• <—-Kisah Sebelumnya

    Jalur penerbangan Lion Air JT 712 (sumber: flightaware).

    Terakhir menunggang “Maskapai Singa Merah” adalah sewaktu pulang dari Tanah Minang di akhir 2018. Kala itu, sangat bersyukurnya diriku karena sempat mencicip kehebatan Boeing 737 Max 8, generasi Boeing yang pernah menjadi andalan banyak maskapai dunia sebelum akhirnya dipensiun massalkan.

    Menjelang pukul delapan, seorang ground staff wanita berparas cantik dengan pakaian Cheongsam bermotifkan batik memasuki ruang tunggu di Gate D1 sembari bertutur lantang,

    JT 712 tujuan Pontianak dipersilahkan boarding, persiapkan boarding pass dan identitas diri ya Bapak-Ibu“, di langkah terakhir dia membuka pintu yang mengarah ke aerobridge.

    Aku bergegas menyusulnya dan menjadi pengantri terdepan. Usai menyobek boarding passku, ground staff cantik itu mengarahkanku menuju aerobridge. Menyempatkan diri menangkap beberapa aktivitas apron dengan Canon EOS, akhirnya tiba jua diriku di pintu masuk kabin.

    Aku cukup faham bahwa kini diriku sedang menaiki selongsong terbang berjenis Boeing 737-800NG (Next- Generation). Boeing jenis ini sendiri adalah pesawat yang didesain sebelum keluarnya Boeing 737 MAX. Dilihat dari kondisinya, pesawat masih tampak baru, hal itu berhasil membubuhkan rasa nyaman sebelum memulai penerbangan.

    Mulai memasuki kabin, aku bergegas menuju ke bagian ekor untuk mencari keberadaan bangku bernomor 32F. Aku menemukannya tepat di baris ketiga dari belakang, tepat di jendela sisi kanan. Duduk di bagian belakang setidaknya terasa lebih aman karena deret bangku didepanku serta paling belakang tampak tak berpenumpang. Hanya ada tiga pramugari muda duduk tepat di belakangku. Dugaanku, pramugari yang duduk di tengah adalah cabin crew senior karena sepanjang penerbangan dia memberikan materi training yang harus diserap oleh pramugari junior di kiri kanannya.

    Sementara itu seorang wanita muda berseragam Dinas Perhubungan dominan putih tegap berdiri mengawasi tindak tanduk segenap penumpang selama boarding. Mungkinkah petugas wanita itu sedang memantau penerapan protokol kesehatan di dalam kabin.

    Senangnya bisa terbang lagi.
    Kapan lagi ya aku naik Air Asia?.
    Bedanya cuma di masker dan kacamata photochromic neutral itu.

    Genap setengah jam menyempurnakan boarding, pesawat mulai beranjak dari apron dan bersiap diri untuk lepas landas. Awak kabin dengan sigap mulai memperagakan prosedur kesalamatan penerbangan seiring dengan pesawat yang sedang taxiing.

    Pesawat terus begerak menuju salah satu ujung runway untuk kemudian berbalik haluan 180 derajat demi menghadap ke panjangnya landas pacu. Begitu petugas di ATC merilis izin mengudara, maka pesawat mulai memacu kecepatan di atas landasan untuk kemudian melakukan airborne di ujung landasan yang lain.

    Di atas udara, penerbangan kali ini harus menembus dominasi awan-awan putih. Tetapi walaupun demikian, beberapa pemandangan terlihat indah ketika pesawat mengudara tepat di atas Pulau Belitung, destinasi wisata andalan tanah air yang pernah kukunjungi pada akhir 2016 silam.  Selain Pulau Belitung, pesawat juga melintas di atas Pulau Serutu dan Pulau Karimata.

    Hanya saja, di tengah perjalanan pesawat sedikit mengalami turbulensi ketika melintas di daerah bersih awan, mungkin karena terpaan kencang udara menyebabkannya demikian.

    Cengkareng dari atas.
    Cruise phase.

    Menempuh jarak udara lebih dari tujuh ratus kilometer, pesawat twin jet ini mengudara dengan perkiraan kecepatan enam ratus kilometer per jam.

    Satu lagi pemandangan fantastis tertampil sesaat sebelum pesawat mendaratkan roda di Supadio International Airport, yaitu terpampang lebarnya Sugai Kapuas dengan kepadatan rumah-rumah penduduk di kedua badan sungai. Bahkan sebelum pemandangan spektakuler itu tiba, pemandangan Sungai Kakap dan Sungai Pinang juga turut menambahkan pesona Pontianak ketika dilihat dari udara.

    Wing flap di kedua sayap pesawat kini mulai diturunkan sebagai persiapaan pendaratan, tampak dengan jelas smoke trail yang menyembur dari ujung sayap sebagai kamlufase pendinginan udara sekitar karena bertumbukan dengan panasnya gas buang pesawat.

    Dan ketika pesawat menyentuh ujung landasan, begitu terpesonanya mataku melihat gagahnya antrian pesawat tempur jenis Hawk 109/209 milik Skuadron 1/Elang Khatulistiwa. Sebuah pesona penerbangan yang mengagumkan sepanjang satu jam lima belas menit.

    Mulai masuk pulau Kalimantan.
    Sungai Pinang dan Sungai Kakap di selatan Sungai Kapuas.
    Nah itu aktornya….Sungai Kapuas, man!
    Lihat fenomena smoke condensation di sayap pesawat itu….Keren ya?
    Hawk 109/209 yang selalu siap menjaga udara Nusantara.
    Modernnya Supadio International Airport.
    Yuk, kita lihat sisi dalam bandaranya seperti apa!

    Kamu mau dong terbang ke Pontianak?

    Nih sebagai alternatif, tiket pesawat dari Jakarta ke Pontianak bisa dicari di 12Go atau link berikut: https://12go.asia/?z=3283832

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Hampir tengah malam….

    Percakapan berbumbu secangkir latte tambahan dengan Pak Arman di lobby Solo Paragon Hotel & Residences masih saja hangat. Sedangkan Rihsan, anak keduanya yang berumur delapan tahun sudah terlelap di salah satu sisi sofa. Aku yakin jika tak menyudahi, pasti kongkow ini akan berakhir saat fajar. Maka akulah yang bertanggung jawab menutup percakapan ini.

    Baiklah Pak Arman, sudah saatnya saya undur diri dan beristirahat di hotel”, kuucapkan sesopan mungkin setelah meneguk sisa latteku.

    Oh, udah hampir tengah malam ya?. Oh iya, Pak Donny menginap dimana?”.

    Di Grand Amira Hotel, Pak Arman”.

    Oh, baiklah. Hati-hati pak di jalan. Sampai jumpa lagi kapan-kapan”.

    Jalanan sudah sepi. Untuk mengurangi resiko keamanan, kuputuskan untuk memesan taksi online saja. Tak lama aku dijemputnya. Lalu, taksi melaju melalui Jalan Honggowongso menuju ke daerah Pasar Kliwon. Dalam perjalanan, aku mencoba melacak keberadaan Rahadian dalam perjalanannya dari Bandung menuju Solo. Tapi panggilanku tak berjawab, pesanku tak berbalas,mungkin dia pulas di kereta.

    Solo aman ngga pak, kalau malam-malam gini naik ojek motor?” tanyaku kepada sopir untuk membuka pembicaraan.

    Aman, Insyaallah mas. Disini ojek online jalan 24 jam. Ga usah khawatir”.

    Wah berarti besok malam saya bisa begadang di kota nih pak….Hahahaha

    Kulineran malam saja mas Donny. Solo jagonya kuliner. Di sini kuliner ada waktunya masing-masing. Ada kuliner pagi, ada juga yang buka siang, nah malam begini juga ada yang mulai buka mas”, jelasnya singkat.

