Bait Al Zubair: Terpapar Sejarah di Kalbuh

<—-Kisah Sebelumnya

Hampir masuk pukul sepuluh pagi…..

Aku memutuskan untuk meninggalkan tepian pantai di utara Al Alam Palace. Memaksakan diri meninggalkan otentiknya Al Mirani Fort yang sebelumnya kupunggungi dan Al Jalali Fort yang dari kejauhan seakan melambai mengundangku untuk berkunjung.

Kembali berjalan mengitari sisi barat istana, aku meninggalkan kompleks pemerintahan Kesultanan Oman melalui halamannya yang memanjang menuju selatan dan berakhir di tepian Al Bahri Road.

Tiba di tepian jalan utama, aku menatap jauh ke arah barat. Antusiasku kembali tumbuh, menerka-nerka, “Spot  pariwisata apa saja yang akan kutemui apabila aku berjalan kaki sejauh tujuh kilometer?”.

Tanpa keraguan….Aku pun mulai melangkahkan kaki.

Tiba di sebuah jalur melingkar, aku tertegun pada sebuah bukit berbatu dengan benteng gagah di atasnya. Adalah Rawia Fort yang menjadi benteng pertahanan ketiga yang kusaksikan di area Mutrah.

Dari bundaran sisi utara, langkah kaki akhirnya mengantarkanku tiba di Al Bab Al Kabeer Gate. Sesuai namanya, gerbang itu memiliki ukuran besar, menjadi landmark kesekian di daerah Kalbuh. Gerbang besar itu menjadi akses utama menuju Musee Franco-Omanais yang merupakan  pengenang hubungan dekat antara Oman dengan Perancis. Oleh karena fungsinya, maka di dalam museum itu terdapat foto-foto diplomatik antar kedua negara di masa lalu serta berbagai jenis pakaian, furniture dan perhiasan khas kedua negara. Kapal niaga Oman dan Perancis juga ada di dalam museum ini.

Sementara itu…..

Aku juga mengunjungi obyek wisata di selatan gerbang, yaitu Bait Al Zubair Museum dan Bait Muzna.

Bait Al Zubair sendiri adalah museum pribadi milik keluarga Zubair yang dibuka untuk umum tujuh belas tahun lalu. Kekhasan museum ini adalah ukiran-ukiran khas Oman yang tersemat di beberapa bagian museum yang berbahan dari kayu.

Sheikh Al Zubair bin Ali sendiri merupakan tokoh nasional yang pernah melayani Sultan Oman sebagai Menteri dan penasehat.

Terdapat beberapa bagian utama dari Bait Al Zubair, yaitu Bait Al Nahdhah, Galleri Syarah, Bait Al Bagh, Bait Al Oud dan Bait Al Dalaleel.

Bait Al Oud adalah rumah utama yang didesain untuk mencerminkan karakteristik masyarakat pertama di Muscat, dimana Sheikh Ali bin Juma (Sheikh Al Zubair) dan keluarganya menjadi salah satu tokohnya. Masyarakat itu hidup damai pada Abad ke-19 dan Abad ke-20.

Bait Al Oud memiliki tiga lantai, yaitu

Lantai G  digunakan untuk Temporary Exhibition Hall

Lantai 1 terdapat peta antic dari Semenanjung Arab, pameran maritim, furniture milik warga utama,

Lantai 2 digunakan untuk Foto Muscat tempo dulu, kolekdi kamera, cetakan tua Semenajung Arab

Rawia Fort terlihat di atas perbukitan.
Al Bab Al Kabeer Gate.
Musee Franco-Omanais.
Bait Al Zubair Museum.
Bait Al Dalaleel.
Bait Muzna Gallery (kanan).

Sedangkan…..Bait Al Dalaleel adalah rumah di Distrik Daleleel yang direstorasi dan direnovasi secara detail sehingga bisa membantu pengunjung untuk berpetualang waktu dan mengalami sendiri bagaimana penduduk asli oman menjalankan hidup pada masa seratus tahun lalu.

Lalu…..Bait Al Bagh (Bagian Utama) yang merupakan bangunan museum utama yang awalnya didirikan sebagai rumah keluarga pada tahun 1914 oleh Sheikh Al Zubair bin Ali. Pada masa lalu bangunan ini berfungsi sebagai tempat berkumpulnya para elit negara. Jika ingin mengetahui lebih detail tentang Dinasti Busaidi, maka di sinilah tempatnya. Dinasti Busaidi sendiri telah berkuasan sejak pertengahan Abad ke-18 di tanah Oman.

Sedangkan tepat di utara Bait Al Zubair, di seberang jalan Al Bahri Road, berdirilah Bait Al Muzna yang menjadi galer seni pertama dan utama di Muscat yang menampilkan perkembangan seni kotemporer di area kesultanan.

Kunjungan di Bait Al Muzna membuatku semakin bersemangat untuk segera menemukan destinasi lain di sekitar Mutrah.

Yuk, ikuti langkahku……

Kisah Selanjutnya—->

Al Mirani Fort dan Al Jalali Fort: Kembaran Khas Portugis

<—-Kisah Sebelumnya

Sebetulnya aku belumlah puas menikmati keindahan yang tertampil di segenap sisi Al Alam Palace. Corak menarik, arsitektur khas, warna mencolok berpadu dengan hijaunya taman membuat Al Alam Palace menjadi aktor utama pariwisata di daerah Kalbuh.

