The combination of yellow, blue and orange was slightly tarnished by peeling of Banto Trade Center wall paint. But that wasn’t the focus, Ramlan Nurmatias and Joko Widodo’s handshake had stunned me. It seems that the Mayor and the number one person of my country have agreed on laying the first stone of Ateh Market revitalization project….Apparently, Bukittinggi is actively building.
Meanwhile, Banto Trade Center courtyard was be a trader area for selling vegetables on their cart and motorbike. Then far ahead, still in Soekarno Hatta Street, a golden plaque “Adipura Kencana” is upheld by a single white pole. Shows that this city is recognized for cleanliness throughout the country.
Sekitar dua kilometer sajalah, avku tiba di sebuah mulut gang. “Gg Komp Sabar” begitulah aksara dalam plat nama berwarna hijau yang ditegakkAbout two kilometers away, I arrived at an alleyway. “Gang Kompleks Sabar” were words in a green name plate which was placed on a black pole with a bigger size with thick white script “Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta Proklamator RI, Jl. Soekarno Hatta No. 37 Bukittinggi“
For eleven years, Bung Hatta lived in this house.
It is a duplication of original house architecture which if it still stands, it will be 160 years old. Unfortunately it had collapsed in the 60’s, but upon the chairman idea of Bung Hatta Education Foundation, it was rebuilt.
Built according to its original curves, according to its picture in memoirs and various family-owned documentation. In general, this house can also describe situation and past life of Bukittinggi society and especially Bung Hatta’s family.
Main Building
This Bukittingi’s typical house consists of main building, pavilion, rice barn, kitchen, horse stable and fish pond.
The main building itself consists of two floors and is at forefront of house area. The main building serves to receive guests, family dining room and bedroom of Bung Hatta’s mother, uncle and grandfather.
Here’s a glimpse of booths on main building’s second floor:
Floor 1.
Bung Hatta family photo.
Family meeting table.
Well.
Family dining table.
Floor 2.
Bung Hatta’s parents’ room, in this room Bung Hatta was born.
Guest dining table.
Pavilion
Behind the main building, a pavilion was built. This white wall building was used for kitchen, Bung Hatta’s bedroom, bathroom, horse stable and hansom cab room. From his bedroom, Bung Hatta began his education at Europese Lageree School (ELS) Bukittinggi. In his room is also stored bicycle which was often used Bung Hatta everyday. It was given by his parents since he was 8 years old.
Bung Hatta’s room near rice barn. Called as “Ruang Bujang“.
He lived with his grandfather, Syech Adurrachman, also known as Syech Batuhampar. His grandfather himself worked as a private post contractor.
At the end of my visitation, I was curious about Ma’ Etek Ayub profile as someone who helped Bung Hatta in continuing school, his profession was “Time Trade Practice”. Confused by this profession type, I asked to an elderly woman who worked to took care of this whole house.
Kitchen.
Horse stable.
Hansom cab as Bung Hatta’s vehicle to school.
Rice Barn
Like as past era houses, when this nation was still experiencing economic difficulties. Rice granaries are an effort to ensure family food security.
Rice storage barns.
After completing his primary education, Bung Hatta continued his secondary education at Meer Uitgebred Lager Onderwijs (MULO) or secondary school in Padang City.
Seperti yang kukisahkan di awal, jika kamu membedah seisi Qatar menggunakan Karwa Bus maka secara otomatis kamu akan berhilir mudik di sebuah terminal sentral di kota Doha yaitu Al Ghanim Bus Station.
Aku sendiri yang adalah backpacker penggila bus kota dan selama di Qatar tercatat selama tujuh kali dalam lima hari, aku menyambangi terminal bus yang menjadi kantor pusat Mowasalat (perusahaan transportasi negara Qatar).
Tak cukup besar, secara ukuran, Al Ghanim Bus Station masih kalah luas dengan Terminal Tirtonadi di Solo atau Terminal Kampung Rambutan di Jakarta Timur. Bayangkan saja, terminal ini layaknya terminal bus di kota-kota kecil pulau Jawa….Terminal Tidar di Magelang misalnya….Ya, segitulah perkiraanku.
Aku sekejap memaklumi, tak butuh terminal yang besar untuk melayani wilayah negara Qatar yang hanya dua kali luas Pulau Bali.
Menunggang Karwa Bus No. 12, perjalanan perdana menuju Al Ghanim Bus Station.
Siang itu, panas surya beradu kuat dengan rendahnya suhu udara yang bertiup di Semenanjung Qatar. Pasir-pasir halus penuh kesumat memanfaatkan arus angin untuk menghajar mukaku tanpa ampun. Tapi kini aku telah memakai rayban yang membuatku melangkah gagah nan penuh gaya di jalanan Doha.
Bermula dari Casper Hotel, aku membelah kota di dalam kotak besi berjalan sejauh lima kilometer dan tiba dalam setengah jam di Al Ghanim Bus Station. Tak mahal, hanya Rp. 10.000 saja untuk diserahkan ke tap machine Karwa Bus.
Al Ashat Street tepat di depan terminal.Mungil, rapi dan minim polusi.Tak ada yang berteriak mencari penumpang….Very silent.
Fasilitas
Tiba di terminal, aku tak terburu meninggalkannya begitu saja. Kubiarkan waktuku sedikit terbuang hanya dengan berduduk manis di sebuah kursi tunggu berbahan kayu bercat putih. Mengamati wajah Qataris yang mayoritas adalah pegawai pemerintahan, wajah Filipino yang bekerja di sektor formal atau wajah Asia Selatan yang entah dari Nepal, India, Bangladesh atau Sri Lanka yang tampak bekerja di sektor non-formal. Kesemuanya berlalu lalang dengan kesibukannya masing-masing, bergerak seirama dalam menggerakkan ekonomi Qatar.
Kursi tunggu terminal….Bagi yang kuat menahan dingin silahkan berlama-lama disini.Yang tak kuat dingin, bolehlah membeli Karak (teh tarik) di kantin pojok itu.
Terminal ini melayani hampir seluruh rute bus, yang keluar atau menuju Doha. Setiap rute berjeda keberangkatan 20-30 menit. Terminal beroperasi dari jam 4 pagi hingga tengah malam.
