Menuju Zain East Hotel: Berjibaku Mengambil Bacpack

<—-Kisah Sebelumnya

Setidaknya aku bisa menepati waktu kepada diriku sendiri. Tepat dua jam lamanya aku menikmati area Umm Suqeim dengan pemandangan taman dan pantai terbaik.

Tepat pukul empat sore aku sudah mengemasi kamera mirrorlessku ke dalam folding bag. Aku melangkah pergi meninggalkan Umm Suqeim Beach.

Aku melangkah cepat menyusuri jalanan di sisi barat Umm Suqeim Park yang merupakan jalan tembus menuju jalanan utama. Dengan cepat aku tiba di perempatan yang terbentuk dari Jumeirah Beach Street dan Al Thanya Street. Menyeberangi perempatan itu, aku menyasar halte bus Umm Suqeim, Park 2. Itulah sisi yang tepat untuk mencegat Dubai Bus No. 8 untuk kembali lagi menuju area Al Fahidi di pinggiran Dubai Creek.

Hanya perlu menunggu lima menit untuk menunggu bus itu tiba di halte tempatku menunggu. Dengan wajah sumringah aku menaiki bus itu.

Aku akan tiba di bandara tepat waktu malam ini”, aku mengepalkan tangan di bangku belakang.

Bus melaju perlahan meninggalkan area Umm Suqeim.

Perjalanan sedikit melambat di perjalanan karena seorang ibu dengan anak kecilnya yang menaiki bus mendapatkan masalah karena Nol Card yang dimilikinya kehabisan saldo. Pengemudi bus berpeawakan Asia Selatan itu tampak cukup bersabar membantu ibu tersebut. Tetap dibawanya sang ibu lalu pada sebuah halte bus yang berukuran besar, sang pengemudi turun untuk membantu ibu tersebut men-top up saldo Nol Cardnya di RTA Bus Ticket Machine.

Usai kejadian itu, bus pun berfokus menuju Al Ghubaiba Bus Station.

Setelah menempuh perjalanan sejauh hampir dua puluh kilometer dan waktu tempuh hampir satu jam lamanya, akhirnya Dubai Bus No. 8 mulai merangsek mendekati area Al Fahidi yang arus lalu lintasnya semakin padat.

Aku bersiap diri untuk turun di Al Ghubaiba Metro Station sebelum bus benar-benar tiba di depot terakhirnya, Al Ghubaiba Bus Station.

Aku berhasil turun di Al Ghubaiba Metro Bus Stop yang berlokasi di sisi barat Al Falah Street, tepat berseberangan dengan Al Shindagha Museum.

Sebelum menyeberangi jalanan, mataku cukup awas melihat keberadaan stasiun Dubai Metro di seberang timur jalan. Itulah Al Ghubaiba Metro Station yang menjadi tujuanku.

Umm Suqeim, Park 2 Bus Stop.
Dubai Bus No. 8 akhirnya tiba juga.
Pemandangan taman bunga yang indah di sepanjang perjalanan.
Al Ghubaiba Metro Bus Stop di tepian Al Falah Street.

Kini perjalananku menuju penginapan akan berpindah moda menggunakan kereta.

Aku bergegas memasuki stasiun dan menuju ke ruangan bawah tanah untuk menangkap keberangkatan Dubai Metro Green Line terdekat. Aku akan menuju tujuan akhir di Baniyas Square Station yang terletak di Distrik Deira.

Tahapan perjalanan terakhir itu akan melalui terowongan bawah air milik Dubai Metro yang berada tepat di bawah aliran air Dubai Creek.

Perjalanan menggunakan kereta ini menempuh jarak sejauh tiga kilometer dan waktu tempuh sekitar seperempat jam.

Menjelang pukul setengah enam sore akhirnya aku tiba di Baniyas Square Station.

Tiba di stasiun Dubai Metro.
Area parkir sepeda di depan stasiun.
Gerbang Al Ghubaiba Metro Station.
Ruangan bagian dalam Al Ghubaiba Metro Station.

Secara keseluruhan perjalanan, aku membayar tarif sebesar 12,5 Dirham. 5 Dirham untuk membayar tarif bus dari Umm Suqeim Park menuju Al Ghabaiba Metro Station, sedangkan 7,5 Dirham untuk membayar tarif Dubai Metro dari Al Ghubaiba Metro Station menuju Baniyas Square Station.

Kini perjalananku menuju penginapan hanya berjarak tak lebih dari satu kilometer. Aku akan berjalan menujunya lalu mengambil backpack yang kutitipkan di resepsionis Zain East Hotel. Dan untuk kemudian aku akan bergegas menuju Dubai International Airport demi menuju ke Muscat.

Kisah Selanjutnya—->

Menyeberang Dubai Creek Menuju Bur Dubai

<—-Kisah Sebelumnya

Surya mulai sedikit tergelincir menuju ufuk barat, tapi udara masihlah kering dan menyengat. Kuperhatikan kulitku semakin legam saja sejauh petualangan berjalan.

Sangkala bertengger di angka satu waktu setempat, bertepatan dengan rasa gembiraku karena telah menyentuh garis finish dalam mengeksplorasi kawasan heritage Al Ras di Distrik Deira. Tak kurang dari sepuluh spot warisan yang berhasil aku tengok di kawasan tersebut.

Pada akhir tahapan, aku berdiri di Deira Old Souq Water Taxi Station demi menunggu kedatangan perahu tradisional sebagai satu akses terbaik dan terhemat menuju kawasan Bur Dubai yang berlokasidi seberang selatan Dubai Creek.

Tak perlu menunggu lama, perahu penuh penumpang itu tiba. Merapat pelan ke dermaga dan mengantarkan setiap penumpangnya menuju ke tepian sungai.

