• I took a moment to close my eyes after I finished check-in process at Sri Indrayani Hotel. An uneasy night on a middle bench of INTRA Bus, continued for four hours on foot to explore Senapelan area had made my calf muscles exhausted and my eyes felt heavy.

    My smartphone which was still charging, shouted to wake me up, exactly one hour before Asr Prayer. Prayer times was indeed an option as a starting marker for continuation of my journey in Pekanbaru. That was because I chose to visit the grandest mosque in the whole of Riau Province or it could be said as one of the grandest in the country.

    No longer postpone for late lunch, I went through Chinatown along Dr. Leimena Street which isn’t far from my hotel gate, until I found a small restaurant which exposed fragrant spices and looked very crowded. Its entire seat in downstairs was almost full and without long thinking, I immediately occupied one seat in between.

    Noodles with bean sprouts mixed with lontong (Indonesian compressed rice), shrimps, eggs and fragrant with a sprinkling of fried onions….Hmmh, delicious.

    Slowly drinking a sweet-sour of cold-orange juice made my body felt cool for a moment in the middle of city heat. And right at a last sip, an online motorcycle taxi came to pick me up.

    Heading southeast for three kilometers and arrive at the gate exactly twenty minutes before Asr Prayer arrived. So many police officers in mosque courtyard, it seemed to be securing an important agenda that afternoon. Every vehicle which entered mosque area didn’t escape from strict inspection.

    Where are you going, Sir?” a young policeman which armed with long barrel gun said at entrance gate. “Asr prayer, Sir“, a password was so effective for passing the inspection.

    It’s like the Taj Mahal, right?
    Domes like an upside down “spinning top” and that palm trees….Hmmmhh, nice.

    I hadn’t entered yet the mosque room. Busy in courtyard to enjoy the beauty of architecture which was presented in front of my eyes. A greeny dominant mosque which is a half of century old with large area which I estimate to be more than ten hectares….Really, very vast.

    Just look at how spacious a parking lot side is?

    The Mughals are still be dominant architectural style in it, its distinctive arches resembling arches of Mumtaz Mahal’s tomb in Agra. While nuances around the mosque was slightly adopted Al-Masjidil Al-Haram atmosphere in Mecca and Al-Masjid An-Nabawi in Medina.

    The Malay style is embedded to green color of main building, red color on tower ornaments and yellow gold color on interior ornament and calligraphy. Then the Malay custom is depicted on two levels of floor with veranda below. It adopts a concept of Malay’s houses on stilts.

    Five pillars of Islam are symbolized by five domes and leadership of Prophet’s Caliph is represented on four towers.

    Now I was preparing to Asr Prayer, purified myself on lower floor and then climbed stair by stair leading to main worship room on second floor. The atmosphere inside was so solemn, it made me feel grateful because I was still given an opportunity to visit this magnificent God house.

    Six giant pillars with green color in base layer and white on top layer.

    I made my sitting time so long in the back to enjoy this iconic religious tourism of Riau Province which is said able to accommodate almost five thousand worshipers.

    Dome arch from inside.

    This famous architectural creation in Pekanbaru can’t be separated from Kaharuddin Nasution cold hands, the second Riau Province Governor who moved Provincial Capital from Tanjung Pinang on Bintan Island to Pekanbaru in the 1960s. Certainly, this displacement had consequences for him to facilitate religious activities of residents majority who in fact embraced Islam. That is why the Governor felt it was important to present An-Nur Great Mosque.

    Cool……

  • <—-Kisah Sebelumnya

    ARTIKEL SPIN OFF

    Tepat tiga puluh hari sebelum keberangkatan backpacking ke Timur Tengah, aku mulai sibuk mengurus segenap visa yang dibutuhkan yaitu visa turis untuk mengunjugi Kochi, Dubai, Oman, Bahrain, Kuwait dan Qatar.

    Diantara keenam visa itu, aku menyimpan pengalaman pahit ketika akhirnya tidak berhasil mendapatkan Visa Turis Kuwait. Hal inilah yang menyebabkan diriku harus puas untuk sekedar menikmati Kuwait dengan cara transit, tapi tentu lebih baik daripada tidak sama sekali.

    Akhir November, semua informasi perihal Visa Turis Kuwait yang kudapat melalui internet (google, youtube dan facebook) kucatat dengan detail. Hingga kuhubungi satu persatu kontak  tersebut. Informasi terbaik yang kudapatkan adalah aku bisa memasuki Kuwait melalui Visa on Arrival (VoA).

    Tetapi pada laman General Department of Residency, kubaca bahwa Indonesia tak termasuk dalam daftar negara yang warganya bisa mendapat VoA.

    Percakapan melalui Whatsapp dengan agen pembuat Visa Kuwait.

    Menghubungi nomor telepon yang kudapatkan di internet,  setiap dering yang kukirimkan tak kunjung terespon. Maka untuk memastikan segera, aku merangsek  ke daerah Kuningan di awal Desember untuk bertanya langsung ke Kedutaan Kuwait.