    Wah unik ya Solo. Pedagang kuliner seperti punya slot waktu jualan masing-masing. Kaya kesepakatan saja….hahaha” aku mulai mengagumi keunikan kota ini.

    Sang sopir taksi memang tak pernah tahu bahwa tujuanku ke Solo ini untuk melakukan survey kuliner terbaik yang akan dijadikan destinasi pada acara Marketing Conference perusahaanku. Besok pagi aku akan mulai mecicipi setiap hidangan kuliner ternama Kota Batik bersama Rahadian.

    Dalam 15 menit, aku tiba di pelataran Grand Amira Hotel by Azana. Hotel modern minimalis yang telah dipesan oleh kantorku. Bagiku hotel seharga 335.000 per malam ini menjadi hotel mewah karena aku terbiasa memanfaatkan dormitory ketika melakukan backpacking. Langkahku di lobby disambut dengan senyum manis resepsionis yang tampak bergegas berdiri ketika melihat kedatanganku.

    Datangnya malam sekali, Bapak Donny”, sapanya singkat.

    Oh iya mbak. Saya harus ketemu teman lama dahulu di daerah Mangkubumen. Keasyikan ngobrol mbak”, sambil kuserahkan booking confirmation letter dan KTP kepadanya.

    Oh begitu, tapi Bapak ga perlu khawatir, resepsionis kita melayani 24 jam, Bapak”. Senyumnya terlihat aduhai sembari memberikan kunci kamar dan kwitansi bayar.

    Setelahnya aku bergegas menaiki kamar dengan lift di sebelah kanan belakang meja resepsionis.

    —-****—-

    Tok…Tok….Tok”, bunyi itu sepertinya sudah berlangsung dari beberapa menit yang lalu.

    Astagaaaa……

    Aku tertidur pulas dan kesiangan.

    Tok…Tok…Tok, Pak Donny buka, Pak. Ini Rahadian”, suara itu lirih terdengar dari luar.

    Pasti sejak pagi gelap tadi, Rahadian sudah tiba di hotel. Dugaanku, dia pasti menuggu lama di lobby. Kulihat di gawai pintarku banyak sekali panggilan tak terjawab darinya. Pesan whatsapp pun tak terbaca. 

    Kubuka pintu itu dan muka Rahadian tampak bercanda seolah menggerutu. “Gimana sih pak, kalau guwe  kagak naik ke kamar, pasti lo bangunnya tengah hari nih. Parah Pak Donny”.

    Sorry, Rahadian. Semalam aku ketemu teman lama di Solo Paragon. Jadi kemalaman pulang….Hahaha. Sana kamu mandi duluan, kita segera sarapan dan melakukan survey”, selorohku sambil mengucek-ucek mata dan melompat kembali ke tempat tidur.

    Pagi ini aku akan check-out dan berpindah ke Amaris Hotel di daerah Sriwedari. Aku dan Rahadian sengaja membawa backpack kecil dan ringan, sehingga setelah check-out kami bisa leluasa bergerak tanpa harus menaruh sesuatu di Amaris Hotel terlebih dahulu.

    Mau ikut survey kulinerku? ….hahaha.

    Yukksss….

    Kisah Selanjutnya—>

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Usai menyantap jajanan ringan Appam, Elai Adai dan Samosa, aku menyempurnakan sarapan dengan menyeruput perlahan Chai panas yang membuat badan menjadi hangat setelah semalaman terpapar dinginnya penyejuk ruangan bandara.

    Seruputan terakhir Chai menandakan bahwa aku harus bersiap diri menuju destinasi utama hari itu….Apalagi kalau bukan Fort Kochi, sebuah kawasan perpaduan empat budaya yaitu Belanda, Portugis, Inggris dan India.

    Meninggalkan Cafe Sulaimani, aku kembali melangkah menuju bundaran di sekitar gerbang utama Cochin International Airport.  Setibanya di sana aku merasa beruntung karena ada seorang opsir polisi yang sedang bertugas.

    “Sir, Where is bus shelter which can deliver me to Fort Kochi?”, aku memberanikan diri untuk bertanya.

    “Just wait there, bus will come on fifteen minutes”, dia melihat jam tangannya dan menunjuk ke sebuah pojok jalan.

    “Thanks, Sir”

    “Welcome”

    Aku segera menyeberang jalan dan menunggu tepat di tikungan. Tak ada halte apapun di sisi jalan itu. Hanya saja petunjuk opsir polisi itu sudah membuatku yakin bahwa bus bisa dihentikan di pojok jalan itu.

    Lima belas menit menunggu adalah masa-masa menenangkan, bagaimana tidak, opsir polisi itu sepertinya tak lengah memperhatikanku sembari mengatur lalu lintas di sekitar. Dia sepertinya akan memastikanku terangkut oleh bus pada pemberangkatan terdekat.

    Benar adanya, tepat lima belas menit, sebuah bus berwarna oranye dengan logo KURTC (Kerala Urban Road Transport Corporation) keluar dari arah bandara. Dengan cepat aku menangkap kehadirannya, begitu pula dengan opsir polisi itu. Ketika bus perlahan semakin mendekat, sang opsir menatapku dari kejauhan dan telunjuknya diarahkan ke bus tersebut sembari tersenyum. Aku mengacungkan jempol dan membalas senyumnya.

    “Terimakasih pak polisi yang baik hati”, aku membatin ceria.

    Aku memasuki bus dari pintu depan dan mengambil tempat duduk di sisi tengah. Keluar dari bandara, deretan bangku bus masih terlihat kosong. Tak lama duduk, seorang kondektur perempuan dengan mesin geseknya datang mendekatiku.

    “Where will you go?”, dia melontarkan pertanyaan.

    “Fort Kochi, Mam”, aku menjawab sembari tersenyum.

    “88 Rupee”, kondektur itu menggeleng khas India.

    Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas ketika bus perlahan bergerak ke barat meninggalkan Aerotropolis Nedumbassery. Bus merangsek melalui Airport Road, jalanan utama berpembatas  trotoar di antara kedua ruasnya.

    Perlahan tapi pasti, bus menaikkan penumpangnya satu per satu di sepanjang jalan. Ada yang dinaikkan di halte dan ada juga yang dinaikkan di luar halte.

    Dalam lima belas menit, rasa penasaranku terbayarkan ketika bus melintas di sebuah stasiun MRT.

    Itu pasti Stasiun Aluva”, aku membatin.

    Dalam peselancaranku di dunia maya, aku menemukan bahwa Kochi adalah kota yang memiliki fasilitas MRT. Kini aku sudah menemukan jalurnya dan aku menjadi berniat untuk mencicip Kochi Metro walau hanya sekali saja. Mungkin sepulang dari Fort Kochi sore nanti.

    Meninggalkan Aluva, keramaian warga lokal mulai terlihat masif ketika bus memasuki sebuah kawasan industry, daerah Kalamassery namanya. Truk-truk besar khas industri tampak memenuhi jalanan, sedangkan bus-bus kota jenis yang lain dijejali oleh warga lokal yang sibuk beraktivitas.

    Kemudian keluar sedikit dari kawasan Kalamassery, gedung-gedung apartemen mulai kutemui kehadirannya. Dugaanku, para pekerja dari kawasan industri itu sebagian besar tinggal di apartemen-apartemen yang didirikan di sekitar wilayah Ernakulam.

    Stasiun Aluva, salah satu stasiun dalam jaringan Kochi Metro.
    Suasana HMT Road di sebuah kawasan industri Kalamassery.
    TBPL GK Arcade (kanan depan) adalah gedung apartemen di distrik Ernakulam tepat di sisi Jalan Ernakulam-Thekkady.

    Setelah 45 menit menit perjalanan, merapatlah bus ke sebuah terminal di daerah Vyttila. Sebagian besar penumpang naik dan turun di terminal ini. Inilah bus hub yang berukuran lumayan besar di kota Kochi. Bus-bus dari dan menuju daerah lain di Kerala tampak merapat di terminal ini.

