• <—-Kisah Sebelumnya

    Aku meninggalkan kedai pilav, menyusuri trotoar Saqichmon Ko’chasi sisi timur, menuju selatan, untuk kemudian terhenti pada dinamika di sebuah perempatan jalan.

    Beruniy Shoh Ko’chasi lah yang membentuk perempatan besar itu karena memotong Saqichmon Ko’chasi dari barat ke timur.

    Tampak, walaupun ramai di area zebra crossnya, tetap saja pemerintah setempat menyediakan fasilitas penyeberangan bawah tanah yang menyediakan alternatif menyeberang paling aman dan nyaman.

    Di sisi lain, delapan jalur trotoar perempatan itu dihiasi barisan pepohonan besar yang meranggas dihajar musim dingin. Pokok-pokok besar itu berbaris dengan interval teratur di sepanjang sisi jalanan.

    Sejenak aku berdiri cukup lama, mengarahkan pandangan ke arah timur jauh dimana satu dua gedung pencakar langit sedang dibangun di sepanjang Beruniy Shoh Ko’chasi.

    Perempatan antara Saqichmon Ko’chasi dan Beruniy Shoh Ko’chasi.

    Pada satu sisi, bentangan panjang trotoar mengarah ke timur telah menunggu. Setengah kilometer di depan, destinasi selanjutnya telah menunggu.

    Apalagi semakin lama berdiam di sisi perempatan, udara dingin semakin menusuk dari sela-sela winter jacket yang kukenakan, perlahan tapi pasti menyurutkan hangat badan. Maka, kuputuskan untuk melanjutkan perjalanan.

    Bertolak meninggalkan halaman toko springbed “TAMAKI” di pojok perempatan, aku memasuki trotar sisi utara Beruniy Shoh Ko’chasi.

    Trotoar selebar tiga meter itu beralaskan beton, tak berbatasan langsung dengan jalan raya, melainkan terjeda dengan bidangan rumput hijau di kiri kanannya. Jalur rumput yang berbatasan langsung dengan jalan tertanam pepohonan yang berjajar rapi. Pohon-pohon itu diberi cat warna putih di bagian pangkal batang hingga setinggi orang dewasa. Pemberian cat warna putih tentu bertujuan sama di jalanan manapun, yaitu mengurangi durasi batang pohon terpapar panas secara langsung untuk mencegah peretakan.

    Setengah kilometer kemudian, sebuah halte bus menyambut. Pemberhentian bus itu ramai dipenuhi calon penumpang, bernama Chorsu Mall Bus Stop karena memang letaknya yang berada di tepian pusat perbelanjaan dengan nama yang sama.

    Melewati keramaian halte, deretan lapak pedagang kaki lima menjadi pemandangan menarik berikutnya. Sahutan para pedagang buah-buahan, sayur-mayur, mie berbagai warna, dan Non*1) berhasil membuat bising sepanjang trotoar.

    Untuk sementara aku larut dalam aktivitas perdagangan kecil itu. Menyaksikan aksi tawar-menawar dan tentu mengagumi modisnya muda-mudi Uzbekistan yang melalui kawasan pasar jalanan yang terletak persis di sebuah pertigaan besar yang terbentuk dari pertemuan tiga ruas jalan, yaitu Beruniy Shos Ko’chasi, Samarqand Darvoza Ko’chasi dan Navoiy Shoh Ko’chasi.

    Perdagangan di depan Kukeldash Madrasah.

    Dan tepat di sebelah timur pasar jalanan itu terdapat sebuah bangunan dengan arsitektur khas Timurid. Adalah Kukeldash Madrasah yang telah lama menjadi pusat pendidikan penting di Kota Tashkent.

    Timurid merujuk pada nama Amir Temur, seorang pemimpin berkharisma ada Abad XIV yang pernah berkuasa di Asia Tengah, Iran, Afganistan, Pakistan, India, Irak dan Kaukasus.

    Sedangkan kekhasan arsitektur Timurid terletak pada pintu gerbang yang berbentuk persegi menjulang dengan lengkungan khas di bukaan pintunya. Sedangkan model dekorasi muqarnas menjadi penghias dindingnya. Gerbang itu akan diapit oleh dua menara dengan dekorasi khas.

    Sejenak aku terduduk di salah satu tempat duduk beton demi menikmati keindahan arsetektur pesantren itu.

    Aku larut dalam keasyikan mengambil beberapa gambar di setiap sudut Kulkedash Madrasah, hingga akhirnya berdiri terpaku menatap keindahan jengkal demi jengkalnya.

    Gerbang depan Kukeldash Madrasah.

    Tibalah pada suatu waktu, dari belakang, sentuhan lembut dari tangan seseorang mendarat di pundakku.

    Hello, where are you come from?

    Aku menoleh ke belakang. Menemukan wajah tua bersahaja dengan senyuman super ramahnya.

    “Indonesia, Sir”, aku tergagap, gugup menatap senyum cerah lelaki tua itu.

    “I’m a teacher in this school….my name Khadirjon….Are you moslem?”,

    “Yes, Sir…I’m moslem”

    “Subhanallah….Assalamu’alaikum”

    “Wa’alaikumsalam”.

    “Do you live in Tashkent?….What is your name?”

    “No Sir, I’m jus a solo traveler…My name is Donny”.

    “Masyaallah….You’re a musafir. Your do’a is maqbul….Please, pray for me”

    “What do’a do you want, Sir”

    “I want go to Makkah Al Mukarrom for Hajj or Umra….Also, I want my daughter to get married this year…Please, say do’a for me !”

    Me & Mr. Khadirjon.

    Aku pun mulau berdo’a sembari berdiri di depannya. Dia mengamini setiap do’a yang kupanjatkan. Aku merasakan kebahagiaan dalam setiap do’a yang kupanjatkan untuknya. Tak menyangka keramahan orang ini membuatku serasa berada di rumah sendiri.

    “Donny….Do you have something that I can keep it as a keepsake?”

    Aku yang bingung mencoba berpikir, menentukan barang khas Indonesia apa yang bisa kuberikan. Hingga akhirnya aku menemukan sebuah ide.

    “Do you want Indonesian money”?

    “Oh..good idea….Just give me a small banknotes”

    Aku merogoh kantong mengambil dompet , menarik selembar uang kertas Rp. 10.000, menandatanganinya dan menyerahkan kepadanya

    “10.000 rupiah is equal with 8.000 Som, Sir”

    “Oh, nice Donny….Thank you”

    Tak lama kemudian, seorang perempuan cantik berkerudung putih melintas dan mendekat ke kami berdua. Entah perempuan itu bicara apa, yang jelas dia sedang memberi salam kepada Mr. Khadirjon. Menunduk-nunduk ketika berbicara dengannya sebagai bentuk rasa hormat.

    “Shara…Introduce my guest, he is traveler from Indonesia. His name is Donny”

    “Hallo, Mr Donny….Nice to meet you…My name is Shara from Samarkand”

    “Hi, Sara….Nice to meet you”

    Perempuan itu menunduk sopan dan meminta izin kepada Mr Khadirjon untuk memasuki pensantren.

    “Donny, can you shalat with me in that mosque ?”

    “Oh sure, time to Dzuhur pray…Let’s go to the mosque and pray together”.

    Kukeldash Madrasah dari sisi timur.

    Aku tersenyum lebar dan berinisiatif mengikuti langkahnya menuju masjid.

    Sejenak aku akan menjalani ibadah shalat dzuhur. Itulah shalat berjama’ahku untuk pertama kali di kota Tashkent.

    Catatan Kaki:

    Non*1) = Roti khas Uzbekistan, biasanya berbentuk bulat dan lebar dengan satu sisinya lebih mengkilat dan bertabur wijen.

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Masuk dari lantai bawah, aku terhenti dalam beberapa langkah, tertegun dengan tata letak lapak di Chorsu Bazaar. Mengikuti bentuk lingkaran bangunannya, deretan lapak pun disusun dengan pola melingkar, berpusat di titik tengah ruangan. Tata letak yang efektif, efisien, juga penuh gaya.

    Aku mulai menyusuri lantai pertama pasar yang didominasi oleh penjual daging, sosis, keju, sayur-mayur, buah-buahan dan bahan pangan lainnya. Sibuknya aktivitas pasar membuat para pedagang tak mempedulikanku ketika memfoto aktivitas mereka ketika melayani pembelian para pelanggannya.

    Aku yang kagum dengan aktifitas dan kebersihan pasar, harus mengitari lantai bawah pasar hingga dua kali sembari menikmati atmosfer perniagaan di dalamnya.

    Lapak sekitar pintu masuk yang kulalui.
    Chorsu Bazaar dari atas.

    Selesai pada putaran kedua, aku mendongak ke atas, melihat sekilas apakah aktivitas di lantai itu sama bergeliatnya. Kuperhatikan dengan seksama, riuh rendah teriakan para pedagang menggema di langit-langit pasar. Aku yang tak bisa menahan rasa penasaran, mengarahkan pandangan ke bagian paling belakang deretan lapak lantai satu. Aku fokus mencari akses tangga menuju ke lantai atas.

