Berburu Souvenir di Metro Point, Manila

Aku masih menikmati nostalgia dengan menikmati seporsi Busog Meal Tuna Omelette di salah satu gerai 7-Eleven di sisi Epifanio de los Santos Avenue, nasi kemasan yang menjadi makanan sehari-hariku saat menjelah Manila empat tahun silam. Murah, hanya Rp. 9.000 sudah bisa menikmati makan siang di tengah hiruk pikuk Manila.

Sewaktu kemudian, aku mulai menaiki jembatan penyeberangan terdekat. Arus manusia begitu cepat melewati jembatan penyeberangan itu, sebagian besarnya tak luput memperhatikanku yang lebih memilih diam di pertengahan jembatan dan memandangi kemacetan dari salah satu pagarnya.

Siang itu aku membatalkan diri mengunjungi Manila Baywalk, aku tak berani mengambil resiko terjebak kemacetan dan tertinggal pesawat untuk kembali ke Jakarta. Sejam ke depan aku hanya akan berkutat di sekitaran Stasiun LTR EDSA saja dan segera kembali ke NAIA.

Perjalanan empat tahun lalu tak berbuah souvenir, kala itu Manila menjadi pijakan pertama sebelum menuju ke Hong Kong, Macau dan Shenzen. Dimana-mana, orang akan mencari souvenir di bagian akhir. Kali ini Manila adalah bagian akhir dari petualangan, maka kuputuskan untuk mencarinya.

Busog Meal Tuna Omelette kesayangan.
Jembatan penyeberangan menuju Stasiun LRT EDSA.
Menikmati kemacetan di Manila.
Penampakan Metro Point dari jembatan penyeberangan.

Kini pandanganku tertuju pada sebuah pusat perbelanjaan yang tepat bersebelahan dan terkoneksi langsung dengan Stasiun LRT EDSA. Aku sedikit berhenti mengamati stasiun itu, teringat ketika aku di geledah sebelum memasuki stasiun itu empat tahun silam karena aku terlalu asyik memotret setiap sisinya sehingga menimbulkan kecurigaan para security . Manila memang sedikit ketat dalam hal keamanan di setiap akses penting publiknya.

Aku hanya melewati gerbang stasiun itu dan beringsut masuk menuju melalui connector ke arah Metro Point. Pusat perbelanjaan yang tak cukup besar, tak lebih bagus dari Grha Cijantung. Yang kuingat hanya terdiri dari lima lantai. Di lantai kedua tersedia deretan toko yang lebih rapi daripada konter-konter yang berada di lantai bawah. Lantai bawah adalah lantai yang paling memungkinkan bagiku untuk mencari souvenir. Aku tak bisa mengeksplorasi lantai teratas, karena tampak terdapat gerai besar yang dijaga oleh security. Mungkin lantai ketiga digunakan untuk bisnis yang lebih privat dan menyasar kalangan tertentu.

Praktis aku hanya berkeliling di lantai bawah dan mencari beberapa souvenir, fridge magnet dan gantungan kunci yang akan kubagikan untuk teman-temanku di Jakarta.

Suasana pertokan di Metro Point.
Time Zone.
Bagian ujung lantai tampak sepi.

Tak membutuhkan waktu lama untuk menghabiskan setiap sisi lantai dasar. Perdagangan di lantai dasar ini lebih mirip dengan aktivitas yang sama di Pasar Baru, Jakarta. Berisik dan padat. Setelah menemukan beberapa souvenir yang kucari akhirnya kuputuskan untuk keluar dari pusat perbelanjaan itu dan bersiap untuk menuju NAIA kembali dan terbang ke Jakarta.

Crowdednya kios di lantai dasar.
Lantai dasar.

Kufikir waktuku di Manila kali ini telah menjadi transit nostalgia walau hanya berlangsung selama tiga  jam saja di tengah kesibukan kota itu.

Transportasi Umum dari NAIA ke Pusat Kota Manila

Seperti pada kunjungan pertamaku di Manila pada 2016 silam, kali ini kunjungan transitku akan menuju tempat pertama yang sama, Stasiun LRT EDSA.

Entah kenapa, Stasiun LRT EDSA selalu menjadi tempat pertama yang kutunjuk ketika memperhatikan peta transportasi kota itu. Seakan tempat itulah yang paling mudah dicapai dari Ninoy Aquino International Airport (NAIA). Kemudian dari stasiun tersebut, aku bisa menuju kemanapun sesuka hati menjelajah Manila.

EDSA adalah singkatan dari Epifanio de los Santos Avenue, nama jalan yang melintas di bawah stasiun LRT itu. Sedangkan Epifano de los Santos adalah nama sejarawan dan jurnalis terkenal Filipina.

Baiklah…Mari menuju Stasiun LRT EDSA dan mengenalnya lebih dekat.

Di luar bangunan terminal, security berseragam putih dengan high-powered firearms (senjata api bertenaga tinggi) memanggilku. Mereka rupanya memperhatikan aku yang sedang ragu memilih arah. Seingatku untuk menunggang Jeepney ke pusat kota, aku harus berbelok ke kiri dari exit gate terminal seperti saat kunjunganku ke Manila 2016 silam. Atau mungkin dulu turun di terminal yang berbeda kali ya?.

Security      :     “Hello Sir, come here, please!”, ucapnya dengan mimik tegas dan galak.

Aku              :     “Yes Sir”, perlahan aku mendekat, daripada menimbulkan masalah yang lebih besar.

Security      :     “Show your passport to me!”, dia menatapku tajam.

Aku              :     “This”, kuserahkan dengan tegas dan berani juga.

Security      :     “Where do you going in Manila?”, jawabnya sambil menyerahkan paspotku

Aku              :     “Can you show me, Where should I stop a bus or a  jeepney to Manila Baywalk?”.

Security      :     “It will better if you go to EDSA station, then you can go to Manila Baywalk from there”, dia menujuk ke sebuah jalan di kanan bangunan terminal.

Aku              :     “Thanks Sir

Security      :     “In Manila, if you don’t know Tagalog language, It will be better if you ask to the bus driver about their destination

Aku                    :  “Oh Okay I see”.

Aku keluar dari bangunan Terminal 1 NAIA.
Di halte kecil inilah aku menunggu bus kota menuju Stasiun LRT EDSA.

Aku terus memperhatikan setiap bus kota yang lewat, aku terus mencari tulisan EDSA di setiap kaca depan bus. Lima belas menit tak kunjung menemukannya, kuberanikan diri mulai bertanya pada setiap bus yang berhenti mengambil penumpang.

Aku                 :     “EDSA Station,Sir?”.

Kondektur    :     “No No No”,

Tanya jawab yang terulang-ulang terus hingga beberapa bus kota tak mempedulikanku karena aku bukanlah penumpangnya. Hingga akhirnya, merapatlah bus berwarnna krem kombinasi biru bertuliskan papan nama tujuan Boni, Ortigas, Cubao dan terakhir EDSA yang digantung berjajar ke bawah di kaca depannya. Tampaknya itu nama-nama stasiun LRT/MRT yang dilewati oleh bus itu.