    Cukup sulit mencari lokasinya, karena alamat yang ditampilkan google tak pernah tepat. Aku harus tersasar di sebuah kantor kedutaan tanpa nama di Jalan Patra Kuningan I . Gedung luas dengan penjagaan sekelompok pria berhelm militer dan bersenjata laras panjang. Decitan Beat Pop tepat di depan pintu masuk sontak membuat mereka mendadak waspada dan menaikkan senjata mereka ke dada.

    Aku : “Pak, ini bukan Keduataan Kuwait ya?”

    Penjaga: “Bukan mas, Ini Kedutaan Australia”.

    Aku: “Kok google maps mengarahkan saya ke sini ya pak?”.

    Penjaga: “Itu salah mas, banyak orang pada nyasar ke sini”.

    Aku: “Bapak tahu lokasinya dimana?”.

    Penjaga: “Wah saya kurang ngerti mas”.

    Akhirnya mereka merendahkan posisi senjata setelah mengetahui tujuanku. Emang dasar akunya saja yang kurang sopan, bertanya di atas motor tepat di depan pintu gerbang….Hahahaha.

    Alamat dari sumber  lain juga membuatku tersasar di Jalan Denpasar Raya. Entah kantor apakah itu, beruntung penjaganya bisa memberikanku arah yang jelas menuju Kedutaan Kuwait. Hingga akhirnya aku tiba di kantor Kedutaan Kuwait di Jalan Mega Kuningan Barat III.

    Kantor Kedutaan Besar Kuwait yang cukup sederhana.

    Sepi pengunjung dan hanya dijaga oleh dua orang Satpam. Mereka mempersilahkanku duduk di sebuah teras kecil di pojok kiri Kedutaan. Hingga mereka memanggilkanku staff yang mengurusi masalah Visa.

    Akhirnya harapanku mengeksplore Kuwait pupus setelah staff cantik kedutaan itu memberi penjelasan melalui sebuah celah sempit sambil menunduk.

    Untuk warga negara Indonesia, Kuwait tidak mengeluarkan Visa Turis, mas. Kami hanya mengurus Visa Kerja dan Visa Diplomatik saja. Untuk bisa berwisata, mas harus mendapatkan Calling Visa dari teman atau keluarga di Kuwait”, Ujarnya.

    Mengetahui niatanku pupus maka tak ada cara lain. Aku harus mempercepat tiket keberangkatan Kuwait-Doha yang sudah kumiliki sejak pertengahan April. Setelah berhitung, mereschedule lebih hemat daripada membeli tiket direct filght Bahrain-Doha.

    Jadi dari Bahrain, aku akan menuju Doha dengan bertransit di Kuwait.

    Tiket awal Kuwait-Doha.

    Aku segera menghubungi Kuwait Airways melalui Whatssapp di akhir pekan pertama Desember.

    Percakapan dengan Customer Service Kuwait Airways.    
    Setelah fixed mengatur ulang jadwal terbang, mereka memberiku sebuah link pembayaran via email.
    Link berumur 2 jam. Aku harus cepat melakukan pembayaran melalui kartu Kredit.

    Selain mereschedule penerbangan, tentu pemesanan hotel di Booking.com juga harus kubatalkan.

    Vera House & Hotel seharga Rp. 670.000 per malam.

    Ini berarti, ditengah perjalananku nanti, aku akan lebih lama mengunjugi Doha. Dari rencana semul 3 hari menjadi 5 hari. Dan eksplorasiku ke Kuwait hanya sebatas transit. Tapi justru masa transit ini telah memberikan pengalaman yang tak terlupa.

    Pengalaman apa itu?….Hahaha, baca saja sebentar lagi!

    Kisah Selanjutnya—->

  • A assumption which never materialized was to entering Tuan Kadi Halfway House. I wanted to sit relax in it and enjoyed history strands in its small cubicles. Simultaneously, sweat which had continued to melt in my temples, slowly but surely shed every assumption in my head. House doors were tightly closed as if it said to me “Just go, enough for you to just see my beauty“.

    I went…..

    Footsteps which I was unconscious began to little bit drag, indicating that I needed a lot of rest after four days before in exploring Medan, Samosir Island and Pematang Siantar. Alas!, my desire to know about Pekanbaru had beated feet tiredness which had actually screamed to stop.

    I began to enter Kota Baru Street. Giant bolts, rolls of thick wires, large pipe casings seemed scattered in shop house rows which were transformed into mechanical workshops. Every swing of my steps seemed to recharge my enthusiasm to immediately arrive at Kampung Bukit area where Pekanbaru City was established.

    In this area, a land plot of former new market (Pekan Baharu) which was pioneered by Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah stands a special heritage, the oldest mosque in Riau Province.

    Again….Yellow dome symbolizes Malay greatness.

    A mosque which was born as a consequence which was carried on Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah shoulders, the 4th Sultan who moved the center of Siak Sri Indrapura Sultanate from Mempura Besar to Bukit Senapelan in the mid XVIII century.

