• Mencari informasi tentang destinasi wisata di kota Ipoh melalui dunia maya sangatlah banyak dan mudah.

    Tetapi via googling, Aku tak pernah menemukan cara pasti untuk memasuki kota Ipoh dari gerbang darat utama mereka yaitu Terminal Bus Amanjaya….itu intinya. Itu kenapa Aku merasa perlu menulis artikel ini dan mudah-mudahan para backpacker sepertiku diluar sana bisa menemukan tulisan ini kelak di google.

    Tapi yang jelas hotel tempatku menginap terletak 1 km di sebelah timur sebuah terminal bus kecil bernama Terminal Bus Medan Kidd lalu Aku bisa berjalan dari terminal bus ini ke Abby by the River Hotel selama 15 menit.

    Mencari taxi tentu sangatlah mudah, hanya perlu sedikit bersiul maka Taxi akan menghampirimu. Karena taxi tak ada dalam kamus backpackerku maka tanpa informasi memadai aku harus mencari bus kota ini sampai dapat.

    Kekhawatiran dalam diriku pasti ada saja….mulai dari khawatir terjadi scam atau khawatir tidak sampai hotel tepat waktu….tapi apa boleh buat…inilah serunya solo traveling minim informasi.

    Bus Perak Transit yang berangkat dari Penang Sentral menurunkanku di lantai pertama Terminal Bus Amanjaya.

    Aku langsung memasuki arrival hall bus antarkota.  Jajaran bangku tempat penumpang menunggu menjadi pemandangan pertama yang kulihat disini.

    Aku sengaja mengalokasikan waktu sekitar 30 menit untuk mengeksplore seisi Terminal Amanjaya.

    Tentu Aku harus mencari informasi tentang bus ke tengah kota Ipoh. Beruntung Aku menemukan pusat informasi Terminal Bus Amanjaya di lantai 1 tepatnya di lobby terminal.

    Menurut petugas wanita di pusat informasi ini, Bus menuju Terminal Medan Kidd terletak di lantai 2 dan bernomor T30a.

    Tak mau menunggu lama karena khawatir kesorean, Aku segera naik menggunakan escalator untuk mendapatkan waktu keberangkatan bus terdekat.

    Dan akhirnya shelter bus itu ketemu juga:

    Dan inilah rute bus dari Terminal Amanjaya menuju berbagai tempat tujuan di Ipoh:

    Sedangkan ini adalah jadwal Bus No T30a dari Terminal Amanjaya menuju Terminal Medan Kidd:

    Perjalananku menuju ke pusat kota Ipoh pun dimulai dengan menaiki MyBas T30a:

    Membayar Rp. 12.250 (3,5 Ringgit) ketika memasuki pintu depan, Aku disambut dengan senyum akrab sang sopir keturunan India.

    Ada yang berbeda dengan pelayanan MyBas ini. Ketika menggunakan bus di Kuala Lumpur dan Penang (Rapid KL dan Rapid Penang), jika Kita membayar  lebih besar dari tarif maka uang kelebihannya tak akan dikembalikan. Tetapi ketika naik MyBas yang dioperasikan oleh Perak Transit ini, Aku membayar dengan uang 5 ringgit dan si sopir memberikan kembalian 1,5 Ringgit kepadaku….Fair and Good.

    Lantunan lagu-lagu India mengiringi perjalananku siang itu. Bus sempat berhenti sejenak untuk mengisi bahan bakar di sebelah Terminal Amanjaya.

    Selama perjalanan Aku tekun memperhatikan seorang solo traveler wanita keturunan China yang terus memperhatikan google maps nya. Pasti dia juga minim informasi sepertiku….hehehe.

    Beginilah beberapa pemandangan selama perjalananku menuju pusat kota

    Dalam 40 menit akhirnya MyBas merapat ke Terminal Medan Kidd

    Aku tak menunggu lama di terminal Medan Kidd karena Aku harus segera menuju ke Hotel untuk check in dan berkeliling kota.

    Kuperhatikan lagi si solo traveler wanita itu yang terlihat bingung di terminal. Kusempatkan bertanya mau kemana dirinya, tetapi dia bilang akan ke tengah kota menggunakan taxi. Aku sempat menawarkan diri untuk berjalan kaki bersama tetapi sepertinya dia tak percaya….hahaha. Tampang gembel sepertiku memang sepertinya mencurigakan….wkwkwk. Well yang penting aku sudah berusaha menawarkan kebaikan…..#gombaladamaunyaguweh

    Kuputuskan untuk segera berjalan kaki menyusuri trotoar kota Ipoh

    Menyusuri jalanan ini menuju ke Abby by the River Hotel

    Aku harus berhenti beberapa kali karena hujan ringan mengguyur Ipoh kala itu. Dan akhirnya dalam 30 menit Aku tiba di Abby by the River Hotel.

    Check-in, bayar, taruh backpack di kamar….lalu ngelayap keliling kota sampai malam. Akhirnya Aku bisa mencoret satu destinasi dalam bucket list ku.

  • Adjusting your motorbike speed and snaking to avoid gravels on the Samosir’s roads is a lesson that must be mastered quickly. If it doesn’t pass, surely the gravel will throw you on the street.

    Two car bumps incidents happened during my trip there. My focus wasn’t on the incident, but on their humorous when they quarreled in the middle of street which made a long traffic jam because they weren’t going to put the car aside immadiately.

    What more did I got.…?

