• <—-Previous Story

    Ir. Soekarno statue in Manahan Stadium gate.

    If Jakarta chooses Gelora Bung Karno as proud sport area of capital city, Solo has a well-known sport area, namely Manahan Stadium. And this time, I had an opportunity to directly survey it for Marketing Conference purpose which will held in two months after this survey.

    My arrival at Manahan Stadium started when I finished in enjoying dinner at GALABO (Gladag Langen Bogan), which was in Kedung Lumbu area. After making sure that my stomach was full with a portion of Soto Kwali and continued by warming my body with a portion of Wedang Ronde, I left GALABO which was heading for its peak of crowd. I enjoyed my last song at that place while waiting for an online taxi which I ordered.

    For some reason, songs which had been so beat in firstly, but towards the end of my visiting in GALABO, turned melancholy. A song “Sewu Kutho” belonging to the late Didi Kempot accompanied my steps in leaving GALABO until its rhythm became silent when I entered an online taxi.

    Manahan Stadium, Sir”.

    The main road to get there is being renovated, Sir. There is an flyover construction project. Can I take another route, Sir. A little longer to reach the destination

    It’s okay. I’m not in a rush either. Just relax, Sir“.

    Ok, Sir. Thank you”.

    I didn’t understand about a route which wa took by this middle-aged driver. I just enjoyed every step on gas pedal through night streets of Solo City. City atmosphere was still lively even though it was past eight in evening

    I arrived at destination 10 minutes later than scheduled time. I was dropped off on south side of stadium, right in front of the Ir. Soekarno statue. This bronze statue of the first president of Republic of Indonesia was seen sitting and reading a book. Meanwhile at ase of statue, LED lights played a role in producing color gradations which captivate visitors. And in the splash of colored lights, fountains took turns to beautify an oval pool area.

    Manahan Dancing Fountain

    Can I go inside, Sir?”, I asked a security guard at stadium gate.

    Sorry, Sir. It’s closed from four o’clock in the afternoon. So we aren’t longer able to accept incoming visitors“.

    Oh Okay, Sir. What time is it open, sir in every day? ”.

    It’s open on eight o’clock in the morning, Sir. So I suggest you to coming here again tomorrow”.

    Oh Okay, Sir”.

    I turned around and sat on the edge of Manahan Dancing Fountain.

    Kriiingggg….. Kriiingggg. I got a call.

    Hello Donny. How about Solo City? Is it nice?. Oh yes, Donny, you have to publish the first teaser for Marketing Conference today, because today is exactly two months before event!”, my CEO called me.

    Yes, Ma’am”.

    So that night, I was busy to designing Marketing Conference’s first teaser. I immediately contacted a staff of company’s Design Division in Jakarta, Tommi is his name. Then I told him about a concept which I wanted. I continued to guide him about concept detais and he was so quick to execute several revisions in teaser design until he could finish it in an hour. Because of busy agenda, I practically couldn’t see some of other corners in Manahan Stadium outside.

    After I finished in sending information to each prospective Marketing Conference participant, I immediately rushed out of Manahan Stadium. Time was getting late and I have to keep moving ……

    Next Story—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Waktu keberangkatanku menuju tur Asia Timur Jilid-2 tinggal sehari lagi. Masih ada satu tahapan itinerary yang masih tercecer dan belum tuntas, yaitu buntunya mekanisme perpindahanku dari Tokyo ke Osaka. Tiga bulan lalu, aku telah menyia-nyiakan tiket bus murah dari Tokyo ke Osaka seharga 5.700 Yen (Rp. 775.000) hanya karena terus berfikir dan banyak mencari pilihan lain. Beberapa waktu kemudian Saat akhir pekan tiba, harga tariff bus itu meningkat hingga 9.700 Yen (1,2 juta). Sedangkan harga tiket Shinkansen  mencapai 14.000 Yen (Rp. 1,9 Juta).                                                                                                                   

    Berarti selain bus, Shinkansen juga tak mungkin kupilih. Kereta peluru itu terlalu mahal untuk ukuran kantongku. Mau tak mau, aku harus kembali mengobrak-abrik informasi tentang transportasi Jepang.

    Aku mulai melacak perihal seberapa banyak maskapai komersial yang dimiliki oleh Negeri Matahari Terbit. Sebelumnya, aku sudah memesan salah satu maskapai mereka untuk berpindah dari Kaohsiung (Taiwan) ke Tokyo, maskapai itu adalah Vanilla Air. Tetapi maskapai ini nyatanya mematok harga lumayan mahal untuk rute Tokyo ke Osaka, berkisar 10.130 Yen (Rp. 1,4 juta).

    Dari persistensiku menjelajah dunia maya, sentuhan mouseku menemukan satu maskapai LCC (Low Cost Carrier) lain milik Jepang, yaitu Peach Aviation. Atrbut maskapai ini mengandalkan perpaduan warna orange dan pink, membentuk warna jingga pucat atau dikenal dengan nama peach. Aku mulai mencari rute. Akhirnya aku menemukan rute Tokyo-Osaka seharga 7.150 Yen (Rp. 970.000), harga yang sedikit lebih hemat daripada menggunakan bus, Shinkansen atau Vanilla Air.

    —-****—-

    Bersiap take-off bersama Peach Aviation MM6320.

