suku yang banyak meninggali Kota Palembang.

    Tugu Parameswara yang menyiratkan sejarah Melayu.
    Jalan Gelora Sriwijaya – Jalur masuk ke Stadion Gelora Sriwijaya.
    Sungai artifisial yang dibuat mengelilingi stadion.
    Tiba juga di Plaza Stadion.

    Salah satu hal yang membuatku berkesan saat berada di Jakabaring Sport City adalah ketika beberapa pengemudi sepeda motor ikut berpose narsis Ketika aku mengabadikan beberapa spot di sekitar Tugu Parameswara tersebut. Keramahan warga Palembang tersebut mampu memunculkan tawa dan secara tak langsung membuatku merasa seakan sangat dekat dengan rumah.

    Semakin lama berada di bawah tugu ikonik itu, membuatku kesabaranku habis…..Eits, kesabaran untuk bertemu destinasi inti di kompleks olahraga itu ya….Bukan limit kesabaran untuk baku hantam….Iissh iisshh iisshh.

    Maka aku menyegerakan langkah demi menuju Kompleks Stadion Gelora Sriwijaya. Aku perlahan menelusuri jalur panjang menuju ke stadion utama, memanfaatkan trotoar sisi kiri Jalan Gelora Sriwijaya dengan terus mengikuti sekelompok warga yang sedang berjalan bersama menuju ke tempat yang sama.

    Suasana dikiri kanan jalur masuk itu tampak hijau. Tak sedikit dahan pepohonan yang menjulur ke arah jalan dan menjadi atap alam trotoar.

    Di spot lain, tepatnya di ujung timur jalan telah menanti sebuah plaza luas yang digunakan warga untuk sekedar duduk dan beraktivitas ringan menikmati pagi, juga menjadi tempat yang nyaman untuk anak-anak berlarian dan bermain, serta menjadi spot terbaik untuk berswa foto dengan latar belakang Stadion Gelora Sriwijaya.

    Akhirnya aku mulai membaurkan diri dengan bergabung Bersama warga sekitar di plaza itu. Merasakan aura kekeluargaan di area plaza.

    Sejenak aku menikmati keindahan di pagi yang cerah itu.