Maestro Travel dari Bukittinggi ke Padang.

Begitu mudahnya memesan jasa travel dan bus di Sumatera. Angkat telepon, sebut tujuan, sampaikan jam keberangkatan lalu tanyakan jam berapa mesti bersiap diri di kantor travel atau bus !….Tak perlu bayar di muka….Maka kamu akan tiba di tujuan jika tak telat datang.

Bus INTRA dari Pematang Siantar ke Pekanbaru….

Travel Annanta dari Pekanbaru ke Bukittinggi….

Kini prosedur mudah itu terulang untuk Maestro Travel dari Bukittinggi ke Padang….

—-****—-

Hari terakhir di Bukittinggi atau jika dihitung dari awal keluar rumah adalah hari keenamku di tanah Sumatera, aku mengisahkan perjalananku bersama Maestro Travel ketika mulai menelfon staff front office perempuan pada jam delapan pagi di hari keberangkatan.

Nanti duduk di bangku paling belakang dan datang setengah jam sebelum keberangkatan ya, Uda. Siapkan ongkosnya Rp. 40.000 saja !”, ucapnya singkat.

—-****—-

Aku tergopoh menuju De Kock Hotel setelah kunjungan terakhirku di Taman Panorama. Tak sempat mandi lagi, fikirku hanya satu, malam nanti aku akan tiba di Jakarta dan akan berendam air hangat di ember rumah saja….Sepuasnya….Hahaha.

Vixion hitam menjemputku di teras hotel kemudian melaju kencang menembus kepadatan Jalan Sudirman menuju kantor Maestro Travel yang berjarak tiga kilometer. Dalam lima belas menit aku tiba. Memasuki kantor, aku disambut wanita muda berjilbab, kuserahkan ongkos lalu kugenggam selembar tiket menuju ke Padang,

Masih tersisa 20 menit sebelum travel tiba. Menurut petugas front office itu, mobil masih berkeliling menjemput penumpang di rumahnya masing-masing. Kuputuskan saja untuk menyambangi sebuah warung nasi di sekitaran kantor dan memesan seporsi pecel ayam dan segelas air putih. Kali ini aku sangat cepat menyantapnya, seperti ular menelan seekor landak…ehhh.

Aku tiba kembali di kantor travel dalam kondisi mobil sudah siap dan semua penumpang tampak melihat ke arah kedatanganku. Rupanya aku ditunggu semua penumpang, semoga mereka tak kesal.

Kursi tengah dan sebelah sopir diduduki oleh sepaket keluarga kecil. Suami-istri, putrinya yang mungil dan ibu mertua sang suami. Sementara aku duduk di belakang bersama seorang bule Slowakia bernama Boris. Seorang tukang pos muda, berkepala plontos, berbadan kurus dan hobi mencari kesunyian.

Di jok belakang kami bercakap sepanjang perjalanan. Cerita dimulai dengan kesan perjalanannya di Kazakhstan dimana tak ada seorangpun yang mengganggunya ketika dia naik gunung sendirian. Kemudian berlanjut pada sifatnya yang akan merasakan pening ketika bekerja di kantoran, oleh karenanya dia memilih menjadi tukang pos saja di Slowakia.

Why is this car passing a small road like this? Can we arrive at the airport on time?”, ketusnya kepadaku.

I think that driver is trying to get through the faster road, Boris …. Hahaha”, celetukku kepadanya.

If he fails, It’s not funny….Not funny”, dia terserang panik. Memang jadwal terbangnya hanya berselisih satu jam dari waktu estimasi tiba yang dituturkan google maps dalam smartphoneku.

Kucoba mengalihkan perhatian dengan terus bercakap. Entah aku memulai dari mana hingga aku bisa membicarakan Titik 0 km Indonesia di Sabang, Kawah Ijen, Probolinggo, e-commerce Lazada hingga iPhone bekas yang menurutnya murah jika dibeli di Indonesia. Satu lagi, kami membahas perihal penerbangan langsung dari Manado ke Manila. Hingga si kepala keluarga yang duduk di sebelah sopir ikut berbincang dan menjelaskan bahwa penerbangan itu tidak ada.

Aku melewati air terjun di tepian jalan, aku tahu itu Air Terjun Lembah Anai. Artinya aku sudah berjarak empat puluh kilometer dari kota Padang. Boris memintaku untuk menghentikan sopir dan mengizinkannya untuk berbelanja air mineral, mahal katanya jika harus membelinya di bandara. Kufikir tak perlu berhenti, aku punya persediaan air mineral kemasan yang banyak. Hasil mengumpulkannya dari Hotel Sri Indrayani di Pekanbaru, Travel Annanta dan De Kock Hotel di Bukittinggi. Kuberikan dua botol kepadanya. “I really appreciate you, Donny….very much appreciate”, katanya sembari menepuk-nepuk lenganku.