    Insiden delay dan tenggakan alkohol secara tak sengaja memang menjadi memori tak mengenakkan sebelum aku meninggalkan Tokyo. Tetapi, aku mulai sumringah ketika nomor penerbanganku disebut dalam pengumuman bandara. Aku mulai mengantri dalam barisan. Mulai terbayang keindahan Osaka Castle dalam setiap detik antrianku. Hingga tiba, boarding pass dan pasporku diperiksa oleh ground staff wanita yang masih sangat muda dan berbadan mungil.

    I’m sorry, this is not your flight. Your flight will be depart 30 minutes later”.

    Are you sure?”, jawabku separuh bertanya.

    Yes, Sir. This flight is MM320 and your flight is MM6320, almost similar”.

    Oh God, I’m sorry. This is my wrong”, aku menepok jidat sambil berusaha menyembunyikan rasa malu.

    Aku kembali mundur dari antrian dan duduk di salah satu deretan kursi kosong yang sudah ditinggalkan para calon penumpang untuk memasuki pesawat. Aku masih saja mengamati antrian itu hingga orang terakhir memasuki pesawat. Kini aku kembali menunggu….

    30 menit kemudian…..

    Tak salah lagi, inilah penerbanganku, aku pastikan informasi nomor penerbangan di layar LCD baik-baik, lalu kucocokkan dengan nomor yang sama di boarding pass….Yup, benar ini MM6320. Aku segera memasuki antrian. Lalu di gerbang antrian, aku memberikan bording pass dan paspor untuk diperiksa oleh salah satu ground staff. Akhirnya, aku diizinkan untuk memasuki pesawat.

    Dominasi kabin dengan warna peach menjadikan ruangan itu begitu ceria, sedikit mengurangi penatku dalam berjibaku menghadapi delay. Setiap awak kabin begitu sigap membantu penumpang memasukkan barang bawaan ke kompartemen bagasi. Beberapa kali, seorang pramugari tak ragu melepas sepatunya dan menaiki kursi untuk mendorong beberapa bagasi besar dan merapikan letaknya di kompartemen bagasi.

    Seusai persiapan, Peach Aviation MM6320 mulai merayap menuju runway diiringi demonstrasi prosedur keamanan penerbangan oleh awak kabin. Beberapa saat kemudian Kapten Penerbangan meminta izin untuk melakukan take-off. Tak lama setelahnya, Airbus A320-100 itu melaju sekencang-kencangnya meninggalkan Narita International Airport dari Terminal 1.

    Langit Tokyo sepertinya cerah malam itu. Aku tak merasakan turbulensi apapun selama 1 jam 35 menit penerbangan. Osaka adalah kota terbesar ketiga Jepang yang berjarak 500km di sebelah barat Tokyo. Sepanjang penerbangan sebagian besar penumpang lebih memilih memejamkan mata, tetapi aku tetap saja menyalakan lampu baca karena tertarik dengan banyaknya informasi pariwisata yang tertuang dalam inflight magazine Peach Aviation. Aku memotret satu demi satu lembar informasi pariwisata yang kubutuhkan selama di Osaka nanti. Rupanya aktivitasku itu diperhatikan oleh seorang pramugari dari belakang. Bahkan pada suatu waktu dia datang menghampiriku.

    Berburu informasi di dalam pesawat.

    Do you still reading, Sir?” .

    Yes, Ms. I need some information from this magazine”.

    Oh Ok, Sir. It doesn’t matter. I just make sure”.

    Dia tersenyum dan kembali menduduki bangku pramugarinya di belakang. Bahkan setelahnya, kupastikan bahwa sepanjang penerbangan aku tak pernah memadamkan lampu baca itu. Pukul 23: 53, Kapten penerbangan mulai bicara dengan microphonenya untuk sekedar mengumumkan bahwa pesawat akan segera mendarat di Kansai International Airport Terminal 2. Semua penumpang bergegas bangun, bersiap diri dan merapikan setiap tempat duduknya. Para awak kabin terus mondar-mandir memeriksa sesuai prosedur keamanan untuk proses landing.

    Aku masih tak menahu perihal kondisi sesungguhnya di bawah sana karena aku duduk di aisle seat. Aku mampu merasakan ketika pesawat mulai merendah dan sesekali bergoyang untuk menstabilkan posisi. Hingga akhirnya hentakan halus roda pesawat memberitahukanku bahwa Peach Aviation sudah menyentuh runway Kansai International Airport, di Terminal 2 tepatnya.

    Tidak ada aerobridge yang menyambut, semua penumpang harus menuruni tangga dan dijemput oleh Narita apron shuttle bus menuju bangunan terminal.

    Tiba di Kansai International Airport Terminal 2 tepat tengah malam.

    Malam itu, aku memtuskan untuk bermalam di Kansai International Airport Terminal 2 dan akan berangkat menuju ke tengah kota di keesokan hari.

    Alternatif untuk tiket pesawat dari Tokyo ke Osaka bisa dicari di 12Go atau link berikut: https://12go.asia/?z=3283832

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Previous Story

    GALABO front gate.

    Gladag Langen Bogan or better known as GALABO was a culinary market complex which was held on Kapten Mulyadi Street in Kedung Lumbu area. This street market concept had attracted for the CEO of a company where I worked as a main candidate to be visited at Marketing Conference later.

    Therefore, I needed to see GALABO real condition. I have to dissect culinary content in it, its activities concept and of course, its operational time. And to be able to do that, I have to survey it at night because this was a culinary night market.

    —-****—-

    I drove with an online taxi which I ordered to southwest, leaving Pelangi Park in Jurug area. Great time to went to GALABO, because I would arrive there at around 7:00 pm and I thought with confidence that culinary tents have been set up along the street.

