• Kenapa kebanyakan turis selalu memposting fotonya dengan latar belakang bola biru Universal Studio?….Sudah menjadi kesepakatan informal, jika sudah berfoto demikian maka Dia telah sah mengunjungi Negerinya Lee Kuan Yew.

    Lalu pernahkah Kamu berfikir untuk membedah seisi Sentosa Island ?….Eh satu lagi, semua itu dilakukan dengan berjalan kaki….Sanggup?

    Hahaha….Edun.

    Emangnya Kamu pernah, Don?….yee iii lee, “crazy backpacker” kek Guwe ditanya begituan….ya pernah lah….ampe gempor malah….

    Nih ceritaku….mana ceritamu….jangan dink, capeeeekkk!

    Turun di stasiun MRT Harbour Front, Aku keluar melalui Vivo Mall. Di dalam mall, plis jangan terlena ama barang dagangan atau bahkan ama para amoy yang aduhai itu. Kamu hanya perlu fokus untuk mencari papan petunjuk yang akan mengarahkanmu ke Sentosa Boardwalk.

    Ikon Vivo Mall di lantai teratas….dari lantai ini, exit door ke Sentosa Boardwalk sudah deket kok.

    Btw, tar dulu….Kamu tahu kan apa itu “Sentosa Boardwalk”?

    Sentosa Boardwalk

    Kalau ke Sentosa Island naik bus atau travel car maka Kamu ga bakal nemuin jalan apung ini. Apalagi kalau naik monorail Sentosa Express atau Cable Car….Hmmh, kapan ya Aku bisa naik begituan….hahaha, pernah tauk….baca aja deh.

    Yes….Sentosa Boardwalk adalah jalur pejalan kaki sepanjang 600 meter yang dibuat seakan mengapung di atas air laut untuk menghubungkan Sentosa Island dengan daratan utama Singapura….Keren yaaaa.

    Titik awal Sentosa Boardwalk.

    Jika Sentosa Boardwalk untuk pejalan kaki, maka dimana jalan mobil dan jalur monorail menuju Sentosa Island?.

    Ya pasti ada lah….Kamu hanya perlu berjalan keluar jalur di kiri Sentosa Boardwalk, maka Kamu akan menemukan jawabannya

    Ntuhhh….

    Jalan raya dan jalur monorail menuju Sentosa Island.

    Karena sukanya gratisan, maka Aku ke Sentosa Island dengan….jalan kaki lageeeeeeee….

    Sedikit dibantu escalator. Walau porsi besarnya tetap jalan kaki.

    Plis deh, lepasin kacamata kudanya….ya emang sih cepet nyampai, tapi Kamu ga akan dapat view experience yang yahuut.

    Nih….hasil ketika Aku mengkol di salah satu deck Sentosa Boardwalk.

    Njirrr….itu Harbour Front Port. Kalau mau ke Batam naik ferry di situ, gaes. Do’ain Aku bisa naik kapal pesiar kek gitu ya….
    Viewpoint di pertengahan Sentosa Boardwalk

    Automatic Fare Gate di ujung Sentosa Boardwalk itu tertutup kain, pertanda bahwa Aku tak perlu membayar Rp. 10.000 untuk  memasuki gerbang Sentosa Island….Ada promo apa sih?

    Trick Eye Museum

    Mau masuk situ?….boleh siapin aja Rp. 200.000. Aku sih kagak masuk….

    Masuk gerbang Sentosa Island disambut sungai buatan berseberangan dengan museum.

    Sentosa Resort World Sign

    Alur pajalan kaki mengantarkanku memasuki goa buatan tepat dibawah papan nama “Sentosa Resort World”

    Mending sekali foto jadi….ini gagal mulu….ya harus nunggu monorail berikutnya lewat lagi.

    Malaysian Food Street

    Lama-lama sewot juga….kelaparan mulai melanda setelah mendapatkan foto itu. Tapi Aku tahu, setelah Trick Eye Museum itu ada Malaysian Food Street.

    Nah ntuh dia….
    Lo kire makanan jalanan….ya kagak lah. Sentosa Island kan tempat orang SIngapura buang duit….hihihi

    Untuk berhemat, Aku saranin isi botol minuman Kalian di free water station di sebelah ticketing counter dekat pintu masuk Sentosa Island.

    Pintu keluar Malaysian Street Food yang langsung berhadapan dengan bola dunia Universal Studio.

    Universal Studio

    Walaupun sebelumnya sudah dua kali ke sini, tetap aja kesini lagi buat yang ketiga kali….kurang kerjaan lo, Don.

    Maaf ya mbak cantik….Kena candid.

    Kebanyakan turis sudah merasa cukup sampai disini kala berwisata ke Sentosa. Nah dibelakang Universal Studio ini ada apa aja ya?

    Yuk Kita telusuri….

    Lake of Dreams

    Berjalan ke selatan dari bola dunia Universal Studio, Kamu akan menjumpai Lake of Dreams. Kala siang memang tak menarik. Tapi kalau datang saat malam, tempat ini akan menyajikan pertunjukan koreografi menarik yang megkombinasikan audio, api, air dan cahaya.

    Pertunjukannya gratis….

    The Maritime Experimental Museum

    Letaknya tepat di samping Lake of Dreams, ini dia:

    Ke selatan terus melewati kolam dengan banyak air mancur kecil seperti ini:

    Sentosa Merlion

    Maka akan terlihat dengan jelas patung Merlion berwarna coklat. Patung setengah singa dan ikan ini sering disebut kembaran patung yang sama di Merlion Park. Kamu bisa ikut Sentosa Merlion Tour seharga Rp. 180.000 untuk menaiki patung dari dalam dan menikmati indahnya Sentosa island dari ketinggian 37m.

    Saat malam, ada audiolaser show dengan Sentosa Merlion sebagai obyeknya.

    Patung itu akan berubah-rubah warna selama pertunjukan Merlion Magic Lights.

    Sentosa Merlion Walk

    Di belakang Sentosa Merlion tardapat Merlion Walk sepanjang 120 meter. Pedestrian dengan konsep mosaic theme park beserta air mancur di sepanjang taman akan memanjakan mata di tengah teriknya Sentosa Island.

    Sentosa Express Beach Station

    Di ujung Merlion Walk terdapat dua bangunan besar. Bangunan di kiri adalah Beach Station. Turis pengguna Sentosa Express yang akan berwisata ke sepanjang pantai selatan Sentosa biasa turun di sini.

    Akhirnya mencicipi Sentosa Express gratis ketika pulang dari Siloso Beach.

    i-Fly Singapore

    Nah, disebelah kanan adalah gedung i-Fly Singapore. Kamu yang mau ber-indoor sky diving harus merogoh kocek sebesar Rp. 900.000.

    Untung ga suka sky diving….dompet aman, hahaha

    Siloso Beach

    Berada tepat di pantai, Aku memutuskan berbelok ke kanan menuju Siloso Beach. Oh ya, jika Kamu berbelok ke kiri maka akan menjumpai Palawan Beach dan Tanjong Beach. Gunakan saja beach tram yang melintas sepanjang garis pantai jika ga kuat jalan kaki !.

