• <—-Kisah Sebelumnya

    Hujan usai, gerimis pun tak bersisa. Jalanan masih basah, tapi di beberapa ruas sudah tampak mengering karena dilewati lalu lalang kendaraan.

    Aku menengok ke sekitar usai berpaling dari kokohnya Bab Al Bahrain, sebuah pintu gerbang kerajaan di masa lalu.

    Ternyata sisi timur lebih menarik minat hati. Aku menatap lekat-lekat arah itu. Tinggi rendah bentukan pencakar langit menjadi latar pandang hingga di ujung sana. Namun bangunan NBB Tower dengan lengkungan hijau dan kelir emas tampak mendominasi karena tepat berada di depan mata, tak jauh dari pandangan.

    Jalan itu adalah jalan protokol dengan nama Government Avenue, jalanan selebar tiga puluh meter dengan dua arah arus.

    Melangkah di pangkal ruas, aku tepat berada di seberang Amakin Building, gedung bertingkat seluas setengah hektar milik Bahrain Car Parks Company. Sementara Canon EOS M10 yang menjadi teman tunggalku dalam berpetualang mengarah kesana kemari mengikuti indahnya panorama kota.

    “Haloooo…..Haiiiiii…..Halooooo”, aku tetiba mendengar suara itu dari atas.

    Dua pemuda tampak berada di lantai teratas gedung parkir, melambaikan tangan dengan batang rokok di selipan tangan mereka masing-masing.

    Mungkin mereka para driver yang menunggu tuannya”, aku membatin

    Sontak aku mengarahkan kamera ke arah mereka dan mengabadikan lambaian tangan mereka.

    Hoolaaaaaa….” Aku melambaikan tanganku

    Mereka tersenyum dan mengacungkan jempol.

    Sebuah intermezo yang menyenangkan tentunya.

    Government Avenue.
    NBB Tower (kiri).
    BKK Main Branch (tengah).
    Persilangan Palace Avenue dan Government Avenue.

    Aku melanjutkan langkah, semakin ke timur. Menyusuri Government Avenue hingga tiba di perempatan jalan yang dipotong oleh Isa Al Kabeer Avenue yang tak kalah lebar membentang dari utara ke selatan. Tampak BBK Main Branch berdiri megah di salah satu sisinya.

    Tapi bukan gedung itu yang kemudian mencuri segenap perhatianku.

    Gedung kembar dengan triple skybridge di tengahnya, berpadu warna biru dan hijau, bertengger megah dari kejauhan.

    Aku bergegas melangkah ke utara untuk mendekatinya, Aku terpaksa harus menghabiskan ruas Isa Al Kabeer di sisi terutara hingga tiba tepat di sisi selatan King Faisal Highway, ruasan panjang jalan tol yang apabila ditelusuri terus ke barat maka akan melintasi Teluk Bahrain dan akhirnya akan tiba di Khobar, salah satu distrik di wilayah negara Saudi Arabia.

    Kembali di salah satu sisi selatan King Faisal Highway dimana aku berdiri. Tampak jelas bangunan teranggun di Distrik Manama Center, apalagi kalau bukan Bahrain World Trade Center yang lancip menjulang ke arah langit….Sangat indah.

    Bahrain World Trade Center.
    Triple skybridge yang mengagumkan.
    Anggun kan?….

    Akhirnya aku terhenti di bawahnya, terpukau cukup lama dan terlarut dalam menikmati rupa indah arsitekturnya….

    Untuk beberapa waktu, aku malas beranjak daripadanya….

    Biarkan aku menikmati sejenak keelokannya.

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Aku menuruni Lantai 2 Souq Bab Al Bahrain: The Mall melalui escalator sisi selatan, untuk kemudian keluar melalui sisi timur Naseef Restaurant, kontan bau harum dari beragam menu yang dihidangkan di meja-meja makannya  menusuk hidungku dan bahkan mencemari seluruh isi ruangan Lantai 1, membuat ruangan Lantai 1 mengharum, lalu secara otomatis membangkitkan rasa lapar dalam perut sebeum aku benar-benar keluar dari pusat perbelanjaan itu.

    Sudah lewat dari jam sebelas siang”, aku membatin, “Pantas perutku mulai keroncongan”.

    Tetapi aku berjuang melupakan rasa lapar itu. Aku memilih untuk lebih cepat berada di jalanan kembali.

    Menapaklah kaki di salah satu ruas Bab Al Bahrain Avenue. Jalan yang kulewati itu berada di antara bangunan mall di sisi barat dan deret pertokan sisi timur yang menawarkan sembarang jenis kebutuhan  kepada para pengunjung.

    Akhirnya aku merelakan diri untuk mengulang kembali perjalanan di salah satu koridor Souq Bab Al Bahrain. Karena langkah itu hanya langkah ulangan di Souq Bab Al Bahrain sejam lalu, maka aku tak begitu memperhatikan barang-barang dagangan di sepanjang pasar tua tersebut.

    Aku terus berfokus melangkah menuju utara….

