• <—-Previous Story

    Exploring Mass Rapid Transport (MRT) in a country which has it has become a tradition in my every trip, even though my first choice transportation is city bus. Before trying Doha Metro, I myself have trying MRT in Singapore, Thailand, Malaysia, Philippines, Hong Kong, China, Japan, South Korea, India, United Arab Emirates and of course Jakarta’s MRT as a pride mass transportation mode in my capital city.

    Exiting a modern shopping center “City Center Doha” in West Bay area, I retraced departure route when heading to this shopping mall, again walking through Omar Street to DECC Station. Because it’s located right next to DECC building, nearest Doha Metro station has the same name as this venue.

    The exterior of DECC station building itself looks more like a mosque door than station building. Still relying on Persian-style arches with wide openings with authentic colors, desert brown.

    DECC Station Building.

    This is Qatar’s proud rapid transit system, one of the goals of which is to welcoming World Cup 2022. The Doha Metro line which was first operated in 2019 is the red line which I was currently aiming for.

    Entering station building, everything was shiny, clean and looked new. I chose stairs to go underground and looked for an automatic ticketing vending machine, even though this station provided an elevator to make access easier.

    Let’s try the stairs first.
    Time to hunting for tickets.
    Automatic ticketing vending machine.

    Doha Metro itself has three lines, i.e red line, green line and gold line with an average length of 76 km and a total of 37 stations. The ticket price is actually almost equivalent to Karwa Bus ticket price, which is around 2 Riyal for a single journey and 4 Riyal for a full day of travel. An advantage of Doha Metro system is the existence of a free feeder bus whivh connects station to hotel where we are staying or other places which aren’t covered by Doha Metro line. This feeder bus is known as Free Doha Metrolink Shuttle Services.

    This is the route map.
    Standard single journey, this type of ticket can be used for two modes of transportation, i.e Doha Metro and Mshreib Tram.

    As soon as I arrived at the platform, several Filipino Doha Metro officers tried to kindly ask my final destination and directed me to wait at the right platform, even though I was used to finding the platform myself based on the instructions.

    Doha Metro platform.

    This Doha Metro train is the most modern train with a cruising speed of around 100 km/hour and has been named as the fastest driverless train in the world. By ownership, Doha Metro is 51% owned by Hamad Group, 49% is owned by a French state-owned public transport company

    Check out the route board!
    Quiet….I swear….

    In 15 minutes, I was transported 5 Km by this train to Katara Station. The minimum of Doha Metro passengers made my trip almost without interaction, I couldn’t feel the hustle and bustle of Qatari citizens in their daily lives.

    Get off at Katara Station platform.

    Get off the Doha Metro, now I would go to ground level using elevator provided.

    Well, now just tried the lift.

    Similar to the condition of DECC station building, Katara Station also looks brand new. The quiet traffic of city’s residents using the services of Doha Metro made the station building look empty and showed me its relief. Meanwhile, Many Southeast Asian-looking Doha Metro employees worked in every station.

    That’s the automatic fare collection gates.
    Exit the Katara Station building.

    I’ve arrived at Katara Cultural Village and was ready to explore. Let’s see what this cultural center of Qatar looks like!.

    Katara Station Exterior.

    Next Story—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Lepas menikmati pelayaran singkat di Sungai Kapuas kemudian kuputuskan kembali menuju G-Hotel untuk beristirahat. Badanku masih diselimuti rasa pegal usai melakukan perjalanan lima jam lamanya dari Singkawang. Berjalan menuju hotal, aku pun memilih rute berbeda dari ruteku bertolak sebelumnya.

    Suasana malam di Jalan Sidas.

    Sesampai di hotel aku segera berbasuh dan membiarkan diri puas terlelap di atas ranjang.

    —-****—-

    Usai Subuh, aku tak tidur lagi. Berbasuh dan menyiapkan peralatan kulakukan sepagi mungkin. Sehingga ketika sangkala merapat ke setengah tujuh, aku sudah menuruni lift menuju lantai satu untuk berburu sarapan di restoran G-Hotel.

    Menyantap sedikit toast, sup jagung dan nasi goreng, aku sengaja tak mengenyangkan diri ketika menutup sarapan dengan secangkir teh hangat.

    Usai bersarapan pun aku bergegas berburu transportasi online demi menuju Laboratorium Klinik Sakura yang terletak enam kilometer di selatan hotel. Yupzz….Aku akan melakukan Tes PCR (Polymerase Chain Reaction) untuk persiapan pulang esok lusa. Karena Tes PCR ini akan berlaku selama 3×24 jam sebagai prasyarat penerbangan maka tak ada salahnya aku melakukannya jauh-jauh hari supaya bisa menjalankan eksplorasi dengan tenang.