Aku                 :     “EDSA ?”

Kondektur    :     “Come in!”

Aku memasuki bus itu dan duduk di bangku tengah sisi kanan. Di dashboard atas tertulis jelas Jayross Lucky Seven, nama perusahaan otobus itu. Bus kota yang lumayan nyaman, ber-AC dan LCD TV di bagian depan. Tak lama setelah duduk, seperti bus-bus umumnya di Indonesia, kondektur itu menghampiriku dan menarik ongkos perjalanan sebesar Rp. 9.000.

Akhirnya ketemu juga bus menuju Stasiun LRT EDSA.
Duduk dan bersiap menikmati jalanan kota Manila.

Ah, aku akan melewatkan untuk naik Jeepney kali ini. “Tak apalah, aku kan naik Jeepney ke NAIA saat pulang nanti”, batin memenangkanku. Tapi entah kenapa, tiba-tiba aku beranjak dari bangku ketika kondektur itu berteriak “EDSA….EDSA….EDSA”. Aku menangkap informasi bahwa aku telah sampai dan aku harus turun, kondektur itu tentu tak hafal satu per satu tujuan penumpangnya, sehingga membiarkanku melenggang turun dari pintu depan.

Bus itu pergi meninggalkanku. Tak tampak pertanda keberadaan jalur LRT yang terhafal jelas bentuknya di memori kepalaku dari kunjungan pertamaku dulu. “Ini belum sampai”, batinku tersenyum kecut, hingga sebuah Jeepney datang mendekat. “EDSA?” teriakku pada sopirnya. “Come on!”, jawabnya singkat. Aku naik dari pintu belakang. Entah aku masih di bilangan ke berapa dari Epifanio de los Santos Avenue. Akhirnya kesampaian lagi menaiki moda transportasi terpopuler di kalangan rakyat Filipina itu. Kini aku membayar lebih murah karena memang jaraknya sudah dekat dengan tujuan, hanya Rp. 3.000. Lima menit kemudian aku tiba di Stasiun LRT EDSA.

Naik Jeepney lagi.
Interior Jeepney, mirip angkot kan?.
Tempat Jeepney berhenti dan berangkat.

Aku hanya takjub dengan kesibukan aktivitas masyarakat Manila siang itu. Mirip jalanan di sekitaran Pasar Senen, Jakarta. Lama aku berdiri di sebuah lapak terbuka penjual buah-buahan segar. Memperhatikan kemacetan, lalu lalang Jeepney yang diperebutkan masyarakat kelas menengah ke bawah serta hilir mudik LRT Line 1 di atas kepalaku.

Ah waktu transit indah dan singkat yang kumiliki dan kunikmati……

Ini dia Stasiun LRT EDSA….Gimana bentuknya? Elok atau biasakah?

Salah Tanggal di Ninoy Aquino International Airport

Melayani 47 juta penumpang setiap tahun.

Philippine Airlines bernomor terbang PR 685 mendarat dengan mulus di salah satu runway Ninoy Aquino International Airport (NAIA). Pesawat berbadan besar itu dengan gagahnya melakukan taxiing menuju apron di Terminal 1. Seharusnya pesawat ini mendarat di Terminal 2, karena sedang proses renovasi maka terminal pun dialihkan. Terminal 1 sendiri adalah mainhub dari maskapai Cebu Pacific, sedangkan mainhub Philippine Airlines berada di Terminal 2.

Ini bukan pendaratan pertamaku di Philippines karena aku telah menjajah negeri itu empat tahun silam. Kini aku kembali mendarat di NAIA, bukan untuk berkunjung tetapi hanya untuk transit saja sebelum benar-benar tiba di Jakarta. Bukan Donny namanya kalau transit hanya digunakan untuk berdiam diri di bandara….Yes, aku akan menuju pusat kota dalam rentang waktu 7 jam masa transit.

Pemberian nama Ninoy Aquino International Airport sendiri didedikasikan untul Almarhum Ninoy Aquino Jr yang terbunuh di Terminal 1 selepas pulang dari pengasingannya di Amerika Serikat pada tahun 1983.

Aroma perayaan natal masih terasa @conveyor belt.
Tourist Information Center.
Arrival Hall.

PR 685 perlahan melewati hanggar milik Lufthansa Technik Philippines, Inc. yang merupakan perusahaan jasa maintenance pesawat di bandara itu, berpapasan dengan deretan maskapai kuning “Cebu Pacific” yang merupakan Low Cost Carrier (LCC) kebanggaan Negeri Duterte, melalui Terminal 2 Domestic Departure dan akhirnya berhenti di Terminal 1.

Staff cantik Philippine Airlines membawa papan kecil bertulis “transfer” dan berdiri di tengah koridor untuk mengumpulkan para penumpang yang akan meneruskan penerbangan ke destinasi berikutnya. Mereka akan dibawa oleh Airport Shuttle Transfer Service menuju ke Terminal 2. Aku yang menyatakan hendak menuju ke pusat kota semasa transit diberikan secarik kertas yang harus diisi dan akan dilampirkan bersama tiket menuju Jakarta untuk diserahkan ke konter imigrasi.

Staff Imigrasi : “Where will you go in transit time?”.

Aku : “Manila Baywalk, Sir

Staff Imigrasi : “What for?

Aku : “Just sightseeing, Sir”.

Percakapan singkat di konter imigrasi yang meloloskanku dengan stempel imigrasi Philippines di paspor hijauku. Aku harus bertanya kepada petugas Aviation Security demi menemukan lokasi penitipan bagasi untuk menaruh backpack supaya membuat langkahku menjadi lebih ringan menuju pusat kota. Aku menyerahkan Rp. 60.000 kepada petugas Baggage Assistance Counter dan dia menaruh backpackku pada sebuah rak.

Berburu Peso di money changer.
Baggage Assistance Counter.
Rak-rak penyimpanan bagasi milik Orbit Air Systems (Perusahaan ground handling di NAIA).

Melewari exit gate, aku menuju ke sebuah konter milik PLTD Enterprise yang menawarkan free SIM Card dengan brand “Smart 5G” untuk para traveler. Paket data yang mereka tawarkan kutolak dengan halus karena aku hanya membutuhkan layanan GPS saja dari prepaid SIM Card itu.

Departure

Setelah selesai dalam jelajah singkat kota, aku diturunkan sopir bus kota di Terminal 1. Menghemat waktu, aku menuju ke tempat penitipan bagasi dan mengambil backpack. Lalu menuju ruang tunggu Airport Shuttle Transfer Service untuk berpindah ke Terminal 2, terminal dimana aku akan terbang menuju Jakarta.

Terminal 2 sendiri selesai dibangun pada tahun 1998 dan dijuluki Terminal Centennial karena penyelesaiannya bertepatan dengan peringatan seratus tahun deklarasi kemerdekaan Philippines dari penjajahan Spanyol. Terminal ini awalnya dirancang oleh Aéroports de Paris.