    Hingga akhirnya aku tiba di sebuah gerbang kota nan besar, megah, juga elegan. Aku lantas mendekat tepat di bawah gerbang. Mencoba untuk mencari berbagai informasi yang bisa menjelaskan “gerbang apakah itu?

    Ternyata gerbang besar dua lantai itu minim sekali memberikanku informasi. Aku hanya melihat sebuah angka tahun dalam Bahasa Latin dan sebuang angka tahun dalam Bahasa Arab yang membuatku paham bahwa gerbang kota itu telah berusia 73 tahun.

    Memiliki struktur bangunan dengan luasan tak kurang dari seribu meter persegi, gerbang kota itu terletak persis berada di tepian Government Avenue. Gagah bersemat lambang negara berlapiskan emas tepat di sisi tengah atas gerbang.

    Bab Al Bahrain sendiri secara geografis terletak di tepian pantai utara Bahrain, benar-benar tepat di kawasan pusat bisnis Kota Manama. Gerbang inilah yang mewakili pintu masuk kejayaan kerajaan di masa lalu.

    Bab Al Bahrain Avenue.
    Bab Al Bahrain sisi dalam.
    Bab Al Bahrain sisi luar.
    Me!
    Goverment Avenue di sekitar Bab Al Bahrain.

    Gerbang kota itu sungguh menjadi pusat perhatian setiap  wisatawan yang melintas di sekitarnya. Aku yang merasa kesulitan untuk mengambil swafoto berlatarkan gagahnya gerbang itu akhirnya menyerah. Aku memutuskan menunggu pelancong lain yang datang demi mengambil foto untuk kemudian meminta bantuannya untuk mengambilkanku foto diri. Strategi itu akhirnya berhasil setelah seorang wisatawan wanita berkebangsaan Belanda sudi memfoto diriku di depan gerbang kota tersebut.

    Seusainya, aku berusaha menaiki salah satu tangga menuju ke Lantai 2. Aku berusaha menemukan informasi lain yang mungkin masih tersembunyi dan belum kuketahui.

    Benar saja, di Lantai 2 aku menemukan sebuah foto terpajang di salah satu sisi dinding. Tampak sebuah foto lama yang memperlihatkan seorang polisi sedang mengatur lalu lintas di Isa Al Kabeer Avenue. Sebuah foto yang menandai akhir eksplorasiku di Bab Al Bahrain.

    Aku mulai melangkah pergi menuju ke utara yang tampak jelas bahwa sebuah jalan besar akan menghadang langkah…..Ya, itu adalah bentangan King Faisal Highway…..

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Butir-butir gerimis masih sesekali jatuh dari langit. Aku membiarkan rambut yang semakin membasah ketika kebanyakan warga lokal menutup kepalanya dengan apa saja atau bahkan beberapa diantaranya membentangkan payung di gang-gang sempit di wilayah Al Hadrami.

    Menyusuri beberapa blok melalui jalan yang basah maka dengan sendirinya aku tiba di sebuah pasar tua, mungkin salah satu tempat perniagaan yang melegenda di Manama.

    Pajangan rapi warna-warni lampu kaca khas Turki dan lembaran-lembaran karpet sutra rajut asli Kashmir hingga karpet tenun khas Iran terhampar di lapak-lapak tradisional pasar tua itu, kondisi itu tentu memberikan paparan seni di setiap tatapan mata pengunjung. Sedangkan aroma rempah-rempah membuat para pengunjung merasa betah berada di pasar tua itu.

    Sementara itu, identitas Bahrain tertampil jelas di sepanjang pasar dengan bentangan panjang bendera-bendera kecil Bahrain yang tergantung di bentangan tali kenur yang memenuhi langit-langit gang.

    Aku tertegun di beberapa kios demi mengamati beberapa aktivitas perniagaan. Selanjutnya, untuk membunuh rasa penasaran maka aku memutuskan untuk mengelilingi segenap sudut pasar….Mengasyikan.

    Usai memutar 360 derajat, maka tibalah diriku di sebuah bangunan memanjang yang berada tepat di sisi selatan pasar tua itu

    Souq Bab Al Bahrain: The Mall”, begitulah aku membaca nama bangunan itu.

    Ternyata Souq Bab Al Bahrain memiliki wujud mall nya“, aku membatin.

    Tanpa pikir panjang aku pun bergegas melangkahkan kaki demi melihat bagian dalamnya.

    Memasuki pintu masuk mall, aku disambut dengan keramaian sebuah restoran yang keberadaannya menempati hampir sebagian besar ruangan lantai 1. Naseef Restaurant adalah nama tempat makan itu. Tampak sebaran foto Karak Tea Wajabati di segenap pojok restoran, menunjukkan bahwa minuman itu menjadi salah satu menu pavorit restoran. Es krim Safron juga tampak tersaji di meja-meja makan yang diduduki pengunjung restoran.

    Sebuah keputusan strategis si pemilik restoran untuk membuka restoran di mall ini, tentunya para pengunjung Souq Bab Al Bahrain akan mampir menikmati menu lezatnya usai lelah berkeliling pasar demi berbelanja“, aku tersenyum memikirkan pernyataanku sendiri.

