Para Panglima Perang di Masjid Raya Nur Alam

<—-Kisah Sebelumnya

Satu perandaian yang tak pernah terwujud adalah memasuki Rumah Singgah Tuan Kadi. Ingin rasanya duduk menghampar di dalamnya dan menikmati untaian sejarah dalam bilik-bilik mungilnya. Secara bersamaan, keringat yang terus meleleh di pelipis mata, pelan tapi pasti meluruhkan setiap perandaian di kepalaku. Pintu-pintu rumah itu tertutup rapat seakan berkata kepadaku “Sudahlah pergi saja, cukup bagimu melihat keindahan kulit ariku saja”.

Aku pergi…..

Langkah kaki yang tak kusadari mulai sedikit terseret mengindikasikan bahwa aku perlu banyak beristirahat setelah empat hari sebelumnya menyisir Medan, Pulau Samosir dan Pematang Siantar. Tapi apa daya, keinginanku mengenal Pekanbaru mengalahkan keletihan kaki yang sesungguhnya sudah berteriak minta berhenti.

Aku mulai memasuki Jalan Kota Baru. Baut-baut raksasa, gulungan kabel-kabel tebal, selongsong pipa bekas berukuran besar tampak berserakan di deretan rumah toko yang disulap menjadi bengkel-bengkel mekanik. Setiap ayunan langkah seakan mengisi ulang semangatku untuk segera tiba di area Kampung Bukit dimana Kota Pekanbaru dirintis pada mulanya.

Di area inilah, sebidang tanah bekas pasar baru (Pekan Baharu) yang dirintis oleh Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah berdiri sebuah peninggalan istimewa yaitu masjid tertua di Provinsi Riau.

Lagi….Kubah kuning perlambang kebesaran Melayu.

Masjid yang lahir sebagai sebuah konsekuensi yang dipikulkan di pundak Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah, Sultan ke-4 yang memindahkan pusat Kesultanan Siak Sri Indrapura dari Mempura Besar ke Bukit Senapelan pada pertengahan abad XVIII.

Adalah adat Tali Berpilin Tiga  yang menjadikan Istana Raja, Balai Kerapatan Adat, dan Masjid sebagai satu kesatuan syarat yang harus dipenuhi Sang Sultan jika berniat memindahkan kesultanan. Istana Raja melambangkan pemerintahan, Balai Kerapatan Adat melambangkan adat istiadat leluhur dan Masjid sebagai perlambang agama.

Setengah kubah pada lengkung kanopi teras mengingatkanku dengan arsitektur Mughal di Taj Mahal.

Oleh Sang Sultan, Bangunan Istana diberi nama Istana Bukit, Balai Kerapatan Adat dinamai Balai Payung Sekaki dan Masjid diberi nama Masjid Alam yang diambil dari nama kecil Sang Sultan yaitu Raja Alam.

Ada yang menyebutnya dengan nama Masjid Senapelan Pekanbaru, beberapa orang menyebutnya Masjid Raya Pekanbaru.

Aku tiba di Masjid dalam keadaan Masbuq (terlambat shalat), tak mau tertinggal seluruh raka’at, aku bergegas menuju ke tempat wudhu dan segera mengikuti dua raka’at terakhir berjama’ah. Selepas menggenapkan 2 raka’at terakhir sendirian, aku mulai tertegun dengan enam tiang besar berwarna putih yang ujungnya dilapisi kubah warna emas dan tak sampai menyangga atap, bak mercusuar.

Sinar matahari yang menembus jendela-jendela kaca permanen di dinding teratas semakin menampilkan lengkung-lengkung lancip khas Persia. Sedangkan kaligrafi emas berlatar dasar hijau khas Timur Tengah tampak melingkar mengelilingi bagian dalam masjid.

Mimbar emas beratap hijau bermenara bulan sabit emas.

Keluar dari masjid aku menuju ke sisi timur menuju sebuah gerbang pemakaman. Bernama Kompleks Makam Marhum Pekan yang merupakan komplek makam para pendiri kota Pekanbaru seperti Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah (Sultan ke-4), Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah (Sultan ke-5) beserta para panglima perang setianya.

Gerbang Kompleks Makam Marhum Pekan. Marhum Pekan sendiri adalah sebutan untuk Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah (pendiri kota Pekanbaru).