Di depan Terminal 2, aku diturunkan. Banyak titik lokasi tertutup oleh papan proyek, menunjukkan bahwa terminal ini sedang direnovasi. Peso tersisa yang gagal tertukar di money changer Terminal 1 dengan alasan uang yang kutukar adalah adalah pecahan kecil, akhirnya bisa kutukarkan di sebuah money changer di luar bangunan Terminal 2. Kini Peso sudah berubah menjadi Dolar Amerika.

Sedikit insiden terjadi di konter imigrasi, seorang petugas imigrasi keturunan Spanyol sedikit bingung dan bertanya kepada staf imigrasi lainnya. Ternyata tanggal yang yang terstempel di pasporku saat memasuki Manila tadi pagi adalah masih tanggal esok hari.

Arah ke Airport Shuttle Transfer Service Terminal 1.
Airport Shuttle Transfer Service @Terminal 1.
Drop off zone Terminal 2.

Staff Imigrasi     :     “When do you entering Manila? “.

Aku                        :     “Last morning, Sir”.

Staff Imigrasi     :     “Why don’t you check  the date?

Aku                        :     “What’s wrong, Sir”.

Staff Imigrasi     :     “The date in your free visa is tomorrow”.

Aku                        :     “Oh I’m sorry, I don’t aware about it

Staff Imigrasi     :     “Can you show you arrival and departure boarding pass?

Aku                        :     “These are, Sir

Staff Imigrasi     :     “Okay, It’s no problem. You can go”.

Akhirnya aku diizinkan keluar Manila dan bersiap pulang ke tanah air. Aku merasa sangat tenang, karena telah tiba tiga jam sebelum boarding time. Tapi berjam-jam duduk di ruang tunggu, aku tak segera menenukan nomor penerbanganku PR 535 di layar informasi LCD. Aku memberanikan diri memasuki Mabuhay Lounge untuk menanyakan jadwal resmi penerbanganganku kepada staf Philippine Airlines yang bertugas di lounge reception. Dia mengatakan bahwa penerbangan mengalamai delay yang belum bisa diinformasikan hingga kapan, tetapi aku ditunjukkan nomor gate dimana aku harus menunggu yaitu Gate 11.

Baru sebentar aku duduk di Gate 11, terdengarlah pengumuman bahwa penerbangan ditunda hingga pukul 23:00 dikarenakan gangguan lalu lintas penerbangan sebagai dampak meletusnya gunung Taal di daerah Tagaytay.

Check-in counter.
Departure Hall.
Laptop station.
Mabuhay Lounge.
Waiting room di depan Gate 11.

Tepat pukul 23:00, aku mulai boarding dan meninggalkan banyak kesan di Ninoy Aquino International Airport.  Terimakasih NAIA, sampai jumpa lagi.

Philippine Airlines PR 685 dari Doha (DOH) ke Manila (MNL)

Jalur penerbangan PR 685 (sumber: https://www.radarbox.com).

Jika ingin merasakan sensasi menunggang airline komersial pertama di Asia maka naiklah Philippine Airlines, maka secara otomatis kamu akan tertasbih telah menaiki maskapai tertua di Benua Asia. Dan Philippine Airlines menjadi maskapai ke-28 yang kunaiki sepanjang perjalananku menjadi seorang backpacker.

Dimulai dengan insiden kecil  yang cukup membuat malu. Sore itu area depan konter check-in tampak melompong, kontan setelah nomor pernerbangan PR 685 berstatus “open”, aku melenggang kangkung menelusuri liukan alur yang dibentuk oleh boarder tape.

Dan tiba-tiba terdengar suara lantang….

Hi, please queue, Sir!” tegur ground staff yang otomatis mengerem langkahku. Dia menunjuk antrian penumpang asal Philippines yang bermula dari sebuah tiang bangunan. Mereka semua menertawakanku dan menyungkurkan mukaku dalam rasa malu. Berusaha tersenyum tetapi tetap saja tak bisa menyembunyikan kecut muka, aku melewati para penumpang itu yang hampir sepanjang antrian tertawa memandangiku. Hingga akhirnya, aku sudah berdiri di antrian, jauh di belakang.

Check-in counter.
Tiket ke-11 dalam petualangan akhir tahunku.

Meninggalkan area check-in dan menyelesaikan urusan di konter imigrasi, langkahku tertahan sekejap.

Asal mana pak?“, sapaku pada dua lelaki paruh baya yang sedari tadi memegangi paspor hijau bergambar garuda. “Loh, ada orang Indonesia nih, cak“, tegas seorang darinya kepada teman sebelahnya. Aku hanya tersenyum untuk menghangatkan suasana.

Naik Qatar Airways juga ya mas?“, pertanyaan yang mungkin berharap kita bertiga bisa terbang sepesawat. “Saya mampir Manila dulu pak, naik Philippine Airlines, tujuan akhir saya Jakarta. Bapak berdua mau kemana? “, tanyaku singkat sebelum berpisah. Kedua lelaki itu tampak berbenah memasukkan setiap berkas imigrasi, paspor dan tiketnya ke dalam tas. “Kami dari Surabaya, mas“, senyumnya hangatnya membuatku merasa tak jauh dari rumah.

Menurut tuturnya, kedua lelaki itu sedang ada tugas dari perusahaannya di Doha. Sedangkan aku menjawab dengan percaya diri bahwa aku baru saja selesai backpackeran sendirian di Timur Tengah. “Wah hebat si mas, keliling sendirian“, ucapan penutupnya sebelum kami berpisah menuju gate masing-masing.

Kemudian aku menuruni escalator dan melewati duty free zone di sekitar maskot “Lamp Bear”. Berlanjut lagi dengan menaiki escalator untuk menaiki skytrain menuju concourse D. Menemukan gate yang kumaksud, maka terduduklah aku sembari mengunyah paratha tersisa untuk makan malam sambil menunggu Philippine Airlines tiba menjemput.

Tepat pukul 20:45, aku mulai boarding melalui aerobridge. Aku memasuki pesawat dari koridor kabin sebelah kiri. Begitu terduduk di window seat berbilangan 39K, impian kemegahan kabin yang sedari semula saat membeli tiket akhirnya sirna.  Ternyata pesawat ini tak dilengkapi LCD screen di setiap bangkunya. Terbayang sudah, penerbangan panjang sejauh 7.277 Km ini pasti akan membosankan.

Airbus 330-300.
Sayap yang memamerkan kegagahan.
Mulai mencari tempat duduk.
Nah ini dia, tempat dudukku selama 9 jam 35 menit.

Aku duduk bersebelahan dengan wanita tambun di sisi kiri sedangkan di ujung baris terduduk lelaki paruh baya berpostur sebaliknya, jangkung dan kurus. Sembilan puluh persen penumpang tentu berkebangsaan Philippines. Karena ini pesawat negara mereka.

Aku terus memperhatikan pramugari berpotongan rambut bob, berlipstik ungu dan berpostur semampai. Siapa yang meragukan kecantikan para pinay, Philippines memang penghasil para wanita cantik di dunia….Hahaha.