    Laboratorium Klinik Sakura.

    Seperti biasa, usai diswab aku mengalami bersin hebat yang membuatku sadar diri untuk memisahkan diri jauh-jauh dari antrian….Parah emang aku nih.

    Usai membayar sebesar Rp. 265.000 dan menunggu hampir satu jam lamanya di pekarangan klinik, maka aku tersenyum bahagia karena tes menunjukkan hasil negative. Yeeaa….Aku bisa pulang ke Jakarta esok lusa.

    —-****—-

    Kini aku fokus menatap layar smartphone untuk memantau pergerakan transportasi online yang kupesan. Lima menit usai pemesanan, kendaraan itu tiba.

    “Bandara ya, Bang?”, ucap pengemudi itu.

    “Bukan, Bang….Tugu Khatulistiwa”, jawabku terkaget.

    “Abang, ambil titik ke bandara ini”, dia bersikukuh.

    “Oh iya benar….Kok saya bisa pesan ke bandara ya, Bang….Hahaha”, aku mencairkan suasana.

    “Di bandara memang ada replika Tugu Khatulistiwa….Lebih baik Abang edit dulu destinasinya”, dia mulai mengarahkan.

    “Baik, Bang”, aku mengiyakan saja.

    Selama perjalanan menuju ke tugu, si pengemudi bercerita kepadaku bahwa di daerah Batu Layang dimana tugu berada biasnya akan susah mendapatkan transportasi online. Kenapa demikian? Karena para pengemudi transportasi online sedikit malas melewati Jembatan Landak yang merupakan jalur langganan macet yang cukup parah dan menyiksa. Aku diarahkannya untuk mencari oplet (istilah angkot di Pontianak) saat pulang nanti dan menaiki ferry untuk menyeberang ke selatan Sungai Kapuas.

    Mendengar informasi itu, membuatku terdiam berfikir dan kemudian melontarkan sebuah tawaran:

    “Bang, aku seperempat jam saja deh di tugu. Abang tunggu saya selesai dan kita kembali ke kota. Saya tambahin ongkosnya”

    Sepertinya dia sedikit berat menerima karena harus menunggu. Aku faham dia sedang mengejar poin. Tetapi sepertinya dia juga tak enak menolak hingga akhirnya dia berucap.

    “Okay lah bang….Tepat lima belas menit ya, Bang. Jangan molor waktu”.

    Dalam waktu empat puluh menit aku tiba. Tetapi belum juga turun, smartphone si pengemudi bergetar.

    “Bang ini ada pesanan jarak dekat. Saya kembali ke sini dalam setengah jam ya”, (nantinya si pengemudi ini akan bercerita bahwa pelanggannya ini telah mencoba memesan trasportasi online selama 45 menit dan tak kunjung mendapatkannya demi mengantarkan ibu kandungnya menuju sebuah rumah sakit untuk berobat).

    “Baik Bang, kebetulan banget, saya jadi bisa rada lama dikit di sini”, aku menjawab penuh senyum

    Tak mau kehilangan waktu sia-sia, akhirnya aku bergegas menuju ke bangunan utama destinasi. Hanya membayar tiket sebesar Rp. 2.000 aku melenggang menuju ke dalamnya.

    Di dalam, setelah mengisi buku tamu maka aku dipersilahkan masuk. Turun melalui tangga, kini aku tepat berada di bawah Tugu Khatulistiwa. Keuntungan lain yang kudapatkan selama berwisata ke tugu ini adalah penjelasan dari seorang pemandu wisata dari lantai atas menggunkan pengeras suara.

    “Jika abang merentangkan kedua tangan, tangan kanan akan berada di belahan utara bumi dan tangan kiri akan berada di belahan selatan bumi. Itu artinya abang sudah berkeliling dunia dari titik ini”, Begitu dia menyuruhku dan membuatku tertawa terbahak usai melakukan perintahnya.

    Usai si pemandu wisata menjelaskan maka tatapku awas menyapu setiap informasi yang berada sepanjang dinding. Beberapa informasi yang kudapatkan adalah tentang penetapan titik khatulistiwa yang dilakukan oleh sebuah tim ekspedisi geografi asal Belanda pada tahun 1928. Dan dalam perjalanannya, tugu ini mengalami beberapa kali renovasi dari pendirian tugu hingga kini.