    It is “Tali Berpilin Tiga” tradition which makes King’s Palace, Custom Deliberative Hall, and Mosque as requirements which must be fulfilled by the Sultan if he intends to move the sultanate. The King’s Palace symbolizes government, the Custom Deliberative Hall symbolizes ancestral custom and the Mosque as a religion symbol.

    Half of dome in arch canopy reminds me to Mughal architecture at Taj Mahal.

    By the Sultan, the Palace Building was named Istana Bukit, the Custom Deliberative Hall was named Balai Payung Sekaki and the Mosque was given a name as Alam Mosque which was taken from the Sultan’s youngname, King Alam.

    Some people call it Pekanbaru Senapelan Mosque, also some people call it Pekanbaru Grand Mosque.

    I arrived at the mosque as a Masbuq (late for prayer), didn’t want to be left behind of entire rak’ah, I rushed to ablution room and immediately followed the last two rak’ah in prayer congregation. After completing last 2 rak’ah, I began to be stunned by six large white pillars which on its top were covered with golden domes and didn’t really support the roof, like a lighthouse.

    Sunlight which was penetrating permanent glass windows on top wall increasingly displayed typical Persian arches. While golden calligraphies which set in a typical Middle East green background seemed to circle around mosque as an interior.

    A green-roofed golden pulpit with golden crescent moon tower.

    Went out from mosque, I headed east to a cemetery gate. Named as Marhum Pekan Cemetery Complex which is cemetery complex of Pekanbaru city founders such like Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah (4th Sultan), Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah (5th Sultan) and their loyal warlords.

    Gate of Marhum Pekan Cemetery Complex. Marhum Pekan itself is a term for Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah (founder of Pekanbaru city).

    Nur Alam Mosque is a closing for my exploration about Siak Sri Indrapura Sultanate. Satisfied and happy to get to know more about the famous sultanate in Sumatra land.

    Come on …. Back to hotel, check-in and lunch!

  • Waktu begitu cepat. Sore kemarin aku masih mengeksplore area Basantapur. Tetapi kini sudah pukul empat pagi. Aku sudah saja mengguyur diri di bawah hangatnya shower Shangrila Butique Hotel. Setelah memastikan tak ada barang yang tertinggal, aku segera menuju resepsionis untuk check-out dan selangkah kemudian aku sudah turun di jalanan Thamel. Gelap, kosong dan penuh kekhawatiran.

    Aku terus menyusuri jalanan dan berharap segera menemukan taksi, sementara dari arah belakang yang gelap terdengar suara derap langkah beberapa orang diiringi nyanyian Nepal yang membuat jantungku berdegup lebih kencang.  Kuberanikan diri menoleh ke belakang, lima pemuda tanggung melangkah cepat menyusulku. Sepertinya aku tak bisa lebih cepat lagi karena backpack membebaniku di punggung. Aku seakan pasrah jika terjadi sesuatu saat mereka benar-banar telah menyusulku.

    Plakk”, tangan salah satu dari mereka menepuk pundak kananku kencang. “Ah, alamat”, batinku cepat merespon.

    Good morning, Brother. Are you happy in Nepal?”, dia berucap sambil mengiringi langkahku yang terlanjur melambat ketakutan.

    Hi….Yeaaa, nice country”, aku berkata lebih keras dari biasanya untuk menunjukkan keberanian saja.

    Good….Be careful, bro”, dia melewatiku dengan cepat sementara keempat teman lainnya menatapku dengan senyum ringan dan serempak berucap “Hi”.

    Oh, Tuhan terimakasih engkau masih mengirimkan orang-orang baik untuk menyapaku di gelapnya pagi.

    Sampai pada sebuah perempatan, tampak deretan taksi mengantri untuk mengangkut penumpang. Taksi terdepan memancarkan lampu tembak ke arahku dan aku mengangkat tangan sebagai jawaban bahwa aku akan menggunakan jasanya.

    Airport, Sir….How much?”, aku bertanya singkat.

    Seven hundreds Rupee”, jawabnya sambil meraih backpackku yang menutup niatku untuk menawar.

    “Ok”, tak ada jawaban lain yang bisa kulontarkan.

    Taksi dengan cepat melaju kencang tanpa penghalang di Pashupati Road yang tentu masih senyap. Tak sampai 20 menit, taksi perlahan merapat ke Tribhuvan International Airport.

    Pukul setengah enam pagi, airport masih tutup dan senyap.

    Tak banyak yang bisa kulakukan, aku hanya menunggu di meja milik polisi bandara yang tampak kosong sambil terus menatap international gate dan berharap pintu itu segera dibuka karena udara sangat dingin diluar.

    Perlahan penumpang berdatangan.

    Orang Indonesia, mas?”, celetukan itu berasal dari arah belakang.  Aku menoleh ke kiri dan ke kanan, tak ada siapapun di sampingku. Suara itu jelas menanyakanku. Aku menoleh kebelakang dan terlihat seorang perempuan berusia 30 an tersenyum ke arahku.

    Loh, kok ibu tahu saya dari Indonesia?”, sahutku membalas senyumnya.

