Author: travelingpersecond

  • My departure time for East Asia Tour Volume-2 was only a day away. There was still one stage of my itinerary which was still scattered and unfinished, i.e the deadlock of my transfer mechanism from Tokyo to Osaka. Three months ago, I wasted a cheap bus ticket from Tokyo to Osaka for 5,700 Yen just…

  • <—-Kisah Sebelumnya Desing mesin SriLankan Airlines UL 225 perlahan berkurang usai roda-roda raksasanya menyentuh landas pacu Dubai International Airport. Melakukan taxiing selama beberapa waktu akhirnya selongsong terbang itu merapat dan berhenti di salah satu titik apron bandara. Aerobridge segera dijulurkan ke pintu depan pesawat untuk mengakomodasi proses unloading segenap penumpang. Aku pun bergegas keluar dari…

  • Paying 1,000 Yen to the driver with tie, receiving a receipt, ending with taking a back seat, I was now ready to explore the Higashi Kanto Expressway. This was the same street I passed by for the first time after arriving in Tokyo a few days ago. Taking 70 kilometer asphalt road and within an…

  • <—-Kisah Sebelumnya Saking lelahnya, aku pun tertidur di depan layar LCD TV di depan bangku bernomor 56G yang kududuki. Itulah penggalan cerita ketika aku terbang bersama SriLankan Airline bernomor terbang UL 225. Aku begitu menikmati penerbangan selama hampir lima jam dengan jarak lebih dari 3.000 km. Aku bersiap memasuki Dubai dengan kepuasan tersendiri ketika mendarat.…

  • A little past two in the afternoon. I started leaving Meiji Jingū via Harajuku Station. I retraced Yamanote Line, turning south through Shinagawa District, then back to north. It covered a distance of fifteen kilometers and costed 200 Yen. I arrived at Tokyo Station a little past three-thirty in the afternoon and was dropped off…

  • Keempat roda mobil terus kupaksakan membelah aliran air hujan yang mengalir menuju pantai. Aku meninggalkan Pantai Ujung Genteng lebih awal dibanding pengunjung lain yang masih berteduh menunggu usainya hujan. Tentu aku mendahului kemungkinan terbentuknya genangan-genangan air yang bisa menghambat laju kendaraan. Dalam siraman lebat air hujan, aku mulus menerobos jalanan berair hingga ujung desa. Memasuki…

  • The tragedy of losing my wallet at Nakano Station made me gulp in fear, it turned out that there was still a coward side behind my courage to explore the world. I calmed down for a moment by sipping drinking water from free water station at one of Nakano Station platforms. The silver and yellow…

  • Suara debur ombak mulai mengintimidasi ketika roda mobil semakin memangkas jarak menuju bibir pantai. Mungkin tampang sumringahlah yang mendominasi saat itu jikalau aku bisa melihat wajahku sendiri. Bagaimana tidak, hampir genap sebelas bulan, kedua kaki harus dibelenggu di rumah karena suasana luar yang chaos diserang virus mematikan. Tetapi tentu ada sedikit rasa takut di ruang…

  • Mattress at Yadoya Guesthouse’s bunk bed also seemed to like an ice beam, even when early hours have already gone. That morning, I deliberately slowed myself to wake up, I looked like a coward who hid behind the thickness of dormitory blanket. I revenged for my eyes, after almost forty hours didn’t so perfectly closed.…

  • Hampir genap dua belas bulan semenjak perjalanan terakhir ke Kawasan Timur Tengah, passionku hampir saja membeku karena terpaan pandemi COVID-19 yang merambah ke seluruh dunia. Praktis, aktivitasku sebagian besar kuhabiskan di dalam rumah saja. Bahkan masa lebaran pun dengan khidmat kurayakan jauh dari kampung halaman. Hingga rasa jenuh mendalam di akhir tahun berbisik ke dalam…