    Selebihnya, sisa ruangan mall lantai 1 tampak diakuisisi oleh toko perhiasan, toko parfum dan beberapa jenis toko lain. Beberapa toko besar di lantai 1 itu bertajuk Munawar Jewellery dan Asgharali Perfume.

    Souq Bab Al Bahrain.
    Lampu kaca khas Turki.
    Toko souvenir.
    Lantai 1 Souq Bab Al Bahrain: Mall.
    Naseef Restaurant.
    Lantai 2 Souq Bab Al Bahrain: The Mall.


    Tak berdaya dengan keberadaanku sendiri di lantai 1 karena tak mampu membeli apapun, aku bergegas meninggalkan lantai itu melalui escalator.

    Escalator membawaku menuju ke lantai 2. Lantai atas mall itu lebih didominasi dengan deretan outlet yang menjual pakaian khas Timur Tengah, karpet dengan corak khas Arab, furniture dengan design khas, serta barang-barang antik yang mengkilat penampakannya.

    Luasan mall yang tak seberapa, membuatku bisa dengan cepat menyusuri segenap sisi mall tersebut.

    Oleh karenanya, tanpa berlama-lama, maka aku memutuskan untuk turun dan melanjutkan petualangan…..

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Kisah Sebelumya

    Melenggang dan melintas di depan Masjid Al Khawaja, aku mempercepat langkah karena gerimis mulai jatuh dengan intens, rintikannya menyertai setiap langkah kaki yang kuayunkan di sepanjang Bab Al Bahrain Avenue.

    Aku terus melirik ke setiap sudut, mensimulasi jika hujan benar-benar tumpah. Mataku awas menatap setiap emperan pertokoan yang memungkinkan bagiku untuk berteduh ketika itu terjadi.

    Benar saja, tak berselang lama usai berpikir demikan.

    Byurrrr……

    Hujan tumpah dari langit dengan derasnya. Aku yang sudah mengantisipasi kemungkinan tersebut dengan cepat merapat ke sebuah halaman toko baju yang berdinding kaca di bagian depannya. Aku hanya sesekali berusaha menghindari tampias air hujan yang terbang terbawa angin dan menimpa segenap pakaianku.

    Setengah jam lamanya aku menunggu di emperan toko itu, sesekali para penjaga toko melihat keberadaanku dari dalam ruangan. Tapi aku menghiraukan saja tatapan aneh mereka.

    Hujan akhirnya berhenti….

    Bajuku menjadi lembab seusainya, aku berusaha berdamai dengan keadaan itu. Aku pun melanjutkan langkah di tengah jalanan yang basah.

    Dari kejauhan dua opsir polisi mengamati kedatanganku. Keduanya tampak gagah berperawakan Arab, berseragam biru muda dan menenteng senapan laras panjang di lengannya.

    Aku berusaha bersikap normal di bawah tatapan keduanya, hingga kemudian langkahku benar-benar mendekatinya. Demi mencairkan suasana, aku menganggukkan kepala kepadanya sembari melempar senyuman.

    Bersyukurnya diriku, mereka menanggapinya dengan senyuman pula, menjadikan langkahku tak lagi canggung ketika mulai memasuki area baru….Al Hadrami.

    Al Hadrami adalah sebuah nama blok yang tentunya ditengarai dengan keberadaan Al Hadrami Avenue.

    Sebelum tiba di jalan iru, aku menyusuri ruas terakhir Bab Al Bahrain Avenue yang memiliki lebar kurang lebih enam meter dengan bangunan pertokoan nan rapat di kiri dan kanannya. Sepengamatanku, pertokoan itu menjajakan berbagai model sepatu dan beragam tekstil berikut jasa jahitnya.

    Bab Al Bahrain Avenue.
    Al Hadrami Avenue.
    Road 475.
    Road 435.

    Dari ruas itu, kemudian aku mengambil arah ke sebelah timur demi menggapai Al Hadrami Avenue.

    Aku mulai menelusuri jalanan basah yang lebih sempit dari ruas jalan sebelumnya. Tetapi setidaknya Al Hadrami Avenue tampak lebih ramah karena keramaian para pengunjung yang melintas di tengah-tengah hapitan pertokoan nan padat. Kali ini pertokoan di sekitar jalanan berubah bentuk dagangan. Aku dengan mudah menemukan toko mainan anak-anak, toko peralatan rumah tangga, money changer dengan brand Travelex, toko emas dan berlian serta beberapa toko lain yang tampaknya dimiliki oleh warga keturuan Bangladesh.

    Aku mulai memasuki percabangan-percabangan dari Al Hadrami Avenue. Kuperhatikan dengan seksama, jalan-jalan itu dinamai dengan tiga angka di setiap percabangannya.

    Masuklah aku di ruas Road 475….

    Jalanan itu tampak indah, pada langit-langit gang tak jarang ditemukan bentangan rapat bendera-bendera Bahrain berukuran kecil yang berjajar membentang di sepanjang tali yang dilintangkan antar sudut gang.

