Duo Kapoor di Koridor Gold Souk

Sebagaimana janjiku teruntuk Uncle Neval pada saat makan malam, maka pagi itu aku menyempatkan diri untuk bersarapan di tempat makannya lagi, Golden Star Restaurant nama restoran milik Uncle Neval.

Dia tersenyum lebar sembari melambaikan tangan ketika aku yang masih berjarak puluhan meter dan sedang mengambil gambar di sekitar restoran mungilnya.

Good morning, my brother….Come…Come!”, sembari menggeleng-gelengkan kepalanya khas gaya India.

“What is this?”, aku menunjuk pada tumpukan kue di pojok etalase makanan.

“Puttu, brother”, Uncle Neval sigap menjawab.

“Hmmmhhh, benar-benar sama”, aku membatin atas kesamaan kue itu dengan kue puttu yang sering kubeli dari amang-amang penjual kue puttu yang sering lewat di depan rumah.

Hanya saja kue Puttu khas India ini ukurannya sangat besar. Saking gurihnya kue itu, aku meminta seporsi tambahan lagi setelah porsi pertama kulahap dengan cepat.

3 Dirham untuk dua porsi kue Puttu dan segelas chai.

Usai bersarapan, maka aku bersiap langkah menuju ke tujuan pertama pada hari keduaku di Dubai. Tujuan itu hanya berjarak kurang dari dua kilometer, jadi untuk menghemat ongkos, aku memutuskan untuk berjalan kaki menujunya, tentu aku akan diuntungkan dengan peluang untuk dapat melihat suasana kota lebih dekat. Tujuan itu adalah Gold Souk, pasar emas tradisional yang terletak di daerah Al Dhagaya.

Sangkala tepat bertengger di angka sembilan….

Tanpa berpanjang waktu, aku mengayunkan langkah menuju barat, mengikuti arus Naif Street. Dalam perjalanan, aku merasa terlalu sering menengok ke belakang, ini karena Naif Street adalah jalur satu arah dengan 3 ruas dan satu kolom parkir di sisi selatannya. Ya….Aku terlalu megkhawatirkan diri dengan laju kendaraan dari belakang yang sangat cepat.

Sepengamatanku, usai melintasi Naif Police Station, maka bangunan di sisi kiri dan kanan jalan didominasi oleh pertokoan dan jasa penukaran mata uang asing. Hal ini menunjukkan Deira sebagai distrik bisnis di kota Dubai.

Salah satu sisi Sikkad Al Khail Road.

Dalam tiga puluh menit aku tiba di tujuan….

Untuk pertama kalinya, aku dihadapkan pada gerbang Gold Souk bernomor 2 dengan tengara Gold Tower di sisinya. Gold Tower sendiri adalah pusat bisnis penting di Kawasan Gold Souk.

Memasuki gerbang, maka aku dikejutkan dengan seorang petugas yang menarik mesin vakum besar untuk membersihkan koridor utama yang lantainya berbahankan batu andesit, sedangkan koridor itu memanjang dengan naungan atap, menjadikan Gold Souk sebagai tempat perniagaan yang bersih, dingin dan nyaman untuk dikunjungi sepanjang hari.

Sedangkan di sepanjang koridor itu, spanduk-spanduk promosi berukuran kecil tampak tergantung di langit-langit dengan interval teratur. Adalah Malabar Gold & Diamonds yang merupakan salah satu peritel perhiasan emas dan berlian terbesar di dunia dengan lebih dari 280 toko yang tersebar di 10 negara yang ternyata melakukan promosi masif di seluruh penjuru Gold Souk. Tampak jelas dua bintang film asal India menjadi brand ambassador peritel emas  raksasa itu, yaitu Anil Kapoor dan Kareena Kapoor.

Aku terus masuk lebih dalam hinga ke pusat pasar emas yang sudah berusia lebih dari delapan puluh tahun tersebut. Panjangnya koridor yang ada di dalamnya membuktikan bahwa pasar ini benar-benar dihuni oleh lebih dari tiga ratus toko emas yang konon jika dijadikan satu semua dagangannya maka akan terkumpul emas senilai tak kurang dari 6 miliar Dollar Amerika atau setara dengan 80 Trilun Rupiah….Aje Gileee.

