• <—-Kisah Sebelumnya

    Kamu kenal “Si Ganteng” ini kan?…

    Gambar itu adalah penggalan adegan film “ The Last Samurai”, ketika Kapten Nathan yang diperankan Tom Cruise bertarung secara terhormat bersama pemimpin para Samurai yaitu Katsumoto yang diperankan aktor kawakan Jepang Ken Watanabe melawan tentara Kaisar Meiji yang dilatih oleh Angkatan Darat Amerika. Latar belakang perang ini adalah “Modernisasi Vs Feodalisme”. Kaisar mengagungkan modernisasi dan Samurai mempertahankan tradisi.

    Itulah sedikit dari banyak mozaik memilukan penyusun sejarah Jepang ketika bertransformasi dari negara konvensional menjadi negara modern. Satu mozaik itu adalah Perang Boshin, perang saudara yang meninggalkan bekas kerusakan dan terekam di dalam tempat bersejarah yang aku kunjungi ini.

    Yups….Inilah Osakajo….Khalayak menyebutnya Kastil Osaka atau Osaka Castle.

    —-****—-

    Pukul 09:50, aku menjejakkan langkah di peron Stasiun Tanimachi 4-chome, kemudian keluar melintasi salah satu gerbangnya dimana Osaka Museum of History dan Hoenzaka iseki berdiri gagah  di pelatarannya. Langkahku terus tersambung di Uemachi-suji Avenue dengan hiasan pohon red maple  di kedua sisinya.

    Sejarahnya yang kuat menjadikan Osaka Castle sebagai destinasi pertamaku di kota berjuluk “Manchester dari Timur”. Aku memang tak mau menunda dan kehilangan pandangan pertama pada istana raja yang berusia lebih dari empat abad itu. Jaraknya yang hanya enam kilometer dari Hotel Kaga tempatku menginap dan tersedianya jalur Osaka Metro menujunya membuatku begitu mudah mengakses destinasi itu.

    Kamu berani kenalan ga?

    Tak lama berjalan kaki, aku pun tiba di Osaka Castle, melalui Otemon Gate tepatnya. Otemon Gate sendiri berada di sisi timur istana, sedangkan di seberang barat disediakan Aoyamon Gate. Seperti layaknya istana zaman dahulu, tempat ini dikelilingi oleh kanal lebar sepanjang hampir seratus meter sebagai bentuk pertahanan.

    Melewati sebuah jembatan, jalur pejalan kaki mulai mengarahkan setiap wisatawan memasuki sisi Otemon Gate. Diawali dengan pintu berbahan dua lembar baja menjulang. Setelahnya, terpampang dinding-dinding berbahan andesit halus yang beberapa diantaranya dibiarkan utuh dengan panjang dan lebar hampir lima meter.

    Tak lama gerbang kedua menyambut. Gerbang dengan ukuran lebih besar dari yang pertama itu berjuluk Osakajo Tamon-yagura yang disusun dari kayu-kayu besar, utuh serta kokoh. Melewati gerbang kedua inilah, wisatawan secara otomatis memasuki area istana yang memiliki luas tak kurang dari enam hektar.

    Dalam beberapa fragmen perjalanan, diceritakakan bahwa kastil ini pernah luluh lantak oleh api akibat Perang Boshin pada tahun 1868. Nah Perang Boshin sendiri sudah diilustrasikan oleh Tom Cruise pada preambule di awal.

    Osakajo Tamon-yagura
    Osakajo yang terbakar…..

    Tibalah aku di pelataran selatan, sebut saja Osaka Castle Park. Disinilah para wisatawan berkumpul dan menikmati keanggunan kastil buatan Toyotomi Hideyoshi, sang pemimpin Jepang  Zaman Sengoku.  Aku menyempatkan diri berfoto dengan samurai tua di pelataran kastil. Bahkan untuk mengusir kesepian, aku sering iseng dengan berpose di belakang rombongan turis yang sedang berfoto. Nyengir kuda, melompat, melambaikan tangan atau apapun kulakukan. Terkadang membuat salah satu rombongan itu menunjukku sambil tertawa setelah melihat hasil foto di kamara digital mereka. Parah akut memang.

    Genap satu jam menikmati Osaka Castle, aku memutuskan untuk duduk dan menikmati Ikayaki yang kubeli dari food truck yang berjejer rapi di timur pelataran. Setusuk Ikayaki disana dihargai dengan 300 Yen (Rp. 41.000). Eh, tahu kan Ikayaki?…. Itu lho, cumi bakar ukuran besar yang dibumbui mirin (bumbu khas Jepang).

    Baju zirah milik samurai asli kan warnanya hitam.
    Kalau punya duit, boleh ngemil. Kalau ga punya duit tapi kepengen, boleh juga, ga ada yang ngelarang.

    Menuntaskan Ikayaki, atau tepat pukul 10:30, aku mulai meninggalkan area Osaka Castle dan berencana menuju ke Distrik Kota Naniwa.

    Kemanakah gerangan?……….

    Kisah Selanjutnya—->

  • Thai Airways TG 436 flight route.

    Finally, I repeated my journey to “White Elephant” Country after my last exploration in 2013. For four years, I waited for that opportunity. If in 2013, I flew with Air Asia to Don Mueang International Airport so this time I was very lucky because I was able to catch a cheap promo which was issued by Thai Airways in April 2017.


    Waiting for 8 months before actually flying was something that was very unpleasant. Not because of Bangkok, but only because of my desire to taste premium wide-body aircraft. A year before, I had boarded in same type of plane belonging to Air Asia when I returned from Incheon.