Sementara itu, diantara kemegahan segenap area sekitar, tampak beberapa tukang kebun istana sedang sibuk-sibuknya membersihkan taman. Para pekerja itu khas berwajah Asia Selatan, mengenakan seragam dengan paduan celana panjang yang keseluruhannya berwarna coklat muda. Satu diantara mereka tampak mendorong seperangkat peralatan kebun untuk mendukung pekerjaan mereka.

Al Alam Palace dari dekat.
Halaman barat Al Alam Palace,

Aku bergegas meninggalkan Al Alam Palace dari sisi baratnya. Melewati Al Khor Mosque. Masjid mungil dengan warna dominan ungu yang tersemat di bagian kubah-kubah mungilnya itu menjadi tempat peribadatan ikonik di sekitar istana.

Aku terus melewati masjid itu untuk segera tiba di bibir pantai. Tetapi mendadak langkahku melambat ketika dengan seketika mendengar logat jawa dari arah belakang.

Kae lho….bentenge dhuwur banget yo…..”, aku segera menoleh ke arah sumber suara.

Kulihat sepasang muda-mudi sedang melangkah cepat menuju ke bangunan benteng. Mereka berdua menyalip langkahku dari belakang, untuk kemudian berdiri di bawah kaki benteng. Begitupun aku, berdiri di sebelah mereka untuk mengambil foto terbaik dari rupa arsitektur pertahanan itu. Al Mirani Fort nama benteng tersebut.

Inilah benteng yang menjadi saksi pengambil alihan Muscat dari kekuasaan Portugis oleh Dinasti Utsmaniyah pada awal Abad ke-16 melalui sebuah pertempuran bertajuk “Capture of Muscat”.

“Mas, Jowone ngendi?”, aku yang sedari sebelumnya sudah tak tahan untuk menyapa mereka, akhirnya mulai bertanya juga.

“Loh mase soko Indonesia yo?”, mereka terkaget seketika

“Aku soko Jakarta, Mas”

“Oalah, Aku soko Jogja, Mas”, dia menjawab sambil menunjuk kekasihnya yang berwajah khas Eropa.

“Aku asli Paris mas, tapi sekolah nang Jogja”, gadis cantik berambut pirang itu menjelaskan ketika aku terheran karena dia bisa berbahasa Jawa.

Percakapan kami di depan Al Mirani Fort kemudia berlanjut lebih jauh tentang dari mana kami sebelum sama-sama tiba di Muscat, perjalanan selanjutnya setelah berkunjung di Muscat serta hal-hal menarik lainnya tentang pengalaman bertraveling.

Tetapi karena perbedaan agenda, akhirnya percakapan berdurasi hampir setengah jam itu harus terhenti, karena mereka berdua hendak pergi menuju Masjid Sultan Qaboos yang terletak di kawasan Al Ghubrah South.

Al Khor Mosque.
“Wong Indonesia iku narsis yo mas nak di foto”, Ungkap gadis bule itu
Al Jalali Fort tampak dari kejauhan.

Akhirnya kami bertiga berpisah….

Aku sendiri menlanjutkan langkah menuju utara Al Mirani Fort demi menggapai pantai.

Aku tiba di tepian pantai lima menit kemudian, kini pemandangan berubah menjadi hamparan membiru perairan pantai yang mengisi ruang diantara perbukitan berbatu yang menjadi pertahanan sempurna Kesultanan Oman tempo doeloe.

Sementara di salah satu puncak bukit yang lain, berdiri gagah Al Jalali Fort yang dua menaranya menjulang seakan lekat mengawasi sekitar.

Can I go there?”, aku bertanya pada seorang serdadu yang tampak mengamankan Al Alam Palace sisi selatan sembari melempar telunjuk jariku ke arah benteng.

No….That fort is closed for next several day”, dia menjelaskan singkat dengan wajah super dingin.

Oh….Okay. Thanks, Sir”, aku tak berani lagi melanjutkan percakapan.

Alhasil, aku hanya menikmati suasana pantai untuk beberapa saat ke depan.

Kisah Selanjutnya—->

Aroma Militer Menyelimuti Al Alam Palace

<—-Kisah Sebelumnya

Sekian lama menunggu hingga titik akhir rutenya, maka tersimpul pilihan untuk turun dari Mwasalat Bus Line 4 di Al Alam Bus Stop. Hal ini dikarenakan bus akan segera memutar balik menuku ke Ruwi- Mwasalat Bus Station di putaran terdekat dari halte bus itu.

Turun di halte dan melanjutkan langkah menuju sebuah bundaran, maka tempatku berdiri selanjutnya secara serta merta diapit oleh dua rupa arsitektur klasik dan berusia tua. Yang pertama adalah The National Museum yang memamerkan peninggalan sejarah bangsa Oman semenjak generasi pertama yang menempati semenanjung tersebut.

Sementara itu bangunan yang kedua, tepat di utaranya berdiri gagah Kantor Pusat Perpajakan Negara Oman. Bangunan klasik tiga lantai itu berdiri kokoh memunggungi perbukitan berbatu. Kantor pajak itu tentu menjadi tempat paling sibuk siang itu mengingat pada tahun kedatanganku, Kesultanan Oman sedang memberlakukan pajak penghasilan bagi setiap warga negara untuk pertama kalinya dalam sejarah. Wah kenapa negara kaya minyak itu baru menerapkan pajak penghasilan perorangan ya?……Pasti ada defisit anggaran.