Beberapa menit merapat, perahu itu telah kosong kembali. Tampak pengemudinya keluar dari lambung perahu dimana mesin ditempatkan. Kemudian mengambil sebuah jerigen bahan bakar yang diberikan oleh rekannya dari tepian sungai. Tampaknya sang pengemudi sedang mengisi bahan bakar untuk operasional perahu tersebut.

Tak lama tentunya….

“Come…Come….”, pengemudi perahu berperawakan khas Asia Selatan itu melambaikan tangannya kepada calon penumpang yang berada di dermaga.

Tanpa keraguan, aku pun melompat ke atas perahu dengan senang hati walaupun itu bukan kali pertama aku menaiki perahu.

Beda, Boy….ini perahu di Dubai. Perahu yang sering kulihat di layar televisi ketika menyaksikan program siaran TV tentang pariwisata Dubai….Bersyukur sekali, aku benar-benar menaikinya sekarang”, hatiku bergumam menang.

Dalam sekejap perahu itu telah penuh penumpang, sang pengemudi pun berkeliling menarik ongkos kepada segenap penumpangnya. Aku menyerahakan koin seharga 1 Dirham kepadanya sebagai biaya menyeberangi Dubai Creek yang memiiki lebar tak kurang dari dua ratus meter.

Deira Old Souq Water Taxi Station.
Menuju ke perahu.
Perahu pun tiba.
Itu tuh pelampungnya.
Gaya banget sih….Wkwkwk.
Dubai Creek yang tenang.
Bur Dubai Water Taxi Station.

Kuperhatikan dengan seksama bahwa taksi air itu memiliki kapasitas 20 penumpang dengan tempat duduk saling berpunggungan . Taksi air itu memilik panjang hampir 12 meter, memiliki naungan di atas bangku penumpang dimana sisi atap bagian dalamnya dimanfaatkan sebagai tempat menyimpan pelampung.

Perahu pun mulai melintasi Dubai Creek . Saat itu, permukaan sungai memiliki riak yang cukup tenang sehingga membuat hati sedikit tenang ketika melakukan penyeberangan. Hanya butuh waktu kurang dari lima menit untuk menyeberangi Dubai Creek.

Kuperhatikan dengan seksama bahwa perahu itu tidak berlayar dengan jalur pelayaran yang tegak lurus dengan badan sungai melainkan memiliki jalur pelayaran sedikit menyerong ke arah barat.

Setiba di bagian seberang sungai, aku diturunkan di Bur Dubai Water Taxi Station. Yang kuingat hanyalah dua nama distrik yang mengapit dermaga tempatku diturunkan, yaitu Historical Shindagha District yang berada di utara dari tempatku berdiri dan Al Fahidi Historical District di sisi selatannya.

Lalu….Kemanakah aku harus melangkah?

Kisah Selanjutnya—->

Dubai Creek: Pemisah Deira dan Bur Dubai

<—-Kisah Sebelumnya

Meninggalkan Utensil Souq dan Herbs Souq, aku perlahan melangkah di Old Baladiya Street menuju selatan. Arah langkahku jelas bahwa aku sedang menuju ke Dubai Creek.

Dubai Creek sendiri adalah sungai kecil yang memisahkan dua distrik utama di Dubai, yaitu Deira dimana aku berdiri siang itu dan Bur Dubai yang terletak di seberang selatan aliran air asin sungai tersebut.

Berdiri pada salah satu titik di Baniyas Road, aku terus memandangi segenap aktivitas yang sedang terjadi di sepanjang Dubai Creek. Baniyas Road menjadi jalan utama yang melekuk mengikuti kontur Dubai Creek di sisi Distrik Deira.

Sedangkan tepat di belakangku berdiri gagah bangunan klasik Dubai Municipality Museum. Entah kenapa museum itu menutup diri rapat-rapat, membuatku enggan untuk melongoknya walau sekejap. Konon tersimpanlah berbagai artefak, barang antik, peta lama kota, perangko lama dan segala dokumen yang bisa menggambarkan aktivitas pemerintahan masa lalu di Emirat Dubai.

Aku memutuskan menyisir tepian Dubai Creek dari sisi timur, tampak keberadaan kapal-kapal kayu berukuran besar tertambat tenang di pinggiran sungai. Sementara stock logistik tersusun menumpuk rapi di tepian sungai tepat di sebelah posisi parkir kapal-kapal tersebut. Beberapa anak buah kapal tampak duduk santai di pinggiran sungai atau di atas tumpukan logistik menunggu pekerjaan dimulai. Suasana siang itu mengingatkanku pada Pelabuhan Sunda Kelapa di ibu kota yang beratmosfer sama.

Sementara papan besar ditempatkan di sisi sungai menampilkan delapan larangan utama yang diterapkan di sepanjang bantaran sungai. Kedelapannya adalah dog walking, kegiatan barbeque, membuang sampah sembarangan, berkemah, memberi makan ikan, merokok dengan sisha, memancing dan kegiatan menggunakan caravan.

Dubai Municipality Museum.
Baniyas Road.
Baniyas Road.
Kapal-kapal besar pengangkut logistik.
Logistik tersusun rapi di tepian Dubai Creek.
Menunggu aktivitas dimulai.
Terminal taksi air (ferry).

Sedangkan sebuah bangunan permanen yang berfungsi sebagai Customer Service Center milik Bea Cukai Dubai ditempatkan di satu titik bersebelahan dengan stasiun taksi air (local ferry).

Sementara itu bagi para wisatawan yang hendak menikmati wisata berkeliling kota menggunakan bus tingkat maka sebuah konter penjualan tiket Dubai Big Bus Tour tersedia pula di sisi sungai. Tiket paling murah untuk tur menggunakan bus ini adalah 145 Dirham. Jika kamu memilih dengan paket khusus yang lain tentu harus merogoh kocek lebih dalam.

Sedangkan untuk mengatur alur lalu lintas dalam menyeberangi Baniyas Road maka selain disediakan zebra cross di permukaan, pemerintah setempat juga menyediakan penyeberangan bawah tanah dari tepian sungai hingga tepat di depan Grand Souq Deira di sisi yang lain.