    Itu mas”, Si ibu menunjuk salah satu kantong backpack yang tak tertutup sempurna dan sedikit menyingkap bendera merah putih yang sempat kukenakan  empat hari lalu di Sarangkot.

    Alhasil kami saling bercakap sembari menunggu gate dibuka. Ternyata beliau ini adalah lulusan kampus ternama di Indonesia dan pekerja senior pada perusahaan eksplorasi minyak di Bangladesh. Setelah berwisata ke Nepal, dia akan kembali ke tanah air melalui New Delhi.

    Sepesawat denganku ke New Delhi, dia bersambung terbang bersama Singapore Airlines yang transit di Singapura. Sementara aku akan mengeksplorasi New Delhi dan Agra terlebih dahulu.

    Gate sudah dibuka, aku segera menuju konter check-in. Sedikit agak lama berproses, aku menguping bisikan antar mereka dan terucap kata internet connection.  Pantas proses online check-in ku gagal semalam.

    Pertama kali terbang bersama Jet Airways.

    Kemudian di deret lain konter imigrasi, kulihat Si Ibu berbincang hangat dengan petugas imigrasi. Bahasa Inggrisnya sangat fasih. Dia sempat menjelaskan kepadaku di waiting room bahwa petugas imigrasi di Asia cenderung lebih luwes daripada petugas di Eropa dan Amerika. Tentu aku mengamini itu.

    Waiting Room Tribhuvan International Airport.
    Si ibu mentraktirku secangkir chiya hingga pesawat tiba.

    Boleh dibilang, Si Ibu yang tak mau disebutkan namanya inilah yang menginspirasiku untuk menulis dan membagikan setiap pengalaman perjalanan yang kulakukan sehingga bisa mensupport setiap traveler dengan informasi. Si Ibu sendiri tak pernah kesampaian menulis karena kesibukannya yang teramat sangat, padahal dia memiliki kisah-kisah yang luar biasa. Salah satunya ketika dia bisa selamat dari badai gurun yang menghantamnya di Kuwait.

    Jet Airways bernomor terbang 9W 0263 telah siap. Aku keluar dari waiting room menuju parking lot. Ada satu keunikan yang tak pernah kualami sebelumnya, yaitu ketika ada pemerikasaan cabin baggage setiap penumpang di area extension tepat di depan pintu pesawat. Pengalaman yang menggelikan dan menyenangkan.

    OK, saatnya terbang.

    Sampai jumpa lagi Nepal. Selamat datang India.
  • I began to leave the Tunjuk Ajar Integritas Green Open Space on foot. Along Wakaf Street, I slowly approached a traffic policeman who was arranging an intersection. Not awkward, I called him when he still sounded his whistle following flashing green lights which automatically moved dozens of vehicles to cross the intersection.

    Unsure of answering my question, he shouted at his colleague at a police post. After his friend stretched his arms parallel to the road and followed by his palm which turned to right, this young policeman was very sure to tell the closest direction to Siak River to me.

    Mutiara Merdeka Hotel in Jembatan Siak I Street.

    Enjoying one part of Siak River, was able to amaze me, this is inseparable from historical facts behind its water flow. Siak is the name of sultanate which ever stood in this river body. If I could reconstruct journey history of Siak Sri Indrapura Sultanate which had ever triumphed, it would certainly perfect my exploration in Pekanbaru.

    Linger over Siak Bridge I, as far as eye could see, it was clear that Siak III Bridge was right in front of me and looming behind it was Siak IV Bridge (better known as Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah Bridge) which hadn’t yet finished its construction. While from my standing position, in my back side was Siak II Bridge.

    Siak River which was formerly known as Jantan River.

    Bright brown of water color and river width which represents Siak River valor is enhanced by greeny river body which soothes anyone in its banks. Geographically, the river passes through four districts i.e Rokan Hulu, Bengkalis, Siak and Pekanbaru.

    Next, I continued to go through a small road on edge of the river until I came to an open park under Siak III bridge, better known as Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah Bridge. Many young people looked cheerfully chatting with their friends or their partners enjoying peaceful atmosphere around the river. At other side, it was clear that Water Police Office of Riau Regional Police was busy. Seen two fast patrol boats leaning on river edge.

    Riverside park under Siak III Bridge.

    While next to riverside park was a stilt house with a dominant light yellow color. With greeny graded lawns and black-orange square patterned tiles which at the edge was bordered by a blue mosque and river viewpoint area. This courtyard is known as Tuan Kadi Park.

    Tuan Kadi Halfway House.
    Tuan Kadi Park.

    Tuan Kadi / Qadhi is a title which Sultan has proclaimed to someone who is appointed as an advisor in Islamic sharia law (Nasyih) and acts as a munakaah judge in marriage matters and heirlooms distribution in Siak Sultanate.

    After Dutch Colonial occupation , Tuan Kadi/Qadhi title was pinned to Chairperson of Siak Sultanate’s Shariah Deliberative Board. This house itself is owned by Qadhi Haji Zakaria bin Haji Abdul Muttalib who ever held that position. And in his time, this house was ever be a stopover for Sultan Syarif Kasim II, the 12th Siak Sultan.