Promosi lain yang kulihat di sepanjang koridor Gold Souk adalah Infiniti Mega Raffle, yaitu undian dengan berbelanja minimal 200 Dirham di Gold Souk dengan hadiah utama berupa mobil Infiniti QX80, brand mewah milik pabirkan Nissan asal Jepang.

Gate 2 Gold Souk.
Aku terlalu pagi untuk berkunjung.
Suatu titik di pusat Gold Souk.
Cekreeeekkkk……
Emas milik Toko Al Romaizan

Berada di dalam Gold Souk, bagi saya adalah pengalaman nan mengesankan. Karena setiap toko memamerkan etalase emas yang sangat megah dan menawan. Salah satu etalase yang membuatk terdiam dan terpaku di depannya adalah toko milik Al-Romaizan yang merupakan salah satu perusahaan emas dan perhiasan ternama di Kawasan The Gulf Cooperation Counci (GCC) yang berkantor pusat di Riyadh, Saudi Arabia.

Al Romaizan memawarkan kemewahan bagi para penggemar emas. Jangankan para penggemar emas, aku yang biasa aja dengan emas bisa dibuat terpana….Hmmh.

Hampir satu jam aku berada di pasar emas terkenal tersebut.

Saatnya membagi waktu untuk mengunjungi destinasi lain di Kawasan Old Doha.

Yuks,,,,Ikut aku lagi!!!

Dubai Metro: Keempat Belas dari Enam Belas

Suasana Naif Road/Naif Street menjelang siang.

Lewat dari pukul sebelas pagi, aku terduduk di sebuah kedai dengan menu khas India, teletak dalam satu blok dengan Zain East Hotel tempatku menginap. Kali ini aku akan menikmati sarapan yang sangat terlambat, karena mendekati waktu makan siang maka menu chicken fry dan chai kali ini akan berfungsi sekaligus sebagai makan siang….Duh, pinter….Hemat bukan main.

Kedai-kedai India memang selalu menjadi penyelamat kantong bagiku selama berpetualang di Timur Tengah. Kali ini aku menebus menuku hanya dengan 7 Dirham saja.

Tak berlama-lama di kedai itu, aku segera meneruskan petualangan. Kali ini aku akan menempuh rute awalku ketika tiba di Distrik Deira. Aku akan melangkahkan kaki melalui Naif Road, lalu berlanjut ke Al Musalla Road dan menyasar titik utama Baniyas Square Station.

Yupzzz, untuk pertama kalinya aku akan menjajal Dubai Metro.

Menempuh perjalanan kaki selama lima belas menit, aku tiba kembali di pelataran Baniyas Square. Penuh antusias, aku segera memasuki gerbang stasiun.

Langkah pertama yang harus kulakukan untuk melakukan eksplorasi hingga sore hari adalah mentop-up saldo Nol Card di ticketing vending machine. Menemukannya dengan sangat mudah di lantai bawah, aku mengeluarkan dompet dan mengeluarkan 20 Dirham untuk mengisi saldo Nol Card yang kumiliki.

Kini Nol Card telah siap digunakan sebagai akses masuk ke transportasi massal di Kota Dubai.

Suasana di dalam stasiun tampak ramai, salah satu koridor tampak tertutup rapat oleh papan proyek, aku membacanya sebagai proyek penambahan gate baru di stasiun tersebut. Sedangkan di koridor tempatku melangkah, tampak terpapampang di kiri dan kanan koridor, daftar sister city yang dimiliki Dubai. Aku akan menyebutkan lima diantara sister city itu untuk kalian, yaitu Detroit (Amerika), Dundee (Skotlandia), Qingdao (Tiongkok), Lyon (Perancis) dan Amman (Yordania).