Selain terintegrasi dengan terminal ferry, area di sekitar Grand Souq Deira ini juga dikoneksikan dengan jalur bus kota dengan sebuah halte di sisi selatan jalan. Melihat keramaian di sekitar Dubai Creek menunjukkan bahwa Distrik Deira menjadi kekuatan ekonomi tersendiri yang dimiliki oleh Emirat Dubai.

Lalu bagaimana dengan keramaian area Bur Dubai yang berada di seberang Dubai Creek sebelah selatan?

Kalau begitu mari kita menyeberang ke sana…..!

Kisah Selanjutnya—->

Museum of the Poet Al-Oqaili: Warisan Sepanjang Generasi

<—-Kisah Sebelumnya

Lepas mengunjungi Traditional Spices Market, menjelang pukul setengah sebelas pagi aku kembali turun ke jalanan. Bukan di Al Ahmadiya Street lagi, melainkan Al Ras Road yang kini kutapaki. Aku kembali berbalik ke utara, mencari keberadaan bangunan warisan masa lalu Dubai lainnya di wilayah Al-Ras.

Melangkah kurang lebih sejauh tiga ratus kilometer akhirnya aku menemukan satu lagi spot heritage yang cukup besar dan terawat dengan baik, bangunan itu adalah Museum of the Poet Al-Oqali.

Disebut juga sebagai Al-Oqaili Poet Museum. Ketika berada di depan halamannya, aku mulai membaca informasi yang terpampang di pintunya. Dari informasi itu, aku mendapatkan keuntungan besar karena museum ini bisa dikunjungi secara cuma-cuma dan kebetulan sekali aku mendatanginya tepat pada pada waktu buka museum dimana museum akan menerima tamu pada hari Minggu hingga Kamis dari pukul 08:00 sampai dengan 14:00 waktu setempat.

Museum di hadapanku itu memiliki dua lantai dengan keseluruhan 11 ruangan dengan fungsi berbeda.

Ground Floor memiliki enam ruangan, meliputi ruangan Al-Oqaili’s Life, Classical Poetry, Local Style Poetry (Nabati), Al-Oqaili’s Correspondences, Kitchen dan Administration Room

Sedangkan First Floor memiliki lima ruangan yang meliputi ruangan Cultural & Socil Life, Al-Oqaili’s Manuscripts, Restoration of the House, Al-Majlis dan Books on Al-Oqaili’s.

Memasuki pintu museum aku langsung disambut oleh seorang front staff berkebangsaan Nigeria, Mr. Chamakh namanya. Hanya perlu untuk mengisi buku tamu maka aku pun dipersilahkan olehnya untuk mengeksplorasi seisi museum.

Berikut beberapa informasi yang kudapatkan selama satu jam lamanya berada di museum.          

Penyair terkenal Mubarak Bin Hamad Bin Mubarak Al Oqaili garis keturunannya dihubungkan dengan Al Manea yang merupakan bagian dari keluarga Bani Oqaili. Sedangkan Bani Oqaili memiliki garis keturunan dari Bani Khaled yang terhubung dengan keluarga dari Rabiah Ibn Amir yang merupakan salah satu suku terkenal Modhar Adnan di Semenanjung Arab. Garis keturunan ini sangat jelas dituturkan dalam beberapa puisi Al-Oqaili.

Al-Oqaili lahir di Al-Ahsa, sebuah area di sebelah timur semenanjung Arab pada tahun 1875. Ayah Al-Oqaili sendiri meninggal di Oman ketika beliau terjatuh dan terinjak oleh unta. Kemudian Sheikh Ibrahim bin Mohammed Al-Mubarak mengajarinya yurisprudensi dan literasi Arab. Berkat pendidikan yang diterimanya maka Al-Oqaili semakin tertarik untuk berburu ilmu pengetahuan dan gemar membaca yang merupakan dua hal utama yang mempengaruhi pemikiran dan kehidupan literasinya. Hal ini tercermin pada puisi-puisi penuh makna yang dibuatnya.

Ketika Mubarak Al-Oqaili dibebaskan dari penjara Al-Ahsa setelah menempuh hukuman selama masa pemerintahan Dinasti Ustmaniyah karea pengkhianatan beberapa kerabatnya yang beremigrasi ke Irak dan kemudian beliau hidup dalam beberapa batasan dari Emir Saleh Al Mansur, salah satu penguasa Al Mintefeq di Al-Nasiriyah.

Sepeninggal Emir Saleh Al Mansur, Mubarak Al-Oqaili pun mulai berpergian ke Dubai, Oman, Abu Dhabi dan Bahrain hingga beliau menetap di Dubai pada masa pemerintahan Sheikh Butti Bin Suhail Al-Maktoum yang memerintah Emirat Dubai pada tahun tahun 1906-1912. Beliau kemudian membangun sebuah rumah di wilayah Al-Ras di Distrik Deira pada tahun 1923 dan mulai membuat sebuah Majlis yang sering dikunjungi oleh para pemikir, ilmuwan, sastrawan dan orang-orang suci lainnya.

Bagian depan Museum of the Poet Al-Oqaili
Ruangan pertama setelah pintu masuk.
Dapur.
Meja yang digunakan oleh Mubarak Al Oqaili
Majlis.
Dokumen milik Mubarak Al Oqaili.
Nah itulah wjah Mubarak Al Oqaili.
Mr. Chamakh meminta foto buat bukti kunjungan, aku pun meminta foto juga kepadanya buat kenang-kenangan.

Penyair Mubarak Al-Oqaili tutup usia di Al-Ras pada usia 81 tahun. Beliau tidak menikah dan tidak berputra. Beliau hanya meninggalkan rumah semata di daerah Al-Ras yang kemudian sepupunya yang berasal dari Arab Saudi mewarisi rumahnya tersebut.