Itulah kata perpisahanku dengannya, dia harus turun di Minangkabau International Airport dan menuju ke Malang. Sepaket keluarga itu akan pergi ke Bandung.  Sementara aku akan menuju pusat kota Padang untuk mengekplorasinya selama empat jam, mengingat aku akan pulang ke Jakarta pada pukul delapan malam.

Sisa Jepang di Taman Panorama

Pengemudi wanita paruh baya itu menjemputku di  Rumah Makan “Gulai Itiak Lado Mudo Ngarai”.

Aku: “Ibu, tadi sudah saya cancel karena terlalu lama, tapi saya juga belum berhasil memesan ojek yang lain sih, bu

Ibu Ojek: “Di aplikasi saya belum ter-cancel, uda. Saya terjebak kemacetan karena ada mobil mogok di tanjakan atas. Ayo, naik aja, Uda. Disini susah signal, nanti malah ga dapat ojek lagi, lho”.

Tanpa fikir panjang, aku bergegas duduk di jok belakang dan menolak menggunakan jas hujan yang disodorkan si ibu karena kuyakin gerimis lembut itu tak akan membuatku kuyup.

Melawan arah datang dan berbelok ke kanan ketika berada di puncak Jalan Binuang yang terpotong oleh sebuah perempatan, kemudian aku menelusuri nama jalan yang sama dengan nama taman kota yang sedang kutuju.

Si ibu tepat menurunkanku di depan pintu masuk taman yang sangat ramai pengunjung. Kuselipkan selembar lima ribuan di dashboard motornya sebagai uang tip walau dia menolak dengan gigihnya. Salut dengan ibu ini.

Waktu yang tak sebanyak pengunjung lain, membuatku berjalan terburu menuju konter penjualan tiket masuk yang terlindungi oleh atap dengan tiga pucuk gonjong, lalu menukarkan uang Rp. 15.000 untuk mendapatkan akses masuk.

Lobang Jepang adalah situs pertama yang kucari begitu memasuki area taman. Aku begitu penasaran dengan bentuk lubang pertahanan terpanjang di Asia itu. Tak susah menemukannya, patung dua serdadu Jepang yang berdiri berlawanan arah menjadi penanda keberadaannya.

Patung dua serdadu Jepang.

Tampak sebuah rombongan wisata menutup mulut Lobang Jepang karena khusyu’ mendengar pengarahan dari seorang pria pemandu wisata. Tampak pula sebuah denah yang menggambarkan jalur di dalam lobang pertahanan itu.

Pintu masuk Lobang Jepang.

Sementara di sebelah kanan pintu masuk tampak area utama taman yang didominasi oleh lantai keramik yang membentuk sebuah podium pertunjukan dengan salah satu sisi berupa titik pandang Ngarai Sianok dan Gunung Singgalang.

Bayar lagi ya kalau ambil foto di view point ini.

Di beberapa spot tampak disediakan kanopi taman dengan empat pucuk gonjong. Kontur topografi Bukittinggi yang berbukit lembah tampak digambarkan oleh bentuk taman ini. Satu sisi taman tampak berada lebih tinggi dari sisi yang lain, tak hayal banyak disediakan tangga untuk mempermudah pengunjung untuk mengakses setiap sisi taman

Area utama.
Podium.

Sementara di sisi kiri, tersedia ruang datar yang difungsikan untuk taman bermain anak dengan pusat sebuah pilar tunggal. Tampak pula sebuah musholla mungil berdinding kaca berada tepat di sisi area bermain anak.

Area bermain anak.
Aula dan musholla.

Inilah Taman Panorama yang menjadi penutup kunjunganku di Bukittinggi. Sekiranya aku akan datang kembali ke kota ini jika ada kesempatan. Aku akan kembali untuk menikmati nikmatnya Nasi Kapau kota ini.

Saatnya berkemas dan menuju ke Kota Padang.

Ada apa saja di Padang?….Yuk ikut aku.

Ngarai Sianok, Patahan Alam yang Sempurna

Bertaruh dengan hujan, kutinggalkan Kinantan Zoo. Kufikir akan sangat merugi untuk melepas begitu saja pesona patahan alam yang dimiliki Kota Bukittinggi itu. Undur diri melalui alur yang sama sedari memasuki Fort de Kock, Jembatan Limpapeh dan TMSBK, kini aku sudah berdiri lagi di gerbang terdepan benteng persegi itu.

Anak muda usia datang dengan senyum menghampiriku. Dialah ojek online yang kunanti untuk mengantarkanku ke tujuan berikutnya. Dalam perjalanan cepat itu, dia berujar “Uda, di bawah signal akan jelek, jika mau di jemput pulang setelah selesai berkunjung, saya siap ambil”. Karena sifatku yang tak mau diburu-buru untuk menikmati sesuatu, apalagi tentang keindahan alam maka aku menolaknya halus.