    Bersyukur aku menemukannya dengan cepat. Aku mendekatinya, entah kenapa banyak tercecer tumpahan lumpur tipis di sekitar anak tangga. Seorang petugas tampak sedang berjibaku membersihkannya dengan floor wiper. Mungkin lapisan tipis lumpur itu adalah residu dari bongkar muat ikan air tawar yang dijual di lapak paling belakang

    Aku harus sedikit berjingkat demi menggapai anak tangga pertama. Aku berhasil melalui lapisan lumpur dan mulai menaiki anak tangga menuju ke lantai atas.

    Setiba di lantai atas, aku langsung membuat kesimpulan bahwa lantai dua Chorsu Bazaar digunakan sebagai pasar kering dimana manisan kering, buah-buahan kering, navat (gula batu), parvarda*1), kacang-kacangan, kismis, apricot, saffron diperjualbelikan.

    Melihat lantai bawah dari atas, menyematkan kesan indah di sejauh mata memandang. Susunan melingkar lapak tampak rapi dan teratur. Balon warna-warni dibentangkan dari sudut ke sudut bangunan, berhasil menambahkan suasana meriah di ruangan pasar.

    Pedagang di lantai atas ternyata lebih agresif, berkali-kali mereka menjemput kedatanganku dengan menawarkan barang dagangan. Seorang pedagang pria bahkan terus mengikuti setiap langkahku sembari menawarkan saffron.

    Best saffron from Kashmir, brother”, dia menyejajari langkahku sembari terus menatap mukaku yang kuarahkan ke tempat lain.

    Thanks, brother. I come here just to sightseeing”, aku menegaskan maksud.

    Hampir mengikutiku sejauh setengah putaran pasar hingga akhirnya dia menyerah karena usahanya tak kunjung membuahkan hasil. Dia berbalik badan dan membiarkanku lepas dari incarannya.

    Doi minta difoto setelah lelah mengejarku.

    Aku yang telah selesai mengelilingi lantai atas satu putaran penuh, memutuskan untuk turun. Aku menuruni tangga yang sama disaat naik, lalu keluar dari pintu bertiraikan plastik di lantai bawah.

    Dalam sekejap, aku sudah berada di luar bangunan pasar kembali.

    Petualangku selama 45 menit di Chorsu Bazaar usai, bahkan berhasil membuatku lapar. Maka aku menyempatkan diri untuk mencari kedai makan di sekitar pasar. Akan tetapi mengitari bagian luar Chorsu Bazaar untuk mencari makanan ternyata tetap tak membuahkan hasil.

    Perut yang keroncongan akhirnya mengingatkanku pada sebuah kedai yang menggoreng nasi di tepian jalan dan sempat kulihat sebelum menuju Chorsu Bazaar beberapa menit sebelumnya.

    Menemukan ingatan di kepala, aku pun tersenyum dan dengan cepat meninggalkan Chorsu Bazaar. Aku bergerak tangkas menuju kedai makan yang dimaksud.

    Derean kedai makanan dekat Chorsu Bazaar.
    Pilav.

    Menghafalkan rute dengan baik, aku tiba di lokasi dalam tujuh menit. Semua pintu di deret kedai makan tampak sama. Aku susah membedakan pintu mana yang menjual “nasi goreng” yang dimaksud. Aku juga tak melihat pemuda yang beberapa menit sebelumnya kulihat memasak di tepian trotoar.

    Maka kulongokkan muka dari pintu ke pintu untuk menemukan masakan itu. Tiga pintu yang kulongok tak membuahkan hasil. Hingga akhirnya pada pintu keempat, aku melihat seorang pria berumur yang mengangkat penggorengan besar dan menumpahkan isinya ke lima piring kosong nan lebar.

    Itu dia”, aku bersorak dalam hati.

    Aku yang antusias, memberanikan diri masuk ke pintu yang berhadapan langsung dengan dapur dan meja kasir.

    Seorang perempuan berkerudung dan bersepatu boots menyambutku, dia tampak modis dan cantik.

    A portion….that food, Mam!”, aku menunjuk nasi goreng di sebuah penggorengan yang asapnya menebarkan bau super sedap.

    Da*2)……”, dia mengangguk dengan ekspresi wajah datar sembari menunjuk ke arah bangku kosong.

    Aku yang menahan lapar, menyeret langkah dan duduk di meja yang dimaksud.

    Tak lama, makanan pesananku datang dan disajikan di meja makan. Terdapat tiga potongan roti berukuran sedang yang disuguhkan bersama seporsi nasi bertabur rempah, daging domba, telur puyuh dan sedikit sayur.

    Tak berpikir panjang, aku segera menyantapnya. Tetapi gigitan pertamaku pada roti memberikan kesan tawar. Maka kuputuskan untuk memasukkan tiga kerat roti itu kedalam plastik dan menenggelamkannya di dalam folding bag.

    Lebih baik untuk makan malam nanti saja”, aku cengar-cengir sendirian.

    Dengan lahap aku menyantap makanan itu. Sendok dan garpu berkelontangan beradu dengan piring.

    Fokus pada makanan, membuatku tak memperhatikan jika sewaktu kemudian empat sekawan datang dan duduk di bangku sebelah. Mereka berempat sepertinya mahasiswa dan sedang riuh rendah bercakap-cakap di sisi kananku.

    Ramainya suasana di bangku sebelah membuatku mengarahkan pandangan kepada mereka. Aku menatap mereka ketika mereka berempat kompak melihatku yang sedang rakus menyantap makanan. Aku tersenyum kepada mereka ketika sesendok nasi masih kukunyah di mulut.

    Aku pun segera menelannya dengan cepat. Kemudian mengajukan pertanyaan singkat pada keempat pria muda itu.

    What is the name of this?”, aku menunjuk pada hidangan yang kumakan.

    Pilav….That is Pilav3*), our typical food”, salah satu dari mereka yang berpostur paling tinggi menjawab.

    Oh, Pilav…..Nice food”, aku menimpali.

    Melihat Pilav membuatku  teringat oleh makanan dengan penampilan yang sama. Namanya Pullao, makanan asal Pakistan yang pernah kusantap ketika mengunjungi Qatar. Cuma waktu itu Pullao tersebut dimasak oleh seseorang hanya dengan bercampukan sayuran dan kacang-kacangan.

    Enjoy that….”, pemuda itu menambahkan dan menutup percakapan.

    Sure…”, aku kembali menghadapi makananku.

    Aku menyantapnya kembali ketika pilav itu mendingin dengan cepat oleh sebab dinginnya udara sekitar.

    Porsinya yang banyak dan kondisinya yang sudah dingin memaksaku untuk memindahkan separuh porsi pilav itu ke dalam foldable lunch box. Aku bisa memanfaatkannya untuk makan malam.

    Usai sudah menyantap pilav.

    Aku melangkah ke meja kasir untuk meminta sesuatu….

    Can you serve me a cup of tea?”, aku menunjuk pada sebuah tea pot yang terletak di sebuah meja makan.

    Nima?*3)”, dia mengambil kalkulator dan menujukkan angka 27.000 padaku

    Tea….Please!”, aku menegaskan bahwa aku belum bermaksud menyudahi makan siangku

    Rupanya nona cantik itu tak paham dan hanya tersenyum melihatku.

    Aku yang sudah kehabisal akal memutuskan untuk menyudahi saja makan siangku dan membayar pilav yang sudah aku santap.

    Sudahlah, aku membalikkan punggung dan meninggalkan kedai itu.

    Keterangan:

    Parvarda*1) : Caramel khas Uzbekistan yang sangat populer, berbentuk manisan kecil yang dilapisi tepung.

    Da*2): OK

    Nima?*3) : Apa

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Dengan tegas, aku mengarahkan langkah menuju Chorsu Bazaar, sebuah pasar tradisional terbesar di Kota Tashkent atau boleh dikatakan sebagai pasar tradisional tertua di kawasan Asia Tengah.

    Dari pelataran atas stasiun bawah tanah Chorsu, aku bersusah payah mencari jalur menuju jalan arteri. Aku sepenuhnya paham bahwa Chorsu Bazaar terletak di utara tempatku berdiri dan jalan arteri untuk menujunya berada di sisi barat, itu berarti bahwa aku harus berjalan memutar demi menuju pasar tradisional yang sudah berdiri sejak Abad Pertengahan tersebut.

    Maka melangkahlah aku ke barat, melewati jalur kecil yang hanya bisa dilalui pejalan kaki. Jalur itu membawaku melintasi Chorsu Gold Center yang merupakan pusat perdagangan emas terbesar di Tashkent. Sentra emas itu sengaja dibangun oleh pemerintah Uzbekistan untuk melawan dominasi brand perhiasan emas dari luar negeri.

    Aku berhenti sejenak di depan sentra emas itu, memperhatikan antrian warga lokal di depan bangunan kecil bertajuk “Bankomat ATM”.

    Pasti mereka menarik uang tunai untuk berbelanja emas di sentra emas itu”, aku mengambil kesimpulan cepat.

    Chorsu Gold Center.
    Toko souvenir.

    Sementara itu, membalikkan badan ke arah seberang, aku mendapati sebuah toko besar yang menjual souvenir khas “Negeri Jalan Sutera”. Karpet berpola khas, guci klasik dari berbagai macam bahan dan pernak-pernik lain yang tersusun di etalase dengan mudah bisa dilihat dari luar toko. Tetapi aku toh tetap tak mengindahkan keberadaannya.