Mubarak Al-Oqaili adalah penyair yang bijaksana dan bertalenta. Kehidupan penyair agung tersebut memang telah berakhir, akan tetapi warisan literasi tertulis dalam bentu puisi dan prosanya akan senantiasa dikenang dan diapresiasi di sepanjang masa dan generasi.

Dan isu-isu yang menarik bagi Mubarak Al-Oqaili selalu tercermin dalam hidup dan karya puisinya. Dalam pendapatnya terkait perhatian terhadap Bahasa Arab Klasik yang bersumber dari Al-Qur’an maka beliau mengriktik mereka yang berusaha berkomunikasi dalam bahasa asing dengan alasan mengikuti kemajuan peradaban.

Al-Oqaili adalah penyair kotemporer yang hidup dan menanggapi isu-isu bangsanya serta mengritik kepada mereka yang dianggap kurang benar.

Dalam beberapa informasi yang terpampang di museum, ditunjukkan beberapa hal terkair Al-Oqaili, seperti sikap Al-Oqaili terhadap isu Palestina, alur waktu kehidupan Al-Oqaili, puisi-puisi korespondensi, kata-kata bijak Al-Oqaili, puisi terkait cinta, puisi terkait sejarah bangsanya, puisi elegi (ungakapan duka cita) dan puisi pujian kepada pemimpin bagsanya

Mengunjugi Museum of the Poet Al-Oqaili telah menjadi pengalaman menarik selama masa eksplorasiku di Emirat Dubai.

Nah, kamu juga harus ke museum ini ya jika berkunjung ke Dubai.

Keren lho…..

Kisah Selanjutnya—->

Heritage House: Mendengar Usul Sang Pangeran

<—-Kisah Sebelumnya

Destinasi berikutnya….Masih berlokasi di Kawasan Heritage Distrik Deira….Adalah Heritage House.

Lokasi Heritage House ini tepat berada bersebelahan dengan Al Bait Al Qadeem Restaurant and Cafe, di sisi selatannya. Tentunya Heritage House ini lebih menjulang tinggi karena memiliki dua lantai secara keseluruhan, memiliki warna coklat tua dan memiliki luasan hampir 500 meter persegi.

Terletak di tepi Al Ahmadiya Street, bangunan bersejarah ini pun tampak tutup saat aku menyambanginya. Aku mencoba mencari tahu dari warga yang melintas di depannya.

This house is under renovation, Sir”, ucap seorang dari mereka yang mengerti pertanyaan yang kulontarkan.

“Damn….Kenapa harus tutup segala sih….Hmhh”, aku mengeluh berat atas ketidakberuntunganku sendiri.

Aku segera mengambil keputusan. Melakukan eksplorasi-eksplorasi kecil di sekitar Heritage House menjadi hal terbaik daripada aku pergi begitu saja tanpa hasil.

Hal pertama yang kulakukan kemudian adalah mencoba melihat bentuk asli Heritage House dari sudut pandang yang lebih luas dan lebar. Cara terbaik untuk bisa melakukan itu adalah dengan menyeberangi Al Ahmadiya Street dan mengambil titik pandang dari trotoar seberang.

Aku menarik nafas panjang ketika berhasil melihat bentuk rumah ini secara utuh….”Benar-benar klasik”, aku membatin kagum.

Aku terus memandangi rumah berusia 132 tahun yang dibangun oleh Matar Saeed bin Mazina itu, bertanya kepada diri sendiri kenapa terdapat 21 jendela besar yang mengelilingi terasnya. Sedangkan balkon sepanjang tak kurang dari lima belas meter membentang megah di lantai duanya. Konon sang pemilik berikutnya yang bernama Sheikh Ahmed bin Dalmouk adalah saudagar mutiara paling terkenal di seantero kawasan Al Ras. Beliau membangun rumah megah ini dari asalnya yang memiliki dua ruangan kamar saja.

Untuk mengurangi rasa penasaran, aku mulai berjalan melalui gang sempit untuk menikmati cipta arsitektur ini lebih dekat. Seperti bangunan-bangunan khas Timur Tengah lainnya, cukup jelas terlihat bahwa pilar-pilar bagian atap bangunan ini menembus tembok-tembok terluarnya.

Sedangkan di salah satu sisi Heritage House, tampak gang sempit itu dilindungi oleh bentangan kain-kain polos berwarna coklat di atasnya. Sudah bisa ditebak bahwa hal ini dilakukan untuk mengurangi daya sengat matahari ketika siang tiba, sehingga bisa membuat nyaman para pengunjung.

Jendela-jendela berukuran kecil yang terlindung oleh teralis-teralis besi itu dibiarkan terbuka, Hal itu memungkinkanku untuk mengintip bagian dalam Heritage House. Membuatku sedikit bisa tersenyum daripada aku tidak bisa melihat sama sekali bagian dalam rumah legendaris tersebut.

Konon, 28 tahun lalu, pemerintah kota Dubai membeli rumah tersebut dari pemilik terakhirnya yaitu Ibrahim Al Said Abdullah dan kemudian mendedikasikan rumah tersebut untuk pelestarian budaya Dubai sekaligus sebagai tempat wisata.

Dan menurut cerita, pemerintah Kota Dubai melakukan semua itu setelah mendapat masukan dari Pangeran Charles dari Kerjaan Inggris yang sedang melakukan kunjungan kenegaraan ke Uni Emirat Arab.

Wah….Keren ya.

Kisah Selanjutnya—->

Al Bait Al Qadeem Restaurant and Cafe: Khas di Jantung Distrik Deira

<—-Kisah Sebelumnya

Aku meninggalkan kawasan Gold Souk dari Gate 1. Gerbang itu tepat berada di pertigaan dari dua jalan utama yaitu Old Baladiya Street yang dipotong oleh ruas Al Ras Road di pertengahannya.

