<—-Kisah Sebelumnya

Pramugari telah membuka pintu kabin bagian depan dan juluran aerobridge telah menempel di badan pesawat. Aku berdiri dari tempat duduk bernomor 15C, merengkuh backpack di kompartemen bagasi di atas dan bersiap diri untuk keluar dari kabin.

Tepat pukul setengah empat sore….

Aku akhirnya menginjakkan kaki di bangunan terminal Almaty International Airport, bandara terbesar di Kazakhstan. Sedangkan dalam sejarah petualanganku, bandara ini menjadi bandara ke-38 dari keseluruhan 46 bandar udara di luar negeri yang pernah aku sambangi.

Menyusuri lorong di sepanjang aerobridge sangatlah tampak bahwa Almaty International Airport sedang berbenah diri. Deretan scaffolding berjajar rapat untuk proyek renovasi di ujung bangunan terminal.

Aku mulai memasuki arrival hall yang bentangan dinding kacanya mirip dengan bentangan yang sama milik Soekano-Hatta International Airport, tinggi menjulang dengan jorokan kemiringan yang sama. Tampak gagah dan elegan.

Seperti kebiasaan yang sudah-sudah, aku sengaja berdiri terdiam di sebuah titik koridor, menghadap ke arah kaca lalu mengamati aktivitas unloading di bawah kaki-kaki raksasa Uzbekistan Airways HY 763. Hal demikian sudah menjadi ritual bagiku ketika turun dari sebuah penerbangan sejak 2011. Untuk sementara waktu, aku benar-benar mengagumi bentuk Airbus A320neo yang terparkir tepat di hadapan.

Menyusuri aerobridge menuju bangunan bandara.
Pemandangan di apron.
Mirip Terminal 3, Soekarno Hatta International Airport kan?
Itu dia, Uzbekistan Airways HY 763, menggunakan Airbus A320neo.

Usai menuntaskan kebiasaan itu, aku kembali melangkah menyusuri jalur arrival hall yang pada ujung jalurnya menggiringku untuk menuruni tangga melingkar demi menggapai immigration zone.

Dalam beberapa menit kemudian, aku tiba di salah satu antrian imigrasi. Sementara itu, deretan konter imigrasi berbentuk box dijaga oleh petugas imigrasi berseragam hijau layaknya tentara.

Aku memperhatikan lekat-lekat salah satu petugas imigrasi berbadan mungil, tidak terlalu tinggi, berwajah khas Kaukasus tetapi bermata sipit. Memag berdasarkan literatur yang kubaca, paras warga Khazhakstan adalah perpaduan antara wajah Kaukasus dan Mongolia. Itu semua adalah pengaruh dari kolonialisme yang dilakukan oleh Jenghis Khan di Kawasan Asia Tengah di awal Abad ke-13.

Beberapa kali beberapa petugas imigrasi itu membuatkan jalur khusus untuk mendahulukan pelancong yang membawa anak-anak demi menghadap ke konter imigrasi. 

Drama lain yang terjadi di immigration zone adalah tertahannya dua pria India yang menghadap konter imigrasi berbeda dalam waktu bersamaan, keduanya sepertinya melakukan perjalanan bersama, hal itu terlihat dari akrabnya mereka bercakap-cakap ketika pada akhirnya diinterogasi secara bersamaan di salah satu konter imigrasi secara terpisah.

Namun belum juga usai dua pria India itu diinterogasi, tibalah giliranku untuk menghadap konter imigrasi. Aku menghadap ke staff imigrasi wanita di salah satu konter. Sempitnya tempat berdiri diantara dua konter membuatku harus menghadap staff imigrasi dengan posisi miring, untuk kemudian kuserahkan paspor kepadanya

What are you visiting Kazakhstan for?”, staff imigrasi wanita memulai percakapan.

Tourism, Mam”, aku berucap lantang.

Show your return ticket, please!

Maka kuserahkan e-ticket Air Astana yang telah kupesan kepadanya.

Why should you transit in Atyrau before going to Istanbul?”, dia kembali melontarkan pertanyaa.

“Because that is the cheapest route to Istanbul from Almaty”, aku menjelaskan singkat.

Setelah jawaban terakhir itu, akhirnya petugas imigrasi wanita itu membubuhkan arrival stamp di pasporku.

Conveyor belt area.
Conveyor belt area.

WELCOME ALMATY

WELCOME KAZAKHSTAN

Kisah Selanjutnya—->

Posted in , , ,

4 responses to “Almaty International Airport: Why Atyrau?”

  1. christinenovalarue Avatar
    christinenovalarue

    ✈️

    Like

    1. travelingpersecond Avatar

      Thanks Christine 💕

      Like

  2. Uzbekistan Airways HY 763: Gelisah Menuju Almaty Avatar

    […] ← Wat Chedi Luang (2): Ladyboy Super AnggunAlmaty International Airport: Why Atyrau? → […]

    Like

Leave a comment