    Usai menaikkan penumpang di Vyttila Hub Bus Terminal, bus kembali merangsek ke jalanan. Semakin ke barat, sungai-sungai besar mulai mengakuisisi pemandangan. Aku faham bahwa bus yang kunaiki semakin merapat ke arah pantai barat Kerala. Sungai-sungai itu bercabang-cabang membelah daratan. Semakin banyaknya daratan yang terpisah oleh perairan menyebabkan aku mulai menemukan banyak sekali jembatan di bagian akhir perjalanan menuju Fort Kochi.

    Salah satunya adalah jembatan terpanjang di Kerala yaitu Kundannoor Bridge yang menghubungkan  dua area, yaitu Maradu di timur jembatan dan Thevara di baratnya. Perairan-perairan luas itu membuat panorama sejauh mata memandang menjadi lebih sejuk dan biru.

    Selepas melewati jembatan terpanjang di Kerala itu, bus memutar roda menyusuri Willingdon Island yang merupakan hamparan daratan yang dikelilingi sepenuhnya oleh perairan sehingga menjadikannya terpisah dari daratan utama Kerala. Sementara itu, area Fort Kochi sendiri  adalah bagian dari daratan utama Kerala yang terletak di bagian paling barat sehingga bus harus sekali lagi melewati sebuah jembatan untuk menuju ke sana.

    Adalah Gateway of Cochin BOT Bridge yang memfasilitasi penghubungan antara pulau dan daratan utama tersebut.

    Vyttila Hub Bus Terminal di tepian Sungai Kaniyampuzha.
    Suasana dalam bus setelah meninggalkan daerah Vyttila.
    Pemandangan dari atas Kundannoor Bridge.
    Gateway of Cochin BOT Bridge yang menghubungkan Willingdon Island dengan daratan utama Kochi
    Kesibukan di area Thoppumpady sekitar pukul sebelas siang.
    Suasana lain wilayah Thoppumpady di sekitar AK Xavier Road.
    Pemakaman di kawasan Fort Kochi.

    Dan pada akhirnya, genap satu jam melakukan perjalanan, bus mulai masuk di area Fort Kochi. Kali ini keramaian sekitar lebih didominasi oleh kegiatan pariwisata. Baik wisatawan lokal maupun mancanegara berbaur di setiap penjuru Fort Kochi.

    Perlu waktu setengah jam lamanya bagi bus untuk merangsek membelah padatnya jalanan Fort Kochi hingga tiba di shelter terakhir KURTC bus yang lokasinya tak begitu jauh dari pantai barat Kerala.

    Okay….Saatnya mengeksplorasi Kochi selama beberapa jam ke depan.

    Kisah Selanjutnya—->

  • Semenjak terakhir pulang dari Qatar di permulaan 2020, boleh dikata, aku tak pernah lagi berpetualang dalam jarak yang jauh. Terhitung selama hampir dua tahun, aku hanya mengunjungi destinasi yang lokasinya berdekatan dengan ibukota, sebut saja Ujung Genteng, Gunung Pancar, Curug Leuwi Hejo, Dataran Tinggi Dieng, Anyer dan Puncak.

    Tapi kini hati tetiba berujung galau ketika cuti lima hari disetujui oleh pimpinan tempatku bekerja. Ditambah dua hari weekend menjadikan liburanku genap satu pekan.

    Ketika esok hari hitungan cuti bermula, pikiranku pergi membayang ke segala tempat. Adalah Bali, Lombok dan Labuan Bajo yang ada di pikiran pagi itu.

    Tapi aku harus segera melakukan sesuatu sebelum berpikir lebih jauh.

    Di hari pertama cuti, aku memutuskan untuk berangkat menuju sebuah rumah sakit kenamaan di bilangan Cibubur yang terkoneksi dengan Program PeduliLindungi untuk melakukan PCR dengan hasil keluar sameday. Aku telah menetapkan niat, apabila hasil PCR negatif maka aku akan memberanikan diri untuk terbang.

    Ya, kemanapun….Yang penting naik pesawat”, niat di hati terdalam.

    Aku telah merindukan sebuah petualangan panjang. Tentu petualangan yang jauh dari rumah. Aku sudah bersiap diri melakukan perjalanan dengan protokol pandemi.

    Aku bersemangat datang ke rumah sakit dan tiba pada pukul setengah sembilan. Menunggang Beat Pop hitam kesayangan, aku tiba di depan para perawat yang bersiap mengambil sample PCR (Polymerase Chain Reaction) dengan mekanisme drive thru.

    Sehari sebelumnya, aku telah melakukan pendaftaran online senilai Rp. 275.000. Inilah pertama kalinya aku menjalankan tes PCR. Tes yang membuatku bersin-bersin hebat bukan kepalang.

    Selepas tes, aku pulang dan berdebar menunggu hasil. Dan pada akhirnya, hati diselimuti rasa bahagia ketika aku mendapatkan kabar lewat WhatsApp pada pukul lima sore bahwa PCRku menunjukkan hasil negatif dan hasil itu juga tercantum otomatis di aplikasi PeduliLindungi.

    Sempurnanya hasil PCR mengantarkanku menuju tahap berikutnya yaitu berburu tiket.

    Aku terjun berselancar di aplikasi e-commerce perjalanan terkenal di Indonesia. Akan tetapi, hasil perselancaran itu akhirnya mengubur dalam-dalam niatku yang sangat berhasrat melawat ke Labuan Bajo ataupun Lombok. Harga tiket pesawat yang terlalu melangitlah yang membuatnya demikian. Alternatif lain menuju Bali pun akhirnya berpotensi menjadi perjalanan tanggung karena sesungguhnya aku pernah menginjakkan kaki di Pulau Dewata.

    —-****—-

    Malam itu juga, aku mulai mempacking segenap perlengkapan hingga larut malam. Tak lupa, aku mempersiapkan obat-obatan beserta vitamin dengan lebih serius. Bahkan aku memutuskan membawa tablet antivirus sebagai antisipasi jika terjadi hal-hal diluar perkiraan di daerah tujuan.

    Online check-in penerbangan pun baru kuselesaikan lewat tengah malam. Mendapatkan posisi duduk di window seat membuatku bersemangat dalam mengisi eHAC (electronic-Health Alert Card). Kuberharap suksesnya online check-in dan terbitnya eHAC akan membuat proses menuju boarding menjadi lebih cepat di keesokan harinya.

    Usai memastikan segenap tahap persiapan tuntas, aku memutuskan tidur.

    Akan tetapi, aku hanya bisa tertidur ayam tanpa kenyenyakan hingga setengah empat pagi….Seperti biasa, kekhawatiran tertinggal penerbangan menjadi penyebabnya.

    Kuputuskan bangun lebih cepat dan melakukan shalat tahajud demi  memohon kepada Sang Kuasa atas keselamatan selama berpetualang. Seusainya, aku segera berbasuh dengan air hangat, bersarapan sekedarnya dan bergegas berburu ojek online untuk mengantarkanku menuju shelter DAMRI Terminal Kampung Rambutan.

    Lewat sedikit dari setengah lima pagi, aku tiba di sana. Setelah menyiapkan sebotol air mineral dari sebuah kedai, aku bergegas naik. Bus berangkat tepat pukul lima dan setiap sisi deret bangku hanya boleh diisi oleh satu penumpang. Inilah yang membuat tarifnya melonjak dua kali lipat….Menjadi Rp. 85.000.

    Akhirnya naik DAMRI bandara lagi.
    Tiba di Terminal 2D Domestik.

    Bus melaju cepat membelah jalanan kosong di jalan bebas hambatan. Satu jam kemudian, aku terbangun ketika bus perlahan merapat di Terminal 3-Ultimate. Dengan cekatan aku merogoh lembaran e-ticket dari backpack untuk memastikan terminal tujuan.

    Terminal 2D Domestik…”, aku yakin membatin.