Aku menyusuri satu ruas aktif di Old Baladiya Street sedangkan satu ruas lainnya dimatikan sebagi baris parkir kendaraan yang pemiliknya berkunjung ke kawasan bisnis tersebut. Menyelinap diantara jalan-jalan sempit yang diapit padatnya pertokoan, aku berusaha menghindar laju lalu lintas manusia dari arah berlawanan. Kali ini nuansa pertokoan sudah berubah, yang awalnya kental dengan perdagangan emas dan perhiasan di sepanjang Gold Souk, maka di sepanjang Old Baladiya Street pertokoan lebih banyak yang menjual pakaian-pakaian khas Timur Tengah.

Aku terus melangkah sembari membuat rute kunjungan di tempat istimewa itu. Aku terus mengamati foto peta yang kuambil dari papan informasi di depan gate Gold Souk beberapa menit lalu. Aku sendiri berencana untuk mengekslorasi kawasan istimewa tersebut hingga tengah hari. Tujuan istimewa kali ini adalah beberapa spot Heritage yang tersebar di Kawasan Old Dubai, tepatnya di Distrik Bisnis Deira.

Old Baladiya Street: Tempat sampah aja dipagerin lho di Dubai….Wkwkwk.

Demi mencapai heritage spot pertama maka aku memutuskan untuk berbelok di Al Ahmadiya Street.

Tak jauh, hanya berjarak setengah kilometer dari Gold Souk, maka aku mampu menemukan satu peninggalan sejarah berupa bangunan rumah tempat tinggal dari masa lalu.

Rumah khas Dubai berwarna krem itu berasal dari masa 113 tahun lalu, Rumah ini dimiliki oleh Abdulla Bin Jamaan yang pada masanya adalah seorang saudagar kaya yang memiliki kapal-kapal pencari mutiara. Mutiara kala itu diambil dari dasar laut oleh para penyelam-penyelam tangguh yang bekerja di bisnis perburuan mutiara. Sesuai dengan nama pemilik awalnya maka rumah ini terkenal dengan sebutan Bin Jamaan House.

Berlokasi di daerah berjuluk Al Ras, secara otomatis rumah ini tepat berada di jantung Distrik Deira. Perkembangan sejarah dan dunia modern menjadikan rumah tersebut dialihfungsikan sebagai sebuah restoran dan cafe.

Lokasinya yang tepat berada di episentrum wisata Old Dubai menjadikan restoran ini cukup terkenal di khalayak umum. Al Bait Al Qadeem adalah nama dari restoran dan cafe tersebut.

Aku sudah pasti bisa memastikan bahwa harga menu di restoran itu cukuplah mahal menurut versiku. Bagaimana tidak mahal bagi kantongku jika seporsi Emirati Chicken Stew di banderol dengan harga 35 Dirham, apalagi itu adalah menu termurah di Al Bait Al Qadeem Restaurant and Cafe. Selain hidangan khas Arab, restoran itu juga menyediakan menu khas Yaman, Persia dan India.

Belum buka, Boy….
Sepiiii nian….

Walaupun terbilang cukup mahal, tetapi setidaknya aku masih sanggup untuk mencicipi kopi sambil menikmati suasana di restoran. Tapi rupanya aku harus mengurungkan niat karena pintu restoran masih tertutup rapat, padahal sangkala telah merapat di setengah sepuluh pagi.

Lebih baik aku segera pergi dan menuju ke destnasi lainnya saja.

Kisah Selanjutnya—->

Duo Kapoor di Koridor Gold Souk

<—-Kisah Sebelumnya

Sebagaimana janjiku teruntuk Uncle Neval pada saat makan malam, maka pagi itu aku menyempatkan diri untuk bersarapan di tempat makannya lagi, Golden Star Restaurant nama restoran milik Uncle Neval.

Dia tersenyum lebar sembari melambaikan tangan ketika aku yang masih berjarak puluhan meter dan sedang mengambil gambar di sekitar restoran mungilnya.

Good morning, my brother….Come…Come!”, sembari menggeleng-gelengkan kepalanya khas gaya India.

“What is this?”, aku menunjuk pada tumpukan kue di pojok etalase makanan.

“Puttu, brother”, Uncle Neval sigap menjawab.

“Hmmmhhh, benar-benar sama”, aku membatin atas kesamaan kue itu dengan kue puttu yang sering kubeli dari amang-amang penjual kue puttu yang sering lewat di depan rumah.

Hanya saja kue Puttu khas India ini ukurannya sangat besar. Saking gurihnya kue itu, aku meminta seporsi tambahan lagi setelah porsi pertama kulahap dengan cepat.

3 Dirham untuk dua porsi kue Puttu dan segelas chai.

Usai bersarapan, maka aku bersiap langkah menuju ke tujuan pertama pada hari keduaku di Dubai. Tujuan itu hanya berjarak kurang dari dua kilometer, jadi untuk menghemat ongkos, aku memutuskan untuk berjalan kaki menujunya, tentu aku akan diuntungkan dengan peluang untuk dapat melihat suasana kota lebih dekat. Tujuan itu adalah Gold Souk, pasar emas tradisional yang terletak di daerah Al Dhagaya.

Sangkala tepat bertengger di angka sembilan….

Tanpa berpanjang waktu, aku mengayunkan langkah menuju barat, mengikuti arus Naif Street. Dalam perjalanan, aku merasa terlalu sering menengok ke belakang, ini karena Naif Street adalah jalur satu arah dengan 3 ruas dan satu kolom parkir di sisi selatannya. Ya….Aku terlalu megkhawatirkan diri dengan laju kendaraan dari belakang yang sangat cepat.

Sepengamatanku, usai melintasi Naif Police Station, maka bangunan di sisi kiri dan kanan jalan didominasi oleh pertokoan dan jasa penukaran mata uang asing. Hal ini menunjukkan Deira sebagai distrik bisnis di kota Dubai.