    I moved from Pelangi Park through Ir. Juanda Street, then continued to Jenderal Urip Sumoharjo Street. It took 15 minutes and a distance of 5 km until I finally arrived at a large courtyard with a row of stalls on one side.

    “Where is the GALABO, Sir?”.

    “This is GALABO, Sir. We have arrived”.

    “As I know that GALABO is rows of culinary tents along the street, Sir”.

    “Oh that first, Sir. Now it was relocated and moved here. It’s just on south of Fort Vredeburg ”.

    “When is relocated, Sir?”

    “On mid-2018, Sir”.

    I opened the online taxi door and trying to hide my disappointment. I still thought that GALABO was street culinary. Because street culinary would be more attractive to Marketing Conference participants later.

    28 selected culinary stalls
    Stalls which only sell Solo’s legendary culinaries.
    Open from 5pm until 5am.

    It’s okay, Donny. Let’s just taste the food first! ”, I thought to myself.

    The online taxi quickly left me in GALABO new area. I walked along row of stalls and looking for a suitable dinner. This time, my dinner was a little late so I decided to find a dish which was still hot. I didn’t hesitate to order Soto Kwali * 1 Mbok Yem. Then I combined it by ordering Wedang Ronde * 2 as a drink.

    I took a seat on an umbrella shading-bench. Shortly after I sat down, a song sung by a singer with a single organ accompaniment began to play. I just enjoyed beautiful atmosphere of GALABO that evening. GALABO wasn’t crowded yet but visitors consistently started arriving. Slowly, rows of umbrella shading-bench started to fill up.

    Ten minutes later, Dish which I ordered arrived and I started to eating a steaming Soto Kwali with gusto. Usually if I ate late, I would automatically lose my appetite. But this time, fragrant aroma of Soto Kwali made me forget my stomach condition which had started to catch a cold. Meanwhile, songs rhythhm which was delivered was faster and beater.

    Beautiful night in Solo.

    At the end of my dinner time, I started thinking, imagining in bringing 76 Marketing Conference participants to GALABO for dinner. On the other mind, I compared if dinner was being held at De ‘Tjolomadoe Sugar Factory Museum.

    It seemed that I already had a tendency to choose which destination. GALABO or De ‘Tjolomadoe?

    Now I have to hurry to visit other destination. Destination which would visit in afternoon during Marketing Conference, but I would survey it in the evening.

    Let’s continued our journey to the biggest sports center in Bengawan City*3.

    Notes:

    Soto Kwali * 1 : a typical Solo dish cooked in kwali (clay pot). It’s a soup menu filled with pieces of beef, mostly from sengkel (top of beef leg).

    Wedang Ronde * 2: is a hot drink which is made from ginger which can make our body warm after we drink it. It’s consisting of sticky rice balls, then poured with ginger sauce and sprinkled with fried peanuts with addition of plain bread and sugar palm fruit according to our taste.

    Bengawan City*3: Another name for Solo  city besides Batik City. Bengawan is a Javanese vocabulary which means a big river.

    Next Story—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Pintu masuk Narita International Airport Terminal 1

    Membayar 1.000 Yen (Rp. 136.000) kepada pengemudi berdasi, menerima selembar tanda bayar, diakhiri dengan menduduki bangku paling belakang, kini aku bersiap menelusuri Higashi Kanto Expressway. Ini adalah jalanan yang sama ketika aku melewatnya untuk pertama kali sesaat setelah tiba di Tokyo beberapa hari lalu.

    Menempuh jalur aspal sepanjang 70 kilometer dan dalam tempo satu jam, membuatku terlelap di sepanjang dua prefektur yang dilalui oleh JR Kanto Bus, yaitu Tokyo dan Chiba. Aku terbangun ketika bus telah sampai di Narita International Airport dan berhenti sejenak di Terminal 2 untuk menurunkan beberapa penumpangnya. Kini aku diserang kekhawatiran apabila bus telah melewati Terminal 1. Tetapi aku berusaha tetap tenang dan mengikuti arus bus.

    Beruntungnya diriku ketika melihat nameboard Terminal 1 jauh di hadapan. Yups, ternyata stop pointku belum terlewat.

    Tepat pukul 16:41, aku diturunkan di drop-off zone oleh pengemudi JR Bus Kanto, lalu bergegas memasuki salah satu pintu masuk Narita. Aku semakin percaya diri dengan keberadaan logo Peach Aviation di deretan logo para maskapai yang beroperasi di Terminal 1.

    Aku sudah berada di terminal yang tepat”, batinku riang.

    Tetapi tantangan lain hadir, aku masih berjarak lima jam dari jadwal keberangkatan. Konter self-check-in belum mengizinkanku mencetak boarding pass.

    Baiklah, aku tunggu saja”, aku menyabarkan diri.

    Dua setengah jam menunggu di sebuah kursi departure hall, akhirnya aku sukses melakukan proses selfcheck-in tepat pukul 19:25. Kugenggam selembar boarding pass lalu melangkah mantab menuju gate. Begitu tiba, ternyata gate masih saja belum siap.

    Konter Peach Aviation.
    World Sky Gate_Narita sebagai branding baru dari Narita International Airport.
    Floor plan Narita International Airport Terminal 1..

    Hingga akhirnya, aku memutuskan mencari minimarket untuk berburu makan malam. Aku menemukan keberadaan Lawson di salah satu koridor dan memasukinya tanpa pikir panjang. Dengan cepat aku mengambil satu kemasan onigiri seharga 248 Yen (Rp. 34.000) dan air mineral termurah seharga 103 Yen (Rp. 14.000) lalu membawanya ke kasir.