    Aku begitu menikmati suasana sejuk setelah hujan mengguyur area Al Hadrami. Hingga tak terasa langkah kakiku akhirnya mengantarkan diri di salah satu pasar tertua di Manama….Pasar itu bernama Souq Bab Al Bahrain.

    Ada apa saja di dalamnya, ya?….

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Keluar dari Bahrain Gold Souq aku kembali turun di jalanan Manama. Aku kembali berada di salah satu ruas Shaikh Abdulla Avenue.

    Tetiba langkahku terhenti, tatapanku terkesiap pada sebuah signboard yang membangkitkan rasa ingin tahu dalam diri. Signboard itu menunjuk pada sebuah venue sejarah yang bisa menghantarkan pelancong menuju kenangan Manama masa lampau. “Memory of Manama”, begitu bunyi signboard terebut.

    Tanpa pikir panjang aku mengikuti arah dari signboard tersebut. Kini aku berubah haluan ke selatan, menjauhi tujuan awalku yaitu Bab Al Bahrain. Aku masuk ke ruas Ammar bin Yasser Avenue. Nama Ammar bin Yasser pada jalan ini merujuk pada seorang sahabat Nabi Muhammad pada masa awal penyebaran Islam di Makkah.

    Tekun berjalan hingga lima blok jauhnya, aku menemukan “Memory of Manama” yang dimaksud. Venue itu adalah sebuah rumah tradisional yang bernama Khalaf House. Rumah tersebut memiliki bentuk yang klasik dibandingkan dengan bangunan-bangunan lain di sekitarnya.

    Di masa lalu, Khalaf House adalah milik seorang pedagang mutiara bernama Muhammad Salman Khalaf yang pada masanya berperan besar dalam mengembangkan perekonomian Bahrain.

    Rumah ini telah berusia 101 tahun. Merupakan landmark budaya yang dimiliki Bahrain setelah keluarga Khalaf menyerahkan rumah tersebut kepada pemerintah Bahrain.

    Dari informasi yang kudapat dari papan pengumuman sekitar, Khalaf House memiliki jam operasional dari Sabtu hingga Kamis dan menerima pengunjung dari pukul 8 pagi hingga pukul 7 sore.

    Saat ini rumah tersebut menjadi kantor cabang dari Shaikh Ebrahim Bin Mohammed Al Khalifa Centre for Culture & Research. Shaikh Ebrahim Bin Mohammed Al Khalifa sendiri adalah putra dari Raja Bahrain keempat. Peperangan yang menyisakan duka di keluarganya membuatnya tak memilih politik sebagai jalan hidup, melainkan menjadi ilmuwan dan sastrawan sebagai pilihan hidupnya.

    Tapi beribu sayang, venue wisata itu tertutup rapat pagi itu. Sedang ada proyek renovasi di dalamnya sehingga kondisi tersebut tak mengizinkan bagi turis untuk masuk ke dalamnya. Dari salah satu sisi rumah, aku berdiri dan memandang lekat-lekat rupa arsitektur tersebut.

    Rumah dengan ketebalan dinding yang tertampil di pandangan menunjukkan bahwa rumah asli masyarakat Manama ini dimiliki oleh seorang yang kaya. Pintu-pintu berukir khas dan deretan jendela kayu berkualitas semakin mengamini pradugaku itu.

    Sekilas rumah itu tampak eksklusif dengan serambi menjorok ke arah jalan di lantai keduanya. Bisa kubayangkan betapa prestisiusnya jika aku bisa menikmati senja di serambi itu sembari menyeruput secangkir kopi.

    Khalaf House.
    Serambi lantai 2.
    Tampak belakang.
    Zanjeel Al Haj Abbas.
    Al Khawaja Mosque (kiri).

    Tak mendapatkan banyak pemandangan lagi di sisi rumah itu, aku pergi. Aku melanjutkan perjalanan.

    Untuk kemudian, aku melintasi bangunan bartajuk Zanjeel Al Haj Abbas, sebuah bangunan religius dengan tujuh bendera perkumpulan berwarna merah hitam berkibar ringan di deretan tiang di salah satu sisi bangunan. Entah bangunan untuk apakah itu?, aku tak paham.

    Aku lalu bergerak ke arah barat untuk meninggalkannya, tujuanku adalah Bab Al Bahrain Avenue sisi selatan demi menuju landmark terkemuka Manama, apalagi kalau bukan Bab Al Bahrain.

    Dalam beberapa menit, aku tiba di Masjid Al Khawaja, sebuah tempat ibadah dengan warna dominan ungu. Tempat ibadah yang menjadi penanda bahwa aku telah tiba di jalanan utama yang kutuju.

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Menjelang pukul sembilan malam, aku memutuskan pulang ke penginapan setelah puas mengeksplorasi Andalus Garden. Kunjungan di taman kota itu menjadi pengalaman eksplorasi perdanaku di Bahrain. Sesuatu yang mengesankan karena aku baru tiba pada sore hari, tepatnya dua jam sebelum mengunjungi taman kota tersebut.