Setelah mendemokan prosedur keselamatan terbang, pramugari dan pramugara itu membagikan amenities berupa selimut, handuk, sikat dan pasta gigi. Aku mulai membaca beberapa prosedur keamanan pesawat Airbus ini. Membaca infight magazinenya dan bersiap untuk santap malam kedua kali setelah take-off.

Thanks 12Go.
Selamat tinggal Hamad International Airport.
Selimut untuk setiap penumpang.
Mabuhay….Inflight magazine milik Philippine Airlines.

Sir, I have ordered the menu. My menu should  a Jain Meal, not Seafood Meal, Sir”, tanyaku pada seorang pramugara. “Dinner menu must be ordered 3 hours before flight, Have you order it?”, jawabnya sedikit tegas. Daripada menimbulkan keributan yang tak mengenakkan, aku mengalah saja. Begitulah aku, selalu menghindari gesekan dan cenderung mengalah pada setiap perselisihan….Hebat ya guwe, mulia banget….Hahaha.

Menu makan malam: nasi dan ikan laut.
Ternyata Jean Meal pesananku keluar di pagi hari bersama kopi…Oalah, ndeso tenan.
Indah sekali bukan, rentangan garis-garis emas bentukan pelita bumi Doha?. Lihat perairan Teluk Persia itu!.

Setelah semua penumpang selesai dengan dinnernya masing-masing, awak kabin mulai meminta setiap penumpang yang duduk di window seat untuk menutup jendela. Ah, aku tak mendengarkan perintah, malahan memperhatikan wajah ayu pramugari yang kukagumi sedari tadi. Aku baru tersadar akan perintah ketika pramugari itu tersenyum terus dan menunjuk jendelaku sembari menaik turunkan telunjuknya sebagai isyarat bagiku untuk segera menutupnya….”Iya mbak, aku ngerti kok, cuma sedang terpesona denganmu saja”, batinku menjawab senyumannya. Kejadian itu membuat penumpang di sebelahku tertawa….Kacau kan guwe?.

Malam itu penerbanganku sangat mulus tanpa turbulensi. Pilot menginformasikan bahwa aku sedang melaju di dalam selongsong terbang dengan kecepatan 800 Km per jam. Luar biasa. Malam itu aku tak tidur nyenyak, terus gelisah menunggu tiba di Manila. Entah sampai dimana, pramugari itu kembali berkeliling di koridor kabin dan meminta setiap penumpang di window seat untuk membuka kembali jendelanya.

Inilah drama alam yang baru pertama kali ku alami. Aku menutup jendela dalam gulita dan tiba-tiba membukanya dalam kondisi terang benderang. Bak permianan sulap di angkasa, matahari sepertinya lebih cepat muncul dari waktu normalnya.

Selamat pagi….Entah aku berada dimana?.
Gunung yang menyembul di kerumunan awan….Menakjubkan.

Antrian di setiap toilet begitu panjang. Dengan gagapnya, aku pun mulai mengantri. Aku harus bergosok gigi dan menyeka  muka dengan air hangat sebelum mendarat.  Inilah kegiatan sikat gigi di pesawat terbang untuk pertama kalinya dalam hidupku.

Tak lama setelah duduk kembali, pilot memberitahukan bahwa flag carrier milik Philippines ini akan segera mendarat di mainhubnya, yaitu Ninoy Aquino International Airport (NAIA). Maskapai berlogo dua layar biru dan merah yang melambangkan bendera kebesaran negara dan sunburst kuning delapan sinar ini akan mendarat di Terminal 1 sesuai rencana.

Bersiap mendarat di Manila.

Pesawat mendarat dengan mulusnya di runway dan kemudian taxiing dengan menampilkan pemandangan cepat tentang hiruk pikuknya suasana bandara. Aku pantas berterimakasih pada jasa maskapain berusia 79 tahun ini.

Rindu Cebu Pacific….Teringat menunggangnya empat tahun silam.
Thank you Philippine Airlines “The Heart of the Filipino”.

Saatnya transit dan menjelajah Manila dalam waktu singkat.

Yuksss…..Berkelana lagi!

Alternatif untuk tiket pesawat dari Doha ke Manila bisa dicari di 12Go atau link berikut: https://12go.asia/?z=3283832

Tian Tan Buddha….Religious Fascination in Ngong Ping

Journey to Tian Tan Buddha

Me: “Is it a bus to Tung Chung Station, Sir

Driver: “Yes, Sir….It will go there”.

A short conversation in double decker S56 front door at bus shelter, Hong Kong International Airport. With that double-decker bus, I headed to Tung Chung Tempory Bus Terminus which is 250 meters northwest of Tung Chung MTR Station.

Sitting on bus lower deck, I continued to look out the window to find a direction sign to Citygate Outlets as the closest building to Tung Chung Station which was most easily seen because of its towering height.

30 minutes passed, I finally saw top of that shopping center. Made my heart a little calm because of I wasn’t lost. Bus slowly approached at Tung Chung Temporary Bus Terminus. Instantly, I could see bus no. 23 bus which was aiming to Ngong Ping. Didn’t rush to catch it, because I had to look for breakfast at Citygate Outlets.

Shopping center which is combined with offices and hotels.

In and out of several minimarkets in mall ground floor, I never found halal food. Returning to front plaza while sitting and observing around, until finally finding McDonald’s logo at end of mall. I entered in that fast food restaurant. A warm omlet burger and a cup of hot tea for USD 1,9 made me better prepared to explore Big Buddha.

Hong Kong MTR (Mass Transit Railway) logo.

A step later, I was getting ready at Tung Chung Temporary Bus Terminus and then queueing at Bus no.23 platform. Starting by swiping Octopus Card on automatic fare machine near driver, I finally began my journey to Tian Tan Buddha.

Bus no.23 interior which goes to Ngong Ping.

How about views during my trip using bus no. 23. Let’s took a peek!

That’s part of South China Sea.
Rode through Tung Chung Road.

35 minutes later.…

Me: “Hello, is it yours?“, I shouted to tour group while holding someone’s Immigration Clearance Arrangement which had fallen under bus seat.

One of them: “Oh, it isn’t” she said after reading and confirming that it wasn’t her name and her group mate.

Me: “Oh, Ok“. I handed that sheet over to bus driver, maybe someone would look for it later.

Bus No. 23.

That incident had closed my journey story heading Tian Tan Buddha.

Tian Tan Buddha and surrounding destinations

The first part which I went through was Ngong Ping Piazza. What were in Ngong Ping Piazza?, here it is:

Entering Ngong Ping Piazza front gate amazed me about this destination. Spacious, majestic and sacred.

Ngong Ping Piazza main gate or often called New Pau Lau.

After passing through gate, next part which you will pass is 122 meters Bodhi Path with 12 statues on left and right sides which are known as “The Twelve Divine Generals”.

