• Hanya ada Noah yang mendengkur tergelepar karena efek residual dari mabuk semalam di De Kock Cafe lantai 1. Aku berusaha tetap senyap untuk berguyur di shower ujung kamar. Bahkan hingga aku telah siap berkelana pun, dengkurnya tak berubah nada sama sekali.

    Cafe bawah tetap terbuka lebar tanpa penjaga saat aku meninggalkan penginapan dengan kondisi setengah gelap, sepi dan dingin yang masih menusuk.

    Menyusuri jalanan yang sama ketika petang kemarin berburu pesona Jam Gadang, hanya saja, kali ini hanya aku seorang diri yang terlihat sangat tergesa dalam sunyinya pagi.

    Bank Nagari dan Novotel kembali kusalip begitu saja tanpa ekspresi, aku sudah melihatnya sore kemarin. Begitupun, kulewati Jam Gadang tanpa impresi. Sama, mungkin karena aku telah merenggut pesonanya sehari lalu. Aku hanya berfikir untuk segera mendaratkan langkah di sebuah taman kota.

    Bank Nagari Cabang Bukittinggi.

    Namun, sebelum memasuki taman, aku sedikit tertarik dengan pesona bangunan besar berwarna kuning emas. Adalah Balai Sidang Bung Hatta yang menjadi Convention Center andalan di Kota Bukittinggi.

    Balai Sidang Bung Hatta.

    Pukul 07:10, aku mulai memasuki taman itu, berada menjorok di bawah permukaan Jalan Istana yang ada di baratnya. Sedangkan gedung tinggi abu-abu milik Bank BNI Bukittinggi membatasi pandangan mata di timurnya.

    Foto diambil dari sisi selatan.

    Focal point dari taman terletak pada tugu hitam artistik di lingkaran tengahnya. Itulah Tugu Pahlawan Tak Dikenal yang didesain oleh seniman pahat asal Kota Padang Panjang, Hoerijah Adam. Nama Hoerijah Adam sendiri kemudian diabadikan menjadi nama Bengkel Bari di Taman Ismail Marzuki paska kecelakaan pesawat Merpati Nusantara jenis Vickers Viscount yang ditungganginya di Samudra Hindia.

    Tugu ini dibangun untuk mengenang perlawanan para pahlawan yang tak bisa dikenali secara pasti dalam menentang Kolonialisme Belanda pada tanggal 5 Juni 1905. Perlawanan itu sendiri terjadi karena penolakan penerapan pajak pendapatan sebesar 2% untuk kaum pribumi atas segala bentuk usaha perdagangan yang dilakukan.

    Tugu berbentuk lingkar ular naga.

    Peletakan batu pertama dilakukan oleh Jenderal Abdul Haris Nasution pada 15 Juni 1963 yang kala itu menjabat sebagai Kepala Staff ABRI. Dan dua tahun kemudian tugu ini diresmikan.

    Pada satu sisi monumen, diletakkan kutipan lantang seorang sastrawan terkenal yang juga merupakan Pahlawan Nasional Indonesia, tak lain adalah Muhammad Yamin:

    Mati Luhur Tak Berkubur

    Memutuskan Jiwa Meninggalkan Nama

    Menjadi Awan Di Angkasa

    Menjadi Buih Di Lautan

    Semerbak Harumnya Di Udara

    Ternyata, Bukittinggi menyimpan banyak sejarah perjuangan bangsa yang baru kuketahui setelah mengunjunginya.

    Asyik ya….Jalan-jalan sembari mengenal sejarah bangsa.

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Previous Story

    After paying an entrance ticket of IDR 19,000 and a car park fee of IDR. 10,000, I started heading upstream of Citumang River without hiring the services of personal life guard. I would independently go down the river. Of course, it would feel more comfortable and relaxed.

    Renting a life jacket was certainly the best alternative to keep myself safe when exploring the river alone. Life jacket was also the best anticipation for newcomer who of course didn’t really understand the variations in river depth.

    At upstream of the river, I approached a young man who seemed to be in charge of caring for life jacket rental. I handed over IDR 20,000 to rent a life jacket and then got ready to go down into river.

    Just on the edge, I was already amazed by the clarity of its water. The river body was still very green with large plants, the spread of giant river stones at several points along river flow gave an impression that Citumang River was like a river of the past. Meanwhile, in upstream of the river, there was a cave which echoed the gurgling flow of water flow which calmed the situation.

    The clarity of its water made this river reflected beautiful gradations of moss green and sky blue. A gradation painted by nature to perfection. Combined with the cool air and quiet situation, it made my heart felt peaceful. Only natural sounds could be heard at the location. Make anyone forget for a moment the hustle and bustle of a big city.

    On the other side, a children’s pool appeared to be built to facilitate family tourism. And it appeared in several places written prohibitions on using soap to preventing river pollution.

    Not waiting for long, I started to go down. Along Citumang River which its bottom was paved with mossy stones. The cold water made my body fresh. Daring myself to swam in a deep part, I finally reached cave mouth. The dark situation in the cave made me only dare to enter it not far from its mouth. A little worried about the unexpected in there, considering that I was alone in the river.

    A thirty minutes later, other visitors started arriving and river situation was a little busier. To avoid excessive crowds, I immediately did body rafting down the river downstream. It flew with river current which cut through giant boulders along the river.

    At a distance of 300 meters from starting point, I began to stop exploration. Chose to step aside and got ready to ending my adventure in Citumang River.

    If I wanted to go downstream, I would actually be rewarded with a view of a waterfall which looked like a furnace. The furnace form was often called Tumang by local people. Therefore this river was named as Citumang River.

    It was nine o’clock  in the morning. I began to hurry to clean myself and get ready to leave Citumang River. I was ready to go to next destination in Pangandaran, namely Batu Hiu Beach.