    Disepanjang Siloso Beach Walk, Aku menjumpai beberapa Machine Gun Pillbox. Garis pertahanan Singapura ini dibangun pada 1936-1940 semasa Perang Dunia Kedua.

    Nih….

    Perlu berjalan 700m dari i-Fly Singapore menuju Siloso Beach dan bermain air sepuasnya disana.

    Tertarik ?? coba deh keliling pulau !….pasti gempor dan kebakar matahari….hihihi.

  • <—-Previous Story

    WAY KAMBAS….Taken from the name of river which flows inside National Park’s area itself. This 125 thousand hectare National Park is home of a conservation program for some rare animals such as elephants, rhinos and Sumatran tigers.

    However when I asked to an officer at Elephant Training Center (PLG)Way Kambas, Sumatran Tiger and Rhino Conservation Center haven’t been opened yet for public.

    A few hours before my arrival at Way Kambas National Park (TNWK)….

    That day is my second day in Lampung exploration. A night before, I was busy looking for information about the safety of using a motorbike towards Way Kambas by asking four of my friend who originally from Lampung. And Finally, three of them assured me that everything would be fine while one of them is more doubtful if I rode motorbike to Way Kambas because I wasn’t originally Lampung resident….Fear was the point….as if my brain has been contaminated by media who often preach about it….About Lampung and motorbike robbers.

    Finally, it was simple….because of their opinion was three compared to one, So I decided to go to Way Kambas on next day using a rented motorbike.

    Journey started,

    Departing from Redoorz @ Jalan Pangeran Diponegoro in Teluk Betung area, Bandar Lampung exactly on 7:25 a.m. Riding along several streets in Bandar Lampung for 35 minutes finally I actually left the city through its last gate:

    Bandar Lampung Exit Gate on Lintas Barat Sumatera Road.

    I began to ride my motorbike through street which became a route of many intercity buses and logistic trucks. This fast lane required me to pull on my motorbike throttle, so that it won’t be horn constantly from behind.

    In 40th minute, I arrived at local people crowd. I searched around some address boards, I finally just knew that it was Natar market.

    Natar Market.…economy growth between Bandar Lampung and Metro.

    Continuing my journey, in 55th minute, I arrived in front of Radin Inten International Airport.

    This airport precisely located in edge of Lintas Barat Sumatra Road.

    I was stunned for a moment and sat on m otorbike which turning off, I briefly watched activities around airport. I deliberately took time, because I had never used this airport at all. Unfortunately my arrival in Sumatra’s southernmost province used land routes combined with Merak-Bakauheni sea lane.

    My trip along Lintas Barat Sumatra Road raced with small bus.

    Come on Mr. Diver. We race.

    Actually I could get in this bus to Metro then change again with another bus to Way Jepara (the closest area from Way Kambas which is accessable by public transportation). From Way Jepara it can continue with a taxibike to Way Kambas.

    Or I could also use DAMRI Bus, which according to latest info which I got, only departing once every day from Rajabasa Terminal in Bandar Lampung on 8 am and stop precisely in Elephant Training Center, Way Kambas.

    But I prefer to use a rented motorbike for USD 11,10 per day because after returning from Way Kambas, I could freely explore Metro City. Besides it, I could cccurately detect all paths which will be passed by me towards Way Kambas.

    65th minute, I arrived in a big T-junction which both of its branches towards Metro.

    Punduk Monument (Punduk is designation for Lampung traditional weapon)….Choose straight or right?

    I prefer to use alternative path to right. According to google maps, this route is faster and will not jammed.

    It’s right.…didn’t jammed…. swear

    but very quiet.…Metro City Road spurred my heartbeat … started a bit afraid.

    After passing through a stretch of rubber plantation, I always followed curves of road and canal in its right side.

    Right side canal of Metro City Road.

    I was glad when can through that quiet road. Finally I arrived in welcome gate of Metro City

    90th minute, Welcome to Metro City.

    Find again a hustle, I decided to fill my fuel tank before I was trapped in loneliness again.

    Pos Polisi Monument was first landmark which I passed when entering Metro City downtown.

    115 minutes.…good bye hustle….

    I left Metro City in Abdul Haris Nasution Street
    “Welcome to East Lampung districts” gate adjoin with “Outer Gate” Metro City.

    Being stucked in a long traffic jam, I was curious, what was wrong? Trying to push forward with my rented “Honda Beat” (a merk of Honda motorbike), I broke through outer of asphalt, finally I found the answer….A large passenger bus was running out of fuel in middle of road, trying to be pushed by many passengers with observation by traffic police.

    120th minute. Welcome Pekalongan Market!.…surely there are many Javanese descent here… because “Pekalongan” is a districts name in Java Island.

    Pekalongan Market on Abdul Haris Nasution Road

    130th minute, I was faced again with two choices of street.

    Turned right to Batanghari Nuban road
    Maskot Park is in middle of T-junction.
    A situation of Batanghari Nuban road.

    Smooth asphalt on this road will continue until Sukadana road.…but yeah, It was very quiet.

    On 150th minutes, I arrived at this intersection:

    The intersection of Soekarno-Hatta Road and Lintas Timur Sumatra Road

    The end of these road are actually same:

    Turn right to Way Jepara and you will explore Lintas Timur Sumatera Road.

    Or You can also go straight, to Way Jepara too.…but You will pass through township and will find Lintas Timur Sumatera Road also.

    Surely I chose to turn right, so I could see Sukadana residents activities.

    I reached Sukadana Shopping Center in 160th minute

    Not long after, you will pass this landmark:

    Sukadana City monument as a sub-district which is became a capital city of East Lampung districts.

    This Sukadana city monument presents a figure of freedom fighter from Sukadana Districts. His name is Colonel Arifin.

    From this monument, go straight until you meet a intersection near Sukadana Sub District office, then immediately turn left.

    Towards Minak Rio Ujung road after turning left

    In 170th minute, I entered Lintas Timur Sumatera Road after passing this landmark:

    Banding Park displays a statue of national hero i.e Kiai Haji Ahmad Hanafiah

    I can say that asphalt of Lintas Timur Sumatera road in East Lampung is very smooth.

    Lintas Timur Sumatera Road like asphalt of MotoGP circuit.…hahaha
    Sukadana’s Outer Gate which I passed in 175th minute

    I entered into Way Jepara District. And I arrived in a market which I was waiting for….yes, I wanted to see how are Tridatu market activities. A market that is well known in internet because it’s often referred to by travelers when heading to Way Kambas.

    Tridatu market in 180th minute.

    I didn’t will turn left from this market to go to Way Kambas. I prefered to choose straight to adding my reference and share it to you.

    Yes.…I prefered to go to Gunung Terang Market (unfortunately I forgot to capture a photo for you) which is 5 minutes driving by motorbike from Tridatu Market and then I turned left.

    A turn after Gunung Terang Market, I entered in welcome gate of Labuhan Ratu VI Village

    Getting closer to Way Kambas’s Elephant Training Center, I entered Labuhan Ratu VI village

    Road along Labuhan Ratu VI Village
    Labuhan Ratu Rest Area at end of village

    This rest area is widely used by tourists who will be heading or even over from Way Kambas’s Elephant Training Center.

