Aku melangkah penuh kepayahan karena tebalnya busana yang kukenakan. Melewati jalur pedestrian lebar bardasar pavling block berwarna merah yang membelah salah satu sisi jalan yang tertutup sempurna oleh lapisan salju, salju itu menumpuk hingga memenuhi sepanjang saluran drainase.
Sementara itu di sisi lain jalan, kendaraan alat berat wheel loader buatan Tiongkok sangat sibuk membersihkan jalanan dari lapisan salju yang bisa membahayakan para pengemudi kendaraan.

Jalanan masih sepi menjelang pukul sebelas siang, satu dua warga lokal tampak berjalan menuju tempat kerjanya masing-masing. Beberapa anak kecil tampak keluar dari apartemennya dan bermain di playground penuh salju, salah satu dari mereka iseng merontokkan salju di pohon berketinggian rendah, membuat baju teman-teman sebayanya terguyur butiran salju, gelak tawa mereka membuat suasana pagi itu menjadi ceria.
Aku terus menelusuri Abylai Khan Avenue menuju selatan, jalanan dua arah dengan enam jalur. Di setiap sisi jalan, berderet pepohonan besar yang berdiri kokoh dengan dedaunan yang meranggas karena musim dingin.
Menemui perempatan pertama, aku merubah arah menuju timur menelusuri Manshuk Mametova Street. Setahuku, jalan ini didedikasikan untuk Sersan Senior Manshuk Mametova, seorang pahlawan Uni Soviet asal Kazakhstan yang meninggal pada pertempuran Nevel pada tahun 1943 melawan invasi Jerman saat bertugas di kesatuan meriam mesin.

Manshuk Mametova Street adalah jalanan dua arah dengan empat jalur. Di beberapa sudut jalan ini, aku menemukan sisa-sisa gelas kopi dan rokok yang tergeletak begitu saja di tempat duduk yang berada di jalur pedestrian. Suasana pagi yang super dingin tentu akan menjadi lebih hangat dengan menyeruput secangkir kopi dan menghisap asap tembakau dari sepotong sigaret.
Inilah ruas jalan sebagai salah satu akses yang akan kulalui demi menuju Almaty Central Mosque, bangunan ibadah berkapasitas tujuh ribu jama’ah dan berada di situs masjid tertua di Almaty dengan usia situs mencapai 134 tahun.
Tujuanku yang sebenarnya adalah Green Bazaar yang merupakan pasar tradisional utama di kota Almaty. Tetapi karena suhu yang terlalu dingin, aku memutuskan transit terlebih dahulu di masjid sentral itu untuk menghangatkan badan.
Aku tiba di masjid dalam dua puluh menit perjalanan dari penginapan. Mengambil beberapa potret dari sisi jalan, aku akhirnya memutuskan untuk memasuki masjid dan segera mengambil air wudhlu lalu menunaikan shalat tahiyatul masjid.


Setelah memanjatkan doa usai shalat, aku sejenak menyandarkan tubuh pada salah satu sisi tembok dan menikmati hangatnya ruangan, sangat berbeda dengan kondisi di luar yang dingin menusuk. Sempat terlelap sejenak, aku lalu terjaga dan bangkit, berjalan perlahan menaiki tangga menuju lantai kedua. Mengambil satu kitab suci Al Qur’an dan membaca beberapa ayat di masjid sentral itu.
Tempat yang hening untuk beribadah dan sekaligus menghangatkan badan.
Leave a comment