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Kamsahanida……”, ujarku keras terlontar teruntuk petugas kasir perempuan CU Minimarket di pojok sana. Aku telah rampung menyantap nasi putih kemasan dan cup noodle yang membuat bibirku terasa membara saking pedasnya.

    Cheonmanneyo….”, kasir cantik putih itu melempar senyum sembari melambai tangan ketika aku sudah berada di depan pintu kaca hendak menjangkau handlenya.

    Keluar dari minimarket, aku melangkah cepat menuju gerbang Stasiun Hongik University yang tak jauh lagi, tepat di sebelah kiri tikungan di depan sana.

    Menuruni escalator super panjang menukik menuju bawah tanah, aku mulai membuka denah cetakanku sendiri, lalu menunjuk sebuah titik tujuan. “Aku harus menuju Stasiun Anguk”, batinku berseru sembari melipat denah dan memasukkan ke saku belakang.

    Kini aku berada di batas platform. Menjelang siang, suasana stasiun bawah tanah lengang. Tetiba, pertunjukan romansa jalanan di ujung platform sana memudarkan rasa antusiasku dalam menunggu kedatangan Seoul Metro. Sepasang sejoli tampak berpeluk pinggang sembari bertatap mesra. Sesekali sang pria cuek menyosor gadis di depannya….”Buseeet….”, seloroh iriku keluar juga. Pertunjukan seperti itu memang tak membuatku heran karena sudah kerap kujumpai di moda transportasi yang sama milik Negeri Singa atau Kota Shenzen. “Anggap saja sebagai bonus perjalanan…”, batinku tersenyum kecut.

    Pelukan mesra mereka terlepas beberapa saat setelah derap suara Seoul Metro terdengar dari lorong kanan. Seoul Metro mendecit lembut dan berhenti di hadapan, mereka mengakhiri romansa dan penonton tunggalnya pun ikut menaiki kereta.  

    Seoul Metro Line 2 merangsek meninggalkan Distrik Seodaemun menuju timur. aku akan berwisata ke Distrik Jongno yang berjarak delapan stasiun dan harus berpindah ke Seoul Metro Line 3 di Stasiun Euljiro 3(sam)-ga serta membutuhkan waktu tempuh sekitar 30 menit.

    Sesuai perkiraan waktu, kini aku sudah berdiri di depan pintu Seoul Metro ketika announcer sound mengatkan bahwa kereta akan segera merapat ke Stasiun Anguk. Setelah berhenti sempurna, aku melompat meninggalkan gerbong yang sedari menaikinya, tak ada kejadian berkesan lain setelah romansa setengah jam lalu.

    Keluar dari Stasiun Anguk, aku dihadapkan pada Yulgok-ro Avenue. Percaya diri mengambil langkah ke kiri mengantarkanku pada sebuah simpang lima yang ramai dengan gerai fashion, kuliner dan kosmestik. Sepertinya aku salah jalan.

    Aku berdiri terpaku di sebelah tugu Enso yang berlokasi tepat di salah satu sisi simpang lima tersebut. Enso sendiri adalah kuas kaligrafi tradisional asli Korea Selatan. Mengamati perilaku masyarakat lokal yang sibuk berbelanja. Sementara beberapa kelompok turis asal Eropa tampak sedang bercakap-cakap di gerai Tourist Information yang terletak di samping tugu. Sepertinya aku harus ke gerai itu dan menanyakan arah destinasi yang kutuju. Akhirnya aku melangkah menujunya.

    Aku: “Hello, Ms. Can me know which way thet I need to choose toward Bukchon Hanok Village?

    Dia: “Hi, Sir. You can go straight there and then turn left in crossroad. You will arrive in Bukchon Hanok Village with walking about 600 meter”.

    Aku: “Very clear, thank you, Ms

    Dia: “You are welcome. And this tourism map is for you”, dia tersenyum  sembari menyerahkan selembar denah pariwisata Seoul untukku.

    Aku pun segera melangkah menuju utara. Sedikit santai sembari menikmati keramaian jalanan Bukchon-ro, akhirnya aku tiba di Bukchon Hanok Village dalam 20 menit. Perkampungan budaya ini berlokasi di sebelah barat jalan utama.

    Notre Dame Education Center di Bukchon Hanok Village.

    Diluar dugaa, ini berbeda dengan Gamcheon Culture Village di Busan yang kukunjungi beberapa hari lalu. Bukchon Hanok Village menampilkan deretan Hanok (rumah tradisional Korea Selatan) yang tersusun rapi memanjang mengikuti kontur jalan setapak. Kayu-kayu yang menjadi bagian dari bangunan Hanok tampak terawat mengkilap, Gang-gang yang hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki nampak rapih dan bersih. Inilah perumahan bangsawan era Dinasti Joseon yang berusia lebih dari enam abad dan menjadi kebanggaan Distrik Jongno.

    Sesuai dengan julukannya sebagai “Kampung Utara”, maka desa ini memang terletak di sebelah utara dari dua ikon utama kota Seoul yaitu Sungai Cheonggye dan Distrik Jongno.

    Selain berfungsi sebagai pelestarian Hanok, desa ini juga berfungsu sebagai pusat kebudayaan, penginapan tradisional, restoran dan tempat minum teh bersama.

    Menyusuri bagian dalam perkampungan, beberapa turis perempuan tampak anggun mengenakan Hanbok (baju khas Korea Selatan) demi menyusuri perkampungan budaya ini dengan lebih khusyu’.

    Sebuah keindahan yang tersimpan di daerah Gahoe ini akhirnya berhasil kudatangi juga. Sebuah kesan klasik, ketenangan, kesunyian, sarat makna dan keagungan budaya sangat kental kurasakan dalam kunjungan ini.

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Previous Story

    Horn sound made me see to left when I just walked out of a noodle food stall in Tashiling. Yes, that shrill sound came from Mr. Tirtha’s taxi which I never knew since when it had been parked under a tree right out of Tashiling area.