    Selesai membayar, kulanjutkan langkah menuju observation deck, kemudian terduduk di salah satu kursinya untuk menikmati lalu lintas pesawat berbagai maskapai yang sibuk hilir mudik di Narita International Airport. Outdoor observation deck itu dihembus oleh angin musim dingin yang konsisten membekukan badan.

    Walau tak nyaman karena dingin, aku tetap berusaha menikmati makan malam, tetap menduduki salah satu bangku observation deck dan terus terpesona dengan pasangan kegiatan take-off dan landing pesawat-pesawat berbadan besar.

    Aku terus berusaha menampilkan senyum terbaik dalam menguyah onigiri, tak mau kalah dengan mimik bahagia para khalayak di sekitarku ketika menikmati harumnya sajian restoran yang mendiami sepanjang sisi observation deck.

    Potongan terakhir onigiriku tuntas tak bersisa. Aku lantas membuka air mineral kemasan. Kubuka tutupnya dan tanpa ragu menenggaknya layaknya orang kehausan. Setenggak penuh air akhirnya meluncur mulus di tenggorokan. Tetapi mataku melotot karena hidungku tersengat aroma asing. Sensani hangat menyelimuti sepanjang tenggorokan. Dan akhirya, secara otomatis, aku terbatuk sejadi-jadinya.

    Bukan air mineral murni !….Minuman bening itu jelas memuat kandungan alkohol di dalamnya. Akhirnya aku bisa merasakan sensasi alkohol walau secara tak sengaja….Duh, istighfar atau menikmati ya?….Wadaow.

    Aku masih saja enggan membuang air kemasan beralkohol itu dan memasukkannya ke dalam backpack. Jika nantinya tak disita di screening gate, biar saja menjadikannya kenangan selama di Osaka.

    Akhirnya, selepas puas menikmati lalu lintas bandara, aku segera menuju gate dan bersiap diri untuk terbang.HHmmhh… Begitu memasuki gate, informasi delay langsung menghampiri. Karena penasaran berat, aku menanyakan secara langsung ke ground staff wanita perihal kevalidan delay ini. Dia membenarkan bahwa Peach Aviation bernomor terbang MM6320 memang mengalami keterlambatan ketibaan di Narita dan aku harus menunggu kembali hingga satu jam ke depan.

    Boarding pass yang cukup sederhana.
    @Kids park, menunggu pesawat datang menjemput.

    Kuhabiskan waktu tambahan selama  satu jam ke depan dengan memejamkan mata di ruang tunggu. Aku terduduk di sebelah Kids Park  dekat gate Terminal 1….

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Previous Story

    After exploring Jongke Market, I stood for a moment on a bridge which was connecting the two sides of Dr. Rajiman Street which was separated by Solo River. I closely looked at a fifteen meter wide river, whose water seemed to dry and have brown colour.

    It was almost five o’clock in the afternoon, from a bridge side, I was waiting for online taxi arrival which I ordered.

    Soon, five minutes later, an online taxi arrived. I rushed into it in its front seat, next to driver.

    GALABO yes, Sir!”, I confirmed my destination.

    GALABO at this hour isn’t ready, Sir. All traders are still preparing their food which are going to sell”, that young driver gave me an important information.

    Sir, I was actually surveying a tourist spot for an important event in my office. Sir, are there any recommendations for places which can visit by event’s participants? “.

    What if I take you to Taman Pelangi (Pelangi Park)?”

    Okay, Sir, rather than waiting for GALABO which hasn’t opened yet“.

    Okay, we go there, Sir!”.

    Not felt, the online taxi which I was riding had left Laweyan area. Slowly but surely it was advancing eastward through Abdul Rahman Saleh Street, continuing onto Monginsidi Street and running a little fast on Colonel Sutarto Street.

    After struggling in traffic jams at Solo’s streets, I arrived at Taman Pelangi (Pelangi Park) on 06:41 p.m. Overall I had moved for ten kilometers in thirty minutes.

    Taman Pelangi Jurug gate. People also called it Taman Satwa Taru Jurug.
    Parking area.

    Online taxi stopped at one of parking slots in large front yard. I immediately got down and headed to ticket counter.

    Still open, Ma’am?”

    Just opened at 17:00 hours, Sir. We close at 23:00 hours “.

    How much is the entry ticket, Ma’am?

    Twenty five thousand Rupiah (USD 1,8), Sir“.

    Oh well. I buy one ticket, Ma’am”.

    Okay,Sir”.

    I immediately entered the park after having a ticket in hand. Entering park area, I immediately understood that this was a night tour which tempts every visitor with a light show on every side and corner of the park. This three year old park was full of light.

    It was just that I arrived too early, at six o’clock in the afternoon at Solo City, not able yet to darken the sky. The beauty of this light show didn’t look perfect because the sky was still bright. According to ticket counter staff, the best time to visit this park was after eight o’çlock in evening.

    But it all didn’t matter to me, because I came to this place only to survey a tourist locations for Marketing Conference destination candidates.

    Parking area.
    Be ready to entering Taman Pelangi Jurug.

    Less than half an hour walking around the park, I started to walking out of it. Then I started thinking to make a conclusion. It looked like that I wouldn’t make Taman Pelangi as a destination for Marketing Conference participants because the type of tourism which was offered by this park didn’t match to the event concept. But at least, I enriched destination options which could be input for Marketing Conference committee.