    Many buffaloes suddenly crossed on the street, Big black pigs (bigger than a goat) were passing by or dogs that made the asphalt as its bed. All of that are precious views that isn’t exactly find in the capital city.

    Combined with the school building which located under Toba hills, it made me endless thinking, why haven’t I enjoyed this beauty since I started to loved my traveling.…I must explore my beautiful country in my next trips.

    “I love this island”, She muttered.…She piggybacked behind, so She could see everywherw compared to me who had focused to rode motorbike. Her sport camera always on to documenting Samosir Island and bring it to Aussie … but it was OK, I still had enough memory in the brain to store many beauty spot there.

    Road widening project made some lanes become slow lanes and wet soil spills made it slippery. And there were the large number of small insects that can hit your unprotect eye, so always weared glasses or helmet glass if you traveling by motorbike there.

    Never looked for gas station there, I failed to find it. It was better to filled gas at the retail gas stall as soon as you saw it, before you entered hilly areas with rare gas stalls.

    Two liters gas trip was started to visited “The Efrata”, a small waterfall in Harian District. Getting out of the main road through the rocky village road made me the first visitor there, ticket seller hadn’t arrived yet. I was lucky…It was be my free attraction that day. I hid my rented motorbike behind the managerial office, because I would leave it for few moments to enjoyed the waterfall behind the small hill.

    Leaving “Efrata”, I immediately headed to the closest waterfall, “Naisogop”. Heading north I spurred my motorbike fastly because the road was so nice even though it swung sharply up and down the hill. As far as the eye can see you will be amazed by the beauty of Toba Lake from above.

    This “Naisogop” waterfall is located above the hill. Motorbike drivers must be a bit adept when climbing the road. The motorbike must be stopped far from the location, so please use a double lock for security.

    Leaving the “Naisogop”, the one I always remember was the friendliness of all residents who lived under the waterfall area. Every time we passed them, they always offered coffee for rest a moment.

    I spurred my rented motorbike towards Aek Rangat, the famous hot spring in Samosir island, the smell of sulfur began to stab my nose when my motorbike approached the area. Passing the Aek Rangat signboard, I never met the hot water source, instead I was missed its location because of the unclear information about the hot water source location.

    The explanation of a post guard finally led me. I began to be suspicious when I saw the bare white hill didn’t have activity. Sure enough when approaching, the large pool was dry and there were only a stretch of tangled PVC pipes. Apparently since 2 years ago, the hot water had been flowed into resident’s pools to made it as their home business.

    My intention to took a bath in a natural public pool was vanished and no longer intend to took a bath with hot water in the residents’ pool even though it only payed USD 0,7. According to the pool owner, in fact his main business wasn’t on the hot pool but on their restaurant. Guests ate at restaurants then continued bathing in hot pool.

    Intending to went back to homestay, in the middle of journey my heart was curious with “Parbaba White Sand Beach”. “Do you want to see Parbaba Beach, Eloise?” She was confused when there was a beach on the lake … this was what I saw:

    I tried to enjoy the beach even though it was a little jealous because She was busy doing photos with many local young people….She absolutely like artist…White girl standed around the Indonesian brown skin.… hahaha.

    Finally, the time separated us, that afternoon I had to catch “INTRA” Bus at Pematang Siantar which I booked a day before by phone and would depart at 7 pm. Returned to homestay and left her there….She must continued her trip to other place too.

    Bye Bye Samosir, Bye Bye Toba

  • Ipoh….Ibu Kota negara  bagian Pahang ini terletak 200 km di sebelah utara Kuala Lumpur. Kota berjuluk Kota Bugenvil ini memang tak seramai Penang atau bahkan Kuala Lumpur, tetapi percaya padaku bahwa kota ini akan memberikan sisi eksotisme berbeda karena letak kota ini yang dibentengi gugusan perbukitan yang cantik.

    Waktu menunjukkan pukul 16:17. Jadi setelah check-in dan menyimpan backpack di dormitory milik Abby by the River Hotel, Aku memutuskan menghabiskan hari pertamaku di Ipoh dengan mengunjungi pusat kotanya.

    Abby by the River Hotel tempatku menginap selama di Ipoh

    Abby by the River Hotel cukup baik dalam menyediakan informasi wisata dengan adanya spot khusus di pojok lobby yang menyediakan banyak leaflet pariwisata Ipoh. Setelah 15 menit membaca informasi, Kusimpulkan bahwa hal yang menjual di pusat kota Ipoh ini adalah landmark Old Town yang tentu adalah peninggalan kolonial Inggris abad 19.

    Tak berfikir lama, Aku segera keluar hotel untuk menuju pusat kota. Menyusuri Jalan Sultan Iskandar yang merupakan jalan protokol di Ipoh, sekejap suasana hiruk pikuk dalam otakku lenyap tanpa bekas. Jangan samakan dengan Jakarta, karena kota ini  berbeda dengan metropolis ibu kota. Kamu akan merasa menjadi pemilik kota ini karena ketenangannnya.


    Kinta River membelah indah Jalan Sultan Iskandar

    1. Hugh Low Bridge.

    Jembatan ini dibangun untuk menyambungkan Jalan Sultan Iskandar yang melintasi Kinta River.

    Gerimis membuatku lebih sejuk menikmati sungai Kinta dari jembatan ini

    Berhenti sejenak diatas jembatan, Aku mengamati aktivitas beberapa warga kota Ipoh yang asyik memancing di beberapa spot Kinta River

    2. Ipoh River Front Park

    Begitu menyeberangi Kinta River, Aku langsung disuguhi taman kota nan luas. Terkenal dengan nama Ipoh River Front Park.