    I think we don’t need to go to Devi’s Fall because its water discharge is low now. So you can see the beauty of Devi’s Fall from a cave”, said Mr. Tirtha while turning steering wheel to left and entered Shital Path Street. I just agreed with that information.

    Devi’s Fall often had been nicknamed as David’s Fall since decades ago when a Swiss drowned in current at this waterfall.

    OK …. We are arriving“, joked Mr. Tirtha while snapping her fingers when he had just turned right following Siddhartha Rajmag’s Street flow.

    I started to enter the gate of Gupteshwor Mahadev Cave, which at its top stood the dashing Lord Shiva holding his trident in cross-legged position. Through it, then walking in tarpaulin-covered entrance route with a row of souvenir stalls on either side. Then I was greeted by the presence of Lord Vishnu statue which sleeping next to the main building.

    Description: D:BC ReportsFoto and VideoGo Abroad15. NepalIMG_20180101_165707863_HDR.jpg
    Main balcony.

    It was time to head to a concrete balcony to bought a ticket for 100 Rupee. Before descending the stairs to cave mouth, for a moment I paid attention to details of staircase walls which were regularly spaced displaying Gods carvings which might implicitly feature a certain stories.

    Stairs to cave mouth.

    Temperature difference had begun to be felt on first foothold at cave mouth. Now I was ready to explore the longest cave in Nepal.

    Cow Shed“, I was stunned to see a cow shed with blue iron fence. I asked a local person who was talking in front of it. He briefly said that this cow protected Lord Shiva. I nodded as if I understood.

    Going down the stairs through right side of cage I felt my breath getting heavier. The damp dark cramped space made it so. Then I saw a bright light again at a temple which dedicated to glorifying Lord Shiva.

    It was said that this cave was found in 16th century with cave mouth closed by grass. Local people named this cave as Bhalu Dulo. When found, there were already carvings of several Hindu Gods such as Mahadev, Parvati, Nageshwor and Saraswati.

    Now stairs to cave bottom were getting sharper and slippery. Water continued to drip from stalactites which were spread evenly on cave roof. The lack of lighting made my downward journey very slow.

    Be careful, ok…..

    Finally, the appearance of cave bottom was amazing. A very large room was in basement. Then on a side appeared a natural gap which was the only hole to enjoy the beauty of Devi’s Fall.

    Description: D:BC ReportsFoto and VideoGo Abroad15. NepalIMG_20180101_170803449_HDR.jpg
    That was Devi’s Fall…. Wasn’t that cool ?.

    Check out the situation of Gupteshwor Mahadev Cave here:

    https://www.youtube.com/watch?v=7p0Yjhocidg

    God’s extraordinary work of nature….

  • Seketika aku tersadar bahwa aku belum menunaikan kewajiban Shalat Maghrib. Sementara waktu sudah menunjukkan pukul  19:10 dan suara shalawatan telah menghilang sejak tadi. Lalu waktu memaksaku untuk segera beranjak dari pelataran Plaza Bukittinggi.

    Menyusuri Jalan Cinduo Mato, aku sudah tak menemukan keramaian seperti yang kubayangkan. Sebagian besar ruko di kiri-kanan jalan sudah mulai menutup pintu. Hanya beberapa yang bertahan karena masih harus melayani pelalu-lalang tersisa di jalanan.

    Aku tiba di Masjid Raya Bukittinggi. Bangunan delapan jendela lengkung di lantai kedua. Tepat terletak di sisi jalan dan ditandai dengan satu buah menara berpendar kehijauan di salah satu sudut depannya.

    Halaman depan Masjid Raya Bukittinggi.

    Memasuki area teras, satu hal yang menarik perhatian adalah disediakannya tempat duduk beton untuk kaum perempuan di sisi kiri, sedangkan para pria diletakkan di sayap kanan. Pemisahan dimulai semenjak memasuki teras.

    Tempat duduk kaum hawa dibalik pagar beton.

    Aku menunaikan kewajiban Shalat Maghrib di gelaran karpet merah, sedangkan jamaáh lain tengah khusyu’ mendengarkan tausiyah pemuka agama yang berkhutbah dari sebelah mimbar. Kutenangkan fikiran, duduk bersimpuh dan menyirami kerasnya hati dengan nasehat-nasehat surgawi, sesuatu yang jarang lagi kuikuti.

    Ceramah sang ustadz yang kuikuti hingga tuntas.

    Aku keluar bersama jama’ah, Kaum Adam dan Hawa teratur keluar pada jalurnya. Pasangan suami-istri satu persatu meninggalkan masjid dengan berbonceng motor, beberapanya menaiki sepeda kayuh. Sementara para pemuda tampak memasuki gang-gang sempit menuju peraduannya masing-masing.

    Ujung jalan Canduo Mato berangsur sepi. Rona terang deretan ruko mulai ditinggalkan pengunjung. Beberapa empu toko masih bersabar menunggu pembeli tersisa yang akan datang.

    Berburu keramaian, aku memintas di Jalan Minangkabau lalu memasuki Jalan Ahmad Yani. Aku benar-benar menemukannya. Parking lot di sepanjang halaman pertokoan masih berjejal kendaraan roda empat, membuatku semakin bersemangat untuk menunda pulang ke penginapan.

    Jalan Ahmad Yani di ujung selatan.

    Aku terus melangkah melewati sebuah pertigaan yang dipotong Jalan Ahmad Karim dari kiri selatan. Berlanjut menemukan warung-warung tenda yang berjajar memanjang di salah satu sisi jalan dengan pemandangan Jembatan Limpapeh yang menyala penuh rona.

    Deretan kuliner kaki lama di sepanjang Jalan Ahmad Yani.
    Ahhhh….Sate Padang ajalah yang cuma Rp. 15.000.

    Aroma sate yang semenit lalu tuntas terkunyah pengecap dengan sekejap mengusir kantuk yang menggelayuti kelopak mata sejak sesi nasehat surgawi sang ustadz di Masjid Raya Bukittinggi.