    —- **** —-

    After Friday, I perfected my packing for 11 days trip which would certainly make you were curious. At exactly 15:00 hours, I hurriedly carried my backpack on “angkot” (a small public trasportation in Jakarta) which went to Kampung Rambutan Terminal. That angkot which took so long to arrive, punished me by taking a DAMRI bus in next- a departure schedule.


    On 16:00 hours, DAMRI launched but not long after, toll road became stuck. DAMRI didn’t moved in a long time. There have been road repairing in a tunnel combined with an incident which a truck rolled over 400 meters in front. Even though, my flight was scheduled for 19:05 hours. That means, I have to be ready at 17:55 hours before actually boarding….Too tight time.
    Luckily, a Highway Patrol sirens began to sound in its way heading forward. Significantly, 15 minutes later DAMRI smoothly drove to Terminal 2-Soekarno Hatta International Airport.

    Thai Airways finally became the 18th airline which I rode.
    Started to boarding.

    Luckily, Soekarno Hatta International Airport was very quiet and only needed 5 minutes for check-in process, and then I got a purple and white boarding pass. I passed all x-ray checkpoints very quickly as only a 45 litre backpack which needed to be screened.


    I entered tAirbus A330-300 via its right-side cabin lane to find a seat numbered 52K. This time, it would be very relieved that I sat alone in three column seat. I was a plebeian….Just this time, I got on a plane with an LCD screen in front of my eyes….I pushed all button as I liked.

    Jakarta-Bangkok is 3,000 km away and can be approached in 3 hours and 35 minutes with an average speed of 475 knots (880 km/hour). You can imagine how fast it is.

    The moslem meal was served after giving a brown rice cracker and apple juice.

    During flight, beautiful Thai-faced flight attendants were indeed captivating as far as my eye could see. Unfortunately, I was just a backpacker….If I was a top class businessman….. I would definitely propose to her….Hihihi.

    Landing in the first time at Suvarnabhumi International Airport.

    Arrival at 22:35 hours left me with no other option. It was impossible to leave the airport and heading for the city. If there was time, I might as well be reluctant. Because Bangkok wasn’t my destination….But, NEPAL.


    Yess… .Nepal would be the 11th country which I visited.

    Do you want to know about my next story to “The Land of a Thousand Temples”?
    Just follow my story when I explored it.

    Search for flights from Jakarta to Bangkok via 12go Asia. This is the link:  https://12go.asia/?z=3283832

    Next Story—->

  • <—-Previous Story

    Danar Hadi Ancient Batik Museum.

    I was just trying to find as much information as possible about some events which would be held at Sriwedari Park in two months since my arrival. But unfortunately, there would be no cultural performances in next two months at that cultural park. That means, Marketing Conference participants couldn’t be directed to enjoy cultural performances at Sriwedari Park. Okay, that was okay, this survey was arguably a failed, but on other hand, at least, I had time to visit Sriwedari Park and added cultural treasures about Solo, even though it only took half an hour to visit.

    At half past ten in evening, I started to leave Sriwedari Park. Then again swinging steps to east to survey the last destination on Jaladara Tourist Train Line. The place which I was aiming at was still a heritage site, located half a kilometer from Sriwedari Park.

    This destination was nicknamed House of Danar Hadi. Of course, I already knew that when I arrived, this place was definitely closed because its operating hours was only until five in the afternoon every day. But that was okay, I only meant to confirm the place because I definitely recommended Marketing Conference Event Division to including this place as one of places to visited. Besides shopping for Typical of Solo Batik*1, Marketing Conference participants would also be able to visit Danar Hadi Ancient Batik Museum, which collected up to ten thousand types of batik in it.

    A few minutes after arriving at destination, I was just silent looking at the shape of building and surveying surrounding area. It took me time to observe this destination before deciding to leave it and moved to another destination. Because that night, I would spend time around Ngarsopuro Night Market before going back to hotel for rest.

    I continued swinging steps to Keprabon area. Ngarsopuro Night Market was no more than one kilometer from House of Danar Hadi. It only took fifteen minutes to get there.

    Arrived at Diponegoro Street. My attention was suddenly drawn to crowd on west side of road. Gamelan sound made me curious and finally I couldn’t refrain to take a look at it.

    Oh, it turned out that there was a Wayang Kulit*2 performance at that place. Better, for half an hour, I stood still and enjoyed the show, I haven’t seen a Wayang Kulit show in a very long time.

    Wayang Kulit performance.

    Several time before ten in evening, I finished in watching the show and rushed to Ngarsopuro Night Market area. This night market was actually open every Saturday night, while I come on Monday night. Therefore, traders at that night market didn’t seem optimal. There were only several food cars and culinary carts which sold foods and drinks at several points. But still, I decided to hang out and mingle with several groups of young people who seemed to be enjoying the night while sipping coffee and eating street culinary in Solo.

    Taking a seat and enjoying a cup of coffee latte, I began to spend the evening in that place. That night I felt satisfied because my full day adventure was full of memories and very satisfying.

    Until it was almost eleven o’clock in evening. I decided to immediately went back to Amaris Hotel Sriwedari and took a rest because tomorrow there was still a very busy survey schedule.

    Food car in Ngarsopuro Night Market.
    Visitors who were enjoying the night.
    Finally, I joined with them.
    Diponegoro Street.

    Come on….Back to hotel….Sleep!