    Hhmmhh …. Already past noon, let’s do Dhuhr prayer…..Come on, went to Siak Sultanate’s inherited mosque!

  • Melangkah meninggalkan Kumari Ghar, aku masih berfikir. Apabila Sang Kumar nanti telah pensiun, bagaimana dia bermasyarakat setelah selama belasan tahun hanya sekali setiap tahun keluar dari tempat tinggalnya, bagaimana dia bekerja hingga lelaki mana yang beruntung memiliki Sang Kumari itu….Ah sudahlah.

    Langkahku sampai pada sebuah plaza nan luas. Bangunan putih memanjang berarsitektur Eropa mengapit pelataran luas itu di kiri dan kanan, sementara ditengahnya para pedagang souvenir meletakkan lapak-lapaknya.

    Basantapur Dabali adalah landmark bersejarah yang wajib dikunjungi.

    Memainkan peran sebagai  jantungnya Kathmandu, Basantapur memang menjadi tempat bertemunya khalayak dari berbagai penjuru untuk berpolitik dan berdagang sejak zaman Nepal masih berbentuk kerajaan. Oleh karenanya Basantapur selalu ramai hingga kini.

    Untuk kamu millennial, Basantapur menyediakan banyak cafe modern untuk sekedar berhang out. Teh khas Himalaya pun mudah ditemukan di area ini. Kamu bisa merasakan nikmatnya Chiya (teh bercampur susu) di dinginnya udara Kathmandu.

    Berburu Himalayan Tea di salah satu kedai.

    Freak Street menjadi jalur yang terlihat cukup sibuk dengan keberadaan plaza ikonik ini. Pesona Basantapur Dabali menghinoptis siapa saja untuk bertahan berlama-lama menikmatinya. Tapi surya sudah jauh tergelincir, sudah saatnya aku meninggalkan Basantapur untuk kembali menuju Thamel.

    Sinha Swan Khala, lembaga keagamaan yang cukup ramai di Freak Street.

    Menikmati Kathmandu tak bisa dilakukan dengan menunggang taksi, pastikan kamu terus melangkah dan menikmati keotentikan budaya dan arsitekur Newar yang ada di setiap sisi kota.

    Kini aku sudah kembali di jalanan Layaku Marg. “Layaku” adalah kata lain untuk “Durbar Square”, sedangkan “Durbar Square” sendiri berarti “Alun-alun Istana”. Memang benar apa adanya, Layaku Marg ini membelah Basantapur dan menempatkan istana Kerajaan Malla di salah satu sisinya.

    Layaku Marg menuju ke area Bishal Bazaar.

    Bishal Bazaar atau Vishal Bazaar merupakan area berbelanja yang dahulu cukup terkenal di Kathmandu. Ditandai dengan keberadaan mall tua dan China Market . Bishal Bazaar mungkin menjadi tempat yang tepat bagi para penggemar pernak-pernik perhiasan.

    Area Basantapur dan Bishal Bazaar dibatasi oleh Jalan Sukra Path yang berawal dari Juddha Statue, sebuah patung di bundaran perempatan untuk menghormati Raja Nepal Juddha Shamsher Jang Bahadur Rana yang berperan besar dalam membangun negerinya dari kerusakan cukup parah akibat gempa Nepal pada tahun 1934.

    Juddha Statue.
    Salah satu sisi Sukra Path.

    Sebelum benar-benar menyelesaikan perjalanan hingga ke Thamel, aku berusaha menikmati sibuknya aktivitas penduduk lokal dengan  memasuki sebuah resto di bilangan Sukra Path

    Vegetable Chow mien seharga Rp. 15.000.

    Sore itu adalah petang terakhirku menikmati kota Kathmandu karena keesokan harinya aku akan terbang menggunakan Jet Airways 9W 0263 menuju ibukota India. Mungkin malam nanti aku tak akan banyak keluyuran karena harus bersiap diri untuk berangkat ke Tribhuvan International Airport di gelapnya pagi.

    Aku sampai di Thamel dan segera melakukan check-in online, malam nanti aku hanya keluar sebentar untuk menikmati santap malam saja.

    Duh…cantiknya perempuan dalam iklan shampoo itu.
  • Failed to check-in sooner, I decided to explore Senapelan area for next three or four hours, an area where Sultanate of Siak Sri Indrapura had reached its golden age. I tried to trace sultanate history by visiting its legacies which enduring until now.

    For that reason, I went to Siak River which is famous and legendary in my country. Just imagine!, Siak River was once be the deepest river in Indonesia.

    Chinatown on Dr. Leimena Street was still quiet that morning, only one or two cars passed. I turned left when I started cutting Ir. H. Juanda Street and then found a green area which seemed to be acquiring a junction area which is bounded by Riau Street and Jend. Ahmad Yani Street. Not far away, I estimate about half a kilometer north of my hotel.

