• <—-Kisah Sebelumnya

    Satu perandaian yang tak pernah terwujud adalah memasuki Rumah Singgah Tuan Kadi. Ingin rasanya duduk menghampar di dalamnya dan menikmati untaian sejarah dalam bilik-bilik mungilnya. Secara bersamaan, keringat yang terus meleleh di pelipis mata, pelan tapi pasti meluruhkan setiap perandaian di kepalaku. Pintu-pintu rumah itu tertutup rapat seakan berkata kepadaku “Sudahlah pergi saja, cukup bagimu melihat keindahan kulit ariku saja”.

    Aku pergi…..

    Langkah kaki yang tak kusadari mulai sedikit terseret mengindikasikan bahwa aku perlu banyak beristirahat setelah empat hari sebelumnya menyisir Medan, Pulau Samosir dan Pematang Siantar. Tapi apa daya, keinginanku mengenal Pekanbaru mengalahkan keletihan kaki yang sesungguhnya sudah berteriak minta berhenti.

    Aku mulai memasuki Jalan Kota Baru. Baut-baut raksasa, gulungan kabel-kabel tebal, selongsong pipa bekas berukuran besar tampak berserakan di deretan rumah toko yang disulap menjadi bengkel-bengkel mekanik. Setiap ayunan langkah seakan mengisi ulang semangatku untuk segera tiba di area Kampung Bukit dimana Kota Pekanbaru dirintis pada mulanya.

    Di area inilah, sebidang tanah bekas pasar baru (Pekan Baharu) yang dirintis oleh Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah berdiri sebuah peninggalan istimewa yaitu masjid tertua di Provinsi Riau.

    Lagi….Kubah kuning perlambang kebesaran Melayu.

    Masjid yang lahir sebagai sebuah konsekuensi yang dipikulkan di pundak Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah, Sultan ke-4 yang memindahkan pusat Kesultanan Siak Sri Indrapura dari Mempura Besar ke Bukit Senapelan pada pertengahan abad XVIII.

    Adalah adat Tali Berpilin Tiga  yang menjadikan Istana Raja, Balai Kerapatan Adat, dan Masjid sebagai satu kesatuan syarat yang harus dipenuhi Sang Sultan jika berniat memindahkan kesultanan. Istana Raja melambangkan pemerintahan, Balai Kerapatan Adat melambangkan adat istiadat leluhur dan Masjid sebagai perlambang agama.

    Setengah kubah pada lengkung kanopi teras mengingatkanku dengan arsitektur Mughal di Taj Mahal.

    Oleh Sang Sultan, Bangunan Istana diberi nama Istana Bukit, Balai Kerapatan Adat dinamai Balai Payung Sekaki dan Masjid diberi nama Masjid Alam yang diambil dari nama kecil Sang Sultan yaitu Raja Alam.

    Ada yang menyebutnya dengan nama Masjid Senapelan Pekanbaru, beberapa orang menyebutnya Masjid Raya Pekanbaru.

    Aku tiba di Masjid dalam keadaan Masbuq (terlambat shalat), tak mau tertinggal seluruh raka’at, aku bergegas menuju ke tempat wudhu dan segera mengikuti dua raka’at terakhir berjama’ah. Selepas menggenapkan 2 raka’at terakhir sendirian, aku mulai tertegun dengan enam tiang besar berwarna putih yang ujungnya dilapisi kubah warna emas dan tak sampai menyangga atap, bak mercusuar.

    Sinar matahari yang menembus jendela-jendela kaca permanen di dinding teratas semakin menampilkan lengkung-lengkung lancip khas Persia. Sedangkan kaligrafi emas berlatar dasar hijau khas Timur Tengah tampak melingkar mengelilingi bagian dalam masjid.

    Mimbar emas beratap hijau bermenara bulan sabit emas.

    Keluar dari masjid aku menuju ke sisi timur menuju sebuah gerbang pemakaman. Bernama Kompleks Makam Marhum Pekan yang merupakan komplek makam para pendiri kota Pekanbaru seperti Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah (Sultan ke-4), Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah (Sultan ke-5) beserta para panglima perang setianya.

    Gerbang Kompleks Makam Marhum Pekan. Marhum Pekan sendiri adalah sebutan untuk Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah (pendiri kota Pekanbaru).

    Masjid Nur Alam adalah penutup napak tilasku tentang Kesultanaan Siak Sri Indrapura. Puas dan bahagia bisa mengenal lebih dekat tentang kesultanan tersohor di tanah Sumatera ini.

    Yuk….Balik ke hotel, check-in dan makan siang!

    Kisah Selanjutnya—->

  • Menjalani passion sebagai seorang backpacker memang memudahkan saya untuk mempelajari hal-hal baru, salah satunya adalah budaya hidup bersih. Ketika saya mengunjungi kota maju seperti Tokyo, atau misalnya berkunjung ke kota sekaligus negara yang lebih dekat saja, yaitu Singapura maka impresi pertama yang saya dapatkan adalah kebersihan kota tersebut beserta regulasi terkait yang diterapkan di ruang publiknya. Perilaku masyarakat dalam hal kebersihan di negara tersebut bahkan telah mengilhami saya untuk menduplikasinya, seperti membuang sampah pada tempatnya hingga perilaku terpuji lainnya seperti menyimpan bungkus makanan di tas hingga menemukan tempat sampah untuk membuangnya. Bahkan saya tak pernah ragu memasukkan botol minuman yang tergeletak di sebuah trotoar dan memasukkannya ke dalam tong sampah terdekat.

    Tetapi pertanyaannya adalah apabila sebagian besar masyarakat memiliki kebiasaan baik tersebut apakah permasalahan sampah kota akan usai secara otomatis?

    Setelah banyak membaca, saya baru mengetahui bahwa budaya baik tersebut belumlah cukup untuk menjamin terbentuknya keseimbangan lingkungan kota terkait dengan sampah yang dihasilkannya. Hal ini terkait dengan sebuah fakta bahwa sebagian besar kota di dunia masih mengandalkan insinerasi (pembakaran) untuk melenyapkan sampah di tahap akhir pengelolaan.

    Dalam konteks kedua kota besar di atas, Singapura membakar sampahnya di Tuas Incineration Plant yang berlokasi di ujung barat kota, sedangkan Tokyo membakarnya di Toshima Incineration Plant yang berlokasi di utara kota. Memang, persepsi mendasar bagi khalayak adalah setelah pembakaran akhir maka masalah sampah di kotanya telah usai. Tetapi sejatinya tidaklah demikian, justru insinerasi adalah permulaan dari masalah baru yang lebih serius.  

    Pasti Anda akan menebak dengan mudah bahwa pembakaran tersebut akan menghasilkan emisi karbon. Baiklah, sebelum mengetahui lebih mendalam, saya akan memulai pembahasan dari sudut pandang yang berbeda.

    Konsep Zero Waste Cities (ZWC)

    Mari kita berbicara kembali tentang sampah kota. Untuk memudahkan penulisan, saya akan mengganti kata “kota” dengan istilah lain, yaitu “kawasan”.

    Saya yakin bahwa mayoritas khalayak belum memiliki pengertian yang mendalam tentang konsep kawasan maju. Kawasan maju masih didefinisikan secara sempit sebagai kawasan yang memiliki teknologi unggul, transportasi massal terbaik, gedung pencakar langit yang futuristik dan lingkungan kawasan yang terlihat bersih secara kasat mata.