Jalan Dr. Abdul Rivai sudah selesai kulewati hingga ujung. Itulah nama jalan untuk mengenang seorang Bumiputera yang pernah berjuang melawan kolonialisme Belanda melalui ranah jurnalistik. Selanjutnya jalanan mulai menukik tajam ketika haluan berubah ke kanan.

Perjalanan menukik sejauh satu kilometer itu tersuguhkan pemandangan lembah yang sungguh mempesona di kiri-kanan Jalan Binuang. Janjang Koto Gadang bak miniatur Tembok Besar China tampak dalam sekelebat mata. Aku tak punya waktu lagi untuk melongoknya karena harus bertaruh dengan jadwal jasa travel menuju ke Kota Padang.

Selamat Datang di Kenagarian Sianok Anam Suku”, tertulis di bagian atas sebuah gapura tepat di tengah jembatan penghubung dua sisi lembah yang terpotong oleh Sungai Batang Sianok. Di tiang kanan memberitahu bahwa aku sedang berada di Kecamatan IV Koto, sedangkan tiang sebelah kiri memberitahu bahwa aku berada di Kabupaten Agam.

Sungai Batang Sianok yang dangkal.

Sungai selebar dua puluh meter itu sepertinya tak pernah murka meluapkan air. Perkiraanku itu sangat beralasan dengan keberadaan bangunan semi-permanen bahkan permanen di tepian sungai. Dan entah, endapan tanah berpasir di tengah sungai itu dihantarkan dari mana oleh arus sungai.

Sisi lain Sungai Batang Sianok.

Tak bisa kubayangkan bagaimana dua sisi tebing yang awalnya menyatu itu kemudian bergeser berlawanan arah membentuk patahan tegak lurus sempurna dan menciptakan lembah memanjang yang kemudian diinvasi oleh air untuk membentuk sebuah sungai alami.

Dan….Hujan lebat pun sungguh turun…..

Membuatku terbirit meninggalkan ngarai dan mencari tempat berteduh.  Teras “Rumah Makan Gulai Itiak Lado Mudo Ngarai” menjadi tempat nyaman untuk berteduh walau aku terus diawasi oleh pemiliknya lekat-lekat. Akhirnya kuberanikan diri meminta izin untuk berteduh sementara.

Benar adanya, aku benar-benar tak mendapatkan signal untuk memanggil ojek online ketika hujan mulai mereda. Aku berusaha mencari pijakan yang lebih tinggi untuk kemudian mendapat dua bar signal cell. Susah payah kupesan ojek online yang berkali-kali tertolak. Hingga akhirnya, pada panggilan kelima aku dijemput oleh seorang ibu paruh baya dengan scooter maticnya dan mengantarkan ke destinasi terakhirku di Bukittinggi.

Ngarai Sianok tertangkap dari Taman Panorama.
Pemandangan Ngarai Sianok berlatar Gunung Singgalang….Cantik bukan?

Lajur Budaya dan Edukasi di Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan

Langkah tanggungku di ujung timur Jembatan Limpapeh menjadi tak terbendung. Di bukit Cubadak Bungkuak, aku menyusuri  lajur paving block bermotif diagonal kuning dan sebagian besar berpagar hijau di kiri kanan. Untuk kemudian berbaur dengan keramaian pengunjung yang sedang menikmati display beragam satwa lucu.

Deretan aves menyambut langkah pertamaku ketika memasuki kebun binatang yang sudah berusia lebih dari seabad itu. Berirama dalam lingkar sangkar besi adalah cara para aves menghibur para pengunjung.

Burung Kuau asal Taiwan.
Dua ekor merak.

Sementara rodentia (hewan pengerat) hadir di sisi lain. Ancaman durinya terpaksa ditahan dengan tembok beton yang berkombinasi dengan pagar besi di atasnya. Berumahkan telungkup batang pohon buatan dengan lubang di beberapa sisi.

Landak lucu sedang bersiap untuk sarapan.

Membuktikan diri sebagai kebun binatang dengan koleksi terlengkap di tanah Sumatera, sekawanan primata menyambut di pertengahan area. Beberapa monyet ekor panjang tampak tak peduli dengan kedatangan para pengunjung karena kesibukannya memakan buah favorit.

Cuek ntuh…..

Sebelum memasuki titik paling mencolok, tampak seekor gajah berbelalai albino lengkap dengan dua gading panjangnya sedang berkeliling sangkar raksasa untuk menjangkau siraman sinar matahari pagi.

Tepat di sebelah kanan sangkar gajah, tampak bangunan adat Minangkabau dengan tiga puncak gonjong di kedua sisi dan disempurnakan dengan gonjong utama di serambi. Beratapkan ijuk, berdindingkan kayu ukir serta berlantai panggung. Memiliki panjang hampir lima puluh meter dan lebar sekitar dua puluh meter, Rumah Adat Baanjuang ini tampak gagah di pusat Kinantan Zoo.

Cagar budaya berusia 85 tahun.