    Note:

    Batik*1 is an Indonesian technique of wax-resist dyeing applied to the whole cloth. This technique originated from the island of Java, Indonesia

    Wayang Kulit*2 a traditional form of puppet-shadow play originally found in the cultures of Java, Bali, and Lombok in Indonesia

    Next Story—->

  • <—-Kisah sebelumnya

    Seperempat jam menuju pukul sembilan….Aku meninggalkan Hotel Kaga di Distrik Kota Nishinari setelah menitipkan backpack di ruang resepsionis. Aku bergegas menuju Stasiun Dobutsuen-mae. Tetapi terlebih dahulu, aku harus menjejalkan sesuatu ke perut sebelum tiba di stasiun itu. Sedari tengah malam tadi, ketika aku tiba di Osaka, belum sesuap pun aku makan.

    Aku memutuskan mencari minimarket terdekat. Dalam langkah menuju stasiun, kutemukan sebuah FamilyMart di tepian Saka-suji Avenue. Aku tak akan mengunyah onigiri lagi sebagai sarapan. Aku sudah bosan sejak dua hari lalu rutin mengunyah makanan itu. Akhirnya aku memilih sebuah cup noodle dan segera mengambil antrian di depan kasir. Menunggu giliran, satu persatu pelanggan FamilyMart itu menyelesaikan kewajiban. Aku hanya reflek ikut maju ketika antrian di depan juga maju, tetapi sesungguhnya mataku tak pernah menatap ke depan.

    Kasir : “Hello

    Aku masih tak bergeming.

    Kasir: “Helloo

    Aku masih berfikir itu giliran pengantri di depanku

    Kasir: “Helloooo….Sir. You…..Sir”.

    Aku: “Oh it’s my turn, sorry

    Kasir itu hanya senyam-senyum saja melihat mukaku yang memerah karena malu. Sial….Dia dan pengantri di belakangku kompak nyengar-nyengir karena memergoki aku memandangi sebuah sudut rak dengan banyak majalah dewasa yang tersusun rapi. Untung si kasir tidak menawariku untuk membeli majalah itu….Kan malu.

    Yang beginian sudah biasa di Jepang….Duhhhh….

    Selepas membayar, aku menuju ke sebuah dispenser. Menuang air panas ke cup noodles dan mengambil sebuah pojok minimarket untuk menyantapnya.

    Kasir: “Helloooo Sir eat outside, please!”

    Duhhhh….Sudah malu, kena usir lagi,. Padahal aku sedang menghindari hawa dingin di luar sana. Ujung-ujungnya, aku tetap saja menyantap cup noodles sambil berdiri di depan minimarket sembari berdingin ria….Nasibbb.

    Sewaktu kemudian, cup noodles itu ludes hingga kuahnya pun tak bersisa. Aku melanjutkan langkah ke utara. Tiba di perempatan Abiko-suji Avenue, aku segera menuju bawah tanah melalui salah satu gate milik Stasiun Dobutsuen-mae yang berada di tepi selatan jalan besar itu.

    Aku: “Hello, How can I get a One Day Pass, Sir”. Aku memastikan supaya tak kelamaan membelinya seperti kejadian dua hari lalu di Tokyo.

    Petugas Keamanan: “Doko e ikitai desu ka?”, rupanya bapak ini tidak bisa berbahasa Inggris.

    Aku: “Osaka Castle, Sir”.

    Petugas Keamanan: “Hoooohhhhh….”. Dia belum ngerti juga

    Aku: “Osakajo”.

    Petugas itu lantas tersenyum mengangguk-angguk dan mengantarkanku melalui sebuah koridor lalu menunjuk ke automatic vending machine.

    Arigatou Gozaimasu”, ucapku padanya. Padahal kalau mencari mesin beginian, aku juga bisa. Apakah One Day Pass dijual terpisah dari mesin, itu yang kumaksudkan…..Hmmh.

    Sudahlah, aku mulai memencat-mencet tombol automatic vending machine itu. Aku bisa tersenyum lega karena mesin ini tak serumit seperti yang di Tokyo. Aku memasukkan selembar 1.000 Yen, memencet “ENGLISH” button, berlanjut ke “CARD” button dan akhirnya kutemukan “ONE DAY PASS” button seharga 600 Yen (Rp. 82.000).

    Malam itu adalah malam tahun baru di luar negeri yang pertama buatku. Aku sengaja membeli One Day Pass karena akan pulang selepas tengah malam, setelah New Year’s Eve Countdown tentunya.

    Kini aku bersiap menaiki Osaka Metro. Ini juga  pertama kalinya aku merasakan kereta bawah tanah di Jepang setelah sembilan kali berturut-turut hanya mencicipi kereta permukaan semenjak ketibaanku di Tokyo.

    Aku mulai menyusuri Midosuji Line lalu berpindah ke Tanimhaci Line di Stasiun Tennoji. Melaju ke utara sejauh lima kilomater dan dalam lima belas menit, aku akhirnya tiba di Stasiun Tanimachi 4-chome di Distrik Kota Chuo.

    Aku segera keluar melalui exit gate dimana gedung Osaka Museum of History dan landmark bersejarah Hoenzaka iseki berada. Dari situ, aku terus menelusuri Uemachi-suji Avenue menuju Osaka Castle yang hanya berjarak satu kilometer.

    Osaka Museum of History.
    Hoenzaka iseki, bangunan gudang dari Abad ke-5 di Jepang.
    Itu pohon maple bukan sih?
    Aku tiba di Otemon gate Osaka Castle

    Mari kita eksplore Osakajo…..

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Previous Story

    Sriwedari Park gate.