    Akhirnya aku tiba….

    Melompat turun di drop-off zone. Kini aku melangkah ke dalam bangunan bandara. Tentu aku merasakan atmosfer yang berbeda ketika memasukinya. Kondisi bandara sudah tak seperti dulu lagi ketika masa bepergian masih menjadi hal yang tidak berbahaya serta tanpa prosedur kesehatan yang ketat.

    Begitu memasuki departure hall, Aku langsung dihadapkan pada antrian panjang calon penumpang yang berburu konfirmasi layak terbang pada sebuah layar LCD. Melihat panjangnya antrian, aku memberanikan diri untuk bertanya pada seorang petugas yang berjaga.

    Pak, saya sudah memiliki hasil PCR negatif di dalam aplikasi….Apakah saya bisa mengindahkan antrian itu?”, aku menunjukkan barcode di aplikasi PeduliLindungi.

    Terbang jam berapa, pak?”, dia mengangguk-angguk melihat barcode yang kutunjukkan.

    Jam delapan, pak

    Oh, silahkan bapak langsung saja menuju konter check-in, nanti tunjukkan hasil tes dalam aplikasi ya, pak!

    “Baik, pak”

    Aku melangkah mantap menuju screening gate pertama dan bisa melewatinya dengan mudah.

    Kini aku bergegas menuju konter check-in. Begitu tiba di area konter, aku tetiba merinding karena keramaian calon penumpang yang rapat tak berjarak.

    Aku berhenti sejenak dan mengamati dari kejauhan. Aku mencoba mengembalikan insting backpacker yang sudah lama tak terasah. Sepuluh menit aku hanya berdiri menatap ruangan penuh manusia itu. Aku terus mencoba berfikir.

    “Seingatku, selalu ada antrian pendek yang disitu berjajar calon penumpang tanpa bagasi”, aku terus berfikir keras.

    Pak, ada antrian konter tanpa bagasi?”, aku memberanikan diri bertanya pada seorang ground staff yang kebetulan melintas.

    Oh, di ujung sana pak, konter nomor 46”, dia mengarahkan telunjuknya ke sebuah arah.

    Terimakasih pak

    Aku bergegas menujunya dan benar saja, aku hanya menemukan antrian lima calon penumpang di depan konter itu. Akhirnya, aku tak perlu mengantri lama dan berhasil menjauhi kerumunan.

    Usai mengantongi boarding pass. Aku menuju ke Gate D1 dengan melewati screening gate kedua yang tentunya pemeriksaan berjalan lebih ketat. Aku berhasil melewatinya dengan mudah dan akhirnya bisa duduk di waiting room Gate D1 tepat satu jam sebelum boarding.

    Lihat antrian panjang nan rapat itu!
    Konter check-in tanpa bagasi. Lebih pendek dan cepat.
    Menuju gate.
    Gate areas setelah screening gate.
    Di depan sana adalah waiting room Gate D1.
    Pemandangan apron dari Gate D1.

    Kini aku bersiap terbang menuju provinsi ke-12 di dalam petualanganku menaklukkan tanah air.

    PONTIANAK….Ya aku bersiap mendarat di Kota Khatulistiwa tersebut.

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Gelap masih menaungi langit Kochi ketika penanda waktu menunjuk angka enam. Membuat nyali ciut demi melangkah menuju penginapan yang sesungguhnya hanya berjarak satu setengah kilometer. Aku memutuskan untuk tetap duduk di ruang tunggu arrival hall Cochin International Airport Terminal 3.

    Tapi ternyata….

    Saking kantuknya, aku malah duduk terlelap memeluk backpack….

    Sedikit melebihi pukul delapan, aku tersentak bangun. Cahaya terang telah menembus dinding kaca bandara. Aku melangkah pergi melewati seorang tentara bersenjata laras panjang yang dari dini hari tadi setia menjaga exit door bandara.

    Aku berjalan memotong drop-off zone, melewati tepian car parking zone, melintasi kesibukan di Chili Restaurant lalu tiba di gerbang utama Cochin International Airport yang cantik berhiaskan surya yang membulat di ufuk timur.

    Selepas melewati gerbang eksotik itu, aku berdiri di sebuah bundaran jalan yang sangat sibuk oleh kendaraan yang keluar masuk dari dan ke bandar udara utama di Negara Bagian Kerala tersebut. Berdiri di salah satu sisinya, aku sanggup menatap jelas keberadaan deret bangunan modern di sebuah sisi jalan.

    Tak salah lagi, penginapanku pastinya ada di sana”, aku membatin.

    Dekat sekali ternyata”, aku tersenyum senang.

    Kini, aku sudah berada tepat di sisi selatan jalur lurus dan bersiap menyeberang menuju kompleks bangunan modern itu. Ramainya kendaraan pagi itu membuatku susah menyeberang. Berada di jalanan negara orang memang selalu menjadi hal yang selalu kuperhatikan, aku tak mau berbuat kekonyolan dan membahayakan diri, karena alur perjalananku setengahnya pun belum usai.

    Susah payah aku menyeberangi Airport Road untuk tiba di sisi utara jalan dan kemudian mulai mencari keberadaan penginapan yang telah kupesan melalui e-commerce perjalanan terkemuka dengan harga 800 Rupee.

    Yiiaaiiyy, aku menemukannya….

    Aku sudah keluar dari gerbang utama Cochin International Airport.
    Bundaran di sisi barat gerbang utama Cochin International Airport.
    Deret bangunan modern di sisi utara Airport Road.
    Ini dia Hotel Royal Wings, tempatku menginap malam nanti.

    Kembali lagi di jauh hari sebelum keberangkatan, begitu sulit menimbang-nimbang lokasi penginapan yang akan kupilih. Hasratku begitu kuat untuk menginap di sekitar pantai yang tentu akan memberikan banyak peluang untuk menikmati eksotiknya pesisir barat Kerala lebih lama.

    Hanya saja, penerbangan pagiku di esok hari menuju Dubai menjadi sebuah batasan untuk jangan terlalu jauh dari bandara ketika memilih penginapan. Akhirnya aku memutuskan menginap di Hotel Royal Wings dan memutuskan untuk seharian ini saja menikmati suasana di kawasan Fort Kochi.

    Hello, Sir, Can I put my backpack here?”….Aku bertanya pada seorang petugas resepsionis laki-laki.

    I have booked a room in this hotel. This is the e-confirmation”, aku menambahkan informasi.

    Menerima selembar surat konfirmasi itu, dia mulai berselancar di desktopnya dan menggecek keberadaan order penginapan tersebut.

    Ok, Sir. I have checked your order. You can put your backpack here and you can check-in on 1pm…Come!”, dia mulai mengarahkanku ke sebuah ruangan kecil di belakang meja resepsionis. Rupanya ruangan itu memang digunakan khusus untuk menyimpan barang-barang para penginap.

    Separuh beban punggungku sudah tertitip di penginapan, kini aku akan melangkah pergi untuk memulai eksplorasi.

    Tetapi sebelum melangkah lebih jauh, aku memutuskan untuk mencari sarapan di sekitar hotel.

    Mencium bau harum dari sebuah cafe, aku tergelitik untuk mendekatinya, melihat menu sarapan ala India yang menggoda, aku memutuskan untuk masuk dan mengambil tempat duduk.

    Cafe Sulaimani…”, aku membaca nama cafe itu di sebuah dinding.

    Aku memutuskan membeli sarapan sederhana seperti yang dilakukan oleh para warga lokal di dalam cafe itu. Ini dia menu sarapanku pagi itu.

    Appam, Elai Adai, dan Samosa dan segelas Chai seharga 55 Rupee….Hhmmhhh, lezat juga rupanya.

    Selepas sarapan, aku bergegas menuju bundaran di dekat gerbang utama Cochin International Airport untuk berburu bus menuju Fort Kochi….Nanti akan kuceritakan bagaimana aku menuju kesana.