Terus menerobos ke timur, sebuah surau bertembok putih-beratap hijau tampak menjadi penengah letak antara Rumah Adat Baanjuang dan Museum Zoologi di ujung tertimur.

Surau mungil.

Museum Zoologi itu sendiri berwarna hijau dengan patung harimau sumatera di atapnya. Di kanannya, bangunan berwujud ikan mas difungsikan sebagai pertunjukan aquarium.  Museum yang didirikan bersamaan dengan museum sejenis di Bogor pada 1894 ini memiliki koleksi dua ribu spesies hewan yang diawetkan dan dipamerkan.

Museum Zoologi.

Kinantan Zoo yang bernama resmi Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan (TMSBK) ini pernah memiliki beberapa nama beken seperti Strompark, Taman Puti Bungsu, Kebun Binatang Bukittinggi dan Fort de Kocksche Dieren Park. Didirikan oleh Storm Gravenande, seorang Belanda yang pernah menjabat sebagai Asisten Residen Agam.

Tak hanya satwa yang kusebutkan diatas, TMSBK memiliki beberapa satwa lain seperi rusa tutul, onta, harimau, orang utan, siamang, binturung, buaya, ular dan masih banyak lagi. Perlu waktu lebih panjang supaya kita bisa lebih detail mengunjungi keberadaan satwa di kebun binatang ini.

Silahkan berkunjung ke sini ya jika kalian berada di Bukittinggi.

Jembatan Limpapeh, Jirek dan Cubudak Bungkuak

Burung trulek menutup kunjunganku di Fort de Kock.

Masih ada waktu”….Batin terus memaksa langkah.

Tiket TMSBK digenggaman, lalu di ujung Fort de Kock aku meyaksikan keramaian di bukit sebelah. Sementara fikiran terus membayangkan eloknya Ngarai Sianok, sedangkan segantung jembatan ikonik menyambutku di depan pandangan.

Aku tak bisa mengelak pesonanya…..

Enam Atap Gonjong di pusat, empat utas baja raksasa menahan deck bridge sepanjang 90 meter. Menghubungkan gagahnya dua bukit yang cukup tenar di Bukittinggi yaitu Bukit Jirek dan Bukit Cubudak Bungkuak dengan lebar pijakan 3 meter.

Adalah Jembatan Limpapeh yang nampak perkasa mengangkangi Jalan Ahmad Yani. Telah berjasa selama 28 tahun dalam menghubungkan Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan dengan kawasan benteng Fort De Kock.

Jembatan Limpapeh sendiri adalah penyambut pertama kedatanganku di Bukittinggi sehari sebelumnya. 

Limpapeh” sendiri berarti “Tiang Tengah”. Keunikan jembatan ini adalah selain berada di tengah struktur, pier kembarnya juga membatasi kedua sisi Jalan Ahmad Yani sehingga membentuk sebuah gate penyambut tamu kota di jalan protokolnya.

Jembatan Limpapeh dengan enam gonjong dua lapis.

Sedangkan pada kunjungan keduaku di malam hari pertama, aksara “Jembatan Limpapeh” yang bersinar merah menyala terhiasi dengan siraman cahaya ungu di kedua pilar kembarnya. Benar-benar menjadi pintu kota yang sangat indah di pandang mata.

Di malam hari, Jembatan Limpapeh menjadi penyedap aktivitas kuliner di daerah yang terkenal dengan nama Kampung Cino.

Seperti Janjang yang tersebar di banyak sudut kota, penghubung cantik ini juga merupakan manifestasi integrasi fasilitas kota. Adalah wisata Fort de Kock dan wisata Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan (TMSBK) yang menjadi obyek terekspose dari alasan pembangunan jembatan ini. Memudahkan para turis untuk berwisata di kota berjuluk Parijs van Sumatra ini.

Atap gonjong dengan motif batik bunga.

Demi menjaga keamanan dan merawat usia pakai jembatan, pengelola wisata hanya memperbolehkan maksimal 200 pengunjung yang bisa secara bersamaan berada di atas jembatan ini dan setiap pengunjung hanya boleh berfoto diatas jembatan selama maksimal 3 menit saja. Hayu….Taat aturan ya kalau berwisata kesini….Hehehe.

Gunung Marapi berselimut kabut dipandang dari atas jembatan.

Akhirnya aku berkesempatan menikmati pemandangan kota mungil yang pernah menjadi ibu kota Indonesia ini dari ketinggian. Bukan gedung pencakar langit yang tampak dalam pandangan, melainkan hamparan rumah warga, kios-kios perniagaan yang memanjang mengikuti lekuk demi lekuk Jalan Ahmad Yani serta dominasi pepohonan hijau yang diandalkan sebagai area resapan kota.

Gunung Sirabungan terlihat dari jembatan.

