• <—-Previous Story

    Damn…. I haven’t showered since yesterday morning.

    Visiting The Pearl Monument made me happy beyond measure, in addition to exploring Qatar history, my eyes were spoiled by beautiful view of Doha Corniche. A seven-kilometer long promenade reveals the arch of Doha Bay which be crammed with skyscrapers at its end. Meanwhile, distribution of traditional tourist dhow boats which were quietly anchored along the bay became a natural interior which made charming situation.

    The sun was starting to fade, the sea breeze added to the coolness along promenade. The pedestrian path on the shores of Doha Bay looked neat and beautiful. The shoreline was bordered by smooth and flat concrete at the height of an adult’s hip following the curve of beach. While the promenade was lined with good quality paving blocks and bordered with Al Corniche Street, there was an elongated garden with green grass and colorful flowers which brought to life by hydroponic techniques. So, if you visit the Middle East region, the view of hydroponic hoses planted on the ground to grow beautiful flowers is common.

    Right in front of The Pearl Monument beach, there was an artificial land outcrop which was used to lean by hundreds of Dhow Boats. therefore this place was known as Dhow Harbor. The port, which juts out into the sea for half a kilometer, had a main port area of ​​four hectares.

    The main surface of this port was still in the form of white sandy soil, while on all four sides there were paved paths which allowed vehicles to entering port area. This sandy part was used for docking several boats for repairs.

    Seen along the rocky embankment of the port, residents used it to channel their fishing hobby. Meanwhile, I just sat on embankment and stared at beautiful West Bay area from a distance.

    On other hand, I was being followed by a South Asian face, in a white robe and red turban. His funny behavior and continuously imitating my activities, made me not feel scared but rather amused. I decided to approach him and talk. His name is Safwan and he had only left Dhaka for three months to work in Doha. He didn’t seem to know that I was a tourist, so he felt like he had a friend who worked in Doha….Hahaha, so what did you think? What profession did he think about my job in Doha?….Wkwkwk.

    Our conversation ended with each other taking photos with background view of West Bay Area….See you later, Safwan.

    On the right side of Dhow Harbor, I could see an iconic building which made as if it floated on the surface of water. This building was known as the Museum of Islamic Art. Needed to spend for about 50 Riyal to entering this beautiful building and got to know about the history of Islam in Qatar in the past.

    Still on the right side precisely at the edge of harbor, I could enjoy in detail about the beauty of Dhow Boat which was neatly parked in calm waters without waves. A brown wooden boat with a terraced deck which was usually used as a tourist boat to navigating the beautiful beaches of Doha.

    So make sure that you visit the Doha Corniche when in Qatar.

    It’s a really cool place…

    Next Story—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Usai bersarapan, maka kondisi badan menjadi lebih tenang. Aku melipir di belakang Vihara Tri Dharma Bumi Raya untuk menembus Jalan Niaga sisi utara.

    Bertemu jalan yang kumaksud, aku berbelok menuju utara. Jalan Merdeka menyambutku beberapa menit kemudian. Maksud diri menyusuri jalanan ini adalah untuk mengunjungi masjid utama kota bercorak hijau-putih. Ya benar, masjid yang aku kunjungi ini berjuluk Masjid Raya Singkawang.

    Masjid yang indah bukan ?

    Aku menemukannya dengan mudah. Tetapi entah kenapa gerbang masjid tertutup sangat rapat. Menjadikan niatan hati untuk menjalankan shalat Dhuha terurungkan.

    Berdiri tepat di sebelah gerbang membuatku begitu tak leluasa menikmati keindahan masjid ini. Hal ini dikarenakan, lokasi masjid yang secara langsung diapit oleh tiga jalan raya sekaligus, yaitu Jalan Merdeka di sisi timur, Jalan Jenderal Ahmad Yani di sisi selatan dan Jalan Mesjid di sisi utara. Ketiga jalan itu saling bertemu dan membentuk lokasi segitiga yang secara keseluruhan ditempati oleh Masjid Raya Singkawang.

    Posisi yang kurang nikmat untuk menikmati keindahan masjid membuatku menyeberang jalan dan mengambil satu posisi di sisi tertimur Jalan Merdeka sehingga aku bisa mengambil gambar dengan lebih baik.

    Aku terduduk menikmati suasana di sekitar masjid pada sebuah bangku kosong milik kedai makanan bertenda yang tampak tutup. Mungkin ini adalah kedai makanan yang akan beroperasi di malam hari.

    Setelah merasa cukup puas menikmati keindahan masjid, maka aku kembali melangkahkan kaki melintasi sebuah jembatan yang mengangkangi Sungai Singkawang di sebuah ruas Jalan Budi Utomo.

    Melangkah di sepanjang Jalan Budi Utomo aku cukup terkesima dengan keotentikan bangunan-bangunan tua disepanjangnya yang tampak sangat hidup karena termanfaatkan secara maksimal untuk kegiatan bisnis.

    Tujuanku kali ini adalah mengunjungi Rumah Keluarga Tjhia yang berada di daerah Condong. Sampai di pertengahan ruas Jalan Budi Utomo, tepat di sebelah Toko Hari Hari, aku melihat keberadaan gerbang pada sebuah gang berwarna merah terkombinasi kuning.

