Author: travelingpersecond

  • <—-Previous Story It would take a little longer to take a free service to the inn than riding the LRT “Laluan Kelana Jaya”. But in order to get around for the lack of Ringgit, I still decided to just take the free service of Go KL City Bus. Hurrying to leave KLCC Park, I headed…

  • <—-Kisah Sebelumnya Gelisah, menengokkan muka ke kanan dan kekiri, sesekali tetapan mata memeriksa aplikasi di telepon pintar. Sementara waktu yang tak menganggap keberadaanku, terus bergulir. Surya sudah semakin meredup di ufuk barat. Sebentar lagi gelap, adzan maghrib telah siap dikumandangkan. Sementara di sisi lain jalanan kota, pengemudi ojek itu tampak kebingungan mencari jalan menjemputku. Berkali-kali…

  • <—-Kisah Sebelumnya Aku tak bisa berlama-lama di atas Jembatan Kahayan. Waktuku tak banyak, waktu berbuka puasa di Palangkaraya setengah jam lebih cepat dari waktu berbuka puasa di Ibu Kota. Oleh karenanya kuputuskan untuk segera menyudahi eksplorasi di Jembatan Kahayan. Aku memasukkan Canon EOS M10 ke dalam folding back di punggung. Lalu untuk terakhir kali menatap…

  • <—-Previous Story The sun was at the peak of its power when I decided to retreat from Petronas Twin Towers’ yard. I couldn’t hide the wry smile on the corner of my lips and felt like I was a traveler who didn’t understand priorities just because I visited the Twin Towers right in the middle…

  • Sejenak aku terduduk di sebuah taman mungil di sisi selatan Jalan Kinibalu. Memang sengaja untuk sejenak aku mendinginkan tubuh setelah sengatan surya yang masih menjadi-jadi walau waktu sudah tak lagi di puncak hari. Duduk bersama beberapa warga lokal yang sama gerahnya atas cuaca kota. Toh di sepanjang dudukku, aku tak diam. Jemariku lincah mencari destinasi…

  • Melintas keluar dari exit gate bangunan terminal di Bandar Udara Fatmawati Soekarno (sebut saja FatSoe), aku melengos, menghindari incaran para sopir taksi yang sedang berburu penumpang. Nampaknya strategi itu tak berjalan baik. Tetap saja para sopir taksi itu mengejarku. Mereka menyejajari langkahku yang akhirnya membuatku terpaksa berkamlufase dengan melemparkan kebohongan kepada setiap pengemudi taksi yang…

  • Menjelang sore ketika aku beringsut meninggalkan Bukit Clara. Memunggungi aksara raksasa tersohor, aku mengikuti koridor memanjang tepat di tengah tenda-tenda kuliner di area WTB Food Market. WTB Food Market sendiri adalah pasar kuliner di Kota Batam yang aktif di malam hari. Sayang sore itu aku sedang berpuasa Tarwiyah, membuatku hanya sekelebat saja menikmati awal keramaian…

  • <—-Kisah Sebelumnya Samar aku melihat pemberhentian bus kota itu, tapi aku belum yakin benar apakah itu halte bus yang sedang kucari. Aku terus melangkah mendekatinya. Aku tiba beberapa menit kemudian…. Halte bus itu berukuran tak telalu besar untuk standar ukuran halte bus bandara. Tak semegah halte bus DAMRI Soetta tentunya. Setiba di halte, aku berhenti…

  • <—-Kisah Sebelumnya Di depanku telah berkerumun berbagai orang dengan kepentingannya masing-masing. Batas berdiri meraka tertahan di sebuah pembatas metal yang ditempatkan di area setelah drop-off zone, berjarak tak kurang dari lima puluh meter dari exit gate bangunan bandara. Sebagian banyak dari mereka adalah para penjemput. Mereka berseru-seru memanggil nama para penumpang pesawat yang satu-persatu keluar…

  • <—-Kisah Sebelumnya Aku bergegas melompat ke salah satu gerbong LRT Sumatera Selatan. Di gerbong tengah tepatnya. Suasana di dalam gerbong tentu tak akan pernah penuh karena aturan PPKM Level 3 yang masih diterapkan pemerintah provinsi. Bangku LRT itu berselang-seling diduduki penumpang. Aku?….Ya, aku lebih memilih berdiri saja di dekat pintu gerbong. Sesaat kemudian, LRT berjalan…