Masjid Nur Alam adalah penutup napak tilasku tentang Kesultanaan Siak Sri Indrapura. Puas dan bahagia bisa mengenal lebih dekat tentang kesultanan tersohor di tanah Sumatera ini.

Yuk….Balik ke hotel, check-in dan makan siang!

Kisah Selanjutnya—->

Hukum Syariah di Balik Rumah Singgah Tuan Kadi

<—-Kisah Sebelumnya

Aku mulai meninggalkan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Tunjuk Ajar Integritas dengan berjalan kaki. Menyusuri Jalan Wakaf, aku perlahan mendekati seorang polisi lalu lintas yang sedang mengatur sebuah perempatan. Tak canggung, aku memanggilnya ketika dia masih membunyikan peluit mengikuti kedipan lampu hijau yang otomatis menggerakkan puluhan kendaraan untuk melintas perempatan itu.

Tak yakin menjawab pertanyaanku, dia berteriak kepada koleganya di pos. Setelah temannya merentangkan tangan sejajar jalan dan diikuti oleh telapak tangan yang membelok ke kanan maka polisi muda ini sangat yakin memberitahu arah terdekat menuju Sungai Siak kepadaku.

Hotel Mutiara Merdeka di Jalan Jembatan Siak I.

Menikmati satu bagian dari Sungai Siak saja, mampu membuatku kagum, hal ini tak lepas dari fakta sejarah dibalik aliran airnya. Siak adalah nama kesultanan yang pernah berdiri di badan sungai ini. Andai aku bisa merekonstruksi sejarah perjalanan Kesultanan Siak Sri Indrapura yang pernah berjaya itu, tentu akan menyempurnakan petualanganku di Pekanbaru.

Berlama-lama di atas Jembatan Siak I, sejauh tangkapan mata memandang, terlihat jelas Jembatan Siak III tepat di depanku dan membayang di belakangnya adalah Jembatan Siak IV (lebih dikenal dengan nama Jembatan Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah) yang belum selesai konstruksinya. Sementara dari posisi berdiri, aku memunggungi Jembatan Siak II.

Sungai Siak yang dahulu dikenal dengan nama Sungai Jantan.

Warna air cokelat cerah dan lebar sungai yang merepresentasikan kegagahan Sungai Siak disempurnakan dengan hijaunya badan sungai yang menyejukkan siapa saja yang berada di tepian. Secara geografis, sungai ini melewati Kabupaten Rokan Hulu, Bengkalis, Siak dan Kota Pekanbaru.

Selanjutnya, aku terus menyusuri jalan kecil di pinggiran sungai hingga sampai pada sebuah taman terbuka tepat di bawah jembatan Siak III yang lebih dikenal dengan nama Jembatan Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah. Para encik dan puan tampak riang bercengkerama dengan teman atau pasangannya menikmati damainya suasana sekitar sungai. Di sisi seberang, jelas terlihat kesibukan Kantor Kepolisian Air Polda Riau. Terlihat dua kapal patroli cepat bersandar di tepinya.

Riverside park di bawah Jembatan Siak III.

Sementara bersebelahan dengan riverside park tampak sebuah rumah panggung dengan warna dominan kuning muda. Dengan pelataran rumput bergradasi hijau dan keramik berpola bujur sangkar hitam-oranye yang di ujungnya dibatasi musholla dan area pantau sungai. Pelataran ini dikenal dengan nama Taman Tuan Qadhi.

Rumah Singgah Tuan Kadi.
Taman Tuan Qadhi.

Tuan Kadi/Qadhi adalah gelar yang ditabalkan Sultan kepada seseorang yang ditunjuk sebagai penasehat dalam hukum syariah Islam (Nasyih) serta berperan sebagai hakim munaka’ah dalam urusan pernikahan dan pembagian tarakah pusaka di wilayah Kesultanan Siak.

Setelah pendudukan Kolonial Belanda, gelar tuan Kadi/Qadhi disematkan kepada Ketua Kerapatan Syariah Kesultanan Siak. Rumah ini sendiri adalah milik Tuan Qadhi Haji Zakaria bin Haji Abdul Muthalib yang pernah memegang jabatan itu. Dan pada masanya, rumah ini pernah menjadi tempat singgah Sultan Syarif Kasim II, raja Siak ke-12.