Menjadi sensasi tersendiri ketika berada di atas jembatan dalam kondisi yang terus bergoyang sebagai ciri khas sebuah jembatan gantung. Menjadi sebuah kepuasaan tersendiri ketika menikmati pesona kota Bukittinggi dari jembatan yang menjadi ikon unggulan kota setelah keberadaan ikon pertama mereka yaitu Jam Gadang.

Jadi….Kamu harus ke sini ya jika berwisata ke Bukittinggi.

Fort de Kock dan Perang Padri

Aku masih memandangi Rumah Kelahiran Bung Hatta itu dari trotoar Jalan Soekarno Hatta, Bukan tak rela meninggalkannya, tetapi aku terus berfikir bagaimana sebuah tim kerja membangun replika rumah itu dengan persisnya karena rumah aslinya sudahlah runtuh pada 1962 silam.

Melangkah kembali menuju arah semula datang, aku berbelok ke Jalan Pemuda setelah melewati Banto Trade Centre. Kaki ini masih kuat ketika dihadapkan pada jalan yang panjang meliuk, rela ku menyusurinya karena mata dimanjakan dengan bentangan sawah nan hijau dan arsitektur khas atap gonjong yang menghiasi bangunan-bangunan resmi milik pemerintah.

Atap gonjong di SDN 14 ATTS (Aur Tajungkang Tengah Sawah).
Taman Monumen BDB, simbol perlawanan rakyat menentang kolonialisme Belanda pada 15 Juni 1908.
Atap gonjong di RSUD Dr. Achmad Mochtar.

Sepertinya perjalananku akan memutar dan semakin mendaki, kakiku sudah tak sanggup lagi setelah lima hari sebelumnya selalu mengandalkannya untuk bereksplorasi di tanah Sumatera.

Sudah saatnya memanggil transportasi online untuk mencapai gerbang depan Fort De Kock. Tak sampai lima menit menunggangnya, aku menanjaki Bukit Jirek dan tiba di gerbang depan benteng.

Wekom in Fort De Kock”…..

Gerbang benteng.

Melewati gerbang, rumah makan Family Benteng Indah adalah penyambut pertama, lalu diteruskan oleh konter penjualan tiket. Walau aku mengunjungi Fort de Kock, namun wisata yang tertulis di dalam tiket adalah Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan dengan harga tertera Rp. 15.000.

Konter penjualan tiket.

Setelah melewati titik pemeriksaan tiket, kios pedagang makanan berderet di sisi kanan. Lalu sebuah kandang merpati endemik China jenis Junai Mas diletakkan di ujungnya. Setelahnya, aku baru bisa melihat bentuk asli benteng itu.

Itu dia wujud benteng mungil Fort de Kock.

Benteng Fort De Kock didirikan oleh Kapten Bauer sebagai kubah pertahanan Pemerintah Hindia Belanda dalam menghadapi perlawanan rakyat dalam Perang Padri yang dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol. Perang ini sendiri meletus di seperempat pertama Abad ke-19. Ketika itu Boan Hendrick Markus de Kock menjadi komandan Der Troepen sekaligus Wakil Gubernur Jenderal Pemerintah Hindia Belanda. Dari sinilah nama “Fort de Kock” berasal.

Meriam kuno tahun 1800-an di empat sudut benteng.

Bangunan utama benteng yang tak lebih dari 400 meter persegi ini terlihat kecil tapi sangat kuat secara fisik dan strategi. Secara bentuk fisik, banteng ini memiliki ketebalan dinding yang bagus dan secara strategis, benteng ini tangguh karena terletak tepat di puncak bukit, memudahkan siapapun mengamati gerak-gerik musuh di sekitar.

Lihat bagaimana tebalnya dinding benteng.
Lantai dua atau atap banteng.

Aku mencoba terus membayangkan bagaimana hebatnya sepak terjang Tuanku Imam Bonjol dalam memimpin kaum Padri melawan Kolonialisme Belanda. Hingga Belanda harus membangun benteng ini untuk mengamankan kekuasaannya dari rongrongan pemimpin karismatik itu.

Taman dilihat dari atas banteng.

Sepeda Ontel ala Pavilion Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta

Perpaduan kuning, biru dan oranye itu sedikit ternoda dengan kelupasan cat dinding Banto Trade Centre. Tetapi bukan itu fokusnya, jabat tangan Ramlan Nurmatias dan Joko Widodo lah yang dari tadi membuatku terpana. Sepertinya Walikota dan orang nomor satu negeri ini telah sepakat perihal peletakan batu pertama proyek revitalisasi Pasar Ateh….Syukurlah, Bukittinggi sedang giat membangun rupanya.

Sementara itu, pelataran Banto Trade Centre menjadi area niagawan sayur mayur untuk menjajakan dagangan diatas gerobak dan motornya. Lalu jauh di depan sana, masih di bilangan Jalan Soekarno Hatta, plakat emas “Adipura Kencana” dijunjung oleh tiang tunggal berwarna putih. Menunjukkan bahwa kota ini diakui kebersihan oleh seantero negeri.