    Taman kota yang cukup luas ini memiliki kolam, air mancur dan kedai-kedai makanan didalamnya. Menjadi tempat yang nyaman untuk refreshing.

    250 m menyusuri Jalan Sultan Iskandar, Aku berbelok ke kanan menyusuri pertokoan di Jalan Bijeh Timah.

    Menemui sepasang turis Eropa dan sekeluarga turis Malaysia membuatku merasa tak sendiri di kota ini. Perut laparku semakin menjadi ketika berada diujung jalan ini karena jajaran tenda makanan ini:



    Inilah satu dari tiga tenda street food yang kutemui sore itu

    Tak mau kehilangan banyak waktu untuk sekedar nongkrong, kuputuskan untuk lebih memilih mengunyah biskuit yang kubeli di Penang Sentral siang tadi sambil terus berjalan menyusuri keindahan Ipoh.

    3. Ipoh Mural Art

    Nah, berbelok ke kiri di ujung jalan, Aku menemukan beberapa lukisan mural layaknya mural-mural terkenal di Penang.

    Kamu harus jeli dan sabar dalam mencari lukisan mural ini karena beberapa letaknya tersembunyi. Sore itu Aku bak bermain petak umpet dengan Kota Ipoh untuk menemukan sisi keindahannya.

    4. Gedung HSBC Bank

    Surya dikala senja saat itu membuat setiap pemandangan yang kulihat menjadi sangat istimewa. Begitu pula dengan Gedung HSBC ini. Bangunan tahun 1931 ini adalah bagian dari Ipoh Heritage Trail

    5. Padang Ipoh

    Lapangan ini dalam sejarahnya digunakan sebagai tempat para pejabat kerajaan Ipoh melakukan upaca penghormatan terhadap Kerajaan Jepang pada masanya.

    Disinilah akhirnya Aku bisa menemukan para warga kota Ipoh melakukan aktivitas. Dari anak-anak muda yang bermain sepak bola hingga keluarga-keluarga kecil yang membawa anaknya untuk sekedar bermain dan makan bersama di lapangan ini.

    6. Ipoh Tourist Information Centre

    Terletak sangat tersembunyi di sebuah ujung jalan buntu (Jalan Bandar), Aku bersikukuh mendatanginya untuk mendapatkan informasinya sebanyak mungkin untuk mengeksplore Ipoh keesokan harinya.

    7. Ipoh Town Hall

    Bangunan tahun 1916 ini pada awalnya adalah kantor administrasi utama kota Ipoh. Namun saat ini sudah digunakan untuk function space seperti untuk weddings dan event-event umum.

    8. Cenotaph War Memorial

    Digunakan untuk memperingatai mereka yang gugur dan terluka dalam perang negara dan diresmikan penggunaannya pada tahun 1927.

    9. Kantor Kepolisian Negara Bagian Perak

    Ini adalah Markas dari Royal Malaysia Police Daerah Perak. Aku sebetulnya tidak berani mengambil foto kantor kepolisian ini. Tapi karena kebiasaan jeprat-jepret akhirnya secepat kilat kuabadikan bangunan ini.

    10. Masjid Sultan Idris Shah II

    Langkah kakiku sore itu kututup dengan bersembahyang maghrib di Masjid Negeri Perak ini. Keramahan warga Ipoh sangat terasa ketika Aku menunaikan ibadah. Senyuman hangat yang mengiringi jabat tangan sesama jamaah membuatku serasa berada di negeri sendiri.

    Malaysia memang telah menjadi rumah kedua bagiku karena kemiripan budayanya.

    Tiba saatnya untuk meninggalkan pusat kota dan mendekat ke hotel karena suasana sudah sangat sepi.


    Beranikah kamu jalan sendirian di sepinya malam kota Ipoh….asik-asik sedap lho…cobain deh

    Sepinya kota membuatku sedikit struggling dalam mencari makan malam. Walau akhirnya Aku menemukan semangkuk Mee Kari seharga Rp. 14.000 di Kedai Mee Daud Mat Jasak yang terletak di Jalan Dato Onn Jaafar di daerah Kampung Jawa.

    Selepas kenyang, Aku segera memutuskan kembali ke hotel untuk mandi air hangat dan beristirahat. Bersiap untuk eksplore Ipoh esok hari.


    Inilah kamar seharga Rp. 70.000/malam tempatku beristirahat
  • Begitu tiba di Penang Sentral dari perjalanan darat 7 jam 32 menit dari Kuala Lumpur International Airport Terminal 2 (KLIA 2) menggunakan bus Star Mart Express, Aku bergegas menuju Stasiun Butterworth untuk berburu tiket Electric Train Service (ETS) menuju Ipoh untuk keberangkatan lusa hari setelah kedatanganku di Penang.

    Hasrat hati untuk mencicipi jasa kereta listrik jenis ETS ini sirna karena tiket ternyata sudah sold out.

    Fine….“Naik bus lagi”, hatiku bergumam.

    Akhirnya Aku kembali ke Penang Sentral Lantai 2 untuk mencari tiket bus. Sedikit was-was, karena kalau sampai tiket bus habis maka rencanaku untuk menginjakkan kaki di Ipoh untuk pertama kalinya bisa gagal.

    Jika gagal mendapatkan tiket bus ke Ipoh maka Plan B ku adalah memperpanjang waktu kunjunganku di Penang kemudian kembali lagi ke Kuala Lumpur untuk mengejar penerbangan Malindo Air ke Dhaka, Bangladesh.