Hhmmhh….Sudah lewat tengah hari, mari kita Shalat Dzuhur……Ikut ke Masjid peninggalan Kesultanan Siak, yuk!

Kisah Selanjutnya—->

Dari Hotel Sri Indrayani Petualangan Bermula

<—-Kisah Sebelumnya

Aku masih saja tak bergeming dengan tawaran para sopir taksi, sementara para penumpang Bus INTRA yang lain lebih memilih menggunakan jasa taksi menuju tujuan akhirnya di Pekanbaru.

Beberapa waktu kemudian, dari seberang jalan, pengemudi ojek online melambaikan tangan kepadaku. Tentu dia tahu, aku memakai jaket biru dengan backpack berwarna sama. Aku telah mengirimkan deskripsi itu kepadanya lewat pesan dalam aplikasi.

Asli sini, Bang?”, tanyaku di jok belakang,

Bukan, aku asal Padang, Bang. Mas asli Jawa ya? Suaranya medok banget”, jawabnya balik bertanya

Aku mbiyen kuliah ning Jogja, mas. Sampeyan Jowone ngendi?”, belum juga kujawab, sudah bertanya lagi.

Aku asli Solo, Bang. Orang sini baik-baik kan, Bang?”, aku mulai penasaran.

Warga Pekanbaru kebanyakan perantau Padang, Bang. Tenang, abang kemana aja aman”, ucapnya menenangkan.

Dari artikel yang kubaca setelahnya, memang benar 40% warga kota Pekanbaru adalah para perantau asli Minang. Memang hebat orang Minang ini dalam urusan merantau.

Belum juga pukul 10 pagi, aku tiba.

Hotel bintang tiga yang kupesan melalui Airy Rooms tepat sembilan hari sebelum kedatanganku di Pekanbaru ini hanya berharga Rp. 81.000 per malamnya. Murah, kan?

Aku sengaja memilih tinggal di daerah Senapelan hanya untuk menapak tilas kejayaan Kesultanan Siak Sri Indrapura. Melihat aktivitas perekonomian warga kota, mengingat nama Pekanbaru berasal dari kata Pekan Baharu yaitu sebuah pasar yang dirintis oleh Raja Muda Tengku Muhammad Ali, Sultan Siak ke-5. Boleh dikatakan bahwa daerah Senapelan adalah cikal bakal terbentuknya Kota Pekanbaru yang terlahir sebagai dampak positif berkembangnya ekonomi Kesultanan.

Halaman depan hotel yang berada di tepian Jalan Sam Ratulangi.

Merasa datang terlalu pagi, aku mencoba peruntungan di depan meja resepsionis. Barangkali mereka bisa memasukkanku lebih cepat untuk beristirahat di kamar.

Kamar belum siap, Bang. Abang tunggu aja ya di lobby sampai jam 1”, ungkap pemuda berseragam rapi yang bertugas.

Oh baik, bang. Saya titip backpack saja ya. Saya lebih baik keliling kota dulu, nanti balik lagi pas sudah bisa check-in”, ujarku membalas.

“Oh, boleh bang. Taruh sini saja”, Dia meminta backpack untuk ditaruhnya dibelakang meja.

Bang, ada colokan listrik buat ngecharge HP?”, permintaanku kepadanya

Oh colokan ada di restoran di sebelah kanan lobby. Masuk aja, Bang!”, telunjukknya mengarah pada sebuah pintu.

Meluruskan pinggang sebentar di lobby, aku masih saja menatap bentuk ruang resepsionis yang autentik, kuning emas mendominasi. Tiga atap dengan tiga selembayung di ujungnya. berbentuk tangan menengadah perlambang hubungan erat antara makhluk hidup dan Sang Pencipta.

Selain selembayung, motif layaknya songket khas melayu sangat mempercantik ruangan.

Selepas daya kameraku terisi maka untuk memanfaatkan waktu sembari menunggu waktu check-in, aku mulai menelusuri beberapa jejak Kesultanan Siak yang terepresentasi jelas di sepanjang Sungai Siak, Rumah Singgah Tuan Kadi dan Masjid Raya Nur Alam.

Memasuki twin bed room pada pukul 2 siang.
Kamar hotel yang murah namun mewah bagiku.