Salah satu sisi Sikkad Al Khail Road.

Dalam tiga puluh menit aku tiba di tujuan….

Untuk pertama kalinya, aku dihadapkan pada gerbang Gold Souk bernomor 2 dengan tengara Gold Tower di sisinya. Gold Tower sendiri adalah pusat bisnis penting di Kawasan Gold Souk.

Memasuki gerbang, maka aku dikejutkan dengan seorang petugas yang menarik mesin vakum besar untuk membersihkan koridor utama yang lantainya berbahankan batu andesit, sedangkan koridor itu memanjang dengan naungan atap, menjadikan Gold Souk sebagai tempat perniagaan yang bersih, dingin dan nyaman untuk dikunjungi sepanjang hari.

Sedangkan di sepanjang koridor itu, spanduk-spanduk promosi berukuran kecil tampak tergantung di langit-langit dengan interval teratur. Adalah Malabar Gold & Diamonds yang merupakan salah satu peritel perhiasan emas dan berlian terbesar di dunia dengan lebih dari 280 toko yang tersebar di 10 negara yang ternyata melakukan promosi masif di seluruh penjuru Gold Souk. Tampak jelas dua bintang film asal India menjadi brand ambassador peritel emas  raksasa itu, yaitu Anil Kapoor dan Kareena Kapoor.

Aku terus masuk lebih dalam hinga ke pusat pasar emas yang sudah berusia lebih dari delapan puluh tahun tersebut. Panjangnya koridor yang ada di dalamnya membuktikan bahwa pasar ini benar-benar dihuni oleh lebih dari tiga ratus toko emas yang konon jika dijadikan satu semua dagangannya maka akan terkumpul emas senilai tak kurang dari 6 miliar Dollar Amerika atau setara dengan 80 Trilun Rupiah….Aje Gileee.

Promosi lain yang kulihat di sepanjang koridor Gold Souk adalah Infiniti Mega Raffle, yaitu undian dengan berbelanja minimal 200 Dirham di Gold Souk dengan hadiah utama berupa mobil Infiniti QX80, brand mewah milik pabirkan Nissan asal Jepang.

Gate 2 Gold Souk.
Aku terlalu pagi untuk berkunjung.
Suatu titik di pusat Gold Souk.
Cekreeeekkkk……
Emas milik Toko Al Romaizan

Berada di dalam Gold Souk, bagi saya adalah pengalaman nan mengesankan. Karena setiap toko memamerkan etalase emas yang sangat megah dan menawan. Salah satu etalase yang membuatk terdiam dan terpaku di depannya adalah toko milik Al-Romaizan yang merupakan salah satu perusahaan emas dan perhiasan ternama di Kawasan The Gulf Cooperation Counci (GCC) yang berkantor pusat di Riyadh, Saudi Arabia.

Al Romaizan memawarkan kemewahan bagi para penggemar emas. Jangankan para penggemar emas, aku yang biasa aja dengan emas bisa dibuat terpana….Hmmh.

Hampir satu jam aku berada di pasar emas terkenal tersebut.

Saatnya membagi waktu untuk mengunjungi destinasi lain di Kawasan Old Doha.

Yuks,,,,Ikut aku lagi!!!

Kisah Selanjutnya—->

Dubai Metro: Keempat Belas dari Enam Belas

<—-Kisah Sebelumnya

Suasana Naif Road/Naif Street menjelang siang.

Lewat dari pukul sebelas pagi, aku terduduk di sebuah kedai dengan menu khas India, teletak dalam satu blok dengan Zain East Hotel tempatku menginap. Kali ini aku akan menikmati sarapan yang sangat terlambat, karena mendekati waktu makan siang maka menu chicken fry dan chai kali ini akan berfungsi sekaligus sebagai makan siang….Duh, pinter….Hemat bukan main.

Kedai-kedai India memang selalu menjadi penyelamat kantong bagiku selama berpetualang di Timur Tengah. Kali ini aku menebus menuku hanya dengan 7 Dirham saja.

Tak berlama-lama di kedai itu, aku segera meneruskan petualangan. Kali ini aku akan menempuh rute awalku ketika tiba di Distrik Deira. Aku akan melangkahkan kaki melalui Naif Road, lalu berlanjut ke Al Musalla Road dan menyasar titik utama Baniyas Square Station.

Yupzzz, untuk pertama kalinya aku akan menjajal Dubai Metro.

Menempuh perjalanan kaki selama lima belas menit, aku tiba kembali di pelataran Baniyas Square. Penuh antusias, aku segera memasuki gerbang stasiun.

Langkah pertama yang harus kulakukan untuk melakukan eksplorasi hingga sore hari adalah mentop-up saldo Nol Card di ticketing vending machine. Menemukannya dengan sangat mudah di lantai bawah, aku mengeluarkan dompet dan mengeluarkan 20 Dirham untuk mengisi saldo Nol Card yang kumiliki.

Kini Nol Card telah siap digunakan sebagai akses masuk ke transportasi massal di Kota Dubai.

Suasana di dalam stasiun tampak ramai, salah satu koridor tampak tertutup rapat oleh papan proyek, aku membacanya sebagai proyek penambahan gate baru di stasiun tersebut. Sedangkan di koridor tempatku melangkah, tampak terpapampang di kiri dan kanan koridor, daftar sister city yang dimiliki Dubai. Aku akan menyebutkan lima diantara sister city itu untuk kalian, yaitu Detroit (Amerika), Dundee (Skotlandia), Qingdao (Tiongkok), Lyon (Perancis) dan Amman (Yordania).

Ticketing Vending Machine.
Interior Dubai Metro.
Suasana di UNION Station.
Platform di UNION Station.
Penampakan Dubai Metro yang elegan.

Karena aku berada di Baniyas Square Station maka secara otmatis aku berada di Jalur Merah (Red Line) Dubai Metro.