    Padahal kita harus melihat secara kompleks apabila ingin membahas tentang kawasan maju. Hal utama yang harus diperhatikan adalah lingkungan, karena pada hakikatnya, kawasan itu sendiri sangat tergantung terhadap lingkungan yang baik dan mendukung untuk terus bertumbuh menjadi kawasan maju dan modern. Oleh karenanya, visi pembangunan kawasan tanpa pemahaman konsep kelestarian lingkungan akan beresiko menciptakan kawasan yang tidak seimbang.

    Konsep kawasan yang berwawasan lingkungan inilah yang kemudian melahirkan konsep Zero Waste Cities yang mulai dijalankan pada beberapa kawasan di dunia. Zero Waste Cities adalah program kota bebas sampah (zero waste) yang menitikberatkan pada model pengelolaan sampah berwawasan lingkungan, prinsip berkelanjutan, berkeadilan bagi masyarakat dan terdesentralisasi di kawasan pemukiman.

    Berdasarkan pengertian tersebut maka Zero Waste Cities memberikan gambaran yang ideal bahwa kawasan masa depan adalah kawasan yang berpedoman pada kelestarian lingkungan, mengembalikan proses produksi ke dalam konsep urban farming (pertanian kota), mengkonversi sampah organik menjadi pupuk untuk kawasan, memandang sampah lainnya sebagai bagian dari sumber daya dan menjadikan warganya sebagai produsen energi di kawasan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa selain mengembangkan infrastruktur, kawasan tersebut juga harus mengembangkan attitude (sikap) warganya.

    Kita semua memahami bahwa semakin berkembang sebuah kawasan maka tingkat konsumsi warganya juga semakin tinggi. Hal inilah yang menyebabkan penciptaan sampah secara masif. Dan uniknya, tidak pernah ada strategi tunggal dalam menyelesaikan masalah sampah karena setiap kawasan memiliki budaya, sumber daya dan lingkungan yang berbeda-beda.

    TPA dan Siklus Material

    Pada akhirnya, sampah yang tidak terkelola dengan baik maka secara langsung akan mencemari kawasan, memberikan tekanan pada kualitas air, kualitas tanah, menimbulkan bau tidak sedap yang akan mengganggu kualitas udara serta merusak estetika kawasan. Sampah juga mempengaruhi kualitas kesehatan kawasan karena keberadaan sampah bisa memicu terjadinya penyakit dan sekelompok warga yang sering terpapar penyakit pada akhirnya akan mengurangi tingkat produktifitas kawasan.

    Selain itu, problematika sampah kawasan yang dibiarkan semakin akut akan menciptakan biaya ekonomi tambahan yang tidak sedikit untuk menyelesaikannya. Dan perlu digarisbawahi bahwa  penyelesaian sampah yang efektif dan efisien tidak bisa mengandalkan Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Seberapa mampu TPA dengan luasan terbatas bisa menampung sampah dari berbagai kawasan yang jumlahnya cenderung bertambah setiap harinya?.

    Pada sisi lain, kita memahami bahwa mayoritas TPA yang masih mengandalkan insinerasi dalam penyelesaian akhir dari siklus sampah kawasan. Insinerasi inilah yang akhirnya menambah beban lapisan ozon untuk menahan emisi karbon. Selain itu, insinerasi juga akan menghasilkan zat berbahaya yang bernama dioksin. Dan menurut World Health Organization (WHO), dioksin dalam jangka panjang bisa merusak beberapa sistem dalam tubuh manusia seperti sistem kekebalan tubuh, sistem saraf, sistem endokrin dan sistem reproduksi. Bahkan dioksin jenis tetrachlorodibenzo-para-dioxin (TCDD) bisa memicu terjadinya kanker.

    Derivat masalah berikutnya dari insinerasi di TPA adalah lenyapnya berbagai material penting dari kawasan. Kita tentu mengetahui bahwa ketersediaan beberapa jenis material yang dihilangkan tersebut sangatlah terbatas di perut bumi. Jika material itu hilang dari siklusnya maka generasi kita di masa mendatang tidak akan bisa menikmatinya lagi.

    Siklus material pada konsep Zero Waste Cities (diadaptasi dari Girardet, 1992, 1999).

    Siklus material bisa diasumsikan sebagai salah satu bentuk metabolisme kawasan. Banyak sekali kawasan yang sudah dianggap bersih sekalipun, ternyata masih terjebak dalam konsep metabolisme linear dimana material yang dikonsumsi kawasan hanya akan berakhir dalam bentuk lain yaitu limbah cair, sampah padat dan emisi karbon. Inilah bentuk kawasan konsumtif yang berpotensi menghabiskan sumber daya alam.

    Kelemahan inilah yang ingin diperbaiki dalam konsep Zero Waste Cities dimana setiap kawasan akan diarahkan untuk menjalankan konsep metabolisme sirkuler dimana setiap material tidak akan dibiarkan berhenti menjadi sampah, melainkan akan dikonversikan ke dalam bentuk baru di dalam kawasan. Jika konversi material tidak memungkinkan, maka material tersebut akan di daur ulang dan dimasukkan kembali ke dalam kawasan sebagai input untuk menghindari terjadinya eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan.

    Konsep ini bertujuan mengalihkan arus sampah menuju TPA dengan cara mengurangi jumlahnya melalui proses pemilahan sampah, pengomposan dan selebihnya dioptimalkan di depot daur ulang. Pemilahan sampah dilakukan pada awal proses yaitu di rumah tangga, minimarket, kawasan perkantoran dan kawasan industri

    Pemilahan Sampah dan Pengomposan

    Di Indonesia sendiri, tentu kita mengetahui bahwa hingga saat ini belum ada peraturan resmi yang melarang proses insinerasi. Oleh karenanya, sebagai generasi yang peduli terhadap lingkungan maka sejak dini kita harus mempelopori pengurangan fungsi insinerator dengan cara mengurangi sampah dari sumbernya, sehingga secara kuantitas, sampah yang masuk ke TPA akan berkurang. Fokus memperbaiki tata kelola sampah kawasan bisa dilakukan dengan hal yang paling sederhana yaitu mengembalikan sampah organik ke bumi dalam bentuk hara melalui proses pengomposan.

    Lalu, seberapa efektifkah strategi pemilahan sampah ini?

    Menurut data per 21 September 2020 dari Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi (YPBB), sang pionir program Zero Waste Cities di Indonesia, pemilahan sampah pada dua Rukun Warga di Kelurahan Melong, Kota Cimahi berhasil mengurangi sampah hingga 38% dari seluruh sampah yang diciptakan oleh kawasan.

    Pemilahan sampah di Kelurahan Lebak Gede, Kota Bandung (dokumentasi YPBB).

    Beranalogi dari data tersebut, sebagai warga Jakarta maka saya akhirnya menghitung. Jika semua kawasan di Jakarta menerapkan pemilahan sampah seperti yang dicontohkan oleh YPBB maka setidaknya ada sekitar 2,5 ton sampah organik setiap harinya yang dapat dikonversikan menjadi kompos yang kemudian bisa digunakan untuk menyuburkan ruang terbuka hijau milik kawasan serta lahan-lahan pribadi milik warga. Efektif dan efisien bukan?

    Memang kita belum bisa mengharapkan bahwa konsep Zero Waste Cities bisa diterapkan secara serentak di setiap kawasan karena setiap kawasan belum tentu memiliki kesiapan sumber daya. Tetapi idealnya, di setiap kabupaten atau kota hendaknya memiliki kawasan percontohan yang bisa dijadikan sebagai pilot project sekaligus sebagai media riset terhadap konsep Zero Waste Cities itu sendiri. Hasil riset ini tentu akan menghasilkan data valid yang bisa digunakan untuk mempengaruhi kawasan lain dalam menerapkan program yang sama. Bahkan di tingkat pemerintahan, data ini akan berperan penting dalam pengambilan sebuah kebijakan atau regulasi terkait pengelolaan sampah kawasan.