    Because Loji Gandrung was once used by Colonel Gatot Subroto as the commado centre in facing Operatie Kraai which was launched by Dutch in December 1948. That was a reason which I would find later why a statue chosen to be placed in front of Loji Gandrung was General Gatoto Subroto Statue.

    Now we would talk about other topic….

    In the past….

    Before Manahan Stadium was built by Cendana Family*1 through Ibu Tien Soeharto Foundation in 1998. Solo City had a small but legendary football stadium. The stadium which had given birth to a professional football club that had made history in Indonesian football, namely Arseto Solo FC. The stadium itself was called Sriwedari Stadium. This naming itself was of course related to its location in Sriwedari area.

    That night, of course, I had no intention of visiting Sriwedari Stadium after visiting Loji Gandrung to seek information. But you just needed to know that on east side of this legendary stadium, there was a cultural park which was famous in Wayang Orang Art*2 performance. This cultural park was known as Sriwedari Park.

    Fifteen minutes past nine o’clock in evening, exiting Loji Gandrung gate, I continued my survey trip to east for half a kilometer. Along south side of Slamet Riyadi Street, I stepped into night crowd. Until I arrived at a name board entitled “I Love Solo” which was located in a small park under a large tree, right in the middle of a wide sidewalk. This was a sign that my step had reached in the destination.

    Hangout place in front of Sriwedari Park.
    Gatotkaca and Pregiwa statue.

    I was greeted by a magnificent gate with a “Buto*3” mask on it then followed by a welcome greeting by a golden statues of Gatotkaca and Pregiwa*4 in courtyard. From there alone, Javanese cultural aura smelled very strongly. Meanwhile, a large pavilion filled one side of  park.

    From the information which I read on an event calendar at one point. Exactly two months before my visitation, this place has held an annual performance in Wayang Orang Art preservation effort, i.e 7th Wayang Bocah Festival. It seemed that Solo was very active in preserving culture. Having cultural events from an early age to providing cultural venues such as Sriwedari Park was a real proof.

    At back-east of pavilion stands Gedung Kesenian Solo. While on the right side, there were several neat project boards which surround THR (Taman Hiburan Rakyat) Sriwedari. I received information that this park had been closed and would be replaced by Taman Sriwedari Mosque. THR Sriwedari itself was one of legends of an amusement park at Solo city centre on the past. Previously, this area was known as Bon Rojo (Kebon Rojo/King’s Garden) in Paku Buwono X era.

    Meanwhile, to back-west of pavilion was Gedung Wayang Orang Sriwedari. This building had played an important role in Wayang Orang Art  preservation which had been functioning for nearly a century.

    Sriwedari Park was a place which worth visiting if there was a cultural event during Marketing Conference. However, if there was no, there was very little chance of visiting it.

    Note:

    Cendana Family*1 is Second President of Republic of Indonesia’s family.

    Wayang Orang Art*2  is a type of classical Javanese dance theatrical performance with themes taken from episodes of the Ramayana or Mahabharata.

    Buto*3 is another term for evil giant

    Gatotkaca and Pregiwa*4. Gatotkacais a character in Mahabharata epic, he is a son of Bima. Pregiwa is Gatotkaca’s wife.

    Next Story—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Aku memasuki kamar Eloise untuk mengambil backpack  yang kutitip sejak pagi. Aku check out di pagi hari dan berlanjut mengeksplorasi Samosir seharian bersamanya. Aku berpamitan padanya dan bersiap menuju Pematang Siantar, sedangkan dia masih semalam lagi di Samosir.

    Staff Bagus Bay Homestay mengarahkanku untuk menunggu ferry di pelabuhan terdekat. Berbelok ke kiri setelah keluar hotel, beberapa puluh meter kemudian, aku memasuki gang di kiri jalan. Tetap melangkah hingga tiba di sebuah warung, tepat di sisi pelabuhan.

    Tigaraja Bang?, tunggu setengah jam ya!”, ucap seorang timer padaku. Setengah jam yang lebih dari cukup untuk menyantap semangkuk mie instan bertopping telur mata sapi seharga Rp. 15.000 di pojok warung.

    Ferry terlihat merapat dan sang timer diam menunjuk mukaku, lalu telunjuknya bergeser menunjuk ke arah ferry. Aku faham maksudnya.

    Belum juga merapat sempurna, aku melompat ke ferry. Segenap penumpang di deck kiri berteriak. “Awasssss, Banngg!”. Aku melambaikan tangan bak artis. Ternyata kemampuanku bermain perahu motor di Waduk Jatiluhur saat menjadi sales ikan budidaya karamba masihlah mumpuni.

    Zoe’s Paradise Hotel (putih) dan Dumasari Hotel (merah) menatapku pergi meninggalkan Samosir.
    Menuju Pelabuhan Tigaraja dalam 50 menit.

    Pria berjaket jeans biru pudar menatap lekat dari kejauhan ketika aku menuruni ferry. Tak ada jalan lain untuk menghindarinya. Seperti ditunggu seorang preman yang siap menerjangku.

    Siantar, Bang. Empat puluh ribu?”, ujarnya sembari membayangi langkahku. “Oh, jasa taksi”, ujarku. Mengejar Bus INTRA yang akan berangkat jam tujuh malam, aku mengiyakan saja. Dan aku dibawa ke kantor Bagus Taxi.

    Kebelet pipis tapi tak kebagian toilet, ada yang kelamaan mandi….Asem.
    Sopir dan penumpang pun bermusuhan lewat adu bidak kayu.

    Sepertinya akulah pengisi terakhir di manifest taksi. Begitu cepat, aku sudah duduk saja di sisi kanan bangku tengah.