    To right: Ir. H. Juanda Street, straight: Jend. Ahmad Yani Street and to left: Riau Street

    A park which covering an area of two times football fields is like many city parks in Jakarta. Exhibiting a name board and providing sidewalks as a barrier between main road and park area.

    Here it is the park name.

    Tunjuk Ajar Interigitas Green Open Space is a famous playground spot in Pekanbaru and is a favorite park for residents who live in Senapelan area.

    Inevitably, even in the heat of day, there were still some small families who bring their children to the park and did some activities in sand playing area which is equipped with a swing seats, kids up-down stairs and kids slides.

    While some park cleaners in a light-green long t-shirts looked busy in pulling weeds, watering plants and sweeping every park corner. The park is vast, but its cleanliness can’t be doubted.

    Occupying a former office of Public Works Service, USD 600,000 of funds which is invested in park construction are reflected in spacious area and complete facilities which is provided in park.

    In four corners of park are provided a concrete canopy with a mushroom-shaped roof and a canopy is right in the middle of park with a Malay roof and ornamented selembayung.

    In left side, there is a circular open space which is arranged like a theater complete with a three-levels podium. Some young people seemed to sit in a canopy and holding their own skateboards. While owner of a battery-powered toy car appeared to arrange his rental toys in a shady area.

    Jogging track splits the park.
    Multifunctional open area.

    Tunjuk Ajar” which means “Giving an Example” and “Integritas” which represents a “Leadership Attitude“, is sufficient to explain that this park is a vehicle for modeling integrity in community leadership. This meaning is emphasized by an existence of a monument at one side of park.

    Integrity Monument.

    Built and owned by Riau Provincial Government, this park is dedicated to corruption resistance program in regional government.

    The Integrity Monument features Kampar River’s Bono and Rokan River’s Bono as well as Malay keris. Bono refers to a wave which is formed at both of Kampar and Rokan River estuary as a result of the meeting of fresh water which is leading to sea and seawater which headed ashore. While Malay keris describes a process of establishing integrity at all levels of society.

    No loss too, stopped by in a park which I accidentally found before reaching Siak River banks.

  • Adalah Raja Prithvi Narayan Shah yang pertama kali menggunakan bendera dua segitiga ketika berhasil mempersatukan semua kerajaan di Nepal pada 1768. Ya, dua segitiga pada bendera nasional Nepal itu melambangkan dua dinasti besar yang pernah ada di Negeri Seribu Dewa yaitu Dinasti Shah dan Dinasti Rana.

    Aku menemukannya dimana-mana.

    Please, come!….Please, come!” seorang pria menyuruhku memasuki sebuah bangunan mengkilat merah bata. Para turis Eropa beserta tour guidenya yang sepertinya telah tahu alasan mengapa mendatangi tempat ini tampak berbondong memasuki gerbang. Aku yang belum menyimpan informasi apapun, hanya mengandalkan senyuman bersahaja dari pria itu. Sebentar kemudian aku sudah di dalam.

    Pria berjaket abu-abu yang berjasa menemukanku pada seorang Dewi.

    Pria lain di dalam menyambutku, “Welcome to Kumari Ghar…The house of Kumari”. Kumari adalah Dewa hidup dalam mitologi Hindu bahkan Buddha. Kumari sendiri adalah istilah Sansekerta yang berarti “Putri (princess)”. Kumari dipilih oleh kepala Pandita dan dianggap sebagai reinkarnasi dari Dewi Taleju, Sang Dewi Penjaga Kota.

    Mencincang daging kerbau untuk persembahan esok hari.

    Aku terus menguping penjelasan tour guide kepada para pelancong Eropa itu. Konon raja terakhir Malla sering  bertemu secara rahasia dengan Dewi Taleju yang diminta untuk melindungi kerajaan. Istrinya yang curiga, pada suatu malam membututi sang Raja ketika hendak bertemu Sang Dewi. Sontak Sang Dewi murka karena keberadaannya terungkap. Tetapi Sang Dewi masih berbaik hati untuk tetap bersedia melindungi kerajaan, tetapi dengan satu syarat yaitu disediakannya seorang gadis sebagai reinkarnasi darinya. Nah, gadis inilah yang akan kulihat kali ini.

    Salah satu sisi Kumari Ghar yang telah berusia 263 tahun.

    Semua mata mengarah pada tiga jendela hitam di lantai teratas Kumari Ghar. Dari situlah Kumari akan dipertontonkan secara kilat. Para lelaki tegap tampak mulai menyebar ke segala sudut dan matanya tak berkedip mengawasi kami. Wajah mereka menyapu suluruh turis di pelataran, mereka berjaga jangan sampai ada sorotan video atau tangkapan kamera yang mengarah ke Kumari saat dipertontonkan nanti.

    Gelisah untuk segera melihatnya.

    Saatnya tiba, semua hening melihat jendela yang perlahan dibuka. Kumari belum juga keluar, aku tak berkedip karena khawatir kehilangan penampakannya yang akan singkat. Para pengawas di bawah berteriak lantang kepada pengawas di atas, entah apa yang dilaporkannya. Mungkin kondisi sudah siap untuk Kumari muncul di jendela.

