Traveling….Ketika Hobi Berubah Menjadi Passion

Merubah paradigma

Workaholic sudah menjadi karakter tak terpisahkan dari pribadiku selama ini. Pada awalnya “rumah-kantor-rumah” adalah rumus aktivitas yang selalu kujalani setiap harinya. Rumus itu sangat ampuh untuk menghantarku pada kemapanan dengan kepemilikan materials goods seperti rumah, kendaraan dan beberapa investasi.

Kian lama tak bisa dihindari, akhirnya badai kebosanan pun melanda. Bertahun-tahun Aku merasa ada sesuatu yang kurang dalam pencapaianku. Tentu bukan masalah materi, tetapi Aku tak pernah mampu memantikkan api abadi di dasar semangatku.

Lalu hal baru itu tiba….

Singapura menjadi pemantik pertama api semangat dalam kehidupanku. Bermula dari perjalanan kesana bersama 18 orang rekan kerja enam tahun lalu, akhirnya Aku membawa pulang satu buah kesan. Bukan kesan tentang modernnya Singapura, tetapi kesan tentang kesegaran fikiran dan perubahan cara pandang dalam alokasi pendapatan. Ternyata investasi tidak selalu masalah goods, tetapi investasi pengalaman harus mempunyai porsi yang tidak kalah penting.

Singapura merubah paradigma.

Perjalanan rutin.

Perubahan paradigma membuatku memiliki perilaku baru di tengah kesibukan pekerjaan di Ibu Kota. Aku mulai mengalokasikan dana perjalanan sebagai salah satu bentuk investasi. Setiap 10-15% dari pendapatan, Aku gunakan untuk melakukan perjalanan baik ke dalam negeri ataupun ke luar negeri.

Di awal tahun, Aku selalu menyusun agenda traveling dalam satu tahun kalender. Padatnya pekerjaan membuatku harus pintar memanajemen cuti dan memanfaatkan hari libur nasional untuk menentukan kapan saat yang tepat untuk melakukan perjalanan.

Pada kesimpulannya, pengalaman traveling yang telah kujalani selama enam tahun membuatku memiliki tiga kategori traveling dengan jadwal sangat padat, yaitu:

  1. Traveling panjang berdurasi 14-16 hari di liburan akhir tahun.
  2. Traveling pendek berdurasi 3-4 hari di liburan long weekend.
  3. Traveling cepat berdurasi 1-2 hari di liburan extend.
  4. Traveling bonus. Ini adalah bonus apabila pekerjaan mencapai prestasi tertentu.
Berkunjung ke Danau Toba saat liburan akhir tahun.
Pantai Marina Semarang saat liburan long weekend.
Singapore of Java Cruise di Cilacap ketika liburan extend
Trip bonus ke Belitung.

Padatnya jadwal traveling juga berperan besar dalam merubah sifat dasarku menjadi lebih ekstrovert dan easy going. Aku sadar bahwa ada atau tidak adanya partner dalam travelingku, Aku harus tetap menjalankan setiap rencana perjalananku. Oleh karenanya, Aku membutuhkan dua sifat diatas untuk selalu konsisten menjalankan setiap rencanaku.

Memanajemen perjalanan

Apa yang akan Kamu lakukan sebagai pegawai kantoran ketika waktu pekerjaanmu sepadat rencana perjalananmu?

Dimasa-masa awal travelingku dengan penghasilan pas-pasan, demi berhemat budget maka Aku berinisiatif mengatur sendiri semua rencana perjalananku. Keterbatasan waktu menuntutku mahir dalam penguasaan digital.

Bagaimanakah caraku melakukannya?

Begini teman-teman….

Jika bus, kereta api dan ferry adalah jenis transportasi dengan harga tiket yang cenderung stabil, maka pesawat adalah jenis transportasi dengan berlimpah tiket promo. Tak hayal lagi, Aku adalah peselancar dunia maya yang gigih berburu tiket-tiket murah. Dan sudah pasti, Aku hafal semua maskapai Low Cost Carrier (LCC) di seantero Asia. Untuk memastikan harga tiket terbaik, Aku selalu mempersiapkan tiket satu tahun sebelum tanggal keberangkatan. Mengunjungi website maskapai LCC dan memantau setiap promo di beberapa Online Travel Agent (OTA) dalam dan luar negeri menjadi kebiasaanku di akhir pekan. Hanya perlu satu senjata supaya Aku bisa cepat mengeksekusi setiap peluang tiket murah yang ada. Senjata itu adalah credit card. Tak perlu khawatir memiliki credit card asal Kamu taat dalam pengelolaan pendapatan. Melalui proses pencarian tiket seperti inilah, Aku akhirnya berkesempatan mencicipi 24 jenis maskapai berbeda sepanjang masa travelingku.

Menggunakan maskapai Citilink saat trip ke Solo.
Air Asia berjasa sekali dalam membantu petualanganku berkeliling Asia.
Maskapai Nok Air asal Thailand ketika liburan ke Phuket.
Bahkan Jet Airways sempat membawaku hingga ke India.

Lalu bagaimana dengan penginapan?.

Saat ini Aku sudah menjadi mencapai level tertentu pada keanggotaan sebuah e-commerce perjalanan terbesar di dunia. Pada level ini, Aku selalu mendapatkan penawaran terbaik ketika mencari penginapan secara online. Selain murah, Aku juga selalu memperhatikan fleksibilitas dalam proses pembatalan pesanan beberapa hari sebelum hari-H menginap, hal ini penting untuk membuka kesempatan mendapatkan penginapan terbaik hingga hari-H kedatangan. Sebagai informasi bahwa 80% pilihanku jatuh pada dormitory. Selain harganya yang murah, dormitory memberiku peluang untuk memperluas jaringan antara sesama turis lain dari berbagai daerah di Indonesia dan bahkan dunia.