    Dan sudah menjadi pemahaman umum bahwa pada bulan tertentu (biasanya bulan Maret) akan terjadi titik kulminasi matahari sehingga sebutir telur bisa berdiri sempurna tanpa terjatuh menggelinding.

    Sampai di Tugu Khatulistiwa.
    Foto masa lalu di dalam bangunan tugu.
    Melihat Tugu Khatulistiwa dari dekat.
    Plaza di sekitar Tugu Khatulistiwa.
    Koridor di depan pertokoan cendera mata dan makanan.
    Taman di ujung plaza.

    Aku hanya meluangkan waktu sekitar dua puluh menit untuk mengunjungi Tugu Khatulistiwa demi memperoleh beberapa informasi berharga untuk kemudian si pengemudi transportasi online mengirimkan pesan singkat.

    “Saya sudah di parkiran lagi, Bang. Kalau mau bertolak sekarang silahkan melakukan pemesanan”. Tanpa fikir panjang, aku segera melakukan pemesanan dan si pengemudi dengan cepat menangkap pesananku. Setidaknya waktuku pulang menuju seberang selatan Sungai Kapuas sudah teramankan, aku tak akan kesorean di daerah Batu Layang.

    “Bang, saya minta waktu lima menit untuk melihat area di bola dunia ya” , aku meminta si pengemudi untuk menunggu sejenak.

    Bersyukur dia berkenan menunggu. Akhirnya aku menutup eksplorasi di kawasan Tugu Khatulistiwa dengan menjelajah area open stage yang berhiaskan bola dunia di tengahnya serta kompleks toko cendera mata dan jajanan di sepanjang jalur plaza Tugu Khatulistiwa.

    Aku fikir waktu setengah jam cukup untuk mengobati rasa keingintahuanku tentang Tugu Khatulistiwa yang selama ini hanya pernah kukenal melalui buku geografi semasa sekolah dulu.

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Menikmati Malam di Kapuas

    Usai menaruh backpack dan mencuci muka, aku memutuskan untuk turun ke lantai 1 demi memulai eksplorasi pertamaku di Pontianak.

    Keluar dari G-Hotel, aku turun di Jalan Jendral Urip menuju ke timur. Sembari melangkah, aku terus memperhatikan sepanjang sisi jalan. Aku berusaha menandai beberapa rumah makan yang bisa menjadi alternatif bagiku untuk memenuhi kebutuhan konsumsi selama tinggal di Pontianak.

    Terdapat dua rumah makan yang kutandai, yaitu UP2U dan Richeese Factory, sedangkan untuk kebutuhan ngopi aku menandai kedai Kopi S’Kampoeng dan Kopi Asenk.

    Tiba di ujung Jalan Jendral Urip, aku dihadapkan pada Matahari Department Store yang menjadi markah utama jalan tersebut.

    Aku terus melanjutkan langkah dengan menembus Jalan Jenderal Sudirman yang di ujung timur, arusnya akan dipotong oleh Jalan Rahadi Usman. Di jalan yang terakhir kusebut itulah terletak Taman Alun Kapuas yang menjadi sudut pandang terbaik untuk menikmati senja di Sungai Kapuas.

    Jalan Rahadi Usman tergolong lebar, memiliki empat jalur dan dua arah, bertengara tugu Adipura di tengahnya. Menyeberang dengan sangat hati-hati di tengah laju kendaraan yang cukup kencang aku berhasil mencapai sisi timur jalan itu. Kini aku sudah berada di gerbang depan Taman Alun Kapuas yang sore itu tampak bergeliat. Para pengunjung perlahan tapi pasti mulai berdatangan memenuhi taman itu. Mungkin cuaca yang sedari siang tadi cukup cerah yang membuatnya demikian. Langit di atas Sungai Kapuas sangat bersih dari awan.

    Waktu yang sebentar lagi membawa gelap, membuatku memutuskan untuk langsung menuju ke tepian Sungai Kapuas, dengan berat hati aku mengindahkan deretan bangku taman yang menggoda siapa saja untuk mendudukinya.

    Tepian Sungai Kapuas, berbatasan langsung dengan Taman Alun Kapuas.
    Sungai Kapuas yang mulasi sibuk di malam hari dengan aktivitas wisata.

    Aku menghela nafas panjang berlanjut dengan merentangkan tangan lebar-lebar ketika tiba di tepian sungai.

    “Subhanallah….Inikah Sungai Kapuas yang sedari kecil hanya bisa kubayangkan dari buku pelajaran sekolah?….Hmmhhh, salahmu sendiri, Donny. Kenapa terlalu lama menjelajah ke luar negeri, padahal keindahan Nusantara tak ada satupun yang meragukan”, aku bergumam dalam hati dan menyalahkan diri sendiri.