    I immediately ordered a online taxi again because at seven o’clock tonight, I should be in GALABO. GALABO was a night culinary tourism in Kedung Lumbu area.

    I would enjoy dinner at that place.

    Next Story—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Bersiap meninggalkan Stasiun Harajuku.

    Lewat sedikit dari jam dua siang. Mulai kutinggalkan Meiji Jingū melalui Stasiun Harajuku. Aku kembali menelusuri Yamanote Line, memutar ke selatan melewati Distrik Shinagawa, lalu kembali ke utara. Menempuh jarak sejauh lima belas kilometer dan berbiaya 200 Yen (Rp. 27.000).

    Aku tiba di Stasiun Tokyo lewat sedikit dari jam setengah tiga sore dan diturunkan di platform bernomor empat di dekat Marunouchi North Exit. Maranuochi sendiri adalah kawasan bisnis yang berlokasi di sebelah barat Stasiun Tokyo.

    Aku terus menelusuri lorong bawah tanah dan terus mencari petunjuk untuk mengeluarkan diri di exit gate yang berlokasi paling dekat dengan JR Expressway Bus Stop. Aku memang sedari pagi telah memutuskan akan menggunakan operator bus tersebut untuk berpindah dari tengah kota ke Narita International Airport.

    Begitu menuruni tangga maka aku dihadapkan pada sebuah koridor panjang. Tepat pada dinding di depan anak tangga terakhir tersebut terdapat papan petunjuk lebar berwana kuning. Papan itu mengarahkanku untuk keluar di Yaesu South Exit. Itulah gerbang keluar terdekat dari JR Expressway Bus Stop. Apakah kamu tahu tentang Yaesu?….Berlawanan arah dengan Maranuochi maka Yaeshu adalah kawasan yang terletak di sebelah timur Stasiun Tokyo.

    Petunjuk lokasi di koridor Stasiun Tokyo.
    Yang tak mau bawa backpack, silahkan sewa loker.
    Ini dia loker sewa di Stasiun Tokyo.
    Dimana posisimu saat ini?
    Automatic ticketing vending machine.

    Sisi komersil stasiun ini begitu dominan. Sepanjang lorong bawah tanah, dimanfaatkan pengelola stasiun untuk menjual fasilitas loker kepada para penumpang. Fasilitas penyimpanan ini terkenal dengan nama Coin Lockers. Loker jenis ini mempunyai harga sewa yang bervariasi, dari 600 Yen hingga 1.000 Yen (Rp. 80.000 – Rp. 135.000) per hari.

    Sepanjang koridor Stasiun Tokyo itu begitu ramai. Aku terus merangsek dan mulai mengalami disorientasi arah. Secara tak sadar, aku telah tiba di gerbang Shinkansen Transfer North Gate. Hingga akhirnya seorang petugas stasiun membantu mengarahkanku untuk menuju gerbang keluar terdekat. Atas jasanya itu akhirnya aku berhasil keluar di Yaesu Central Exit.

    Yups….Tiba di Yaesu Central Exit.

    Jeda waktu menuju jadwal penerbangan masih lama. Aku juga tak mau terlalu lama berada di bandara. Maka kuputuskan untuk mengambil tempat duduk di halaman Stasiun Tokyo. Aku terus mengamati aktivitas warga Tokyo yang tampak sangat sibuk. Sembari menikmati kesibukan itu, aku secara konsisten membuka kulit kuaci dan mengunyahnya biji demi biji. Dan karena tak bisa kutemukan tempat sampah, maka kubuanglah kulit kuaci itu di atas akar tanaman hias. Tak kusangka seorang petugas memperhatikan kelakuan burukku itu. Aku berespon cepat, sebelum dia mendatangiku, aku menunjukkan kemasan kuaci yang masih berisi separuh itu kepadanya. Ajaibnya, dia hanya tersenyum dan mengangguk. Padahal jika dia menegurku, maka aku sudah bersiap diri mengambil lagi sampah kuaci itu.

    Masalah kulit kuaci sudah usai….

    Aku beranjak dari tempat duduk dan menuju JR Expressway Bus Stop. Sesampai di lokasi, aku langsung masuk ke antrian panjang di platform bus nomor tujuh. Tepat pukul empat sore, aku menaiki JR Bus Kanto yang khas berwarna putih dengan kelir biru itu.

    Aku menyerahkan 1.000 Yen (Rp. 135.000) kepada pak sopir yang bepenampilan sangat rapi dan berdasi. Setelah dia memberikan selembar tanda bayar maka aku mengambil tempat duduk paling belakang.

    Berada di JR Expressway Bus Stop.
    Ayo naik!

    Aku bersiap menuju Narita International Airport Terminal 1.   

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Previous Story

    Toko Bu Cokro inside.

    The silence of Mangkunegaran Palace set my steps to leave one of power entities of kings era in Java Island. Towards half past six in the afternoon, I continued a survey agenda to Laweyan area.

    An online taxi which I ordered would slowly penetrate traffic jam around Keprabon area, i.e an area where Mangkunegaran Palace was sat. Slowly I headed west, crossing Honggowongso Street and completed by fulfilling a current along Dr. Rajiman Street.

    After covering a distance of five kilometers and within a span of fifteen minutes, I was dropped off at the bank of Solo River, on east side to be precise. At this stage, at first I wanted to visit Kampung Batik Laweyan, but I canceled. I chose to would directed Marketing Conference participants to Kampung Batik Kauman because of its strategic location and on the route of Jaladara Tour Train.