Toilet ada di ujung barat depan, berstruktur container box dan harus menaiki beberapa anak tangga. Terminal juga menyiapkan ruang tertutup yang cukup efektif untuk menghangatkan badan sembari menunggu keberangkatan bus.
Ruang tunggu tertutup terminal.
Sementara beberapa Ticketing Vending Machine disediakan di sebelah ruang tunggu tertutup, sehingga setiap pengguna jasa Karwa Bus dapat leluasa mengisi ulang Karwa Smartcardnya disini.
Di beberapa tiang terminal tercantum dengan jelas setiap peta rute Karwa Bus, sehingga sangat membantu penumpang yang belum memahami keseluruhan wilayah Qatar dalam menemukan jalur bus yang tepat ke setiap tujuan yang disasarnya.
Rute Karwa Bus No. 11.
Itulah profil singkat dari Al Ghanim Bus Station yang terletak di Municipality Ad Dawhah. Tertarik berkunjung?
Moving from Bung Hatta Proclamator Monument Park, I moved down along Istana Street, across Plaza Bukittinggi, greeting Gadang Clock Tower, treading on Minangkabau Street and then entering Cindua Mato Street.
A step later, I entered Pasar Atas. Most of stalls were still closed because I was too early to visited it. There was nothing I could do, only a few stalls which were preparing to open, marked by its owners who was busy arranging their trade goods.
Quiet.
Now I was at a gate with a view of steep steps, two tigers guard it on either side, while at lower end was seen a bit of trading crowd, maybe that was Banto Market.
I slowly descended while my mouth muttering count numbers….It’s true, forty steps. These rows of stairs are known as Janjang Ampek Puluah. It is said that forty symbolizes number of Niniak Mamak members.
Legendary connecting stairs.
Brilliant thinking for Louis Constant Westenenk (Agam Resident Assistant/Controleur Agam) who collaborated with Niniak Mamak (Minangkabau Customary Institution) in sparking an idea to integrated of Pasar Atas (Upper Market) – Pasar Bawah (Lower market) – Banto Market in early 20th century. At that time, Janjang became a popular facility in market connectivity. The thinking power of leaders at that time was really squeezed in order to organize Bukittinggi city which had a hilly and uneven topography.
I arrived at lower gate with four poles and European style, also with a large signboard “Janjang Ampek Puluah“. After all, I finally knew that this lower gate was a new construction, complementing the upper gate which had already existed.
Colonial style lower gate.
The Lower Gate was seen from T-junction of Pemuda Street, Perintis Kemerdekaan Street and Soekarno Hatta Street.
While at inner side of lower gate, there is an inscription which contains a brief history of legendary Janjang existence as high as 5 meters and 4.6 meters in wide which was built in the past.
I was still staring at the elegance of this colonial era integration facility, while residents seemed to be moving up and down at Janjang. I really didn’t want to leave this area quickly, stunned to think of how form of this area when Janjang hadn’t been built, maybe where I stood was still in the form of steep hills which separating three market activities.
Janjang Ampek Puluah is just one of many Janjang in Bukittinggi. Apparently Colonial Government was quite serious in integrating all city economic spots at that time. You need to know that there are still Janjang Saribu, Janjang Koto Gadang and Janjang Pasanggrahan in the town which called as Fort de Kock in its past time.
At outer side of gate, public transportations start to generating city pulse. The appearance of imperious Banto Trade Center increasingly shows that the surrounding area can be relied upon as a driving force for city’s economy.
Okay let’s continue….If you go straight ahead, what else is there?
Semakin ke barat, nyatanya biaya backpackeran semakin tinggi. Harga hotel dan tiket pesawat tak bisa tertolak kemahalannya. Perlu kejelian dalam berburu tiket dan hotel murah.
Hal inilah yang kemudian membuatku mengalah untuk tinggal di penginapan yang jauh dari pusat kota, demi mendapatkan harga yang sesuai dengan budget. Tentu walaupun tinggal di penginapan pinggiran, perihal konektivitas tetap harus diperhatikan.
Nah, untuk eksplorasiku di Qatar kali ini, aku memilih Casper Hotel untuk menjadi basecamp selama empat malam. Aku memesannya dua bulan sebelum keberangkatan melalui Booking.com dengan harga Rp. 199.500 per malam. Boleh dibilang, inilah hotel termurah dengan akses transportasi yang cukup baik dari sekian banyak penginapan yang telah kujelajahi di berbagai e-commerce penyedia penginapan.
Gerbang depan Casper Hotel yang merupakan sebuah perumahan.
Kesamaan bentuk rumah dalam cluster ini membuatku tersasar ke Q Hotel. Petugas resepsionis agak sedikit judes ketika menunjukkanku letak Casper Hotel yang berdampingan dengan hotel mereka. Mungkin karena aku lebih memilih kompetitornya.
Hotel tanpa papan nama.
Aku diterima oleh resepsionis jangkung asal Islamabad dan diminta menunggu sekitar setengah jam hingga kamar siap.
Meja respsionis sederhana.Lobby.Dorm yang kutempati (tengah).
Aku ditempatkan sekamar dengan professional Pakistan yang bekerja di perusahaan penghancuran kapal, turis India dan pemuda Dubai yang sedang bersemangat mencari pekerjaan di Amerika Latin.
Aku sengaja memilih hotel ini karena mereka menyediakan pantry bersama. Biaya hidup di Qatar terkenal mahal, opsi terbaikku adalah membeli bahan makanan lalu memasaknya mandiri.
Tempatku memasak.Staff pengelola hotel (dua berdiri) dan teman sekamar (duduk).
Konektivitas
Walaupun jauh dari kota, hotel ini memiliki akses transportasi yang baik. Hal ini tentu membantuku untuk berhemat. Casper Hotel memiliki akses Free Doha Metrolink Shuttle Service menuju stasiun Oqba Ibn Nafie. Selain itu, Karwa Bus No. 12 memiliki shelter dekat gerbang hotel menuju Al Ghanim Bus Station.