    Because this rest area is precisely in T-junction on edge of Way Kambas National Park, then I followed a direction board by turn right.

    See to the arrow.…turn right along road which divides Way Kambas National Park
    Road along Way Kambas National Park

    Along a way of Way Kambas National Park, I occasionally found cars of tourist stopping to just feed a herd of wild monkeys which often cross the street.

    Finally I arrived.…on 205 th MINUTE, I arrived at gate of Elephant Training Center, Way Kambas National Park.

    Very happy to arrived at Way Kambas’s Elephant Training Center Gate.

    Was my trip savely?….I can conclude, it is very safe and there isn’t crime atmosphere when go there. Just a suggestion from my friends who are originally Lampung resident.…Don’t go back to home beyond on 6pm.

    Even I leaving Way Kambas National Park on exactly 2 pm.

    So have you ever seen a wild elephant?

    Or see elephants bathing?…#ups it’s porn

    Or see elephants playing football? … or playing holahops?

    That’s why, Let’s travel to Way Kambas.

  • SCOOT AIR….maskapai Low Cost Carrier (LCC) milik Negeri Singa yang kepemilikan sahamnya dikuasai oleh Singapore Airlines.

    Lintasan terbang Scoot Air TR457. Sumber dari https://flightaware.com

    Scoot sendiri masuk list ke-22 dari seluruh maskapai yang pernah kunaiki. Melalui nomor penerbangan TR457 dengan rute regular Kuala Lumpur (KUL) ke Singapura (SIN), Aku pertama kali menggunakan jasa Scoot Air  tertanggal 31 Maret 2018. Kali ini Aku menaiki pesawat berjenis Airbus A320 dengan kapasitas 168 penumpang.

    Walaupun sebenarnya Aku pernah menggunakan Maskapai  Tiger Mandala pada 26 November 2013 saat menuju ke Bangkok dan Tiger Air pada 11 Januari 2015 saat kembali dari Vietnam. Kini kedua maskapai tersebut sudah merger ke dalam Maskapai Scoot Air.

    Tuh kan sudah merger, masih ada identitas Tiger Air di badan pesawat Scoot Air TR457

    Ketidakjelasan terminal asal keberangkatan (apakah dari KLIA terminal 1 atau KLIA terminal 2) membuatku sedikit gelisah karena biasanya Departure List baru keluar 2 jam sebelum penerbangan. Dan tentu perlu waktu untuk berpindah dari KLIA2 ke KLIA.

    Untuk penerbangan internasional, Aku selalu memulai perjalanan menuju bandara 4 jam sebelum waktu penerbangan. Jadi Aku meninggalkan Westree Hotel pada pukul 05:30 dan bergegas menuju ke Skybus/Aerobus Shelter yang terletak di KL Sentral. Karena jaraknya cuma 40 m, Aku hanya perlu berjalan kaki selama 3 menit menuju shelter.

    Security hotel keturunan India tajam memerhatikanku di pintu lobby bagian dalam….Lha iya, Aku berdiri lama ditengah pintu….clingak-clinguk kiri kanan kaya ayam mau nyebrang….Saking sepinya, Aku harus memastikan tak ada yang mencurigakan di sepanjang jalan yang akan kulewati menuju KL Sentral.

    Yesss….Sepi, ndak ada orang….Kabuuurrrrrr. Bak atlit jalan cepat, Aku mulai menjauhi hostel. Aku tiba saat bus siap berangkat.

    Dengan 12 Ringgit aku tiba di KLIA2 pada pukul 6:30. Setiba di KLIA2, Aku segera menuju information centre untuk menanyakan dimana terminal TR457 akan lepas landas. Pagi-pagi Aku sudah ngrepotin Si mbak India petugas information centre, karena Departure Board belum menampilkan informasi tentang TR457 maka Dia harus menarik keyboard dan mencarikan info untukku….Hadeuhhh, sudah manis….baik pulak si teteh….eh, si mbak.

    Buseeettt….mataku melotot sambil mengunyah nasi lemak telur ceplok di pojokan NZ Curry House….kek kambing yang sedang memamah biak. Pertanda Aku tak bisa membohongi otak bahwa perutku belum siap bersarapan.

    Ya memang tak ada pilihan lain, lebih baik sarapan di kedai makan India dengan harga paling murah sebelum menuju ke lantai 3 untuk proses check-in, proses imigrasi dan keberangkatan.

    Departure Board di Departure Hall
    Information Centre di Departure Hall
    Departure Hall Area
    Konter check-in Z2-Z3 untuk Scoot Air TR457
    Setelah melewati konter imigrasi, Aku menuju ke ruang tunggu di gate L3.

    Aku memasuki ruang tunggu pada pukul 08:05. Dalam kejenuhan menunggu, datang kepadaku wajah Vietnamese dan bertanya:

    Vietnamese: “Hi, Can you explain to me about my cigarette (sambil menunjukkan sebungkus rokok yang sudah terhisap dua puntung). Can me bring it when entering Singapore?”

    Aku : “Do you bring another one  or just this opened pack?. If you just bring it, you can savely entering Singapore.”

    Vietnamese: “No, I just bring it. So it’s savely. Thanks you.”

    Aku: “You are welcome”.

    Ruang Tunggu di depan Gate L3
    Setelah menunggu selama 20 menit, akhirnya boarding process dimulai.
    Mana 14D….manaaaaa?

    Scoot Air identik dengan warna kuning. Pesona pramugari-pramugara muda keturunan Tiongkok semakin segar ketika penampilan mereka terlihat berbalut t-shirt dan syall serba kuning.

    Terbang diatas selat Malaka
    Langit sungguh cerah, nikmat banget terbang tanpa turbulensi.

    Setelah mengudara selama 1 jam 15 menit, Aku mendarat di Terminal 2 Changi International Airport. Berusaha secepat mungkin meninggalkan Changi untuk menuju ke Greendili Backpackers Hostel di bilangan Race Course Road dan selanjutnya siap mengeksplorasi Singapore untuk ke-7 kalinya.

    Cari peta MRT sebelum masuk konter imigrasi Changi International Airport.
    Catch the MRT ! Menuju pusat kota

    Makan siang dulu yuk ke Mustafa Centre sebelum walking-walking.

    Sebagai alternatif, tiket pesawat, kereta dan bus dari Kuala Lumpur ke Singapura bisa dipesan melaui e-commerce perjalanan 12go Asia

  • IF….

    Uncle Sam country has Sundance Film Festival

    Great White North country has Toronto Film Festival

    l’Hexagone Country has Cannes Film Festival

    Then “The Land of the Morning Calm” also has same thing….i.e Busan International Film Festival.

    Held every end of year i.e September or October, BIFF always introduces Asian newcomer directors with their first film. The festival which was first held 23 years ago has moved to Centum City in Haeundae-gu area.

    This time, I wasn’t going to new BIFF homebase, but I would go along an area where became origin of BIFF, Nampo-dong. For remembering it then headed to BIFF Square.

    My journey started from nearest station of Kimchee Busan Guesthouse i.e Beomnaegol MRT station using MRT Line 1 (Orange Line). After passed through 8 stations, I got off at Jagalchi MRT station. Other destination which can be visited near this station is Jagalchi Market (It selling a variety of seafood ) which is open from 5am to 10pm.