    Kawasan yang sudah memulai konsep Zero Waste Cities harus terus dipertahankan dan ditingkatkan kualitas penerapannya. Tetapi bagi siapapun yang memiliki cita-cita untuk membentuk kawasan Zero Waste Cities namun belum mendapat dukungan banyak pihak, maka yang bersangkutan bisa memberikan contoh mandiri sebagai agen penggerak untuk memulai pemisahan sampah di rumahnya dan tetangga sekitarnya. Perlu diketahui bahwa pengomposan bisa dikerjakan secara mandiri dengan menggunakan metode takakura dan lubang resapan biopori. Sedangkan metode pengomposan sampah organik dalam jumlah besar bisa dilakukan dengan lubang kompos, bata terawang dan biodigester.

    Bata terawang di Kelurahan Cihargeulis, Kota Bandung (dokumentasi YPBB).
    Biodigester di Kelurahan Sukaluyu, Kota Bandung (dokumentasi YPBB).

    Dalam jangka pendek, konsep Zero Waste Cities ini bisa dirasakan secara langsung oleh warga dalam kawasan dengan mendapatkan kompos yang bisa digunakan untuk berkebun. Kegiatan berkebun tentunya bisa meningkatkan ketahanan pangan kawasan terutama di masa-masa sulit pandemi COVID-19 ini. Kawasan akan mendapatkan keuntungan dengan terciptanya lingkungan yang bersih dan sehat serta estetika kawasan yang indah.

    Dalam jangka panjang, tentu pemerintah juga akan terbantu dengan berkurangnya beban TPA. Dan pada akhirnya, kita akan berperan aktif dalam menjaga kelestarian sumber daya yang ada di bumi dengan cara mengembalikan kembali material pada siklusnya.

    Penerapan Zero Waste Cities di Indonesia

    Sebagai teladan bagi kawasan lain, kita bisa melihat apa yang dilakukan oleh YPBB. Bermula dengan inspirasi yang dilakukan oleh Mother Earth Foundation di Filipina, YPBB telah menjalankan program Zero Waste Cities di beberapa kawasan yaitu Kelurahan Coblong, Cibeunying Kaler dan Babakan Sari (Kota Bandung), Kecamatan Soreang (Kabupaten Bandung) dan Kelurahan Melong di Kota Cimahi. Sejak tahun 2017, YBB telah mempelopori konsep pemilahan sampah di kawasan percontohan tersebut.

    Bahkan pada awal tahun 2021, YPBB bersama dengan Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) juga merintis penerapan Zero Waste Cities di kawasan lain yaitu di Kampung Siba, Kelurahan Sidokumpul, Kabupaten Gresik. Bahkan jauh sebelumnya YPBB berkerjasama dengan Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bali telah menerapkan konsep yang sama di Desa Kesiman Kertalangu, Denpasar.

    Sedangkan di kawasan terdekat, Kabupaten Karawang dan Kabupaten Purwakarta juga bersiap diri untuk membuat pilot project untuk konsep Zero Waste Cities. Bahkan YPBB memiliki harapan besar bahwa dalam dua tahun kedepan akan terdapat setidaknya sepuluh kawasan baru yang menerapkan konsep Zero Waste Cities.

    Tentu bergandengan tangan dengan dengan pemerintah adalah cara efektif untuk menerapkan konsep Zero Waste Cities ini. Sebagai contohnya, kesesuaian konsep antara Zero Waste Cities yang diterapkan oleh YPBB dengan program Barengras (Bareng-bareng Kurangi Sampah) di Kota Cimahi dan program Kang Pisman (Kurangi Pisahkan Manfaatkan) di Kota Bandung menjadikan pelaksanaan Zero Waste Cities semakin mudah dan semakin terbantu.

    Dukungan regulasi dari pemerintah juga diperlukan untuk memperkuat pelaksanaan program Zero Waste Cities. Seperti yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Cimahi dengan mengeluarkan Peraturan Daerah Kota Cimahi No. 6 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Pengelolaan Sampah untuk memastikan program pemilahan sampah dari sumber tetap berjalan. Selain itu Dinas Lingkungan Hidup Kota Cimahi juga menurunkan Tim Patih (Patroli Kebersihan) untuk melakukan edukasi dan monitoring dalam penerapan program pemilahan sampah. Sebagai informasi juga, saat ini DPRD Kabupaten Gresik telah menyusun Rencana Peraturan Daerah (Ranperda) tentang pengurangan kantong plastik.

    Sinergi yang baik ini tentutnya bertujuan untuk menghasilkan output terbaik dan maksimal dalam pelaksanaan konsep Zero Waste Cities sehingga output tersebut bisa dijadikan bahan untuk evalusai dan pengembangan pelaksanaan Zero Waste Cities yang lebih baik di masa mendatang.

    Akhirnya, mari kita bersama-sama secara sadar untuk menjaga lingkungan, mewartakan dan melaksanakan konsep Zero Waste Cities ini di kawasan tempat tinggal kita demi tercapainya kelestarian sumber daya alam yang ada di bumi.

    Dapatkan informasi tentang Zero Waste Citiesjuga di:

    Instagram: @ypbbbandung

    Twitter: @ypbbbdg

    #ZeroWasteCities 

    #KompetisiBlogZWC

    #KompakPilahSampah

    Sumber penulisan:

    1. http://ypbbblog.blogspot.com/

    2. A.U. Zaman, S. Lehmann / City, Culture and Society 2 (2011) 177–187

    3. A.U. Zaman, S. Lehmann / Journal of Cleaner Production 50 (2013) 123e132

    4. http://statistik.jakarta.go.id/

    5. https://surabaya.tribunnews.com/

    6.https://humas.bandung.go.id/

    7. https://thejakartapostimages.com/

    8. https://www.no-burn.org/

    9. https://beritabaik.id/

    10. https://progresnews.id/

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Hampir jam sembilan malam ketika aku memutuskan untuk meninggalkan Busan International Film Festival (BIFF) Square di daerah Nampo-dong. Aku mulai melangkah meninggalkan konter resmi UNIQLO di bilangan BIFF Gwangjang-ro dan kemudia berlanjut di jalan utama, Gudeok-ro. Seratus lima puluh meter di depan sana adalah Gate 7 Stasiun Jagalchi yang menjadi target langkahku untuk segera meninggalkan Distrik Jung.

    Aku sudah menuju bawah tanah sepuluh menit kemudian. Di ruangan bawah tanah yang hangat, aku tak perlu bersusah payah untuk mencari ticketing vending machine karena aku masih menggenggam potongan kecil One Day Pass yang sudah kubeli sore tadi setiba di Busan. Melenggang melewati automatic fare collection gate aku menunggu kedatangan  Humetro Line 1 (Orange Line) di patform stasiun.

    One Day Pass seharga 4.500 Won (Rp. 57.000).

    Humetro itu cepat sekali tiba, membuka pintu otomatisnya dan aku segera memasuki gerbong tengah. Terduduk di sebuah bangku, aku terus memperhatikan kesibukan seusai kerja warga Busan. Humetro perlahan merayap melalui jalur bawah tanah, menurunkanku di Stasiun Seomyeon setelah melewati sembilan stasiun, untuk kemudian aku berganti menggunakan Humetro Line 2 (Green Line). Dan serupa, setelah melewati sembilan stasiun aku tiba di Stasiun Gwangan di Distrik Suyeong. Tak terasa perjalanan menuju stasiun ini memakan waktu yang cukup lama, empat puluh lima menit.