    Tepat di kiriku, seorang bapak yang gemar merokok sepanjang perjalanan.

    Avanza hitam berputar-putar mengukur jalanan untuk menjemput penumpangnya satu persatu. Penjemputan diakhiri dengan satu insiden ketika seorang ibu ketinggalan dompet di kilometer kelima perjalanan kami. Hal menjengkelkan tetapi mampu membuatku tertawa kecil. Tak ada pilihan, taksi berputar balik untuk mengambil dompet si ibu.

    Meninggalkan Toba, kebutan taksi memaksaku membuka pejaman mata. Aku diajaknya meliuk-liuk menikmati indahnya pemandangan alam Simalungun. Kebun sawit, hamparan ladang, perbukitan dan lembahnya dilewati satu-persatu. Sesekali si sopir menciptakan humor, salah satunya ketika panik memasang sabuk pengaman yang tak dikenakannya bebarengan dengan penumpang di sebelah, pontang-panting memasangnya, bahkan tak berhasil hingga melewati area operasi polisi….Beruntung tak ditangkap.

    Dalam satu jam 20 menit, taksi mulai memasuki tepian kota,kemudian menuju pusat kota melalui Jalan Gereja dan Jalan Merdeka dengan dua tugu sebagai landmark kota.

    Tugu Adipura. Siantar pernah 4 kali menyabet penghargaan lingkungan ini.
    Monumen Wahana Tata Nugraha era Soeharto, penghargaan atas apiknya tata kelola transportasi.

    Bang, begitu sampai Parluasan langsung ke pool aja, hati-hati ya!”, kata Bang Erwin (teman backpacker yang tak sengaja bertemu di diatas Bus HoHo KL 2013 silam). Mungkin dia mengkhawatirkanku memasuki Parluasan yang terkenal dengan premannya. Tapi aku menanggapinya dengan santai karena aku tahu akan diturunkan tepat di depan pool bus INTRA.

    Sampai…..

    Mari menunggu Bang Erwin menjemputku untuk berkeliling Pematang Siantar sejenak.

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Aku sudah menggenggam tiket senilai 1.060 Yen (Rp. 145.000) untuk menuju Stasiun Shin-Imamiya di Distrik Kota Naniwa. Sementara, waktu terus bergerak meninggalkan fajar. Aku masih berdiri di salah satu peron, menunggu kedatangan kereta JR Kansai Airport Rapid Service. Di peron lain terlihat sebuah kereta dengan design futuristik sudah terparkir menunggu jadwal keberangkatan.

    Haruka Express Train menuju Kyoto. Harganya 3.400 Yen (Rp. 463.000) sekali jalan. Berminat?….

    Tak lama kemudian, kereta bermodel konvensional perlahan tapi pasti melambatkan laju memasuki peron dari sisi timur laut. Dalam sekian detik, roda besinya mendecit mencengkeram jalur baja dan berhenti sempurna di depanku. Seorang petugas segera merapat di bagian gerbong terdepan dan berdiri mengawasi ke arah ujung belakang kereta. Setelah semua penumpang keluar, petugas itu melambaikan tangan kepadaku dan mengarahkanku untuk memasuki kereta. Mungkin sedari tadi dia mengamatiku sebagai orang asing yang berpenampilan sedikit berbeda dengan penumpang kebanyakan.

    Aku mah naik yang begituan aja….Murah.

    Aku memasuki gerbong pertama dan mengambil bangku tunggal sebelah kiri di dekat pintu. Lima belas menit lagi menuju pukul tujuh pagi, ketika JR Kansai Airport Rapid Service mulai melaju meninggalkan Stasiun Kansai Airport. Merangsek ke utara menuju pusat kota.

    Tak lama kereta berjalan, pemandangan spektakuler pertama tertayang dari jendela gerbong. Hamparan luas Teluk Osaka berhiaskan semburat fajar menjadi pesona apik menyambut pagi pertamaku di Prefektur Osaka.

    Genap empat kilometer, kereta melintas di jembatan baja yang mengangkangi teluk itu. Kemudian melintas di kolong-kolong flyover yang membentang di sepanjang pantai di Kawasan Rinku Town. Paduan tenangnya teluk, semburat fajar, aroma setengah gelap jalanan dan lampu-lampu kota yang belum enggan padam begitu memperindah irama perjalanan pagi itu.

    Kawasan Rinku Town.

    Pemandangan itu berhenti sejenak di Stasiun Rinku Town. Kereta harus menurunkan dan mengambil beberapa penumpang.

    Meninggalkan Stasiun Rinku Town, kereta terus menjelajahi Nankai-Kuko Line. Nankai-Kuko Line sendiri adalah jalur kereta yang berawal dari Stasiun Kansai Airport di selatan dan akan berakhir di Stasiun Namba di utara dengan panjang keseluruhan hampir lima puluh kilometer.

    Jauh meninggalkan Rinku Town, kali ini pemandangan berganti dengan hamparan lahan pertanian yang berlokasi di sekitar Kota Izumisano. Lahan-lahan pertanian itu berpadu dengan beberapa kompleks landing house berukuran mungil milik warga. Di beberapa titik mulai terlihat beberapa apartemen berukuran sedang. Sedangkan sungai-sungai kering tampak rapi dengan pagar pembatas di tepinya.

    Hamparan lahan pertanian dan perumahan.

    Dalam tiga puluh menit, kereta mulai memasuki kawasan urban yang padat bangunan, di Distrik Kota Nishi tepatnya. Tak tampak lagi lahan pertanian disana. Pemandangan hanya berisi perumahan, apartemen, perkantoran serta pusat-pusat kesehatan dan perbelanjaan.