Hotel Sri Indrayani awalnya adalah mess yang disewa oleh sebuah maskapai penerbangan untuk para air crewnya sejak 1971. Seiring berkembangnya Pekanbaru, wisma ini menyempurnakan diri dengan bertransformasi menjadi hotel syariah terkemuka di Pekanbaru pada masa perkembangan kota. Letaknya yang berseberangan jalan dengan Kawasan Pecinan juga membuat perkembangan hotel ini berlangsung sangat cepat pada masanya.

Akhirnya menemukan air hangat setelah 38 jam tak mandi.
Taman di belakang hotel berbatasan dengan Jalan Bangka.

Dari hotel Sri Indrayani inilah petualangan mengeksplore Pekanbaru bermula. Saatnya berkeliling kota mengenal Ibukota Provinsi Riau ini.

Kisah Selanjutnya—->

7 Destinasi Wisata Pekanbaru

<—-Kisah Sebelumnya

Memasuki Pekanbaru, semua penumpang Bus INTRA diturunkan di sebuah bangunan warung non-permanen berbahan kayu warna hijau. Memasuki bagian belakang warung makan, deretan panjang kamar mandi sederhana memudahkanku untuk berbasuh muka dan besiap diri untuk mengeksplorasi “Kota Madani”.

Memasuki jalanan kota untuk pertama kalinya diatas jok ojek online, aku mulai menyimpan rasa penasaran tentang apa saja yang bisa kukunjungi di kota. Hingga akhirnya aku tiba di lobby Hotel Sri Indrayani lebih cepat dari jadwal check-in. Setelah mengisi daya kamera dan smartphone hingga beberapa cell bar di restoran hotel, aku segera mengayun langkah ke beberapa spot terdekat.

  1. RTH Tunjuk Ajar Integritas

Tak jauh, setengah kilometer di barat laut hotel ada sebuah taman yang cukup terkenal di Pekanbaru. Adalah Ruang Terbuka Hijau Tunjuk Ajar Integritas yang menjadi play ground favorit bagi warga kota yang pembangunannya didedikasikan untuk program perlawanan korupsi dalam pemerintahan daerah.

Tugu Integritas dalam taman.

Belum juga tengah hari, udara panas mulai terasa. Memaksaku untuk berteduh di tepian taman. Masih sepi pengunjung, mengingat aku tak berkunjung saat weekend.

2. Sungai Siak

Melanjutkan langkah, aku turun ke Jalan Wakaf sebelum akhirnya dituntun oleh seorang polantas untuk berbelok ke kanan melewati Jalan Jembatan Siak I dan mencapai tepian Sungai Siak.

Mengunjungi Sungai Siak dan membayangkan kejayaan serta kemakmuran Kesultanan Siak Sri Indrapura yang pernah berdiri di tepian sungai adalah hal yang menarik minatku untuk menjadikannya sebagai salah satu destinasi kali ini

Panorama dari Jembatan Siak I

3. Rumah Singgah Tuan Kadi

Masih berkelana di sepanjang sungai, kini aku menuju ke Jembatan Siak II. Khalayak menyebutnya sebagai Jembatan Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah, diambil dari nama Sultan ke-5 Kesultanan Siak.

Tertegun memandangi bangunan di bawah jembatan, rumah asli sejak era keemasan Kesultanan Siak.  Situs pariwisata ini dikenal dengan nama Rumah Singgah Tuan Kadi. Kadi atau Qadhi sendiri adalah gelar tersohor pada masa kesultanan. Pemilik awal rumah ini adalah Qadhi Haji Zakaria bin Haji Abdul Muthalib yang pernah menjabat sebagai Ketua Kerapatan Syariah Kesultanan Siak.

Pernah menjadi tempat singgah Sultan Syarif Kasim II, Sultan Siak ke-12.

4. Masjid Raya Nur Alam

Matahari mulai tergelincir dari posisi tertingginya, artinya aku sudah bisa memasuki kamar Hotel Sri Indrayani. Mengambil arah tenggara, aku berniat mampir untuk bershalat Dzuhur di Masjid Raya Nur Alam sebelum tiba di penginapan.

Masjid tertua di Pekanbaru.

Masjid peninggalan Kesultanan Siak Sri Indrapura ini masih berdiri kokoh dengan kubah kuningnya sebagai simbol kebesaran Melayu. Rasa-rasanya, rakyat Pekanbaru pantas berterimakasih kepada Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah, Sultan Siak keempat yang mendirikan masjid megah ini.