    Justru aku lebih tertarik pada sebuah lapak tanpa tenda dimana seorang pria paruh baya menjual potongan kaki ternak yang ramai dengan antrian pengunjung. Aku yang beruntung melihat pemandangan itu, memutuskan untuk mengambil foto beberapa momen transaksi jual beli di lapak mungil itu. Untuk beberapa saat, langkahku tersangkut di lapak kaki ternak yang baru pertama kali kulihat dalam hidup.

    Hingga akhirnya aku mencukupkan diri mbengambil foto transaksi jual beli ketika si bapak penjual menatap dan tersenyum lebar melihat kehadiranku.

    Wonderful, Sir….Thank you for this special moment”, aku bercakap kepadanya yang entah dia paham atau tidak..

    Penjual kaki ternak.

    Aku berhasil menggapai tepian Saqichmon Ko’chasi*1), lalu tersenyum menatap utara. Jalanan sedang macet-macetnya menjelang pukul sebelas siang. Sepanjang mata memandang, jalan arteri itu dipenuhi oleh brand Chevrolet, compact car varian The New Chevrolet Spark  tampak mendominasi kepadatan jalan. Konon, Chevrolet memang mendominasi pangsa pasar mobil di Uzbekistan.

    Di sisi lain, di sepanjang trotoar yang kulintasi, aktivitas perdagangan tepi jalan juga sangat bergairah. Gerobak-gerobak beroda berjajar rapi dan menawarkan berbagai makanan, buah-buahan dan hasil bumi lainnya.

    Bahkan beberapa puluh meter kemudian, aku menemukan deretan kedai makan yang telah bergeliat dengan aktivitas memasak. Aku tertegun di satu titik, tempat dimana seorang pria muda sedang mengaduk-aduk nasi di sebuah wajan besar, dia sengaja memasak di atas perapian yang diletakkan di tepian trotoar. Bau rempahnya kuat menusuk indra pencium, otomatis membuatku lapar.

    Nasi goreng macam apakah ini?”, aku bertanya dan terkekeh dalam hati.

    Tapi belum saatnya untuk makan….Aku harus segera sampai di Chorsu Bazaar”, aku memutuskan untuk menghampiri lagi kedai makan itu setelah mengeksplorasi Chorsu Bazaar.

    Saqichmon Ko’chasi yang macet.

    Aku meneruskan langkah kaki, melewati area parkir yang sangat luas. Sepertinya itu adalah area parkir khusus untuk pengunjung Chorsu Bazaar, karena aku telah melihat bangunan besar dengan atap sepenuhnya berbentuk kubah warna biru.

    Itu pasti Chorsu Bazaar yang sedang kutuju”, aku menatapnya lekat-lekat dari area parkir.

    Aku yang sumringah, melangkah lebih cepat demi menggapai gerbang Chorsu Bazaar.

    Akhirnya aku sampai……

    Aku sendiri tak terburu-buru masuk, aku lebih memilih duduk di pelataran luasnya. Pengelola pasar setempat tampaknya sangat mengerti kebutuhan warga dan wisatawan dengan menyediakan tempat duduk yang nyaman di sekitar pasar.

    Aku memilih salah satu bangku beratap dan ternyata betah duduk di bangku itu. Suhu 4oC tak mengalahkan rasa antusiasku untuk menikmati kesibukan di sekitar gerbang masuk. Chorsu Bazaar jika dilihat sepintas lalu, lebih tampak seperti sebuah shopping mall yang besih dan bergaya.

    Untuk beberapa saat, aku menikmati duduk manisku di bangku mungil itu.

    Hanya saja, karena tak mau didahului siang, aku pun bangkit dan menuju gerbang pasar yang dijaga seorang petugas keamanan yang membawa metal detector.

    Tapi entah bagaimana, aku bisa lolos dari pemeriksaannya. Tapi toh aku tak khawatir jika sewaktu-waktu harus diperiksa ketika sudah berada di dalam pasar. Aku melenggang masuk melewati gerbang yang penuh dengan hiasan ucapan selamat tahun baru dengan warna dominan biru. Tampak beberapa pohon natal di tempatkan di anak tangga teratas di sebelah pintu pasar. Yang perlu kamu tahu bahwa 5% penduduk Uzbekistan beragama Kristen Orthodox.

    Aku sendiri tak langsung menaiki tangga menuju ke ruangan utama pasar, melainkan memilih berdiri di dekat pintu gerbang demi mengamati aktivitas sekitar. Mengambil beberapa foto menarik di beberapa titik. Memenuhi memori Canon EOS M10 yang setia menemaniku sejak lima tahun terakhir.

    Gerbang Chorsu Bazaar.
    Nah….Setelah berjibaku, sampai juga di Chorsu Bazaar.

    Aktivitas tak normalku membuat security yang berjaga di gerbang lebih intens mengamatiku. Aku hanya berharap dia tak menaruh kecurigaan apapun. Bersyukurnya, segenap waktuku di sekitar gerbang tak ditegur olehnya. Aku dibiarkannya begitu saja. Mungkin dia memahami bahwa aku hanyalah seorang turis yang sedang menikmati suasana saja.

    Cukup dengan beberapa gambar yang kudapat, aku pun mulai menaiki anak tangga demi anak tangga untuk memasuki ruangan pasar.

    Di anak tangga teratas aku dihadapkan pada akses masuk tak berdaun pintu, melainkan hanya tirai plastik yang digunakan untuk mencegah udara dingin memasuki ruangan dalam pasar.

    Aku segera menyingkap tirai itu, masuk ke ruangan pasar, dan terkesima dengan segenap isinya….

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Masih duduk di salah satu bangku tunggu Oybek Station….

    Aku antusias menikmati kesibukan warga lokal yang berlalu lalang di ruangan stasiun. Gelombang penumpang terus berdatangan dari anak tangga sisi kiri, kanan dan tengah stasiun.

    Beruntung, kereta yang aku tunggu tiba dengan cepat.

    Ternyata, kereta di O’zbekistan Line berpenampilan lebih garang dan maskulin. Bekelir putih dengan padanan biru navy, tetapi tetap tampak sama, berusia tua.

    Seorang petugas perempuan membawa tongkat bundar berwarna merah berlari kecil di sepanjang platform mempersiapkan proses naik-turun penumpang.

    Tak mau tertinggal, aku bangkit, mendekat ke kereta, melompat masuk melalui gerbong tengah, dan kembali mengambil posisi berdiri di dekat pintu.

    Suasana gerbong kereta di O’zbekistan Line.

    Tak berhenti lama, kereta melaju menuju barat. Menembus lorong-lorong panjang bawah tanah dengan cepat. Hanya perlu waktu sepuluh menit untuk tiba di tujuan akhirku, Chorsu Station.

    Turun dari gerbong dengan cepat aku menyusuri ruangan Chorsu Station. Berbeda dengan Abdulla Qodiriy Station, Ming O’rik Station dan Oybek Station yang ruangan utamanya berbentuk persegi, Chorsu Station memiliki bentuk ruangan setengah lingkaran dengan padanan cat putih dan krem. Bentuk setengah lingkaran mampu memberikan kesan ruangan stasiun yang lebih luas.

    Suasana di Chorsu Station.
    Jalur keluar dari Chorsu Station.

    Aku keluar dari “Shaharga Chiqish*1)” dengan menaiki tangga manual. Aku memilih exit gate itu karena terdapat “Chorzu Plaza Savdo Markazi*2)” tak jauh dari pintu keluarnya.

    Keluar dari bangunan stasiun, aku kembali menoleh ke belakang, mencoba membaca sebuah signboard di atas dinding terowongan stasiun bawah tanah itu.

    “Чорсу  бекати”

    Aku berdiri terdiam. Mencoba membaca Aksara Kiril itu. Aku yang sebelum berangkat telah belajar untuk memahami cara membaca Aksara Kiril, dengan sangat terbata-bata mulai membacanya.

    Yopsi….Eh….Yopsu….Eh, bukan….Chorsu….Oh, Chorsu Bekati….Bekati itu stasiun….Ya, itu artinya Stasiun Chorsu”, aku menyunggingkan sebelah bibir.

    Kubalikkan badan kembali, pandanganku menuju ke permukaan tanah. Langkahku terhantar pada sebuah area perdagangan yang dijejali deretan tenda-tenda niaga.

    Deret tenda niaga itu memenuhi ruang-ruang kosong yang diapit oleh sebuah ruas jalan dan pertokoan. Berdiri dengan jarak sangat rapat satu sama lain, lapak-lapak itu menjual buah-buahan, kacang-kacangan, pakaian, rempah-rempah, dan pernak-pernik lainnya.

    Langkahku menyusuri gang-gang antar tenda menciptakan ketertarikan pada sebuah lapak tak bertenda yang dijaga oleh seorang ibu paruh baya. Dia duduk tenang menunggui roti khas Uzbekistan yang dijualnya. Non*3) adalah nama dari roti jenis itu. Aku mengetahui roti khas Uzbekistan ini dari sebuah artikel yang kubaca sebelum berangkat ke Uzbekistan.

    Aku perlahan mendekat dan si ibu sepertinya memahami bahwa aku sedang menuju ke lapaknya. Kontan dia melempar senyum ketika jarakku hanya tinggal beberapa meter saja. Aku pun tak ragu melemparkan senyum balasan kepadanya.

    Non….How Much?”, aku menginisiasi sebuah pertanyaan.

    Nima….Nima*4)”, si ibu tampak panik dan bertanya kepada teman di lapak sebelahnya.