Demi menghindari teriknya surya, aku segera menyelinap diantara rimbunnya trotoar yang memisahkan kedua ruas Al Bahri Road di tengahnya. Tujuan utama pertamaku di Muscat adalah mengunjungi Al Alam Palace yang merupakan salah satu dari enam istana milik Kesultanan Oman.

Istana ini sendiri tidak memperbolehkan wisatawan untuk masuk, tetapi para wisatawan diperbolehkan berdiri hingga di dekat pintunya yang hanya dibatasi oleh selapis gerbang besi .

The National Museum.
Tax Authority Building.
Trotoar pemisah dua ruas Al Bahri Road.
Al Alam Palace.
Suasana di sekitar Al Alam Palace.

Aku berusaha mendekati bangunan pemerintahan itu dengan menyelinap diantara deretan truk-truk militer yang terparkir di halaman istana. Aku sendiri tak begitu memahami apa yang terjadi di sekitar istana sehingga aroma militer tercium begitu kuat.

Para serdadu tampak sibuk berjaga di sepanjang halaman . Beberapa terlihat sangat ramah penuh senyum ketika aku berpapasan dengannya. Jawaban salam sesekali terdengar dari tutur mereka ketika aku berucap salam.

Dan pada akhirnya, semua kebingunganku terjawab setelah dua hari diriku meninggalkan Oman. Dari Manama -ibu kota Bahrain”, aku melihat sebuah berita di layar televisi bahwa Sang Pemimpin Kesultanan Oman, Sayyid Qaboos bin Sa’id Al Bu Sa’id telah berpulang kehadiran Sang Maha Kuasa.

Ternyata kesiap siagaan para tentara Oman itu terkait dengan keadaan darurat Kesultanan Oman karena sakitnya Sang Sultan.

Kembali ke Al Alam Palace…..

Aku dan beberapa gelintir turis Eropa berdiri tertegun di hadapan istana kesultanan yang sangat mempesona. Berlapiskan marmer halus dengan paduan tiga warna utama, biru-kuning-putih dan mengedepankan arsitektuk khas Oman.

Keindahan arsitektur itu terpadu indah dengan perbukitan berbatu yang tampak mengelilingi istana dan menjadi benteng alam yang ideal pada masanya.

Usai puas menikmati keindahan istana kesultanan Oman maka aku bergegas menuju ke sisi belakang istana demi menikmati keberadaan benteng-benteng kuno yang kuyakini sebagai pelindung utama atas keberadaan istana tersebut.

Kisah Selanjutnya—->

Mwasalat Bus Line 4: Mejemput Keindahan Mutrah

<—-Kisah Sebelumnya

Dengat perut kenyang aku meninggalkan kedai makan khas Bangladesh yang letaknya tak jauh dari OYO 117 Majestic Hotel, tempatku menginap.

Aku kembali tiba di perempatan yang terbentuk oleh persilangan Al Baladiya Street dan Al Fursan Sreet. Di Al Fursan Street, aku terus mempercepat langkah untuk segera tiba di Ruwi Mwasalat Bus Station.

Berjalan sejauh dua setengah kilometer selama tiga puluh menit, akhirnya aku tiba di terminal.

Misiku selanjutnya adalah mencari keberadaan bus yang akan berangkat menuju Mutrah. Dari brosur pariwisata Oman yang kudapatkan dari Muscat International Airport pada malam sebelumnya, aku cukup mendapatkan informasi bahwa untuk menggapai Mutrah maka aku harus menaiki Mwasalat Bus Line 4.

Kusapukan pandangan ke seluruh sudut terminal demi menemukan bus itu. Pada akhirnya aku mendapatkannya di platform bagian tengah. Oleh karena sebagian kursi bus telah terisi penumpang, maka aku memutuskan untuk segera menaikinya.

Membayar dengan uang koin sebesar 200 Baisa, maka aku segera mendudukkan diri di kursi tengah. Tak lebih dari sepuluh menit kemudian, bus itu perlahan berjalan meninggalkan terminal.

Bus meninggalkan daerah Ruwi menuju utara melalui daerah Darsait untuk kemudian merubah arah menuju timur demi menggapai tepian Teluk Oman. Menyisir Mina Street, bus berjalan di sepanjang kaki perbukitan berbatu.

Tak berapa lama jalanan lengang di sepanjang Mina Street berubah menjadi jalanan penuh keramaian di sepanjang Al Bahri Road yang arusnya berbelok di tepan pantai Teluk Oman.

Pemandangan berganti dengan berjajarnya kapal-kapal pesiar mewah di sepanjang Sultan Qaboos Port yang menjadi pelabuhan kargo dan penumpang utama di Kota Muscat. Rombongan turis asal Eropa juga tampak memenuhi jalanan di sepanjang pantai.

Bus terus menyisir Al Bahri Road, kali ini bus bergerak menuju selatan mengikuti kontur pantai. Al Bahri Road sendiri adalah jalan raya dengan dua ruas, ada dua jalur di setiap ruasnya, dan antar ruas dipisahkan dengan taman memanjang dimana bunga-bunga di tanam dengan metode drip irrigation.

Mwasalat Bus Line 4.
Interior bus.
Area di dekat Sultan Al Qaboos Port.
Pelabuhan penumpang Al Qaboos Port.
Aku turun di The National Museum Oman.

Selain keberadaan taman yang menghiasi sepanjang jalan, keindahan Al Bahri Road menjadi sempurna dengan keberadaan perbukitan batu nan menawan di sisi baratnya dan hamparan pantai yang membiru di sisi timurnya. Pemandangan yang bahkan membuatku tak rela barang sekedip mata untuk menikmatinya.