    Masih mengenai Hotel Royal Wings….

    Aku sendiri baru bisa memasuki hotel selepas mengeksplorasi Fort Kochi.

    Aku tiba kembali di hotel dengan menumpang airport bus dari Stasiun Aluva. Menjelang pukul enam sore, aku langsung saja meminta kunci kepada si empunya hotel yang sedang berada di meja resepsionis.

    Seusai mendapatkan kunci, aku diantar oleh seorang room boy, aku menenteng backpack menuju kamar di lantai atas untuk segera membersihkan badan. Alamak, aku terakhir kali mandi adalah 30 jam yang lalu.

    Mau tahu kan bagaimana hotel yang kuinapi, ini dia:

    Reception desk.
    Lobby.
    Double bed.
    Bathroom.
    Lihat TV jadoelnya….Hahaha.

    Aksesibiltas

    Mengingat lokasi Hotel Royal Wings yang dekat dengan airport, tentu hotel ini sangat dekat dengan berbagai fasilitas umum yang memudahkan para penginapnya.

    Setidaknya aku bisa berangkat dengan mudah menuju Fort Kochi menggunakan KURTC bus yang berangkat dari bandara. Selain itu aku juga mudah mendapatkan restoran halal, tempat penukaran uang dan minimarket di sekitar hotel.

    Jaraknya yang bisa ditempuh dalam lima belas menit dari dan ke bandara, memudahkanku untuk mengejar penerbangan esok pagi dengan tepat waktu daripada ketika aku harus memilih penginapan di sekitar Fort Kochi.

    Restoran dengan harga terjangkau di sekitar hotel.
    Kerala Urban Road Transport Corporation (KURTC) bus menuju Fort Kochi yang melewati Airport Road di depan hotel.

    Pada akhirnya, berkunjung ke India selalu saja menyenangkan karena negara ini memiliki fasilitas hotel dan kekayaan kuliner dengan harga yang sangat terjangkau bagi seorang backpacker.

    Oleh karenanya, jangan pernah ragu untuk melancong ke Negara Anak Benua itu.

    Yuk, berkunjung ke India.

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    “Pak Donny, lama kita tidak bertemu. Sebelum Bapak menuju hotel, mampir sebentar ya ke Solo Paragon. Kita berbincang dan minum kopi bersama!”, pesan singkat pak Arman ketika aku masih berada di waiting room Halim Perdanakusuma International Airport, Jakarta.

    Pak Arman….Dia adalah suami dari klien saya, seorang Bangladesh yang menjadi WNI beberapa tahun silam.

    Bapak bersama siapa di Solo Paragon?”, aku membalas singkat pesannya.

    “Saya berdua dengan anak saya kedua, pak. Saya tunggu kedatangan Bapak ya!”, pintanya sedikit memaksa.

    “Baik pak Arman”.

    Pukul 17:30, akhirnya Citilink QG 126 mendarat sempurna di Adi Soemarmo International Airport, Solo. Pada akhirnya, aku memang mengurungkan niat untuk langsung menuju Grand Amira Hotel by Azana di daerah Pasar Kliwon. Kuputuskan memenuhi undangan minum kopi Pak Arman.

    Konter penjualan tiket taksi dan bus DAMRI.
    Koridor menuju area parkir dan shelter bus DAMRI.
    Bus DAMRI menungguku.

    Oh ya….

    Beberapa tahun lalu, sebelum aktif menulis di blog ini, aku pernah mendarat di bandara yang sama. Hanya saja, kala itu aku dijemput seorang teman dekat menuju pusat kota. Tapi kali ini, aku akan mencoba moda transportasi umum menuju pusat kota.

    Lamat kuperhatikan di sebelah timur bangunan terminal bandara, terdapat sebuah proyek pengerjaan stasiun kereta bandara yang masih setengah jadi. “Akhirnya Solo akan memiliki kereta bandara juga”, gumamku. Salut dengan perkembangan Kota Batik itu.

    Gelap cepat mengakuisisi waktu, aku membatalkan eksplorasi bandara. Aku lebih memilih untuk segera mencari konter yang menjual tiket bus DAMRI. Konter itu kutemukan di selasar arrival hall sebelah timur, bersebelahan dengan konter penjualan tiket taksi.

    Bersiap menuju pusat kota.
    Tiket.
    Sampai nanti Adi Soemarmo International Airport.

    Sore itu konter terasa sepi, bahkan aku hanya berselang satu antrian dengan seorang ibu. Dibelakangku sudah tak ada penumpang yang mengantri lagi. Berdasar informasi dari staff penjaga loket, bus DAMRI akan berhenti di tujuan akhir Terminal Tirtonadi. Menuju Solo Paragon di daerah Mangkubumen, aku dianjurkan untuk berhenti di Solo Square, pusat perbelanjaan di daerah Laweyan. Membayar Rp. 25.000 aku mendapatkan selembar tiket menuju pusat kota. “Bus sudah menunggu di shelter ya, pak”, selorohnya memberitahuku.

    Dengan cepat aku menyusuri koridor menuju ke area parkir bandara. Terlihat di ujung koridor telah menunggu bus warna biru berukuran sedang. Kulihat ibu yang mengantri di depanku tadi sudah masuk melalui pintu tengahnya. Sementara sang sopir tampak melambaikan tangan kepadaku untuk segera bergegas karena bus akan segera berangkat. Walaupun kursi belum penuh, bus itu lebih mengutamakan ketepatan waktu untuk segera beranjak menuju ke kota yang berjarak sekitar 15 Km.

    Sopir itu memeriksa tiketku sebelum aku masuk. Aku terduduk di bangku tengah dan tak lama kemudian bus perlahan meninggalkan bandara. Menyusuri jalan Adi Sumarmo, berlanjut di Jalan Adi Sucipto dan masuk ke Jalan Slamet Riyadi. Melewati beberapa bangunan ternama seperti De Tjolomadoe, Javenir dan Stasiun Purwosari.

    Dalam waktu 20 menit, bus mulai merapat di Pusat perbelanjaan Solo Square dan aku pun turun di tepian Jalan Slamet Riyadi yang menjadi jalan protokol kota. Kufikir akan lebih baik melakukan santap malam sebelum minum kopi bersama Pak Arman. Akhirnya aku berhenti di kuliner jalanan, Aku duduk meleseh di sebuah “angkringan” dan menyantap beberapa nasi kucing dan sejumlah sate telur, sate kulit dan kerupuk. Menikmati wedang jahe di “angkringan” adalah sesuatu yang lama sekali tak kulakukan lagi. Kebiasaan ini bukan masalah murahnya harga, tetapi lebih kepada cita rasa dan cara menghabiskan malam Kota Batik.

    Angkringan dan nasi kucing.
    Tiba di Solo Paragon Hotel & Residences.

    Pak Donny, sudah mendarat?”, Pak Arman kembali mengirimkan pesan singkat.

    Sudah pak, saya hanya berjarak 4 Km dari tempat Bapak. Sebentar lagi saya kesitu pak. Tunggu ya!”, balasku singkat.

    Aku segera membayar menuku dan memesan ojek online menuju Solo Paragon Hotel & Residences. Dalam waktu 10 menit, aku tiba dan langsung menuju ke lobby.

    Memasuki lobby, tampak Pak Arman dan Rishan menunggu di depan pintu. Kujabat tangannya dan berpeluk ringan kemudian kami menghabiskan waktu hingga tengah malam untuk sekedar berbincang, berbagi kabar dan menikmati latte.

    Thank you Mr Arman.

    Thank you Solo.

    Kisah Selanjutnya—->

  • Rute penerbangan QG 126 (sumber: https://flightaware.com/).

    Menjadi seorang Ketua Kepanitiaan semasa kuliah….Sudah biasa.

    Lalu berlanjut menjadi Ketua Kepanitiaan untuk acara kantor….Juga sudah biasa.