    Yes….Aku mendapatkan tiketnya.

    Yang perlu Kamu ketahui bahwa Penang Sentral menyediakan dua cara untuk membeli tiket bus dari Penang ke Ipoh.

    Pertama, Kamu bisa langsung membelinya di Bus Ticketing Counter di lantai 2. Berikut ini adalah suasana konternya:

    Kedua, kalau Kamu mengaku sebagai generasi milenial maka seharusnya Kamu akan membeli tiket bus di Self Ticketing KiosK. Terletak di lantai 2 juga, berikut ini guys mesinnya:

    Aku memilih Bus Perak Transit sebagai armada pengantarku ke kota Ipoh. Tarif bus seharga Rp. 70.000 cukup membantu membuatku berhemat di awal perjalanan panjangku.

    Lusa hari berikutnya, setelah merasa cukup menjelajah Penang selama dua hari, akhirnya perjalananku ke Ipoh dimulai.  Satu jam sebelum jadwal keberangkatan, penumpang baru boleh masuk ke Terminal Bus Penang Sentral yang terletak di lantai 1. Aku langsung menuju Gate 3 sesuai dengan yang tertera di tiket untuk menunggu bus datang.

    Setelah menunggu selama 16 menit, akhirnya Bus Perak Transit tiba dan standby di platform B09

    Bus berangkat tepat waktu pada 14:00.

    Perjalanan ke Ipoh sejauh 140 km ini ditempuh dalam waktu 1 jam 49 menit.  Melewati pemandangan yang cukup mengesankan.

    Aku mengulang pemandangan ini dua kali, karena dalam perjalananku dari KLIA 2 ke Penang dua hari sebelumnya juga melewati jalanan yang sama.

    Bus menyempatkan sekali toilet break dalam perjalanan ini pada suatu tempat yang aku tak sempat mendeteksi dimana letaknya.

    Pada pukul 15:49 akhirnya bus merapat ke Terminal Bus Amanjaya. Inilah terminal bus antar kota di Ipoh.

    Memasuki Terminal Amanjaya, Aku sangat tidak sabar untuk segera menuju ke Terminal Bus Medan Kidd yang terletak di tengah kota Ipoh. Terminal Bus Medan Kidd adalah salah satu akses untuk masuk ke kota Ipoh.    

    Ipoh yang selama ini hanya kudengar lewat cerita para backpacker dan tulisan di dunia maya, akhirnya aku diizinkan menginjakkan kaki di kota itu setelah berkelana selama delapan tahun menjadi seorang backpacker.

    Keseruan apa yang kudapatkan selama singgah di Ipoh?

    Sabar menunggu tulisanku berikutnya ya guys….

    Oh ya. Berikut alternatif lain untuk membeli tiket online dari Penang ke Ipoh, yaitu melalui 12go Asia di link berikut: https://12go.asia/?z=3283832

  • I jumped into homestay room through the window after a receptionist was unable to opened the door. I successfully entered into room and just by “one-clicked”, the door opened.

    Choosing a hotel is about style. But for me, a dormitory is still as first priority. Keeping the budget for continuing a dream…. is traveling… #bigdreamer

    After stayed in a same dormitory in Medan, I met Eloise again in Toba Lake. I showed my dance with Si Gale-Gale doll to her. She laughed when saw my dance as amateur. She told a lot about her trip to Toba Lake from Medan, He felt uncomfortable when seeing many men smoked on the bus while there were children in it.

    Fatigue made me fell asleep until 8pm. Luckily, the homestay had hot water in the shared bathroom. Towards the lobby & restaurant, I enjoyed the night by seeing a live accoustic and drank a bottle of coca cola.

    I looked at Eloise in the corner and talked to the staff while pointing at the map. I thought she was preparing for her trip tomorrow. I saw a long-haired American who always added his beer bottle. I never thought he would be my room mate at a dormitory in Bukittinggi 2 days later. In Bukittinggi, I knew him well as Noah, a Californian mining engineer.

    Knowing my presence, Eloise approached and sat in front of me, asking for my plan tomorrow and how to executed it. I explained in as much detail as possible and it seemed like She was interested and at the end of the conversation he decided to joined with me to rented a motorbike and explored Samosir Island together.

    A vegan and doesn’t consume an alcohol. Naturally he slept faster that night.

    The homestay staff suggestion drove me to a house that located at opposite the homestay to rented a motorbike for USD 4 for my trip tomorrow. I was served with hot tea and talked with the owner for several minutes after she knew that my house location in Jakarta was very near with her daughter house. Evidently her daughter lived in Jakarta too.

    Morning Samosir……                                                                                               

    All guests haven’t woken up, I’ve been sight seeing the morning busyness in Toba Lake. Students joked on their trip to school, many people jogged in the morning, some residents feed their pets and young people cleaned up the bars after last night parties.

    I found the highest street in Tuk Tuk area to seeing the sunrise freely. Majority edges of lake which had became hotel areas required me to enjoyed the sunrise in my own way.

    I also took the time to using the homestay facilities. circling the volleyball field and sat in the garden.

    Just ate dried onde-onde (Indonesian originl food) that I bought yesterday made a free breakfast that morning.

    Precisely at 7 o’clock, I took a rented motorbike. The new motorbike without license plate made me a little worried if met police there. Motorbike owner assured me, “if you were checked by police, just said that the motorbike belonged to your homestay, the police would know that you was a tourist, and moreover you was riding a motorcycle together with Australian girl” …. So I didn’t need worry.