Tetapi aku yang berada di dalam bus juga harus bersegera menetapkan tempat untuk berhenti, karena semakin jauh mengikuti arus bus maka aku akan semakin jauh menyisir ulang jalanan itu sebagai metode utamaku untuk mengekplorasi keindahan daerah Mutrah.

Dalam waktu menunggu untuk mengambil keputusan itu, tetiba melintas penampakan indah warna-warni di Al Alam Palace yang merupakan istana Kesultanan Oman.

“Ya….Di sinilah aku harus turun”, aku memutuskan.

Tak lama kemudian, bus berhenti di Al Alam Palace Bus Stop untuk menurunkan beberapa penumpangnya. Akhirnya kuputuskan untuk ikut turun Bersama para penumpang itu.

Kini aku berada di daerah Kalbuh yang berjarak sepuluh kilometer jauhnya dari titik semula aku berangkat, yaitu Ruwi-Mwasalat Bus Stop. Perlu waktu hampir setengah jam untuk menempuh perjalanan ini.

Kini saatnya berjalan kaki demi mengeksplorasi keindahan daerah Mutrah.

Kisah Selanjutnya—->

OYO 117 Majestic Hotel: Terlengkapi dengan Kedai Langganan

<—-Kisah Sebelumnya

Aku telah tiba….

Berdiri di hadapan hotel berlantai tujuh. Memastikan sejenak nama hotel yang tertera di name board besarnya, maka aku memasuki pintu lobby setelah mengetahui bahwa aku berada di hotel yang tepat.

“It’s no matter, Sir….I will give your room now”, resepsionis pria berkebangsaan Bangladesh menurut perkiraanku telah berbaik hati memberikan kunci kamar lebih cepat walaupun waktu check-in ku masih enam jam lagi.

Padahal tadinya aku hanya berniat untuk menitipkan backpack saja sebelum melakukan eksplorasi di daerah Mutrah.

Mengucapkan terimakasih maka aku segera meluncur di dalam lift menuju lantai empat untuk mencari kamar bernomor 409. Aku menemukannya dengan mudah. Menaruh backpack,  membersihkan muka dan menggosok gigi sejenak, maka untuk kemudian aku siap untuk melakukan eksplorasi.

Aku meninggalkan kamar dengan satu hal yang tak kusadari. Kecerobohan itu adalah tidak menutup kran wastafel dengan sempurna, sehingga air di kamarku terbuang percuma hingga sore hari karena kucuran kecil yang tak kusadari….Dasar tidak disiplin kamu, Donny.

OYO 117 Majestic Hotel tampak muka.
Meja resepsionis.
Lobby.
Kamar seharga 11 Rial.

Pikiran utamaku ketika meninggalkan hotel hanya satu, yaitu bersarapan. Aku yang telah menandai sebuah kedai makan khas Asia Selatan, menjadikanku lebih mudah untuk menujunya. Kedai itu hanya berjarak dua ratus meter dari hotel.

Kedai itu berada di lantai terbawah sebuah gedung, berukuran kecil dan hanya menempati sisi pojok bawah gedung. Aku memasukinya dengan penuh rasa lapar dan sang pemilik yang berusia setengah baya serta berbadan tambun tersenyum menyapaku.

“Come….”, ujarnya singkat.

Usai membalas senyumnya, aku pun duduk di pojok kedai dan menatap deretan menu yang dipajang di salah satu sisi dinding kedai.

“Sir, give me white rice with chicken fry, also a cup of milk tea”, aku mulai memesan hidangan yang kupilih

“Ok, Sir….Wait for a minute”, pemilik kedai itu pun beranjak pergi menuju dapur.

Sembari menunggu, aku memperhatikan keramaian kedai oleh wajah-wajah Asia Selatan yang khusyu’ menyantap makanannya masing-masing. Mereka adalah sebagian dari sekian banyak para pekerja kasar yang menghidupkan sektor informal perekonomian Kota Muscat.

Tak sampai lima menit, hidanganku telah tiba….

Pemilik kedai itu menaruh hidangan yang kupesan. Kini tersaji sepiring penuh nasi putih, dua potong paha ayam goreng dengan aroma kari berukuran besar dan satu cangkir kertas milk tea.

“Where are you come from?”, tanyanya singkat kepadaku.

“Indonesia….And you, Sir?”, aku melemparkan tanya balik.

Bangladesh….We all here from Bangladesh”, dia tersenyum sembari menunjuk ke semua pengunjung kedainya. Sontak semua pengunjung tertawa mendengar percakapan singkat kami.

Wowww….Wonderful”, aku ikut tertawa menyambut kemeriahan di kedai makan itu.

Kedai makan khas Bangladesh yang menjadi kedai langganan.
Para pekerja asal Bangladesh.
Yuk makan…!

Sebelum pemilik kedai itu meninggalkan mejaku, aku memintanya untuk mengambil sepotong paha ayam goreng dari hidangan yang dia sajikan.

I can’t eat to much, Sir….Look this my small body !”, aku menunjukkan jari telunjuk ke diri sendiri sembari tersenyum.

Keramahan sang pemilik kedai beserta segenap langganannya yang bersahaja telah membuat tempat makan itu menjadi kedai langgananku selama mengeksplorasi Muscat.