    Demi memecahkan masalah percakapan itu, aku selalu memiliki ide sederhana.

    Kukeluarkan dompet, kutarik selembar Som*5) dan kutunjukkan kepada si ibu, “How Much, mother?”. Si ibu lantas paham dan membuka kelima jarinya dan mengarahkan jarinya ke pandanganku.

    Oh, Lima Ribu Som”, aku membatin.

    Aku mengambil lembaran Som lain di dompet dan menyerahkan 5.000 Som kepada si ibu penjual roti itu. Si ibu dengan gesit mengambil dua buah Non, memasukkannya ke dalam plastik dan memberikannya kepadaku. Si ibu menjadi pedagang paling ramah yang kutemui pagi itu di Tashkent, dia selalu tersenyum ketika bertransaksi denganku.

    Aku yang penasaran, sejenak mencicip Non yang kubeli di depan si ibu. Non yang diberikan kepadaku berasa samar manis dan meluruskan anggapanku yang kukira roti itu berasa tawar. Aku memasukkan roti ke dalam plastik kembali dan memutuskan untuk memakannya saat makan malam saja.

    Sebelum berpamitan, aku meminta izin kepada si ibu untuk mengambil fotonya sebagai kenang-kenangan. Beruntung si ibu dengan baik hati memberiku izin. Aku tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Cekrak….Cekrek….Cekrak….Cekrek, aku beraksi mengambil gambar.

    Tenda-tenda niaga di sekitar Chorsu Station.
    Ibu baik hati penjual Non.
    Pedagang sosis yang minta difoto….Hihihi.

    Tetapi kejutan lain kemudian datang, mungkin iri melihat si ibu yang kuabadikan dalam Canon EOS M10 ku, seorang pria muda pedagang sosis menepuk punggungku dari belakang. Aku yang kaget segera mengalihkan pandangan dari si ibu dan menoleh ke belakang.

    Photo….photo”, dia menunjuk ke Canon EOS M10 ku lalu bergantian menunjukkan dirinya sendiri.

    Oh….Okay, brother….You look handsome”, aku tertawa kecil atas kejadian unik itu.

    I’ll keep your photo to Indonesia”, aku menyudahi dalam mempotretnya.

    Yaxshi….Yakxhi*6)”, dia mengacungkan jempolnya kepadaku.

    Aku berpamitan kepada ibu penjual roti dan pemuda penjual sosis untuk meninggalkan lapaknya dan melanjutkan perjalanan…….

    Keterangan Kata:

    1. Chiqish*1) = Keluar, Exit
    2. Savdo Markazi*2) = Shopping Mall
    3. Non*3) = Roti khas Uzbekistan, berebentuk bulat, berwarna mengkilat di salah satu sisinya
    4. Nima*4) = Apa
    5. Som*5) = Mata uang Uzbekistan
    6. Yakxhi*6) = Bagus

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Aku berdiri mematung di depan empat daun pintu kaca bertuliskan tiga kata yang diulang-ulang, yaitu Вход*1), Kirish*2), dan Entrance. Ketiganya tentu bermakna sama, yaitu “entry”.

    Aku mendorong salah satunya dan memasuki ruangan yang dijaga oleh dua security pria yang menenteng metal detector di tangannya. Dia menunjuk folding back yang kupanggul dan mengalihkan arah telunjuknya ke sebuah meja. Aku paham bahwa mereka akan memeriksa tasku.

    Percaya diri dan tanpa banyak tanya, aku menaruh folding bag di meja berwarna putih, kemudian salah satu dari mereka membuka resleting tasku untuk mengintip isinya.

    Petugas itu hanya tersenyum dingin, memberi kode bahwa aku sudah dinyatakan aman untuk memasuki platform.

    Ternyata bagiku, tak secepat yang terkira demi memasuki platform stasiun, aku bediri sejenak di depan ticket collection gate, memperhatikan dengan seksama bagaimana warga lokal menggunakan tiket kertasnya yang mirip karcis parkir demi memasuki gerbang platform.

    Mudah ternyata, mereka hanya perlu untuk me-scan barcode yang tertera di tiket pada gate detector, lalu mereka akan melewati besi penghalang dengan mudah. Setelahnya, mereka akan membuang tiket kertasnya di tempat sampah yang disediakan di sisi dalam ticket collection gate.

    Maka selanjutnya adalah giliranku untuk menduplikasi apa yang mereka lakukan. Aku berhasil melakukannya dengan mudah. Hanya bedanya, aku tak membuang tiket kertas itu melainkan menyimpannya sebagai sebuah kenangan perjalanan.

    Berhasil melewati bagian itu, aku pun mulai menuruni tangga menuju platform. Dengan hati berdebar aku tak sabar ingin melihat nuansa klasik yang tersemat di ruangan Abdulla Qodiriy Station. Debar penasaran yang tak lain disebabkan oleh studi literatur yang memberikanku informasi bahwa desain interior semua stasiun MRT di Tashkent mengusung gaya klasik.

    Dan begitu kagetnya aku ketika benar-benar tiba di tengah stasiun. Koridor stasiun ternyata memiliki platform area tak bersekat pelindung di sisi kiri-kanannya. Sementara itu, sangat jelas terlihat bahwa koridor stasiun bawah tanah itu ditopang oleh pilar-pilar besar yang berderet hingga di kedua ujung stasiun. Langit-langit koridor didesain melengkung berhiaskan gantungan lampu-lampu kristal nan klasik. Sementara itu, deretan bangku-bangku tunggu diletakkan tepat di tengah koridor dengan interval teratur.

    Di sisi lain, tampak beberapa petugas keamanan berjalan mondar-mandir di tepian platform demi memastikan tidak ada penumpang yang berdiri di zona bahaya.

    Ruangan bawah tanah Abdulla Qodiriy Sration.
    Ngeri kan ga ada sekat pemisah antara rel kereta dan platform.

    Dan tak perlu menunggu lama, tepatnya enam menit semenjak ketibaanku, kereta Tashkent Metropoliteni berwarna biru langit tiba.

    Aku melompat masuk dari gerbong tengah setelah kereta itu berdecit, melambat dan akhirnya berhenti. Pagi itu, tempat duduk di gerbong dipenuhi oleh para penumpang, memaksaku untuk mengambil posisi berdiri di dekat pintu. Beberapa detik kemudian, kereta akhirnya melaju kembali meninggalkan Abdulla Qodiriy Station, stasiun yang telah berusia pakai 22 tahun di jalur Yunusobod Line.

    Di dalam gerbong, mataku awas mengamati desain interior gerbong kereta Tashkent Metropoliteni. Aku teringat pada interior yang biasa terlihat di gerbong Kereta Komuter Jabodetabek. Keduanya cenderung berpenampilan tua.

    Bagaimana tidak tua jika kereta Tashkent Metropoliteni yang didatangkan dari Russia itu sudah beroperasi semenjak 46 tahun silam.

    Tetapi kesan lain tetap kudapatkan selama perjalanan. Para penumpang, khususnya muda-mudi Uzbekistan, mereka tampak super cantik dan super tampan dalam penampilan modis mereka. Tinggi badan mereka yang menjulang, telah menenggelamkanku yang berpostur kecil di dalam kerumunan gerbong.

    Kereta Tashkent Metropoliteni di Yunusobod Line. MRT ke-17 yang kunaiki dari total 19 jenis MRT selama backpacking.
    Interior di dalam kereta. Jadoel kan?

    Sayangnya, dalam perjalanan menuju Distrik Chorsu, aku tak bisa langsung menuju Chorsu Station, karena stasiun itu berada di jalur kereta yang berbeda. Jadi aku harus berpindah ke Oybek Station yang terletak di O’zbekistan Line. Untuk menggapai Oybek Station, aku pun harus terlebih dahulu mencapai Ming O’rik Station yang jaraknya hanya tiga stasiun dari tempatku bertolak. Ming O’rik Station dan Oybek Station terletak di titik yang sama dan hanya terpisahkan oleh sebuah koridor penghubung.

    Dalam sepuluh menit, kereta merapat cepat di Ming O’rik Station. Aku bergegas menuruni kereta dan untuk kesekian kalinya kembali berdiri di platform yang berbeda. Desain interior stasiunnya hampir mirip dengan milik Abdulla Qodiriy Station, hanya saja bentuk lampu kristal yang menggantung di langit-langit Ming O’rik Station sedikit berbeda, bentuknya lebih mirip stalaktit dan sekilas lalu menyematkan kesan modern pada Ming O’rik Station.

    Satu yang menjadi masalah kemudian adalah kesulitanku dalam menemukan koridor penghubung menuju Oybek Station. Mungkin aku sendiri yang tak paham dengan Aksara Kiril yang tertera di berbagai titik. Untuk beberapa menit aku hanya mondar-mandir di sepanjang platform.

    Hingga pada akhirnya, seorang petugas keamanan menyadari bahwa aku sedang kebingungan.  

    Bergegas dia mendekatiku….

    Where Go?”, tampaknya dia tak cakap berbahasa Inggris, tapi aku cukup paham apa maksudnya.

    Chorsu Bekati*3)”, aku membalasnya singkat.

    Oh….U Yerda*4)”, telunjuknya menunjuk ke atas tepat di sisi belakangku

    Aku mengamati dengan cermat, memang ada tangga manual di arah yang dia tunjuk, dan ada terowongan menuju ke tempat lain dari Ming O’rik Station.