    Let’s go explored Samosir.

  • Jet Airways adalah airlines ke-19 yang pernah kunaiki selama menjadi backpacker. Maskapai biru kuning ini adalah maskapai terbesar kedua India dan sebagian kepemilikannya dipegang oleh Etihad Airways dari Uni Emirates Arab (UEA). Dan penerbangan Jet Airways ini adalah kali kedua Aku menggunakannya. Penerbangan perdanaku bersama Jet Airways adalah saat terbang dari Kathmandu, Nepal ke New Delhi, India pada 4 Januari 2018.

    Jet Airways 9W275 ini adalah penerbangan terjadwal Rabu, 2 Januari 2019. Ticket Kuissued 7 bulan sebelumnya, tepatnya pada 26 Mei 2018. 

    MUMBAI….adalah daya tarik yang membiusku untuk rela menyinggahinya sebelum menuju Colombo, Sri Lanka. Aku selama ini tak pernah percaya akan berita “miring” tentang India….Buatku, tanah Mahabharata ini memiliki sisi eksotisme tersendiri yang selalu tak terlupa. Eksotisme yang bisa diukir di hati dan mencemar otak ketika meninggalkan negeri ini.

    Kembali ke penerbangan Jet Airways,

    Setelah melewati konter imigrasi Shahjalal International Airport, Dhaka-Bangladesh, Aku hanya perlu melewati sebuah hall kecil tempat para penumpang menunggu sebelum masuk ke Gate.

    menuju gate 11

    Sebelum masuk ruang tunggu, Aku dihadang oleh X-ray checking di depan gate:

    mengular

    Nah ini uniknya Jet Airways, setelah melewati x-ray checking, cabin baggage penumpang masih harus dibuka dan diperiksa kembali. Terasa sangat ketat. Mengingatkanku akan pemeriksaan cabin baggage di depan pintu pesawat Jet Airways saat meninggalkan Kathmandu menuju New Delhi pada Januari 2018 silam…..lucu ajah….hihihi

    ituh tuh….meja pemeriksaan cabin baggage

    setelah lolos pemeriksaan cabin baggage maka penumpang baru bisa duduk manis di ruang tunggu gate 11:


    Unik banget kelakuan para penumpang India dan Bangladesh…

    Setelah 20 menit menunggu, akhirnya Aku mulai boarding.

    Ngintip bagian depan pesawat….menjadi ritualku sebelum terbang.

    Boarding melalui aviobridge dan mencari tempat dudukku di bangku nomor 37F….mayan deket jendela.

    inilah penampakan interior Jet Airways Boeing 737-900 ER

    Mau lihat penampakanku yang tak mandi sejak 24 jam sebelum terbang. Nih…hahahaha bau:

    Penerbangan ini berlangsung selama 3 jam 25 menit. Selama penerbangan, Aku disuguhi Non Vegetarian Meal. Aku ditawari pramugara veg or non veg di pesawat karena lupa memilih makanan saat issued tiket.  Setelah kubuka isinya nasi beserta ayam kari khas India….maknyus.

    Paras pramugari pramugara muda nan elok khas India menjadi pemandangan yang membumbui penerbanganku kali ini.

    cantik ga?

    Di awal penerbangan meninggalkan Dhaka, pemandangan diluar jendela pesawat terkesan biasa.  Aku hanya khusyu’ membaca JetWings yang merupakan inflight magazinenya Jet Airways.

    Tetapi memulai masuk ke 2,5 jam penerbangan, Aku disuguhkan pemandangan indah nan memikat mata

    pegunungan berbatu …dekeeet bingit….seram tapi indah.

             entah itu sungai apa….mengular dan mengkilat indah

    Satu jam kemudian pesawat sudah berada di atas kota Mumbai.

    Kota Mumbai dari atas

    rumah penduduk yang berjubel

    Ahirnya setelah 3,5 jam Aku mendarat di Chhatrapati Shivaji International Airport, Mumbai. Oh iya…Bandara ini adalah main hubnya Jet Airways gaes….

    Akhirnya Aku menginjakkan kaki di India…..Mau lihat Mumbai ga gaes?….

  • “Sir, please fill it,” a ferry crew smiled and gave me a manifest sheet which had already been humid because of drizzle exposure all day. I must write my name, address and age in it. This process reminded me to the sinking of a ferry “Sinar Bangun” in Simanando area (an area on Toba lake) 4 months before I filled the manifest.

    I waited for one hour since my arrival at Tigaraja Port until the manifest came. I chose to docked at Tomok Port even though I will spend the night around Tuk Tuk Port.

    Entering 1st floor deck of ferry, a granny greeted me and offered me to bought her smoky boiled peanuts, it suitable for cold weather that time.

    The 2nd floor deck was my spot choice to caught some pictures using my camera for 50 minutes sailing.…I deliberately sat near shelf of life jackets… hihihi, hopefully I didn’t have to “jumped”.

    Two beautiful women and three young men who more handsome than me walked up and down the deck for got selfie and took pictures, I just saw them and ate my hot peanuts. I chewed it one by one to against cold weather.

    I was waiting for Batak (a original ethnic in north Sumatra) song, but instead NOAH song (a famous modern band group in Indonesia) sang throughout the trip. It was understandably because a captain and crew were young.

    Okay whatever …. It was time to acted.