    Out from exit gate, I’ve been greeted by street food stall. Because cold weather pierced bones, smoke which came out from furnace burning made MRT passengers stopped to eat hot food which sale by buyer.

    I experienced a bit of disorientation. I confused in looking for BIFF Square Street, because all streets looked crowded. Finally I braved myself to approach a police officer who was on guard at police post. Patiently, He explained to me while pointing his finger left and right and spoke Korean….Even though I didn’t understand Korean, I though it was easy to understand his explanation.

    BIFF street divides that place along 150 m. And when I visited it at night, it was easy to find street food stalls. These stalls form which liked mini house might aim to protect buyers from cold weather at night. It was arranged in a row in middle of road, making BIFF street became a culinary market at night.

    Turned a bit to Gwangbok-ro street

    I just tried a little bit of eating seafood in a stall, then I proceeded to find a portion of dinner food.

    Because it was so hard to find food which suited with my tastes, finally I stopped by at a small food stall in a row of shops around BIFF Street. “Ahangeya” is name of that restaurant. I prefered to eat a beef rice bowl for USD 3,5.

    Beside dining stalls, I also found many sellers of souvenirs, t-shirts and some electronic equipments. But my attention wasn’t fixed on that, I prefered to look for a winter jacket at UNIQLO shop.

    For spare jacket….It was crazy, 12 days journey and just brought a jacket
    for USD 35,5

    Cold weather made me freeze.…I couldn’t stay there long and I decided to go back to guesthouse because tomorrow I would walk long and uphill to visit Gamcheon Culture Village.

    So.…let’s sleep!

  • Merubah paradigma

    Workaholic sudah menjadi karakter tak terpisahkan dari pribadiku selama ini. Pada awalnya “rumah-kantor-rumah” adalah rumus aktivitas yang selalu kujalani setiap harinya. Rumus itu sangat ampuh untuk menghantarku pada kemapanan dengan kepemilikan materials goods seperti rumah, kendaraan dan beberapa investasi.

    Kian lama tak bisa dihindari, akhirnya badai kebosanan pun melanda. Bertahun-tahun Aku merasa ada sesuatu yang kurang dalam pencapaianku. Tentu bukan masalah materi, tetapi Aku tak pernah mampu memantikkan api abadi di dasar semangatku.

    Lalu hal baru itu tiba….

    Singapura menjadi pemantik pertama api semangat dalam kehidupanku. Bermula dari perjalanan kesana bersama 18 orang rekan kerja enam tahun lalu, akhirnya Aku membawa pulang satu buah kesan. Bukan kesan tentang modernnya Singapura, tetapi kesan tentang kesegaran fikiran dan perubahan cara pandang dalam alokasi pendapatan. Ternyata investasi tidak selalu masalah goods, tetapi investasi pengalaman harus mempunyai porsi yang tidak kalah penting.

    Singapura merubah paradigma.

    Perjalanan rutin.

    Perubahan paradigma membuatku memiliki perilaku baru di tengah kesibukan pekerjaan di Ibu Kota. Aku mulai mengalokasikan dana perjalanan sebagai salah satu bentuk investasi. Setiap 10-15% dari pendapatan, Aku gunakan untuk melakukan perjalanan baik ke dalam negeri ataupun ke luar negeri.

    Di awal tahun, Aku selalu menyusun agenda traveling dalam satu tahun kalender. Padatnya pekerjaan membuatku harus pintar memanajemen cuti dan memanfaatkan hari libur nasional untuk menentukan kapan saat yang tepat untuk melakukan perjalanan.

    Pada kesimpulannya, pengalaman traveling yang telah kujalani selama enam tahun membuatku memiliki tiga kategori traveling dengan jadwal sangat padat, yaitu:

    1. Traveling panjang berdurasi 14-16 hari di liburan akhir tahun.
    2. Traveling pendek berdurasi 3-4 hari di liburan long weekend.
    3. Traveling cepat berdurasi 1-2 hari di liburan extend.
    4. Traveling bonus. Ini adalah bonus apabila pekerjaan mencapai prestasi tertentu.
    Berkunjung ke Danau Toba saat liburan akhir tahun.
    Pantai Marina Semarang saat liburan long weekend.
    Singapore of Java Cruise di Cilacap ketika liburan extend
    Trip bonus ke Belitung.

    Padatnya jadwal traveling juga berperan besar dalam merubah sifat dasarku menjadi lebih ekstrovert dan easy going. Aku sadar bahwa ada atau tidak adanya partner dalam travelingku, Aku harus tetap menjalankan setiap rencana perjalananku. Oleh karenanya, Aku membutuhkan dua sifat diatas untuk selalu konsisten menjalankan setiap rencanaku.

    Memanajemen perjalanan

    Apa yang akan Kamu lakukan sebagai pegawai kantoran ketika waktu pekerjaanmu sepadat rencana perjalananmu?

    Dimasa-masa awal travelingku dengan penghasilan pas-pasan, demi berhemat budget maka Aku berinisiatif mengatur sendiri semua rencana perjalananku. Keterbatasan waktu menuntutku mahir dalam penguasaan digital.

    Bagaimanakah caraku melakukannya?

    Begini teman-teman….

    Jika bus, kereta api dan ferry adalah jenis transportasi dengan harga tiket yang cenderung stabil, maka pesawat adalah jenis transportasi dengan berlimpah tiket promo. Tak hayal lagi, Aku adalah peselancar dunia maya yang gigih berburu tiket-tiket murah. Dan sudah pasti, Aku hafal semua maskapai Low Cost Carrier (LCC) di seantero Asia. Untuk memastikan harga tiket terbaik, Aku selalu mempersiapkan tiket satu tahun sebelum tanggal keberangkatan. Mengunjungi website maskapai LCC dan memantau setiap promo di beberapa Online Travel Agent (OTA) dalam dan luar negeri menjadi kebiasaanku di akhir pekan. Hanya perlu satu senjata supaya Aku bisa cepat mengeksekusi setiap peluang tiket murah yang ada. Senjata itu adalah credit card. Tak perlu khawatir memiliki credit card asal Kamu taat dalam pengelolaan pendapatan. Melalui proses pencarian tiket seperti inilah, Aku akhirnya berkesempatan mencicipi 24 jenis maskapai berbeda sepanjang masa travelingku.

    Menggunakan maskapai Citilink saat trip ke Solo.
    Air Asia berjasa sekali dalam membantu petualanganku berkeliling Asia.
    Maskapai Nok Air asal Thailand ketika liburan ke Phuket.
    Bahkan Jet Airways sempat membawaku hingga ke India.

    Lalu bagaimana dengan penginapan?.

    Saat ini Aku sudah menjadi mencapai level tertentu pada keanggotaan sebuah e-commerce perjalanan terbesar di dunia. Pada level ini, Aku selalu mendapatkan penawaran terbaik ketika mencari penginapan secara online. Selain murah, Aku juga selalu memperhatikan fleksibilitas dalam proses pembatalan pesanan beberapa hari sebelum hari-H menginap, hal ini penting untuk membuka kesempatan mendapatkan penginapan terbaik hingga hari-H kedatangan. Sebagai informasi bahwa 80% pilihanku jatuh pada dormitory. Selain harganya yang murah, dormitory memberiku peluang untuk memperluas jaringan antara sesama turis lain dari berbagai daerah di Indonesia dan bahkan dunia.