Shelter bus di Al Nadi Street, selalu kugunakan saat pulang menuju hotel.Karwa Bus No. 12, suatu sore menuju ke hotel dari Al Ghanim Bus Station.
Shopping Area.
Tiga ratus meter di selatan hotel terdapat Zone Center Nuija AL Hilal yaitu kompleks pertokoan yang menyediakan minimarket (Abdulla Ali Bumatar minimarket), coffee shop dan shopping centre. Tempat inilah yang menjadi tempatku berbelanja kebutuhan pokok selama tinggal di Qatar.
Tea Center tempatku meminum Karak (teh tarik).
Tempat Ibadah.
Seratus meter di timur Zone Center Nuija AL Hilal terdapat sebuah musholla mungil yang menjadi tempat ibadah bagi warga sekitar kompleks. Musholla ini menjadi tempat ibadah lima waktuku selama di Doha.
Shalat Maghrib.
Sport Center.
Buat kamu yang ingin berolahraga rutin selama berwisata ke Doha, hotel ini sangat dekat dengan Hamad bin Khalifa Stadium yang bisa dikunjungi untuk menonton Al Ahli SC di Qatar Stars League atau hanya sekedar berbaur dengan aktivitas warga yang berolahraga di dalamnya.
One hour I have peeled heroic story in Unknown Hero Monument. Now I would study other history in a different park. It’s precisely east across of that dragon-shaped black monument. Only need to cross for a moment on Istana Street.
From a signboard display at park front gate, apparently West Sumatra was preparing to hold a race series belonging to Union Cycliste International on a week ahead.
The 9th Tour de Singkarak, the fifth ranked bicycle race in the world.
Climbing twenty-two black stairs, I reached park courtyard. Named as Bung Hatta Proclamator Monument Park, this park features a intact statue of Mohammad Hatta in his four-pocket safari dress who with his charisma waved his right hand toward a T-junction of Istana Street, Haji Agus Salim Street and Sudirman Street.
Park front gate.
If I had been under road surface when I was at Unknown Hero Monument, now I was high above road surface when I visited Bung Hatta Proclamator Monument Park. Two days exploring the city, it began to realize that I was sometimes briefly down, then suddenly I was on high. It isn’t Bukittinggi if it don’t like that.
Face to face with Bung Hatta.
Looks behind the statue, there are three wall pages which tell the story of a character struggle whose real name is Mohammad Ibn ‘Atta.
On the first wall page, you can see Bung Hatta’s life in his simple house, Hatta story who studying Islam at Batuampar and then continuing his education at MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs).
On second wall page, It is tell about a time when Hatta led “Perhimpunan Indonesia” Organization in Netherlands when he studied.
The first and second pages are on right side of Mohammad Hatta statue.
Third wall page is a beautiful period when Hatta managed to proclaim Indonesia independence with Ir. Soekarno on August 17th, 1945 until his struggling from one negotiating table to another negotiating one for world’s recognition of proclaimed independence.
And like a normal scenario, fourth wall page is Hatta’s retirement from his political world to the time when he received an award from President Soeharto (The second president of Indonesia).
Third and fourth page.
Streets have seemed crowded with activities, one by one residents who were exercising seemed to visit this park to just cool down after jogging, sat relaxed at park and took a picture with Bung Hatta statue which became pride figure of small city of Bukittinggi.
The park still looked wet as rest of heavy rain overnight.
Just thirty minutes for me to visited this park. I would continue Bukittinggi exploration by visiting Janjang Ampek Puluah, a connecting market link which is quite famous in this city’s tourism.
Sudirman Street situation was starting to get crowded with vehicles.
Pagi itu hasratku menuju pusat kota begitu terburu. Aku sudah tak sabar untuk melihat Doha lebih dekat. Tetapi keterburuanku tertahan sejenak, aku terus menghitung dengan detail budget transportasi yang kubutuhkan selama lima hari di Qatar. Supaya aku tak begitu banyak meninggalkan sisa saldo sia-sia di Karwa Smartcard nanti.
Sarapan sejenak dengan roti tawar kupas di airport bus terminal.
Perhitunganku memutuskan untuk menyuntikkan dana sebesar Rp. 118.000 untuk seluruh perjalanan yang mayoritas akan menggunakan bus kota. Besaran itu belum termasuk harga kartu Karwa Smartcard sebesar Rp. 39.000.
Ticketing Vending Machine.Karwa Smartcard adalah satu-satunya akses untuk menikmati jasa Karwa Bus.
Avsec: “Hi, No No No….Sir, Sorry, you can’t capture the building”, petugas berwajah Asia Selatan mendekat dan melarangku ketika mengarahkan kamera ke salah satu sisi Hamad International Airport dari platform airport bus.
Aku: “Oh, I’m sorry Sir….I don’t capture yet, I’m sorry”, aku segera memasukkan Canon EOS M10 ke folding bag.
Avsec: “Nice….Nice”, tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. “Where will you go?”
Aku: “I’m waiting for bus no. 727 to Nuaija. Do you know, When it will come?”
Avsec: “Oh, you better ask to Karwa Officer….Him (dia menunjuk ke petugas tambun yang sibuk dengan clip boardnya)”.
Aku beranjak menujunya dan menanyakan status Karwa Bus No 727, lalu dia memintaku untuk menunggu sekitar sepuluh menit.
Tepat waktu, bus itu tiba.
Nervous, pertama kalinya aku menaiki bus kota Qatar. Jika Dubai, Bahrain dan Oman lebih memilih warna merah untuk bus kotanya, maka Qatar memutuskan menggunakan warna hijau untuk itu.
Akulah penumpang pertama pada bus yang baru saja terparkir itu. Beberapa menit kemudian, satu persatu pekerja Hamad International Airport memasuki bus yang sama.
Bersiap menuju Distrik Nuaija.
Walau aku dilarang mengabadikan salah satu sisi bandara oleh aviation security tadi….Namun pada akhirnya, aku tetap mencuri gambarnya dari dalam bus….Dasar backpacker ngeyel….Hahaha.
Cekrek….Itulah bangunan bandara yang kuincar sejak tadi.