    Tak salah lagi, itu adalah gang masuk menuju ke Rumah Keluarga Tjhia. Aku pun dengan percaya diri memasuki gang tersebut. Membaca plang nama, aku baru tahu bahwa gang itu bernama Gang Tradisional dan di ujung gang terdapat gapura bertajuk “Kawasan Tradisional” yang tepat berada di bantaran Sungai Singkawang.

    Tampak beberapa tukang batu sedang khusyu’ bekerja memperbaiki jalur pejalan kaki di sisi sungai. Sedangkan sebuah peta Singkawang Heritage ditampilkan dalam papan informasi pada pekarangan di luar gerbang Rumah Keluarga Tjhia. Pekarangan bagian luar itu juga menyediakan tempat duduk berbahan besi yang bisa dipergunakan untuk sekedar menikmati suasana tradisional kawasan ini.

    Aku mulai memasuki pekarangan bagian dalam. Sungguh arsitektur Tionghoa sangat melekat pada rumah ini ketika aku memasukinya untuk pertama kali. Masih mempertahankan kayu ulin sebagai bahan utama konstruksi, menjadikanku tak heran jika rumah ini telah bertahan selama lebih dari satu abad lamanya.

    Bangunan utama Rumah Keluarga Tjhia terletak di bagian dalam, yaitu berupa kelenteng yang bisa digunakan oleh masyarakat umum untuk beribadah. Sedangkan bangunan terdepan dalam kompleks Rumah Keluarga Thjia ini dahulu adalah bekas kantor dagang yang dimiliki oleh si empunya rumah yang kini telah berubah menjadi sebuah aula umum.

    San Kheu Jong Kopitiam….Salah satu resto di Jalan Budi Utomo.
    Gerbang masuk Rumah Keluarga Tjhia.
    Salah satu bangunan yang terletak paling depan.
    Exs kantor dagang….Sekarang difungsikan sebagai aula.
    Altar abu di bagian belakang.

    Rumah Keluarga Tjhia adalah sebuah cagar budaya yang menunjukkan peran serta warga keturunan Tionghoa dalam membangun perekonomian bangsa, terutama perekonomian Singkawang pada masa keemasan Chia Siu Si yang merupakan perantau asal Xiamen dan sukses merintis perkebunannya di Singkawang.

    Satu keunggulan lagi dari rumah ini adalah Choi Pan Tho Ce nya yang memiliki masakan Choi Pan yang sangat enak.

    Dan pada akhirnya, Rumah Keluarga Tjhia adalah destinasi terakhirku di Singkawang, karena tengah hari nanti aku harus segera kembali ke Pontianak.

    Saatnya bebenah dan kembali ke penginapan.   

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Previous Story

    The pedestrian tunnel starts from an elevator in a glazed room in north of Souq Waqif, right in front of Al Jomrok Boutique Hotel which has a black anchor logo, showing me that I was on the east coast of Qatar now. Gliding underground with a button touch, I stepped beneath the surface of two main streets namely Abdullah Bin Jassim Street and Al Corniche Street. Enjoying step by step in underground tunnel with air conditioner in it.

    The hallway is like a mall corridor, decorated with artistic lighting decorations, with Digital LED along wall and luxurious brown marble floors. As I remembered, I passed a minimalist stand with the letter Q logo belonging to Qatar Charity, the leading non-governmental charity in that Gulf state.

    Continued straight towards Doha Corniche.

    I continued into a different room with view of huge pillars between car parking lots. This is an underground multi-storey parking area with a capacity of 2,000 vehicles. You know, now I was in the economic center of Qatar.

    This was the first time in my life, seeing an underground crossing which had a multi-storey parking lot….Hmmh.

    At the end of tunnel, I started up a gentle slope, circling clockwise. Now I was treading a new area. Long beachfront pedestrian path, paved with paving blocks, concrete fenced in beach side and hydroponic garden combined with low palm trees on the side of road. This was the famous Corniche Promenade in Doha.

    Wait, guys….

    I wasn’t going to discuss Doha Corniche with you guys first….

    I would go to a monument in the shape of a giant pearl shell called “The Pearl Monument”. I have an obligation to visit this landmark.

    I thought not only travelers, even all Qatari citizens should be obliged to visit The Pearl Monument. Through this monument, all audiences should know that prior to 1939, the era before the discovery of “black gold” in the bowels of their earth, Qatar was a poor country whose income depended on the catch of pearl oysters in Persian Gulf.

    I thought Qatar was quite self-aware because they haven’t forgotten their economic roots in the sea. A gamble for the soul of people who must find a pearl shell from ten thousand of them. How not, the toll diving method was a simple dive method which wasn’t safe from attacks by sharks, barracudas and sea snakes. It was also just a seasonal job between June and September with a voyage of more than two months in the middle of Persian Gulf.

    Thanks to “RICH”

    The monument is located right at the pearl dive site, on Corniche Road before entering Dhow Harbour. This is a form of respect from the Emir fot Qatar’s pearl history. A monument built with view background of West Bay area, decorated with a collection of country’s iconic skyscrapers.