    Dormitory milik Sleep & Sleep Guesthouse di Semarang seharga Rp.40.000 per malam.

    Saatnya Aku bicara masalah rencana perjalanan (itinerary). Penghematan budget selain bisa dilakukan pada pembelian tiket dan hotel, juga bisa dilakukan dengan membuat (itinerary) secara mandiri. Jika Kamu seorang fresh graduate dan memasuki masa-masa awal bekerja, kerajinan membuat itinerary bisa menyelamatkan budgetmu ketika Kamu suka melakukan perjalanan wisata. Aku sendiri secara mandiri selalu menetapkan agenda apa yang akan Kukerjakaan saat traveling, berapa biaya yang akan dikeluarkan pada setiap agenda dan bagaimana mencapai tempat dimana agenda akan dijalankan. Untuk bisa menyusun itinerary yang baik tentu Aku sering melakukan browsing tentang destinasi yang akan Kutuju. Aku biasanya akan membaca cerita perjalanan orang lain atau mencari info di situs resmi destinasi wisata atau lembaga pariwisata terkait (baik pemerintah atau swasta).

    Contoh penggalan itinerary yang Kubuat secara mandiri.

    Tapi seiring perkembangan dunia pariwisata, ada beberapa destinasi wisata yang justru akan lebih hemat apabila dikunjungi melalui jasa open trip. Model wisata seperti ini pada intinya adalah mengunjungi tempat wisata secara bersama-sama dalam satu kelompok sehingga bisa menekan jumlah biaya daripada perjalanan itu dilakukan sendirian. Aku pun tercatat beberapa kali menggunakan jasa open trip untuk mengunjungi beberapa destinasi yang Kutargetkan.

    Ikut open trip saat berwisata ke Pulau Pahawang di Lampung.

    Atmosfer petualangan

    Masa persiapan dan masa menunggu setiap agenda perjalanan yang kubuat akan membentuk sebuah atmosfer petualangan yang terus berkesinambungan. Dan hal itu sungguh menyenangkan dan menimbulkan efek positif. Aku menjadi sosok yang rajin menabung untuk kebutuhan perjalananku. Aku juga menjadi orang yang selalu bersemangat dalam bekerja untuk menjamin pendapatanku.

    Tentu banyak cibiran ketika Aku memulai program perjalanan. Banyak orang yang menganggap perjalananku hanya menghamburkan uang belaka karena menurut mereka refreshing itu tak perlu bepergian jauh dan menghabiskan uang.

    Memang bagi mereka yang tidak faham bagaimana mengatur perjalanan, traveling adalah sesuatu yang mahal. Tapi tidak denganku, konsistensi menjalankan program traveling selama 6 tahun terakhir telah mengantarkanku untuk menginjakkan kaki di 20 negara di Asia dan 10 propinsi di Indonesia.

    Setelah mendengar ceritaku, apakah Kamu tertarik melakukan perjalanan?

    Hobby menjadi passion

    Keberhasilan mengunjungi destinasi wisata dan kesan yang didapatkan selama berwisata membuatku selalu bersemangat dalam membuat perjalanan di tahun berikutnya. Rutinitas ini seakan menjadi candu bagiku. Akan ada sesuatu yang terasa kurang ketika dalam tiga bulan tidak melakukan traveling.

    Kecanduan traveling ini kemudian menimbulkan dampak lain. Dampak ini menjadi hal yang sangat serius bagiku, karena di kemudian hari, Aku menjadi seseorang yang “berambisi” dalam hal traveling. Ya benar, Aku sudah berada pada level dimana Aku terbiasa menetapkan target jumlah destinasi wisata yang akan Kukunjungi dalam kurun waktu tertentu.

    Keberhasilan mencapai jumlah target pribadi yang ditetapkan setiap tahun akhirnya menciptakan passion. Dan akhirnya Aku sudah menjadikan traveling sebagai passion dalam hidup.

    Passion menciptakan kepedulian

    Ada sebuah masa ketika Aku mengalami deadlock ketika berada di tempat wisata. Deadlock ini terjadi karena kurangnya informasi yang kudapatkan melalui browsing di dunia maya. Contoh deadlock yang kumaksudkan adalah seperti saat tidak memiliki informasi yang cukup tentang transportasi apa yang seharusnya Kugunakan untuk menuju pusat kota Ipoh dari terminal Amanjaya di Malaysia.

    Bus T30a yang akhirnya Kutemukan di tengah kebingungan saat menuju ke pusat kota Ipoh.

    Kejadian seperti itulah yang kemudian membuatku tergerak membuat catatan perjalanan untuk dibagikan kepada sesama wisatawan lain. Akhirnya Aku memutuskan untuk membuat blog yang berisi pengalaman perjalananku. Aku berharap melalui blog ini, Aku bisa melengkapi beberapa missing information di dunia traveling sehingga wisatawan lain akan terbantu dalam hal informasi pra-perjalanan ketika melakukan traveling ke destinasi yang pernah Aku kunjungi.

    Blogging akan menjadi aktivitas rutinku berikutnya untuk mendokumentasikan perjalanan wisata sekaligus membagi cerita-cerita menarik untuk anak-anak muda lain yang mempunyai passion yang sama sepertiku.

    Akhir kata, jadilah anak muda yang kaya pengalaman dan berani bereksplorasi !

    Yuk traveling, teman-teman!

  • Surely I never knew why this guesthouse was named Kimchee. All I know, kimchee or kimchi are Korean food made from fermented vegetables with various kinds of seasoning and ultimately its taste are spicy and sour. Perhaps this guesthouse will be a gathering place for travelers from various nations with same goal i.e enjoying uniqueness of South Korea.…It only my personal statement….hahaha

    Dorm or dormitory have became general choice of backpackers in their journey. Apart offering minimum budget, dorm also offers an option to build network among backpackers who diverse in citizenship. This is very possible because in every dorm room will be filled 12-16 backpackers to sleep together.

    This time, my choice was Kimchee Busan Guesthouse as my dorm during my adventure in Busan. The three things that be important concerns in choosing it are price, location and a good feedback rate.

    I ordered it 4 months before departure, so I surely got best price. Guesthouse for USD 12,5 per night is located on Hwangnyeong-daero street. It’s about 270 meters from Beomnaegol MRT Station, so guesthouse can be reached by walk.

    My arrival at guesthouse was warmly welcomed by a beautiful receptionist. After submitting passport and Won, I get access card to dorm room .

    Beautiful receptionist
    Receptionist room

    For general guesthouse, it’s certainly an extraordinary thing because of elevator availability in it. As I know, a lot of dormes that I have stayed in required me to prepare my leg muscles to climb dozens of stair before reach the room.

    Lift access to dorm room

    Entering room, my fatigue paid off with spacious dorm room which consisting 10 beds with each locker provided near bed.