    Jangan-jangan itu koridor penghubung ke Oybek Station”, aku manggut-manggut sendirian.

    Thanks you, Sir”, aku menaruh respek pada petugas keamanan itu yang secara proaktif mendatangiku sebagai orang asing yang kebingungan di negerinya.

    Aku meninggalkan petugas keamanan itu dan mulai menaiki tangga, untuk kemudian lindap di dalam interchange corridor.

    Koridor yang kulewati tampak tua, klasik, langit-langitnya berbentuk melengkung setengah lingkaran dan dindingnya berlapis keramik dengan pola tua di sepanjangnya.

    Hanya perlu waktu lima menit untuk tiba di mulut koridor di sisi yang lain.

    Interchange corridor antara Ming O’rik Station dan Oybek Station.
    Suasana di Oybek Station.
    Oybek Station.

    Di mulut koridor aku dihadapkan pada ruangan stasiun lain, Oybek Station.

    Secara sekilas, Oybek Station tak memiliki ornamen istimewa di setiap jengkal koridornya. Hanyalah sematan ukiran keramik berwarna hijau yang menghias di setiap pilar stasiun.

    Maka terduduklah aku di salah satu bangku demi menunggu kedatangan kereta di jalur O’zbekistan Line itu.

    Satu hal yang membuatku penasaran selama duduk adalah sebuah pertanyaan sepele tentang bagaimana bentuk kereta di jalur O’zbekistan Line. Apakah mirip dengan kereta di jalur Yunusobod Line?. Pertanyaan itu akan selalu muncul oleh karena tidak adanya sekat penghalang antara platform dan jalur kereta, sehingga memudahkan siapa saja untuk melihat secara langsung gerbong kereta yang melintas.

    Aku terus diam mengamati sekitar, sekaligus sumringah karena tak lama lagi akan tiba di Distrik Chorsu.

    Keterangan:

    Вход*1) (Baca “Vhod”) = Masuk

    Kirish*2) = Entry

    Bekati*3) = Stasiun

    U Yerda*4) = di sana

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Aku menyusuri jalan setapak nan sempit berbahan beton, untuk kemudian memasuki area hostel dari sisi belakang. Akhirnya aku pun tiba di pekarangan hostel.

    Terimakasih, Tuhan”, aku bersyukur dalam hati, “Ternyata memang tempat ini yang kucari

    Aku memang beruntung, karena secara tak sengaja telah memasuki pekarangan hostel yang sedang kucari, Paradise Hostel. Aku mengucek mata, meyakinkan sekali lagi, membaca papan nama di lokasi minim cahaya. Memastikan untuk yang terakhir kali.

    Berhasil meyakinkan diri maka tanpa pikir panjang aku membuka sebuah pintu yang tak terkunci. Aku terhenyak kaget karena aku membuka sebuah pintu ruangan bersama para tamu. Tak kurang dari lima penginap tampak menikmati kopi hangat, sajian makanan, menonton TV dan bercanda bersama.

    Hellooo, where is the reception desk, Sir?”, aku melemparkan tanya kepada salah satu dari mereka.

    “There”, seorang pria di antara mereka menunjuk sebuah arah.

    Oh, Okay, Thanks, Sir”, aku pun bergegas menutup pintu itu.

    Aku mencari pintu lain yang dimaksud dan menemukan di sisi barat bangunan. Benar saja, aku menemukan meja resepsionis ketika masuk dari pintu itu.

    Seorang lelaki muda tampak tenggelam dalam kesibukannya di meja resepsionis. Bukan berwajah Uzbekistan dalam pandanganku, tetapi lebih mirip berwajah Asia Selatan.

    Hello, Sir. Can you check a reservation by Donny via Booking.com!”,

    Hello, brother. Ok, please wait!”, dia mulai menatap layar monitor.

    Yesss, I find you. For 3 nights, isn’t?

    Yes, I had guaranteed my booking with a credit card. Can you check it?

    Wait”, tatapannya kembali ke layar monitor. “I didn’t find any payment in your booking. I think you must pay your room in the hostel”.

    Let me check my credit card account”, aku sibuk memeriksa aplikasi kartu kredit salah satu bank nasional di layar telepon pintarku.

    Okay, no billing on my credit card. How much must I pay?”

    280.000 Som

    Aku menyelesaikan pembayaran dengan cepat, untuk kemudian pria muda itu memberikanku kunci kamar dan menunjukkanku lokasi kamar, dapur bersama, ruang tamu bersama, ruang makan bersama dan kamar mandi bersama khusus pria…..Begitulah, semua serba “bersama” jika kamu menginap di sebuah dormitory. Tapi itu asyik loh, gaes…..Wkwkwkwk.

    Aku telah mendapatkan kamar, memasukinya, dan kemudian duduk di salah satu bunk bed. Untuk sejenak aku menghangatkan badan yang beku setelah setengah jam lamanya berjibaku di jalanan Tashkent tanpa persiapan.

    Tempat tidurku bersama sekelompok turis Turki.
    Tempatku makan dan berkenalan dengan turis dari berbagai negara.

    Perlahan aku membuka backpack, mengaduk-aduk isinya, mencari dua kerat roti yang kudapat dari penerbangan Uzbekitan Airways HY 554. Aku juga masih menyimpan beberapa snack pemberian Dasha, penumpang wanita yang duduk di sebelahku selama penerbangan.

    Aku yang kelaparan, menyantap sisa makanan yang kupunya di ruang tamu bersama. Aku tak mempedulikan tatapan aneh para tamu-tamu Turki yang sedang berkumpul di ruang yang sama.

    Tak lupa aku menyisakan sebungkus kecil biskuit untuk sarapan esok hari. Tak mungkin bagiku keluar mencari makanan malam itu.

    Untuk sementara aku merasa tenang, kenyang dan relaks.

    Membuatku cepat terlelap di atas bunk bed usai membasuh badan di bawah shower hangat Paradise Hostel.

    —-****—-

    Pagi sekali…..Masih gelap di Tashkent.

    Jam 6 pagi tepatnya……

    Paradise Hostel masih senyap, lampu di semua ruangan masih padam. Aku berjinjit ke kamar mandi hanya untuk menggosok gigi, membasahi rambut dan mencuci muka. Aku tak akan mandi pagi itu. Begitulah kebiasaan diri saat ber solo-traveling, aku hanya akan mandi ketika hendak beranjak tidur malam saja….Jangan ditiru ya….Kebiasaan jorok itu….Hahaha.

    Aku masih memiliki sebungkus kecil biskuit dan sebungkus salted peanuts yang bisa kunikmati sebagai menu ringan sarapan. Air minum hangat?….Ya, aku menemukannya dengan mudah di pantry bersama hostel.

    Menjelang pukul tujuh pagi, dua staff Paradise Hostel mulai bangun dan membersihkan ruangan. Sepertinya mereka tinggal di dormitory itu. Seorang staff tampak masih muda, berparas cantik dan berambut panjang kepirangan khas gadis Uzbekistan. Seorang lagi adalah perempuan setengah baya yang aku tebak adalah ibu gadis itu. Wajahnya tampak mirip.

    Nantinya, selama tiga malam menginap di dormitory itu, dua perempuan super baik itu akan menjadi teman mengobrol yang menyenangkan bagiku.

    Pukul delapan….Beberapa penginap sudah mulai bangun dan duduk di ruang bersama. Bahkan,  satu rombongan pejalan dalam waktu singkat memenuhi ruangan, hampir seluruh bangku di meja makan berukuran panjang diakuisisi oleh mereka.

    Tiga gadis muda dalam rombongan sibuk menuangkan berbagai macam makanan. Berkerat-kerat roti, potongan keju yang melimpah dan berbungkus-bungkus biskuit mereka hidangkan di meja panjang. Sesaat kemudian, sekitar enam belas anggota rombongan bersarapan bersama dengan duduk berhadap-hadapan. Mereka sepertinya rombongan mahasiswa yang sedang melakukan perjalanan bersama.

    Aku yang sendirian dan tak berteman memilih untuk menepi dan duduk di sebuah sofa depan TV dan menikmati menu sarapan super sederhanaku.

    Pukul sembilan pagi,…..

    Aku melongok keluar jendela. Tampak jalanan kecil di depan hostel sesekali dilintasi oleh warga lokal yang sudah memulai aktivitas rutinnya. Satu dua mobil mulai dinyalakan untuk memanasi mesin.

    Saatnya memulai eksplorasi”, aku merengkuh winter jacket yang kusampirkan di sebuah kursi.

    Bagian depan Paradise Hostel.

    Sewaktu kemudian aku sudah berada di tepian Navoiy Shoh Ko’chasi. Menuju ke timur, aku berusaha mengalahkan dinginnya suhu -4oC.

    Aku bermaksud menuju ke Abdulla Qodiry Station dan akan mengunjungi Distrik Chorsu.

    Di sebuah trotoar, aku yang terpesona dengan bentuk-bentuk bangunan khas Uzbekistan di sepanjang jalan memutuskan untuk sesekali berhenti demi mengabadikan pemandangan kota.

    Pada satu titik, aku diteriaki oleh seorang security dari sebuah kantor pemerintah. Aku tahu bahwa teriakan itu tertuju padaku, sepertinya dia hendak melarangku untuk mengambil foto. Aku meliriknya yang sedang berlari kecil dari halaman gedung menuju ke trotoar tempatku berdiri.