    Tha was a little story about my visitation to a beautiful monument. Let me show you how beautiful Doha Corniche is….

    Next Story—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Lewat sedikit dari jam tujuh pagi, aku mulai meninggalkan Pasar Turi. Selama di pasar hingga keluar dari dalamnya, aku belum menemukan tempat untuk membeli sarapan yang sesuai dengan kata hati. Aku masih diselimuti rasa khawatir jikalau salah memilih tempat makan dan terpapar makanan non-halal. Padahal saat itu sudah lewat satu jam dari jam biologisku untuk bersarapan.

    Dengan perut lapar aku menyeberang perempatan di Jalan Niaga dimana Tugu Naga Emas berdiri dengan gagahnya. Masuk ke Jalan Kepol Mahmud sisi utara, mataku awas menatapi kedua sisi jalan demi menemukan kedai makanan tetapi hingga menembus Jalan Pangeran Diponegoro aku tak pernah menemukannya.

    Gunung Sari menjadi latar yang indah bagi Jalan Pangeran Diponegoro.

    Kini fokusku berubah, tak lagi ke masalah perut. Karena tanpa sadar aku telah memasuki kawasan Singkawang Heritage yang kuketahui dari sebuah tonggak beton bertuliskan demikian. Oleh karenanya, kini rasa lapar berubah menjadi rasa penasaran.

    Dari tonggak yang kutemukan di sebuah gang dekat Apotek Singkawang, tanpa ragu aku mulai memasukinya. Gang sempit ini oleh khalayak dikenal dengan mana Lorong Wisata Kenangan Singkawang.

    Di dalam lorong dengan mudah aku menemukan beberapa tembok bergaya mural yang memperindah di sepanjangnya. Sementara caping-caping cantik tersebar merata di bagian atas dan menjadi penghias langit-langit lorong wisata tersebut.

    Di beberapa titik, tampak lorong wisata kenangan tersebut diakuisisi oleh banyak kursi dan meja makan milik kedai makanan yang berdiri di lorong tersebut. Aku perhatikan meja-meja makan itu dipenuhi oleh para pengunjung. Sebagian dari mereka tampak baru saja usai berolah raga, sementara beberapa yang lain tampak pegawai-pegawai kantoran yang hendak berangkat kerja dan tak sedikit pula dari mereka adalah para pejalan sepertiku.

    Hanya ada satu kabar baik untukku, bahwa sebagian dari para pengunjung itu adalah orang Melayu yang mengenakan jilbab nan rapi.

    “Alhamdulillah, kedai makanan ini pasti menjual makanan halal….Saatnya bersarapan”, aku membatin riang.

    Hanya saja kedai makan yang berada tepat di depanku tampak penuh. Sontak aku mengurungkan diri menuju ke kedai itu. Aku berniat mencari kedai lain di lorong yang berbeda.

    Ini dia penanda kawasan Singkawang Heritage.
    Salah satu gang di Lorong Wisata Kenangan Singkawang.

    Benar saja, tak begitu sulit untuk menemukan kedai makan berikutnya…..

    Di depan sana aku melihat sebuah meja makan yang masih kosong. Aku segera mendekatinya dan tanpa ragu menduduki kursi kosong tersebut. Seorang pelayan pria berusia muda melihat kedatanganku. Dengan sigap dia menyambar lembar menu dari meja kasir.

    “Pesan apa, bang?”, dia tersenyum ramah sembari menyodorkan lembaran menu kepadaku.

    “Menu favorit di sini apa, bang?”, aku menerima lembaran menu itu dan tak sekalipun membacanya.

    “Bubur Teri Singkawang dan air tahu mau, bang?”, dia menjawab cepat

    “Ya boleh, itu saja”, aku pun tanpa pikir panjang mengiyakan tawarannya.

    Ketika pelayan itu membalikkan badan, sebetulnya ada satu pertanyaan yang muncul dalam batin, “air tahu apaan ya?”.

    Menunggu tak begitu lama, menu yang kupesan tiba dan tanpa pikir panjang aku mulai menyantapnya. Dan setelah melihat secara langsung air yang berada di dalam gelas maka aku segera menyeruputnya, “Oh ini mah sari kedelai”, pertanyaanku tadi terjawab sudah.

    “Aku rasa aku menemukan sarapan yang tepat pagi ini”, aku membatin puas menikmati hidangan tersebut.

    Aku tak lama duduk di bangku makan, karena cukup faham bahwa banyak pengunjung lain yang mengantri ingin bersarapan juga. Jadi rampung menyantap hidangan itu, aku segera bangkit dan menuju meja kasir.

    “Bubur lima belas ribu, air tahu lima ribu, Bang”, kasir wanita berusia muda itu menghitung tagihanku.

    Tentu ini adalah sarapan yang cukup murah dan sesuai budget bagiku. Sebelum meninggalkan kedai,  aku celingukan mencari nama kedai tersebut.

    “Bubur Pekong….Oh, ini nama kedainya”, aku membacanya termanggut-manggut.

    Bubur Teri Khas Singkawang….Gurih, sedap, asin….mantabz.
    Baru nyadar kalau aku di berada belakang Vihara Tru Dharma Bumi Raya.