    Kali ini aku sendiri tak akan menuntaskan perjalanan hingga stop point terakhir yaitu Stasiun Namba. Aku akan berhenti di Stasiun Shin-Imamiya, berselang satu stasiun sebelum tiba di Stasiun Namba.

    Aku turun di Stasiun Shin-Imamiya pada menit ke lima puluh dari perjalanan kereta JR Kansai Airport Rapid Service. Aku segera keluar meninggalkan Stasiun Shin-Imamiya di Abiko-suji Avenue. Kemudian berbelok ke kanan, menuju ke selatan untuk menelusuri gang selebar lima meter. Setelah berjalan sejauh tiga ratus meter aku tiba di Hotel Kaga.

    Sepanjang berjalan menuju Hotel Kaga, aku melangkah dengan sangat percaya diri tanpa perlu bertanya kepada siapapun tentang letak hotel karena aku sangat memahami rute menuju kesana dari peta yang kubawa.

    Aku memasuki Hotel Kaga yang berwarna dominan merah bata. Disambut oleh staff resepsionis pria yang ramah. Tetapi masih terlalu pagi untuk bisa melakukan check-in. Aku memang hanya bermaksud untuk menitip backpack saja dan segera mengeksplorasi Osaka hingga malam.

    Tetapi untuk mempercepat proses check-in nanti, aku memutuskan untuk membayar di awal. Setelah menerima tanda bayar dan menaruh backpack di ruang respsionis, akhirnya aku pergi meninggalkan hotel seharga 1.800 Yen (Rp. 256.000) per malam itu dan langsung beranjak menuju Osaka Castle.

    Kisah Berikutnya—->

  • Pasar Gede Hardjonagoro, Solo (dokumen pribadi).

    Apakah Anda pernah mengunjungi Pasar Chatuchak di kota Bangkok? Atau Pasar Ben Thanh di kota Ho Chi Minh? Atau Pasar Seni di Kuala Lumpur?. Ya, itulah sedikit dari sekian banyak pasar tradisional di Asia Tenggara yang mendunia. Ketenarannya tak kalah bersaing dengan pusat perbelanjaan modern di kota yang sama yaitu Siam Paragon, Vincom Center dan Kuala Lumpur City Centre (KLCC).

    Lebih dari itu, kini Pasar Chatuchak di Thailand terus bertransformasi menuju Market 4.0 sebagai cashless market dan pasar berbasis aplikasi demi menyediakan navigasi terbaik bagi pengunjungnya. Sedangkan Pasar Ben Thanh telah lama mengembangkan wisata gastronomi yang lekat dengan budaya Vietnam. Tak kalah juga, Pasar Seni secara konsisten memamerkan berbagai kekayaan budaya Malaysia .

    Daya tarik itulah yang membuat ketiganya menjadi pusat perhatian para wisatawan di seluruh dunia. Hal inilah yang membuat pasar tradisional tersebut tak pernah sepi pengunjung sepanjang tahun.

    Terlepas dari beberapa fakta di atas, saya tidak berusaha membandingkan keunggulan ketiga pasar tersebut dengan pasar rakyat yang kita miliki. Tetapi sebuah pertanyaan tetap saja menggelitik, bisakah pasar rakyat kita mendunia?.

    Apapun faktanya, saya masih menjadi salah satu pribadi yang paling suka berbelanja di pasar rakyat. Begitu pula ketika saya menjalani passion sebagai seorang traveler, pasar rakyat selalu menjadi salah satu tempat yang kukunjungi, baik di dalam maupun di luar negeri.

    Beberapa hal yang menarik perhatian saya untuk mengunjungi pasar rakyat adalah tersedianya kesempatan tawar menawar di dalamnya. Hal inilah yang menciptakan fairness antara penjual dan pembeli. Jika tidak sepakat dengan harga pada sebuah kios, tentu masih ada kios lain yang bisa ditawar harganya untuk barang yang sama. Pasar rakyat pada akhirnya akan menjadi buffer pertama dalam hal permainan harga pasar.

    Pasar rakyat juga memungkinkan bagi saya untuk mengeksplorasi kekayaan kuliner lokal di dalamnya. Sebagai contoh ketika saya berburu kuliner khas Kota Solo di Pasar Gede Hardjonagoro, yaitu Dawet Telasih dan Tahok. Bahkan dalam keseharian, saya sering berburu beberapa jajanan lokal seperti Kue Talam, Kue Cucur dan Kue Cente Manis di Pasar Ciracas, Jakarta Timur. Bagaimanapun juga, pasar rakyat di negeri ini telah berusaha maksimal dalam menjalankan peran pentingnya sebagai pelestari budaya kuliner setempat.

    Jika kita tilik ke belakang, sebenarnya gencarnya revitalisasi pasar tradisional yang kemudian secara nomenklatur berubah menjadi pasar rakyat telah merubah wajah pasar menjadi lebih menarik untuk dikunjungi. Pasar rakyat pasca revitalisasi telah jauh dari kesan becek, bau dan kotor. Ditambah lagi dengan satu fakta bahwa dinamika di dalam pasar rakyat telah menjadi “bumbu” yang tidak bisa ditemukan di pusat perbelanjaan modern.