Tak perlu waktu lama untuk menunggu kereta Dubai Metro tiba. Tak lebih dari lima menit aku telah melompat masuk ke salah satu gerbong Dubai Metro yang memiliki warna dominan biru.

Melihat sekilas susunan bangku maka aku teringat dengan kereta KTM Komuter milik Malaysia. Dubai Metro pun memiliki bangku yang saling berhadapan di kedua sisi memanjang dan sebagian lagi adalah bangku menghadap ke depan.

Demi menuju Burj Khalifa maka aku harus berpindah ke Jalur Hijau (Green Line) dan stasiun terdekat untuk melakukan perpindahan itu adalah UNION Station yang hanya berjarak satu kilometer dari Baniyas Square Station. Hanya dibutuhkan waktu tiga menit menggunakan Dubai Metro.

Aku melompat turun dari gerbong ketika rangkaian roda ular besi itu selesai berdecit di platform UNION Station. Aku bergegas untuk mengikuti petunjuk arah di sepanjang koridor demi menggapai platform untuk Jalur Hijau.

Dengan mudah aku mendapatkannya dan lima menit kemudian aku sudah berada di dalam gerbong menuju Dubai Mall/Burj Khalifa Station. Kali ini aku akan melewati enam stasiun sebelum tiba di stasiun tujuan. Menempuh jarak delapan kilometer menuju selatan.

Dalam lima belas menit akhirnya aku tiba di Dubai Mall/Burj Khalifa Station. Untuk keseluruhan perjalanan aku hanya membayar sebesar 5 Dirham saja.

Tiba di Mall/Burj Khalifa Station
Pintu keluar Dubai Mall/Burj Khalifa Station

Sungguh menyenangkan bisa menikmati elegannya Dubai Metro. Kereta Dubai Metro sendiri merupakan besutan dari Mitsubishi Heavy Industries asal Negeri Matahari Terbit. Sedangkan untukku, Dubai Metro menjadi Mass Rapid Transit (MRT) keempat belas dari enam belas jenis MRT yang pernah kunaiki.

Aku turun dari gerbong dan mulai melakukan eksplorasi kembali.

Kisah Selanjutnya—->

Zain East Hotel: Alarm Penghenti Dengkuran

<—-Kisah Sebelumnya

Hampir dua jam, aku mengobok-obok beberapa blok Distrik Deira demi menemukan penginapan yang telah kupesan. Tapi selama itu pula aku tak mendapatkan apapun. Kelelahan yang disebabkan oleh terus menerusnya aku memanggul backpack seberat enam kilogram besera folding bag seberat dua kilogram membuatku terduduk lesu di pinggiran trotoar 18th Street.

Jalanan mulai tampak ramai dengan aktivitas warga lokal, tetapi aku sudah terlalu lelah untuk memperhatikan aktivitas itu. Aku masih tak percaya telah kehilangan penginapan yang kupesan secara daring. Aku telah kehilangan 55 Dirham atas pemesanan itu.

“Tak ada cara lain selain mencari hotel secara langsung di lokasi terdekat”, aku membatin penuh keberatan karena akan menambah anggaran perjalanan lagi.

Aku berpikir cepat, aku harus mencari penginapan dengan harga di antara 55-225 Dirham. 55 Dirham merujuk pada harga kamar yang kupesan secara daring, sedangkan 225 Dirham merujuk pada harga kamar Al Farij Hotel yang kutanyakan beberapa waktu lalu ketika mencari lokasi penginapan.

Dalam benak, aku hanya mengingat ada sebuah hotel di seberang blok yang kulewati beberapa waktu sebelumnya. Aku lupa nama lengkapnya, tetapi begitu ingat dengan lokasinya. Agak sedikit masuk ke dalam gang.

Maka tanpa pikir panjang, aku segera bangkit dan melangkah menuju hotel tersebut. Sembari mengingat jalan, aku terus melangkah cepat. Aku tak mau kehilangan banyak waktu eksplorasi hanya karena telah kehilangan kamar yang kupesan.

Tak susah untuk menemukannya. Hotel itu tepat berada di sebuah gang di sisi selatan 20th Street.

“Ini hotel bintang satu, harusnya aku mendapatkan harga yang lebih murah dari Al Farij Hotel”, aku berargumentasi dalam hati.

Tanpa ragu aku memasuki lobbynya yang sederhana dengan dinding keramik dominan merah. Menuju meja resepsionis, aku disambut oleh seorang staff pria berperawakan Timur Tengah.

“200 Dirham for rate, Sir”, jawabnya singkat ketika aku menanyakan tarif hotel tersebut.

“Can I get a room for 125 Dirham”, baru kali ini dalam seumur hidup aku menawar harga hotel….Gila memang,

Staff itu hanya tersenyum menatapku.

“I am just a backpacker with minimun budget”, aku lanjut berseloroh.

“Okay….Okay….I give you 150 Dirham. Deal….?”, staff pria itu tampaknya hanya sekali saja memberikan penawaran menarik itu.

“Deal….”, aku bergegas membayarnya dalam mata uang Dollar Amerika karena aku hanya memiliki jumlah Diham yang tidak terlalu banyak.

“You can check-in now”, dia memberikan bonus kepadaku untuk bisa masuk kamar tiga jam lebih cepat.

Usai menyelesaikan masalah administrasi, aku diantar oleh staff laki-laki lain melalui lift untuk menuju kamar.

“I’m from Bangladesh, Sir”, begitu staff pria itu menjelaskan ketika aku bertanya di dalam lift mengenai asal usulnya.

Lewat dari jam sepuluh pagi aku pun sudah memiliki kamar untuk eksplorasiku di Dubai. Rasa letih yang luar biasa, memaksaku untuk merebahkan badan sejenak. Aku memasang alarm untuk satu jam ke depan, khawatir aku akan terlelap hingga gelap.