    Dan begitu turun ke jalan, aku kembali tersadar bahwa Kedai Bubur Pekong ini terletak persis di belakang Vihara Tri Dharma Bumi Raya yang semalam aku datangi.

    Aku rasa masih ada spot lain di dalam kawasan Singkawang Heritage ini.

    Yuk kita cari ada apa saja!

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Previous Story

    Passing through gate number four, I returned out on the streets after exploring City Souq. The two-story office of an independent Qatari agency was the first building I passed. Five large Qatari flags can be seen displaying in headquarters of Central Municipal Council.

    I turned left as soon as I passed Abdullah Bin Jassim Street. Two hundred meters later, I passed a four-story building which became the center of Islamic development in Qatar, namely Sheikh Abdullah Bin Zaid Al Mahmood Islamic Cultural Center. There was a black ontel bicycle leaning in a pole in front of it. Classic, just looked like an atmosphere in Europe.

    Then began to see a wide and hot courtyard from a distance, located right at southwest corner of large intersection formed by an intersection of Banks Street and Abdullah Bin Jassim Street. A row of seven three-colored benches was accupied by three middle-aged men who seemed to be enjoying situation.

    That Sunday afternoon, Souq Waqif which I visited to from east gate still looked deserted. I walked down corridor after corridor of the market. The floor was dark andesite, the walls weren’t smooth with beige color and at its top was laid whole long wood as a support for roof structure which was deliberately made flat.

    The courtyard of east side of Souq Waqif.

    I passed merchandise stalls which still closed, I myself didn’t know about type of hidden merchandises. I slightly opened a cover corner and I found the answer….It was spices.

    When I arrived at market area which was slightly protruding into the middle, I found a block that sold animals, feed which had been packaged in large plastic uniform sizes, along with their cages. The area for selling animals was no longer covered in roofs, the hot sky was directly visible overhead.

    Thank you “RICH” for being a partner on this trip.
    Blocks for selling animals such as birds and rabbits.

    SementarMeanwhile, some old men of simple shop owners were busy in preparing their stalls which have been equipped with refrigerators with well-known beverage brands. I still couldn’t imagine what this shop looked like when it was crowded. I just guessed it was a middle class tavern.

    Still quiet….They got ready.

    The slip of the sun prevented me from exploring the entire market. I have completed my exploration of eastern part. The western part?….Never mind, there was still time tomorrow. I suddenly created a travel option of my own. Left Souq Waqif soon and wanted to get relax in Doha Corniche until late afternoon. The Pearl Monument was the next destination.

    —-****—-

    This was the single largest ancient traditional market in all of Qatar. Al Souq was a district which was lucky to have this market. It stood at the end of 18th century on the banks of Wadi Msheireb. Wadi itself refers to dry river paths which only fill with water when it rains heavily. A funny experience related to Wadi was when I visited Qatar’s neighboring country, Bahrain. It was so dry, the wadi there was usually used by residents to play cricket…. Funny wasn’t it.

    Three days passed, made me miss Souq Waqif again.

    Wednesday morning, I finally couldn’t stem my longing. I now entered it from its west side which looked more elegant because this side was bordered by Msheireb Downtown Doha (MDD), a subtitutor city of Mushayrib District whose development was planned in detail.

    West side courtyard.

    I agreed….Especially when I heared the jargon that Souq Waqif is home to many restaurants and shisha lounges. That afternoon, I entered its west side to a welcome row of European-style restaurants along open corridors.

    Restaurant.

    This side was a place for Qatari citizens and tourists to just hang out, enjoying coffee and smoking sisha. It was said to be crowded on Thursday nights. As was custom in Middle East region, which made Friday night as the start of their weekend to welcome the next day’s holiday.

    Souq Waqif had never changed the shape of its Qatari architecture.

    Waqif means standing. Because during the pioneering period, not a single stall was built. This was due to the overflow of sea water from Doha coast which inundated the market. Even at the beginning of its establishment, the nomadic Bedouin Arab community and local residents met and transacted in this place. Buyers would come by boat or on camels to get around the inundation and sellers would stand around all day offering their wares.

    Oh, the beauty of Souq Waqif.

    As you entered the central area, situation of the market became very lively. Now I found an area which selling souvenirs. Watches, fridge magnets, key chains, wallets and other types of souvenirs were widely marketed in this area.

    Souvenir corridor.

    Then out of the market through its south side, I found an area which selling dallah, shisha tubes in various shapes and sizes and various types of handicrafts

    Handicrafts area.

    Economic development of Qatar which had skyrocketed since discovering oil had a positive impact on this market condition. In 2006. The Emir of Qatar, Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani, renovated Souq Waqif as a world economic and tourism center. It was said that the Emir brought wood and bamboo which imported from several Asian countries for this major renovation activity.

    So, what are you waiting for….Let’s go to Qatar….Hihihi.

    Next Story—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Selain taman kota, ada satu cara efektif untuk bisa secara langsung membaur dengan aktfitas warga lokal di sebuah daerah yang baru kita kenal. Cara tersebut adalah dengan mengunjungi pasar tradisional dimana mereka beraktifitas.