    Dua perempuan mengecek kembali kondisi di bawah dari atas. Sewaktu kemudian, mereka memberikan kode ke arah dalam. Sekejap kemudian, gadis cantik berbusana serba merah, bermahkota lembaran emas dengan mata ketiga di keningnya muncul di lubang jendela. Hanya sebentar, tak sampai setengah menit.

    Wooouwww”, ucapan seragam yang terlontar dari para pelancong dan kemudian meraka sibuk berbisik dengan temannya masing dengan bahasa bangsanya. Sementara aku masih saja memandangi jendela yang sudah tertutup sejak tadi sambil tersenyum. Gila rasanya bisa bertemu dengan seorang Dewi yang benar-benar hidup…..Hahaha.

    Seperti inilah penampakan Kumari.

    Mengikuti kepercayaan, Kumari akan selesai menjadi reinkarnasi Dewi Taleju ketika mengalami menstruasi dan akan digantikan oleh Kumari baru. Kumari akan dipilih sejak berusia tiga tahun dengan persyaratan yang sangat ketat seperti tidak boleh ada bekas luka, tidak takut pada pria bertopeng yang menari di atas darah kerbau yang disembelih, tidak akan menginjak tanah selama menjadi Kumari dan hanya keluar sekali setahun dalam acara acara Bhoto Jatra yaitu festival perayaan musum hujan  sekaligus panen.

    Magis ya budaya Nepal ini….Luar biasa.

  • I still didn’t budge with an offer of taxi drivers, while other INTRA Bus passengers preferred to use taxi services towards their final destination in Pekanbaru.

    Several time later, from across the street, an online motorcycle taxi driver waved to me. Of course he knew, I was wearing a blue jacket with same color backpack. I had sent a description to him via message in application.

    Are you originally from here, Sir?” I asked in back seat.

    No, I’m from Padang, Sir. Are you from Java? your accent is typical“, he answered and asked.

    I ever studied in a college at Yogyakarta, Sir. Which Java are you from?“, I didn’t have answered yet, He had asked again.

    I’m originally from Solo, Sir. Are local residents nice, Sir?”, I began to wonder.

    Most of Pekanbaru residents are from Padang, Sir. Calm down, Sir, anywhere is safe“, he soothingly said .

    From an article I read afterwards, it’s true that 40% of Pekanbaru residents are Minang native migrants. Indeed, Minang people are great in odyssey

    Not even 10 o’clock in the morning, I arrived.

    The three-star hotel which I booked through Airy Rooms exactly on nine days before my arrival in Pekanbaru was only USD 6 per night. Cheap, right?

    I deliberately chose to stay in Senapelan area just to tracing the glory of Siak Sri Indrapura Sultanate. Looking at economic activities of city residents, remembering that the name of Pekanbaru came from words of Pekan Baharu, a market which was pioneered by Young Sultan named Tengku Muhammad Ali, the 5th Siak Sultan. It can be said that Senapelan area was the forerunner to the formation of Pekanbaru City which was born as a positive impact from Sultanate economic development.

    Hotel front yard is on an edge of Sam Ratulangi Street.

    Coming too early, I tried my luck in front of reception desk. Maybe they could put me faster to rest in hotel room.

    The room isn’t ready, Sir. Just wait in our lobby until 13 o’clock”, young staff on duty said in neat uniform.

    Oh well, Sir. Can I put my backpack here. I better go around the city first, then come back when I can check-in“, I replied.

    Oh sure, sir. Just put it here“, he asked my backpack to put behind the table.

    Sir, is there a power outlet to recharge my handphone?“, I asked him

    Oh, the plug is in hotel’s restaurant at right of the lobby. Just go in, Sir!“, His index finger pointed at a door.

    Straightening my waist for a while in the lobby, I was still staring at the authentic reception room, golden yellow dominated. Three roofs with three selembayung at the end. praying hand shape symbolizes the close relationship between living things and God.

    In addition to selembayung, motifs like a Malay songket is beautify the room.

    After my camera and handphone was charged, to take advantage my time while waiting for check-in, I began to explore some traces of Siak Sultanate which were clearly represented along Siak River, Tuan Kadi’s Halfway House and Nur Alam Grand Mosque

    Entering twin bed room at 2 pm.
    Cheap but luxurious hotel room for me.

    Sri Indrayani Hotel was originally a guesthouse which was rented by an airline for its air crew since 1971. Along with Pekanbaru development, this guesthouse perfected itself by transforming into a leading shariah hotel in Pekanbaru during the city’s development. Its location which opposite the Chinatown also made hotel development was quickly its time.

    Finally, I found warm water after didn’t bathing for 38 hours.
    The park behind hotel is bordered by Bangka Street.

    From Sri Indrayani Hotel, my adventure to exploring Pekanbaru was began. It was time to got around the city and got to know about the capital of Riau Province.

  • Masih pagi….Tak ragu, aku menukar Rp. 125.000 dengan tiket putih-kemerah jambuan sebagai akses menikmati sejarah Hanuman Dhoka Durbar Square.