    Jika pusat perbelanjaan modern sangat identik dengan peniaga bermodal besar maka pasar rakyat adalah muara utama bagi peniaga bermodal kecil hingga sedang yang mayoritas menjalankan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Meningkatnya transaksi di pasar rakyat tentu akan meninggikan harapan mereka untuk terus tumbuh. Pertumbuhan UMKM ini tentu akan bermuara pada satu output yaitu berkembangnya ekonomi kerakyatan. Perlu diketahui bahwa sebuah negara akan mampu menjalankan ekonomi dengan baik apabila negara tersebut mampu menghidupkan sektor UMKM dengan sama baiknya.

    Satu hal lagi yang menarik, pasar rakyat di daerahnya masing-masing tentu akan bertransaksi menggunakan adat istiadat, bahasa hingga cara lokal yang unik. Cobalah datang ke Pasar Bisu di Sumatera Barat atau Pasar 46 di Jambi jika Anda ingin menemukan keunikan itu!. Hal-hal seperti inilah yang menjadikan budaya perniagaan lokal tetap terpelihara dengan baik. Lalu, apakah kelestarian beragam budaya perniagaan tersebut menjadi rawan punah tanpa keberadaan pasar rakyat?. Anda sendiri tentu bisa menjawab pertanyaan tersebut.

    Sebenarnya beragam fakta diatas adalah bentuk adding value yang bisa menjadikan pasar rakyat mempunyai keunggulan tersendiri. Adding value ini bisa dijadikan nilai jual kepada para wisatawan yang pada umumnya adalah para pemburu dan penikmat kebudayaan lokal. Pasar rakyat bisa menjadi sebuah destinasi budaya yang menarik apabila aspek brandingnya diperbaiki.

    Satu hal terakhir yang kini menjadi pekerjaan rumah bagi pasar rakyat. Pasar rakyat harus dengan cepat menyesuaikan diri terhadap kebiasaan baru pembeli. Pasar rakyat harus mampu memfasilitasi cara bertransaksi yang sedang berkembang pesat yaitu transaksi secara daring. Penyesuaian ini perlu dilakukan untuk membuat pasar rakyat mampu bertahan di tengah gempuran modernisasi perniagaan.

    Dari berbagai sudut pandang itulah, saya memiliki harapan besar bahwa keanekaragaman yang menarik ini bisa terus bertahan dan menjadi sebuah edukasi tersendiri bagi generasi muda Indonesia.

    Terus berjaya pasar rakyat Indonesia!

    @AdiraFinanceID

    #AdiraFinanceID

    #FestivalPasarRakyat

    #Digitalisasi

    #BangkitBersamaSahabat

  • <—-Previous Story

    Loji Gandrung

    Have you ever visited Merdeka Palace? Or visit DKI Jakarta City Hall? Yes, these two important places in Jakarta often offer visiting tours.

    So, what about Solo City?

    Yups, Solo City also has a similar tour. A place which has become attention center for this tourism type is Loji Gandrung, An official residence of Solo’s Mayor which is located on south side of Slamet Riyadi Street.

    The night went on, it was almost nine o’clock in evening when I finished in designing a Marketing Conference teaser. Luckily, I got help from a design staff in Jakarta. I have also sent that teaser to Whatsapp number and email of all prospective Marketing Conference participants.

    Now, I thought again about next destination. My task this time was to choose several destinations along Jaladara Tourist Train line which be rented by event comittee to get around Solo City on second day of Marketing Conference. So in remaining time, before it got too late, I would survey at least three tourist attractions which were located nearby each other.

    I immediately ordered a taxi online, then drove to downtown. I moved south for five kilometers from Manahan area to Laweyan area.

    Loji Gandrung, Sir!”, I asked online taxi driver.

    Wow, it had closed, Sir

    Oh, it’s okay, Sir. I just want to find information there”.

    Oh well, Sir. Loji Gandrung is indeed popular in Solo City, Sir. In the past, President Soekarno often stayed at Loji Gandrung when he visited Solo”.

    Wow, it’s cool, Sir“, I started to be stunned by a story from that young driver.

    Our conversation topic progressed to several things, until driver hit brake just across Loji Gandrung gate.

    Loji Gandrung gate.

    Without hesitation, I entered the gate. It seemed that renovation was underway at Loji Gandrung front yard. I just saw the top end of a bronze statue whics was tightly covered by a row of project boards. My arrival made a security out of his post and swiftly directed his steps towards me.

    What do you need, Sir?. Sorry this is a city government building. It’s forbidden to carelessly enter the yard”, he admonished.

    Oh sorry, sir. I just want to find information

    What information, Sir?”

    Sir, we will rent Jaladara Train and intend to make this place as a tourist destination on train route. Can I know the procedure, so that I along with event participants can visit this historic place, sir?”

    Wow, the licensing is a little tight, Sir because it’s being renovated. But you may submit a formal application and is addressed to Head of Household Department. Hopefully on the event date, you can be allowed to enter”.

    Oh good, Sir. I hope so“.

    I looked around. This Loji Gandrung building had a very classic architecture. There was a blend of European and Javanese architecture. Thick European walls were covered with a typical Javanese roof. The front and back yard of the building was wide with several trees.

    I realized that what was in front of me was a government building and I couldn’t stay long in that place. I must immediately go and empathize to security by did’t disturbed the comfort of that place.

    Before I stepped out of Loji Gandrung yard. I was still intrigued by project mystery around front yard. Finally, I ventured to ask to securiry.

    “Sir, whose statue is blocked by this project board?”

    “Oh, that’s a statue of General Gatot Subroto, Sir”.

    I said thank to secutiry because he had accepted me well even though he only talked for no more than fifteen minutes.

    Why should it be General Gatot Subroto statue?……..

    Next Story—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Tiba di Kansai International Airport (KIX), Osaka.