    Berlanjut dengan menggusur bangku bakso ke penyeduh kopi keliling, waktuku perlahan terhempas bersamaan dengan semakin sirnanya lalu lalang kuda-kuda besi berplat BA.

    Derajat suhu malam itu cepat sekali berkurang, aku yang tak berjaket sungguh merasakan dinginnya udara Bukittinggi, memaksaku segera undur diri dan melangkah pelan menuju penginapan. Esok hari aku akan terjaga lebih dini dan berkeliing kota sedari pagi.

    Memasuki lantai satu penginapan, Noah, Si Insinyur Amerika itu melambaikan tangan kanannya dan menyapaku dengan senyum lebar. Sebotol beer besar ada di tangan kirinya. “I will sleep early”, ucapku kepadanya. Dia menaikkan jempol kanannya sambil berucap pendek “See you tomorrow”.

    Good night Bukittinggi.

    Kisah Selanjutnya—->

  • Bagi saya, traveler dan marketer adalah dua hal berbeda yang saling melengkapi. Traveling telah menjadi passion saya dalam sepuluh tahun terakhir. Sedangkan marketing adalah bidang pekerjaan yang menjadi pilihan saya untuk mengaktualisasi diri secara sosial.

    Secara fungsi, dua hal ini juga saling melengkapi, Pekerjaan marketing adalah jaminan utama bagi saya untuk bisa menjalani passion sebagai traveler. Mengingat marketing adalah pekerjaan yang menghasilkan insentif tambahan di luar penghasilan pokok. Sedangkan traveling adalah passion yang menjadi saluran utama dalam memanfaatkan insentif tambahan yang saya peroleh melalui profesi sebagai marketer.

    Dan dalam tulisan kali ini, saya akan membahas berbagai resolusi pribadi di tahun 2021 terkait dengan profesi saya sebagai seorang marketer dan traveler.

    Tentu menjadi impian bagi marketer manapun untuk selalu meningkatkan citra diri dan kecakapan profesi. Apalagi untuk marketer yang sudah memiliki posisi penting dalam divisinya seperti supervisor, head of segment atau head of division.

    Selain meningkatkan kecakapan keilmuan dan pengalaman, seorang marketer harus dituntut untuk mampu menggunakan peralatan penunjang profesi dengan baik. Bahkan pada level penguasaan alat penunjang yang baik, maka seorang marketer harus bisa menentukan alat penunjang manakah yang paling tepat.

    Sebagai marketer sekaligus leader, waktu saya sangat padat digunakan untuk mengurus customer, membina tim, melakukan presentasi penting, berurusan dengan pihak ketiga untuk menuntaskan pelayanan purna jual dan menjalankan berbagai meeting penting dengan jajaran leader untuk menentukan strategi yang tepat setiap saat.

    Oleh karena itu, saya membutuh perangkat yang convertible dan mampu menjalankan fungsi sebagai asisten pribadi. Setelah menimbang-nimbang, sepertinya perangkat yang tepat untuk menjalankan fungsi itu adalah ASUS ZenBook Flip S (UX371). Saya memilih perangkat ini dengan sebuah alasan yang kuat. Yaitu beberapa fitur yang membuat perangkat ini memiliki keunggulan di kelasnya dan setelah saya eksplorasi, keunggulan itu sangat tepat untuk mewujudkan impian besar saya di tahun 2021.

    Menjadi Trainer

    Selain menjadi seorang marketer yang baik, impian saya pada tahap yang lebih tinggi adalah menjadi trainer professional di bidang yang saya geluti. Saya ingin sekali berbagi kesuksesan dengan banyak orang.  

    Untuk menantang diri menjadi seorang trainer, hendaknya saya harus menyerap banyak sekali materi dengan baik dan cepat. Sedangkan cara terbaik untuk menyerap dan memahami materi adalah dengan melatih kemampuan mengkonversi materi ke dalam sebuah peta konsep.

    Kebiasaan konvensional saya yang terbiasa mencatat dengan detail setiap materi pada lembaran buku harus segera dikurangi. Hal tersebut menyebabkan ketidakefektifan dalam memahami materi karena saya akan kehilangan fokus untuk menangkap pesan dari trainer secara langsung.

    Demi menjalankan kebiasaan baru untuk membuat peta konsep dan meninggalkan mencatat secara manual, maka ASUS ZenBook Flip S (UX371) bisa digunakan sebagai pengganti buku catatan yang berpenampilan ringkas, mudah dibawa kemananpun dan memiliki kemampuan simpan yang baik.

    ASUS ZenBook Flip S (UX371) dengan Stylus Pen 4096 Pressure Level.

    ASUS ZenBook Flip S (UX371) bisa merepresentikan ketiga kebutuhan ini. Kombinasi layar sentuh dan dukungan Stylus Pen dengan 4096 Pressure Level (Pressure Sensitivity) membuat saya menjadi lebih imajinatif dalam membuat peta konsep melalui coretan di atas layar. Sensitivitas tekanan ini sangat membantu saya dalam membuat variasi ketebalan coretan menggunakan Stylus Pen di layar. Dan asyiknya adalah masing-masing tingkat ketebalan coretan bisa dibentuk hanya dengan memberikan permainan tekanan yang berbeda pada permukaan layar.

    PC modern juga dilengkapi dengan pena digital yang memiliki banyak manfaat. Sentuhan khas tercipta saat Anda membuat sketsa atau coretan pada dokumen dengan pena digital. Penelitian juga menemukan adanya peningkatan kinerja hingga 38% pada pelajar ketika mereka menggunakan pena digital untuk mengerjakan soal-soal sains. Tidak semua ide berupa kalimat, kini saatnya untuk tuangkan inspirasi segera dalam sketsa atau coretan pena digital di PC modern.

    Slim dan Sophisticated.

