Category: Sumatra

  • Seketika aku tersadar bahwa aku belum menunaikan kewajiban Shalat Maghrib. Sementara waktu sudah menunjukkan pukul  19:10 dan suara shalawatan telah menghilang sejak tadi. Lalu waktu memaksaku untuk segera beranjak dari pelataran Plaza Bukittinggi. Menyusuri Jalan Cinduo Mato, aku sudah tak menemukan keramaian seperti yang kubayangkan. Sebagian besar ruko di kiri-kanan jalan sudah mulai menutup pintu.…

  • Pengemudi: “Don, turun di sini saja ya. Mobil mau ambil arah kanan, nanti tambah jauh”. Aku: “Oh Okay, Uda. Sini aja gapapa”. Diturunkan Annanta Travel di Jalan Veteran, aku sejenak duduk meregangkan kekakuan otot setelah duduk di jok belakang selama 8 jam.  Patung putih Tuanku Imam Bonjol diatas kudanya menjadi pemandangan pertama yang menjamu kedatanganku…

  • Berjalan kaki menyusuri Jalan Veteran, aku perlahan mendekati Hotel De Kock untuk melalukan check-in. Sejuk dan damai itulah gambaran awal di kepalaku mengenai Bukittinggi  ketika pertama kali tiba. 1. Jembatan Limpapeh Setengah perjalanan menuju penginapan, aku sudah terpesona dengan sebuah jembatan gantung. Adalah Jembatan Limpapeh yang membentang diatas Jalan Ahmad Yani. Didirikan pada tahun 1992…

  • <—-Kisah Sebelumnya Malam paripurna di Pekanbaru menjadi sesi nostalgia dalam aroma durian dan gurihnya seporsi Malon (Manuk Londo) yang tampak montok di atas piring. Inilah pertemuan yang sengaja kupersiapkan bersama seorang pengusaha durian yang entah berapa lama tak bersua, sebelum meninggalkan Pekanbaru esok hari. —-****—- Pagi menyambut bebarengan dengan kunyahan toast buatan Toko Roti Ganda…

  • <—-Kisah Sebelumnya Adalah Tugu Ikan Selais Tiga Sepadan, icon pertama yang kujumpai di Jalan Jenderal Sudirman. Tak lain disebabkan karena tugu inilah spot terdekat dengan RTH Putri Kaca Mayang. Penggambaran kerukunan masyarakat yang disimbokan pada keharmonisan pahatan tiga ekor Ikan Selais yang merupakan satwa endemik di Pekanbaru. Sebagaimana mestinya jalan protokol, maka Jalan Jenderal Sudirman…

  • <—-Kisah Sebelumnya Bundaran di tenggara Masjid Agung An-Nur itu berhiaskan tugu bambu runcing berwarna kuning berlatar Universitas Riau tepat sejejar dibelakangnya. Aku terus mengarahkan Canon EOS M10 ku ke arah tugu hingga pengemudi ojek online datang memanggilku. Sepertinya aku akan menghabiskan sore itu bersama warga lokal untuk menimati suasana kota di sebuah Ruang Terbuka Hijau…

  • <—-Kisah Sebelumnya Kusempatkan memejamkan mata sejenak begitu menyelesaikan proses check-in di Hotel Sri Indrayani. Semalam yang tak nyenyak di bangku tengah Bus INTRA, bersambung dengan empat jam berjalan kaki demi mengeksplorasi daerah Senapelan telah membuat otot betisku kelelahan dan mataku terasa berat. Smartphone yang masih mengisi ulang daya itu pun berteriak membangunkanku, tepat satu jam…

  • <—-Kisah Sebelumnya Satu perandaian yang tak pernah terwujud adalah memasuki Rumah Singgah Tuan Kadi. Ingin rasanya duduk menghampar di dalamnya dan menikmati untaian sejarah dalam bilik-bilik mungilnya. Secara bersamaan, keringat yang terus meleleh di pelipis mata, pelan tapi pasti meluruhkan setiap perandaian di kepalaku. Pintu-pintu rumah itu tertutup rapat seakan berkata kepadaku “Sudahlah pergi saja,…

  • <—-Kisah Sebelumnya Aku mulai meninggalkan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Tunjuk Ajar Integritas dengan berjalan kaki. Menyusuri Jalan Wakaf, aku perlahan mendekati seorang polisi lalu lintas yang sedang mengatur sebuah perempatan. Tak canggung, aku memanggilnya ketika dia masih membunyikan peluit mengikuti kedipan lampu hijau yang otomatis menggerakkan puluhan kendaraan untuk melintas perempatan itu. Tak yakin menjawab…

  • <—-Kisah Sebelumnya Gagal check-in lebih cepat, kuputuskan tiga hingga empat jam ke depan untuk menjelajah area Senapelan, area dimana Kesultanan Siak Sri Indrapura pernah menggapai masa keemasannya. Aku mencoba menapak tilas sejarah kesultanan dengan melawat ke beberapa peninggalannya yang abadi hingga kini. Atas alasan itu, berangkatlah aku menuju Sungai Siak yang kesohorannya melegenda di Nusantara.…