    Aku menuruni Peach Aviation bernomor terbang MM6320 melalui tangga manual. Kemudian dibawa menggunakan Narita apron shuttle bus menuju bangunan Terminal 2. Akhirnya, aku tiba di Osaka dan menapaki bandara yang pernah memenangi Best Low Cost Airline Terminal in the World versi Skytrax.

    Karena ini adalah penerbangan domestik tentu aku tak perlu sibuk berurusan dengan pihak imigrasi. Aku menginjak lantai bangunan Terminal 2 tepat tengah malam. Kiranya akan lebih baik jika aku segera mencari tempat peraduan untuk memejamkan mata sejenak hingga 5 jam ke depan. Aku juga sudah merasa sangat letih karena sedari pagi saat check-out hingga sore berkeliling Tokyo dengan memanggul backpack seberat 6 Kg. Biaya transportasi yang mahal tak memungkinkanku untuk menaruh backpack di dormitory dahulu. Karena sudah barang tentu membutuhkan biaya yang tak sedikit untuk sekedar bolak-balik ke dormitory hanya untuk kegiatan remeh temeh, yaitu mengambil backpack saat ingin meninggalkan Tokyo. Alhasil, aku harus memanggul backpack kemanapun kaki melangkah higga aku tiba di Osaka.

    Instingku sangat cepat untuk menemukan tempat tidur terbaik, aku kini berada di sebuah area di sisi barat bangunan Terminal 2 yang cukup tenang. Empat bangku gandeng tanpa sandaran lengan menjadi hadiah sempurna malam itu. Tak berfikir panjang, aku segera mengakuisisi salah satunya, menjadikan backpack sebagai bantal dan dengan cepat aku terlelap diatasnya.

    Zzzzzz…..Selebihnya aku tak tahu apa yang terjadi di sekitar.

    —-****—-

    Greekkk…..praakkk…..Buughhh…..Kraackkk.

    Aku tergelegap dan tersontak bangun. Dalam duduk dengan kepala pening, aku melihat jelas rombongan gadis-gadis tinggi cantik asal Tiongkok sudah duduk di depanku. Dua diantaranya memperhatikanku  yang sedang dalam kondisi kusut, kemudian melempar senyum. Sudah tak mungkin aku melanjutkan tidur di depan mereka. Sepertinya mereka baru saja mendarat dan entah dari mana.

    Jarum jam masih bertengger di angka empat. Berarti aku sudah terlelap genap empat jam. Aku menenggak air mineral tersisa. Dan dalam sekejap gadis-gadis itu sudah sibuk dengan gawainya masing-masing.

    Kukeluarkan segera toiletries pack dan kumasukkan jaket tebalku ke dalam backpack. Aku segera beranjak menuju ke toilet. Masuk ke toilet bandara saat pagi adalah strategi untuk menikmati toilet bersih karena biasanya cleaning service baru usai membersihkannya dan belum ada yang menggunakan.

    Benar saja, akulah orang pertama yang memasuki toilet pagi itu. Luar biasa bersih, perihal kebersihan fasilitas umum di Jepang, tidak usah ditanya, mereka jagonya. Pagi itu, sungguh nyata, untuk pertama kalinya aku menggunakan toilet dengan control panel penuh tombol. Aku menaruh backpack di lantai toilet yang bersih dan memulai aktivitas pagi di dalamya. Sepertinya aku kelamaan karena keasyikan mencoba mengoperasikan semua jenis tombol di sebelah kloset toilet. Tak kurang dari sepuluh jenis tombol aku memencet-mencetnya, mulai dari tombol penyamar suara (flushing/sound button) hingga penghangat kloset (warm seat button). Tak kerasa, hampir 40 menit aku menguasai toilet itu.

    Oalah, Donny….Jauh-jauh ke Jepang cuman buat nyobain toilet….Kasihan……

    Menggunakan free shuttle bus menuju Terminal 1.

    Usai menggosok gigi di depan wastafel. Aku mulai mempersiapkan diri untuk menuju kota. Aku segera mencari keberadaan stasiun kereta. Mengikuti petunjuk yang ada aku diarahkan pada sebuah free shuttle bus untuk berpindah ke Terminal 1, karena kereta ke tengah kota berada disana.

    Aku menaiki free shuttle bus itu. Menempuh jarak sekitar 2 km dan tak sampai sepuluh menit aku tiba di Terminal 1 tepat pukul enam pagi. Aku mulai berburu tiket kereta.

    Which train must I take to get the cheapest price to Shin-Imamiya Station, Ms?”, aku bertanya kepada petugas wanita yang duduk di bagian penjualan tiket.

    JR Kansai Airport Rapid for 1.060 Yen (Rp. 145.000), Sir

    Okay, I take that

    Bersiap menuju Osaka.

    Tak lama kemudian, JR Kansai Airport Rapid Train itu tiba. Aku segera memasuki salah satu gerbongnnya yang dominan silver dengan kelir biru, kemudian duduk di salah satu bangku tunggalnya. Tak sampai lima menit, kereta itu berangkat. Begitulah kereta Jepang, tak pernah telat dan selalu tepat waktu.

    15 menit kemudian…..

    Teluk Osaka (Osaka Bay).

    Begitu terkejutnya diriku karena kereta itu melewati jembatan besi raksasa yang gagah mengangkangi laut. Seumur hidup, aku baru tahu kalau Kansai Internatioanl Airport (KIX) berlokasi di tengah laut, berjarak 5 Km dari daratan terdekat di kota Osaka. Bukankah ini pengalaman yang luar biasa?……

    Kisah Selanjutnya—->