    Melangkahkan kaki di sepanjang Shaikh Isa Avenue menuju utara, dalam jarak kurang lebih tiga ratus meter, aku tiba di Plaza Hotel tempatku menginap.

    Aku memutuskan untuk secepatnya berbasuh di bawah air shower hangat, lalu beranjak tidur lebih cepat.

    Aku harus segera memulihkan stamina, masih ada petualangan panjang di beberapa hari ke depan”, aku membatin.

    Dengan cepatnya aku terlelap di atas ranjang. Itu semua karena Lelah badan usai menempuh perjalanan panjang dari Muscat sejak pagi hari hingga tiba di Manama pada kesorean harinya. Aku melewati malam perdanaku di Manama dengan terlelap sempurna.

    —-****—-

    Pagi telah tiba…..

    Aku terbangun tepat di saat kumandang adzan Subuh lirih terdengar dari balik jendela. Usai melaksanakan shalat, aku tak lagi tidur. Aku menyempatkan untuk mengisi daya baterai segenap peralatan elektronikku mulai dari baterai kamera, smartphone dan power bank.

    Menyelesaikan berbasuh, maka aku pun bersiap melakukan eksplorasi di hari keduaku di Manama. Aku memulainya dengan bersarapan di kedai makan kecil khas India yang sejak malam sebelumnya telah kuputuskan menjadi kedai makan langgananku selama di Manama. Hal itu tentu karena harga menunya yang bersahabat dengan kantongku sebagai seorang backpacker.

    Sarapan telah usai, untuk kemudian aku memutuskan menuju pusat kota. Kali ini aku menetapkan Bab Al Bahrain sebagai destinasi berikutnya yang akan kukunjungi.

    Jaraknya yang tak jauh dari hotel, membuatku untuk memutuskan berjalan kaki saja menujunya.

    Paling tidak aku membutuhkan waktu 30 menit berjalan kaki untuk tiba di tujuan”, aku bergumam.

    Bergeraklah aku menuju utara melalui Shaikh Isa Avenue. Jalanan pagi itu masih lengang, sesekali titik air hujan jatuh dari langit, menandakan langit Bahrain berpeluang menumpahkan air hujan kapanpun sesukanya.

    Tiba di Shaikh Abdulla Avenue, aku memutuskan menuju barat. Konsistensi langkah, akhirnya mengantarkanku untuk tiba di sebuah perempatan dimana Bab Al Bahrain Avenue berada.

    Tetiba pandanganku tertuju pada sebuah bangunan unik di perempatan tersebut. Banyak pengunjung berlalu lalang dari pintu utama di lantai pertamanya.

    Bahrain Gold Souq”, aku melihat sebuah nameboard yang terpampang di sisi atas gerbang utama bangunan itu.

    Oh, pasar emas”, aku menyimpulkan.

    Bab Al Bahrain Avenue.
    Bahrain Gold Souq tampak depan.
    Lantai Ground tampak dari Lantai 1.
    Etalase toko emas di dalamnya.
    Cari berlian juga ada kok….

    Pasar emas itu bernama Bahrain Gold Souq. Aku akhirnya masuk ke dalamnya juga. Ketika berada di salah satu escalator, aku bisa mengamati bahwa BahrainGold Souq memiliki tiga lantai. Deretan bendera Bahrain tampak menjadi penghias langit-langit pasar.

    Beberapa kios emas di setiap lantai tampak memamerkan koleksi yang membuat etalase toko menjadi kelihatan elegan. Sedangkan sebuah tempat penukaran uang berada di sis barat pasar. Adalah Travelex yang menjadi tempat penukaran uang ternama di pasar emas tersebut.

    Sayangnya bangunan seluas 300 meter persegi itu tidak memiliki tempat parkir, sehingga mengurangi nilai strategis dari pasar emas tersebut. Tentu pengunjung akan sedikit kerepotan jika ingin berbelanja emas karena akan berjibaku untuk memarkir kendaraannya.

    Aku hanya meluangkan waktu tak lebih dari satu jam untuk menikmati perniagaan di pasar emas tersebut, untuk kemudian aku bersiap melanjutkan perjalanan ke Bab Al Bahrain.

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Usai menikmati santap malam di sebuah kedai makan kecil yang menjual makanan khas India, alih-alih pulang ke penginapan, aku justru melangkahkan kaki untuk mengeksplorasi area di sekitar Distrik Qudaibiya.

    Dalam gelap aku melangkah ke selatan, blok demi blok aku lewati dengan sedikit perasaan was-was, mengingat suasana di jalanan tampak sepi.

    Kecepatan langkah membuatku tak terasa bahwa sudah empat blok jauhnya aku berjalan, selanjutnya tibalah aku di sebuah pertigaan. Tanpa berpikir panjang aku berbelok ke arah timur dan mulai menapaki Khalid bin Waleed Avenue.

    Khalid bin Waleed Avenue tampak lebih ramai dari jalanan sebelumnya. Mulai tampak kehadiran kendaraan pribadi yang berlalu-lalang di sepanjang jalan. Beberapa warga lokal juga tampak berjalan di sepanjang trotoar. Kondisi demikian yang membuat kekhawatiranku sirna seketika.