    Aku bergegas menuruni gerbong dan kembali merangsek ke permukaan menggunakan escalator. Kemudian mengambil arah keluar di Gate 5 Stasiun Gwangan yang dihadapkan langsung pada Gwangan-ro Avenue. Suhu udara jalanan sudah berada di level satu derajat Celcius.  Aku terpaksa berjalan dengan tubuh sesekali bergetar sepanjang tujuh ratus meter ke arah pantai. Keberadaan beberapa rombongan turis yang menuju ke arah yang sama, membuatku sedikit tenang, mengingat malam sudah hampir mendekati jam sepuluh.

    Aku tiba di pantai dua puluh menit kemudian setelah berjalan kaki hampir tujuh ratus meter. Berdiri di tepi pantai sejauh mata memandang, bentangan bercahaya jembatan terpanjang kedua di Negeri Ginseng itu sungguh mempesona….Yups, itulah Gwangandaegyo Bridge, suspension bridge sepanjang tujuh setengah kilometer yang menghubungkan Distrik Haeundae dan Distrik Suyeong.

    Gwangandaegyo Bridge.
    Lampu hias yang meriah.

    Kini aku telah berbaur dengan turis dan warga lokal lainnya menikmati suasana malam nan meriah di Gwangalli Beach. Aku terus mengamati pertunjukan warga mengudarakan lampion-lampion berukuran mini. Orang tua, kaum muda dan anak kecil hampir semuanya terhanyut dalam kemeriahan permainan itu.

    Sementara sebagian yang lain tampak menikmati hiasan lampu berwujud berbagai macam fauna yang enak dipandang mata. Disisi lain pantai tampak berjejal bangunan bertingkat yang memberikan kesan bahwa area pantai telah tersentuh teknologi. Tetapi semua tampak bersih dengan lingkungan yang terjaga dan tertata.

    Beberapa bangunan hotel di tepian pantai.
    Hotel Aqua Palace.

    Aku hanya mampu menahan dingin udara selama empat puluh lima menit. Pasti udara akan mendekat ke titik beku ketika malam mencapai puncaknya. Aku bergegas meninggalkan bibir pantai dan menuju ke stasiun kembali. Melangkah dengan cepat demi menghindari hawa dingin yang semakin menjadi, aku tiba di stasiun dengan nafas tersengal, lalu bergegas menuju platform dan beberapa menit kemudian Humetro membawaku, untuk kemudian menurunkanku di Stasiun Seomyeon. Humetro lantas mentransferku di Line 1 menuju Stasiun Beomnaegol, stasiun dimana hotel tempatku menginap berada….Yups, Kimchee Busan Guesthouse.

    Kini tiba saatnya untuk beristirahat demi petualangan lanjutan esok hari.

  • <—-Previous Story

    Bus queue at Kanti Path Road.

    Enough with 300 Rupee for 10 minutes, riding a taxi from Thamel to Kanti Path Road. If you weren’t afraid of getting lost, you could also walk for 20-25 minutes.

    My imagination told me that a bus which I was chasing would standby at a travel agent office. But the reality was far beyond presupposition. All buses from various travel agents lined up along Kanti Path Road.

    48 minutes before departure, I took time to have a light breakfast because this was a long journey which I myself didn’t know how the travel time management was.

    BG’s Coffee Shop which had opened on a side of Kanti Path Road.
    You could also have breakfast on sidewalk, guys….Wouw, a child was pious to help his father in selling food.

    I already ordered the ticket via email from Jakarta for 750 Rupee, it was just the payment was do at departure location. It was a strange transaction which I encountered for the first time abroad. Now the problem was only one, I had to be transferred to another bus because according to ticket seller, a bus which I ordered was fullseat (it seemed that this was their strategy, catching passengers via email first and regarding which bus would be placed on, that was the next business….Hahaha, smart).

    Amazingly, I was only given a ticket and then asked to independently find a bus along Kanti Path Road based on a number plate on the ticket. I confidently executed his order. It was just that, just walking for 5 minutes to looking for it, I started to get overwhelmed….Yes, it was puzzling!….Nepali numeric was different from Latin numeric!.

    Worse …. Now half an hour to departure began to be count down. Armed with no communication access, I returned to starting point of searching to ask ticket seller who seemed to be concurrently as bus coordinator. Dizziness was made by him because I couldn’t find him. I showed my ticket to several people around, they just shouted “wait!…. wait!”. Trying to disguise my panic with 15 minutes remaining to departure time, my eyes closely watched crowd one by one to find the person who I was looking for. Yes, I recognized green color of his winter beanie and a polyphonic phone necklace around his neck. I approached and asked him to help me in finding the bus which was referred to in the ticket….Yes, he only briefly said “Looking for light green bus….Row number three from the front”. Seeing her busy and impossible to accompany me in looking fo the bus, I immediately ran towards front row.

    Finally, a light green bus departed at 7 o’clock. Armed with a liter of free mineral water, I sat in the back seat with Korean students who would then have a friendly conversation throughout 8.5 hours journey to Phokara.

    Bus interior.

    Along the way, the bus would stop four times.

    Twice for toilet breaks for 15 minutes, i.e 1st break stop on 9:30 hours and 4th break stop on 14:30 hours.

    Apart from toilet breaks, bus would also stop twice for meals, each with a duration of 20 minutes. 2nd break stop for breakfast on 10:30 hours and 3rd break stop for lunch on 13:30 hours. I paid a little attention to restaurant cashier table. It was seen that if how many of food was taken, passenger would pay for 450 Rupee.

    So sweet….
    You have to be fast if you didn’t want to be left by bus.
    I didn’t even have time to chew it….I swallowed it in my mouth.

    During the trip, I was really fascinated when I was presented with views from right side. Leaves were turning white because of thick dust from streets, giant billboards which were displayed in the middle of rice fields, suspension bridges which connecting hills, rafting along river and bustling Chandragiri Cable Car tour. Even I could be made to smile by residents behavior in sunbathing in 9° C air while playing carom or some of them surround fire which was lit in house yard.

    .

    Dust….Look!
    Rice fields also became commercial land.
    Do they have neighbors?….

    Slowly bus climbed, descended and circled mountains with ravines on the right. I wasn’t too worried because bus was slowly running. A thing that then made me realized that most of cars, trucks and buses in Nepal came from Tata Motor manufacturer, India.

    Look at trucks in mining area along Kathmandu-Pokhara.

    I thought bus which labeled with “Tourist Bus” word wouldn’t pick up passengers on streets, it turned out that its little conductor had picked up passengers twice, but the better ting was no one stood up in bus.

    The trip was stopped due to a wheel leak on 15 minutes before reaching Pokhara. The conductor was a teenager who struggling to change bus wheel, luckyly three taxi drivers came to help. In this condition, I still managed to do transactions at a street market to get a bag of oranges for 100 Rupee. But repairing took too long time and didn’t fast finish, so I was finally transferred to another bus.

    Old taxis but exclusive.

    In Pokhara, bus would stop at Tourist Bus Park with a view of the Himalayas behind it…..pretty amazing.

    Ignoring many offering from taxi drivers, I rushed to a travel agent office, not far from where I got off. Yup….I took initiative to immediately order a return ticket to Kathmandu because later I would fly to New Delhi via Tribhuvan International Airport. This travel agent offered three types of ticket prices, ranging from 650 to 850 Rupee depending on bus quality. Not taking it long, I chose the cheapest price.

    Tourist Bus Park.

    Let’s Explore Pokhara!