The Twelve Divine Generals” are in form of 12 statues of Gods Generals as guardians of Tian Tan Buddha. These 12 Gods Generals also symbolize 12 Chinese zodiacs. The twelve were armed with certain weapons.

The General Indra, represents the time between 9-11 AM. Representing snake symbol in Chinese zodiac. Armed with a stick.
The General Makura, represents time between 5-7am. Representing rabbit symbol in Chinese zodiac. Armed with an ax.

After passing Bodhi Path, you will find another section called The Four Lotus Ponds (Di Tan). This part is usually used for religious ceremonies held by Po Lin Monastery.

In Tan is centre of Ngong Ping Piazza. Often dubbed as “The Alter of Earth”.
If you are lucky, you will be greeted by a cow which is free to roam around Ngong Ping Piazza.

OK, Ngong Piazza was finished……

Next part which I would going to was Tian Tan Buddha.

Tian Tan Buddha is one of the tallest Buddha statues in the world. Facing north and need to climb 268 stairs to be exactly reach it. From above you will also see 360-degree views of Lantau Island.

Come on …. Are you strong to climb or maybe don’t climbing up there?
360-degree view of Lantau Island awaits you if you success to climb those stairs.
Free if you are visiting outside from Tian Tan Buddha statue. But you have to pay if you want to go to bottom of Buddha statue.

Around of Tian Tan Buddha, you will find six Bodhisattva statues which look like they give different offerings for Tian Tan Buddha.

Here it is one of six Bodhisattvas statues.

Then how about form of Tian Tan Buddha. This is it:

Dashing standing with 34 meters in height.

Stepped down the stairs of Tian Tan Buddha then I immediately rushed to Wisdom Path.

What is Wisdom Path?

Yups … is a path that cuts through forest with views on either side in the form of inscriptions containing writings from Heart Sutra teachings and poured in large pieces of wooden boards. The Heart Sutra itself is highly respected among Confucius, Buddhists and Taoists. These 38 wooden planks are arranged so that forming number 8 pattern as a symbol of infinity.

Sign towards Wisdom Path.

This Wisdom Path is only 15-minute walking from Tian Tan Buddha..

Yuhuuuu….I reached the Wisdom Path.

Wisdom Path was finished…..Then, what else?

Yup….Let’s visited Ngong Ping Village.

Is this a really village, Donny?

Noooooo…..This is just a souvenir sales place. Hahaha. So surely, I won’t visit it for long time….

The last….There is another destination in Ngong Ping. Namely Po Lin Monastery. Sorry, guys, I couldn’t visit…. Swear, I was very tired. I hadn’t slept all night, because there wasn’t comfortable sleeping area at Ninoy Aquino International Airport, Manila. Hopefully I can go to Hong Kong again and visit this monastery where monks gather and religious gatherings on an international scale held.

Bye Ngong Ping….Welcome Disneyland…..

10 Hong Kong’s Tourist Attractions in 48 Hours

Hong Kong is special administrative region of People’s Republic of China which was first region in East Asia I visited. I visited it in 2016.

How is my feeling at that time?…. Unspeakable, first time I go out of Southeast Asia and be special achievement at that time.

Why is that? … Flying to Hong Kong as soon as possible since becoming a traveler in 2011 is an easy matter. But that isn’t the essence, I am a combing traveler who visit one by one of region in a sequence and detail (so, you know my other strange habits now….crazy, don’t imitate!….Hahaha). So, here is it:

Before completing Southeast Asia exploration, I will make sure that I willn’t travel to East Asia.

Before completing East Asia exploration then I willn’t go to South Asia.

Similarly….Before completing South Asia exploration, I won’t step on Middle East region.

Already….enough, because I am on mission for completing Middle East exploration…. Do not ask me to write about Europe!….I don’t have experience yet about Europe exploration….Hahaha.

—-****—-

Back about Hong Kong. Oh yes, my last post about Hong Kong on this blog is at following link:

https://travelingpersecond.com/2018/03/11/big-buddha-tian-tan-buddha-and-disneyland-hong-kong/

Well, In this article I will tell you what I visited while in Hong Kong. All unique incidents, I will tell you its details one by one after this article yes.…

Here are ten main destinations where I visited:

  1. Hong Kong International Airport.

First day on 7:13 hours

Do you know?. Last August 2019, Hong Kong International Airport was totally paralyzed because it was occupied by pro-democracy masses who rejected The Hong Kong Extradition Bill.

When I watched TV, I remembered when I landed at this airport on January 4, 2016. My memory was still strong, at that time without bathing for 24 hours, I boarded Cebu Pacific flight number 5J 108 from Ninoy Aquino International Airport, Manila.

Look at my face…. Can you believe that I don’t take a bath for 24 hours?

Do you trust me more? that small backpack was the only backpack which I brought in traveling to Manila-Hong Kong-Macao-Shenzhen for 10 days. Look like playing to near cities, right?….Hahaha.

2. Tian Tan Buddha

First day on 10:13 hours

From airport, I didn’t directly go to hotel….It wasn’t luxury traveling. I moved towards Lantau Island (you need to know that Hong Kong consists of 3 main islands namely Lantau, Kowloon and Hong Kong).

Using S56 double-decker bus to Tung Chung Station and continue with bus no 23 to Tian Tan Buddha.`

If you go to Hong Kong, you must come here. Because this is the largest bronze statue in the world with a height of 34 meters and tangible as Sitting Buddha. It was built 26 years ago as a center for Buddhism activities in Hong Kong.

Not taking a shower for 24 hours….Still handsome….Hahaha, I am very confident.

3. Hong Kong Disneyland

First day on 13:37 hours

Don’t rush to move from Lantau Island, within 33 km range and 35 minutes travel time, you can visit Hong Kong Disneyland.

Likewise me, I left Tian Tan Buddha for Tung Chung Station again then took Tung Chung Line MTR (Mass Transit Railway) and changed to MTR Disneyland Resort Line at Sunny Bay Station to reached this destination.

Opened in 2005, Hong Kong Disneyland is the largest theme park in Hong Kong. Just prepare USD 74 to enter into it.

Upss….Belly button.

4. Kowloon Walled City Park

First day on 18:37 hours

Leaving Hong Kong Disneyland, I completed check-in process at Hong Kong Taiwan Hotel which located in 3rd floor Chungking Mansions Building. Hotel which costs USD 19,5 per night, is located on Nathan Road 36-44.

Finally found a halal food stall owned by Indian descent residents of on 1st floor. After a very late lunch, I headed for Kowloon Walled City Park which was built in a former of densely populated residential area with crime that was hard to eradicate by Hong Kong police.

Departed from Tsim Sha Tsui Station towards Lok Fu Station. From this station, you only need to walk about 1 km to Kowloon Walled City Park along Junction Road with 15 minutes travel time.

The park is quite dark at night.

5. Ladies Market

Fisrt day on 20:15 hours

From Lok Fu Station, I headed to Mong Kok Station for USD 0,7.

Ladies Market, located on Tung Choi Street, is a famous souvenir market in Hong Kong. You who are good at bargaining for goods must shop here. Me?….No, I was just sightseeing.