    Sedangkan fungsi keringkasan perangkat bisa diwujudkan dengan sifatnya yang konvertibel dan ringan. Dari namanya sudah jelas menunjukkan karakter dari ASUS ZenBook Flip S (UX371). Istilah Flip merujuk pada sifat laptop yang konvertibel, karena perangkat ini bisa dipakai dalam bentuk tablet ataupun laptop. Sedangkan huruf S pada nama laptop merujuk pada kata Slim (tipis) dan Sophisticated (ringan). Perangkat ini mengedepankan flexible performance  (daya kerja yang fleksibel) dan luxurious design (desain yang berkelas).

    Tentu semakin bisa dipastikan bahwa laptop ini sangat mudah untuk dibawa kemanapun. Dengan panjang 30,5 cm, lebar 21,1 cm serta ketebalan 1,39cm, membuat laptop ini berpenampilan super tipis untuk jenis laptop konvertibel.

    Sedangkan fungsi penyimpanan yang baik tercermin dari dilengkapinya laptop ini dengan 1 TB SSD (Solid State Drive) M.2 NVMe PCIe. NVMe (Non-Volatile Memory Express) merupakan terobosan baru di bidang penyimpanan data yang memungkinkan SSD dihubungkan melalui PCI Express (PCIe). Sedangkan, (PCIe) merupakan bus interface yang biasanya digunakan untuk menghubungkan graphic card, network card, atau peripheral komputer berkecepatan tinggi lainnya. Teknologi PCIe memungkinkan laptop ini mentransfer data dengan kecepatan hingga 32G per detik sehingga SSD diharapkan akan mencapai kecepatan maksimum.

    Selain itu, penggunaan 1TB SSD M.2 NVMe PCle membuatnya mungkin untuk menyimpan data saat supply energi dimatikan, mampu menyimpan data dalam waktu lama (bahkan hingga 200 tahun), tidak memerlukan fragmentasi yang menguras banyak waktu, lebih tahan terhadap benturan dan panas yang berlebihan, tidak berisik, lebih awet  serta menghemat konsumsi daya.

    Komputer masa kini memiliki tampilan berbeda karena mereka memang berbeda. Dengan solid-state drive (SSD) dan teknologi terkini, Anda mendapatkan kecepatan, keamanan, ketahanan, dan desain yang cantik. Kami telah melakukan jajak pendapat, dan hasilnya, orang-orang lebih senang saat bepergian dengan PC modern.

    Efektif dan Efisien dalam Closing

    Sebagai seorang marketer, tentu saya ingin memiliki kemampuan melakukan closing yang baik untuk meningkatkan produktifitas. Beberapa kemampuan pendukung perlu ditingkatkan untuk memperbaiki closing skill, salah satunya adalah presentation skill.  

    Presentation Skill yang baik, tidak hanya mengandalkan penguasaan konten produk. Tetapi ada faktor lain yang harus ditingkatkan secara bersamaan seperti gesture, penguasaan audien dan elegansi. Dan untuk meyematkan kesan elegan pada diri saya, tentu membutuhkan usaha lebih.

    Jawaban itu ada pada ASUS ZenBook Flip S (UX371), perangkat ini akan menambahkan kesan elegan pada momen presentasi penting. Desain All New pada laptop ini telah menciptakan tampilan premium. Menyuguhkan tampilan diamond cut yang mewah dan elegan di berbagai sudut pandang. Sedangkan pilihan warna jade black membuatnya terkesan formal. Sedangkan garis warna tembaga atau red copper yang mengelilingi body laptop mengesankan rasa eksklusif pada perangkat ini.

    Spesifikasi lengkap ASUS ZenBook Flip S (UX371).

    Selain elegansi, ASUS ZenBook Flip S (UX371) juga memungkinkan saya melakukan presentasi tatap muka dengan baik. Tipe presentasi yang sering mendemokan produk ke customer penting tentu akan terbantu dengan output audio yang baik. Dua speaker stereo dengan Harman/Kardon Certified akan membantu memperkuat nilai presentasi. Kedua speaker yang terletak di bagian bawah kanan dan kiri laptop akan membuat audio bisa didengar audien ketika presentasi harus dilakukan di atas meja. Kerennya lagi, audio ini akan disupport dengan aplikasi DTS Audio Processing untuk mengatur komposisi audio dan equalizer.

    ASUS ZenBook Flip S (UX371) yang dilengkapi dengan Intel EVO Platform akan menjamin bahwa laptop ini sangat responsif dan bersifat instat wake atau bangun dari mode sleep dalam waktu kurang dari satu detik. Kenapa saya memerlukan fitur instant wake ini?. Karena di dalam dunia marketing, sering sekali saya hanya disediakan waktu terbatas untuk bertemu dengan customer penting saking sibuknya mereka. Padahal mereka adalah seorang pengambil keputusan. Hal yang paling menyebalkan adalah ketika bertemu dengan customer seperti ini tetapi laptop saya sering terlalu lama dalam melakukan booting dan loading, sehingga sering membuat mood sang customer menjadi turun dan saya menjadi kehilangan banyak waktu. Padahal mereka sering sekali, hanya menyediakan waktu 10 menit untuk bertemu.

    Menerapkan hukum Pareto, tentu saya juga akan sering memaksimalkan jumlah kunjungan ke customer potensial untuk mendapatkan peluang closing lebih banyak. Untuk itu, saya membutuhkan desain ergonomis dari laptop yang saya miliki. Menemui minimal 5 customer dalam sehari membutuhkan kenyamanan dengan mengurangi beban di punggung karena beratnya laptop. Dengan berat ASUS ZenBook Flip S (UX371) yang hanya 1,19 Kg ditambah berat charger yang hanya 215 gram akan mengurangi beban punggung karena total beban yang saya bawa hanya berkisar 1,4 Kg.