    Check out a video which was related to this article here: https://youtu.be/sSDNtAYx0tQ

    Next Story—->

  • Shubuh prayer which wasn’t focus, because itwas in a hurry to catch up the departure of chartered fleet, i.e Kanaya Tourism Bus. I had to arrive at my office where located in West Jakarta at half past six in the morning. Then, I rode on a motorbike through the morning streets of capital city which started from my residence in East Jakarta.

    Now I have bent my body through the cold wind of street after a few minutes ago, grabbing my 45L backpack which I had prepared from last night. The quite streets made me arrive at office yard in just forty minutes.

    Immediately reporting to event committee, I got a box of savory rice with egg  and mineral water for breakfast. Other employees began to arrive, took their food and then joked with others while enjoying it. While I prefered to immerse myself in second floor work desk to complete all equipments which I thought still lack.

    Time seemed to flow fast, requiring me to followed committee whistle as a sign that praying together would begin and all employees would be dispatched to Yogyakarta. I hurriedly grabbed my drink bottle and drank it while quickly walking downstairs, standing in a prayer circle and after that I immediately headed for bus number 2 according to procedure which was sent by committee via email a day ago.

    Finding my seat for the next ten hours.

    After a committee member made attendance, then exactly according to schedule, bus quickly drove to outer ring highway and joy enveloped the atmosphere of the start of trip. I myself just sat on right side seat in enjoying the dawn show at eastern end of the city. I kept enjoying its beauty until the dawn completely disappeared leaving the morning.

    Dawn in the city.

    It was the first day of third week of December, something I thought really happened …. Traffic jam. Bus which was stuck in traffic began to creep slowly on Cikampek toll road, making situation changed to boring. Some of participants now prefer to close their eyes according to their sleeping habits, cover their faces with blankets, wear black glasses, put on headsets or lean their heads on their friend shoulders, or quite a few who sleep with looked up….open mouths.

    Meanwhile, I, who couldn’t fall asleep, prefered to open a novel from a famous writer which I have prepared since yesterday. I read it until bus was able to escape from traffic jams on West Karawang toll road. The bus kept on going and was now entering a new section toll road… Cipali.

    In smoothly flow road, a committee seemed to get up from his seat, ready to enliven the situation with a little game and I didn’t know why he pointed at me who was immersed in novel author’s drama. He asked me to come forward and play a word-guessing game with three clues which had to be thrown at other participants without a sound.

    I nicely started the game, and in seveeral minutes, all passengers became involved in it. The game was flowing and I returned to my seat and continued reading.

    Bus began to entering the end of toll road and exit at Palimanan toll gate, deciding to take in right direction towards southern route of Java Island. Meanwhile, a little game on bus had turned into a boredom-busting amateur karaoke stage.

    When lunch time arrived,bus decided to stop at Candisari Restaurant in Kebumen area. I hurriedly got off the bus, quickly took my ablution water to perform Dzuhr and Ashr prayer in a time and then mingled with other participants enjoying buffet lunch.

    Saving time on the trip, bus then continued its journey, still passing road congestion which were crowded by vehicles. It crossed Purworejo area, Kulonprogo area and arrived at its destination just before sunset.

    I rushed to hotel’s receptionist and immediately entered the room to taking a bath and stretch my muscles to prepare myself to rehearsel for main agenda tomorrow night, because I would be the center of attention by becoming one of the designated three MC.

    There was nothing wrong with enjoying for a moment the luxury of Sahid Jaya Hotel & Convention before other agendas woulld come so tightly.

    Next Story—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Aku mulai meninggalkan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Tunjuk Ajar Integritas dengan berjalan kaki. Menyusuri Jalan Wakaf, aku perlahan mendekati seorang polisi lalu lintas yang sedang mengatur sebuah perempatan. Tak canggung, aku memanggilnya ketika dia masih membunyikan peluit mengikuti kedipan lampu hijau yang otomatis menggerakkan puluhan kendaraan untuk melintas perempatan itu.

    Tak yakin menjawab pertanyaanku, dia berteriak kepada koleganya di pos. Setelah temannya merentangkan tangan sejajar jalan dan diikuti oleh telapak tangan yang membelok ke kanan maka polisi muda ini sangat yakin memberitahu arah terdekat menuju Sungai Siak kepadaku.

    Hotel Mutiara Merdeka di Jalan Jembatan Siak I.

    Menikmati satu bagian dari Sungai Siak saja, mampu membuatku kagum, hal ini tak lepas dari fakta sejarah dibalik aliran airnya. Siak adalah nama kesultanan yang pernah berdiri di badan sungai ini. Andai aku bisa merekonstruksi sejarah perjalanan Kesultanan Siak Sri Indrapura yang pernah berjaya itu, tentu akan menyempurnakan petualanganku di Pekanbaru.

    Berlama-lama di atas Jembatan Siak I, sejauh tangkapan mata memandang, terlihat jelas Jembatan Siak III tepat di depanku dan membayang di belakangnya adalah Jembatan Siak IV (lebih dikenal dengan nama Jembatan Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah) yang belum selesai konstruksinya. Sementara dari posisi berdiri, aku memunggungi Jembatan Siak II.

    Sungai Siak yang dahulu dikenal dengan nama Sungai Jantan.

    Warna air cokelat cerah dan lebar sungai yang merepresentasikan kegagahan Sungai Siak disempurnakan dengan hijaunya badan sungai yang menyejukkan siapa saja yang berada di tepian. Secara geografis, sungai ini melewati Kabupaten Rokan Hulu, Bengkalis, Siak dan Kota Pekanbaru.

    Selanjutnya, aku terus menyusuri jalan kecil di pinggiran sungai hingga sampai pada sebuah taman terbuka tepat di bawah jembatan Siak III yang lebih dikenal dengan nama Jembatan Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah. Para encik dan puan tampak riang bercengkerama dengan teman atau pasangannya menikmati damainya suasana sekitar sungai. Di sisi seberang, jelas terlihat kesibukan Kantor Kepolisian Air Polda Riau. Terlihat dua kapal patroli cepat bersandar di tepinya.

    Riverside park di bawah Jembatan Siak III.

    Sementara bersebelahan dengan riverside park tampak sebuah rumah panggung dengan warna dominan kuning muda. Dengan pelataran rumput bergradasi hijau dan keramik berpola bujur sangkar hitam-oranye yang di ujungnya dibatasi musholla dan area pantau sungai. Pelataran ini dikenal dengan nama Taman Tuan Qadhi.

    Rumah Singgah Tuan Kadi.
    Taman Tuan Qadhi.

    Tuan Kadi/Qadhi adalah gelar yang ditabalkan Sultan kepada seseorang yang ditunjuk sebagai penasehat dalam hukum syariah Islam (Nasyih) serta berperan sebagai hakim munaka’ah dalam urusan pernikahan dan pembagian tarakah pusaka di wilayah Kesultanan Siak.

    Setelah pendudukan Kolonial Belanda, gelar tuan Kadi/Qadhi disematkan kepada Ketua Kerapatan Syariah Kesultanan Siak. Rumah ini sendiri adalah milik Tuan Qadhi Haji Zakaria bin Haji Abdul Muthalib yang pernah memegang jabatan itu. Dan pada masanya, rumah ini pernah menjadi tempat singgah Sultan Syarif Kasim II, raja Siak ke-12.

    Hhmmhh….Sudah lewat tengah hari, mari kita Shalat Dzuhur……Ikut ke Masjid peninggalan Kesultanan Siak, yuk!

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Segenap penumpang Air Busan BX 123 sudah berdiri di cabin aisle demi bersiap menuruni pesawat. Setelah salah satu pramugara berkoordinasi dengan ground staff, akhirnya juluran aerobridge menempel sempurna di badan pesawat dan pintu telah aman untuk dibuka. Tak lama kemudian, aku mengikuti langkah barisan penumpang di depan untuk keluar dari kabin.