Ladies Market operating hours: 11:00 – 23:30.

6. Avenue of the Stars

Second day on 09:45 hours

Avenue of the stars is a 400-meter-long bridge plaza on north side of Victoria Harbor, made to resemble Hollywood’s “Walk of Fame,” built to celebrate the success of Hong Kong Film Industry. Decorated by statues of famous Hong Kong artists and film directors, their handprints and several sculptures which depicting filmmaking activities in Hong Kong.

When I arrived in Hong Kong, Avenue of Stars was undergoing renovation so that all statues were transported and exhibited in a park called Garden of Stars at Salisbury Road.

Since renovation have been completed at this time, all statues and handprints have been moved back to edge of Victoria Harbor. And of course, its location had better appearance.

Just need to walk from hotel where I stayed to go to Garden of Stars.

Ciaaaaaatttt……

7. The Hong Kong Observation Wheel dan AIA Vitality Park.

Second day on 11:20 hours

Located in front of Central Ferry Pier on Hong Kong Island. This 60 meter high ferris wheel has 42 gondolas as a medium of Hong Kong observation from a height. Just need to spend USD 3 to ride it

While AIA Vitality Park is directly below it. This park is commonly used for sports, concerts and festivals. When I was there, there was a festival to celebrating Christmas and New Year 2018 in this park.

8. Bank of China Tower

Second day on 12:45 hours.

Bank of China Tower is a famous landmark on Hong Kong Island. Because of its popularity, it was often made as souvenirs which were sold throughout Hong Kong.

BOC Tower is located on Garden Road and it’s headquarters Bank of China (Hong Kong) Limited. With a height of 367 meters, making it as fourth tallest building in Hong Kong.

On 43rd floor, It has an observation deck which was originally opened for tourists so that they can see whole city from above. But unfortunately, when I arrived there, this facility was closed to public. Upss….I wasn’t lucky.

Then what did I do in the tower for 2 hours?….Read my post after this! ….Hahaha

That’s the tower….has typical triangular frame.

9. Wan Chai District

Second day on 17:30 hours

Upss….this is prostitution area….Oh, What are you doing, Donny!…. Hahaha.

Eittt, don’t get me wrong….Wan Chai is a backpacker area on Hong Kong Island. I am a good man….I wasn’t staying here (my hotel is in Kowloon Island)….I was just sightseeing here….Hohoho.

Yes….I initially mean to go to Victoria Park which is a gathering place for Indonesian migrant workers….Maybe, my face look like a migrant worker, so maybe they will give free food for my dinner….Hahaha.

I was too far from that park when I got off Ding Ding Tram….Because it was heavily raining and I couldn’t find the way to that park, then I stopped by for a moment at center of Wan Chai District where food prices were cheap….I was very hungry.

It was true….there were many pubs with super sexy women….I was very nervous….Hahaha.

Situation at Henessy Road, Wan Chai District

10. Symphony of Lights

Second day on 19:55 hours

Symponhy of Lights is a show of light and sound which emitted from 42 skyscraper buildings at Victoria Harbor. Leaving Wan Chai District, I stopped by here before returning to hotel. It was my last night in Hong Kong because on next day I would sail to Macao.

Then….Who has ever been a backpacker to Hong Kong?….Hahaha.

Tian Tan Buddha….Pesona Religius di Ngong Ping

Perjalanan Menuju Tin Tan Buddha

Aku: “Is it a bus to Tung Chung Station, Sir

Driver: “Yes, Sir….It will go there”.

Percakapan singkat di pintu depan double decker S56 di bus stop, Hong Kong International Airport. Dengan bus tingkat itu, Aku menuju Tung Chung Tempory Bus Terminus yang berjarak 250 meter di barat laut Tung Chung MTR Station.

Duduk di deck bawah bus, Aku terus mengamati ke luar jendela untuk menemukan tanda keberadaan Citygate Outlets sebagai bangunan terdekat dari Tung Chung Station yang paling mudah terlihat karena ketinggiannya yang menjulang.

30 menit berlalu, akhirnya Aku melihat bagian atas shopping centre itu. Membuat hati sedikit tenang karena sudah pasti Aku tak tersasar. Bus perlahan merapat di Tung Chung Temporary Bus Terminus. Dalam sekejap pula, Aku bisa melihat keberadaan bus bernomor 23 yang bertujuan akhir di Ngong Ping. Tak bergegas mengejarnya, karena Aku harus mencari sarapan di Citygate Outlets.

Pusat perbelanjaan yang dikombinasikan dengan perkantoran dan hotel.

Keluar masuk beberapa minimarket di lantai dasar mall, Aku tak kunjung menemukan makanan halal. Kembali ke plaza depan sembari duduk mengamati sekitar, hingga akhirnya menemukan logo McDonald’s di ujung mall. Mendamparkan diri di resto cepat saji itu. Burger omlet hangat dan secangkir hot tea seharga Rp 26.000 membuatku lebih siap untuk menjelajah Big Buddha.

Lambang MTR (Mass Transit Railway) Hong Kong

Selangkah kemudian, Aku sudah bersiap di Tung Chung Temporary Bus Terminus dan kemudian mengantri di platform bus No.23. Dimulai dengan men-swipe Octopus Card di automatic machine fare di sebelah sopir, akhirnya Aku memulai perjalanan menuju Tian Tan Buddha.

Interior bus no.23 menuju Ngong Ping.

Bagaimana ya pemandangan selama perjalan menggunakan bus no.23. Intip dikit yuk!….

Itu bagian dari Laut China Selatan lho…..
Menyusuri Tung Chung Road.

35 menit kemudian…..

Aku: “Hello, is it yours?”, Aku berteriak kepada rombongan wisata sambil memegang Immigration Clearance Arrangement milik seseorang yang jatuh dibawah bangku.

Salah satu dari mereka: “Oh, it isn’t”, berseloroh setelah membaca dan mengkonfirmasi itu bukan namanya dan teman rombongannya.

Aku: “Oh, Ok”. Aku menyerahkan lembar itu ke sopir, barangkali nanti ada yang nyariin.

Bus No. 23.

Kejadian itu menjadi penutup cerita perjalanan menuju Tian Tan Buddha.

Tian Tan Buddha dan Destinasi di Sekitarnya

Bagian pertama yang Kulalui adalah Ngong Ping Piazza. Apa aja yang ada di Ngong Ping Piazza, ini dia:

Memasuki gerbang depan Ngong Ping Piazza membuatku kagum akan destinasi ini. Luas, megah dan sakral.

Main gate Ngong Ping Piazza atau sering disebut New Pau Lau.

Setelah melewati gerbang maka bagian selanjutnya yang akan Kamu lalui adalah Bodhi Path sepanjang 122 meter dengan 12 patung di sisi kiri dan kanan yang dikenal sebgai ”The Twelve Divine Generals”.