Selama menaikinya, Karwa Bus berjalan pelan nan santai saat membelah jalanan kota. Layaknya moda transportasi umum di kota-kota beradab lainnya yang memastikan setiap penumpang merasa aman.
Pembayaran dilakukan dengan men-tap Karwa Smartcard di tap machine sebelah sopir. Perlu kamu ketahui bahwa kemudi kendaraan di Qatar ditempatkan di sisi kiri. Sedangkan selama di sana, aku memasuki dan menuruni bus selalu dari pintu depan. Tentu sebelum menuruni bus, aku wajib mengecek saldo Karwa Smartcard yang tersisa di tap machine yang sama.
Menunggang bus selama tiga puluh menit, mataku terus lekat memandangi segala cetak arsitektur kota yang terlalui, juga dengan beragam aktivitas warga yang teramati.
Diturunkan di Nuaija intersection.
Begitu turun dari bus, angin meniup tubuhku dengan kencangnya, membawa partikel-partikel lembut pasir bersamanya. “Inikah rasa angin gurun? “, hati bergumam seketika. Mata telanjangku terpaksa terkorbankan untuk berkali-kali diterjang pasir-pasir lembut itu. Aku tak sanggup lagi mencari kacamata rayban yang entah kutaruh di sebelah mana dalam backpack. Suhu dua belas derajat celcius memaksaku untuk segera mencapai Casper Hotel, tempatku menginap.
Al Emadi Hospital yang kulewati di pinggiran D Ring Road.Bunga segar yang tumbuh dengan teknik hidroponik.
Setelah berjalan sejauh satu setengah kilometer dan dalam waktu dua puluh menit, akhirnya aku tiba di hotel yang tampak sebagai hasil menyulap kompleks perumahan menjadi sebuah penginapan sederhana.
There was only Noah who snoring flounder due to residual effects of drunk last night at De Kock Cafe’s 1st floor. I tried to remain quiet to bath under shower at edge of room. Even until I was ready to wander, his snoring didn’t change at all.
Cafe’s 1st floor remained wide open without a guard when I left hotel in half-dark, quiet and still cold.
Down through same road when yesterday afternoon hunting for the charm of Gadang Clock Tower, only this time, I was alone who looked very rushed in the quiet of morning.
Nagari Bank and Novotel were once again overtaken without expression, I had seen them yesterday afternoon. Likewise, I passed Gadang Clock Tower without any impression. Same, maybe because I snatched its charm a day ago. I just thought to immediately landing my step in a city park.
Bukittinggi branch of Nagari Bank.
However, before entering the park, I was a little interested in the charm of a golden yellow large building. It is Balai Sidang Bung Hatta as mainstay Convention Center in Bukittinggi city.
Balai Sidang Bung Hatta.
On 7:10 hours, I began to enter the park which is located under Istana Street surface in west. While a gray high building which is owned by Bank Negara Indonesia (BNI) Bukittinggi limited my eyes to east.
Photo taken from south side.
Park focal point lies in an artistic black monument in its middle circle. That’s the Unknown Heroes Monument which was designed by sculpture artists from Padang Panjang City, i.e Hoerijah Adam. Hoerijah Adam name itself was later enshrined as a name of Dance Workshop in Taman Ismail Marzuki, Jakarta after Merpati Nusantara airplane accident of Vickers Viscount type which she rode in the Indian Ocean.
This monument was built to commemorate heroes resistance who couldn’t be identified with certainty in opposing Dutch Colonialism on June 5th, 1905. The resistance itself was due to application rejection of a 2% income tax for natives over all forms of trade which they undertaken.
The monument which is form of a dragon circle.
Laying of the first stone was carried out by General Abdul Haris Nasution on June 15th, 1963 who was then serving as Chief of Armed Forces Staff. And two years later this monument was inaugurated.
On one side of monument, there is a loud quote from a famous writer who is also an Indonesia National Hero, none other than Muhammad Yamin:
“Noble Dead without Tomb
Deciding Soul and Leaving Name
Become Cloud in Space
Becoming Froth in Ocean
Spread Out Its Fragrant in Air“
As it turned out, Bukittinggi kept a lot of history of nation struggle which I had only just found out after visiting it.
It was fun….Backpacking while getting to know about nation history.
Mungkin sosok yang berjasa membawaku ke Qatar adalah Valentino Rossi. Ya….Legenda hidup balapan kuda besi premium itu telah sekian lama memaksaku menyambangi Losail International Circuit melalui layar televisi. Selama bertahun-tahun menonton MotoGP itu pula, niat untuk mengunjungi Qatar mulai mengganggu tidur malamku.
Mimpi itu telah menjadi sebuah kenyataan indah ketika selama lima hari aku bisa menjelajah Qatar di awal tahun 2020. Kini saatnya bagiku untuk menceritakan kepada kalian tentang keelokannya. Berikut sedikit banyak kenangan yang kudapatkan di negeri kaya “emas hitam” itu:
1. Hamad International Airport
Bisa ditasbihkan bahwa Hamad International Airport (HIA) adalah penyempurna gerbang pariwisata Qatar. Sejak heksa warsa lalu, HIA sukses menggantikan peran Doha International Airport. Perlu kamu ketahui bahwa penamaan bandara ini di catut dari nama Emir Qatar, Hamad bin Khalifa Al Thani.
Pagi yang cerah kala itu, aku mengamini kemegahan bandara yang terletak di tepian Teluk Persia ini. Inilah bandara yang menyimpan aset “Beruang Kuning” senilai 91 milyar Rupiah….Wowww.
2. Karwa Bus
Sebagai seorang yang taat dengan kode etik kaum backpacker, aku hanya dihadapkan pada dua pilihan untuk menuju pusat kota…..Kereta atau bus?. Kali ini bus menjadi pilihan pertamaku.
Belum juga melihat dan menaikinya, sudah terbayang bahwa aku akan menaiki bus kota berpenampilan modern ketika nanti meninggalkan bandara.
