Author: travelingpersecond

  • <—-Kisah Sebelumnya Demi melawan rasa haus yang tak tertahankan, aku memejamkan mata pada bangku tengah di waiting room Gate 20. Dan tanpa kuduga aku bisa terlelap selama hampir dua jam dalam posisi terduduk sambil memeluk backpack. Aku terbangun dengan sendirinya di saat waiting room benar-benar penuh oleh penumpang. Mataku perlahan terbuka dan bibirku benar-benar kering…

  • <—-Kisah Sebelumnya Posisi duduk yang berada di bangku tengah, membuatku hanya mampu sesekali mengintip kondisi di luar pesawat melalui jendelanya dari kejauhan. Begitu juga ketika Air Arabia G9 115 perlahan merendah dan bersiap mendarat di Sharjah International Airport. Panorama daratan dengan warna dominan coklat khas padang pasir menjadi latar yang bisa kunikmati ketika pesawat hampir…

  • <—-Kisah Sebelumnya Aku terduduk di salah satu bangku berwarna hijau di waiting room Gate C3 Muscat International Airport. Aku menunggu kedatangan Air Arabia G9 115 yang rencananya akan mengantarkanku untuk transit di Sharjah sebelum sampai di tujuan akhir Manama, Bahrain. Aku cukup sabar dan tenang ketika menunggu kedatangan pesawat tersebut. Aku menjadi penumpang pertama yang…

  • <—-Kisah Sebelumnya Pukul setengah lima pagi aku terbangun dari sebuah bangku panjang di salah satu sudut food court Muscat International Airport Lantai 2. Aku bergegas menuju Musholla di lantai yang sama untuk menjalankan shalat dan setelahnya aku kembali ke bangku yang sama untuk menyantap cheese cake dan strawberry yogurt yang kubeli di Lulu Hypermarket pada…

  • <—-Kisah Sebelumnya Ruwi-Mwasalat Bus Station mulai diselimuti gelap, hanya sisa semburat senja saja yang memiliki dominasi akhir di atas atap alam terminal bus terbesar di kawasan Ruwi tersebut. Degup jantungku perlahan melambat usai mendudukkan diri di sebuah bangku terminal, beberapa waktu sebelumnya aku berjibaku di sepanjang Al Fursan Street dengan langkah super cepat demi mendahului…

  • <—-Previous Story I staggered and grabbed any handles when I suddenly woke up from sleep and headed straight for the shared bathroom when my eyes hadn’t been fully opened. That was because I stared at the clock on the wall perched at half past eight. “Damn”, I cursed my waking up too late. At dawn,…

  • <—-Previous Story In the afternoon….It was a quarter to six…. I sat in the front seat on the left when Bas KITē slowly left the Tamadun Islam Park complex. Via the only connecting bridge, Bas KITē completed its wheel loop over Wan Man Island. Now the Bas KITē would complete the remaining half of the…

  • <—-Previous Story Almost five o’clock in the afternoon…. I was still guessing, who could be, one of three drivers who would make the last trip of Bas KITē Lane C02. They were joking and intimately chatting at the coffee shop in terminal corner. I kept watching from the waiting bench behind the Bas KITē queue…

  • <—-Previous Story I sat down and intensely watched the vehicles on Batu Buruk Street from under Rhu trees when the congregation for the Dhuhr prayer began to arrive. Some of them smiled when they saw me who was still sitting on the grass of Floating Mosque’s Ramadhan Bazaar. A few minutes after the iqamah was…

  • <—-Previous Story Failing to get off at Batu Burok Beach due to entrusted my trip too much to the Bas KITē driver, I was dropped off at my second target destination. It was Tengku Tengah Zaharah Mosque, the first floating mosque in my neighboring country. Bas KITē stopped on the north side of the parking…