    Moving to the left and right of 2nd floor ferry deck, my eyes were amazed by hills with thin clouds on top.… Incredible paintings of God … My eyes began to cried.

    On deck, the crew took USD 0,7 per passenger as fare… Around 3:02 pm, ferry arrived at a port, I hurried down. But a crew detained me, apparently it wasn’t the intended Tomok Port. The port belongs to Lopo Inn Hotel … Maybe they who got off would stay in this hotel.

    Only 5 minutes for dropped all passengers at Lopo Inn Port then ferry departed for Tomok Port. And within 3 minutes, ferry approached Tomok port.

    I directly hunted photos around it when everyone quickly left the port. I murmured, “Maybe, God willn’t deliver me here twice”, so I would maximized every moment in my adventure.

    Leaving the outer side of port I began to entering tourist area of Tomok. The first view that I passed was a long aisle of souvenir stalls. It spoiled my eyes. But it won’t affect backpacker like me who have never bought airplane baggage for souvenir space and only brought backpack that was fully loaded by travel equipment.

    My strategy was right to left Medan early morning and firstly headed to Tomok in Toba lake. Time was mine now, there were 3 hours to visit some attractions in Tomok before checked in to Bagus Bay Homestay in Tuk Tuk area.

    Where did I have to visited attractions?

  • Premium Link Ferry perlahan merapat ke pulau Male’ setelah berlayar 18 menit dari pulau Hulhumale. Hari itu Aku berniat berkeliling seharian di Hulhumale, Male’ dan Villingili.

    Menginjakkan kaki di halaman depan Male’ Ferry Terminal, Aku berusaha tenang dan menyapu pandangan ke sekitar. Akhirnya satu papan petunjuk menyita perhatianku.

    Petunjuk inilah yang mengajariku bagaimana mengeksplore Male’ dengan ber-JALAN KAKI. Dan akhirnya petualanganku dimulai dari sini:

    Suasana jalanan Boduthakurufaanu Magu

    Langkahku perlahan menuju ke jalan Medhuziyaarai Magu. Ada banyak spot foto menarik di jalan ini:

    1. People Majlis

    Peoples Majlis ini adalah tempat para anggota DPR nya Maldives berkantor.

    Kemudian berjalan lurus ke barat Kamu akan menemui bangunan ini:

    2. Medhu Ziyaaraiy Shrine

    Ini adalah makam Abdul Barakat Yoosuf Al Barbary asal Maroko yang mempunyai peranan penting dalam penyebaran Islam di Maldives.

    Kemudian, disebelah makam ini adalah rumah dinas presiden Maldives. Nama bangunan ini adalah:

    3. Mulee-aage Palace

    Rumah berusia 100 tahun ini awalnya ada tempat tinggal putra mahkota kerajaan Maldives sebelum negara ini berubah bentuk menjadi negara republik.

    4. Hukuru Miskiyy (Friday Mosque).

    Persis didepan Mulee-aage, Kamu bisa mengunjungi Hukuru Miskiyy.

    Masjid tertua di Maldives dan paling memiliki nilai seni di Maldives.  Menjadi salah satu warisan dunia UNESCO, masjid ini menggunakan kekayaan alam Maldives sebagai bahan pembangunnya yaitu batu karang….keren ya.

    Aku sempatkan untuk shalat Dzhuha di sini dan berbincang dengan seorang marbot masjid ini.

    5. Velaanaage

    Dari Hukuru Miskiyy berjalanlah ke arah pantai utara maka kamu akan melewati bangunan modern ini:

    Menyandang predikat sebagai gedung tertinggi di Maldives. Digunakan sebagai kantor administrasi pemerintahan Maldives dengan konsep layanan satu pintu.

    6. President’s Office.

    Kembali menyisir pantai utara Male’ ke arah Barat, spot berikutnya yang akan ditemui adalah gedung dimana Presiden Maladewa bekerja setiap harinya.

    7. Izzudheen Faalan

    Ini adalah dermaga laut kepresidenan. Dibuka pada tahun 2015 dan dinamai dengan nama tokoh yang berjasa dalam mempertahankan kemerdekaan Maladewa.

    8. Jumhooree Maidhaan

    Orang-orang mengenalnya dengan sebutan Republic Square. Semacam alun-alun besar tempat aktifitas warga Maladewa. Selain melihat bendera raksasa Maladewa, Kamu juga akan menemui sekawanan merpati yang memenuhi sebagian alun-alun….tentu Kamu bisa memberinya makan.

    Di salah satu ujung alun-alun ini akan ditemukan air mancur besar yang sepertinya akan menjadi pertunjukan yang indah di malam hari karena disertai dengan alunan musik.

    9. Male’ Islamic Centre

    Dari alun-alun ini bergeraklah ke arah selatan dan kunjungilah pusat pengembangan Islam di Maladewa. Islamic Centre ini ditandai dengan berdiri megahnya masjid Al-Sulthan Muhammad Thakurufaanu Al-Auzam.

    10. The November 3rd Memorial.

    Berjalan ke sebelah kanan masjid, Aku menemukan  sebuah monumen untuk mengenang  atas gugurnya 19 jiwa akibat serangan teroris pada tanggal 3 November 1988.  Kesembilan belas korban ini terdiri dari 8 militer dan 11 warga sipil.

    11. Sultan Park.

    Tepat di depan The November 3rd Memorial adalah Sultan Park. Taman ini sepertinya adalah taman terbaik di Male’. Berbayar untuk turis dan free untuk warga Maladewa.

