<—-Kisah Sebelumnya

Gemeretak gigi mengiringi langkahku meninggalkan Almaty International Airport. Gentar mulai menggoda nyali, membuat imajinasiku menuju Tahar Hotel menjadi sulit.

Dalam gulita malam, aku membalikkan badan, mengamati sejenak keindahan bangunan terminal bandara yang sedari beberapa bulan sebelumnya hanya bisa aku kagumi dari halaman muka berbagai web pariwisata internasional. Nameboard dengan aksara Kiril itu menjadi focal point versiku sendiri.

Aksara itu berbunyi:

Drop-off Zone Almaty International Airport.
Parking lot Almaty International Airport.

Aku mencoba mengatasi ketakutan diri demi menuju kota. Mencoba menipu diri dengan cara mengambil beberapa panorama bandara kaya pelita demi menjadikannya sebagai memori perjalanan. “Belum tentu aku akan menyambangi kota ini di lain waktu”, aku bergumam.

Di lain sisi, setahuku ada banyak kamar apartemen berharga tak begitu mahal di dekat bandara yang terus aku pantau di sebuah aplikasi e-commerce penginapan terkenal. Sedari sebelum berangkat berpetualang, aku pernah tergoda untuk transit menginap di apartemen itu, mengingat bahwa aku akan tiba di Almaty International Airport pada malam hari dengan suhu udara akan jatuh di bawah nol derajat Celcius.

Tapi aku mengurungkan niat dengan mencoba nekat untuk tetap menginap di kota walaupun harus dengan susah payah melawan beku sekaligus menguji nyali dalam gelap untuk menggunakan transportasi umum kota Almaty menuju pusat kota.  

Dalam langkahku…..

Aku melihat keberadan airport bus berkelir hijau di sisi barat bandara. Aku mencoba mendekat dan menemukan mesin bus dalam kondisi mati. Sang sopir pun tidak berada di belakang kemudi, menunjukkan bahwa operasional bus sedang berhenti untuk beberapa waktu. Hal yang menjadi masalah adalah aku mulai menggigil hebat ketika berdiri di halte bus yang terbuka, sedangkan di sisi lain, penduduk lokal tampak santai-santai saja menunggu bus kembali beroperasi.

Aku mencoba bercakap dengan seorang penumpang wanita, menanyakan kenapa bus itu tidak segera beroperasi padahal penumpang sudah menunggu selama lima belas menit dalam dingin di halte. Keterbatasan bahasalah yang mungkin menyebabkan mereka tak memahami pertanyaanku dan dia lebih memilih diam seribu bahasa sambil memandangiku dengan tatapan aneh.

Beruntung beberapa menit kemudian, lampu bus menyala dengan terang, pertanda bahwa bus siap berjalan. “Tapi itu bukan bus yang tadi, itu cahaya dari bus di belakang”, aku membatin. Tanpa disadari, airport bus dengan kelir sama datang dari ujung jalan. Nomor 92 tampak jelas terpampang di kaca depan. Maka aku dengan yakin melompat masuk melalui pintu depan ketika bus berhenti tepat di depan halte.

Begitu di dalam bus, aku segera membuka aplikasi ONAY. Me-scan barcode pada ONAY Yellow Validator Machine yang diinstall di salah satu tiang kabin. Saldo pada aplikasi ONAY pun berkurang 80 Tenge, pertanda aku sudah membayar ongkos bus.

Aku duduk di bangku tengah, tak begitu mempedulikan laju bus saat membelah jalanan kota. Aku berfokus pada layar telepon pintar di tangan, memerhatikan dengan seksama pergerakan bus menuju ke Distrik Almaly, area dimana hotel yang akan kuinapi berada.

Interior kabin Airport Bus No. 92 Almaty

Hingga pada suatu waktu, seorang wanita muda berwajah cantik menegurku.

Hi Sir, seat pleae !”, dia menatapku dingin dan menunjuk kepada seorang ibu tua yang baru saja masuk dari pintu tengah.

Aku cukup paham apa maksudnya.

Oh, I’m sorry….I didn’t see….Please sit, Mom”, aku bangkit berdiri dan mempersilahkan ibu tua itu untuk duduk di bangkuku.

Aku pun berdiri di bagian tengah kabin, menaruh backpack dan mulai menikmati suasana gemerlap kota seiring dengan laju bus.

Pukul 18:30, aku tiba di Distrik Almaly……

Aku memutuskan turun di sebuah halte di bilangan Rayimbek Avenue….Rayimbek pada nama jalan arteri ini merujuk pada tokoh pahlawan nasional Kazakhstan Raiymbek Batyr, founding fathernya bangsa Kazakhstan.

Nah itu dia Airport Bus No. 92 Almaty
Halte bus tempatku diturunkan.
Penyeberangan bawah tanah di Rayimbek Avenue.
Abylai Khan Avenue….Jalan menuju Tahar Hotel.
Salju menyelimuti setiap ruang terbuka di Almaty.

Jalanan sudah mulai sepi

Aku pun mulai berpikir keras, harus menuju ke arah mana demi mencari keberadaan Tahar Hotel ??.

Kisah Selanjutnya—->

Posted in , , , ,

4 responses to “Airport Bus No. 92 Almaty”

  1. Tahar Hotel: Memenangi Suhu 7 Derajat Celcius Avatar

    […] ← Almaty International Airport: Why Atyrau?Airport Bus No. 92 Almaty → […]

    Like

  2. Dwi Avatar
    Dwi

    Apakah pada saat turun bus harus tap kartu/app juga?

    Like

    1. travelingpersecond Avatar

      Saat turun tidak perlu tap kartu kak😊

      Like

Leave a comment