Sekitar dua kilometer sajalah, avku tiba di sebuah mulut gang. “Gg Komp Sabar” begitulah aksara dalam plat nama berwarna hijau yang ditegakkan berdempat dengan tiang hitam berukuran lebih besar dengan aksara putih tebal “Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta Proklamator RI, Jl. Soekarno Hatta No. 37 Bukittinggi

Sebelas tahun Bung Hatta tinggal di rumah ini.

Adalah duplikasi arsitektur rumah aslinya yang apabila masih berdiri akan berusia 160 tahun. Sayang rumah itu telah runtuh di era 60-an, tetapi atas gagasan Ketua Yayasan Pendidikan Bung Hatta, dibangun ulanglah rumah itu.

Dibangun mengikuti lekuk aslinya, sesuai yang tergambar di memoir dan berbagai dokumentasi milik keluarga. Secara umum rumah ini juga dapat menggambarkan situasi dan kehidupan masyarakat masa lalu dan khususnya keluarga besar Bung Hatta.

Bangunan Utama

Rumah khas Bukittingi ini terdiri atas bangunan utama, pavilion, lumbung padi, dapur, kandang kuda, dan kolam ikan.

Bangunan utama sendiri terdiri dari dua lantai dan berada di bagian terdepan area rumah. Bangunan utama berfungsi untuk menerima tamu, ruang makan keluarga dan kamar tidur ibu, paman, dan kakek Bung Hatta.

Berikut sekilas pandang bilik-bilik pada kedua lantai bangunan utama:

Lantai 1.

Foto keluarga Bung Hatta.
Meja pertemuan keluarga.
Sumur.
Meja makan keluarga.

Lantai 2.

Kamar orang tua Bung Hatta, di ruangan inilah Bung Hatta dilahirkan.
Meja makan tamu.

Pavilion

Di belakang bangunan utama, dibangunlah sebuah pavilion. Bangunan tembok putih itu digunakan untuk ruang dapur, kamar tidur Bung Hatta, kamar mandi, kandang kuda dan ruang bendi. Dari ruangan kamar itulah, Bung Hatta memulai pendidikannya di Europese Lageree School (ELS) Bukittinggi. Di dalam kamar itu pula tersimpan sepeda ontel yang disebut sering dipakai Bung Hatta sehari-hari diberikan orang tuanya sejak usia 8 tahun.

Kamar Bung Hatta di dekat lumbung padi. Disebut sebagai Ruang Bujang.

Dia tinggal bersama sang kakek, Syech Adurrachman yang dikenal pula sebagai Syech Batuhampar. Sang kakek sendiri berprofesi sebagai kontraktor pos partikelir itu.

Di akhir kunjungan aku penasaran dengan profil Ma’ Etek Ayub sebagai sosok yang banyak membantu Bung Hatta dalam melanjutkan sekolah, pekerjaan beliau adalah Praktek “Dagang Waktu”. Kebingungan akan jenis pekerjaan tersebut, kuberanikan bertanya kepada seorang wanita tua yang bekerja merawat keseluruhan rumah itu.

Dapur.
Kandang kuda.
Bugi atau bendi sebagai kendaraan Bung Hatta kala sekolah.

Lumbung Padi

Selayaknya rumah-rumah zaman dahulu, saat bangsa ini masih mengalami kesulitan ekonomi. Lumbung padi adalah satu upaya untuk memastikan keterjaminan pangan keluarga.

Lumbung gedek penyimpan padi.

Usai tuntas menempuh pendidikan dasar, Bung Hatta melanjutkan pendidikan menengahnya di Meer Uitgebred Lager Onderwijs (MULO) atau sekolah menengah di kota Padang.

Janjang Ampek Puluah, Perwujudan Integrasi Zaman Kolonial

Beranjak dari Taman Monumen Proklamator Bung Hatta, Aku bergerak turun menyusuri Jalan Istana, melintas Plaza Bukittinggi, menyapa Jam Gadang, menapak di Jalan Minangkabau kemudian masuk ke Jalan Cindua Mato.

Selangkah kemudian, aku memasuki Pasar Atas. Sebagian besar kios masih tertutup karena aku terlalu pagi menyambanginya. Tak ada yang bisa kuperbuat, hanya beberapa kios yang sedang bersiap membuka diri, ditandai dengan si empunya yang sibuk menata barang dagangan.

Senyap.

Kini aku sudah berada di gerbang dengan pemandangan leretan curam anak tangga, dua ekor harimau mengawal gerbang di kiri-kanannya, sementara di ujung bawah sudah terlihat sekelumit keramaian perniagaan, mungkin itulah yang disebut dengan Pasar Banto.

Aku menuruninya perlahan sambil mulut berkomat kamit menghitung bilangan….Benar ternyata,  empat puluh anak tangga. Leretan anak tangga inilah yang dikenal dengan nama Janjang Ampek Puluah. Konon empat puluh melambangkan jumlah anggota Niniak Mamak.