    Aku yang paham kondisi itu memutuskan untuk segera pergi meninggalkan tempat itu secepat kilat. Berpura-pura tidak mengetahui keberadaan secutiry itu, aku melangkah cepat meninggalkan lokasi.

    Beberapa detik kemudian, tanpa menengok ke belakang pun aku tahu bahwa security bertubuh tegap itu berhenti lalu memandangiku dari kejauhan. Dia enggan mengejarku karena aku sudah terlalu jauh untuk dikejar olehnya.

    Aku sepenuhnya paham bahwa pada masa lalu tidak sembarangan orang boleh mengambil foto di jalanan Uzbekistan. Mungkin pemerintah Uni Soviet merasa perlu menjaga diri di masa perang dingin dari tindak spionase.

    Memang aturan mengambil foto itu telah dihapuskan tetapi toh kenyataannya beberapa warga mereka masih merasa aneh ketika seorang asing mengambil foto di tempat-tempat umum.

    Suasan trotoar Navoiy Shoh Ko’chasi.
    Gedung National Library of Uzbekistan.
    Ruangan bawah tanah Abdulla Qodiry Station.

    Usai menyeberangi lebarnya Amir Temur Ko’chasi dan menempuh jarak hampir 1 Km, aku tiba di stasiun.

    Aku menuruni tangga menuju ruangan bawah tanah. Sejenak aku menikmati udara hangat di ruangan bawah tanah itu. Aku berhenti sejenak mengamati situasi, berusaha memahami bagaimana warga lokal membeli tiket MRT.

    Sebuah loket tampak dijejali warga lokal yang mengantri untuk mendapatkan tiket. Ada selembar kertas bertuliskan 1,400 Som di atas lubang loket. Aku yakin bahwa nominal itu adalah harga tiket MRT.

    Aku mempersiapkan uang koin sisa menaiki bus kota semalam dan mulai mengantri di loket. Usai mendapatkan tiket, aku pun mencari pintu masuk menuju platform.

    METROGA KIRISH”. Aku melihat signboard berwarna kuning tergantung di langit-langit koridor.

    Aku yakin itu adalah pintu masuk menuju platform. “KIRISH” bermakna akses dalam Bahasa Indonesia.

    Tanpa ragu sedikitpun….Aku pun melangkah memasukinya.

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Bus kota berkelir hijau muda dengan desain modern yang kutunggangi perlahan tapi pasti menembus gelapnya jalanan bandara, melewati jalanan sepi dan kosong di pinggiran kota.

    Seiring laju bus, perlahan cahaya jalanan mulai tampak di sejauh tatapan memandang.

    Selamat datang, Tashkent”, tatapku berbinar bak memenangkan sebuah pertarungan.

    Kabin mulai dipenuhi warga lokal ketika bus menepi di sebuah halte yang sepertinya berada di perbatasan kota. Membuatku harus menyerahkan kursi kepada seorang perempuan tua yang tampak kepayahan menaiki bus dari pintu tengah.

    Dia tersenyum padaku dengan beberapa giginya yang telah tanggal ketika menduduki bangku yang kuberikan. Tak berkomunikasi apapun, aku hanya membalasnya dengan senyuman pula.

    Aku sendiri sedikit kepayahan berdiri di dalam bus malam itu. Si pengemudi tak lembut memainkan pedal gas sehingga beberapa kali aku terpontang-panting ke depan-belakang karena injakan rem dan gas yang sering mendadak. Walaupun di sisi lain, aku melihat warga lokal tampak tenang-tenang saja ketika bus itu terkadang berjalan ndut-ndutan.

    Aku mulai melihat kepadatan kendaraan ketika bus kota memasuki ruas Yusuf Hos Hojib Ko’chasi. Di jalan itu, bus tersendat di depan Gedung Kementrian Dalam Negeri Uzbekistan yang berdiri perkasa di sisi barat jalan. Gedung bertembok tebal, berbentuk persegi dengan sudut menyiku sempurna di setiap ujung bangunannya itu menjadikan suasana sekitar beraura metropolis. Aku terus mengamati setiap jengkal gedung itu dari balik kaca bus kota.

    Bus terus merangsek di Sharof Rashidov Shoh Ko’chasi. Inilah jalan yang menyematkan nama tokoh masa lalu Uzbekistan dari Partai Komunis. Di salah satu sisi jalan itu tertampil sebuah gedung dengan arsitektur mirip sebuah masjid yang memendarkan warna hijau terang. Ternyata itu bukanlah bangunan masjid, melainkan sebuah Central Exhibition Hall. Bangunan dengan bagian bawah keseluruhannya adalah deretan pintu dengan lekuk-lekuk runcing di atasnya.

    Gedung Markaziy Ko’rgazmalar Zali.

    Bus kemudian mengambil arah ke timur melewati bangunan klasik Pusat Hak Asasi Manusia milik pemerintah, terus melaju dan merangsek di Islam Karimov Street hingga menemui jalan melingkar di Amir Temur Square. Aku begitu berkesan melewati markah kota yang terkenal itu. Siapa yang tak tahu Amir Temur Square yang merupakan taman kota utama di Tashkent dengan simpanan sejarah di dalamnya. Tetapi sejenak rasa antusiasku redam dengan kondisi gelap di sepanjang taman.

    Aku akan menikmatinya esok hari”, aku bersemangat dalam hati.

    Setelah perjalanan selama 40 menit, akhirnya aku tiba di tujuan. Aku memencet tombol ‘STOP’ di salah satu tiang bus ketika bus perlahan melahap kemacetan di sekitar State University of Law. Aku turun dari bus, kemudian, untuk sesaat mengabadikan bentuk bus kota itu di dalam kamera.

    Aku sudah benar-benar turun di jalanan Tashkent. Udara hangat dalam bus telah berubah menjadi udara dingin 2 oC. Tarikan nafasku memberat. Udara super dingin masuk melalui celah-celah winter jacket yang kukenakan. Sementara dingin mulai mengikis mental, aku masih saja berdiri di sisi trotoar untuk melihat situasi dan menetapkan jalur yang akan kutempuh dengan berjalan kaki.

    Halte bus Yuridik Universiteti.

    Sejenak kemudian aku mulai memahami jalur itu. Aku melangkah ke utara melewati trotoar bercahaya remang untuk kemudian tiba di sebuah perempatan besar. Setidaknya cahaya di perempatan itu menenangkan hati. Keberadaan dua polisi lalu lintas membuat aku percaya diri melintasi Navoiy Shoh Ko’chasi, jalan protokol di Tashkent. Malam itu, aku sudah berada di jantung Kota Tashkent.

    Jalan delapan jalur dengan dua ruas arah itu sangat ramai dengan kendaraan, hiasan lampu yang membentang di atas jalan juga membuat cantik suasana kota. Sementara itu, tatapku terus tertuju pada sebuah jalur trotoar di sisi utara jalan, trotoar itu menuju ke barat. Aku harus melewati trotoar itu dan mencari keberadaan dormitory yang telah kupesan secara daring.

    Menyeberang dua kali di bawah pengawasan polisi lalu lintas berperawakan tinggi besar dan berseragam tebal, aku berhasil menggapai pangkal trotoar yang kumaksud. Trotoar itu tampak remang oleh karena cahaya lampu terkalahkan dengan rindangnya pepohonan besar di sisi lain trotoar. Hanya satu dua warga lokal yang melintas di jalan itu.

    Rasa takutku telah kalah dengan udara dingin Tashkent, tak ada pilihan selain segera menemukan penginapan itu, sebelum aku membeku di jalanan. Aku terus melangkah cepat, beberapa warga lokal yang berpapasan denganku menaruh tatapan heran. Mungkin mereka jarang menemukan wajah Asia Tenggara di kotanya. Aku hanya melempar senyum membalas tatapan mereka.

    Kusempatkan sesekali mengambil foto di sekitar jalanan hingga langkahku tiba di sebuah gang. Ada pos jaga dengan seorang security yang berjaga, kaca jendela pos itu tertutup rapat demi mencegah udara dingin masuk ke dalamnya.

    Sebuah perempatan di Navoiy Shoh Ko’chasi.
    Lampu hias di Navoiy Shoh Ko’chasi.
    Mencari hostel melalui trotoar itu.
    Aku masih penasaran, hostel apakah ini?

    Jauh di dalam gang tertera signboard menyala merah bertuliskan “HOSTEL”. Aku yang mencari Paradise Hostel mengindahkan keberadaannya. Aku pun terus melanjutkan langkah, tetapi semakin jauh melangkah, trotoar semakin sepi, juga semakin gelap. Aku mulai khawatir.

    Maka kuputuskan untuk kembali ke titik dimana aku melihat tulisan hostel yang kulewati beberapa menit lalu.

    Daripada kedinginan, lebih baik aku ke hostel tadi, jika memang bukan Paradise Hostel, aku akan memesan kamar baru di tempat itu”, aku yang menggigil pun telah mengambil keputusan baru.

    Aku pun memutar haluan dan melangkah cepat menuju ke hostel yang kumaksud.

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Gemerlap pelita bumi membuka aura kecantikan Pelabuhan Bebas Sabang. Bentangan corniche didesain begitu ciamik, tak kalah dengan lajur yang sama milik beberapa kota di negara-negara yang pernah kukunjungi.