    Menapaki jalanan Layaku Marg yang keabuan berlapis andesit serta debu tipis yang dilemparkan oleh sapu lidi para petugas kebersihan, aku telah bersiap memasuki Nepal tempoe doeloe yang masih berbentuk kerajaan.

    Kuil untuk menyembah “Dewi Ilmu Pengetahuan” kulewati dengan cepat untuk kemudian ku jumpai kerumunan warga yang sibuk membakar dupa, menabur bunga dan kemudian menyatukan kedua telapak tangannya di dada meghadap patung hitam enam lengan yang dipercaya sebagai perwujudan Dewa Siwa Sang Pemusnah.

    Saraswati Temple.

    Sementara para pedagang dupa di pelataran Indorapur Mandir membuat area itu menjadi sangat ramai dibanding area lain di Kathmandu Durbar Square. Selaras padu dengan kesibukan ratusan merpati dalam menyantap sarapan pemberian para pelancong yang sudah datang lebih dulu

    Kaal Bhairav bermahkota emas perwujudan Dewa Siwa.

    Lapis-lapis atap segenap kuil tampak sama dan membawaku pada nuansa rekaan Majapahit di perfilman tanah air. Atmosfer Ksatria Hindu yang sangat kental di pagi itu, mampu melemparku sejenak dari dunia yang fanatik dengan teknologi.

    Biji jagung yang dijual untuk merpati.

    Istana Kerajaan Malla yang kemudian dilanjutgunakan oleh Dinasti Shah adalah icon penting  di Kathmandu Durbar Square. Oleh karena dijaga patung Dewa Hanuman di gerbang depan, UNESCO World Heritage Sites ini dikenal dengan sebutan Hanuman Dhoka Durbar Square. Beberapa khalayak menyebutnya Basantapur Durbar Khsetra karena istana ini terletak di area Basantapur.

    Itu gerbangnya.

    Selepas gerbang maka pelataran istana nan luas menyambut. Dikenal dengan sebutan Nasal Chowk. Nasal berarti tarian, merujuk pada Dewa Siwa yang menari Tandava Nataraja  ketika menghancurkan semesta yang sudah usang. Pelataran yang mirip dengan plaza ini dikepung oleh bangunan-bangunan istana di keempat sisinya.

    Bangunan putih di sisi barat istana.

    Sementara di sisi selatan pelataran terpampang papan nama proyek yang didanai oleh Kementrian Perdagangan Republik Rakyat China untuk merenovasi istana yang mengalami kerusakan hebat pasca gempa tektonik yang dihasilkan dari tumbukan lempeng India dan Eurasia di Himalaya pada 2015.

    Basantapur Tower Sembilan tingkat yang telah runtuh.
    Ruang yang didalamnya terdapat patung Dewa Siwa yang sedang menari.
    Sun Dial, penunjuk waktu sebelum ditemukannya jam.

    Lalu, di sisi utara terpampang bentuk arsitektur Newar dengan jendela hijau mencolok. Berjuluk Sisha Baithak yang berfungsi sebagai ruang audiensi kerjaan. Di lantai bawah bangunan itu, terpampang deretan foto para raja. Dan dua polisi penjaga istana nampak mondar-mandir dengan senapan laras panjangnya di sekitar bangunan ini.

    Dari kiri adalah King Rana Bahadur Shah (Raja Nepal ketiga) dan anaknya King Girbanayuddha Bikram Shah (Raja keempat-foto kanan)
    Bersama Guard Police di Sisha Baithak sebelum meninggalkan istana.

    Aku meninggalkan istana sembari melempar kata terimakasih dan sampai jumpa kepada Guard Police itu. Sontak temannya yang baru tiba berucap kepadanya dalam bahasa Nepal, kutebak berbunyi “Darimana dia berasal?”, karena polisi yang kuajak berfoto berujar singkat “Indonesia”.

    Satu tips ketika berada di kawasan Kathmandu Durbar Square adalah coba pahami satu-persatu bangunan yang kamu lewati, karena setiap bangunan disana memiliki fungsi dan nilai historis yang mengagumkan.

    Kembali aku menemukan bangunan unik. Sebuah kuil bertahtakan Shwet Bhairav yang diyakini sebagai perwujudan paling kuat dari Dewa Siwa. Disembunyikan dalam tirai kayu dan menunggu Indrajatra Festival untuk menampakkan diri secara penuh kepada penduduk Newar. Saat festival tiba, dari mulutnya akan di pancurkan Madira (alkohol) sebagai bentuk berkah bagi manusia.

    Shwet Bhairav.

    Beranjak siang….Matahari kini mulai mampu menembus setiap celah alun-alun, menghangatkan tubuhku yang sedari pagi terpapar hawa dingin. Saatnya meneruskan langkah menuju destinasi berikutnya.

    Selanjutnya akan kutunjukkan kecantikan paras seorang Dewi dalam mitologi Hindu dan Buddha di Nepal.

    Yuks….Ikuti aku!