Kisah Selanjutnya—->

Menuju OYO 117 Majestic Hotel: Jalan Tenang nan Menentramkan

<—-Kisah Sebelumnya

Pukul setengah tujuh pagi aku sudah menginjakkan kaki di daerah Ruwi setelah dihantarkan oleh Mwasalat Bus bernomor 1B dari Muscat International Airport.

Menuruni bus, aku tetiba terperangah….

Bagaimana tidak, terminal bus berukuran kecil itu tampak indah karena dikelilingi oleh bukit berbatu yang membentang dengan warna coklat kemerahan di segenap pandangan. “Ini sungguh pesona yang luar biasa”, batinku berujar sesaat.

Usai mengabadikan beberapa sudut terminal dalam jepretan Canon EOS M10 kesayangan, maka tatapanku berpindah ke arah selatan.

Jalanan masih sepi, sementara OYO 117 Majestic Hotel yang kupesan tersembunyi di sebuah sisi jalan yang berjarak dua setengah kilometer jauhnya. Aku memesan salah satu kamarnya seharga 11 Rial per malam tepat sebulan sebelum keberangkatan.

Untuk beberapa saat aku menatap bentangan lurus panjang Al Fursan Street yang sangat lengang. Jalan itu lurus bersisian dengan Alkbir Wadi yang kering kerontang, menampakkan tanah permukaannya yang pecah merekah dimana-mana karena konsitensi terpaan panas surya dalam beberapa bulan musim kering.

Wadi sendiri adalah sebutan untuk hamparan sungai yang kering karena pada umumnya sungai tersebut hanya mengalirkan air saat musim penghujan tiba.

“Tak ada waktu lagi…..”, aku meyakinkan diri untuk mantab saja melangkah memasuki Al Fursan Street.

Aku melangkah cepat sembari terus memperhatikan posisiku terhadap hotel di aplikasi peta pada gawai pintar yang terus kugenggam selama melangkah. Semaikin jauh menelusuri Al Fursan Street, bukan perasaan gentar yang kudapatkan, justru rasa tenang nan damai yang menyelimuti setiap langkah demi langkah. Aku merasa berada di jalanan paling aman yang membuatku berani melambatkan langkah demi menikmati suasana pagi yang sejuk hingga kemudian langkahku terhenti di sebuah perempatan.

Aku berdiam di sisi barat persimpangan dua jalan itu. Aku mencoba mencari papan petunjuk untuk memahami nama jalan pemotong Al Fursan Street yang sedari sebelumnya aku lewati.

“Al Baladiya Street….Oh itu nama jalannya”, aku mendapatkan papan nama jalan dengan cepat.

Aku memutuskan untuk menyeberangi perempatan itu, karena letak hotel yang sedang kucari berada di sisi timur Alkbir Wadi. Aku pun menyeberangi jembatan yang gagah mengangkangi wadi yang memiliki lebar tak kurang dari lima puluh meter.

Aku memasuki daerah Al Walja.
Suasana AL Fursan Street yang tenang dan menentramkan.
Perempatan jalan yang dibentuk oleh Al Fursan Street dan Al Baladiya Street.
Alkbir Wadi yang kering kerontang.
Ruas jalan terakhir menuju ke OYO 117 Majestic Hotel.

Kini langkahku berpindah di jalan yang menyejajari Alkbir Wadi di sisi timurnya. Sepanjang jalan itu, tampak ruko-ruko lima lantai yang masih tertutup rapat di sisi kiriku melangkah. Sedangkan di sisi kanan lebih didominasi oleh keberadaan truk-truk besar yang bagian depannya ditundukkan sebagai pertanda bahwa mesin-mesin pengangkut itu sedang mendapatkan reparasi.

Tampak wajah-wajah khas Asia Selatan mendominasi kegiatan reparasi itu, nantinya aku akan mengetahui bahwa mayoritas mereka berasal dari Bangladesh.

Semakin mendekati hotel, suasana jalanan mulai ramai. Nadi kehidupan ekonomi Kota Muscat tampak sedang menggeliat dari bangun malamya.

Sebelum benar-benar tiba di hotel, aku mulai memfokuskan pandangan untuk mencari keberadaan kedai makan di sekitar aku melangkah. Naluriku mengatakan bahwa di daerah tersebut pasti ada kedai makan murah khas Bangladesh yang memfasilitasi kebutuhan perut para pekerja Bangladesh yang sibuk bekerja di sekitarnya.

Benar saja, di sebuah gang dan sedikit tersembunyi aku melihat sebuah kedai makan mungil.

Baiklah….Di situlah aku akan menikmati sarapan pertamaku di Oman”, bibirku tersenyum tipis ketika mengambil keputusan.

Demi segera bersarapan, maka aku mempercepat langkah menuju hotel yang jaraknya tinggal beberapa meter lagi di depan.

Kisah Selanjutnya—->

Mwasalat Bus No. 1B: Menuju Ruwi di Pagi Perdana

<—-Kisah Sebelumnya

Aku yang tertidur ayam tetiba terperanjat bangun ketika suara berisik alat pel lantai yang digunakan oleh seorang cleaning service terdengar jelas dari bawah bangku tempatku tertidur. Aku membuka mata dan langsung melihat penunjuk waktu digital di sebuah layar FIDS yang terpampang di pojok ruangan.

Masih saja pukul empat pagi ketika aku melihatnya.

Sorry if what I do had disturbed your sleep”, cleaning service berperawakan Asia Selatan itu dengan sopannya membungkuk di depanku.

Oh….No matter, brother”, aku memanggilnya demikian karena raut mukanya yang masih terlihat muda.

Are you working here?