    Responsif terhadap Atasan dan Klien

    Sering sekali respon menjadi masalah dalam dunia yang saya geluti. Respon yang lambat dalam pengiriman dokumen untuk customer karena terbentur koneksi internet. Masalah konektivitas ini terkadang  juga menyebabkan informasi dari divisi lain yang terlambat masuk. Hal ini membuat saya sering ketinggalan informasi penting untuk beberapa saat dan tentu membuat efektifitas pekerjaan menjadi terganggu. Bahkan kabar kurang baiknya, beberapa peluang penting sering terlewatkan begitu saja karena masalah ini. Menjadikan saya tidak bisa mengclosing peluang dengan baik.

    Melakukan meeting di beberapa gedung dengan tembok tebal atau pertemuan di lantai bawah yang membuat saya susah menjangkau Wi-Fi adalah salah satu masalah yang sering saya alami. Peluang bagus sering hilang karena hal tersebut.

    ASUS ZenBook Flip S (UX371) yang telah dilengkap dengan Wi-Fi 6 akhirnya akan membantu saya menyelesaikan masalah ini dengan tuntas. Wi-Fi 6 yang memungkinkan perangkat ini bisa mengakses Wi-Fi dengan halangan tembok tebal sekalipun. Sehingga akan menghilangkan kekhawatiran saya terhadap kondisi beberapa tempat yang tidak menguntungkan. ASUS ZenBook Flip S (UX371) akan membuat saya mempunyai koneksi kuat dimanapun.

    Mengembangkan Passion Sebagai Traveler Sekaligus Travel Blogger

    Saya sudah menjalani passion sebagai traveler sejak 10 tahun lalu, sementara passion menulis sudah berjalan selama 3 tahun. Traveler dan travel blogger adalah sepasang passion yang menyenangkan dan sedang saya kembangkan.

    Pada level yang mapan, saya mempunyai impian bisa menulis dimanapun saya berada, baik di dalam dan di luar negeri saat traveling. Menulis pada momen yang baru saja terjadi adalah sesuatu yang segar dan menyenangkan.

    Concentric circle ornament( tepat di pusat lingkaran logo ASUS) memberi kesan menenangkan, ornamen ini dikenal dengan nama ZEN.

    Untuk menjaga mood yang baik dalam menulis maka ASUS ZenBook Flip S (UX371) adalah teman paling ideal. Desain layarnya  yang 360o Ergo Lift Hinge membuat menulis menjadi nyaman. Desain ini membuat bagian belakang laptop sedikit terangkat jika layar dibuka dalam bentuk laptop. Mekanisme ini tentu akan meningkatkan kenyamanan saat mengetik. Secara pemeliharan perangkat, maka posisi ini akan meningkatkan sirkulasi udara pada laptop.

    Memiliki TUV Rheinland Eye-Care Certified Display, menjadikan laptop ini aman untuk mata. Cahaya birunya yang rendah membuat nyaman untuk menulis dalam jangka panjang. Ditambah lagi dengan keberadaan panel OLED (Organic Light Emitting Diode) yang akan menampilkan tampilan keren di layar.

    Dari semua yang menjadi resolusi saya di tahun 2021. Sepertinya semuanya akan terwujud apabila saya segera memiliki ASUS ZenBook Flip S (UX371) ini. Karena kesempatan tidak akan datang dua kali dan waktu tidak dapat diulang kembali.

    Artikel ini diikutsertakan dalam ASUS ZenBook Flip S (UX371) Blog Writing Competition bersama deddyhuang.com

     #ZenBookFlipSxDH

  • <—-Previous Story

    With the e- “Nyiur Resort Hotel” Reservation at my hand, I felt relieved and even more enthusiastic about enjoying a sunrise which would be coming in an hour. I decided to close my eyes for a moment after eight hours earlier struggled to drive “The Silver” from the Capital City. I purposely set my smartphone alarm to avoid falling asleep too much and worrying about losing the earth show which was about to come.

    The alarm literally woke up me who were about to miss. I immediately headed for shoreline and headed to bamboo pier bridge which jutting out towards sea. Then sat down in the shade of hut at the end of pier bridge. Meanwhile view at the east began to appear a red tinge ready to open the dawn show.

    The show at Pangandaran East Coast began…..

    A dazzling dawn was displayed on a natural screen on eastern horizon. Visitors began to busy arranging their respective cameras. Tripods began to acquire every corner of hut. Cameras with various brands started to light up to capture that beautiful moment. Meanwhile I only entrusted my naked eyes to capture that special moment.

    As usual, special show of sunrise is a brief moment and requires serenity to enjoy its beauty. The orange tinge vanished as I walked towards the west side of beach to enjoying morning activities of local fishermen who started landing outrigger boats which loaded with fish from the sea last night. That was the modesty of local fishermen who earn a fortune in the ocean with perseverance and patience.

    When the sun moved higher, Pangandaran West Coast was more desolate, the air starts to raise its temperature, my gaze which was fixed far to the horizon stopped. I jumped off an empty outrigger ship which I sit on, grabbing the rudder of “The Silver” again. “Can’t check-in yet …“, I lightly muttered when I reopened a Pangandaran tourism map. “As long as it’s still morning, I will be better to take a far destination….“, I began to measure map scale and my finger pointed at a destination. “Yes, Citumang River ….“, I lightly thought. I came to Pangandaran Beach without a plan. This was an incidental journey in my adventure history.

    Now “The Silver” was advancing to Parigi area on north side of Pangandaran Beach. Getting farther on, “The Silver” started crossing green rice fields with young rices. The road wasn’t wide but more than enough to cars for passing each other, a village road was also comfort enough for four wheels to pass.

    Driving for about 25 kilometers, in 30 minutes I arrived at a special parking lot for Citumang River tourism spot. A tour officer came to me and started handing me tour ticket and parking ticket after I confirmed that enjoying the beauty of Citumang River was the purpose of my arrival.

    A tour guide as well as a life guard also came over. He offered assistance services to navigate Citumang River from upstream to downstream. But I decided to just do it by myself. Enjoying nature alone was the best way to absorb all its beauty values.