    Dua-duanya sama-sama pusing dan melelahkan.

    Nah, ini beda….

    Kalau kamu disuruh jadi Ketua Kepanitiaan di kantor, tapi isi acaranya adalah jalan-jalan dan makan-makan. Apakah kamu pernah?…..Hahaha.

    Yiiyyyy, inilah kisahku…..Aku mengalaminya….Sungguh nyata dan meyenangkan. Ini kisahku kala bersepak terjang menjadi Ketua Kepanitiaan Marketing Conference di kantor. So….Mari jalan-jalan, mari senang-senang!.

    Sebagai Ketua Panitia, maka aku berkewajiban melakukan survey lapangan sebelum acara sesungguhnya digelar. Aku melakukannya tiga bulan sebelum acara itu dimulai. Kini, aku akan melakukan survey bersama Wakil Ketua Panitia menuju kota  tujuan acara….Solo.

    Minggu sore, hanya dengan menenteng ransel kecil, sekitar pukul 13:30,  aku menggunakan jasa taksi online menuju Halim Perdanakusuma International Airport untuk mengejar “maskapai hijau”. Pesawatku akan terbang pukul 16:00, jadi aku sudah memiliki jeda waktu yang cukup, berkisar dua jam sebelum boarding.

    Sore itu adalah awal dari hari kejepit nasional, Minggu sore adalah keberangkatanku, senin masihlah hari kerja tetapi aku diizinkan untuk tak masuk kantor dan lusa adalah hari libur nasional. Tiga hari ke depan tak akan kusia-siakan waktu untuk melakukan survey demi keperluan acara, sekaligus melakukan eksplorasi kota.

    Tiba di Halim Perdanakusuma International Airport.
    Boarding pass menuju Solo telah siap.
    Duduk manis sambil membaca inflight magazine “Linkers”.

    Tugasku mudah sekali kali ini. Tak akan jauh-jauh dari:  survey ruangan dan food test di Swiss-Belinn Saripetojo Solo, survey kereta wisata Jaladara, bertemu Artcoustic Band, surey beberapa tempat bersejarah, menentukan tempat berburu oleh-oleh terbaik dan tentu saja mencari dan mencicipi kuliner terbaik “Kota Batik” untuk ditetapkan sebagai tujuan wisata kuliner….Widih, keren.

    Tak terbayangkan sudah sungguh nikmatnya trip ini, karena aku tak perlu keluar uang sepeserpun, semua biaya akan ditanggung oleh kantorku bekerja. Hanya saja kali ini sang Wakil Ketua yang orang Bandung, bernama Rahadian, adalah seorang aerophobia, sehingga dia bersikeras memilih menggunakan kereta api dari Bandung menuju Solo. Jadi, skenerionya adalah, aku akan tiba di Solo di sore ini, sedangkan Rahadian akan menyusulku esok hari ke hotel.

    Aku sendiri tiba di Halim Perdanakusuma International Airport pukul  dua siang lebih lima belas menit, menyempatkan diri berkeliling untuk mengenal bandara itu. Aku baru melakukan check-in setengah jam kemudian.

    Berjalan di apron Halim Perdanakusuma International Airport selalu menjadi hal yang mengesankan bagiku. Aku bisa menikmati dengan begitu dekatnya pesawat yang akan kunaiki tepat dari sepasang kaki besi raksasanya. Tak jarang, pesawat berbadan besar lain melintas tepat di sebelah ekor pesawat dengan begitu elegan tapi tetap saja meninggalkan aroma bising yang dihasilkan oleh kedua mesin jetnya.

    Tepat pukul 16:00, aku terduduk di window seat bernomor 18F. Momen duduk di window seat, bagiku adalah aktivitas terencana yang kupersiapkan sebelum terbang. Sehingga bangku itu pasti akan kukuasai. Pemandangan indah di angkasa adalah alasannya.

    Penerbangan sore itu  berlangsung dengan baik, tak ada turbulensi berarti. Saking jernihnya langit, dua muka gunung berapi di tanah jawa terlihat dengan sangat jelas. Sementara Alto Cumulus banyak ditemui sepanjang rute penerbangan ini.

    Indahnya gunung itu.
    Bak kapas di angkasa.
    Apakah itu gunung Merapi?
    Touchdown Solo.
    Merapat di apron milik Adi Sumarmo International Airport.

    Airbus A320 twin jet itu melaju dengan kecepatan 305 mph menempuh jarak 371 mil hanya dalam waktu 55 menit. Penerbangan cepat yang cukup indah.

    Pukul 17:12 roda “Si Hijau”menyentuh run-off Adi Sumarmo International Airport dengan sangat mulus.

    Terimakasih Citilink. Saatnya mengeksplorasi Solo.

    Alternatif untuk tiket pesawat dari Jakarta ke Solo bisa dicari di 12Go atau link berikut: https://12go.asia/?z=3283832

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Previous Story

    KU 614 flight route (source: https://www.radarbox.com/)

    Exactly on five in the morning I started to wash my body in the bathroom of Bahrain Plaza Hotel. That day, I would leave Bahrain and heading to Kuwait. After making sure all equipments wasn’t left behind, I went down to the first floor to hand over the key and headed to the nearest bus shelter. Not far, just three hundred meters at south of the hotel, right in front of Manama Cemetery.

    Ten minutes later, the bus from MAN manufacturer numbered A1 arrived. Entering from its front door and tapping Go Card to pay the fare worth BHD 0.300, I drove to Bahrain International Airport for the next a hour.

    Arriving at the airport on 07:45 hours, I went straight to 1st floor. Its check-in area wan’t better than the same counter owned by Halim Perdanakusuma Airport (second airport in Jakarta). The flight number which didn’t appeared yet on the Departure Hall LCD gave me time to exchange the remaining Bahraini Dinar (BHD). Apparently the money changer on the 1st floor didn’t want to accept small amount of Dinar, fortunately the Bahrain Financing Company (BFC) on the 0th floor was still willing to accept it.

    On 9:30 hours, the check-in counter for Kuwait Airways flight KU 614 began to open. I briefly explained that I was going to Qatar with two non-connecting flights and would transit in Kuwait. The young male staff only once asked me about the Qatar Visa. “Qatar visa is free for Indonesian, Sir“, I answered to ending the conversation and he gave two tickets with the blue bird logo at once. The ticket itself I ordered on nine months before departure.

    Kuwait Airways was the 27th airline which I boarded.

    Smoothly passing through the immigration counter, I immediately headed to Gate 15 which was located in the corner of departure waiting hall with a narrow hallway which connects to the aerobridge. Waiting for boarding time, I continued to observe the flow of Gulf Air, a well-known airline belonging to the Kingdom of Bahrain.

    Departure waiting room.

    A little late, I started boarding on 11:51 hours. Couldn’t wait to experience the first time flying with Kuwait Airways, the airline belonging to the Kingdom of Kuwait.

    Late for a hour.
    Business Class.
    Economy Class.

    Immediately took a seat as stated on the boarding pass and preparing for a short flight of 420 km which would be covered in 1 hour 10 minutes.

    Seat number 17A was where I sat.
    Thank you 12Go for being an Affiliate Partner for travelingpersecond.com.
    Alburaq inflight magazine.

    It appeared that some of the airline’s aircrew were from the Philippines and some from African region. During the flight, I noticed that alcohol bottles weren’t visible on food trolley, it looked like the Kuwait Airways flight was an alcohol-free flight…..It was cool.

    Watching “The Martian“.
    The Low Fat Meal (LFML) menu which I ordered together with the ticket order.

    That afternoon the air on the southwest bank of Persian Gulf was clear. This made my flight felt very smooth, with no turbulence at all. Nice flight.

    Sunny weather in early January.
    How did the feel, flying with Middle East people?.