The Twelve Divine Generals” berwujud 12 patung jenderal dewa sebagai penjaga Tian Tan Buddha. 12 Jenderal Dewa ini juga melambangkan 12 zodiak Tiongkok. Kedua belasnya dipersenjatai dengan senjata tertentu.

The General Indra, mewakili waktu antara jam 9-11 pagi. Mewakili lambing ular dalam zodiak Tiongkok. Bersenjatakan tongkat.
The General Makura, mewakili waktu antara jam 5-7 pagi. Mewakili lambing kelinci dalam zodiak Tiongkok. Bersenjatakan kapak.

Setelah melewati Bodhi Path maka Kamu akan menemui bagian lain yang dinamakan dengan The Four Lotus Ponds (Di Tan). Bagian ini biasanya digunakan untuk upacara keagamaan yang diselenggarakan oleh Po Lin Monastery.

Di Tan adalah pusat dari Ngong Ping Piazza. Sering dijuluki sebagai “The Alter of Earth”.
Jika beruntung, Kamu akan disapa oleh doi yang bebas berkeliaran di sekitar Ngong Ping Piazza.

OK, Ngong Piazza kelar……

Bagian selanjutnya yang kutuju adalah Tian Tan Buddha.

Tian Tan Buddha adalah salah satu patung Buddha tertinggi di dunia. Menghadap ke utara dan perlu mendaki 268 anak tangga untuk persis berada dibawahnya. Dari atas juga akan terlihat pemandangan Lantau Island 360 derajat.

Yuk….Kamu kuat ga naik?.
Pemandangan Lantau Island 360 derajat menantimu jika berhasil mendaki anak-anak tangga itu.
Free jika Kamu sebatas berkunjung di luar patung Tian Tan Buddha. Tapi Kamu harus membayar jika ingin masuk ke bagian bawah patung Buddha

Disekeliling Tian Tan Buddha akan Kamu jumpai enam patung Bodhisatva yang terlihat seperti memberikan persembahan berbeda-beda untuk Tian Tan Buddha.

Ini dia salah satu dari keenam patung Bodhisatva.

Lalu bagaimana wujud dari Tian Tan Buddha. Ini dia:

Gagah menjulang dengan tinggi 34 meter.

Menuruni kembali Tangga Tian Tan Buddha maka Aku segera bergegas menuju Wisdom Path.

Apa itu Wisdom Path?

Yups…adalah jalur setapak yang membelah hutan dengan pemandangan di kiri kanan jalan berupa prasasti-prasasti yang berisi tulisan-tulisan dari ajaran Sutra Hati dan dituangkan dalam lembaran-lembaran besar papan kayu. Sutra Hati sendiri sangat dihormati di kalangan Konfusius, Buddhists dan Tao. Papan kayu ini berjumlah 38 buah dan disusun sedemikian rupa sehingga membentuk pola angka 8 sebagai lambang infinity.

Tanda menuju Wisdom Path.

Wisdom path ini hanya berjarak 15 menit jalan kaki dari Tian Tan Buddha.

Yuhuuuu….Sampai juga di Wisdom Path.

Wisdom Path kelarrrr…..yuk, apalagi?

Yup….Mari berkunjung ke Ngong Ping Village.

Ini perkampungan ya, Don?….Kok Village.

Bukaaaaaannnnnnnnnn……..Ini Cuma tempat penjualan souvenir. Hahaha. So pasti, Aku ga bakal lama-lama disini….

Terakhirrrr…..Ada satu lagi destinasi di Ngong Ping. Yaitu Po Lin Monastery. Sorry ya gaes, Guwe gak bisa kunjungi….Sumpehhh, cuapekkkk puolll. Guwe belum tidur semalaman, karena ga ada dapat posisi tidur yang nyaman di Ninoy Aquino International Airport, Manila. Mudah-mudahan Aku bisa ke Hong Kong lagi dan mengunjungi biara itu. Biara tempat berkumpulnya para biksu dan pertemuan-pertemuan keagamaan berskala Internasional.

Bye Ngong Ping….Welcome Disneyland…..

10 Destinasi Wisata Hong Kong dalam 48 Jam

Hong Kong merupakan daerah admistrasi khusus Republik Rakyat China yang menjadi wilayah pertama di Asia Timur yang Kukunjungi. Aku mengunjunginya pada tahun 2016.

Perasaanku waktu itu?….Tak terkatakan, pertama kali keluar Asia Tenggara adalah pencapaian prestisius kala itu.

Kenapa begitu?….Terbang ke Hong Kong sesegera mungkin sejak menjadi traveler pada 2011 adalah perkara mudah. Tapi bukan itu esensinya, Aku ini kan traveler penyisir yang mendatangi satu persatu kawasan dengan urut dan detail (tuh kan, Kamu jadi tahu kebiasaan anehku yang lain….orang gelo guwe mah, jangan ditiru!….Hahaha). Jadi begini….

Sebelum menuntaskan eksplorasi Asia Tenggara maka Kupastikan Aku tak akan menuju Asia Timur.

Sebelum menuntaskan eksplorasi Asia Timur maka Aku tak akan pergi ke Asia Selatan.

Sama….Sebelum tuntas Asia Selatan, Aku tak akan menginjak Timur Tengah.

Udah ye….segini dulu, karena Aku baru akan menuntaskan Timur Tengah….Jangan suruh nulis about Eropa!….Guwe belum punya bahan….Hahaha.

—-****—-

Yuk kembali ke Hong Kong. Oh ya, tulisan terakhirku tentang Hong Kong di blog ini ada di link berikut:

https://travelingpersecond.com/2018/02/19/bigbuddha-dan-disneyland-hong-kong/

Nah, kali ini Aku akan menceritakan apa saja yang Kukunjungi selama di Hong Kong. Sedangkan kejadian-kejadian unik akan Kuceritakan detail satu-persatu setelah artikel ini ya….

Inilah sepuluh destinasi utama yang Kukunjungi:

  1. Hong Kong International Airport.

Hari pertama pukul 07:13

Tahu kan, Agustus lalu Hong Kong International Airport lumpuh total karena di duduki massa pro-demokrasi yang menolak RUU Ektradisi Hong Kong.

Ketika lihat TV, Aku jadi teringat kala mendarat di bandara ini pada 4 Januari 2016. Ingatanku masih kuat, waktu itu tanpa mandi selama 24 jam, Aku menaiki Cebu Pacific bernomor penerbangan 5J 108 dari Ninoy Aquino International Airport, Manila.

Lihat tampangku…Percaya kan ga mandi selama 24 jam?.

Lebih percaya lagi ga? tas seuprit itu adalah satu-satunya backpack yang kubawa klayapan ke Manila-Hong Kong-Macao-Shenzen selama 10 hari. Kayak main ke Depok aja kan?….Hahaha.

2. Tian Tan Buddha

Hari pertama pukul 10:13

Dari airport, Aku tak lantas menuju hostel….emang piknik-ers?. Aku bergerak menuju Lantau Island (Yang perlu Kamu tahu bahwa Hong Kong terdiri dari 3 pulau utama yaitu Lantau, Kowloon dan Hong Kong).