    Malam perdanaku di Singkawang telah lewat, aku kembali dihadapkan pada sebuah pagi nan cerah. Usai berbasuh, aku dengan cepat menyiapkan setiap peralatan yang kubutuhkan untuk eksplorasi pada hari keduaku di “Kota Seribu Lampion”.

    Sembari menyiapkan kamera, baterai cadangan, obat-obatan ringan yang kesemuanya aku masukkan ke dalam folding bag, aku terus berfikir.

    “Hotel ini kan terletak di Jalan Pasar Turi….Lalu dimanakah letak Pasar Turi itu?”, aku bertanya kepada diriku sendiri yang pastinya belum tahu jawabannya.

    Tepat pukul setengah tujuh, aku mulai membuka pintu kamar dan melangkah cepat keluar dari gerbang hotel. Langkahku kembali menapak tilas jalur semalam, aku akan melangkah hingga ujung Jalan Pasar Turi dengan harapan menemukan pasar yang kumaksud.

    Pagi itu adalah hari terakhir weekday minggu pertama November. Di sebuah pertigaan kecil, aku melihat serobongan anak-anak sekolah datang silih berganti memasuki gerbang. Tampak jelas, semua anak menggunakan masker yang diperiksa dengan ketat oleh tiga orang guru di pintu gerbang. Aku mencoba mencari tahu nama sekolah itu, oleh karenanya aku mendekatkan diri ke salah satu sisi pagarnya.

    “Sekolah Kasih Yobel…”, aku jelas sekali membacanya.

    “Ternyata selain pemeluk Tri Dharma, warga Tionghoa di sini ada yang memeluk agama Nasrani”, aku membatin ringan.

    Sekolah Kristen di daerah Pasar Turi.

    Ketika sedang asyik menikmati suasana sekolah tetiba aku tersadar bahwa aktivitasku diperhatikan oleh seorang guru wanita dari pojok halaman.

    Kontan aku menyapanya “Selamat pagi, Ibu. Maaf tadi mengambil beberapa gambar sekolah. Buat kenang-kenangan, Ibu. Maklum saya dari Jakarta dan baru pertama kali berkunjung ke Singkawang, Bu”.

    “Oh dari jauh ya, Dek. Gapapa kok, silahkan…..”, bersyukur dia menjawab sapaku dengan senyum yang menunjukkan bahwa aktivitas yang kulakukan baru saja tidaklah menjadi masalah.

    Usai percakapan singkat itu, aku kembali melanjutkan langkah.

    Selang sebentar, aku kembali melewati Vihara Setya Bumi Raya yang hening, aku hanya menolehnya sekejap sambil terus melangkah.

    Usai keluar dari sebuah tikungan pendek, jauh di ujung jalan aku mendapati keramaian.

    “Tak salah lagi, itu pasti Pasar Turi”, aku mulai membuat konklusi.

    Aku semakin bersemangat, langkah kakiku semakin cepat demi menggapai keramaian itu sesegera mungkin. Dan aku pun tiba dan tanpa ragu mulai bergabung dengan keramaian.

    Satu hal utama yang menjadi kekagumanku pada pasar Turi ini adalah hampir semua warga yang terlibat dalam kegiatan jual beli serta kegiatan derivate lainnya adalah warga keturunan Tionghoa. Hal ini membuatku menahan senyum dalam hati.

    “Serasa belanja di Tiongkok, euy….”, aku tersenyum penuh bahagia karena mendapatkan pengalaman berharga ini.

    Aku mulai melihat aktivitas warga lokal lebih dekat. Langkah pertamaku di Pasar Turi adalah merapat ke sebuah kios ikan laut dan mengamati aktivitas tawar menawar warga. Setelahnya aku beranjak dan berpindah-pindah ke kios lain dengan sangat hati-hati, karena gang pasar yang sempit itu digunakan secara bersamaan untuk jalur pengunjung pasar yang berjalan kaki, bersepeda motor, bersepeda ontel ataupun dengan becak. Jalur itu tentu semakin sempit karena tak sedikit lapak-lapak pedagang yang mengambil beberapa bagian sisi jalan.

    Satu persatu aku mengunjungi kios bumbu dapur, rempah-rempah, sayuran, daging, buah-buahan ataupun kios jajanan pasar. Lokasi pasar itu tampak memanjang di Jalan Pasar Turi dan Jalan Kurau hingga bantaran Sungai Singkawang.

    Sementara di sebelah timur pasar tampak berdiri bangunan milik Badan Pemadam Kebakaran Swasta yang memiliki beberapa mobil pemadam berwarna kuning.

    Senang rasanya bisa berbaur dengan warga lokal di Pasar Turi.

    Sungguh pagi yang membahagiakan pada eksplorasi hari keduaku di Singkawang.

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Previous Story

    Goodbye Domes Mosque, a mosque full of history in Old Doha area.

    Leaving Old Doha Mosque.

    I said “wadaa’aan” from its back door on the edge of Al Jabr Street. Stepping a narrow alley bordered by a smooth wall on left and a rough wall on right. Now, it was time to find a diner to brakes my stomach protests.

    Yes…I quickly found it. No more time to compare with better one. Between hunger or worry about being cutted my exploration time, I finally decided to go in and sat down. Obviously I realized, this was an Indian restaurant, it was clear from food composition display, as well as the look of the seller.