    DIn the last quarter of flight, the plane began to lower and revealed the land of Kuwait which looked arid and hot. I myself couldn’t wait to get to know Kuwait International Airport which was the main hub of Kuwait Airways.

    Middle East mainland which typical sandy brown.
    Busyness at Terminal 2 Expansion Project.
    Kuwait city view.

    The time was 13:35 hours. After the plane came to a perfect stop, I immediately left the fuselage for Transit Hall of Kuwait International Airport. I would patiently wait until four o’clock on the next morning to heading to Qatar.

    A320-251N Neo Generation of Airbus

    Next Story—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Sebuah kekhawatiran hadir seiring dengan kesigapan cabin crew Air Asia AK 39 yang sibuk memeriksa segenap penumpang sebagai pertanda bahwa selongsong terbang merah akan segera merapat di runway Cochin International Airport.

    Enam roda Air Asia genap menyentuh landasan menjelang pukul satu dini hari, sementara isi kepalaku masih dijejali banyak tanya.

    “Apakah di dalam bandara nanti ada ruang tunggu penumpang setelah konter imigrasi?”

    Jika tak ada fasilitas itu, apakah benar aku harus menunggu di luar bangunan bandara hingga matahari bangun menerangi Kerala?

    Ataukah aku harus menjalankan Plan B dimana aku akan tidur sembari duduk di sebuah restoran di luar bangunan terminal bandara?”….Ya, itu rencana terakhirku apabila tak ada ruang tunggu di dalam bandara pasca menyelesaikan urusan imigrasi.

    Sudahlah, aku sudah bersiap diri atas semua kemungkinan….

    Pramugari berparas cantik khas India itu tersenyum sembari memberi tanda bahwa penumpang sudah aman untuk meninggalkan kabin. Aku pun melangkah di sepanjang lorong kabin dengan penuh percaya diri.

    Melongok Arrival Hall

    Menyusuri aerobridge berbahan non-kaca membuatku tak bisa menikmati suasana di sekitar apron. Karena biasanya aku akan berdiri di salah satu sisi aerobridge dan mengambil beberapa gambar aktivitas unloading di sekitar pesawat. Tetapi aku toh masih beruntung karana diarahkan melalui koridor arrival hall berdinding kaca, kufikir kaca-kaca itu cukup lebar dan membuatku bisa menikmati penampakan bandara yang menghadap ke arah landas pacu.

    Koridor awal Cochin International Airport Terminal 3.
    Area Duty Free sebelum konter imigrasi.
    Area baggage conveyor belt.
    Yuk, intip toiletnya….Bersih loh…

    Aku menatap arrival card delapan isian yang diberikan pramugari beberapa saat sebelum mendarat sembari terus bergegas menyusuri lantai tanpa karpet hingga tiba di konter imigrasi.

    Bodoh….”, aku menyumpahi diri sendiri yang ternyata telah kehilangan pena satu-satunya untuk mengisi kartu kedatangan tersebut. Di meja-meja tempat penumpang asing mengisi lembaran itu pun tak terlihat satu pun pena yang bisa digunakan.

    Alhasil, aku harus kesana kemari meminjam pena ke penumpang yang telah selesai mengisi arrival card. Tak segan, beberapa penumpang tampak mengacuhkanku dan memilih menolak dengan alasan karena terburu-buru.

    Tetapi sebuah kejadian tak disangka pun hadir….Penumpang pria yang duduk di sebelahku pada sepanjang penerbangan tadi datang menghampiri….

    For you….Just keep it”, dengan aksen India dia tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.

    Thank you, Sir…”, aku berujar….Dan entah, kepalaku pun ikut fasih menggeleng-geleng khas gelengen India.

    Happy traveling….”, dia tersenyum dan melangkah pergi meninggalkanku untuk segera bergabung dengan rombongan jama’ah dari Kuil Sabarimala Ayyappa yang tampak mulai merangsek menuju meja imigrasi.

    Meja?

    Yups, inilah konter imigrasi terunik yang pernah kudapati.

    Di Cochin International Airport, konter imigrasi bukanlah berbentuk konter-konter berdiri, melainkan konter yang secara setting mirip sekali dengan meja wawancara. Setiap pendatang asing akan didudukkan di depan opsir imigrasi dan diinterogasi dengan beberapa pertanyaan. Menegangkan tetapi bagiku lebih menonjol sisi keseruannya.

    Aku mengeluarkan passport, eVisa dan Hotel eBooking Confirmation ketika menunggu seorang perempuan Eropa diinterogasi di meja imigrasi. Seusainya, maka aku dipersilahkan untuk duduk dan mulai diinterogasi oleh petugas.

    Dua petugas bersiap menanyaiku di konter, satu duduk menghadap laptop dan satu lagi berdiri.

    Begitu menyerahkan dokumen, seorang petugas yang duduk menghadap laptop segera berseluncur mencari informasi mengenaiku di database imigrasi mereka.

    Petugas imigrasi: “Mr. Donny Suryanto?. If yes, you’ve visited India once, haven’t you?

    Aku: “Yes, Sir. New Delhi and Agra. Beautiful cities in your country”.

    Petugas Imigrasi: “How long will you visit Kochi?

    Aku: “Two days”.

    Petugas imigrasi: “Oh, just two days. Why?

    Aku: “This is just transit trip to get a cheap flight to Dubai, Sir. Cause I’m a backpacker, Sir

    Petugas imigrasi: “Clever…No matter for a very short vacation. Happy traveling, Mr Donny

    Aku: “Thank you, Sir”.

    Aku sangat cepat dan mudah melewati tahapan interogasi di konter imigrasi Cochin International Airport tersebut. Kini aku bergegas dan melenggang melewati pemeriksaan customs dan dengan mudah tiba di exit door.

    Begitu riang hati ketika di hadapan sana terlihat satu blok kecil tempat duduk.

    Yeaaa….Aku akan menunggu pagi di deretan kursi itu”, kekhawatiranku sirna sudah.

    Ini dia kursi tunggunya.
    Di sisi kanan itulah tempatku menukar Dollar.

    Tetapi sebelum benar-benar duduk, aku mulai berburu mata uang Rupee untuk keperluan selama mengeksplorasi Kochi. Aku merapat ke konter penukaran mata uang asing milik Thomas Cook Change Currency.

    Aku: “What is the minimum Dollar which can be exchanged here, Sir?

    Petugas konter: “100 Dollar, Sir

    Aku: “Oh, I’m sorry, I just need to change a few dollars into Rupees

    Petugas konter: “No Problem, Sir

    Aku meninggalkan konter itu untuk menuju konter lain yang bisa melayani penukaran di bawah 100 Dollar Amerika. Akhirnya aku bisa menukarkan 5 Dollar Amerika dan 5 Ringgit Malaysia untuk mendaptkan 320 Rupee di Weizmann Forex Money Exchange. Rupee sebanyak itu bahkan akan bersisa untuk dua hari petualanganku di Kochi nanti. Murah banget kannnn?…..

    Sementara untuk akses komunikasi aku memutuskan menggunakan SIM card keluaran Airtel 4G. Karena aku membelinya seusai menukarkan Dollar Amerika, maka aku membeli SIM card berkuota 3GB tersebut menggunakan selembar 5 Dollar Amerika.

    It need four hours to activate your card”, begitu ucap si penjual kepadaku begitu aku meninggalkan konter telekomunikasi itu.

    Walau pada akhirnya, nantinya SIM card yang kubeli itu tak akan pernah bisa kuaktifkan sepanjang petualangan mengeksplorasi Kochi….Sial.

    Sejumlah Rupee sudah di tangan dan akses komunikasi sudah di genggaman, kini aku bisa duduk di deretan bangku yang kosong di ujung terakhir arrival hall. India memang terkenal dengan udara dinginnya di bulan Januari, jadi aku merasa bersyukur bisa menunggu datangnya pagi di dalam ruangan bandara.

    Masih setengah tiga pagi ketika aku terduduk di salah satu bangku…..