Bus kota Doha dikenal dengan nama Karwa Bus dan dibutuhkan KARWA Smart Card untuk mengunggangnya. Seluruh bus kota Doha dioperasikan oleh perusahaan transportasi negara yaitu Mowasalat. Rerata tarif sekali jalan juga sangat terjangkau yaitu sekitar Rp. 10.000.
3.Al Ghanim Bus Station
Setelah check-in di Casper Hotel dan menaruh semua perlengkapan, aku mulai mengeksplorasi kota Doha. Tempat pertama yang kujejak adalah Al Ghanim Bus Station sebagai tujuan akhir Karwa Bus bernomor 12 yang mengangkutku dari sebelah hotel.
Terletak di Municipality Ad Dawhah, Al Ghanim Bus Station adalah landmark penting. Terminal bus ini tentu mengcover sebagian besar rute Karwa Bus di Qatar. Al Ghanim Bus Station mengambil peran sebagai terminal sentral di Qatar sekaligus menjadi kantor pusat Mowasalat. Jika kamu berniat menjelajah wisata Qatar menggunakan bus, pasti kamu akan sering menyambangi terminal ini.
4.Abdul Aziz Nasser Theater
Inilah ruang pertunjukan untuk multidisiplin seni yang mensupport seniman lokal dan internasional. Terletak di pusat kota Doha dengan kapasitas hampir seribu tempat duduk. Bahkan untuk mempermudah pelaksanaan event-event besar, teater ini dikoneksikan secara langsung dengan Al Mirqab Hotel yang terletak tepat di sisi baratnya.
5.Al Fanar Mosque
Aku mengunjungi masjid ini setelah mengeksplore Al Ghanim Bus Station. Lokasinya hanya berjarak satu kilometer di utara terminal. Al Fanar adalah Pusat Kebudayaan Islam Qatar yang lebih dikenal dengan nama Al Sheikh Abdullah Bin Zaid Al-Mahmood Islamic Cultural Center. Selain mengenalkan budaya Qatar melalui Islam, Fanar Cultural Center ini juga menyelenggarakan kegiatan sosial dan pendidikan.
6.Souq Faleh
Souq Faleh dan Al Fanar Masque hanya dipisahkan oleh Al Tarbiya Street. Merupakan salah satu dari sekian banyak pasar-pasar tua di Doha. Jika kamu penggemar Abaya, maka pasar ini menjadi tempat yang tepat untuk memburunya, karena harga yang ditawarkan tergolong lebih murah dari pasar-pasar yang lain.
7.Domes Mosque
Sedang asyik berkunjung ke Souq Faleh, tiba-tiba suara adzan Dzhuhur memanggil. Tampaknya aku harus segera mengakhiri eksplorasiku sejenak dan menuju ke sebuah masjid tua di tenggara. Masjid dengan banyak kubah dan tiang ini masih berdiri gagah di tengah modernnya kota. Shalat Dzuhur siang itu dipenuhi jama’ah yang datang dari segenap penjuru. Dan itu adalah shalat berjama’ahku pertama kali di Doha.
8.City Souq
Bersebelahan dengan Al Fanar Mosque di sebelah timur, tepat di salah satu sudut perempatan Al Tarbiya Street dan Al Bareed Street terdapatlah shopping mall modern dengan julangan tujuh lantai yang kemudian tampak mengkerdilkan bangunan Central Municipal Center di seberangnya. Aku memasukinya hanya untuk sekedar berburu fridge magnet lalu mencuri foto suasana di dalam.
Dikenal dengan nama City Souq, mall ini menyediakan pakaian, garmen, sepatu, parfum, mainan anak-anak, stationery, selimut dan abaya. Berlatihlah menawar sebelum berbelanja di tempat ini.
9.Souq Waqif
Berusia lebih dari dua abad, tak membuat Souq Waqif merubah bentuk arsitekturnya. Menjadi satu-satunya pasar tradisional kuno di seluruh Qatar.
Waqif berarti berdiri. Karena pada masa perintisan pasar, tidak ada satupun kios yang dibangun. Hal ini disebabkan karena meluapnya air laut dari pantai Doha yang menggenangi pasar. Bahkan diawal berdirinya, para pembeli akan datang menggunakan perahu atau menaiki onta untuk mensiasati genangan tersebut dan penjual akan berdiri sepanjang hari untuk menawarkan dagangannya.
10.The Pearl Monument
Meninggalkan sejenak Souq Waqif untuk kemudian kutengok ulang esok hari, aku menyasar The Pearl Monument di seberang Al Corniche Street yang menyediakan fasilitas penyeberangan bawah tanah di kolongnya. Kurasa tak hanya traveler, bahkan seluruh warga negara Qatar hendaknya wajib mengunjungi monumen berwujud kerang mutiara menganga ini. Melalui monumen ini, semua khalayak harus tahu bahwa sebelum tahun 1939 yaitu era sebelum ditemukannya minyak di perut bumi mereka, Qatar adalah negara miskin yang pendapatannya bergantung pada hasil tangkap kerang mutiara di Teluk Persia.
11.Corniche Promenade
Mengunjungi The Pearl Monument membuatku bahagia tak terkira, selain mendalami sejarah Qatar, mata dimanjakan dengan indahnya pemandangan Doha Corniche. Promenade sepanjang tujuh kilometer ini menampakkan lengkungan Teluk Doha yang dijejali gedung pencakar langit di ujungnya. Sementara sebaran traditional dhow boat yang diam terjangkar di sepanjang teluk menjadi interior alam yang mengelokkan suasana.
12.Museum of Islamic Art
Tepat di ujung timur Doha Corniche terdapat bangunan yang didirikan layaknya mengambang di tepian laut. Adalah Museum of Islamic Art yang didalamnya dipamerkan kekayaan budaya Islam dari tiga benua yang telah berusia lebih dari 1.400 tahun lamanya. Inilah museum andalan Qatar yang didirikan oleh saudara perempuan dari Emir mereka yaitu H. E Sheikha Al Mayassa binti Hamad bin Khalifa Al Thani. Keberadaan museum ini telah mentasbihkan Qatar sebagai ibu kota budaya kawasan Timur Tengah.