    “Karak, rice and chicken fry, each one portion”, I said spilling all rote in my head. Chicen fry was my favorite meal since entering Dubai eight days earlier. Indians were kind, every time I asked for a chicken fry they would give two pieces of curry-flavored dry fried chicken. So when I was in Bahrain, I asked for a half so that they only served a piece of chicken.

    Apparently this habbit wasn’t same with in Doha, they didn’t know the term half portion. He took a pair of thighs with a smile, he felt that my request was strange.

    My order was being prepared by the seller.
    11 Riyal, a serving but i ate for two meals….
    Making two parts before eating, a part for dinner…. Hahaha.

    A full stomach made me ready to heading to Souq Waqif, the oldest market in all of Qatar. It would be a memorable experience for sure. It was just that, before I arrived at Souq Waqif, I was fascinated by the existence of a seven-story shopping center.

    “City Souq”, my inner mouth read a large signboard in the middle of building. “Oh, this looks like a modern mall in Old Doha area”, I thought. There was nothing wrong with entering even if it was only for several minutes.

    Mall area of ​​half a hectare.

    Entering through door number one of four available doors, I was immediately confronted by stalls selling bags, shoes, clothes, fabrics, abaya accessories and perfumes. I myself never knew category prices….expensive or cheap?, because I only had a transaction, which was when I bought a fridge magnet for 12 Riyal at this shopping center.

    Bag and shoe shop.
    Perfume and eyewear shop.
    T-shirt and pants shop.
    Sewing supplies shop.

    It didn’t take long to exploring around City Souq, and in an instant I was leaving through door number four.

    My choiced door to leaving City Souq.

    City Souq itself is right at the corner of an intersection with the eastern boundary is Al Bareed Street, the south ones is Al Tarbiya Street, the north ones is Central Municipal Council and is closed by Al Fanar Mosque in the west ones.

    Central Municipal Council, an independent entity whose aim is to serve the state and people of Qatar.

    Come on, don’t wait too long, let’s get closer to Souq Waqif.

    Next Story—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Loji Gandrung.

    Pernah berkunjung ke Istana Merdeka?. Atau berkunjung ke Balai Kota DKI Jakarta?. Ya, kedua tempat penting di Jakarta itu sering menawarkan wisata berkunjung.

    Nah, bagaimana dengan Kota Solo?.

    Yupsz, kota Solo juga memiliki wisata serupa. Tempat yang menjadi pusat perhatian untuk wisata sejenis adalah Loji Gandrung, rumah Dinas Walikota Solo yang terletak di sisi selatan Jalan Slamet Riyadi.

    Malam semakin melaju, waktu hampir menyentuh jam sembilan malam ketika aku selesai merancang sebuah teaser Marketing Conference. Beruntung aku mendapat bantuan dari staff design di Jakarta. Aku juga sudah mem-blast teaser itu ke nomor Whatsapp dan email para calon peserta Marketing Conference.

    Kini aku berfikir kembali tentang destinasi berikutnya. Tugasku kali ini adalah memilih beberapa destinasi yang berada di sepanjang jalur Kereta Wisata Jaladara yang akan disewa untuk berkeliling Kota Solo di hari kedua Marketing Conference. Maka di waktu tersisa sebelum semakin larut, aku akan mensurvey setidaknya tiga tempat wisata yang letaknya berdekatan saja.

    Aku segera memesan taksi online, lalu meluncur ke pusat Kota Solo. Aku bergerak ke selatan sejauh lima kilometer daerah Manahan menuju daerah Laweyan.

    Loji Gandrung ya, Mas!”, pintaku pada pengemudi taksi online.

    Wah sudah tutup, Mas

    Oh tidak apa-apa, Mas. Saya cuma ingin mencari informasi saja disana”.

    Oh baik Mas. Loji Gandrung memang populer di Kota Solo, Mas. Dahulu, Presiden Soekarno sering singgah di Loji Gandrung ketika berkunjung ke Kota Solo”.

    Wah keren ya ,Mas”, aku mulai tertegun dengan ucapan pengemudi muda itu.

    Topik percakapan kami berkembang ke beberapa hal, hingga pengemudi itu menginjak rem tepat di seberang gerbang Loji Gandrung.

    Gerbang Loji Gandrung.

    Tanpa ragu, aku memasuki gerbang. Rupanya sedang berlangsung renovasi di halaman depan Loji Gandrung. Aku cuma melihat ujung teratas sebuah patung perunggu yang tertutup rapat oleh deretan papan proyek. Kedatanganku membuat seorang security keluar dari pos dan dengan sigap mengarahkan langkah menujuku.

    Ada perlu apa, Mas?. Maaf ini bangunan pemerintah kota. Dilarang sembarangan memasuki halaman”, tegurnya.

    Oh maaf, Pak. Saya hanya ingin mencari informasi

    Informasi apa , Mas?

    Pak, kami akan menyewa Kereta Jaladara dan bermaksud menjadikan tempat ini sebagai tempat tujuan wisata di rute kereta tersebut. Apakah saya boleh tahu prosedurnya, supaya saya bersama para peserta acara bisa mengunjungi tempat bersejarah ini, Pak?