    Melangkah dengan nyaman, aku berganti arah ke selatan setelah melahap trotoar sepanjang 200 meter. Al Ma’arif Avenue menjadi ruas baru yang kususuri. Sama seperti Khalid bin Waleed Avenue, Al Ma’arif Avenue tampak hidup malam itu. Membuatku kian bersemangat melangkah demi menemukan keramaian warga lokal.

    Jalanan menuju Andalus Garden.
    Jogging track.
    Koridor tempat duduk pengunjung.
    Area teater.
    Bermain futsal.
    Area parkir.

    Tiga puluh menit sudah aku mengayunkan langkah semenjak keluar dari hotel hingga akhirnyab aku tiba di ujung timur sebuah taman kota nan luas dan penuh cahaya. Keramain warga lokal tercermin sebagai nadi kehidupan kota yang masih berdenyut malam itu. Andalus Garden adalah nama taman kota tersebut.

    Ini dia yang kucari dari tadi”, aku bergumam girang.

    Dalam sesaat, aku mulai memasuki taman.Mataku awas menatap sekitar. Dari panjang dan lebar yang kuamati, taman tersebut memiliki luasan tak kurang dari 3 hektar. Sedangkan secara tata letak, Andalus Garden diapit oleh tiga jalan besar yaitu Shaikh Isa Avenue di barat, Shaikh Daij Avenue di utara, dan Salmaniya Avenue di selatan.

    Cahaya tampak menerangi setiap penjuru taman, jogging track selebar tiga meter menjadi fasilitas dasar taman. Sementara itu tempat duduk beton berkanopi disusun berjejer membentuk sebuah koridor dan mengindikasikan bahwa taman tampak ramah terhadap pengunjung.

    Beberapa gazebo beton dibangun di beberapa sudut taman, dan area teater melingkar menjadi focal point dengan tempat duduk yang di desain ala dinding monumen. Malam itu area teater digunakan warga sebagai arena permainan bulu tangkis.

    Dan yang menjadi pusat keramaian taman adalah sebidang lapangan futsal berpagar yang tampak dipenuhi para pemuda untuk bermain sepak bola di dalamnya.

    Untuk beberapa saat aku bisa menikmati keberadaan ruang terbuka hijau tersebut dari sebuah tempat duduk. Aku merasakan sambutan hangat dari kota Manama di malam perdana kehadiranku. Tentu aku tak perlu khawatir jika aku pulang sedikit larut karena taman ini hanya berjarak tak lebih dari setengah kilometer dari penginapan yang kudiami.

    Pulang menuju penginapan.

    Selamat malam Manama !

    Selamat malam Bahrain !

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Seturun dari bus bandara bernomor A1, maka aku meninggalkan Halte Ministry of Education. Aku berbelok di sebuah pertigaan yang terbentuk karena persilangan Shaikh Isa Avenue dan Qudaibiya Avenue. Langkahku bersambung dengan menyusuri Qudaibiya Avenue. Pada saat itulah pandanganku mencari keberadaan minimarket. Kehausan yang kutahan semenjak berada di Sharjah-Uni Emirates Arab membuatku begitu berhasrat untuk berburu air mineral.

    Aku dengan mudah medapatkan Aroy Dee Minimarket. Tanpa ragu aku pun memasukinya demi membeli dua botol air mineral berukuran 1,5 liter dengan harga 200 Fils.

    Aquafina”, aku  membaca nama brand yang menempel di kemasan air mineral tersebut.

    Tak kuasa menahan haus, maka tanpa malu, aku menenggaknya di depan kasir wanita yang bertugas. Kasir itupun hanya bisa tersenyum menatap kelakuan kampunganku itu.

    Very very very thirsty….”, tak lupa aku membalas senyumnya untuk kemudian pergi meninggalkan minimarket tersebut.

    Langkah selanjutnya adalah menemukan hotel yang telah kupesan.

    Beruntung sekali aku menemukan hotel itu dalam jarak yang tak terlalu jauh. Dalam jarak tak lebih dari 100 meter maka aku menemukan Plaza Hotel yang akan menjadi tempat menginapku selama di Bahrain.

    Plaza Hotel merupakan penginapan yang kupesan melalui aplikasi e-commerce penginapan ternama sejak satu setengah bulan sebelum keberangkatan. Aku memesan sebuah kamar dengan durasi menginap tiga malam. Plaza Hotel menjadi salah satu hotel yang terletak di Distrik Qudaibiya

    Secara geografis, Plaza Hotel terletak di sisi selatan Qudaibiya Avenue dan terletak tak jauh dari Manama Cemetery, sebuah pemakaman umum dengan luasan tak kurang dari 16 hektar.

    Memasuki hotel maka kedatanganku disambut oleh seorang resepsionis berkebangsaan Philippina. Menunjukkan e-booking confirmation dan passport kepadanya, maka aku menunggu bukti pembayaran yang sedang dipersiapkan oleh staff wanita tersebut, mengingat jenis pemesanan kamar ini diarahkan oleh aplikasi untuk melunasi pembayaran di penginapan.