Tangga penghubung legendaris.

Sungguh cemerlang Louis Constant Westenenk, Si Asisten Residen Agam (Controleur Agam) yang berkolaborasi dengan Niniak Mamak (Lembaga Adat Minangkabau) dalam mencetuskan integrasi Pasar Atas-Pasar Bawah-Pasar Banto pada awal Abad XX. Kala itu Janjang menjadi fasilitas populer dalam konektivitas pasar. Daya fikir pemimpin pada masa itu, benar-benar diperas untuk menata kota Bukittinggi yang memiliki topografi berbukit dan tidak rata.

Aku tiba di gerbang bawah empat tiang bergaya Eropa dengan signboard besar “Janjang Ampek Puluah”. Toh, akhirya kuketahui bahwa gerbang bawah ini adalah bangunan baru, melengkapi gerbang bagian atas yang sudah lebih dahulu ada.

Gerbang bawah bergaya kolonial.
Gerbang Bawah tampak dari pertigaan Jalan Pemuda, Jalan Perintis Kemerdekaan dan Jalan Soekarno Hatta.

Sementara di bagian samping dalam gerbang, terdapat prasasti yang berisi sejarah ringkas keberadaan janjang legendaris setinggi 5 meter dan lebar 4,6 meter yang dibangun pada masa lampau itu.  

Aku masih saja memandangi keanggunan fasilitas integrasi era kolonial ini, sementara warga tampak mulai berlalu lalang menaik turuni Janjang. Aku memang tak mau lekas meninggalkan area itu, tertegun memikirkan bagaimana perwujudan area ini ketika Janjang belum direalisasikan, mungkin tempatku berdiri itu masih berwujud perbukitan curam yang memisahkan ketiga aktivitas pasar.

Janjang Ampek Puluah hanyalah satu dari seian banyak Janjang di Bukittinggi. Rupaya Pemerintah Kolonial cukup serius dalam mengintegrsikan semua titik ekonomi kota kala itu. Perlu kamu ketahui bahwa masih ada Janjang Saribu, Janjang Koto Gadang dan Janjang Pasanggrahan di kota bernama lama Fort de Kock itu.

Di sisi luar gerbang, lalu lalang angkutan kota mulai mendenyutkan nadi kota. Penampakan angkuh Banto Trade Centre semakin menunjukkan bahwa daerah di sekitarnya dapat diandalkan sebagai mesin penggerak ekonomi kota.

Okay lanjut yuk….Kalau berjalan lurus kedepan, ada apa lagi ya?

Taman Monumen Proklamator Bung Hatta dan Kisahnya yang Bersahaja

Satu jam sudah aku mengupas kisah heroik di Tugu Pahlawan Tak Dikenal. Kini aku akan belajar sejarah lainnya di taman yang berbeda. Letaknya tepat di seberang timur tugu hitam berbentuk naga itu. Hanya perlu menyeberang sejenak Jalan Istana.

Dari etalase signboard di gerbang depan taman, rupanya Sumatera Barat sedang bersiap diri untuk menggelar seri balap milik Union Cycliste International (Persatuan Balap Sepeda Internasional) seminggu kedepan.

Tour de Singkarak ke-9, balap sepeda ranking lima dunia.

Menaiki dua puluh dua anak tangga berwarna gelap, aku mencapai pelataran taman. Dinamakan Taman Monumen Proklamator Bung Hatta, taman ini menampilkan patung utuh Mohammad Hatta berbaju safari empat saku yang dengan kharismanya melambaikan tangan kanan ke arah pertigaan Jalan Istana, Jalan H. Agus Salim dan Jalan Sudirman.

Gerbang depan taman.

Jika tadi aku berada di bawah permukaan jalan ketika berada di Tugu Pahlawan Tak Dikenal, kini aku berada tinggi di atas permukaan jalanan ketika menyambangi Taman Monumen Proklamator Bung Hatta. Dua hari mengeksplorasi kota, mulai tersadar bahwa aku terkadang sebentar di bawah, lalu tiba-tiba berada di ketinggian. Bukan Bukittinggi namanya jika tidak demikian.

Bertatap muka dengan Bung Hatta.

Tampak di belakang patung terdapat tiga halaman dinding yang mengisahkan perjuangan tokoh yang memiliki nama asli Mohammad Ibn ‘Atta ini.

Dihalaman pertama, tampak kehidupan Bung Hatta di rumah sederhananya, kisah saat Hatta mengaji di Batuampar hingga melanjutkan sekolah di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs).

Di halaman dinding kedua, diceritakan suatu masa ketika Hatta memimpin Perhimpunan Indonesia di negeri Belanda saat beliau bersekolah.

Halaman pertama dan kedua di sisi kanan patung Mohammad Hatta.