Ticketing Vending Machine.
Interior Dubai Metro.
Suasana di UNION Station.
Platform di UNION Station.
Penampakan Dubai Metro yang elegan.

Karena aku berada di Baniyas Square Station maka secara otmatis aku berada di Jalur Merah (Red Line) Dubai Metro.

Tak perlu waktu lama untuk menunggu kereta Dubai Metro tiba. Tak lebih dari lima menit aku telah melompat masuk ke salah satu gerbong Dubai Metro yang memiliki warna dominan biru.

Melihat sekilas susunan bangku maka aku teringat dengan kereta KTM Komuter milik Malaysia. Dubai Metro pun memiliki bangku yang saling berhadapan di kedua sisi memanjang dan sebagian lagi adalah bangku menghadap ke depan.

Demi menuju Burj Khalifa maka aku harus berpindah ke Jalur Hijau (Green Line) dan stasiun terdekat untuk melakukan perpindahan itu adalah UNION Station yang hanya berjarak satu kilometer dari Baniyas Square Station. Hanya dibutuhkan waktu tiga menit menggunakan Dubai Metro.

Aku melompat turun dari gerbong ketika rangkaian roda ular besi itu selesai berdecit di platform UNION Station. Aku bergegas untuk mengikuti petunjuk arah di sepanjang koridor demi menggapai platform untuk Jalur Hijau.

Dengan mudah aku mendapatkannya dan lima menit kemudian aku sudah berada di dalam gerbong menuju Dubai Mall/Burj Khalifa Station. Kali ini aku akan melewati enam stasiun sebelum tiba di stasiun tujuan. Menempuh jarak delapan kilometer menuju selatan.

Dalam lima belas menit akhirnya aku tiba di Dubai Mall/Burj Khalifa Station. Untuk keseluruhan perjalanan aku hanya membayar sebesar 5 Dirham saja.

Tiba di Mall/Burj Khalifa Station
Pintu keluar Dubai Mall/Burj Khalifa Station

Sungguh menyenangkan bisa menikmati elegannya Dubai Metro. Kereta Dubai Metro sendiri merupakan besutan dari Mitsubishi Heavy Industries asal Negeri Matahari Terbit. Sedangkan untukku, Dubai Metro menjadi Mass Rapid Transit (MRT) keempat belas dari enam belas jenis MRT yang pernah kunaiki.

Aku turun dari gerbong dan mulai melakukan eksplorasi kembali.

Zain East Hotel: Alarm Penghenti Dengkuran

Hampir dua jam, aku mengobok-obok beberapa blok Distrik Deira demi menemukan penginapan yang telah kupesan. Tapi selama itu pula aku tak mendapatkan apapun. Kelelahan yang disebabkan oleh terus menerusnya aku memanggul backpack seberat enam kilogram besera folding bag seberat dua kilogram membuatku terduduk lesu di pinggiran trotoar 18th Street.

Jalanan mulai tampak ramai dengan aktivitas warga lokal, tetapi aku sudah terlalu lelah untuk memperhatikan aktivitas itu. Aku masih tak percaya telah kehilangan penginapan yang kupesan secara daring. Aku telah kehilangan 55 Dirham atas pemesanan itu.

“Tak ada cara lain selain mencari hotel secara langsung di lokasi terdekat”, aku membatin penuh keberatan karena akan menambah anggaran perjalanan lagi.

Aku berpikir cepat, aku harus mencari penginapan dengan harga di antara 55-225 Dirham. 55 Dirham merujuk pada harga kamar yang kupesan secara daring, sedangkan 225 Dirham merujuk pada harga kamar Al Farij Hotel yang kutanyakan beberapa waktu lalu ketika mencari lokasi penginapan.

Dalam benak, aku hanya mengingat ada sebuah hotel di seberang blok yang kulewati beberapa waktu sebelumnya. Aku lupa nama lengkapnya, tetapi begitu ingat dengan lokasinya. Agak sedikit masuk ke dalam gang.