    Usai menunggu beberapa menit, akhirnya staff wanita itu angkat bicara.

    Sir, here’s your room bill for three nights. We have a policy that you can cancel your room for the third night with a full refund. And you can confirm on the second day for this policy. Thank you, Sir”, dia menyerahkan bukti pembayaran kepadaku dengan penuh senyum

    Ok, Ms. I think I will stay for three night”, aku merogoh travel walletku lalu menyerahkan uang senilai 31,5 Dinar kepadanya.

    Pintu depan Plaza Hotel.
    Lobby.
    Koridor kamar Lantai 3.
    Queen bed.
    AC jadoel.

    Usai menyelesaikan urusan administrasi maka aku melangkah menuju kamar. Tepat di ujung kiri ruangan, tersedia ruangan bermain bilyard di lantai pertama, tampak ruangan bilyard itu dijaga oleh wanita-wanita muda asal India, Kerala mungkin tebakanku. Hal itulah yang selalu mengurungkan niatku untuk masuk ke dalamnya selama menginap di hotel tersebut karena aku merasa kurang nyaman.

    Aku pun langsung menuju ke lantai 3 melalui lift demi menemukan keberadaanku kamarku yang bernomor 320. Tak susah, aku akhirnya mendapatkan kamar tersebut.

    Usai menemukan kamar maka tujuanku berikutnya adalah mencari tempat makan demi mendapatkan makan malam. Beruntung dengan mudah aku menemukan sebuah kedai makan milik pendatang asal Kerala, India.

    Malam itu, aku hanya memilih menu sederhana untuk makan malam….Yupz, dual lembar Parata seharga 100 Fils.

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Airport bus no A1.

    Setelah membeli beberapa kebutuhan penting seperti SIM card, mata uang lokal Dinar dan kartu transportasi umum GO card, maka aku pun menyempatkan diri sejenak untuk menuju halaman parkir bandara demi melihat bentuk utuh bandara kebanggaan Bahrain tersebut dari pelataran depannya.

    Ketika tiba di pertengahan lahan parkir….

    Aku berdiri di sisi selatan bangunan bandara, aku menghadapkan muka ke arah barat. Satu hal yang membuat damai dalam tatapan tersebut adalah siraman matahari senja yang membuat nuansa di depan bandara menjadi melankolis. Membuatku tak merasa jauh dari rumah.

    Spektrum sinar jingga itu menerobos di sela-sela padatnya kendaraan yang terparkir rapi di pelataran. Sedangkan sebaran tiang lampu menjulang seragam bak jari-jari senja yang bersiap menyambut gelap untuk unjuk diri.

    Menjelang pukul enam sore….

    Kuputuskan untuk meninggalkan halaman parkir bandara demi menuju halte airport bus. Aku berdiri di salah satu sisi platform dan telah menyiapkan mental untuk memasuki pusat kota.

    Lima belas menit lamanya aku menunggu kedatangan airport bus, membuat kaki terasa pegal berdiri terlalu lama menunggunya. Bersyukur sebelum hari beranjak terlalu gelap, bus tersebut menampakkan muka di ujung tikungan drop-off zone bandara. Aku menatapnya awas, mencari penanda bahwa bus yang baru saja datang itu adalah bus tepat yang akan kunaiki. Kulihat jelas, kode “A1” tampak berada di ujung kanan atas dashboard bus.

    Yes, itu bus yang sedang kutunggu”, aku membatin senang.

    Tak lama kemudian, bus itu merapat di halte dan berhenti tepat di depanku. Tanpa pikir panjang aku pun melompat melalui pintu depan. Men-tap GO card di sebuah fare machine terdekat dengan pengemudi, aku memperhatikan dengan seksama bahwa saldo GO card ku berkurang sebanyak 250 Fils.

    Tak lama menaikkan segenap penumpang, airport bus bernomor A1 mulai merangsek meninggalkan bandara melalui ruas Airport Avenue. Pada sisi ini, pemandangan awal kota mulai memapar pandangan. Pelita-pelita bumi mulai dinyalakan.

    Keelokan panorama kota semakin tampak memesona mata ketika bus menyusuri Shaikh Hamad Causeway. Melintasi jembatan Shaikh Hamad yang mengangkangi ceruk laut Khawr Al Qulay’ah, membuatku bisa menatap ke sejauh hamparan perairan ceruk yang di ujung utaranya memperlihatkan indahnya bangunan bercahaya The World Trade Center. Bangunan bak piramid terbelah itu memendarkan warna biru dan hijau secara bersamaan.

    Menyelesaikan etape di Jembatan Shaikh Hamad, bus mulai memasuki area lain perkotaan yang padat kembali. Semua area yang kulewati tampak sama seperti kota-kota besar lain di dunia yang pernah aku kunjungi.

    Secara keseluruhan bus yang kunaiki melalui 19 halte berbeda. Sedangkan aku hanya akan turun, jika bus telah mencapai halte Ministry of Education di pusat kota Manama.