    Kapal-kapal berukuran sedang diparkirkan teratur, terpaan gelombang laut membuat setiap haluan kapal mengangguk-angguk harmonis. Pemandangan itu membuatku khusyuk berdiri di ujung corniche, bersandar di pagarnya, melepas pandangan jauh ke arah laut lepas. Sementara itu, tak sedikit warga lokal yang sibuk berburu foto berlatarkan corniche yang indah nan gemerlap.

    Pelabuhan Bebas Sabang.
    Corniche di Pelabuhan Bebas Sabang.

    Sesaat kemudian aku telah berpindah ke pusat aktivitas sebuah taman. Area melingkar beralaskan keramik kasar itu ditengarai oleh sebuah menara yang berdiri tinggi menjulang. Warna dindingnya memadukan dua warna utama, merah dan putih. Oleh karenanya, khalayak menyebutnya sebagai Menara Merah Putih.

    Sementara itu aktivitas warga tampak meriah di dasar menara. Bisnis penyewaan mobil-mobilan bertenaga baterai tampak mendominasi. Beberapa anak-anak tampak berseru-seru riang mengamati mainan terjun payung dengan kerlap-kerlip lampu yang menarik perhatian.

    Deret tenda kuliner tampak benderang dan riuh di utara taman. Beragam kuliner dijual di tempat itu. Tetiba tatapku tertuju pada sebuah kedai. Kedai itu tampak ramai adanya. Adalah sate gurita yang menjadi idola dalam etalasenya. Kulihat, pelayan kedai tampak menyajikan hidangan sate gurita itu kepada para pelanggan dengan paduan lontong dan saus. Sekejap membuatku penasaran untuk mencobanya.

    Gurita memang sering tersangkut di jaring nelayan di perairan dangkal Pulau Weh yang menyimpan banyak potensi. Tak ayal gurita menjadi menu kuliner khas Kota Sabang.

    Aku yang penasaran akhirnya bangkit dari duduk di bawah menara, kudatangi kedai makan itu, kupesan seporsi Sate Gurita dan kupilih lontong untuk melengkapi menu itu.

    Si penjual memintaku menunggu untuk beberapa saat di sebuah bangku karena dia sedang sibuk meramu pesanan para pengunjung kedai yang telah memesan makanan sejak sebelum aku tiba.

    Lima menit kemudian pesanan itu tiba, aku membayar dengan Rp. 25.000. Setelah mendapatkan seporsi Sate Gurita, aku memutuskan untuk kembali ke penginapan. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam.

    Lebih baik aku menyantapnya di penginapan saja“, aku membatin

    Aku menaiki sepeda motor sewaan menuju PUM Losmen Syariah. Aku sedikit tenang, karena pada siang sebelumnya, resepsionis losmen memberikan informasi bahwa aku sudah mendapatkan kamar bernomor B-2. Aku juga telah menitipkan backpack di losmen itu sejak pagi dan backpack itu sudah dimasukkan ke dalam kamarku.

    Menara Merah Putih.
    Kedai kuliner di utara Menara Merah Putih.
    Sate Gurita khas Sabang.

    Dalam 5 menit aku tiba….

    Keributan terjadi di lobby losmen. Terdapat satu keluarga penginap yang akan melempar komplain kepada resepsionis, tetapi si resepsionis tak terlihat batang hidungnya.

    Menurut si kepala keluarga, dia sudah melakukan reservasi dan membayar satu kamar di sebuah e-commerce perjalanan ternama di tanah air. Tetapi ketika mereka tiba di losmen, semua kamar telah terisi. Akan tetapi, uang yang sudah mereka bayarkan tidak bisa ditarik hari itu juga. Itulah yang membuat mereka mengalami kekecewaan.

    Aku hanya tersenyum simpul mendengarkan komplain itu. Sudah begitu sering aku mendengarkan komplain serupa. Aku sendiri sempat mendapatkan masalah serupa di Shenzen ketika hotel yang kamarnya kupesan tetiba tutup ketika aku telah berada di lokasi.

    Perdebatan akhirnya tak pernah terjadi karena si calon tamu pergi meninggalkan losmen karena resepsionis tak kunjung hadir. Kemudian aku duduk di lobby dan bercakap dengan seorang lelaki paruh baya asal Takengon yang kebetulan menginap di losmen yang sama.

    Kami bercakap seperlunya sembari menunggu kamar mandi bersama ada yang kosong. Kebetulan kamar mandi penuh malam itu, sedangkan aku berniat untuk berbasuh.

    Beruntung ada sebuah kamar mandi yang kosong beberapa menit kemudian. Aku izin meninggalkan si bapak untuk memasuki kamar demi mempersiapkan alat mandi.

    Begitu terkejutnya ketika aku memasuki kamar. Karena tidak ada pendingin ruangan di kamar itu selain satu unit standing fan berukuran besar saja.

    Malam ini aku akan tidur tanpa AC”, aku bergumam.

    Satu hal yang membuatku tersenyum lagi adalah kondisi kamar mandinya yang menyematkan bak mandi super lebar di dalamnya. Membuatku harus mandi dari bak mandi lebar yang tentu telah dipakai oleh semua tamu yang menginap. Tentu tak menjadi masalah, masa kecilku di masa lalu sering mandi menggunakan bak mandi yang demikian.

    Tak ada air hangat pun aku tak mengomplain. Aku hanya terus menikmati setiap tahap perjalananku dengan gembira.

    Malam itu aku tidur dengan jendela terbuka, beruntung hujan turun di tengah malam, membuat udara menjadi sejuk.

    Saking beratnya rasa kantuk, aku tak sempat menyantap sate gurita yang kubeli. Beruntung jajanan itu tak basi di keesokan hari. Sehingga bisa kujadikan menu sarapan sebelum melakukan eksplorasi di hari terakhirku di Pulau Weh.

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Aku sedang mengejarnya.

    Tak ada acara lain dalam memburu sunset yang sebentar lagi lindap di ufuk barat melainkan dengan menggeber gas sepeda motor sewaan, melibas tikungan demi tikungan di jalanan pantai utara Pulau Weh. Itu juga karena musabab hilangnya banyak waktu ketika aku mendapati kesulitan jaringan internet di Pulau Rubiah saat menghubungi pengemudi perahu demi mengeluarkanku dari pulau itu setengah jam sebelumnya.

    Beruntung aku mendapatkan motor sewaan dengan kondisi prima sehingga aku bisa dengan cepat menuju ke timur pulau, mendekatkan diri ke pusat Kota Sabang.

    Aku berencana menuju Paradiso Sabang Beach untuk menikmati sunset yang akan kuburu untuk pertama kalinya di Pulau Weh. Kebetulan pantai itu menghadap ke barat, sudah pasti sunset akan terekspose sempurna dari bibir pantai itu.

    Ketika putaran roda sepeda motor sewaan tiba di daerah Kreung Raya, kedai-kedai kopi tepian jalan mulai membuka diri. Lokasi kedai yang menempati area perbukitan dan menghadap langsung ke arah pantai telah dijejali muda-mudi yang hendak menunggu sunset turun di titik terbaiknya.

    Aku yang sempat tergoda, hampir saja mampir di salah satu kedai. Beruntung dari dipannya, aku melihat keberadaan sebuah pantai, tepat di bawah kaki bukit. Maka aku pun mengurungkan niat untuk menyeruput kopi di kedai itu. Aku memutuskan menuruni bukit melalui jalanan meliuk-menurun dan keluar dari jalur utama demi menuju pantai yang kumaksud, Teupin Ciriek adalah nama dari bentangan pantai nan indah itu.

    Berhasil merapat ke bibir pantai, aku segera memarkirkan sepeda motor sewaan dan bergegas menuju ke salah satu kedai kopi. Namun sebelum memutuskan untuk duduk dan memesan segelas es teh tarik, aku memutuskan untuk mengambil air wudhu di belakang kedai demi menunaikan shalat jamak di sebuah surau mungil. Aku menjamak Dzuhur dan Asharku sore itu.

    Barulah seusai shalat, aku mendudukkan diri di salah satu bangku kedai kopi yang persis menghadap pantai. Menikmati teguk demi teguk es teh tarik yang kupesan.

    Sejenak aku mendapatkan cahaya senja di kejauhan. Namun sayang, itu terjadi tak cukup lama, segulung awan hitam mulai datang untuk menutup titik tenggelam sang surya.

    Alhasil, pertunjukan alam itu tak sepenuhnya berhasil.

    Pertunjukan alam yang tak sepenuhnya sempurna.

    Menyimpan sedikit kekecewaan, aku memutuskan untuk menggeber kembali gas sepeda motor sewaan menuju pusat Kota Sabang. Itu karena gelap mulai mengakuisisi hari.

    Menurut Bang Taufik si pemilik motor, Sabang memang aman dari tindak kejahatan, tetapi jaminan itu tidak sepenuhnya berlaku jika dikaitkan dengan keberadaan hewan liar yang masih banyak hidup di kawasan hutan Pulau Weh.

    Oleh karenanya, kularikan sepeda motor sewaan itu sekencang mungkin meninggalkan kawasan hutan.

    Aku sendiri tak bermaksud untuk bergegas pulang ke penginapan. Tak lain karena malam itu adalah malam terakhir bagiku di Pulau Weh. Sore di keesokan hari aku akan kembali bertolak menuju Banda Aceh.