Maka tanpa pikir panjang, aku segera bangkit dan melangkah menuju hotel tersebut. Sembari mengingat jalan, aku terus melangkah cepat. Aku tak mau kehilangan banyak waktu eksplorasi hanya karena telah kehilangan kamar yang kupesan.

Tak susah untuk menemukannya. Hotel itu tepat berada di sebuah gang di sisi selatan 20th Street.

“Ini hotel bintang satu, harusnya aku mendapatkan harga yang lebih murah dari Al Farij Hotel”, aku berargumentasi dalam hati.

Tanpa ragu aku memasuki lobbynya yang sederhana dengan dinding keramik dominan merah. Menuju meja resepsionis, aku disambut oleh seorang staff pria berperawakan Timur Tengah.

“200 Dirham for rate, Sir”, jawabnya singkat ketika aku menanyakan tarif hotel tersebut.

“Can I get a room for 125 Dirham”, baru kali ini dalam seumur hidup aku menawar harga hotel….Gila memang,

Staff itu hanya tersenyum menatapku.

“I am just a backpacker with minimun budget”, aku lanjut berseloroh.

“Okay….Okay….I give you 150 Dirham. Deal….?”, staff pria itu tampaknya hanya sekali saja memberikan penawaran menarik itu.

“Deal….”, aku bergegas membayarnya dalam mata uang Dollar Amerika karena aku hanya memiliki jumlah Diham yang tidak terlalu banyak.

“You can check-in now”, dia memberikan bonus kepadaku untuk bisa masuk kamar tiga jam lebih cepat.

Usai menyelesaikan masalah administrasi, aku diantar oleh staff laki-laki lain melalui lift untuk menuju kamar.

“I’m from Bangladesh, Sir”, begitu staff pria itu menjelaskan ketika aku bertanya di dalam lift mengenai asal usulnya.

Lewat dari jam sepuluh pagi aku pun sudah memiliki kamar untuk eksplorasiku di Dubai. Rasa letih yang luar biasa, memaksaku untuk merebahkan badan sejenak. Aku memasang alarm untuk satu jam ke depan, khawatir aku akan terlelap hingga gelap.

Benar adanya, alarm itu menjaga waktuku dengan baik. Berbunyi dengan keras di dekat telinga kananku, menghentikan dengkuranku, anggap saja diriku mendengkur dalam tidur karena kelelahan yang teramat sangat. Aku mencuci muka dan bersiap melakukan eksplorasi.

Aku kembali melihat itinerary yang kubuat. “Aku harus merombak aturan main ini, aku tak mau kehilangan destinasi penting hanya karena kebodohanku kehilangan waktu demi mencari penginapan sedari pagi”, aku berseloroh tegas kepada diriku sendiri.

“Burj Khalifia….Ya Burj Khalifa”, aku menjetikkan jari dengan kepercayaan diri tinggi.

Traveler Bed Space For Male: “Nepalese….Nepalese?”

Baniyas Square….Tampak Dubai Bus bernomor 77 dan Mahboubi Medical Centre yang tinggi menjulang.

Pagi itu jalanan masih lengang. Namun kondisi itu tak serta merta mencuatkan takut dalam hati . Aku diturunkan oleh Dubai Bus Nomor 77 di sebuah alun-alun, Baniyas Square namanya, alun-alun yang terbentuk dari persilangan dua jalan protokol yaitu Al Maktoum Hospital Road dan Al Musalla Road. Dengan berdiri di tempat itu, berarti aku sudah berada di tepian barat Distrik Deira. Dan ketika menginjakkan kaki di Baniyas Square, tengara penting yang menarik perhatianku adalah Mahboubi Medical Centre yang tertampil dalam warna coklat dengan kelir hijau.

Langkah kaki mulai kuayun dengan mengitari zebra cross yang terlukis melingkari perempatan besar. Walaupun jalanan terlihat kosong, aku tak cukup nyali untuk mengompas jalur. Khawatir dihakimi peraturan lalu lintas yang kerap kali menyuguhkan denda, apalagi kuperhatikan ada beberapa unit CCTV yang mengintai ke arah perempatan. Menjadikanku harus sering berhenti menunggu nyala lampu hijau walaupun sebetulnya jalanan kosong melompong.