5. Masjid Agung An-Nur

Panas kota mulai mereda apalagi aku sudah selesai berbasuh badan di hotel. Selesai menyantap makan siang maka aku melanjutkan eksplorasi. Setelah mengunjungi masjid tertua, kini aku menuju ke masjid termegah di Provinsi Riau.

Kelelahan telah berjalan hampir 4 km, aku memilih menggunakan ojek online saja menuju Masjid Agung An-Nur, dua kilomoter ke tenggara.

Taj Mahalnya Indonesia.

Masjid Agung An-Nur sendiri telah menjadi icon religi Provinsi Riau sejak tahun pertama dibangun, yaitu tahun 1963. Pastikan kamu tak terlewat mengunjunginya jika berada di Pekanbaru.

6. RTH Putri Kaca Mayang

Berikutnya, aku bergegas menuju ke pusat kota. Pilihanku berikutnya adalah Ruang Terbuka Hijau (RTH) Putri Kaca Mayang. Terletak di sebuah sisi jalan protokol kota Pekanbaru, taman ini terlihat lebih rapi dari taman pertama yang ku kunjungi.

Nama taman diambil dari nama seorang putri dalam dongeng yang melegenda di masyarakat.

Waktu yang sudah menggelincir ke arah sore, satu persatu warga terlihat mendatangi taman untuk sekedar melepas penat atau mengajak anak-anak untuk menghabiskan waktu dengan bermain di sekitar taman.

7. Jalan Jenderal Sudirman.

Seperti nama jalan yang sama di Jakarta, Jalan Jenderal Sudirman di Pekanbaru juga memainkan peran sebagai jalan protokol di kota Pekanbaru.

Sebagai jalan utama tentu banyak hal yang bisa dinikmati di sepanjangnya. lebarnya ruas jalan dengan sibuknya lalu lalang kendaraan dihiasi oleh arsitektur bangunan-bangunan mentereng di kedua sisinya menjadikan Jalan Jenderal Sudirman menjadi spot fotografi yang layak dikunjungi.

Perpustakaan Soeman HS, Menara Lancang Kuning, Kantor Gubernur Riau dan Menara Dang Merdu adalah arsitektur yang tampak mencolok dan berbeda dari bangunan-bangunan lain di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman.

Jalan berhiaskan asmaul husna di sepanjang tepinya.

Yuk, berlibur ke Pekanbaru.

Kisah Selanjutnya—->

Sharia Law Behind Tuan Kadi Halfway House

I began to leave the Tunjuk Ajar Integritas Green Open Space on foot. Along Wakaf Street, I slowly approached a traffic policeman who was arranging an intersection. Not awkward, I called him when he still sounded his whistle following flashing green lights which automatically moved dozens of vehicles to cross the intersection.

Unsure of answering my question, he shouted at his colleague at a police post. After his friend stretched his arms parallel to the road and followed by his palm which turned to right, this young policeman was very sure to tell the closest direction to Siak River to me.

Mutiara Merdeka Hotel in Jembatan Siak I Street.

Enjoying one part of Siak River, was able to amaze me, this is inseparable from historical facts behind its water flow. Siak is the name of sultanate which ever stood in this river body. If I could reconstruct journey history of Siak Sri Indrapura Sultanate which had ever triumphed, it would certainly perfect my exploration in Pekanbaru.

Linger over Siak Bridge I, as far as eye could see, it was clear that Siak III Bridge was right in front of me and looming behind it was Siak IV Bridge (better known as Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah Bridge) which hadn’t yet finished its construction. While from my standing position, in my back side was Siak II Bridge.

Siak River which was formerly known as Jantan River.

Bright brown of water color and river width which represents Siak River valor is enhanced by greeny river body which soothes anyone in its banks. Geographically, the river passes through four districts i.e Rokan Hulu, Bengkalis, Siak and Pekanbaru.

Next, I continued to go through a small road on edge of the river until I came to an open park under Siak III bridge, better known as Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah Bridge. Many young people looked cheerfully chatting with their friends or their partners enjoying peaceful atmosphere around the river. At other side, it was clear that Water Police Office of Riau Regional Police was busy. Seen two fast patrol boats leaning on river edge.

Riverside park under Siak III Bridge.