Benar adanya, alarm itu menjaga waktuku dengan baik. Berbunyi dengan keras di dekat telinga kananku, menghentikan dengkuranku, anggap saja diriku mendengkur dalam tidur karena kelelahan yang teramat sangat. Aku mencuci muka dan bersiap melakukan eksplorasi.

Aku kembali melihat itinerary yang kubuat. “Aku harus merombak aturan main ini, aku tak mau kehilangan destinasi penting hanya karena kebodohanku kehilangan waktu demi mencari penginapan sedari pagi”, aku berseloroh tegas kepada diriku sendiri.

“Burj Khalifia….Ya Burj Khalifa”, aku menjetikkan jari dengan kepercayaan diri tinggi.

Kisah Selanjutnya—->

Traveler Bed Space For Male: “Nepalese….Nepalese?”

<—-Kisah Sebelumnya

Baniyas Square….Tampak Dubai Bus bernomor 77 dan Mahboubi Medical Centre yang tinggi menjulang.

Pagi itu jalanan masih lengang. Namun kondisi itu tak serta merta mencuatkan takut dalam hati . Aku diturunkan oleh Dubai Bus Nomor 77 di sebuah alun-alun, Baniyas Square namanya, alun-alun yang terbentuk dari persilangan dua jalan protokol yaitu Al Maktoum Hospital Road dan Al Musalla Road. Dengan berdiri di tempat itu, berarti aku sudah berada di tepian barat Distrik Deira. Dan ketika menginjakkan kaki di Baniyas Square, tengara penting yang menarik perhatianku adalah Mahboubi Medical Centre yang tertampil dalam warna coklat dengan kelir hijau.

Langkah kaki mulai kuayun dengan mengitari zebra cross yang terlukis melingkari perempatan besar. Walaupun jalanan terlihat kosong, aku tak cukup nyali untuk mengompas jalur. Khawatir dihakimi peraturan lalu lintas yang kerap kali menyuguhkan denda, apalagi kuperhatikan ada beberapa unit CCTV yang mengintai ke arah perempatan. Menjadikanku harus sering berhenti menunggu nyala lampu hijau walaupun sebetulnya jalanan kosong melompong.

Usai menaklukkan perempatan, aku menyusuri tepian Al Musalla Road yang sunyi. Al Musalla Road sendiri merupakaan jalan dengan trotoar pembatas kecil di kedua ruasnya. Dalam langkah, sesekali aku berpapasan dengan warga lokal berumur yang sedang menikmati jogging pagi. Tak ragu mereka melemparkan senyum kepadaku, membuatku semakin berani melawan kelengangan kota.

Selanjutnya aku tiba di sebuah taman yang cukup lebar, kondisinya juga masih sunyi, Naif Park namanya. Aku terduduk di bangku beton tepat di depan taman itu. Menaruh backpack dan menyempatkan diri untuk menghirup panjang kesegaran udara pagi dan sejenak melepas pegal badan di bangku itu. Hanya saja rehatku terganggu oleh serakan poster mini seukuran kartu nama yang menawarkan jasa pijat dengan foto-foto seksi wanita Kerala….”Jangan-jangan pijat plus-plus ini mah”, batinku berprasangka buruk sembari melihat tajam foto-foto itu….Astagfirullah.

Tenaga telah terisi ulang, langkahku berlanjut dengan merubah haluan menuju timur, menyisir jalanan lain, yaitu Naif Road yang tak kalah lebar dengan Al Musalla Road. Hanya saja pembatas kedua ruas kini berganti menjadi jalur tanaman hias yang menghias sepanjang jalan.

Aku sengaja mengompas jalan supaya tiba lebih cepat di penginapan. Oleh karenanya usai melangkah sejauh tiga ratus meter di Naif Road maka aku memotong jalur dengan memasuki sebuah gang kecil demi menuju ke utara. Maka menyeliplah aku diantara bangunan-bangunan ruko dan rukan sekian lantai di salah satu sentra ekonomi milik Distrik Deira.

Melintas di Al Musalla Road.
Masih di Al Musalla Road.
Kacau…..Banyak nemu beginian di trotoar dan bangku taman.
Suasanan Naif Park.
Memasuki Naif Street.

Strategiku untuk mencapai penginapan sangatlah mudah. Aku hanya perlu mencocokkan titik penginapan yang dijelaskan pada cetakan surat konfirmasi pemesanan kamar dengan titik biru yang terus bergerak pada layar GPS telepon pintar yang terus kuamati sedari awal.

Singkat cerita, setelah meliak-liuk di beberapa jalan tembus, akhirnya aku tiba tepat di titik yang dimaksud. Di salah satu titik perempatan berukuran sedang, aku berdiri termangu, mengamati lekat-lekat sebuah toko peralatan elektronik dengan dinding kaca yang masih tertutup rapat, tidak ada pertanda adanya penginapan sama sekali.

Aku yang memiliki waktu bicara gratis tiga menit dari SIM Card Du Mobile akhirnya mencoba menelpon nomor penginapan yang tertera di surat konfimasi pemesanan.

“tut tut tut tut….”, begitulah bunyinya…..

Instingku mengatakan bahwa aku telah kehilangan jejak….Aku sedang tidak dalam kondisi yang baik-baik saja…..

“Plaaakkkk….”, sebuah tepukan keras mendarat di pundak kananku.

“Nepalese….Nepalese?”, lelaki muda bertubuh kurus tinggi dan berbadan gelap menengadahkan  telapak tangan yang kelima jarinya menunjuk ke mukaku.

“Nup….Nup…Indonesia”, aku menjawab tidak antusias.

“You like Nepalese, bro”, dia melempar senyum sembari menggelengkan kepalanya.

“Oh, thanks….”, aku menjawab sekenanya.

Lelaki muda itu pun angkat kaki dari hadapan dan aku kembali masuk dalam kebingungan…..

Do something, Donny….Do something!”, aku memarahi diriku sendiri

Kisah Selanjutnya—->