13.MIA Park
MIA dalam nama taman ini adalah singkatan dari Museum of Islamic Art. Sesuai namanya, sebelum mendatanginya, semua orang sudah bisa dipastikan faham bahwa taman ini terletak tepat di depan Museum of Islamic Art. Taman yang sering menjadi venue resmi negara pada perayaan hari libur nasional, selain itu taman ini sering dipakai sebagai tempat berlangsungnya pertunjukan musik, kegiatan bazaar ataupun konser-konser regular lainnya. Sedangkan khusus di hari Selasa dan dimulai pada pukul 17:00, taman ini menjadi area publik khusus kaum Hawa yang biasanya dipimpin oleh personal trainer dalam latihan kardio dan senam kebugaran.
14. Doha Hop On Hop Off Bus
Buat kamu yang tidak mau repot menjelajah Doha. Pariwisata Qatar menyediakan Hop On-Hop Off Sightseeing Tour. Jadi kamu cukup duduk manis dari atas bus dan akan diantarkan ke beberapa destinasi wisata di Doha. Bus ini berentang waktu tiga puluh menit dalam pengoperasiannya. Melewati destinasi wisata utama Qatar yaitu Souq Waqif, Katara Cultural Village, The Pearl Qatar dan Museum of Islamic Art. Untuk memanjakan para traveler, bus ini juga berhenti di Hotel Marriott, Sharq Village and Spa, Sheraton dan Hilton Hotel.
15. West Bay
Hari Kedua….Udara sangat berangin dan dingin tentunya. Menaiki Karwa Bus bernomor 12 dan bersambung dengan nomor 64, aku menuju West Bay. Kompleks bangunan pencakar langit itu seakan melambai-lambaikan tangannya kepadaku ketika kupandangi dari sisi lain Doha Corniche sore kemarin.
Kini aku tepat berada di tengah area bisnis di pantai timur Doha ini. Sebuah area yang mengcover tiga distrik sekaligus, yaitu Al Qassar, Al Dafna dan West Bay Lagoon. Akhirnya dari dekat, aku bisa menikmati Burj Doha, bangunan paling ikonik di Qatar itu.
16.City Center Doha
Menelusuri setiap inchi jalanan di West Bay, aku sampai juga di salah satu shopping mall tertua di Qatar. City Center Doha yang diletakkan di pusat bisnis tetapi ditargetkan melayani para pelanggan dari kelas ekonomi menengah. Tepat berloksi di tengah area West Bay, shopping mall ini terkoneksi secara langsung dengan tiga hotel mewah yaitu Shangri La Hotel, Rotana Hotel dan Merweb Hotel.
17. Doha Metro
Untuk pertama kalinya aku menaiki Doha Metro. Sistem tranportasi masal teranyar milik Qatar yang dioperasikan sejak setahun lalu. MRT tiga jalur (Red Line, Green Line dan Gold Line) yang dimiliki oleh Hamad Group ini ditasbihkan sebagai kereta tanpa pengemudi tercepat di dunia dengan kecepatan jelajah mencapai 100 km/jam.
Kali ini aku menikmati fasilitas mewahnya dari Stasiun DECC (Doha Exhibition & Convention Center) di Wet Bay menuju Stasiun Katara yang merupakan akses mengunjungi Katara Cultural Village.
18.Katara Cultural Village
Doha Metro menurunkanku di stasiun Katara. Hanya perlu berjalan kaki sejauh setengah kilometer untuk sampai di Katara Cultural Village, sebuah pusat budaya di Qatar. Terletak di pantai timur antara West Bay dan The Pearl, perkampungan budaya ini telah berdiri sejak sepuluh tahun lalu.
Katara sendiri adalah nama untuk Qatar sebelum Abad ke-18. Kata “Catara” pada seratus tahun pertama Masehi disematkan untuk menamai Semenanjung Qatar yang terletak di selatan Teluk Persia.
19.Aspire Park
Eksplorasi hari ketigaku di Qatar kumulai sedikit siang. Menunggu matahari meninggi, karena aku akan bermain di area terbuka, yaitu Aspire Park. Nama taman yang diambil dari nama sebuah area, yaitu Aspire Zone yang merupakan nama beken dari Doha Sports City di Distrik Baaya.
Karwa Bus bernomor 301 menurunkanku di Villaggio Shelter Bus tepat jam 11:44. Aku berjalan kaki menuju taman yang terletak di barat Qatar itu. Aspire Park adalah taman indah nan luas yang melengkapi diri dengan playground, air mancur, beberapa coffee shop bahkan menciptakan satu-satunya danau di Qatar.
20.The Torch Doha
Masih di Aspire Zone Complex, melangkah sedikit ke timur, aku tepat berada di bawah sebuah hotel setinggi 300 meter. Sering disebut dengan panggilan Aspire Tower, walaupun nama resminya adalah The Torch Doha.
Adalah buah karya konsultan arsitektur dari Perancis, inilah bangunan yang saat ini masih menjadi yang tertinggi di Doha. Hotel 36 lantai ini telah menyumbang jasanya untuk Qatar sebagai focal point (titik fokus) pada perhelatan Asian Games ke-15.
21.Khalifa International Stadium
Khalifa International Stadium disandingkan tepat di sebelah The Torch Doha. Sering dipanggil dengan nama National Stadium. Seperti bandara megah mereka, gelanggang sepakbola ini juga mencatut nama Emir Qatar Hamad bin Khalifa Al Thani. Inilah kandang resmi tim nasional sepakbola Qatar dengan empat puluh ribu kapasitas tempat duduk.
Di empui oleh Qatar Football Association, stadion ini adalah saksi dimana Australia dijungkalkan oleh pasukan samurai biru dengan gol tunggal Tadanari Lee pada perhelatan final AFC Asian Cup 2011.
22.Villaggio Mall
Kunjungan di Doha Sports City, kuakhiri dengan memasuki Villaggio Mall. Mall di pinggiran Al Waab Street ini dikembangkan oleh Gondolania Entertainment, oleh karenanya konsep wisata gondola di kota Venice di adopsi di pusat perbelanjaan satu lantai ini.
Didesain di dalamnya canal indoor sepanjang 150 meter lengkap dengan perahu gondola, mengingatkanku ketika mengunjungi The Venetian di Macau 3 tahun silam.