    Sepanjang menapaki aerobridge, kekhawatiranku tak seburuk seperti  saat aku memasuki Narita International Airport beberapa hari lalu. “Masak iya, sudah ke Jepang, ndak bisa masuk Korea”,  pikirku menenangkan diri. Aku terus melangkah dengan mantap melewati koridor demi koridor di arrival hall Gimhae International Airport Terminal 1. Terus mengikuti tengara menuju konter imigrasi. Setelah menemukannya maka aku segera menempel di ujung belakang salah satu baris antrian. Aku masih terlihat santai dan penuh senyum. Dan tak menyangka bahwa drama itu baru saja dimulai

    Aku mengambil antrian paling kiri, para turis asal Tiongkok tampak mendominasi di depan. Mereka terlihat sangat lancar melewati staf imigrasi. “Sepertinya ini akan mudah”, akhirnya aku membuat kesimpulan. Aku kini berada di kepala antrian, menunggu seorang turis wanita Tiongkok menyelesaikan prosesnya di konter. Petugas laki-laki berkacamata itu dengan cepat memasukkan satu demi satu turis asal Tiongkok sedari tadi.

    Neexxxtttt”….Dia memanggil dengan mata masih menatap layar komputer

    Petugas Imigrasi     :     “Have you been to South Korea before?

    Aku                              :     “Not yet sir, this is the first time

    Imigrasi                      :     “Where did you visit before South Korea?

    Aku                              :     “Malaysia, Taiwan and Japan, Sir

    Dia mulai mengawasiku dengan tatapan curiga.

    Imigrasi                      :     “Which other countries have you visited?”, dia menyodorkan sebuah kertas dan pena untukku menulis

    Aku mulai menulis satu-persatu hingga tersalin sebelas baris tambahan nama negara yang pernah kusinggahi.

    Tapi reaksinya sungguh di luar dugaan, dia hanya geleng-geleng kepala. Aku tak kalah berinisiatif ketika dia bersikap demikian. Dari dalam backpack, kukeluarkan passport lama yang telah terpotong salah satu covernya, “You can check it out here, sir”.

    Imigrasi                      :     ”I don’t need this”, dia mendorong passport lama itu dengan telunjuk jarinya ke arahku sebagai pertanda dia tidak mau melihatnya

    Alamaaattttttttt….”Dag dig dug”, jantungku mulai berdetak di atas ritme biasa.

    Imigrasi                      :     ”Please take out your wallet!

    Gertakan ringan itu membuatku terjongkok otomatis dengan tangan mengaduk-aduk isi backpack dengan imbuhan kepanikan. Aku mendapatkan dompet yang dimaksud dalam beberapa saat, memang dompetku kuletakkan di bagian paling dalam supaya aman.

    Aku mulai berdiri dan menyodorkan dompet usang itu….Hmmhhh, dompet dengan kelupasan kulit pelapis di beberapa ujungnya. Membuatku pasrah tak berdaya. Petugas imigrasi itu mulai membuka dompetku dan menghitung setiap lembar isinya. Dia bergeleng kepala  ketika hanya menemukan uang kertas sebanyak  110.000 Won (Rp. 1.378.000).

    Dia mulai berdiri dan beranjak keluar dari immigration counter box dan mulai menutup antrian dengan standing barrier dan menggantungkan tuilsan “CLOSE” di tengahnya. Segenap turis yang mengantri dibelakangku dimintanya berpindah ke antrian konter di sebelahnya. Setiap turis berpindah teratur sembari melihat dengan sedih atas kemalanganku, beberapa tampak heran penuh rasa ingin tahu.

    Waduuhhh”, suara hatiku mulai kecut.

    Petugas imigrasi itu segera melangkan memasuki konternya kembali dan menaruh dompetku di hadapannya. Dia mulai menatapku tajam.

    Imigrasi                      :     ”Do you bring an ATM?

    Aku                              :     “No, Sir”….Batinku menyanggah,”bukannya aku sudah punya Visa, kok dipermasalahin sih?”

    Imigrasi                      :     “Credit Card?”

    Aku                              :     “No, Sir”….Batinku kembali berguman, “Bukannya yang penting uangku cukup buat mengelana di Korea?”

    Imigrasi                      :     “ID Card?”

    Aku                              :     “No, Sir”….Kembali batinku melakukan perlawanan,”Bukannya ID Card bagi turis adalah passport?”

    Imigrasi                      :     Menggelang tegas dengan muka merah, “Aiissshhhh….No ATM….No Credit Card….No ID Card….You only have a small amount of money…. You can’t stay in Korea

    Aduh, Deportasi”, batinku memvonis diri seketika.

    Imigrasi                      :     ”What do you do in your country?

    Aku                              :     ”Marketing

    Imigrasi                      :     “Show your business card!

    Aku                              :     ”I don’t bring it, Sir

    Imigrasi                      :     ” Aiissshhhh ….”

    Dia mulai mengusap-usap kening dan matanya, tak percaya telah bertemu turis semacamku. Kini dia telah menutup passport. Dia berdiri kembali dan memanggil temannya. Dengan cepat temannya datang menghampiri dan mulai bercakap serius meninggalkanku yang sudah diambang deportasi.

    Aku tak menahu apa yang mereka bicarakan, yang jelas itu pasti tentangku. Kuperhatikan dia terus menggelengkan kepala dan temannya sesekali melihatku bak tersangka….Aahhh, suasana ini benar-benar tak mengenakkan dan membuatku gelisah. Tap aku mencoba sekuat mungkin menampilkan muka penuh ketenangan. Bahkan aku bersiap melakukan klarifikasi sebelum dia memutuskan apapun.

    OK, dia telah usai berdialog dengan temannya dan duduk kembali di bangku konter imigrasi. Sebelum dia mengeluarkan sepatah katapun, aku mulai melakukan pledoi terakhir. Tak peduli apapun hasilnya….

    Aku                              :     ” I have a return ticket, Air Asia 5th January, from Incheon to Jakarta. I will stay at Kimchee Guesthouse Busan and Kimchee Guesthouse Seoul….these are my itinerary and my budgeting during in Korea”, Aku memberikan lembaran itinerary dan budgeting padanya, Aku memang selalu menyusun keduanya setiap melakukan backpacking ke luar negeri.

    Petugas imigrasi itu marah dan menempelkan telunjuk ke mulutnya….”Sssttttt”, pertanda dia memintaku untuk tidak banyak mengoceh di depannya. Tapi hal baiknya adalah dia mau membaca lembaran itinerary dan budgeting itu.

    Aku                              :     ”Please Sir, I am just a backpacker…..just for sightseeing Korea this time….No more….Please…..I will go home….Believe me!”, aku mengemis memelas.

    Petugas imigrasi itu kembali menatapku, kali ini benar-benar menatap mataku lekat-lekat, mungkin dia sedang menguji kejujuran. Sepertinya dia mulai menaruh rasa kasihan. Dia mulai membolak-balik setiap halaman passport baru dan passport lamaku yang sedetik lalu dia tarik dari hadapanku.

    Imigrasi                      :     ”OK, You can….You can….But promise me to return to your country!…. Or you’re in big trouble

    Cettoookkkk….Stempel arrival itu terbubuh jelas di passport….Oh, indah sekali momen itu.

    Hadeeuuhhhh…Leegggaaaa banggeeetttt.

    Inilah pelajaran berharga bahwa dikemudian hari nanti aku akan menjadi seorang backpacker yang lebih detail dan mempersiapkan sesuatu dengan sangat baik. Setelah insiden itu, aku selalu membawa kartu nama, KTP, Credit Card (walaupun limitnya kecil) dan ATM (meskipun isinya minim) setiap melakukan perjalanan ke negara orang.