    I quickly thought to eliminate Kampung Batik Laweyan from the list of destinations and I chose a replacement destination, namely Jongke Market. This market would become a destination for hunting food souvenirs for all participants later.

    In fact, there was nothing special in this twenty-eight year old market apart from prices which were offered by food souvenir sellers inside. Amazingly, I still found food souvenirs at a price of seven thousand Rupiah in this market.

    I started my exploration in an area around Jongke Market by visiting the famous food souvenir outlet, i.e Toko Bu Cokro. This shop which was located right on the side of Dr. Rajiman Street was so striking because of large size of the shop to massive food souvenir displays. I myself got a recommendation for this place from one of my colleague who came from Solo.

    Meanwhile, precisely on front opposite were row of food souvenir outlets with the largest stall called Erlangga Jaya. Some food souvenir such as ampyan, chicken fried claw and intip were quickly seen in this outlet. Meanwhile, the front yard which also had function as a parking area looked neat with pavling block.

    The front of Toko Bu Cokro.
    Food souvenir outlets near Jongke Market.
    Food souvenir outlets near Jongke Market.

    Meanwhile, I realized that Jongke Market itself has been closed since an hour ago. I was just trying to find out its location to get accurate information. I took my steps towards the west, passed Solo River and arrived within three hundred meters. A row of bicycle stalls could be clearly seen from road side. Meanwhile, at inside, there were rows of sweets, vegetables, groceries, meat and clothing stalls. The name of Jongke itself was also used by a village name which was located around market.

    Meanwhile, in a series of Marketing Conference agendas, Jongke Market would be accompanied by other destinations in same category, namely Javenir which is located one kilometer on the western boundary of Solo City and Toko Abon Mesran Mistopawiro which is located in Jayengan area. So it was hoped that all participants would be spoiled by the existence of several options for hunting food souvenirs.

    The afternoon slowly turned dark, while my itinerary still featured six places to visit. It didn’t matter if that places still open or have closed, I would visit it.

    Let’s continued…..

    Next Story—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Besiap untuk petualangan hari kedua di Tokyo. @ platform Stasiun Nakano.

    Tragedi kehilangan dompet di Stasiun Nakano membuatku menelan ludah ketakutan, ternyata masih tersisa sisi penakut dibalik keberanianku menjelajah dunia.  Aku sejenak menenangkan diri dengan menyeruput air minum dari free water station di salah satu platform Stasiun Nakano.

    Komuter silver berkelir kuning penguasa Chūō Line itupun tiba, kuayunkan langkah memasuki gerbong tengah dan duduk di bangku panjang sisi kiri. Aku sengaja memilih duduk tepat di atas console grill pemanas. Itulah kebiasaanku selama menaiki kereta Negeri Matahari Terbit yang sedang tergelincir ke dalam musim dingin.

    Aku terus mengikuti arus Chūō Line menuju timur lalu menukik ke selatan setelah berganti dengan kereta Yamanote Line di Stasiun Shinjuku. Dalam waktu dua puluh menit, aku tiba di Stasiun Harajuku setelah menempuh jarak sejauh tujuh kilometer. Untuk tarif sepanjang itu, aku hanya perlu membayar 170 Yen (Rp. 23.000).

    Melintasi koridor panjang Stasiun Harajuku, aku keluar dari West Exit yang langsung berhadapan dengan Meiji Jingū First Torii Gate di sisi kanannya. Tetapi astaga……

    Kini aku kehilangan gloves sebelah kanan, bagaimana aku mampu menahan beku jika perlengkapan itu raib?. Dengan terpaksa, aku kembali menelusuri jalurku ketika keluar dari platform stasiun dan akhirnya aku menemukan sebelah gloves itu di tengah koridor setelah automatic fare collection gates. Entah kenapa?, sedari pagi, aku terundung kehilangan barang walaupun kembali tertemukan. Mungkinkah ini permulaan dari segala hal mengejutkan di depan petualanganku?.

    Baiklah…Fokus kembali ke langkahku…..

    Kini aku sudah berpose di depan gerbang Kuil Meiji. Torii itu begitu khas, pengilham sebuah logo perusahaan otomotif kenamaan Negeri Para Samurai. Kutapaki gravel mulus sebagai jalur masuk menuju kuil. Jalur itu memiliki lebar sedasa meter di sisi kiri, dipadu jalur paving block selebar satu meter berpembatas tambang untuk jalur keluar di sebelah kanan. Sementara di beberapa bagian, jalur itu di batasi oleh pagar-pagar bambu yang tersusun rapi setinggi pinggang orang dewasa.

    Di depan gerbang Stasiun Meiji-jingumae “Harajuku” (Chiyoda Line) sebagai bagian dari Tokyo Metro Subway Network. Tetapi aku tak menaiki Tokyo Metro itu….Alias nampang doang….Hohoho.
    Di depan Meiji Jingū Torii.
    Drum-drum Sake (kazaridaru).
    Drum-drum anggur berbahan kayu.

    Sementara seorang petugas tua, menyingkirkan dedauanan dari gravel menggunakan backpack leaf blower. Dedauan itu hanya perlu dipinggirkan ke sisi jalan dan dibiarkan menjadi kompos alami, begitu ramah lingkungan.

    Dalam empat ratus meter, di sisi kanan, aku terpesona dengan susunan rapi kazaridaru yang didedikasikan untuk Meiji-tennō dan Shōken-kōgō. Sedangkan tepat di sisi kiri adalah susunan drum anggur terbuat dari kayu.