    Next Story—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Pukul setengah sembilan pagi, aku sudah merapat di Stasiun Hongik University, menyusuri koridor panjang stasiun dan menaiki escalator panjang an tinggi menuju permukaan tanah. Tata arsitektur stasiun menyambutku dengan taman berhiaskan bunga-bunga indah dipadu dengan bebrapa sculpture ikonik.

    Aku mulai menelusuri gang utama menuju Sinchon-ro Avenue di utara stasiun. Yang kutahu, guesthouse yang kupesan berada di dalam gang di seberang jalan sana. Aku melintas pada zebra cross tunggal yang ada pada ruas jalan dihadapan. Seoul Bus Rapid Transit dominan biru langit kelir putih, dengan AC outdoor compartment  memanjang di bagian atap melengkapi body panjangnya tampak berlalu lalang mengambil warga lokal yang mulai beraktivitas meghargai fajar.

    Aku memutuskan untuk tak bertanya  kepada siapapun perilah letak guesthouse tempatku menginap, aku yakin di tengah Ibu Kota yang super sibuk, akan sangat langka bagi siapapun untuk mengetahui letak sebuah guesthouse kecil jauh di dalam gang antah berantah.

    Aku mengambil peta dan dengan cepat memahami gang sebelah mana yang harus kumasuki. Aku mulai memasuki  Gang Sinchon –ro 3-gil dan berbelok ke kanan pada pertigaan pertama. Sesuai dugaan, aku akan mudah menemukannya.

    Memasuki pintunya yang tak terkunci, aku menemukan meja resepsionis yang gelap dan kosong, lorong tangga, dapur dan ruang makan sama temaramnya. Tamu-tamu guesthouse rupanya masih tampak malas dalam selimutnya masing-masing, seakan enggan berjibaku dengan dinginnya hawa di luaran sana.

    Tak ada pilihan, aku memasuki shared lounge yang sama temaramnya, mengambil tempat duduk, menaruh backpack dan menangkupkan muka dalam sedekapan tangan untuk turut terlelap dengan kondisi terduduk. Setidaknya shared lounge itu tak sedingin ruangan Seoul Express Bus Terminal dini hari tadi.

    Lelapan pulasku terbangunkan oleh suara berisik seseorang yang tampak merapikan ruang resepsionis. Rupanya aku telah terlelap selama satu jam lamanya. Lelaki muda Korea itu tampak melihat kearahku tanpa ekpresi. Aku mengucek mata untuk membuat muka segera segar. Beranjak dari bangku dan segera menujunya.

    Aku ; “Hello, I’m Donny from Indonesia. I had booked a room in this guesthouse. This is my booking confirmation”.

    Dia: “Let me see”, dia seksama membaca detail lembaran itu. “I think you will get your room on 1 pm, so I’m sorry”, aku terkagum dengan aksen British pengucapan englishnya.

    Aku: ‘Oh, It’s OK. I know that. I just want to put my backpack here and I will go to sightseeing the city”.

    Dia: “Yeaa, It will be better. Just put your backpack there”, dia menunjuk sebuah pojok ruangan yang penuh tumpukan backpack.

    Aku: “Ok, thanks, Sir”.

    Usai sukses menaruh backpack yang mulai membuat punggungku terasa berat. Aku segera meninggalkan guesthouse. Aku harus mencari sarapan sebelum menuju ke destinasi pertamaku di Seoul. Semenjak bercakap dengan Mr. In Chul Park di Seoul Metro tadi pagi, aku mulai menahan rasa lapar yang menyerang lambung.

    Menyeberang kembali Sinchon-ro Avenue aku memasuki gang menuju Stasiun Hongik University. Di dalam gang aku perlahan melangkah demi menemukan sebuah minimarket. Yups….Akhirnya aku menemukan sebuah CU minimarket.

    Menelusuri rak berisi makanan, aku menemukan cup noodle dan kemasan nasi putih, tanpa ragu aku memungutnya dan membawanya ke kasir. Seperti minimarket di Busan, CU minimarket Seoul juga menyediakan pojok makan, lengkap dengan microwave dan air panas. Pelanggan dituntut untuk bisa mengoperasikan peralatan pemanas itu dan melayani dirinya sendiri untuk menyantap makanan yang dibelinya.

    Aku yang sungguh kelaparan, menyantap cup noodle dan nasi kemasan itu dengan cepatnya. Untuk kemudian segera bergegas menuju destinasi wisata pertama.

    Kisah Selanjutnya—->

  • Pengemudi: “Don, turun di sini saja ya. Mobil mau ambil arah kanan, nanti tambah jauh”.

    Aku: “Oh Okay, Uda. Sini aja gapapa”.

    Diturunkan Annanta Travel di Jalan Veteran, aku sejenak duduk meregangkan kekakuan otot setelah duduk di jok belakang selama 8 jam.  Patung putih Tuanku Imam Bonjol diatas kudanya menjadi pemandangan pertama yang menjamu kedatanganku di Bukittinggi. Pemimpin Perang Paderi itu menebar berkharisma, gagah tanpa suara.

    Pertigaan Jalan Veteran, Jalan Pemuda (kiri) dan Jalan Ahmad Yani (kanan).

    Setelah dua hari tersiram panas menyengat di Pekanbaru, kini aku menikmati sejuknya udara Bukittinggi. Kini aku leluasa berlama-lama mengarahkan kameraku kemanapun tanpa sengatan surya. Aku memang harus sesekali berhenti karena kontur jalanan kota yang naik turun, membuatku terengah-engah dengan beban backpack di punggung.

    Memasuki Jalan Teuku Umar yang mulai menurun.

    Dari kejauhan, aku terus bertatapan dengan gadis muda berambut pirang yang duduk menikmati sore di atas moge. Yang kuprediksi adalah dia tepat berada di depan De Kock Hotel tempatku menginap.