    Dorm room

    In this guesthouse, I firstly breathed fresh aroma of sojuoriginally Korean drink-. Even though I didn’t drink it, at least I knew its aroma, its form and how to drink it from my roommates.

    My other funny activity was using hair dryer which provided in shared bathroom to dried my wet socks. It’s become a habit, I only carry 2 pairs of socks, no matter how long is my trip. Every two days, I will wash my socks which I use and dry them in any way.

    Another good thing about this guesthouse is providing container to store guests backpacks and their other things. Usually, guests will save their backpack when they arrive earlier than check-in time or when their departure time to leave city is still far from check out time.

    I left my backpack because my departure to Seoul was on a scheduled bus on 8pm while I checked out on 12pm.

    Guesthouse also provides shelves and refrigerators to store guests foods…. Don’t take people’s food !….hahaha. Usually guests who stay a little longer in guesthouse will store their food here. Surely, I never use this facility because I just stay 2 nights in Busan.

    Kimchee snack and Bar

    Of course, you have your own taste in choosing hotel.…the important thing is our goals are same, guys.…i.e traveling. That’s it.

  • Magelang….sebuah kota kecil di Propinsi Jawa Tengah yang sejak zaman Belanda terkenal sebagai produsen perwira Angkatan Bersenjata Republik ini. Tapi kedatanganku kesini tak terkait dengan dunia militer walaupun dua anggota keluargaku adalah serdadu hasil gemblengan barak Magelang.

    Kali ini Aku berkesempatan menanjak ke lereng timur Merapi untuk menikmati pesona Desa Tutup Ngisor. Sebuah desa yang terkenal karena usaha pelestarian budaya tarinya melalui sebuah Padepokan Seni “Tjipta Boedaja” yang berdiri pada tahun 1937 silam.

    Dan alasan utama kedatanganku adalah Festival Lima Gunung ke-18 (FLG XVIII). Festival yang mampu menarik minatku untuk merangsek kesana ditengah padatnya aktivitas pekerjaan di Ibu Kota.

    Festival ini dinamakan demikian….Mengacu pada lima nama gunung yang terletak di sekitar Magelang yaitu Merapi, Merbabu, Menoreh, Sumbing dan Andong.

    —****—

    Perjalananku menuju Magelang menggunakan jasa bus legendaris yang pernah berjaya di masanya yaitu PO Santoso. Bus yang sudah berumur dan “bersuara” ini perlahan tapi pasti mengantarkanku tiba di Magelang tepat di dinginnya Sabtu (6/7/19) dini hari.

    Hangatnya kopi hitam di tengah dinginnya pagi mengganggu terpejamnya mata dan mengharuskanku menemani Si Pagi yang tengah menjemput Fajar.

    Bayangan keagungan festival terus mengganggu konsentrasiku di pagi itu. Dan setelah sang fajar datang, hatchback putih milik Ipar mulai membelah hijaunya persawahan.

    Aku harus rela tertinggal satu sesi, karena acara ini sudah dimulai sejak Jum’at (5/7/19) siang. Jalanan menuju Tutup Ngisor yang sudah ditutup untuk beberapa jenis kendaraan umum menunjukkan bahwa festival ini akan dihadiri banyak pengunjung, bahkan akhirnya Aku harus memarkirkan mobil sedikit jauh dari gerbang desa.

    Beberapa langkah kemudian Aku tiba.

    Elang Jawa sebagai background panggung. Burung ini diyakini sebagai pemberi tanda jika gunung Merapi akan meletus.

    Whatsapp ku terus aktif berbalas pesan untuk mencari seseorang yang punya peran penting dalam kehadiranku di festival ini. Perkenalanku di dunia maya setahun lalu (….kek ABG aja) akhirnya dipertemukan disini.

    Dialah Mas Yokhanan yang  berjasa besar dalam kedatanganku di festival kali ini. Akhirnya Kita pun bisa kopdar di sela acara setelah sekian lama cuma ledek-meledek di dunia blogging….Thanks ya, Mas Yo.

    —-****—-

    Selain performer lokal, festival ini juga dimeriahkan performer dari negeri sebelah. Begitu juga dengan para pengunjung….pengunjung internasional juga banyak yang datang lhoooo….Keren kan.

    Kaori Okado dari Jepang membawakan tari Gambir Anom. Masak kalah sama orang Jepang?
    Nah foto ini sengaja kupajang, bukan apa-apa sih….Suka aja liat Si Putri yang eksotik banget…..hihihi, nakal.

    FLG XVIII menghadirkan 79 performer yang keseluruhannya disajikan dalam durasi 3 hari (5-7 Juli 2019) dengan rata-rata waktu tampil 20 menit untuk setiap performance. Padat banget ya, pengunjung dituntut cerdas untuk memilih performance yang ingin mereka lihat dalam rentang waktu yang disiapkan panitia.

    Tari Barong Gunung dari Sanggar Rangkul Dulur (Lumajang)

    Festival yang sudah berusia 18 tahun ini juga diselenggarakan secara mandiri oleh Komunitas Lima Gunung tanpa sponsor. Hal ini didasari pada komitmen bahwa komunitas berusaha menjaga kemurnian seni agar tidak terkontaminasi oleh bisnis komersial.

    Tari Gedruk Pangekes dari Sanggar Gaboet Wasesa (Magelang).

    Mengusung tema “Gunung Lumbung Budaya”, menunjukkan bahwa desa adalah kantong utama penjaga budaya di tengah derasnya pengaruh modernisasi. Desa diharapkan menjadi penjaga orisinalitas beranekaragam budaya dimana seni tari adalah salah satunya.

    Tari Uni Ing Geprak dari Gramang Art Community (Yogyakarta).

    Festival Lima Gunung biasanya diadakan berdekatan dengan Dieng Culture Festival. Jadi dua event ini bisa didatangi bergantian jika ingin merasakan bagaimana meriahnya pesta seni di tanah Jawa.

    Tari Subali Senopatya dari Dinas Kebudayaan Bantul.

    Kepanitiaan FLG XVIII digarap oleh para millennial, hal ini sangat terlihat dari wajah muda para anggota panitia, konsep acara yang tersusun rapi dan detail serta mengusung tema yang menarik. Desain panggung pun terlihat sangat modern ketika malam tiba. Tembakan lampu ke arah panggung tak kalah dengan pertunjukan-pertunjukan anak muda Ibu Kota.

    Tari Brahmarupa berkolaborasi dengan Kemlaka Sound of Archipelago dan Pesona Nusantara Surakarta.

    FLG XVIII menyelipkan sesi Kirab Budaya Komunitas Lima Gunung mengelilingi Desa Tutup Ngisor pada hari ketiga pelaksanaan.

    Persiapan Kirab Komunitas Lima Gunung.

    —-****—-

    Ada beberapa hal lain yang bisa ditemukan selama penyelenggaraan FLG XVIII. Para pengunjung bisa menikmatinya sebagai bonus tambahan atas kehadirannya di Desa Tutup Ngisor.

    Padepokan Tjipta Boedaja

    Hampir seluruh kegiatan kesenian padepokan ini dilakukan di pendopo ini.

    Pendopo yang sering digunakan untuk pementasan Wayang Menak oleh warga desa.