    Sampai pada Torii utama kuil, setiap pengunjung wajib membersihkan tangan di Temizuya dengan air menggunakan gayung-gayung bertangkai panjang. Ritual membasuh diri atau misogi ini bertujuan untuk memurnikan tubuh dan pikiran sebelum berdiri di depan dewa untuk berdoa.

    Temizuya (paviliun bersuci shinto untuk pemurnian) di Meiji Jingū.
    Di tengah kuil.

    Sejenak aku terhenti setelah melewati gerbang utama, aku terkagum-kagum karena luas dan besarnya Meiji Jingū . Inilah kuil yang dipersembahkan untuk menghormati roh Meiji-tennō , penguasa Jepang masa lalu.

    Sementara itu di beberapa bagian kuil sedang dilakukan renovasi. Para pekerja berseragam carpenter warna putih, lengkap dengan berbagai peralatan pertukangan di pinggang serta mengenakan safety helmet tampak berdiri diatas step ladder, sibuk melakukan perbaikan.

    Sementara di ujung kuil, tampak para turis mengantri pada sebuah toko yang menjual papan ema dan omamori. Toko itu tampak dijaga oleh wanita-wanita cantik berbaju kimono putih berpadu merah, mereka tampak sopan dan anggun melayani para pengunjung.

    Sementara aku meyibukkan diri untuk menuliskan sebuah do’a pada selembar kertas, lalu kumasukkan ke dalam sebuah kotak. Sedangkan beberapa wisatawan menulis do’a dan harapan pada papan ema yang dibelinya, kemudian menggantungkannya pada spot yang telah disediakan.

    Para carpenter sedang bertugas.
    Toko penjual omamori yaitu jimat yang diyakini masyarakat Jepang dapat membawa keberuntungan dan keselamatan.
    Aku berdo’a apa ya kira-kira?
    Papan ema, plakat kayu kecil yang dihiasi dengan seni tulisan tangan yang mengungkapkan harapan

    Tak terasa satu setengah jam berjalan hingga akhirnya aku selesai menelusuri seluruh bagian kuil. Inilah destinasi terakhirku di Tokyo, karena aku akan segera menuju Narita International Airport untuk mengejar penerbangan Peach Aviation bernomor MM6320 yang akan berangkat pada pukul 21:35.

    Akhirnya kuputuskan untuk segera menuju ke Stasiun Harajuku dan bergegas menuju Stasiun Tokyo, karena aku berencana menggunakan JR Bus Kanto menuju bandara.

    Mari……..

    Bersiap diri di Stasiun Harajuku….Menuju Stasiun Tokyo.

    Kisah Berikutnya—->

  • <—-Previous Story

    Mangkunageran Palace.

    Very sunny that afternoon. It was past five o’clock but the city’s sky was still shining. I was still sitting on a chair inside of Triwindu Market front gate and enjoying free dish of Jenang Suro*1. Solo was indeed welcoming the Islamic New Year which would come tomorrow, so Association of Triwindu Market Trader distributed this special food to all visitors.

    Triwindu Market itself, in the past was called as Windujenar Market. An art and antique goods marketplace which was built by Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara VII*2  to commemorate twenty-four years of his reign. Therefore this market was located not far from the palace.

    Because of that history, a visitation to Triwindu Market will never be perfect if you don’t visit the palace from the king who built this market. Even after all my survey trip in Solo City was over, I put Mangkunegaran Palace and Triwindu Market as destination packages which were highly recommended for all Marketing Conference participants to visit.

    Not long after I finished in eating Jenang Suro which was sprinkled with Javanese typical Sambal Tumpang, I left Triwindu Market, passed through its wide front yard and looked back to very distinctive and classic market building before saying good-bye.

    I slowly walked along Diponegoro Street sidewalk, heading north for three hundred and fifty meters to visit Mangkunegaran Palace. Walking at the end of T-junction, then I arrived across  of palace gate. Heavy traffic flow made me struggling to cross Ronggowarsito Street which implemented a one-way system and circled palace complex.

    While in one corner of the T-junction, there was a view of visitor crowds to a hotel which was combined with a restaurant, called Omah Sinten Heritage. After I investigated, later I found out that this restaurant had indeed become one of favorite places for young people to office employees to hangout to welcoming national holidays on tomorrow.

    Successfully crossing Ronggowarsito Street, I rushed towards palace gate through a path along a hundred and fifty meters with a very wide yard on either side of it. Before actually arriving at the gate, a building of Puro Mangkunegaran Museum greeted me on left side of the gate. The museum looked deserted and without guards, so I couldn’t be sure whether the museum was still accepting visitors to visit or not.

    Puro Mangkunegaran Museum.
    Palace gate.

    Likewise with the palace high gate, its iron fence was tightly closed without guards. It clearly indicated that the palace didn’t receive guests that afternoon. The palace was indeed closed for visitors at exactly five o’clock in the afternoon.

    I could only enjoy the elegance of Mangkunegaran Palace from a distance and stare around in awe. But I’ve never been disappointed, I was already very grateful to be able to visit it. This was the palace which is a symbol of the power of Solo City in the past

    Mangkunegaran Palace also became a resistance symbol from an aristocrat against VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) power and local arbitrariness which was applied by Pakubuwono II as a supreme leader of Surakarta Sunanate. A fierce resistance which resulted in a brilliant victory from Raden Mas Said at that time.

    My visitation at Mangkunegaran Palace had to be rushed to stop because I couldn’t do anything in front of its giant gate. I decided to finish this visitation and headed to next destination which was included in a long list of my survey.

    Let’s get out of here!