Usai menaklukkan perempatan, aku menyusuri tepian Al Musalla Road yang sunyi. Al Musalla Road sendiri merupakaan jalan dengan trotoar pembatas kecil di kedua ruasnya. Dalam langkah, sesekali aku berpapasan dengan warga lokal berumur yang sedang menikmati jogging pagi. Tak ragu mereka melemparkan senyum kepadaku, membuatku semakin berani melawan kelengangan kota.

Selanjutnya aku tiba di sebuah taman yang cukup lebar, kondisinya juga masih sunyi, Naif Park namanya. Aku terduduk di bangku beton tepat di depan taman itu. Menaruh backpack dan menyempatkan diri untuk menghirup panjang kesegaran udara pagi dan sejenak melepas pegal badan di bangku itu. Hanya saja rehatku terganggu oleh serakan poster mini seukuran kartu nama yang menawarkan jasa pijat dengan foto-foto seksi wanita Kerala….”Jangan-jangan pijat plus-plus ini mah”, batinku berprasangka buruk sembari melihat tajam foto-foto itu….Astagfirullah.

Tenaga telah terisi ulang, langkahku berlanjut dengan merubah haluan menuju timur, menyisir jalanan lain, yaitu Naif Road yang tak kalah lebar dengan Al Musalla Road. Hanya saja pembatas kedua ruas kini berganti menjadi jalur tanaman hias yang menghias sepanjang jalan.

Aku sengaja mengompas jalan supaya tiba lebih cepat di penginapan. Oleh karenanya usai melangkah sejauh tiga ratus meter di Naif Road maka aku memotong jalur dengan memasuki sebuah gang kecil demi menuju ke utara. Maka menyeliplah aku diantara bangunan-bangunan ruko dan rukan sekian lantai di salah satu sentra ekonomi milik Distrik Deira.

Melintas di Al Musalla Road.
Masih di Al Musalla Road.
Kacau…..Banyak nemu beginian di trotoar dan bangku taman.
Suasanan Naif Park.
Memasuki Naif Street.

Strategiku untuk mencapai penginapan sangatlah mudah. Aku hanya perlu mencocokkan titik penginapan yang dijelaskan pada cetakan surat konfirmasi pemesanan kamar dengan titik biru yang terus bergerak pada layar GPS telepon pintar yang terus kuamati sedari awal.

Singkat cerita, setelah meliak-liuk di beberapa jalan tembus, akhirnya aku tiba tepat di titik yang dimaksud. Di salah satu titik perempatan berukuran sedang, aku berdiri termangu, mengamati lekat-lekat sebuah toko peralatan elektronik dengan dinding kaca yang masih tertutup rapat, tidak ada pertanda adanya penginapan sama sekali.

Aku yang memiliki waktu bicara gratis tiga menit dari SIM Card Du Mobile akhirnya mencoba menelpon nomor penginapan yang tertera di surat konfimasi pemesanan.

“tut tut tut tut….”, begitulah bunyinya…..

Instingku mengatakan bahwa aku telah kehilangan jejak….Aku sedang tidak dalam kondisi yang baik-baik saja…..

“Plaaakkkk….”, sebuah tepukan keras mendarat di pundak kananku.

“Nepalese….Nepalese?”, lelaki muda bertubuh kurus tinggi dan berbadan gelap menengadahkan  telapak tangan yang kelima jarinya menunjuk ke mukaku.

“Nup….Nup…Indonesia”, aku menjawab tidak antusias.

“You like Nepalese, bro”, dia melempar senyum sembari menggelengkan kepalanya.

“Oh, thanks….”, aku menjawab sekenanya.

Lelaki muda itu pun angkat kaki dari hadapan dan aku kembali masuk dalam kebingungan…..

Do something, Donny….Do something!”, aku memarahi diriku sendiri

Dubai Bus No 77: Menjemput Masalah di Baniyas Square

Tetiba terbangun….