Dormitory milik Sleep & Sleep Guesthouse di Semarang seharga Rp.40.000 per malam.

Saatnya Aku bicara masalah rencana perjalanan (itinerary). Penghematan budget selain bisa dilakukan pada pembelian tiket dan hotel, juga bisa dilakukan dengan membuat (itinerary) secara mandiri. Jika Kamu seorang fresh graduate dan memasuki masa-masa awal bekerja, kerajinan membuat itinerary bisa menyelamatkan budgetmu ketika Kamu suka melakukan perjalanan wisata. Aku sendiri secara mandiri selalu menetapkan agenda apa yang akan Kukerjakaan saat traveling, berapa biaya yang akan dikeluarkan pada setiap agenda dan bagaimana mencapai tempat dimana agenda akan dijalankan. Untuk bisa menyusun itinerary yang baik tentu Aku sering melakukan browsing tentang destinasi yang akan Kutuju. Aku biasanya akan membaca cerita perjalanan orang lain atau mencari info di situs resmi destinasi wisata atau lembaga pariwisata terkait (baik pemerintah atau swasta).

Contoh penggalan itinerary yang Kubuat secara mandiri.

Tapi seiring perkembangan dunia pariwisata, ada beberapa destinasi wisata yang justru akan lebih hemat apabila dikunjungi melalui jasa open trip. Model wisata seperti ini pada intinya adalah mengunjungi tempat wisata secara bersama-sama dalam satu kelompok sehingga bisa menekan jumlah biaya daripada perjalanan itu dilakukan sendirian. Aku pun tercatat beberapa kali menggunakan jasa open trip untuk mengunjungi beberapa destinasi yang Kutargetkan.

Ikut open trip saat berwisata ke Pulau Pahawang di Lampung.

Atmosfer petualangan

Masa persiapan dan masa menunggu setiap agenda perjalanan yang kubuat akan membentuk sebuah atmosfer petualangan yang terus berkesinambungan. Dan hal itu sungguh menyenangkan dan menimbulkan efek positif. Aku menjadi sosok yang rajin menabung untuk kebutuhan perjalananku. Aku juga menjadi orang yang selalu bersemangat dalam bekerja untuk menjamin pendapatanku.

Tentu banyak cibiran ketika Aku memulai program perjalanan. Banyak orang yang menganggap perjalananku hanya menghamburkan uang belaka karena menurut mereka refreshing itu tak perlu bepergian jauh dan menghabiskan uang.

Memang bagi mereka yang tidak faham bagaimana mengatur perjalanan, traveling adalah sesuatu yang mahal. Tapi tidak denganku, konsistensi menjalankan program traveling selama 6 tahun terakhir telah mengantarkanku untuk menginjakkan kaki di 20 negara di Asia dan 10 propinsi di Indonesia.

Setelah mendengar ceritaku, apakah Kamu tertarik melakukan perjalanan?

Hobby menjadi passion

Keberhasilan mengunjungi destinasi wisata dan kesan yang didapatkan selama berwisata membuatku selalu bersemangat dalam membuat perjalanan di tahun berikutnya. Rutinitas ini seakan menjadi candu bagiku. Akan ada sesuatu yang terasa kurang ketika dalam tiga bulan tidak melakukan traveling.

Kecanduan traveling ini kemudian menimbulkan dampak lain. Dampak ini menjadi hal yang sangat serius bagiku, karena di kemudian hari, Aku menjadi seseorang yang “berambisi” dalam hal traveling. Ya benar, Aku sudah berada pada level dimana Aku terbiasa menetapkan target jumlah destinasi wisata yang akan Kukunjungi dalam kurun waktu tertentu.

Keberhasilan mencapai jumlah target pribadi yang ditetapkan setiap tahun akhirnya menciptakan passion. Dan akhirnya Aku sudah menjadikan traveling sebagai passion dalam hidup.

Passion menciptakan kepedulian

Ada sebuah masa ketika Aku mengalami deadlock ketika berada di tempat wisata. Deadlock ini terjadi karena kurangnya informasi yang kudapatkan melalui browsing di dunia maya. Contoh deadlock yang kumaksudkan adalah seperti saat tidak memiliki informasi yang cukup tentang transportasi apa yang seharusnya Kugunakan untuk menuju pusat kota Ipoh dari terminal Amanjaya di Malaysia.

Bus T30a yang akhirnya Kutemukan di tengah kebingungan saat menuju ke pusat kota Ipoh.

Kejadian seperti itulah yang kemudian membuatku tergerak membuat catatan perjalanan untuk dibagikan kepada sesama wisatawan lain. Akhirnya Aku memutuskan untuk membuat blog yang berisi pengalaman perjalananku. Aku berharap melalui blog ini, Aku bisa melengkapi beberapa missing information di dunia traveling sehingga wisatawan lain akan terbantu dalam hal informasi pra-perjalanan ketika melakukan traveling ke destinasi yang pernah Aku kunjungi.

Blogging akan menjadi aktivitas rutinku berikutnya untuk mendokumentasikan perjalanan wisata sekaligus membagi cerita-cerita menarik untuk anak-anak muda lain yang mempunyai passion yang sama sepertiku.

Akhir kata, jadilah anak muda yang kaya pengalaman dan berani bereksplorasi !

Yuk traveling, teman-teman!

13 thoughts on “Traveling….Ketika Hobi Berubah Menjadi Passion

Leave a Reply