    Wah perizinannya sedikit ketat, Mas karena sedang direnovasi. Tetapi Mas boleh mengajukan permohonan resmi ditujukan ke Kepala Bagian Rumah Tangga Rumah Dinas. Mudah-mudahan pada tangga acara bisa diizinkan masuk”.

    Oh baik, Pak. Saya berharap demikian”.

    Aku memperhatikan sekitar. Bangunan Loji Gandrung ini berarsitektur sangat klasik. Ada perpaduan antara arsitektur Eropa dan Jawa. Tembok tebalnya khas Eropa ditutup dengan atap khas Jawa. Halaman depan dan belakang bangunan itu begitu luas dengan beberapa pepohonan.

    Aku sadar bahwa yang berada di depanku adalah bangunan pemerintah dan aku tidak bisa berlama-lama di tempat itu. Aku harus segera undur diri dan berempati kepada security dengan tidak menggangu kenyamanan tempat itu.

    Sebelum aku melangkah keluar dari halaman Loji Gandrung. Aku masih tergelitik dengan misteri proyek di sekitar halaman. Akhirnya kuberanikan diri untuk bertanya kepada securiry.

    Pak, patung yang terhalang oleh papan proyek itu patung siapa?”.

    Oh, itu patung Jenderal Gatot Subroto, Mas”.

    Aku mengucapkan terima kasih kepada secutiry karena dia telah menerimaku dengan baik walau hanya berbincang tak lebih dari lima belas menit saja.

    Kenapa harus patung Jenderal Gatot Subroto?……..

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Previous Story

    I heard a faint sound of adzan calling me while I was walking around Souq Faleh. That was a moment that I’ve been waiting for. My imagination of praying in congregation with Qataris for the first time would come true soon. For that reason, I rushed down stairs to first floor and immediately left this modest shopping center. Goodbye Souq Faleh

    A last photo before leaving an Abaya sales center.

    Located 200 meters to southeast, it didn’t make me worry that Iqomah will overtake me. I slowly but surely treaded Al Ahmed Street, a one-lane two-way street with a parking lot lane to north.

    Five minutes later I arrived. There were no signboards except for a light brown board with the lightning logo titled KAHRAMAA….Oh, that must be Qatar’s state electricity company. Very predictable.

    Front gate.

    The old mosque building looked more like a fort than a worship place. It was difficult to tell whether it was brown with faded white or white with brown plaque. But this combination gave it a classic and aged feel.

    I slowly step in a short stairs in front of entrance gate and a moment later was greeted by mosque’s courtyard which was beyond my expectations, it wasn’t covered in luxurious ceramics, but left authentically covered with white desert sand.

    Sandy yard.

    The main building of mosque was to right of entrance gate, while a single minaret was to left, which combined with a room that didn’t know what its function. The main building itself had forty-four domes in an arrangement of eleven columns and four rows.

    Domes Mosque’s single minaret with a room.

    I kept looking for ablution room, I looked on every side of main court and never found it. I tried to wait for arrival of another congregation and follow him, because I believed that the first place he would look for was a place for ablution. It turned out that the ablution room was in the west of the building, hidden behind. Meanwhile, in the front left corner of courtyard, was a house of mosque’s imam (leader).

    Ablution room.
    Al Imam House.

    Now I entered the main part of mosque to pray Dzuhur, along the entrance side of main building was made from clear glass so as to made the whole mosque visible from courtyard. The mosque, which was believed to have originated in the Middle Ages, was supported by 60 giant pillars. This shows the robustness of Domes Mosque.

    The main pillars.

    When viewed from above, Domes Mosque had a Letter-L shape with an area of ​​about one and a half hectares. Built on Old Doha area with Al Ahmad Street in the north, Al Jabr Street in the east, while the west and south sides were directly adjacent to Doha Metro Souq Waqif Station.

    The room itself was quite neatly arranged with a green carpet with Air Conditioner. The Domes Mosque also implied the strength of Qatar by decorating the spearheads in each dome.

    After Dzuhur congregational prayer was over, I finally exited from back door on Al Jabr Street side.

    Then, I struggled a bit by walking to find a cheap but decent restaurant for lunch.

    I found a small typical Indian restaurant, similar to “warteg (warung tegal)” in Indonesia. I ordered a portion of Indian style’s rice and chicken fry.

    Restaurant or stall?

    Next Story—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Kuserahkan Rp. 134.000 kepada resepsionis laki-laki yang bertugas di Hotel Sahabat Baru sebagai biaya menginapku semalam saja. Setelah diberikan sebuah kunci, maka aku keluar dari lobby dan melintasi halaman hotel yang berbentuk letter-u tersebut. Masuk di gedung seberang, aku berusaha tampak santai ketika melewati dua orang waria yang duduk di bangku panjang di pangkal koridor hotel.

    “Astagfirullah….”, aku hanya menunduk dan tak menghiraukan keduanya untuk segera menggapai kamar bernomor pintu 9.