Retailer utama di Villaggio Mall adalah Carrefour, akan tetapi pusat perbelanjaan ini juga mengakomodasi 200 toko yang menjual brand-brand ternama asal Amerika, Inggris, Italia dan Jerman. Yuk, yang hobby belanja, silahkan mampir ke sini !
23.Al Koot Fort
Hari keempat, aku berniat menelusuri area MDD (Mshreib Downtown Doha) yaitu sebuah kota pengganti Distrik Mushayrib yang pengembangannya direncanakan dengan detail.
Tetapi sebelum memasuki area MDD, aku sempatkan mampir di Al Koot Fort yang telah berusia 93 tahun. Adalah jasa dari Emir keempat Qatar, Sheikh Abdullah bin Jassim Al Thani yang membangun benteng ini dengan tujuan melindungi Souq Waqif dari kelompok pencuri terkenal pada waktu itu.
Setelah mampir di Al Koot Fort atau Doha Fort ini, barulah aku melangkah memasuki area MDD. Yuk lihat ada apa saja di MDD ?
24.Msheireb Museum
Tempat wisata utama yang kukunjungi di Mshreib Downtown Doha adalah Msheireb Museum yang dikembangkan oleh Msheireb Properties (Pengembang Real Estate Nasional Qatar). Aku dengan tekunnya menelusuri empat rumah warisan bersejarah yang menjadi bagian utama dari Msheireb Museum. Yaitu Bin Jelmood House yang mengungkap sejarah perdagangan budak di negeri itu, Company House yang mengungkap kisah para pioneer pekerja industri minyak Qatar, Mohammed Bin Jassim House yang merupakan rumah yang dibangun oleh putra pendiri Qatar, Sheikh Mohammed bin Jassim Al Thani serta Radwani House yang merupakan duplikasi model rumah asli Qatar.
Kalau kalian ke Qatar, wajib datang ke sini ya….Free ticket kok, santuy….
25. Msheireb Tram
Menaiki Msheireb Tram adalah cara mudah untuk menikmati keindahan MDD. Transportasi massal ini diluncurkan oleh Msheireb Properties dengan loop track sepanjang dua kilometer dan mampu menghubungkan setiap spot di MDD dalam waktu delapan belas menit saja.
Kamu harus merasakan nyamannya tram listrik buatan Amerika yang menggunakan filtering glass panel yang katanya mampu mencegah masuknya sinar matahari ke dalam ruangan tram hingga 90%.
26. Doha Free Metrolink
Sebelum meninggalkan Qatar, di hari terakhir aku mencoba menjajal Doha Metrolink yang merupkan jaringan feeder bus untuk mengkoneksi siapapun dengan Doha Metro Station dalam radius dua hingga lima kilometer.
Tidak dipungut biaya dalam memanfaatkan jasa feeder bus ini. Pemerintah Qatar menyediakan empat puluh dua jalur Doha Free Metrolink yang beroperasi dari jam enam pagi hingga jam sebelas malam.
Jika kalian mau berwisata hemat di Qatar, carilah hotel yang dilalui oleh rute bus ini. Apalagi kalau hotelnya agak jauh dari pusat kota, pasti akan lebih menghemat kantongmu….Hihihi.
Semoga pandemi COVID-19 ini segera berakhi dan kamu bisa segera melancong ke Qatar….Amin.
I instantly realized that I hadn’t fulfilled yet Maghrib Prayer. While time had shown at 19:10 hours and prayer sounds had disappeared since earlier. Then time forced me to immediately move from Bukittinggi Plaza courtyard.
Walking through Cinduo Mato Street, I didn’t find a crowd like I imagined. Many shops on either side of road had begun to close its door. Only few shops still opened because they still had to serve some customer who passing through on streets.
I arrived at Bukittinggi Grand Mosque. A holy building with eight arched windows on second floor. Right on road side and marked by a green glowing tower in one of its front corners.
The front yard of Bukittinggi Grand Mosque.
Entering its terrace area, one thing which attracted my attention was concrete seating provision for women on left side, while men seating was placed on right wing. Separation began since entering its terrace.
Women’s seat behind a concrete fence.
I fulfilled Maghrib Prayer on red carpet, while other worshipers were solemnly listening sermon from religious leader who preached from pulpit. I calmed my mind, sat cross-legged and watered my hard heart with heavenly advice, something I rarely followed.
Ostad’s sermon which I followed to the end.
I went out with congregation, the Adam and Eve folk regularly came out on track. Married couples left the mosque one by one by riding motorbikes, some rode bicycles. While youths were seemed to entering narrow alleys towards their homes.
The end of Canduo Mato Street was gradually deserted. Bright shades of shophouses began to be abandoned by visitors. While some traders were still patient waiting for remaining buyers who would came.
Hunting for crowds, I crossed Minangkabau Street then entered Ahmad Yani Street. I really found it. Parking lots along shophouses were still packed with four-wheeled vehicles, making me even more excited to postpone my returning to the inn.
Ahmad Yani Street at southern end.
I continued to step past a T-junction which is cuted by Ahmad Karim Street from south left. Then continued with found tent stalls which lined lengthwise on one side of Ahmad Yani Street with Limpapeh Bridge view which was full of lights.
Row of culinary stalls along Ahmad Yani Street.
Ahhhh….Padang Satay was only USD 1.1.
Satay scent which a minute ago was completely chewed by sense of taste, instantly drove out drowsiness which clung my eyelids since Ostad’s heavenly sermon at Bukittinggi Great Mosque.
Continued with displacing meatball bench to a coffee maker, my time slowly depleted at the same time with increasingly disappearing of “iron horses” bustles with vehicle license plate BA.
Temperature degree that night quickly diminished, I who didn’t wear jacket really felt Bukittinggi cold air, forced me to immediately withdrawed from street and slowly walked towards the inn. Tomorrow I would early wake up and walking around the city in early morning.
Memasuki lantai satu penginapan, Noah, Si Insinyur Amerika itu mEntering the first floor of hotel, Noah, an american engineer waved his right hand and greeted me with a big smile. A large beer bottle was in his left hand. “I will sleep early“, I told him. He raised his right thumb while saying a short word, “See you tomorrow”.