    Dalam lima belas menit aku pun tiba di tujuan. Aku telah mengincar tujuan ini semenjak keberangkatan dari Ibu Kota.

    Yupz, aku tiba di Kedai Mie Sedap yang terletak di Jalan Perdagangan. Kedai mie itu menempati bangunan di pusat taman Pelabuhan Bebas Sabang. Berdiri bersisian dengan bangunan Acirasa Coffee yang dominan hijau muda. Kedai Mie Sedap itu dibiarkan tak berdinding, membiarkan pesona malam pantai terekspose dari dalam kedai.

    Memasuki pintu kedai, kesibukan para chef berhasil mencuri perhatian para pengunjung. Sejenak aku berdiri memperhatikan cara mereka memasak mie lekat-lekat. Gemelontang spatula yang harmonis beradu dengan wajan bak menari-nari di gendang telinga, membuat perutku semakin lapar tak terbendung.

    Duduk saja dulu, Bang. Nanti saya ke tempat Abang!”, seorang pelayan kedai memberitahuku ketika aku berusaha memesan salah satu menu dari sebelah kasir.

    Akhirnya terduduklah aku di sebuah bangku, tepat di sebelah pintu belakang kedai. Tanpa melihat lembaran menu yang tersedia, aku telah menetapkan pesananku.

    Mie rebus dengan topping telur mata sapi setengah matang ya, Bang. Minumnya es teh tarik”, aku telah menghafalkan menu itu dari rumah.

    Tak perlu menunggu lama untuk mendapatkan bagian makan malamku. Dalam lima menit hidangan yang kupesan telah tersaji di meja makan.

    Masuk yuuuk!
    Inilah cita rasa otentik berusia 83 tahun di Pulau Weh.
    Itu dia Kedai Mie Sedap dilihat dari sisi pantai.

    Mie Sedap Rebus itu menebarkan aroma sedap menusuk hidung. Tebaran potongan daun bawang membuatnya tampak segar dan harum, sementara itu tebaran potongan dadu ikan pisang-pisang berukuran kecil memunculkan cita rasa gurih ketika di santap.

    Aku membiarkan malam menggulung waktuku, karena aku juga tak mau terburu-buru menikmati hidangan semangkok Mie Sedap itu.

    Hingga lewat dari jam delapan malam, aku benar-benar selesai menyantapnya tanpa sisa.

    Sama sekali tak khawatir dengan datangnya malam, bukannya semakin sepi, tempat itu justru semakin ramai oleh para pengunjung yang datang demi menikmati weekend yang baru saja dimulai sejak sore sebelumnya.

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Hampir pukul setengah dua siang ketika aku meninggalkan Tugu Nol Kilometer RI. Rasa penasaranku telah lindap dalam memori pengalaman terdalam. Tak lain karena keberhasilan diri mengunjungi destinasi penting dalam passionku sebagai seorang solo-traveler.

    Bertolak dari Titik Nol Kilometer Indonesia, aku tak perlu lagi keseringan menatap layar telepon pintar demi menuju Teupin Layeu, aku sudah melintasi jalur menujunya dua setengah jam sebelumnya.

    Praktis, aku hanya perlu fokus untuk menggeber gas sepeda motor sewaan menuju titik tersebut. Alhasil, aku pun berhasil melewati ruas jalan yang penuh proyek renovasi itu dalam lima belas menit untuk kemudian kembali menggapai gerbang Teupin Layeu.

    Tanpa menunggu ditanya, aku menyerahkan selembar Rp. 5.000 kepada pemuda penjaga gerbang masuk.

    Nginep, Bang?

    Oh, engga….Mau nyebrang aja, Bang”.

    Oh….Nanti cari kelompok lain di tempat penyewaan snorkle untuk nyebrang bareng, Bang….Biar murah”.

    Ok….Terimakasih ya, Bang”, aku pun bergegas mencari tempat parkir.

    Tiba di tempat parkir, aku langsung disapa oleh seorang lelaki tegap, berperawakan besar.

    Abang mau nyebrang?”, pertanyaan tanpa basa-basi dilontarkannya

    Betul, Bang

    Kalau mau sewa snorkle, saya ada persewaan….Saya bisa carikan pengunjung lain untuk nyebrang bareng. Ongkosnya biar murah, Bang”, dia tersenyum sembari merapikan sepeda motorku di tempat parkir.

    OK, saya ikut Abang aja”, aku menolehkan muka ke arah titik penyeberangan.

    Aku pun dibawa ke tempat persewaannya dengan langit-langit ruangan yang digelantungi baju pelampung. Kemudian, seorang perempuan setengah baya mendatangiku,

    Ukuran kakinya berapa, Bang?

    40, Bu”, aku faham bahwa ukuran itu digunakan untuk menentukan fin yang akan kupakai.

    Sewaktu kemudian perempuan setengah baya itu membawa peralatan snorkeling lengkap. Fin sesuai ukuran kaki, snorkel mask dan baju pelampung. Cukup membayar dengan Rp. 50.000 untuk menyewa ketiga jenis peralatan itu seharian.

    Sementara itu, si Bapak mempertemukan aku dengan dua traveler lain untuk menyeberang ke Pulau Rubiah menggunakan satu perahu. Metode sharing cost ini ternyata memang disediakan langsung oleh para pelaku bisnis wisata di Teupin Layeu.

    Dua traveler muda asal Medan itu adalah Mahalli dan Joko. Mahalli adalah pemuda Medan keturunan Sunda, sedangkan Joko berketurunan Jawa.

    Teupin Layeu.
    Persewaan alat snorkeling di Teupin Layeu.

    Aku diberikan selembar tiket perahu berwarna merah dengan nomor HP pengemudi perahu dan nomor perahu di lembarannya.

    Perahu kayu nomor 16 ya, Bang”, perempuan pemililik persewaan snorkel itu memberitahu kami bertiga.

    Tanpa pikir panjang kami bertiga menuju dermaga, untuk kemudian aku melakukan panggilan telepon kepada nomor HP yang tertera di karcis.

    Dari percakapanku dengan pengemudi perahu di handphone, aku akhirnya tahu bahwa perahu kayu itu masih ada di sekitar dermaga, sehingga kami tak perlu menunggu lama untuk menyeberang.

    Perahu kayu bermesin tempel tunggal itu tiba dalam lima menit di dermaga Pulau Rubiah. Di perahu itu ikut menumpang seorang perempuan paruh baya yang memiliki warung di Pulau Rubiah. Maka demi memudahkan kegiatan snorkeling, kami diajak si ibu ke warungnya dan dipersilahkan menyimpan tas di sana.

    Dermaga di Teupin Layeu.
    Tiba di Dermaga Pulau Rubiah

    Tiba di warung, aku segera berganti baju di sebuah kamar ganti sederhana di belakang. Aku juga minta disiapkan dua bungkus mie instan mentah yang telah disiram air untuk aktivitas memberi makan ikan ketika bersenorkeling nanti.

    Berdasar informasi dari si ibu pemilik warung bahwa biasanya kegiatan snorkeling akan selesai maksimal pukul enam sore. Dan itu adalah tiga jam ke depan semenjak kedatanganku di Pulau Rubiah beberapa menit sebelumya.

    Aku segera menuju titik snorkeling yang letaknya 200 meter dari dari warung. Tampak garis pelampung diletakkan di kejauhan sebagai batas untuk melakukan aktivitas snorkeling. Keamanan berwisata tetap menjadi prioritas nomor satu di Pulau Rubiah.

    Aku pun menyeburkan diri ke dalam jernihnya air laut. Beberapa terumbu karang masih tampak alami di sisi timur pantai. Pasir yang berada di sekitar Pantai Rubiah adalah pasir putih yang lembut. Sementara di perairan pantai yang agak dalam tampak beberapa bekas sepeda motor, dan anyaman besi di tanam di dasar pantai untuk membantu menumbuhkan terumbu karang.

    Keeksotikan berikutnya yang kudapatkan adalah ketika melakukan aktivitas memberi makan ikan. Jika biasanya aku mendapatkan ikan laut berukuran kecil ketika melakukan kegiatan yang sama di beberapa pantai di tanah air, sore itu aku mendapatkan sekumpulan ikan berukuran besar yang berebut makanan.

    Dermaga di Pulau Rubiah.
    Area snorkeling Pulau Rubiah.
    Aku, Mahalli dan Joko.

    Bertambah sore, jumlah pengunjung semakin banyak. Beberapa diantaranya ternyata menggunakan jasa tour & travel, tampak beberapa tour guide yang menggunakan pakaian khas menyelam sibuk membriefing mereka sebelum melakukan aktivitas snorkeling.

    Aktivitas snorkeling yang kulakukan pun berakhir pada pukul lima sore. Aku harus bersiap diri untuk kembali menyebrang ke Teupin Layeu, menyudahi petualangan hari perdanaku di Pulau Weh.

    Keluar dari air laut, aku menahan rasa lapar yang teramat sangat. Oleh karenanya setelah berganti pakaian tanpa berbilas, aku pun memesan mie rebus dengan telur mata sapi setengah matang ke ibu si empunya warung.

    Usai menyantap menu makan sore itu, aku bersama Mahalli dan Joko pun pergi menyeberang ke Teupin Layeu.

    Petualanganku di Pulau Rubaih pun usai.

    Kisah Selanjutnya—->