Nop….I’m just backpacking

I’m from Indonesia….Where are you come from brother?”,

I’m from Blochistan….I had worked here since a year ago but the salary isn’t good here”, dia mulai bercerita tentang keadaannya bekerja di Muscat.

Dari percakapan lanjutan setelah itu, aku sungguh merasa bersyukur karena bisa bekerja di negara sendiri dan sedikit sisa dari pendapatanku bisa kugunakan untuk menjelajah dunia.

Setelah percakapan singkat itu, aku tak lagi bisa tidur. Aku hanya berkali-kali membuka itinerary dan brosur-brosur pariwisata yang kuambil saat pertama kali tiba di bandara. Aku berusaha memahami informasi dari setiap obyek wisata yang akan kukunjungi beberapa saat di depan.

Tak terasa waktu Shalat Subuh pun akhirnya tiba….

Aku tergopoh naik ke lantai atas untuk mencari keberadaan mushola. Dan aku mendapatkannya dengan mudah dan akhirnya bisa menjalankan ibadah dengan pandangan mata bergelayutan karena menahan kantuk.

Sementara itu bekal makanan yang kubeli dari Dubai telah habis kusantap sebagai makan malam. Aku yang kelaparan terpaksa harus menahan protes perut hingga menemukan sarapan di tengah kota nanti.

Usai menjalankan ibadah Shalat Subuh, aku mempersiapkan diri untuk bertolak ke pusat kota. Tujuanku kali ini adalah Daerah Ruwi yang berjarak tak kurang dari 30 kilometer di barat bandar udara. Sebuah kamar milik OYO 117 Majestic Hotel yang kupesan berada di daerah tersebut.

Tak membuang waktu…..

Aku bergegas menuju Level 0 bandara untuk mencari keberadaan bus umum bernomor 1B demi menuju ke Ruwi-Mwasalat Bus Station. Mwasalat sendiri adalah penyedia jasa transportasi publik di Muscat.

Just wait here….The bus will come in five minutes….I will show you the bus next”, begitulah ucap seorang lelaki berperawakan kurus tinggi yang mengatur pemberangkatan setiap bus Mwasalat di bandara.

Menunggu kedatangan Mwasalat Bus No. 1B di Muscat International Airport.
Salah satu mushola di Muscat International Airport.
Interior Mwasalat Bus No. 1B.
Melalui kawasan Al Azaiba South.
Melintas sekejap di daerah Al Khuwayr South.
Akhirnya tiba di Ruwi-Mwasalat Bus Station.

Bus itu benar-benar datang tepat lima menit seperti apa yang diucapkannya…..

Aku menaiki Mwasalat Bus bernomor 1B melalui pintu depan dan menyerahkan ongkos senilai 1 Rial ke pengemudi berbadan tambun yang mengenakan gamis putih. Setelah pengemudi itu memberikan karcis maka aku mengambil tempat duduk di bagian tengah. Dalam kondisi yang masih setengah gelap, aku telah bersiap.

Porsi besar perjalanan ini ditempuh melalui jalan tol utama kota Muscat yaitu Sultan Qaboos Street. Semakin jauh meninggalkan bandara menuju timur maka semburat fajar mulai melunturkan gelap yang sedari awal perjalanan masih angkuh berkuasa.

Dalam setengah jam, Mwasalat Bus bernomor 1B yang kunaiki telah merapat di Ruwi-Mwasalat Bus Station.

Kini aku bersiap menggeber langkah menuju selatan untuk menggapai penginapan.

Kisah Selanjutnya—->

Arrival Hall Muscat International Airport

<—-Kisah Sebelumnya

Aku melangkah keluar dari kabin Swiss Air LX 242, menapak kembali di aerobridge dan berhenti sejenak di pertengahannya. Aku tertegun sejenak memperhatikan aktivitas tersisa di apron Muscat International Airport.  Tengah malam itu aku hanya melihat sebuah pesawat milik Salam Air yang berwarna dominan putih dengan kelir hijau sedang berhenti terparkir di salah satu sisi apron.

Aku mulai melangkah melewati koridor demi koridor arrival hall. Sepanjang koridor menawarkan interior yang memikat mata. Setiap sisi travelator disulap menjadi taman bebatuan dengan padanan warna-warni pelita yang menarik mata.

Sementara bangku-bangku diletakkan di setiap sisi ruangan dengan desain futuristik. Hingga dalam beberapa saat kemudian, tibalah aku di area konter imigrasi.

Memasuki antrian yang jalurnya dibentuk oleh tape barrier, aku tak melepas antusias. Memasuki sebuah negara dengan e-Visa approval yang didapat dari tanah air adalah sesuatu hal yang  membuat hati menjadi tenang. Biasaya approval e-Visa ini adalah jaminan terampuh untuk bisa melewati konter imigrasi dengan mudah.

“Halo, Sir, Can I see your e-Visa?”, seorang petugas jangkung berkemeja putih dengan celana bahan hitam menghentikan langkahku.

“Oh, wait. Sir”, aku berhenti dan mulai menurunkan backpack untuk mengambil dokumen.

Aku pun mulai sibuk mengaduk-aduk backpack demi menemukan berkas itu.

Oh yes…I had seen your document. You can go to the counter”, petugas itu tetiba memberikanku akses setelah dia sekilas melihat lembaran e-Visa di zipper file berbahan transparan yang kukeluarkan.

“Oh, Okay Sir….I’m ready for that”, aku menyatakan telah siap menghadap ke petugas imigrasi.