Aku tetiba terbangun dari tidur, jam biologisku mengatakan bahwa sudah saatnya untuk melaksanakan Shalat Subuh. Masih mengucek mata, aku memperhatikan sekitar, mencari tengara yang bisa mengarahkanku menuju musholla.

Aku mendapatkan tengara itu di dekat escalator, maka dengan sigap aku menujunya. Dengan mudah aku menemukan Prayer Room itu di lantai atas.

Entah kenapa, Shalat Subuh itu berlangsung sangat khusyu’. Entah karena imamnya memang seorang Arab dengan lafal Al Qur’an yang bagus atau karena rasa bersyukurku kepada Sang Kuasa yang telah mengantarkan pada titik petualangan hinga sejauh ini.

Usai shalat, tanpa membuang waktu, aku keluar dari Terminal 1 dan menuju halte bus yang berlokasi tepat di depan pintu masuk bangunan bandara. Halte itu sudah penuh dengan calon penumpang ketika aku tiba. Membuatku mengalah untuk berdiri sembari menunggu kedatangan bus. Kali ini aku menyasar bus bernomor 77.

Mencari bus menuju pusat kota.
Suasana pagi di depan bangunan bandara.

Tak lama menunggu, bus itu pun datang. Tapi ada sesuatu yang mengganjal ketika aku hendak menaiki bus itu. “Apa iya, kota semodern Dubai akan menerima pembayaran cash di atas bus?”, aku bertanya kepada diriku sendiri.

Untuk mengusir keraguan itu maka aku bertanya kepada seseorang di halte bus.

“You must buy Nol Card at Dubai Metro station. Go to the top floor, Sir!”, dia menunjukkan jarinya ke lantai atas bangunan terminal bandara.

Mengucapkan terimakasih atas petunjuknya, maka aku segera beranjak dari halte bus demi menuju Airport T1 Station di lantai atas.

Menemukannya dengan mudah maka aku segera mengantri di loket Dubai Metro. Tak berselang lama, akhirnya aku mendapatkan Nol Card seharga 25 Dirham. Kini aku bersiap menuju ke pusat kota menggunakan kartu transportasi itu.

Kembali ke halte, aku akhirnya mendapatkan kembali Dubai Bus Nomor 77. Aku memasuki melalui pintu tunggal di bagian tengah dan mentap Nol Card di fare machine. Aku melihat kartuku berkurang 3 Dirham dan tujuanku adalah Baniyas Square Station yang berlokasi di Distrik Deira.

Sangkala sudah tergelincir jauh dari pukul enam pagi ketika bus yang kunaiki mulai merangsek melalui Airport Road, lalu berlanjut ke Al Maktoum Road untuk menuju tujuan akhir.

Sepanjang perjalanan, suasana masih gelap, tak sedikit pertokoan yang masih menyalakan lampu, begitu pula dengan kendaraan-kendaraan yang melintasi jalanan kota masih menyorotkan lampu di sepanjang jalan.

Perjalananku memasuki pusat kota Dubai boleh dibilang tak terlalu jauh, hanya berjarak tak lebih dari enam kilometer dan hanya membutuhkan waktu tempuh sekitar dua puluh menit.

Berburu Nol Card.
Interior Dubai Bus Nomor 77.
Penampakan Mall Al Ghurair Centre (merah) dan  Al Masraf Building (menjulang di kejauhan) dari Al Rigga Road.
Dubai Bus Nomor 77.
Gerbang Baniyas Square Station.
Salah satu sisi Baniyas Square.

Lewat pukul tujuh pagi, akhirnya bus tiba di Baniyas Square. Baniyas Square sendiri adalah alun-alun utama di Distrik Deira yang merupakan salah satu pusat sejarah kota megapolitan Dubai.

Aku harus segera menemukan penginapan yang sudah kupesan melalu e-commerce penginapan ternama secara daring.

Tak pernah kusangka, di sinilah masalah besar akan datang menderaku……