    *1: Jenang Suro is porridge which is made from rice which was cooked with various traditional herbs and spices such as coconut milk, lemongrass and bay leaves so that it tastes more savory than usual porridge. This porridge is a symbol of gratitude to God and is usually served to welcome 1 Muharram or Islamic New Year.

    *2: Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara is a title for the ruler of Mangkunegaran region.

    Next Story—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Beberapa Meshiya di sekitaran Yadoya Guesthouse….Sisa berburu dinner semalam.

    Kasur di bunk bed milik Yadoya Guesthouse pun serasa balok es, bahkan ketika dini hari sudah undur diri. Pagi itu aku sengaja melambatkan bangun, aku mirip seorang pengecut yang bersembunyi di balik tebalnya selimut dormitory. Aku membalaskan dendam mata, setelah hampir empat puluh jam tak begitu sempurna terpejam. Terakhir terlelap adalah malam kemarin lusa, di Taiwan tepatnya.

    Pukul sepuluh pagi aku baru benar-benar bangun, akibat suara bisik-bisik dua sejoli di balik selimut pada sebuah bunk bed yang berhasil membuatku risih.  Begitu mesranya mereka tidur berpelukan tak mempedulikan sekitar. Untung aku punya guling dari semalam….Wadidaw. Kuputuskan menyiram tubuh di bawah shower. Kali ini aku berhasil menemukan tombol pemanasnya sehingga tak perlu mandi air es lagi seperti semalam.

    Setelahnya, kukemas dengan rapi semua barang ke dalam backpack 45L dan aku bersiap check-out. Sore nanti aku akan terbang ke Osaka bersama Peach Aviation. Sementara sisa waktu, akan kuhabiskan mengunjungi sebuah kuil di tengah kota.

    Aku turun di lobby dan menuang air putih hangat dari dispenser. Rupanya Janessa sudah bersiap dari tadi pagi.

    Good morning, Donny. How were  your days in Tokyo?

    I’m frozen in this town, Janessa. But all are well”.

    Are you going to Osaka tonight?. You visited Tokyo very quickly

    My holidays aren’t much, Janessa

    I hope you will enjoy Osaka, Donny

    Thanks Janessa. Nice to meet you”.

    Aku berpamitan pada Janessa dan balik badan meninggalkan Yadoya Guesthouse. Langkahku otomatis tertuju ke sebuah FamilyMart di utara dormitory. Aku harus sarapan dahulu sebelum menuju kuil.

    Sampai jumpa lagi Yadoya Guesthouse.
    Masih saja mampu menelan onigiri. Sarapan seharga 298 Yen (Rp. 40.000).
    Pelataran utara Stasiun Nakano.

    Kubawa onigiri itu disebuah bangku melingkar di dekat gerbang utara Stasiun Nakano. Tak sendiri, banyak warga lokal yang sarapan bersamaku di bangku itu. Beberapa pemuda berdiri di pelataran menikmati kopi panas. Aku terduduk di bawah hangatnya siraman matahari pagi dan ditemani sekumpulan merpati yang sibuk bersarapan juga.

    Sarapan usai, saatnya berangkat…..

    Hari ini aku tak akan membeli Tokunai Pass lagi karena aku hanya akan menghabiskan waktu di Meiji Jingū saja. Setelahnya, aku akan menuju ke Narita International Airport.

    Aku sedikit kerepotan mengantri di Ticketing Vending Machine, dengan backpack di punggung, selembar peta dan sebuah kompas di tangan kiri, gloves kuapit di ketiak, lalu kukeluarkan dompet dengan tangan kanan. Sambil terus merangsek maju ke antrian depan.

    Hingga giliranku memencet berbagai tombol di Ticketing Vending Machine. Tak begitu sulit, karena aku telah menaklukkan kerumitan mesin itu kemarin siang di Stasiun Tokyo. Aku menukar 170 Yen (Rp. 23.000) untuk sekali jalan menuju Stasiun Harajuku yang terletak di Distrik Shibuya.

    Begitu mendapatkan tiket, aku mundur dari antrian dan berbenah, memasukkan peta dan kompas pada tempatnya, memakai kembali gloves lalu pergi menuju platform. Aku terus merangsek memasuki automatic fare collection gates dan mengikuti petunjuk menuju kereta Chūō Line menuju Stasiun Harajuku.

    Begitu selesai menaiki anak tangga teratas….

    Helloooo….Hellooooo”….

    Aku menoleh ke belakang. Seorang lelaki paruh baya berumur 50-an melambaikan tangan dan memintaku menunggunya. Begitu sampai diatas….

    This…..”, beliau tersenyum menyerahkan sebuah dompet kepadaku.

    Astaga, kenapa dompet itu bisa jatuh.

    Arigatou Gozaimasu….”, kuucapkan berkali kali sambil membungkukkan separuh badan kepadanya. Dan lelaki baik itu tersenyum.

    Ohayōgozaimasu….Itterasshai“, beliau membungkuk lalu beranjak pergi kembali menuruni anak tangga.

    Kulihat isi dompet sejenak setelah beliau pergi, tak ada satupun yang berkurang. Oh, Tuhan….Engkau terus saja mengirimkan orang baik kepadaku.

    Tak bisa kubayangkan jika dompet itu benar-benar raib. Aku pasti akan berjalan kaki menuju Kedutaan dan meminta dipulangkan ke tanah air.

    Terimakasih untuk Bapak paruh baya yang baik hati dan Terimakasih Tuhan, petualanganku masih terus berlanjut.

    Kisah Selanjutnya—->