    Khawatir tersalip gulita, aku segera mengambil kamera dan tanpa duduk sebentar pun, mulai melangkahkan kaki meninggalkan hotel. Menyusuri Jalan Pasar Turi yang termakan gelap, aku terus berjibaku melawan ragu untuk memulai eksplorasi di malam hari nan sepi.

    Melintasi Vihara Setya Bumi Raya yang memendarkan cahaya merah dan menerangi jalanan yang kulewati membuatku semakin percaya diri melewati ruas demi ruas jalan di sekitarnya.

    Kini aku sudah berganti ruas di Jalan Kurau yang kembali gelap, melintasi Sungai Singkawang dan tiba di Pasar Beringin. Langkahku dikejutkan dengan sebuah tarikan tangan dari sebelah kanan. Tak salah lagi, suara Pekerja Seks Komersial  itu sangat memohon kepadaku. Aku berusaha meminta maaf sehalus mungkin dan mulai menarik lengan dari cengkeraman lembutnya. “Maaf, saya sedang buru-buru….”, aku berusaha cepat meninggalkannya.

    Hhmmhh, ada-ada saja….

    Hatiku sedikit lega, ketika aku mulai menemukan keramaian di Jalan Setia Budi. Gerobak-gerobak food street berjajar rapi di sepanjangnya. Motor dan mobil banyak terparkir di sisi jalan sebagai pertanda bahwa warga lokal sedang menikmati sajian kuliner di sepanjang jalan yang masuk ke dalam aera Condong.

    Vihara Setya Bumi Raya dekat penginapan.
    Keramaian di Jalan Setia Budi.

    Aku yang masih kenyang seusai memakan seporsi bakso dan nasi putih di Pondok Mutiara saat menempuh perjalanan Pontianak – Singkawang beberapa jam sebelumnya hanya berjalan pelan menikmati suasana nan ramai itu. Aku semakin betah saja karena  paparan asap dari gerobak-gerobak kuliner itu begitu memanjakan indra penciumanku dan siapa saja yang melewatinya.

    Setiba di ujung jalan yang terputus sebagai sebuah pertigaan, aku melangkah mendekati sebuah spot di ujung kanan yang tampak dipenuhi khalayak. Tentu aku tahu tentang spot itu dan memang menjadi tujuanku melangkahkan kaki malam itu.

    Adalah Vihara Tri Dharma Bumi Raya yang telah sekian lama menjadi ikon penting Singkawang yang berjuluk “Kota Seribu Kelenteng”. Menjadi tempat peribadatan umat Tri Dharma (Buddha, Tao dan Konghucu) tertua di kota tersebut, konon kelenteng yang hampir berusia satu setengah abad itu pernah menjadi tempat peristirahatan warga Tionghoa yang akan menambang emas di daerah Baengkayang.

    Keindahan vihara ini terasa semakin paripurna karena keberadaan Pasar Hongkong yang terletak tepat di sebelah timurnya. Gerbang besar pasar kuliner malam itu hanya dipisahkan oleh aliran Sungai Singkawang dari lokasi vihara berdiri.

    Menyusuri kawasan Pasar Hongkong, aku sendiri hanya menikmati keriuhan warga lokal dan pendatang dalam menjajakan uangnya demi mendapatkan porsi-porsi kuliner kesukaan mereka masing-masing.

    Tak hanya menikmati sajian kuliner jalanan, beberapa anak muda juga tampak asyik menikmati malam di Kopi Tiam Rusen yang tampak mencolok berdiri di tepian Jalan Niaga.

    Satu jam berada di Pasar Hongkong menjadi waktu yang serasa bergulir cepat. Di kala mata belum puas mengagumi keramaian dan aroma harum kawasan kuliner itu, aku harus  segera meninggalkannya karena aku masih menyimpan rasa khawatir untuk melintasi jalan pulang yang tentunya akan semakin sunyi seiring dengan semakin beranjaknya malam.

    Vihara Tri Dharma Bumi Raya.
    Gerbang menuju Pasar Hongkong.
    Kopi Tiam Rusen yang ramai pengunjung.

    Akhirnya aku memutuskan berjalan kaki kembali menuju Hotel Sahabat Baru yang berjarak satu setengah kilometer dari Pasar Hongkong.

    Untuk mengurangi resiko, aku mengambil jalan yang berbeda dengan jalan saat berangkat. Lebih jauh jalurnya, tapi kurasa itu akan lebih aman karena jalan yang kulewati adalah jalan besar nan terang benderang.

    Melintasi Jalan Niaga, aku terus menatap keberadaan Tugu Naga Emas di perempatan sana.

    “Itulah perempatan dimana aku harus berbelok ke kiri menuju penginapan”, aku mulai menetapkan jalur.

    Dari tugu itu, aku menyusuri Jalan Kepol Mahmud yang akan tersambung dengan Jalan Pasar Turi, ruas jalan dimana penginapanku berada.

    Tugu Naga Emas di sebuah perempatan kawasan pertokoan Jalan Niaga.
    Jalan GM Situt, penghubung Jalan Kepol Mahmud dan Jalan Pasar Turi.

    Aku tiba tanpa kurang satu apapun dalam dua puluh menit dan memutuskan untuk segera berbasuh dan beristirahat setelahnya.

    Selamat malam Singkawang.

    Kisah Selanjutnya—->