While next to riverside park was a stilt house with a dominant light yellow color. With greeny graded lawns and black-orange square patterned tiles which at the edge was bordered by a blue mosque and river viewpoint area. This courtyard is known as Tuan Kadi Park.

Tuan Kadi Halfway House.
Tuan Kadi Park.

Tuan Kadi / Qadhi is a title which Sultan has proclaimed to someone who is appointed as an advisor in Islamic sharia law (Nasyih) and acts as a munakaah judge in marriage matters and heirlooms distribution in Siak Sultanate.

After Dutch Colonial occupation , Tuan Kadi/Qadhi title was pinned to Chairperson of Siak Sultanate’s Shariah Deliberative Board. This house itself is owned by Qadhi Haji Zakaria bin Haji Abdul Muttalib who ever held that position. And in his time, this house was ever be a stopover for Sultan Syarif Kasim II, the 12th Siak Sultan.

Hhmmhh …. Already past noon, let’s do Dhuhr prayer…..Come on, went to Siak Sultanate’s inherited mosque!

From Sri Indrayani Hotel….The Adventure was Began

I still didn’t budge with an offer of taxi drivers, while other INTRA Bus passengers preferred to use taxi services towards their final destination in Pekanbaru.

Several time later, from across the street, an online motorcycle taxi driver waved to me. Of course he knew, I was wearing a blue jacket with same color backpack. I had sent a description to him via message in application.

Are you originally from here, Sir?” I asked in back seat.

No, I’m from Padang, Sir. Are you from Java? your accent is typical“, he answered and asked.

I ever studied in a college at Yogyakarta, Sir. Which Java are you from?“, I didn’t have answered yet, He had asked again.

I’m originally from Solo, Sir. Are local residents nice, Sir?”, I began to wonder.

Most of Pekanbaru residents are from Padang, Sir. Calm down, Sir, anywhere is safe“, he soothingly said .

From an article I read afterwards, it’s true that 40% of Pekanbaru residents are Minang native migrants. Indeed, Minang people are great in odyssey

Not even 10 o’clock in the morning, I arrived.

The three-star hotel which I booked through Airy Rooms exactly on nine days before my arrival in Pekanbaru was only USD 6 per night. Cheap, right?

I deliberately chose to stay in Senapelan area just to tracing the glory of Siak Sri Indrapura Sultanate. Looking at economic activities of city residents, remembering that the name of Pekanbaru came from words of Pekan Baharu, a market which was pioneered by Young Sultan named Tengku Muhammad Ali, the 5th Siak Sultan. It can be said that Senapelan area was the forerunner to the formation of Pekanbaru City which was born as a positive impact from Sultanate economic development.

Hotel front yard is on an edge of Sam Ratulangi Street.

Coming too early, I tried my luck in front of reception desk. Maybe they could put me faster to rest in hotel room.

The room isn’t ready, Sir. Just wait in our lobby until 13 o’clock”, young staff on duty said in neat uniform.

Oh well, Sir. Can I put my backpack here. I better go around the city first, then come back when I can check-in“, I replied.

Oh sure, sir. Just put it here“, he asked my backpack to put behind the table.

Sir, is there a power outlet to recharge my handphone?“, I asked him

Oh, the plug is in hotel’s restaurant at right of the lobby. Just go in, Sir!“, His index finger pointed at a door.

Straightening my waist for a while in the lobby, I was still staring at the authentic reception room, golden yellow dominated. Three roofs with three selembayung at the end. praying hand shape symbolizes the close relationship between living things and God.

In addition to selembayung, motifs like a Malay songket is beautify the room.

After my camera and handphone was charged, to take advantage my time while waiting for check-in, I began to explore some traces of Siak Sultanate which were clearly represented along Siak River, Tuan Kadi’s Halfway House and Nur Alam Grand Mosque

Entering twin bed room at 2 pm.
Cheap but luxurious hotel room for me.

Sri Indrayani Hotel was originally a guesthouse which was rented by an airline for its air crew since 1971. Along with Pekanbaru development, this guesthouse perfected itself by transforming into a leading shariah hotel in Pekanbaru during the city’s development. Its location which opposite the Chinatown also made hotel development was quickly its time.

Finally, I found warm water after didn’t bathing for 38 hours.
The park behind hotel is bordered by Bangka Street.

From Sri Indrayani Hotel, my adventure to exploring Pekanbaru was began. It was time to got around the city and got to know about the capital of Riau Province.