    Adapun jam operasional taman adalah Minggu (16:00-23:00), Senin-Kamis (09:00-23:00) dan weekends atau public holidays (06:00-24:00).

    12. National Museum.

    Selepas berkeliling Sultan Park, Aku memutuskan untuk mengunjungi National Museum di dekat taman ini. Bangunan Museum adalah pemberian dari Pemerintah China untuk Maladewa. Selama berada di Maladewa, Aku memang melihat banyak sekali proyek-proyek besar Negara Maladewa yang dikerjakan oleh Pemerintah China.

    13. Theemuge

    Lelah berkeliling museum, Beristirahat di bawah pohon besar di depan National Museum adalah pilihan terbaik. Aku bisa menikmati lalu lalang warga Maladewa pada pertigaan di depan museum.

    Meninggalkan museum, Aku menuju ke jalanan Orchid Magu untuk menemukan Theemuge. Theemuge digunakan sebagai tempat berkantornya Mahkamah Agung Maladewa.

    14. Local Market

    Kembali ke arah pantai utara Male’ di utara Theemuge, Kamu bisa mengunjungi Local Market. Sangat menyenangkan memasuki Local Market dan melihat aktivitas perniagaan masyarakat Maladewa.

    15. STO Building

    Ini adalah kantor pusat STO (State Trading Organization) 8 lantai yang dibangun di daerah Maafanu. Perusahaan yang 80% kepemilikan sahamnya dikuasai pemerintah Maladewa ini  bergerak di berbagai bidang bisnis seperti elektronik, kesehatan dan supermarket

    16. Rasfannu

    Diujung barat pulau Male’, Kamu akan disuguhi pantai buatan Rasfannu. Pantai yang pada sore hari sering digunakan warga Maladewa (bahkan para turis) untuk relaksasi diri setelah seharian beraktifitas.

    17. Indira Gandhi Memorial Hospital (IGMH)

    Ini adalah rumah sakit pemberian pemerintah India untuk pemerintah Maladewa. Jadi statusnya tentu menjadi rumah sakit negara.

    18. Dhiraagu Building

    Dhiraagu adalah provider telekomunikasi terkemuka di Maladewa. Aku sempat menggunakan 4GB kuota internet operator ini seharga USD 15 selama berada di Maldives….Thanks Dhiraagu.

    19. Tsunami Monument

    Monumen ini didirikan untuk memperingati musibah Tsunami pada tahun 2004. Tsunami yang terjadi bersamaan dengan Tsunami Aceh di Indonesia

    20. Sinamale Bridge

    Jembatan persahabatan China-Maldives ini menghubungkan pulau Male’dan Hulhule. Hulhule adalah pulau dimana Velana International Airport berlokasi. Jembatan berbayar sejauh 2 km ini dibuka pada tahun 2018 lalu.

    So gaes, Monggo berkeliling Pulau Male’…..Dijamin ga rugi kok

  • I would tell my journey by Bus “SEJAHTERA” from Medan City to Toba Lake. The distance was 170 km and bus fare was IDR 40,000 (USD 2,85). The special thing wasn’t on got into the bus but in curiosity along the trip to immediately met the largest volcanic lake in the world.

    dhazong

    Yes that is the Dazhong Backpacker’s Hostel lobby….Bored.… became a first guest who woke up on early morning, but my plan failed to catched the first departure Bus “SEJAHTERA” on 6 am. One hour pacing, I made noisy sound with a hope that hostel owner would get up. Starting by pushed bell many times at reception desk or got in and out the door so the “WELCOME” sound sensor rang. Crazy activity aimed to got back my deposit money in hostel.

    6:10am He woke up.…but, I didn’t immediately get GORIDE (online base transportation in Indonesia) because of a weak signal, I decided to got close to center of Little India area, precisely at Shri Mariamman Temple. Around 6:34am GORIDE picked me up. Didn’t breakfast yet I immediately went up, I would definitely arrive at Amplas Terminal 5 minutes before bus departed. It was true that GORIDE hadn’t entered yet into terminal. The bus looked out from terminal, I rushed down from GORIDE and waiting for bus to approached me.

    Here, I got a photo of Amplas Terminal on a day before when I arrived from Kualanamu Airport:

    amplas

    10 minutes into bus, drizzle turned into heavy rain. This economy bus often stopped for raising passengers before entering into highway. Rain requires all windows to be closed. It was the challenge.… how to set my breath so didn’t inhale much smoke along the way. With closed windows and many passengers smoked, when they finished one cigarette then they would smoke other ones.…crazy.

    When starving, no one food hawker came into bus. I was only occasionally chatting on Facebook Massanger with “The Beauty” Eloise who kept asking how I was going to Toba Lake, She was an Australian solo traveler who met me at dormitory in Medan City. She would go to Toba Lake in the day by copying what I did. Also, She asked where I got a guesthouse in Toba Lake for IDR 60,000 (USD 4,3)… Later I would tell to you how finally we were both riding a motorcycle on exploring Samosir island.

    bus sejahtera

    Noisy sound of worn wipers together with Batak songs accompanied me to enjoyed view of streets, villages, and oil palm plantations.

    At 11:25 my eyes were stunned on appearance of wide waters after bus descended a ridge somewhere. Yesss … it was Toba Lake … It was cool.

    Driver’s change to bus return trip to Medan was did before arriving at Tigaraja Ferry Port. I almost went too far from drop point because bus conductor didn’t tell me where the bus was, I just monitored “Your Position” on Google Maps. It looked like I stayed away from Tigaraja Port. I decided to get off from bus and walked in a drizzle to port.