    Berkat persiapan yang baik, aku sangat terbantu dengan keberadaan kartu-kartu sakti itu ketika menghadapi random checking serupa di Woodlands Checkpoint di Singapura tujuh bulan setelah insiden ini.

    Insiden telah usai, aku melangkah meninggalkan konter imigrasi dengan kemenangan.

    Welcome Busan, Welcome South Korea!

  • <—-Previous Story

    Citilink QG 125 flight path (Source: https://flightaware.com/).

    It was already past one o’clock when I finished in paying for lunch menu, however, I was blown away by the taste of Nasi Gudeg Komplit and Durian Juice at Javenir restaurant where I stopped by. Lunch session finally ended my adventure in Solo

    Two and a half hours before the flight….

    Leaving the restaurant, I waited for an online taxi in front yard when Javenir was full of visitors, several cars were queuing up to entering parking area. Five minutes in waiting, I saw a black Toyota Avanza on a road side while turn its hazard lamps on, noticed the vehicle’s license plate, I waved at the driver who looked confused. Knowing my whereabouts, he turned high beam on as a sign he understood.

    Airport, Sir!“, I sat next to him while confirming destination.

    Ok, Sir….Oh, sorry, I was hesitant for taking Sir Donny. Usually, people who leave Javenir are carrying souvenirs. Sir Donny doesn’t seem to be carrying anything ”, he started to open a conversation.

    Oh, I just went there to do a survey for my office’s event, Sir. There isn’t intention for buying souvenirs“.

    No wonder. Where is Sir Donny going back? ”, he understood that I intended to leave Solo.

    Jakarta, Sir“.

    The conversation intently continued for next twenty minutes until taxi arrived at airport’s drop-off zone.

    There wasn’t much time left….

    After cashly paying taxi, I immediately rushed. Showing my e-ticket and ID card to aviation security, completing an initial screening process, I managed to enter departure hall. My gaze swept over the rows of check-in counters in search of an LCD with a Citilink QG 125 displaying in it. I found it in a corner of row and without hesitation I started queuing.

    A few minutes later, I easily got my boarding pass. This time, I won’t enjoy the beauty of flight because I have to sit in column B seat…. Yups, that was the middle column. Leaving check-in counter, initially I smoothly went through second screening process. However, an aviation security officer asked me to take out all electronic devices in my backpack, put it on a tray which they had prepared. I myself am not worry, because I didn’t feel that I have done anything wrong and of course this was still in my own country. I just feel amazed by safety standard of domestic flights at Adi Soemarmo International Airport.

    As expected, screening process went straightforward without any problems. I walked towards boarding gate to wait for the plane to arrived.

    Half an hour from boarding time….

    I took time to do Dzuhur and Asr Prayers in a time at prayer room and spent remaining time fot consolidating with Marketing Conference’s Head of Event Division in Jakarta. I conveyed some important notes regarding my survey results and added Javenir possibility for being a strong candidate for destination.

    By sending report via email prior to check-out from Amaris Hotel Sriwedari this afternoon, it means that my survey trip and report were simultaneously completed….Wow, It was good, this free trip has done, the report was also finished….Yuhuuu.

    To my surprise, coordination by telephone took so long untul boarding call had interrupted it. I ended the conversation and immediately headed for boarding gate. After checking my boarding pass and ID card, I rushed through aerobridge following other passengers who had previously entered the cabin.

    That was Citilink QG 125 using Airbus A320.
    To aerobridge.

    Boarding was over a while after I sat on seat 21B. Aircraft began to move and cabin crew began to busy in demonstrating flight safety procedures. After being in a perfect position at the end of runaway, plane really took off and left the beauty of Solo City.

    Not wanting to be busy reading Linkers, Citilink’s inflight magazine because I had read it during Jakarta-Solo flight a day before yesterday, I chose to sleep and wait until the plane arrived in Jakarta for about 50 minutes later.

    The twin-jet Airbus flied 500 km with a cruising altitude of 26,000 feet and a speed of more than 800 km/h. Without turbulence, I fell asleep and felt comfortable in riding Citilink QG 125. For some reason, my heart feels safety when using Citilink’s services. Is it because a suggestion that Citilink is a subsidiary of Garuda Indonesia Airways, the best airline in this country?….Ah, I don’t know….

    “Flight attendants, please prepare for landing!”….

    The announcement from flight captain made me wake up and prepared for landing at Halim Perdanakusuma International Airport.

    Landing at the capital’s second airport is the most enjoyable thing, because we would go down using manual stairs and felt a sensation when under the giant feet of iron bird. It was rare to be able to get a special moment like that.

    Smoothly landing @ Halim Perdanakusuma International Airport.

    Welcome to Jakarta….

    Time to get back into capital’s busy work routine with no end.

    Alternative for flight tickets from Solo to Jakarta can be searched on 12Go or the following link: https://12go.asia/?z=3283832

  • <—-Previous Story

    First destination in Nepal.

    Receptionist: “Mr. Donny Suryanto from Indonesia? ”, greeted me when he got closer to his desk.

    Me: “How do you know me?“.

    Receptionist: “Yes Sir, we are waiting for you. Our last room which we have. And you have kept it via Booking.com

    Me: “Yeaa wright….Hahaha, excellent”, Simultaneously signed a confirmation sheet with a smile.

    I entered Holiday House Hotel room for 1,100 Rupee. Planning to stop overnight in Kathmandu. And next morning, I left for Pokhara to enjoy the Himalayas.

    Limited time forced me to hurry up. Without taking a bath and immediately took a folding bag to fill it with important items, then heading to Swayambhunath Stupa.

    Now I walked along narrow streets of Thamel with inevitable suction of dust with every step. Distinctive smell of dust was obscured by pungent smell of incense which slowly diminished by small embers in pashmina stalls.

    I approached a driver who was wiping his tiny taxi from dust, then started a transaction to Swayambhunath Stupa which was 3 km away from hotels where I was staying. I deliberately canceled to walking because I was worried that it was getting late.

    Rows of stupa in Swayambhunath.

    400 Rupee was my agreement with him. During trip, Nepali pop songs, which I never understood, made my head nod in following its tune. Every now and then the driver who was the owner of that taxi looked at me with full of smiles and finally we nod together.

    Taxi driver advised me to get off at top gate of shrine. He said it took a long time if I had to tread from bottom gate. After I agreed to his suggestion, that tiny taxi slowly drove in a circle following Swayambhu hill contour and dropped me off right at front gate.

    Exploring between stupas.

    Security: “Where are you come from?

    Me: “Indonesia, Sir

    Security: “Oh, I know…. I know…. Jokowi“.

    Me: “Hahaha great….You know that

    Security: “He is very famous here“, he said while tore my entrance ticket for 200 Rupee.

    Swayambhunath’s main stupa.
    Look at those sharp Buddha eyes!

    It was true, according to its nickname, i.e “Monkey Temple”, area around stupa was often found monkeys which cheering up tourists arrival in front courtyard. Crossing “the peace pool” which full of coins which were tossed by travelers. It was said that they believe their prayers would come true if they throw coins. I continued up the stairs to worship’s main place at hill top.

    Rotate it and your prayers would be answered.

    Congregation took turns coming and turning prayer wheels one by one…. Of course they hoped that Buddha would grant their request.

    Around the stupa, souvenir sellers offered their merchandises to tourists. Souvenirs made fro metal which dull because of were exposed by dust didn’t deter tourists to buying and owning them.

    Lots of souvenir were requested by my frends….