    Makam Roso Yoso Soedarmo.

    Roso Yoso Soedarmo adalah tokoh sentral dalam pengembangan seni di Tutup Ngisor. Padepokan Tjipta Boedaja lahir atas inisiasi beliau. Berkat kepeloporannya dalam seni, Tutup Ngisor konsisten melahirkan bakat-bakat seni hingga saat ini.

    Bangunan makam Romo Roso Yoso Soedarmo

    Pameran Seni “Lumbung Karya”

    Pameran seni ini menampilkan berbagai karya seni berupa lukisan, patung, kostum tari dan topeng.

    Anak dan Bapak pun ikut berfoto ria di galeri pameran.
    Bagus kan….topengnya serasa hidup
    Si Mas sedang mengukir sesuatu di kayu

    Jembatan Gantung Mangunsuko

    MC sepanjang acara selalu mengingatkan pengunjung festival untuk tidak melewatkan suguhan pemandangan di Jembatan Jokowi (nama tenar dari Jembatan Mangunsuko). Mendengar penekanan berulang-ulang tersebut, membuat rasa penasaran menyerangku. Dan dihari pertama kedatanganku di Tutup Ngisor, Aku langsung meyambangi jembatan ini

    Seperti jembatan gantung pada umumnya….goyang-goyang euy…..aseekkk
    Air terjun mini yang mempesona
    Awas jangan makan disitu…bisa digigit macan

    Rumah Transit

    Rumah transit adalah sebutan untuk rumah warga yang secara sukarela dan tanpa pungutan sepeserpun digunakan sebagai tempat menginap para pengunjung festival. Kuatnya jiwa gotong royong, menjadikan setiap warga sangat kompak dalam berlomba-lomba menyediakan rumah singgah selama FLG XVIII.

    Kombinasi lengkap, pengunjung pun bisa bertenda di depan rumah transit.

    Kuliner

    Selama keikutsertaan Saya dalam FLG XVIII, ada dua jenis kuliner yang membekas hati hingga saat ini.

    Nasi Lesah merupakan nasi khas Magelang dengan campuran sayur taoge, bihun, irisan tahu bacem, potongan kecil daging sapi, bawang goreng dan sledri. Kemudian diguyur kuah soto bersantan yang masih panas….Wadaaauuwww

    Pertama kalinya makan Nasi Lesah

    Wine Coffee….Buat Saya yang penggemar pemula kopi, menemukan wine coffee adalah hal yang istimewa. Kedai Kopi Tanpa Nama yang berada dilokasi pameran menyediakan menu Sindoro Wine yang aroma wine nya sangat terasa nikmat.

    Wine coffee juga bisa disebut dengan fermented coffee atau kopi yang mengalami proses fermentasi sebelum menjadi biji kopi.

    So…Mau ikut ke Festival Lima Gunung tahun 2020?…..Kuy hal.

  • Yes….Okay….

    Yes….Okay…..

    Only that 2 kinds of word which came out of my mouth, I didn’t really listen flight attendant explained security procedures at emergency exit. I exactly fascinated to her Korean beauty face. I still stunned to enjoy her beauty until he ended her explanation with a smile … Certainly, I gave her my smile as sweet as possible … hahaha.

    1 hour 30 minutes flight became a thrilling journey because I had bad feeling for Busan immigration checking later.

    And it finally true.… I was interrogated by immigration officer for 1 hour.

    Scary interrogation at immigration counter made my tongue feel bitter when tasting piece by piece a pie which I got from Busan Air flight.

    Later, this story would make me change 180 degrees when I prepared my documents for traveling. I became a very perfectionist person in preparation.

    I got out from Gimhae International Airport with a disheveled face but that happiness was unable to deeply hidden. This was my first time in visiting South Korea.

    2 degree Celcius weather made me rush to look for existence of LRT station. I quickly found it on right side of airport exit gate.

    I touched all buttons in automatic machine to get Busan Gimhae Light Rail Transit token.

    Waiting for LRT arrival with big curiosity about what will happen next in every second of my adventure in Busan.

    Shortly waiting, LRT arrived.

    Surely, My first destination was dormitory where I stayed in Busan. I would go to Kimchee Busan Guesthouse on Hwangnyeong-daero Street.

    Stopped at Sasang station as LRT last station, I switched to using Humetro(the name for Busan Subway) green line.

    In this Humetro. I saw a Indonesian face. Occasionally he saw me, so did I. Sometime he smiled, so did I.

    I decided to approache him.

    Conversation was unavoidable. It’s true, he is an Indonesian professionalis who working in Busan. From him, I got information that citizens of Busan isn’t open as Seoul. So I would understand what will occur with my interaction with local people in Busan.

    Conversation stopped when I had to get off at Seomyeon Station for change to Humetro orange lane. It only took one station in distance then I got down at Beomnaegol station – station where my guesthouse located -.

    It wasn’t easy to find this guesthouse location, I had strayed more than half an hour in midst of very cold temperature and it almost made me panic before finally I found it after ask to GS25 minimarket staff.

    Finally I check-ed in to Kimchee Busan Guesthouse.

  • Rasa penasaran terbayar tepat saat langkah pertamaku menuruni bus di salah satu platform terminal bus Bandar Seri Begawan. Tak kuduga, petualanganku berkeliling Asia Tenggara mengantarkanku ke negeri Hassanal Bolkiah.

    Unik….Terminal berada di lantai bawah Bumiputera Multi Storey Complex and Carpark.

    Selangkah kemudian, Aku sudah berada di dalam Warung Makan Afmal di sisi terminal untuk menikmati seporsi bakso. Butuh sesuatu yang segar di mulut untuk menghilangkan kekusutan pasca bermalam tanpa mandi pagi di Kuala Lumpur International Airport Terminal 2 (KLIA2). Kesegaran bakso yang kupesan semakin bermakna ketika terjadi obrolan ringan dengan si empunya warung makan yang asli Purworejo, Jawa Tengah….Wah tetangga sendiri ternyata.

    Selepas kenyang, Aku bergegas untuk keluar dari area terminal melalui  Lorong Bebatik menuju sebuah jalan besar (Jalan Mc Arthur). Tepat disisi lain Jalan Mc Arthur, Kamu akan menemukan Brunei River yang sangat bersih. Dan tepat di tengah Brunei River, berdiri sebuah perkampungan terkenal di seantero Brunei. Namanya Kampung Ayer.

    Setiap petunjuk jalan selalu dilengkapi aksara Arab.
    Tepat di tepi Brunei River

    Aku terus mengamati lalu lalang perahu bermesin yang membelah lebarnya Brunei River. Tidak ada cara lain memang untuk menuju Kampung Ayer, Aku harus menaiki perahu-perahu kecil itu.

    Bergegas menuju pinggiran Brunei River, Aku menantikan kedatangan sebuah perahu yang menuju ke tepi. Begitu bersandar, bersamaku perahu itu langsung terisi dengan 2 turis lainnya. Perahu ini sangat cepat bergerak dan tak pernah menunggu lama di tepian sungai.

