Empat puluh lima menit lamanya aku menghangatkan badan di Almaty Central Mosque…..
Bersembunyi di balik masjid telah menguak perangai pengecutku saat menantang suhu -13o Celcius di pusat kota Almaty.
“Kau ingin terus bersembunyi di masjid atau melakukan eksplorasi, Donny?” naluri petualangku mulai melontarkan komplain.
Tanpa pikir panjang pun, aku segera menuruni lantai atas menuju pintu keluar masjid, mengenakan sepasang sepatu boots coklatku dan pergi meninggalkan Almaty Central Mosque.
Aku melanjutkan langkah menuju selatan, menelusuri Pushkin Street, jalanan dua arah dengan tiga jalur di masing-masing arahnya dan di kedua ruasnya dipisahkan bidangan rerumputan yang lebar. Tapi dimana saja sama, semua permukaan selain jalan raya sempurna tertutup salju. Di beberapa sisi jalan, tampak dimanfaatkan pedagang kaki lima untuk menjual pakaian dengan lapak sederhananya. Nama Pushkin sendiri merujuk pada sastrawan terkenal Russia yang berkarya pada Abad ke-19, nama lengkapnya adalah Aleksandr Sergeyevich Pushkin.
Berselang lima ratus meter, aku merubah arah menuju timur di sepanjang Zhibek Zholy Street, jalanan satu arah menuju timur dengan tiga ruas.
Kamu tahu makna Zhibek Zholy?
Ini adalah nama untuku Jalur Sutera dalam Bahasa Kazakhstan. Dahulu Jalur Sutera ini melewati sisi selatan negeri Kazakhstan dan yang perlu kamu tahu, Almaty adalah kota terbesar yang terletak di bagian Selatan Kazakhstan. Almaty juga pernah menjadi ibukota sebelum dipindah ke Kota Astana di utara Negeri “Tanah Perawan” ini.
Dalam tiga puluh menit, akhirnya aku tiba tepat di depan Green Bazaar, pasar terbesar di Almaty yang telah berusia satu setengah abad. Aku yang tak tahan dengan dingin segera memasuki area pasar.
Di dalam pasar….
Sejauh mata memandang, segenap pedagang di dalam pasar mengenakan rompi serba hijau bertuliskan “Көк базар” (baca: Kök bazar). Lapak-lapak pedagang tersusun rapi dan ubin selalu dipertahankan kering dan bersih. Sementara itu, arsitektur bangunan pasar memfungsikan jendela dan atap kaca menjadi sumber cahaya alami untuk menerangi seisi ruangan pasar.
Ketika memasuki pintu pasar. Aku mengambil posisi berdiri di salah satu spot. Sontak para pedagang melambai-lambaikan tangan kepadaku dengan harapan aku berbelanja di lapak-lapak mereka. Untuk menghindari panggilan-panggilan itu, aku memutuskan berjalan berkeliling, mengunjungi lapak demi lapak yang menjual berbagai macam kebutuhan rumah tangga.




Ada satu momen menarik ketika aku sedang asyik mengeksplorasi seisi pasar, tetiba datanglah seorang berbusana Sinterklas dan seorang pengawal cantiknya. Sinterklas itu bernyayi menghibur para pedagang serta mengucapkan selamat Natal kepada semua pengunjung.
Aku turut larut dalam kemeriahan itu dan mengikuti pergerakan Sinterklas ke berbagai sudut pasar bersama pengunjung lainnya.
Lelah berkeliling pasar…Aku pun merasakan lapar ketika waktu telah menunjukkan pukul satu siang.
Aku yang kelaparan akhirnya memutuskan untuk membeli sepotong sandwich dari sebuah outlet roti di depan pasar. Aku menebusnya dengan harga 550 Tenge (atau senilai Rp. 17.000) dan juga membeli secangkir teh manis seharga 150 Tenge (atau senilai Rp. 5.000) dari ibu pedagang keliling menggunakan kotak dorong di sekitar pasar. Suhu yang sangat rendah membuat teh hangat yang kubeli cepat mendingin, aku pun menyeruputnya cepat-cepat.
Secangkir teh itu akhirnya mengakhiri eksplorasiku di Green Bazaar.
Lalu baiknya bagaimana setelahnya, aku harus melangkah kemana lagi ya?
Leave a comment