Halaman dinding ketiga adalah masa masa indah ketika Hatta berhasil memprokalamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia bersama Ir. Soekarno pada 17 Agustus 1945 hingga perjuangan dari meja perundingan satu ke meja perundingan yang lain demi pengakuan dunia atas kemerdekaan yang diproklamasikannya.

Dan layaknya sebuah skenario normal, halaman dinding keempat adalah masa pensiun Hatta dari dunia politik hingga masa dimana beliau mendapat penghargaan dari Presiden Soeharto.

Halaman ketiga dan keempat.

Jalanan telah tampak ramai dengan aktivitas, satu per satu warga yang sedang berolahraga tampak mengunjungi taman ini untuk sekedar melakukan pendinginan pasca berjogging, duduk bersantai di bangku taman dan berfoto dengan sosok Bung Hatta yang menjadi tokoh primadona kota mungil Bukittinggi.

Taman masih tampak basah sisa hujan deras semalaman.

Cukup tiga puluh menit bagiku untuk mengunjungi taman ini. Aku akan melanjutkan kembali eksplorasi Bukittinggi dengan mengunjungi Janjang Ampek Puluah, sebuah tangga penghubung antar pasar yang cukup tersohor dalam pariwisata kota ini.

Suasana Jalan Sudirman yang mulai sesak dengan kendaraan.

Yuk….Lanjut jalan kaki lagi…..

Menentang Pajak Kolonial Versi Tugu Pahlawan Tak Dikenal

Hanya ada Noah yang mendengkur tergelepar karena efek residual dari mabuk semalam di De Kock Cafe lantai 1. Aku berusaha tetap senyap untuk berguyur di shower ujung kamar. Bahkan hingga aku telah siap berkelana pun, dengkurnya tak berubah nada sama sekali.

Cafe bawah tetap terbuka lebar tanpa penjaga saat aku meninggalkan penginapan dengan kondisi setengah gelap, sepi dan dingin yang masih menusuk.

Menyusuri jalanan yang sama ketika petang kemarin berburu pesona Jam Gadang, hanya saja, kali ini hanya aku seorang diri yang terlihat sangat tergesa dalam sunyinya pagi.

Bank Nagari dan Novotel kembali kusalip begitu saja tanpa ekspresi, aku sudah melihatnya sore kemarin. Begitupun, kulewati Jam Gadang tanpa impresi. Sama, mungkin karena aku telah merenggut pesonanya sehari lalu. Aku hanya berfikir untuk segera mendaratkan langkah di sebuah taman kota.

Bank Nagari Cabang Bukittinggi.

Namun, sebelum memasuki taman, aku sedikit tertarik dengan pesona bangunan besar berwarna kuning emas. Adalah Balai Sidang Bung Hatta yang menjadi Convention Center andalan di Kota Bukittinggi.

Balai Sidang Bung Hatta.

Pukul 07:10, aku mulai memasuki taman itu, berada menjorok di bawah permukaan Jalan Istana yang ada di baratnya. Sedangkan gedung tinggi abu-abu milik Bank BNI Bukittinggi membatasi pandangan mata di timurnya.

Foto diambil dari sisi selatan.

Focal point dari taman terletak pada tugu hitam artistik di lingkaran tengahnya. Itulah Tugu Pahlawan Tak Dikenal yang didesain oleh seniman pahat asal Kota Padang Panjang, Hoerijah Adam. Nama Hoerijah Adam sendiri kemudian diabadikan menjadi nama Bengkel Bari di Taman Ismail Marzuki paska kecelakaan pesawat Merpati Nusantara jenis Vickers Viscount yang ditungganginya di Samudra Hindia.

Tugu ini dibangun untuk mengenang perlawanan para pahlawan yang tak bisa dikenali secara pasti dalam menentang Kolonialisme Belanda pada tanggal 5 Juni 1905. Perlawanan itu sendiri terjadi karena penolakan penerapan pajak pendapatan sebesar 2% untuk kaum pribumi atas segala bentuk usaha perdagangan yang dilakukan.

Tugu berbentuk lingkar ular naga.

Peletakan batu pertama dilakukan oleh Jenderal Abdul Haris Nasution pada 15 Juni 1963 yang kala itu menjabat sebagai Kepala Staff ABRI. Dan dua tahun kemudian tugu ini diresmikan.

Pada satu sisi monumen, diletakkan kutipan lantang seorang sastrawan terkenal yang juga merupakan Pahlawan Nasional Indonesia, tak lain adalah Muhammad Yamin:

Mati Luhur Tak Berkubur

Memutuskan Jiwa Meninggalkan Nama

Menjadi Awan Di Angkasa

Menjadi Buih Di Lautan

Semerbak Harumnya Di Udara

Ternyata, Bukittinggi menyimpan banyak sejarah perjuangan bangsa yang baru kuketahui setelah mengunjunginya.

Asyik ya….Jalan-jalan sembari mengenal sejarah bangsa.