    Benar adanya, tiba tepat dimana moge itu terparkir, aku dihadapkan pada lobby hotel yang berwujud sebuah cafe, perempuan muda itu menyusul dan bergegas menuju meja resepsionis. Sepertinya dia adalah staff hotel yang bertugas sore itu.

    Aku akan tidur lantai dua dormitory sederhana itu.

    Aku: “Hi. Were you in Samosir four days ago?, I think that we stayed at a similar hotel, Bagus Bay Homestay”.

    Noah: “Oh really? Yes, I was in Samosir four days ago”.

    Aku: “I’m Donny. I am an Indonesian traveler. What is your name?”.

    Noah: “I’m Noah form California”.

    Aku: “Are you on vacation, No? What do you do in America?”.

    Noah: “Yes, I’m on vacation. I am an engineer at oil company. What is your job in Indonesia? “.

    Aku: “Marketing”.

    Noah: “What marketing?”.

    Aku: “I work in field, meet customers, and sell products”.

    Noah: “Oh, you aren’t marketing. You are a sales. How about your income? Good income? I work with good income but with high risk in America … hahahaha”.

    Aku:” Yes, of course, I’m a salesman. I got a lot of money from my work”.

    Itulah Noah, kenalan baruku di Bukittinggi. Kebetulan kita hanya berdua yang menghuni ruang dormitory dengan lima tempat tidur tunggal itu.

    —-****—-

    Aku duduk di lobby, sebotol Coca Cola berukuran sedang berhasil membekukan keringat setelah berjalan sejauh satu kilometer. Sore itu aku berniat menyambangi Jam Gadang yang hanya berjarak setengah kilometer di barat laut hotel.

    Sekitar pukul 17:30, aku mulai beranjak dengan mejinjing kamera menuju kesana. Aku memilih berjalan kaki melewati Jalan Yos Sudarso yang cenderung datar dan menurun di Jalan Istana.

    Bangunan tua Novotel.

    Tepat di seberang Novotel adalah Plaza Bukittinggi. Aku hanya berdiri terdiam di pelataran plaza untuk menikmati keelokan Jam Gadang. Taman Sabai Nun Aluih yang berada di bawah menara jam itu tertutup lembarang seng proyek dengan rapat. Sedang ada renovasi taman rupanya.

    Jam berusia 96 tahun yang didedikasikan untuk sekretaris Fort de Kock (Nama lama Bukittinggi).

    Sesuai namanya “Gadang” yang dalam bahasa Minang berarti besar, menara jam ini berketinggian dua puluh enam meter dengan empat jam kembar berusia 128 tahun yang didatangkan langsung dari Rotterdam melalui Teluk Bayur.

    Digerakkan mesin Brixlion yang kembarannya ada di Big Ben, London.

    Di arsiteki oleh Radjo Mangkuto, Jam Gadang dibuat dengan 4 tingkatan. Tingkat bawah merupakan ruangan petugas, tingkat kedua berisi bandul pemberat jam. Mesin jam ditempatkan di tingkat ketiga dan tingkat paling atas sebagai puncak menara dimana lonceng jam ditempatkan.

    Bahagia rasanya, bisa melihat Jam Gadang yang sedari kecil, aku hanya mengenalnya lewat buku pelajaran Sekolah Dasar.

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Previous Story

    I already understood before Mr. Tirtha told me that my next destination was Tashiling, A Tibetan refugee settlement in Pokhara. Nepal itself provided access to this migration because since ancient times, Tibet and Nepal have had close close relations in economy, diplomacy and culture. They have repeatedly signed various cooperation agreements in their history as two mutually sovereign nations.

    Departing from International Mountain Museum, my taxi drove towards east and it was about 3.5 km in distance. This time Mr. Tirtha who changed to interrupt the trip, he stopped at a pharmacy to buy a some drugs. He steadfastly said that his father had a liver problem which required him to set aside his income from driving a taxi for his father’s treatment.

    Namaska“, he shouted at his friends on the street. He explained a little to me that Namaska ​​was a greeting similar to “Namaste“.

    Then, he emphasized that tourism was like a gold for his country. So many people in his age struggled to have a small car and fuctioned as a taxi. And English was the key for them to attract tourists …. “Sorry Mr Tirtha, if in Jakarta, I prefer to be a salesman with a commission” …..Hahaha, he broadly laughed.

    15 minutes later, the taxi exited from Siddhartha Rajmarg main road. Stop on a dirt road. “Welcome to Tashiling“, said Mr. Tirtha.

    Description: D:BC ReportsFoto and VideoGo Abroad15. NepalIMG_20180101_155437418_HDR.jpg
    The view of Tashiling from dropping point.

    My steps were immediately drawn to a row of souvenir stalls. Yesss…. That was where Tibetan people earn money to survive in their refugee camps. On the way home, Mr. Tirtha regretted Tibetan migration because China has paid more attention to Tibet welfare now.

    A man who was so friendly explained some various meanings of  merchandises.

    Entering this 56 year old village, I could get a peek at a little Tibetan culture. The way they dress and worship was an easy thing to grasp during this brief visitation. The hospitality of the tiny residents with brown skin and slanted eyes became something unforgettable. According to a confession from one of them, there were about 700 Tibetan refugees in this village. Even in the early days of their migration, there were about 2,000 residents.

    Tashiling itself was only one of 12 refugee camps across Nepal. It was well known since Dalai Lama resistance, many Tibetans migrated to Nepal on 1959-1961.

    Satisfied in seeing Tashiling’s face, I took time to sit at their small restaurant. I ordered a bowl of noodles for lunch. Simple menu for 150 Rupee which made me ready to continue the journey to next destination.

    Description: D:BC ReportsFoto and VideoGo Abroad15. NepalIMG_20180101_162806742_HDR.jpg
    It was delicious….Was there pork oil in?….Hahaha.

    Come on, go to next destination….

    Next Story—->