    Didn’t want to lost the moment of photo hunting along Tigaraja Port then I bought umbrella for IDR 50,000 (USD 3,5) in the market around the port.

    tigaraja

    Several corners of Tigaraja Port

    Toba Lake … I came!

  • Kedatanganku di Colombo, Sri Lanka dimulai dengan aktivitas toilet yang aneh. Penjaga toilet itu menyapaku “Indonesii?”, memencetkan tombol flush di urinoirku dan memberikan tiga lembar tissue di depan wastafel dan akhirnya di pintu toilet Dia memintaiku uang untuk makan katanya. Aku tak punya Sri Lankan Rupee (LKR) pagi itu karena Aku belum menukar USD. Aku mohon maaf dan meninggalkannya.

    Tak ada masalah berarti melewati konter imigrasi karena Aku memiliki e-Visa, tiket keluar Sri Lanka dan reservasi dormitory.

    Aku segera menukarkan USD….sedikit masalah. Kata staff money changer minimal penukaran 100 USD. Tak menyerah menanyakan satu persatu money changer, sampai akhirnya Aku bisa menukarkan 50 USD di money changer milik Sampath Bank .

    Kiri: Sampath Bank money changer di Bandaranaike International Airport.

    Kanan: Kios Mobitel milik Sri Lanka Telecom

    Aku memang sedikit gila, uang segitu nanti masih akan bersisa 25 USD di akhir petualanganku di Colombo. Aku menukar kembali sisa LKR ke USD di money changer di tengah kota.

    Berbekal 8.830 LKR, spending pertamaku adalah SimCard Mobitel 4 GB keluaran Sri Lanka Telecom seharga 960 LKR.

    Setelah menunggu hampir 2 jam hingga pagi menjelang terang, kuputuskan menuju pusat kota. Aku meninggalkan arrival hall untuk menangkap airport bus pertama. Keluar menyusuri koridor , Aku sedikit nervous dalam kesendirianku, tapi Aku cuma berujar di hati “hi man, Kamu sudah sampai….so mau ngapain lagi kalau ga explore”.

    Gumamku terhenti ketika Aku menghadap ke seorang tentara penjaga bandara dan menanyakan letak airport bus shelter. Aku sudah tau jawabannya, pasti suruh belok kiri dari pintu keluar dan bus ada di ujung. Tuh….bener kan doi ngomong begitu. (Aku tahu karena pernah googling, Aku menanya hanya untuk afirmasi). Aku makin PeDe melangkah ke kiri dari pintu keluar.

    Yess, sudah diujung nih….bus mana bus ?, kok banyak Toyota Hiace diparkiran. Seseorang menghampiriku. “Where are you going, Sir”…..Kubilang mau ke Pantai Galle Face (Hostelku dekat situ gaes). Intinya dia bilang disini tak ada airport bus dan dia menawarkan jasa seharga 6.000 Rupee menuju Galle Face dengan Hiace nya. Yah pastilah Aku gak mampu bayar….yeeee. Kubilang baik-baik bahwa Aku backpacker dan tak punya uang sebanyak itu.  Aku hanya minta tolong untuk diberitahu dimana letak airpot bus shelter….doi luluh dan akhirnya memberitahuku….ternyata bus itu ada di sebelah kanan pintu keluar #tepokjidatnih

    Kiri atas : Sign menuju airportbus shelter . Kanan atas : Airport bus shelter

    Kanan bawah: Tiket airport bus seharga 150 LKR.

    Kiri Bawah: Suasana di dalam airport bus

    Tak menunggu lama, Aku segera naik. 15 menit kemudian bus meninggalkan airport. Mataku tak bisa terpejam karena tertegun menikmati pemandangan jalanan pagi Colombo. Bus kemudian merangsek ke jalan tol, matahari pagi menembus kaca bus dengan hangat, membantuku menahan dinginnya AC bus. Bus berukuran sedang itu melaju pelan seakan memamerkan orisinalitas kota Colombo….Ahhh, Aku tak sabar sampai di tengah kota.

    40 menit kemudian, bus mulai masuk ke Colombo Central Bus Stand. Aku tak mau berlama-lama di terminal sentral ini. Kelamaan disini berarti harus siap dikerubuti taxi-er dan tuk tuk-er. Berbekal informasi dari situs pariwisata Srilanka. Begitu turun bus, Aku langsung menghindar dari niat mereka mengerumuniku. Ku bilang aja: ” I’m sorry, I am looking for bus no 100”. Aku menyeberangi jalan arteri di depan terminal lalu belok ke kanan sekitar 500 meter. Dan benar saja, Aku melihatnya. Berlari kecil mengejarnya dan hupp….aku lompat lewat pintu belakang

    Kiri Atas :City bus no 100 ke Galle Face. Kanan Atas: Suasanan dalam bus

    Kanan Bawah: Halte bus terdekat dari Hostel at Galle Face

    Kiri Bawah: Suasana di jalan arteri sekitar Colombo Central Bus Stand

    Aku mulai merasa asing, wajah Asia Tenggara berada dikerumunan wajah Asia Selatan. Berdiri berdesakan didalam bus yang tak jauh beda dengan Kopaja Ibu Kota. Hanya butuh 14 menit untuk sampai di Galle Face dan berjalan sejauh 200 meter dari halte bus, Aku menemukan hostelku

    Okay…..Akan kuajak Kamu melihat Sri Lanka…yukkks gaes!