Tanpa kekhawatiran sedikitpun aku pun melangkah menuju konter imigrasi.

“Assalamu’alaikum, Sir”, aku berinisiatif mengucapkan salam ke petugas imigrasi berkumis tipis.

“ ‘alaikumussalam”, dia tak melihatku sedikitpun dan hanya berfokus pada passport, e-Visa, hotel booking confirmation dan e-ticket Air Arabia untuk meninggalkan Muscat yang beberapa detik lalu kusodorkan.

Do you visit Dubai before arrive here?”.

Absolutely, yes, Sir”.

Okay….Clear, welcome to Muscat”, petugas imigrasi itu memberikan kembali segenap berkas yang kuberikan.

Aku bisa melewati petugas konter imigrasi itu dengan sangat mudah.

Yuhuuuuuuu…….

WELCOME MUSCAT…………………………….

Waktu yang masih berkutat di dini hari membuatku memutuskan untuk menginap saja di bandara. Usai mengambil keputusan tersebut, langkah pertama yang kulakukan adalah mencari Sim Card untuk kebutuhan pemetaan destinasi ketika memasuki kota Muscat pada pagi harinya. Aku akhirnya memilih membeli Sim Card milik Renna Mobile.

Koridor nan indah menuju Arrival Hall.
Conveyor Belt Area.
Arrival Hall lantai 2.
Arrival Hall lantai 3.
Drop off zone.
Public bus service area.
Halaman Muscat International Airport saat dini hari.
Halaman Muscat International Airport saat dini hari.

Tak lupa, aku berburu berbagai brosur pariwisata khusus kota Muscat di Tourism Information Center. Beberapa brosur tentang destinasi wisata yang memungkinkan untuk kukunjungi tak lepas dari incaran. Sedangkan menukar Dolar Amerika ke Rial di Travelex Currency Exchange untuk kebutuhan petualangan menjadi tahapan terakhir yang kulakukan di Muscat International Airport.

Lepas melakukan berbagai aktivitas dasar yang biasa kulalukan ketika tiba di sebuah negara baru tersebut, maka aku menyempatkan diri untuk melangkah keluar bangunan terminal untuk melihat penampakan asli arsitektur bandara dari pelataran depannya.

Dan sungguh….

Muscat International Airport terlihat begitu mempesona di malam hari dengan siraman lampu-lampu taman yang menghantam batang-batang pohon palem yang merupakan vegetasi utama yang dipajang halaman bandara.

Tetapi aku harus segera mengakhiri eksplorasi bandara megah tersebut untuk segera mencari tempat terbaik untuk memejamkan mata. Akhirnya aku mengambil salah satu bangku di lantai dua arrival hall untuk beristirahat barang sejenak.

Kisah Selanjutnya—->

Swiss Air LX 242 dari Dubai (DXB) ke Muscat (MCT)

<—-Kisah Sebelumnya

Aku tak sabar menunggu kedatangan kereta. Beruntung kereta datang dengan cepat. Menaiki salah satu gerbongnya, meluncurlah aku di jalur panjang kereta dan tiba dalam beberapa menit di bangunan lain milik Dubai International Airport….Yupz, Concourse D.

Concourse D sendiri adalah bangunan di tengah-tengah area bandara yang difungsikan sebagai gerbang pelepasan. Bangunan itu dikoneksikan dengan bangunan Terminal 1 melalui rel yang diletakkan di atas tiang-tiang pancang jalur kereta.

Xu kembali datang menghampiriku ketika aku menduduki bangku di sebelah gate D 15. Ternyata Xu tak sendiri, dia memiliki satu teman lain yang kini diperkenalkan kepadaku.

Donny, this is Lin, my friend“, dia menunjuk ke temannya.

Hi, Lin….I’m Donny“, aku balik memperkenalkan diri.

Selanjutnya kami bertiga menghabiskan waktu untuk berbincang ringan di ruangan Concourse.

Sesekali Lin terlihat iseng menyembunyikan paspor milik Xu yang karena kecerobohannya ditinggalkannya di bangku ketika dia beranjak ke toilet. Lin memberikan kode dengan menaruh telunjuknya di hidung ketika aku mengetahui keisengannya itu. Sontak Xu dihantui kepanikan sekembalinya dari toilet mencari keberadaan paspornya. Aku sungguh menahan tawa atas keisengan itu. Nantinya Xu benar-benar menjitak jidat Lin atas kejahilannya itu. Kami bertiga pun tergelak ketawa berkepanjangan.

Panggilan boarding terdengar di langit-langit bandara. Aku telah siap sejak beberapa waktu sebelumnya. Aku mengucapkan sampai jumpa di Muscat kepada mereka karena kami bertiga akan duduk terpisah di dalam kabin.

Aku duduk di kabin tengah, di window seat sisi kiri, duduk dengan satu penumpang berkenegaraan Oman di sisi terkanan. Sedangkan bangku tengah dibiarkan kosong selama penerbangan.

Saat yang benar-benar kutunggu adalah masa airborne pesawat yang akan berlangsung cepat. Aku hanya ingin melihat keindahan Burj Khalifa dari langit malam Dubai. Entah bagaimana perwujudan indahnya ketika dilihat dari atas.

Food court di Cocourse D – Dubai International Airport.
Airbus A 330-300 milik Swiss Air.
Business Class.
Economy Class.
Hayo….Yang mana Burj Khalifa?….
Nonton Jason Bourne yang diperankan Matt Damon.
Kota Muscat tampak dari ketinggian saat pesawat hendak mendarat.
Salam Air (LCC dari Oman) tampak terparkir di Muscat International Airport.