    Selama lima jam lebih waktu tunggu, aku hanya bisa menyaksikan kedisiplinan seorang tentara yang menjaga entrance gate menuju area di dalam bandara. Petugas itu tak pernah lelah mengkombinasikan gerakan duduk dan berdiri berjam-jam untuk memerikasa lalu lalang staff bandara, ground staff maskapai dan petugas-petugas lainnya ketika keluar-masuk dari dan ke area dalam bangunan bandara.

    Atau menyaksikan ritual khas ketika beberapa penjemput  menempelkan telapak tangan ke kaki orang yang dijemput sebagai bentuk penghormatan. Selebihnya aku tak pernah bisa sempurna memejamkan mata dalam kursi tunggu itu.

    Begitu seterusnya, hingga tepat pukul delapan pagi, aku memutuskan keluar meninggalkan ruang tunggu demi menuju Hotel Royal Wings yang berlokasi 1,3 Kilometer di barat bandara.

    Seperti biasa, sebelum aku benar-banar meninggalkan area bandara, kusempatkan diri untuk mengeksplorasi segenap sisi di luar bangunan bandara. Berikut beberapa spot di Cochin International Airport yang bisa kuperlihatkan kepada kalian.

    Cloak Room di sebelah barat exit door Terminal 3.
    Drop-off zone.
    Selasar kedatangan
    Jika tak ada kursi tunggu di dalam bangunan bandara, rencananya aku akan menunggu di Chili Restaurant itu yang buka 24 jam.
    Car parking area.
    Keanggunan Cochin International Airport yang terletak di Aerotropolis Nedumbassery..
    Solar panels ground yang merupakan sumber energi utama untuk Cochin International Airport.
    Cochin International Airport gate.

    Mau tahu Departure Hall Cochin International Airport?….Nanti ya kuperlihatkan….Sabar.

    Yuk, eksplore !….

    Ada apakah di Kochi?….

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Rute penerbangan Citilink QG 145. Sumber: https://flightaware.com/

    Titan mentraktirku makan siang sebelum tiba di hotel. Seporsi nasi pecel di dekat SMAN 1 Semarang. Kemudian dia juga membekaliku Bandeng Presto khas Semarang untuk dibawa pulang ke Jakarta. Wah, baik sekali teman saya yang satu ini.

    Sebelum benar-benar check-out, Titan yang penasaran tentang bagaimana caraku memilih penginapan murah, ikut bersamaku ke ruangan dormitory. Diperhatikannya lekat-lekat ruangan dormitory beserta kapsul-kapsul tidurnya. “Hebat kamu Don, bisa tidur di kapsul seperti ini”, ungkapnya sambil tersenyum. “Di luar negeri aku juga melakukan hal yang sama, Titan. Itu mengapa aku bisa traveling dengan biaya yang murah”, jawabku sambil berbisik.

    Toyota Calya berwarna orange metallic, menjemputku di Sleep & Sleep Capsule. Serentak aku berpamitan dengan Titan untuk meninggalkan Semarang. Terimakasih Titan.

    Pukul 15:25 aku sudah tiba di bandara. Tanpa basa-basi dan eksplorasi, aku bergegas menuju ke konter check-in. Aku hanya berjarak empat puluh lima menit dari boarding time. Konter yang tak terlalu ramai membuatku bisa menyelesaikan proses check-in hanya dalam lima belas menit dan akhirnya boarding pass sudah digenggaman….Aman.

    Aku terus fokus menuju ke waiting room dengan cepat. Kini aku hanya berjarak tiga puluh menit menuju penerbangan pulang. Dan tepat lima belas menit sebelum boarding, aku sudah mencapai waiting room dan duduk terengah. Tak lama menikmati keelokan ruangan tunggu itu, panggilan dari ground staff untuk bersiap terbang pun menggema. Aku kini bersiap di Gate 3A untuk memasuki kabin pesawat.

    Tiket menuju Jakarta.
    Interior kabin Citilink QG 145. Terduduk di bangku bernomor 10A.

    Kini aku sudah duduk di bangku yang sesuai dengan nomornya di boarding pass. Aku bersiap menuju Halim Perdanakusuma International Airport yang berjarak 394 Km dari Ahmad Yani International Airport. Aku akan mengudara bersama selongsong terbang Airbus A320 dengan ketinggian maksimal 26.000 kaki, dengan kecepatan 520 mph dan waktu tempuh 53 menit.

    Selama proses boarding, aku terus menikmati keindahan terminal penumpang baru milik Ahmad Yani International Airport dari jendela pesawat. Tampak pesawat hilir mudik datang dan pergi di sisi kiri pesawat yang kunaiki. Langit tampak mendung, pertanda aku harus siap mengalami sedikit guncangan sesaat setelah take-off nanti.

    Waktu yang dinanti tiba, pesawat sudah bersiap di landas pacu dan menunggu izin untuk menggeber mesin jetnya menuju udara. Aku hanya sibuk membaca inflight magazine Linkers milik maskapai Citilink. Perlahan pesawat mulai melaju dan menampilan keseluruhan bentuk bandara dari ujung ke ujung. Cantik nian Ahmad Yani International Airport.

    Pesawat ATR milik Wings Air.
    Air Asia tujuan manakah itu?.
    Bangunan terminal beserta ATC Ahmad Yani International Airport saat take-off.

    Sebelum menembus gumpalan awan tebal diatas, penerbangan ini sempat secara cepat menampilkan keindahan pantai utara Semarang. Perpaduan awan gelap dengan sinar matahari berwarna oranye yang menembus sela-sela awan dipadu dengan birunya laut dengan rayapan-rayapan kapal di sekitar pelabuhan…Hmmhh, Semarang yang sangat otentik.

    Getaran mulai terasa ketika pesawat ingin menstabilkan ketinggian terbangnya. Tetapi setelahnya langit kembali bersih dan menampakkan keindahan dari ketinggian. Sore itu aku tak mau memejamkan mata dan melewatkan pertunjukan langit yang menakjubkan itu.

    Pesisir utara Semarang….Wouww aduhai.
    Matahari versi langit dan Matahari versi laut….Indah bukan?.
    Pilot sangat mahir menghindari kumpulan awan….Penerbangan yang mulus.

    Penerbangan yang benar-benar terasa sangat singkat. Citilink mulai merendahkan diri diatas langit ibukota. Mempertontokan daratan Bekasi yang sangat padat. Beberapa ikon kota tampak jelas terlihat dari atas. Stadion Patriot Candrabhaga yang pernah kusambangi saat pertandingan Piala Presiden antara Bali United dan Semen Padang FC hanya demi melihat sosok Irfan Bachdim lebih dekat.

    Sedangkan pemandangan lain adalah jalur LRT yang sedang dibangun di sepanjang ruas tol Cikampek, terlihat sangat elok. Itulah jalur yang kulewati hampir setiap hari sepanjang profesiku menjadi tenaga penjual di Ibukota.

    Stadion Patriot Chandrabhaga tampak dari ketinggian.
    Konstruksi jalur LRT yang sedang dalam proses pengerjaan.

    Citilink QG 145 mendarat di Halim Perdanakusuma International Airport dengan sangat mulus. Seperti biasa penumpang akan turun dan berjalan kali di area apron menuju ke bangunan utama terminal. Aku bergegas menuju conveyor belt untuk mengambil bagasi dan kemudian pulang menggunakan ojek onlie menuju rumah.

    Menuruni pesawat di area apron.
    Beberapa pemunpang menunggu kehadiran Apron Free Shuttle Bus. Aku lebih memilih berjalan kaki saja.

    Pernerbangan indah kesekian kali bersama Citilink. Terimakasih Citilink.

    Alternatif untuk tiket pesawat dari Semarang ke Jakarta bisa dicari di 12Go atau link berikut: https://12go.asia/?z=3283832

    TAMAT