    Berdasarkan informasi yang kuperoleh, Plaza Hotel tempatku menginap hanya berjarak 100 meter di timur halte tersebut. 

    Dalam satu jam perjalanan, akhirnya aku tiba di halte yang kusasar. Tak terasa aku telah menelusuri keindahan kota sepanjang 10 kilometer.

    Selamat datang Manama.

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Hampir pukul lima sore ketika Air Arabia G9 105 telah berhenti sempurna di salah satu sisi apron Bahrain International Airport.

    Sudah menjadi tabiat diri, aku selalu menjadi pribadi yang tak sabaran ketika telah tiba di tempat baru. Mungkin aku menjadi penumpang yang pertama kali bersiap untuk turun karena begitu pesawat berhenti, aku bergegas mengambil backpack dari bagasi atas, untuk kemudian kupanggul lalu mengambil posisi berdiri di depan barisan untuk keluar pertama kali dari kabin.

    Keluar dari pintu depan pesawat, langkahku diarahkan melalui aerobridge yang segenap dindingnya terbuat dari kaca bening. Seperti biasa, aku berhenti dan mengamati aktivitas di sekitar apron dari dinding kaca itu.

    Sejauh mata memandang, segenap sisi apron dipenuhi promotion wallpaper milik stc, sebuah perusahaan telekomunikasi terkemuka yang dimiliki oleh Saudi Telecom Company. Sementara itu, deretan baggage carts ditempatkan di beberapa titik apron. Tak ketinggalan pula baggage conveyor-belt truck yang tampak bersiap di sekitarnya.

    Aku berdiri terdiam untuk beberapa saat demi mengamati pemandangan di apron ketika para penumpang dengan langkah cepat meninggalkan aerobridge. Ketika penumpang terakhir melintas di belakangku maka kuputuskan untuk segera memasuki bangunan bandara.

    Berjalan melalui arrival hall dengan karpet abu-abu, aku bergegas menuju konter imigrasi.

    Menemukan konter itu dengan mudah, aku mulai mengantri dan pada gilirannya aku melangkah menghadap ke salah satu petugas.

    Begitu tiba di depannya, aku dengan inisiatif tinggi menyerahkan paspor, e-booking confirmation dari hotel yang akan kuinapi, lembaran e-Visa, e-ticket penerbangan Kuwait Airways untuk meninggalkan Bahrain menuju Kuwait dalam beberapa hari ke depan.

    Is this your first time in visiting Bahrain?”, tanyanya singkat

    Yes, Sir”, aku menjawab juga dengan singkat

    Your Hotel?

    Plaza Hotel, Sir

     “Oh….Where is it?

    Qudaibiya, Sir”, beruntung aku tahu distrik tempatku menginap.

    Oh, Okay…”, dia menutup percakapan sembari memberikan slip pembayaran e-Visa.

    Selepas menyelesaikan urusan imigrasi, aku menuju ke lantai bawah melalui escalator. Tujuan utamaku kali ini adalah mencari local SIM card untuk keperluan komunikasi selama berada di Bahrain. Tanpa berpikir panjang, aku memasuki stc outlet dan membeli Prepaid SIM Card berkuota 8 GB dengan harga 7 Dinar.

    Usai mendapatkan SIM Card, aku pun harus menyelesaikan urusan berikutnya. Aku beranjak menuju money changer outlet dan aku menemukan outlet milik Bahrain Financing Company (BFC) di sebuah koridor yang dijaga oleh staff pria berkebangsaan Philippina. Tanpa berpikir panjang, aku segera menukarkan 150 Dolar Amerika di outlet tersebut. Melalui transaksi itu maka aku bisa menggenggam 56 Dinar yang akan kugunakan sebagai bekal mengeksplorasi Bahrain dalam beberapa hari ke depan.

    Suasana apron Bahrain International Airport di sore hari.
    Arrival corridor.
    Air Arabia G9 105 yang kunaiki.
    Arrival hall.
    Bahrain International Airport tampak muka.
    Senja menyelimuti bandara sesaat sebelum kepergianku menuju pusat kota.

    Terakhir sebelum aku benar-benar meninggalkan bandara……

    Langkah terakhirku kutujukan demi mencari akses transportasi umum, tentunya itu adalah airport bus. Setelah mengeksplorasi lokasi di sekitar halte bus bandara, aku memahami bahwa diperlukan GO card untuk bisa menaiki bus umum di Bahrain. Dan di Bahrain International Airpot, GO card ini dijual melalui automatic vending machine yang letaknya berada di sebelum pintu keluar bangunan bandara.

    Aku memulai transaksi di mesin otomatis tersebut untuk kemudia berhasil mendapatkan sebuah Go Card beserta saldonya seharga 1 Dinar 350 Fils. Harga itu terdiri dari 750 Fils untuk harga kartunya, sedangkan 600 Fils untuk daily trip yang bisa digunakan selama 24 jam semenjak waktu pembelian.

    Sekiranya semuanya telah siap….

    Aku berdiri di halte, menunggu kedatangan airport bus menuju pusat kota.

    Kisah Selanjutnya—->