Penerbangan malam itu berlangsung dalam kondisi kurang baik. Berkali-kali maskapai kebanggaan Swiss itu bergetar hebat menembus gumpalan-gumpalan awan di langit Timur Tengah. Membuat beberapa kali awak kabin mengurungkan diri untuk memberikan gelas-gelas minuman kepada penumpang.

Aku langsung teringat dengan beberapa artikel yang pernah kubaca mengenai awak kabin Swiss Air yang kebanyakan berusia tak muda lagi. Benar adanya, aku membuktikan dengan pengalamanku sendiri. Pramugara-pramugari Swiss Air LX 242 yang kutunggangi memiliki awak kabin yang usianya sudah diatas 40 tahun seperkiraanku.

Malam itu, aku hanya meminta disuguhkan segelas apple juice dan melakukan penerbangan singkat selama 1 jam 15 menit saja. Jarak antara Dubai-Muscat yang hanya tak lebih dari 500 kilometerlah yang membuatnya demikian.

Aku tiba di Muscat International Airport tengah malam dan memutuskan untuk berada di bandara saja hingga pagi menjelang.

Oh, ya…..Aku belum bercerita bagaimana Burj Khalifa dilihat dari langit malam Dubai?

Luar biasa ….Itu indah sekali, kawan……

Alternatif lain untuk mencari tiket pesawat dari Dubai ke Muscat bisa didapatkan di 12Go atau link berikut: https://12go.asia/?z=3283832

Kisah Selanjutnya—->

Check-in Desk Dubai International Airport: Gingsul Manis dari Colombo

<—-Kisah Sebelumnya

Beruntung check-in desk yang kucari sejak beberapa waktu sebelumnya belum dibuka ketika aku tiba di depannya. Sehingga waktu yang terbuang sia-sia di antian yang salah tak mempengaruhi waktuku dalam mengurusi boarding pass.

Usai menunggu beberapa saat, check-in desk yang akan melayani proses administrasi penerbangan Swiss Air LX 242 akhirnya dibuka. Sontak aku mengambil posisi di antrian, bukan yang terdepan karena sedari sebelumnya banyak calon penumpang yang sudah mempersiapkan diri di sekitar check-in desk tersebut.

Aku sudah tenang berada di antrian yang benar, LCD di atas check-in desk juga sudah dengan jelas mengafirmasi nomor penerbangan yang telah kupesan tujuh bulan sebelum penerbangan.

Ketika sedang nyaman-nyamannya mengantri….

Tetiba sebuah travel bag terjatuh dari trolley dan menimpa kaki kiriku. Aku pun terperanjat dan seketika menoleh ke belakang.

Sorry….Sorry, Sir. My trolley is too full“, dia terus membungkukkan badan di depanku.

Demi mencairkan suasana, kulemparkan senyuman sembari berucap kepadanya, “No matter, Sir“.

Call me, Xu…..Do you want to go to Muscat?“, nama yang dia sebutkan memperjelas wajahnya yang khas Tiongkok.

Me…Donny from Indonesia“, aku mengajaknya berjabat tangan.

Do you work in Muscat, Donny?“, Xu melempar sebuah tanya.

No, Xu….I’m a tourist“, singkat balasku, “Do you work there?“.

Yeaa, Donny….I work in oil company“, dia menjelaskan singkat saja.

Tak berapa lama kemudian giliranku menghadap petugas di check-in desk.

Any luggage, Sir“, staff perempuan berparas khas Asia Selatan menanyaiku.

Nup, Ms Dilupa“, aku menjawab sembari menatap nametag yang tersemat di blazer hitam miliknya.

Oh, you know my name“, dia tak tertawa melainkan hanya tersenyum tipis.

That’s …“, Aku menunjuk nametag yg dia kenakan.

Just bag in your back?“, dia tak kuasa menahan senyum hingga gingsul manisnya terlihat.

Yeaaa …just backpacker, Ms Dilupa“, aku terus tersenyum kepadanya.

Ya….ya….ya…. Backpacker….Always like you now“, kini dia bersiap mencetak boarding pass.

Where are you come from?“, sidikku ketika dia menyerahkan bording pass berwarna putih polos.

Colombo …..“, dia menjawab dengan tatapan ramah, “Next…..“, dia mulai berseru memanggil Xu yang menunggu di belakang.

Sri Lanka….Nice country“, aku merapikan dokumen dan bersiap meninggalkan meja.

Dilupa hanya mengacungkan jempolnya kepadaku sembari tersenyum mengangguk.

Check-in desk Swis Air LX 242.
Dia adalah Xu, teman baru di Dubai International Airport.
Menuju platform kereta.
Kereta menuju Concourse D sebentar lagi tiba.

Usai mendapatkan boarding pass, aku segera menuju screening gate untuk memeriksa backpack demi keamanan penerbangan. Dengan mudah melewatinya, aku segera menuju konter imigrasi untuk mendapatkan izin keluar dari Dubai. Meninggalkan sebuah negara menjadi bagian termudah di setiap perjalanan yang kutempuh.

Di akhir proses administratif, aku sudah siap meninggalkan bangunan Terminal 1. Aku segera beranjak menuju platform kereta demi menuju Concourse D-Dubai International Airport. Di bangunan itulah Swiss LX 242 akan diterbangkan.

Kisah Selanjutnya—->