    Passing through each groove around stupa, dogs as guard animals looked limp and some of them were asleep anywhere. Meanwhile, thousands of colorful prayer flags neatly lined up on a rope which centered on stupa and stretched out in various directions.

    Cute.

    Meanwhile, on other side, there was a sunset which splashes the city with a reddish-yellow spectrum. Combination of religious nuances and natural beauty which really spoiled the eyes.

    Kek BandLike Bandung City which was seen from Bukit Bintang, right?

    Exiting at the same gate, I took time to walk down street, watching activity of street food stalls. My steps stopped when a husband and wife who selling panipuri were busy. Then I redeemed a portion for 100 Rupee and started to enjoying Nepal’ street food for the first time. Spicy taste mixed with sweet and sour, also strong aroma of curry made me a little slow to swallow every piece of panipuri which I bought. In the end, that seller spouse laughed at me when I chewed that snacks while glaring.

    Must taste Nepal’ street food.

    After enjoying this famous South Asian folk-style snack, I stopped a taxi which had just dropped its passengers. It was time to go to hotel, took a shower and got ready to enjoy dinner on my first night in Nepal.

    Bye Swayambhunath….Got ready to go to Pokhara tomorrow.

    Next Story—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Usai menurunkan backpack di kamar, aku menuruni anak tangga Agosto Inn untuk melanjutkan eksplorasi.

    Hi, Sir. Where are you going this afternoon?”, tanya resepsionis sekaligus si empunya penginapan.

    Petronas Twin Tower, Sir

    Oh, you better take LRT to get there. Don’t take bus because Kuala Lumpur is surely to get stuck this afternoon”, nasehatnya cukup membantuku.

    Di luar fakta itu, sedari tadi aku telah memutuskan akan menggunakan Light Rail Transit. Karena sejatinya aku belum mengetahui bahwa ada layanan gratis Go KL City Bus yang jalurnya terintegrasi menuju kesana. Maklum, itulah kali pertama aku menjejak ibu kota Malaysia.

    Aku menyusuri jalanan Tun H S Lee ke arah selatan kemudian berbelok ke kanan di perempatan berlanjut ke Jalan Sultan menuju Stasiun Pasar Seni. Jalanan masih basah dan menyisakan beberapa genangan tipis disana-sini. Memaksaku sedikit berhati-hati demi menghindari cipratan air dari hempasan laju kendaraan yang berlalu-lalang. Sore itu adalah jam pulang kantor, menjadikan jalanan semakin padat saja.

    Agosto Inn termasuk penginapan yang murah nan strategis, jaraknya tak lebih dari dua ratus meter dari Stasiun Pasar Seni, hanya diperlukan lima menit berjalan kaki menujunya. Setiba di stasiun, aku membeli token seharga 1,5 Ringgit di ticketing vending machine untuk kemudian bergegas menuju platform di lantai atas. Stasiun Pasar Seni adalah jenis stasiun layang dan berselang tiga stasiun dengan Stasiun KLCC (Kuala Lumpur City Centre) dimana Petronas Twin Tower berdiri.

    tren tiba dalam 3 minit’….‘tren 3 koc’…‘koc ke Gombak’….begitulah tulisan yang terpampang bergantian di layar LCD pada platformku berdiri. Aku begitu antusias, mengingat Jakarta belumlah memiliki MRT dan LRT kala itu.

    LRT Laluan Kelana Jaya berwarna putih dengan kelir biru-merah tiba. Aku memasuki gerbong tengah, berdiri berdesakan dengan para pekerja kantoran yang hendak menuju rumah masing-masing. Desingan laju LRT memamerkan bentangan bangunan beton, taman-taman kota dan jalanan di bawah dengan beberapa pelita jalan yang mulai menyala otomatis. Menjadikan panorama sore terlihat elok.

    Lima belas menit kemudian, aku tiba di Stasiun KLCC. Stasiun KLCC sendiri adalah stasiun LRT yang terintegrasi dengan pusat perbelanjaan terbaik di Kuala Lumpur, yaitu Suria KLCC. Jadi untuk menuju Petronas Twin Tower, penumpang akan diarahkan melalui bagian dalam pusat perbelanjaan. Strategi yang jamak diterapkan untuk menaikkan pendapatan kawasan.

    Aku terus melangkah ke lantai atas melalui escalator demi menemukan pintu keluar menuju Petronas Twin Tower. Sepemahamanku, aku harus keluar di pintu mall di sisi Jalan Ampang. Jadi sepanjang pusat perbelanjaan, aku hanya menengara kata “Petronas Twin Tower”atau “Ampang”. Alhasil, kutemukan sebuah papan petunjuk menuju Jalan Ampang….Yes, aku berhasil keluar dari mall di jalur yang tepat.

    Dari Jalan Ampang, keperkasanaan menara kembar mulai terpamerkan, menjulang setengah badan ke puncak. Aku terus mendekatinya, menyeberang Jalan Ampang dan tiba di pelataran utama Suria KLCC. Kusegerakan melangkah menuju sisi depan menara. Tepat di depannya, hiasan memanjang air mancur memperindah suasana.

    This was my first time there….Petronas Twin Tower.

    Mengunjungi sesuatu yang fenomenal untuk kali pertama memang mendatangkan impresi. Girang, syukur, takjub memenuhi isi hati sore itu. Hingga rinai lembut tak mampu mengusirku, untuk beberapa saat, hanya aku dan sedikit turis yang mau bertahan. Sebagian besar diantaranya telah angkat kaki.

    Beberapa lama kemudian rinai berganti hujan, ketika aku tertegun pada fotografer profesional yang terus membidik menara tertinggi kesebelas sejagat itu menggunakan kamera berlensa panjang dengan plastic protector. Kini hujan memaksaku segera beranjak, pelataran menara kembar menyisakan lengang.

    Memasuki kembali Suria KLCC melalui pintu berbeda, aku berniat menuju lantai empat, mencari keberadaan Petrosains, si peraga teknologi industi perminyakan Malaysia. Tak sulit menemukannya, begitu tiba di lantai empat, logo Petrosains menyambut dan mengarahkanku ke ruang utama. Hanya saja sore itu sudah hampir pukul enam, Petrosains telah tutup sejak dua jam lalu. Aku hanya memandangi seisi Petrosains dari bagian luar dinding kaca, kemudian bergegas pergi meninggalkannya untuk kembali menuju hotel.

    Pintu utama Suria KLCC.
    Jam operasional dan harga tiket masuk Petrosains.

    Dari Stasiun KLCC, aku menumpang kembali LRT Laluan Kelana Jaya menuju Stasiun Pasar Seni. Dari sana, aku berniat mengakhiri petualangan hari pertama di Kuala Lumpur dengan menikmati makan malam. Aku menemukan kedai kecil penjaja makanan India di pinggiran Jalan Tun H S Lee.

    Kerja di sini?, sapa si empunya kedai sembari menyiapkan makanan

    Tidak, Pak. Saya hanya melawat”,

    Dari mana kamu datang?

    Indonesia

    “Oh , Indonesia….Jakarta, Surabaya, Bandung?”, sambil tersenyum menyebutkan nama-nama kota itu.

    Jakarta, Pak

    “Ok, sudah siap. Sila makan”, dia mulai menyodorkan seporsi Biryani dengan ayam dan dua butir telur rebus.

    Mari makan!

    Buseettt, seginikah porsi makan orang India”, aku membatin. Kiranya aku memakai jurus lain, aku membungkus sebagian dari menu itu untuk makan malam sesi dua nanti malam….Gile emang.

    Seporsi Biryani menjadi penutup yang sempurna malam itu.

    Kisah Selanjutnya—->