    Yang perlu kamu tahu bahwa setiap dolar Singapura bisa digunakan sebagai alat bayar di Brunei Darussalam dengan nilai yang sama dengan Dolar Brunei. Jadi 1 Dolar Brunei nilainya sama dengan 1 Dolar Singapura. Hanya terkadang di beberapa transaksi, warga Brunei hanya menerima pembayaran dalam bentuk uang kertas dan menolak menggunakan koin Dolar Singapura. Tetapi ada juga di beberapa transaksi, koin ini bisa berfungsi.

    Dengan koin 1 Dolar Singapura, Aku akhirnya tiba di Kampung Ayer Cultural And Tourism Gallery. Galeri ini terletak di bagian paling depan perkampungan. Free entrance membuatku begitu sumringah ketika mengisi buku tamu di bagian reception. Sapaan hangat sepasang resepsionis berbahasa Melayu membuatku seakan berada di kampung sendiri….Kampung Rambutan….eeaaaa.

    Itu dia Kampung Ayer Cultural And Tourism Gallery.
    Mendapatkan Free Tourism Guiding Book.

    Kampung Ayer sendiri pernah menjadi pusat pemerintahan Brunei hingga akhir abad ke-19. Oleh karenanya, para sultan Brunei mendirikan istananya di sini. Peran lain sebagai pelabuhan penting di Brunei menjadikan Kampung Ayer sebagai pusat administrasi atas aktivitas komersial di Brunei. Setiap penandatanganan perjanjian penting pemerintah dengan  pihak lain dilakukan disini.

    Daya tarik Kampung Ayer sebagai pusat pemerintahan menjadikan 50% warga Brunei tinggal didalamnya pada tahun 1900-an.

    Keris Brunei dengan 9 lekukan sebagai simbol kekuasaan

    Di pintu keluar, Aku mulai tertelisik dengan rapinya jajaran rumah di perkampungan. Aku pun tak menyia-nyiakan waktu dengan memasuki bagian dalam perkampungan. Bersua dengan para penghuni membuatku enggan untuk cepat-cepat meninggalkan Kampung Ayer.

    Yuk….Masuk ke dalam kampung itu !
    Lucunya anak-anak sekolah itu dengan seragam Melayu.
    Airnya bisa jernih begitu ya?

    Tapi Aku segera tersadar bahwa Aku harus segera mencari penginapan untuk bermalam nanti. Pencarian penginapan secara online yang kulakukan tak pernah membuahkan hasil. Ini terjadi mungkin karena pariwisata Brunei Darussalam yang belum tersohor di kawasan Asia Tenggara.

    Kuputuskan untuk menepi dengan menunggu perahu di boat shelter. Tak menunggu waktu lama sebuah perahu menjemputku. Bersama seorang Bapak dan anaknya yang merupakan warga Kampung Ayer, Aku menuju ke tepi. Sepertinya sang Bapak mempunyai agenda penting, terlihat dari caranya berpakaian khas Melayu yang sangat rapi dan klimis.

    Dia: “Asal mana, Adek?”, Dia menyapaku pertama kali dengan senyum.

    Aku: “Saya dari Indonesia, Pak”. Kubalas senyum dan kuajak berjabat tangan.

    Dia: “Indonesia bagian mana?”

    Aku: “Jakarta, pak”.

    Dia: “Kerja apa disini?”

    Aku: “Oh, Saya melawat (berwisata) Pak di Brunei”.

    Dia: “Brunei kan sepi, Adek. Kok melawatnya ke Brunei?”

    Aku: “Oh, Brunei religius ya Pak. Saya sengaja ke Brunei Pak karena berniat keliling Asia Tenggara. Senang bisa ke negeri Bapak”.

    Dia: “Wah, bagus ya keliling Asia Tenggara. Adek, ga usah bayar ya perahunya. Ini sudah Saya bayar”, Dia memberikan 3 lembar Dolar Brunei ke pengemudi perahu.

    Aku: “Terimakasih ya Pak, Senang bertemu dengan Bapak”, sambil pura-pura tersipu malu padahal senang banget naik perahu gratisan.

    Sekelumit percakapan dengan warga lokal sebelum akhirnya Aku bersandar di tepi.

    Boat shelter dekat Pasar Tamu Kianggeh

    Yuk….Cari dormitory !.

  • Conversation in Javanese language (with taxibike driver) at that time gave me a fact that Most Pekanbaru resident are Minang descent. It is strengthens my mindset that Minang descent has a very strong migratory culture.

    It only took 10 minutes for taxibike driver to explain everything about Pekanbaru until we both stop precisely in front of Sri Indrayani Hotel lobby.

    Putting my backpack and eating 4 slices of toast made me ready in first minute inside Pekanbaru exploration.

    “Hi Donny, you have to walk to north if you want to enjoy Siak river”, I murmured.

    When I hear a word….”Pekanbaru”….my mind is always think about Siak river. How come? This river ever known as the deepest river in Indonesia, which in its heyday is usually traversed by tankers and container ships.

    Hot weather in Pekanbaru burned my skin and crowded streets in downtown accompanied my steps to get closer to Siak river. And finally, I asked to a policeman to show me the fastest road towards Siak bridge 1.

    Based on information which I got, Siak river has 4 bridges which become Pekanbaru’s landmarks. After sweating a lot, I finally arrived at side of Siak river. Precisely under Siak bridge 1.

    Well-known as Leighton bridge which was built by PT Chevron Pacific Indonesia

    Can’t wait to see river stretch with beautiful architecture of entire bridge which built above this legendary river, I immediately rushed to top of Siak bridge 1.

    I was in middle of pedestrian path on Siak bridge 1, which was 42 years old

    Once on bridge, I could enjoy river width more freely … Yes, I believe that tanker ships could sail on it in the past.

    Looking far ahead, another bridge stretchs were looked also. Yellow arches that become a characteristic of Siak bridge 3 and construction of Siak bridge 4 which at that time hadn’t yet been finished but had already appeared its design. (Based on information in newspaper, this bridge had been opened in February 2019).

    That is Siak bridge 3 and in the distance is Siak bridge 4

    Didn’t want to leave Siak river immediately, I tried to see residents activities around it. I slowly walked to Siak bridge 3. Passing one side of river, and I found culinary stalls which hadn’t been partially opened.

    Culinary stalls along Siak river.

    Then I sat in a park to take shelter from hot sun while seeing Pekanbaru residents activities. I noticed a young couple who was busy playing in the park with their first child. I also diligently saw some residents catch fish under Siak bridge 1. Sometimes, Riau Water Police Patrol boat back and forth distracted my attention when I was looking at those activities.

    Park on banks of river, near the Siak bridge 1

    15 minutes later, I walked along river bank until I arrived precisely under the Siak Bridge 3. The yellow bridge which looked more artistic.

    Area below the bridge is very well maintained by existence of a wider park. And under the other side of bridge is a tourist destination also i.e “Rumah Tuan Kadi”.

    Riverside park precisely under Siak bridge 3
    Rumah Tuan Kadi

    And across river is clearly visible the water police headquarters with activity inside a patrol boat that was so busy.

    Riau Police Water Headquarter

    After feeling satisfied enough to visited Siak river and I saw my watch on 11:15, I finally left this river to find another tourist attraction in Pekanbaru.