Naik double decker bus S56 menuju Tung Chung Station dan dilanjutkan dengan bus no 23 menuju Tian Tan Buddha. `

Kalau ke Hong Kong, Kamu wajib kesini ya. Karena ini adalah patung perunggu terbesar di dunia dengan tinggi 34 meter dan berwujud Buddha duduk. Dibangun 26 tahun silam sebagai pusat kegiatan Buddhisme di Hong Kong.

Gak mandi….tetep aja guanteng….Njiir, pede beud.

3. Hong Kong Disneyland

Hari pertama pukul 13:37

Jangan buru-buru berpindah dari Lantau Island, dalam jarak 33 km dan waktu tempuh 35 menit, Kamu bisa mengunjungi Hong Kong Disneyland.

Demikian pula diriku, meninggalkan Tian Tan Buddha menuju Tung Chung Station kembali kemudian naik MTR (Mass Transit Railway) Tung Chung Line dan berganti dengan MTR Disneyland Resort Line di Sunny Bay Station untuk mencapai tujuan.

Dibuka pada tahun 2005, Hong Kong Disneyland adalah theme park terbesar di Hong Kong. Siapkan saja Rp. 1.000.000 untuk masuk kedalamnya.

Aduh….udel.

4. Kowloon Walled City Park

Hari Pertama jam 18:37

Sepulang dari Hong Kong Disneyland, Aku menyelesaikan proses check-in di Hong Kong Taiwan Hotel yang terletak di Chungking Mansions Building lantai 3. Hotel seharga Rp 264.000 per malam itu terletak di Nathan Road 36-44.

Akhirnya menemukan kedai makanan halal milik warga Hong Kong keturunan India di lantai 1. Selepas lunch yang sangat terlambat itu, Aku menuju Kowloon Walled City Park yang dibangun di daerah bekas pemukiman padat penduduk dengan kriminalitas yang susah diberantas oleh kepolisian Hong Kong.

Bertolak Tsim Sha Tsui Station menuju Lok Fu Station. Dari stasiun ini, hanya perlu berjalan kaki sejauh 1 km menuju Kowloon Walled City Park menyusuri Junction Road dengan waktu tempuh 15 menit.

Taman cukup gelap di malam hari.

5. Ladies Market

Hari Pertama jam 20:15.

Dari Lok Fu Station, Aku menuju Mong Kok Station dengan tarif Rp. 9.000

Ladies Market yang terletak di Tung Choi Street merupakan tempat berbelanja souvenir terkenal di Hong Kong. Kamu yang jago menawar barang bolehlah berbelanja ke sini. Aku?….kagaklah, cuma lihat-lihat aja.

Jam operasioal Ladies Market: 11:00 – 23:30.

6. Avenue of the Stars

Hari kedua jam 09:45

Avenue of the stars adalah plaza jembatan sepanjang 400 meter di sisi utara Victoria Harbour yang dibuat mirip “Walk of Fame” nya Hollywood, dibangun untuk merayakan suksesnya Industri Perfilman Hong Kong. Dihiasi oleh patung para artis dan direktur film terkenal Hong Kong, cetakan telapak tangan (handprints) mereka serta patung-patung yang menggambarkan aktivitas pembuatan film di Hong Kong.

Saat Aku tiba di Hong Kong, Avenue of the Stars sedang mengalami renovasi sehingga semua patung diangkut dan dipamerkan di sebuah taman yang diberi nama Garden of Stars di bilangan Salisbury Road.

Karena renovasi sudah selesai saat ini, maka semua patung dan handprints sudah dipindahkan kembali ke tepian Victoria Harbour dan tentu penampakan lokasinya sudah lebih baik lagi.

Cukup berjalan kaki untuk dari hotel tempatku menginap untuk menuju Garden of Stars.

Ciaaaaaatttt…..hazedigggg.

7. The Hong Kong Observation Wheel dan AIA Vitality Park.

Hari kedua pukul 11:20

Terletak di depan Central Ferry Pier di Hong Kong Island. Ferris wheel setinggi 60 meter ini memiliki 42 gondola sebagai media observasi Hong Kong dari ketinggian. Cukup merogoh kocek Rp 40.000 untuk menaikinya.

Sedangkan AIA Vitality Park berada tepat di bawahnya. Taman ini biasa digunakan untuk olah raga, konser dan festival. Saat Aku kesana memang sedang ada festival untuk menyambut Natal dan Tahun Baru 2018 di taman ini.

8. Bank of China Tower

Hari kedua pukul 12:45.

Bank of China Tower adalah landmark terkenal di Hong Kong Island. Saking terkenalnya sering dicetak sebagai souvenir yang dijual di seantero Hong Kong.

BOC Tower ini terletak Garden Road dan merupakan kantor pusat Bank of China (Hong Kong) Limited. Dengan tinggi 367 meter menjadikannya sebagai bangunan tertinggi keempat di Hong Kong.

Di lantai 43 memiliki observation deck yang awalnya dibuka untuk turis sehingga bisa melihat seisi kota dari atas. Tetapi sayangnya, saat Aku tiba disana fasilitas ini sudah ditutup untuk umum. Beuh….nasib guwe kagak mujur emang.

Trus apa yang kulakukan di tower itu selama 2 jam an?….Baca tulisan setelah ini ya!….hahaha

Itu tuh towernya….khas berkerangka segitiga.

9. Wan Chai District

Hari kedua pukul 17:30

Hadeuh…..ini mah daerah prostitusi…..dasar keparat kamu, Donny!….Hahaha.

Eittt, jangan salah ya….Wan Chai adalah salah satu backpacker area di Hong Kong Island. Guwe baik kan…. ga nginep dimari (hotelku kan di Kowloon Island)….atut….hohoho.

Ya gimana lagi….maksud hati menuju Victoria Park yang menjadi tempat berkumpulnya para TKI….Tampang guwe kan mirip TKI tuh….siapa tahu ada yang mau kasih makanan gratis buat jatah dinner guwe…..#ngarep

Gue kebablasan pas naik Ding Ding Tram….karena keburu hujan lebat dan gak mungkin nyari ntuh taman, maka mampir lah sebentar di pusat Wan Chai District yang harga makanannya murah-murah….Aku keburu dilanda kelaparan.

Bener ternyata….banyak pub-pub dengan wanita-wanita super sexy yang di gandeng para bule….lah guwe, gandengan ama sape?….hahaha.

Suasana di Henessy Road, Wan Chai District

10. Symphony of Lights

Hari kedua pukul 19:55

Symponhy of Lights adalah pertunjukan cahaya dan suara yang dipancarkan dari 42 gedung pencakar langit di seberang Victoria Harbour. Sepulang dari Wan Chai District, Aku sempatkan mampir disini sebelum balik ke hotel. Saat itu adalah malam terakhirku di Hong Kong karena keesokan harinya Aku akan berlayar ke Macao.

Hayo….Siapa yang sudah pernah backpacker ke Hong Kong….Ngacung!.