Tepat pukul 5:16 pagi, apron shuttle bus putih milik Qatar Aviation Services (QAS) menyelesaikan tugasnya dalam mengangkut semua penumpang Kuwait Airways bernomor terbang KU 621. Qatar Aviatin Services sendiri adalah perusahaan utama yang berfokus pada ground handling di Hamad International Airport (HIA).
Menuju konter imigrasi.
Dari ketibaan, perlu waktu tiga puluh menit hingga menyelesaikan proses imigrasi, lalu melintasi exit gate dan menikmati segarnya suasana Arrivals Meet and Greet Hall.
Baggage conveyor belt.
Arrivals Meet and Greet Hall
Tampak bawah.Tampak atas.
Berburu informasi tentang pariwisata Qatar di information desk, aku terdiam memperhatikan tampilan di neon box. Dipaparkan pola yang menunjukkan bahwa HIA telah mendapatkan Airport Carbon Accreditation Level 3. Ini menunjukkan bahwa bandara ini mampu merespon perubahan iklim melalui program optimasi energi dan berhasil dalam kolaborasi bersama stakeholders dalam mengelola emisi pihak ketiga.
Information desk.
Waktu yang terlalu pagi mampu menidurkanku si sebuah kursi bercover kulit warna cokelat dan terletak di bawah pohon kurma yang menjulang tinggi di ruangan.
Kursi tunggu itu….
Satu setengah jam kemudian, aku terperanjat. Matahari mengintip ruangan dan pengunjung bandara sudah ramai berlalu-lalang. Pergilah aku ke sayap timur untuk berbasuh dan mempersiapkan diri untuk meninggalkan bandara.
Toilet.Sangat bersih.
Dua botol minum yang mengering sejak semalam kini terisi. Aku meninggalkan area depan toilet yang dihiasi sekawanan kijang bertanduk panjang yang disebar di sebuah sisi hall. Cokelat mengkilat bak kijang petarung.
Free water station.Seni kontemporer ala Belanda, “8 oryxes” merepresentasikan kawanan kijang khas Jazirah Arab.
Di sayap barat, aku berburu money changer. Sedikit tricky untuk menemukannya, sedikit masuk ke kanan dari hall utama. 144 Dollar Amerika berganti menjadi 479 Riyal Qatar, lalu tersisih 70 Riyal untuk membeli SIM Card berkuota 2,5 GB dengan masa berlaku 30 hari.
Travelex Qatar Money Changer.Booth Oredoo.
Aku menemukan lagi karya seni kontemporer setelah menukar Dollar. Karya tanpa nama sebagai bentuk penghormatan kepada para pekerja pembangun HIA. Tampak tanda tangan mereka tertoreh pada karya seni ini.
Seni rasa Italia.
Masih di sayap barat, selesai melengkapi diri dengan air minum, SIM Card dan beberpa lembar Riyal, tiba saatnya menuju ke kota menggunkan airport bus bernomor 727. Untuk menaikinya diperlukan KARWA Smart Card yang bisa dibeli di automatic ticketing machine di ruang tunggu airport bus terminal.
Ruang tunggu airport busterminal.
Departure Hall
Jika empat hari sebelumnya aku menuju kota menggunakan airport bus, maka saat meninggalkan Doha, aku menggunakan Doha Metro menuju HIA. Ingin merasakan perbedaan saja. Dari Casper Hotel, aku menaiki Free Doha Metrolink Shuttle Service. Bus warna cokelat berkelir pink itu menurunkanku di Stasiun Oqba Ibn Nafie. Meluncur bersama Doha Metro, berselang satu stasiun, aku sampai di Stasiun Hamad International Airport T1.
Interior stasiun bandara.
Sebelum melewati airport car park, menara HIA Mosque menjadi pemandangan terbaik pada lintasan skybridge yang menghubungkan Stasiun Doha Metro dan Terminal 1. Kemudian, travelator menyelematkan otot betisku yang kelelahan setelah lima hari menelusuri jalanan panas Doha.
Menara HIA Mosque.Lahan parkir Terminal 1.Travelator menuju Terminal 1
Kini aku terduduk di check-in counter zone menunggu nomor penerbangan milik Philippines Airlines muncul di salah satu dari 12 layar LCD yang terpajang di tembok etalase. Bak menunggu nomor lotre, aku girang ketika nomor itu benar-benar muncul. Bergegaslah aku menuju konter check-in PR 685 yang tampak senyap.
Konter check-in baris ketujuh.
“Hi, please queue, Sir!” tegur ground staff yang otomatis mengerem langkahku. Dia menunjuk antrian warga Philippina yang bermula dari sebuah tiang bandara. Mereka semua menertawakanku dan menyungkurkan mukaku dalam rasa malu.
Konter check-in.
Selesai mengecap passport, aku menuruni tangga dan menemukan impian lama. Tampak jelas lucunya Lamp Bear yang duduk tak berdaya tertancap pada sebuah tiang lampu berwarna hitam. Setiap yang melintas berebut mengabadikan dirinya dengan si beruang naas itu. Seorang Bangladesh akhirnya membantu mengabadikan diri dengan si beruang.
Duty free zone bermascot Lamp Bear di tengahnya.Yihaaaa….
Aku mulai mencari keberadaan gate D3, gerbang dimana aku terbang ke Manila. Menaiki sebuah escalator dan bersambung dengan skytrain menuju concourse D. Dalam 2 menit, skytrain menurunkanku di hall baru dengan banyak percabangan menuju ke seluruh gate di councourse D dan E. Percabangan itu ditandai dengan seni kontemporer bertajuk “Cosmos” di tengahnya.
Menuju gate D3.HIA skytrain.Seni kontemporer ala Perancis bernama “Cosmos”yang melambangkan budaya traveling dunia.
Akhirnya aku sampai di ruang tunggu gate D3 dan menanti Philippines Airlines tiba untuk menjemputku.
Gate D3.
Gimana Hamad International Airport, Megah sekali kan?.