    Menikmati keperkasaan Kapuas dari sudut yang lebih tinggi tentu akan menakjubkan. Dan aku melihat keberadaan Jembatan Alun Kapuas di sisi kanan. Tanpa fikir panjang aku mulai menaiki anak-anak tangga demi mencapai titik teratas.

    Tak berapa lama aku tiba di titik yang kumaksud….

    Yang membuat pandanganku terkesima selain lebarnya Sungai Kapuas adalah tingginya aktivitas yang terjadi di bawah jembatan. Hiruk pikuk Pelabuhan Bardan yang sedang mengalirkan penumpang dan kendaraan menuju lambung kapal “Jembatan Kapuas” benar-benar mencuri segenap perhatianku. Dari ukuran kapal yang tak begitu besar maka cukup meyakinkanku bahwa ferry itu hanya melayani penyeberangan lokal di Sungai Kapuas. Tetapi walaupun begitu, aku juga baru tahu bahwa Pelabuhan Bardan juga melayani pelayaran menuju Tanjung Priok, Surabaya dan Semarang. Bisa dibayangkan seberapa lebar dan dalam Sungai Kapuas ini sehingga bisa dilewati oleh kapal-kapal besar.

    Cahaya senja telah usai ketika beberapa saat lamanya aku beraktivitas di atas jembatan. Kini langit Kapuas berubah gelap. Oleh karenanya aku memutuskan untuk turun. Saatnya untuk menikmati wisata jenis lain di Kapuas.

    Kembali berada di sisi sungai, aku melangkah menuju sebuah kapal wisata yang bersandar di tepian sungai di dekat replika tugu khatulistiwa. Karyawan kapal tampak antusias menyapa segenap pengunjung yang datang mendekat untuk mau menaiki kapal dan berlayar bersamanya beberapa saat lagi.

    Tanpa ragu aku memasuki geladak kapal. Karena geladak atas sangat penuh maka mau tak mau aku harus duduk di meja makan geladak bawah. Kupesan secangkir coklat panas demi melawan terpaan angin Kapuas yang semakin mendingin.

    Waktu terus berjalan dan tampak hampir seluruh meja makan terisi penumpang. Mesin kapal mulai dinyalakan, tali pengikat mulai dilepaskan dari bolder-bolder darmaga dan kapal pun mulai berlayar menuju ke timur.

    Dengan kecepatan konstan, dua nahkoda tampak fokus dibalik kemudi untuk mengarahkan kapal tetap pada jalurnya. Kapal sempat keteteran  ketika berusaha mendahului kapal sejenis yang mengalami mati lampu. Beruntung kapal tersebut bisa segera membenahi diri dan berhasil menyalakan lampu geladaknya sehingga kapal yang kunaiki bisa mendahului dengan aman.

    Sementara jauh di depan tampak Jembatan Landak yang mempesona, memanjang dengan cahaya lampu di jalurnya. Melewati bagian bawah jembatan memperlihatkan pemandangan yang sangat indah dan menawan

    Naik kapal keliling Kapuas….Yuhuuu…..
    Geladak atas kapal.
    Pesona Masjid Jami’ Sulthan Syarif Abdurrahman
    Jembatan Landak.

    Berlayar hingga Pulau Jajagi yang berjarak lima kilometer dari Pangkalan Bardan maka kapal merubah haluan untuk kembali ke titik awal. Pelayaran selama setengah jam itu memberikan kesan yang mendalam atas keindahan Sungai Kapuas di saat malam. Tak mahal untuk bisa mengikuti pelayaran ini, hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp. 15.000. Seorang petugas kapal akan menarik ongkos itu ketika kapal sudah berlayar di tengah Sungai Kapuas.

    “Bang, kedalaman sungainya berapa meter ya?”, tanyaku singkat kepada sang nahkoda.

    “Dua puluh meter, Bang”, jawab sang nahkoda singkat.

    “Hmmhhhh….Sungai yang sangat mengagumkan”, aku membatin sembari pergi meninggalkan kapal itu.

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Museum Batik Kuno Danar Hadi.

    Aku hanya berusaha mencari informasi sebanyak mungkin tentang beberapa event yang akan diselenggarakan di Taman Sriwedari pada dua bulan semenjak kedatanganku. Tetapi sungguh sayang, tak akan ada pertunjukan budaya dua bulan ke depan di taman budaya itu. Itu berarti, peserta Marketing Conference nanti tidak bisa diarahkan untuk menikmati pertunjukan budaya di Taman Sriwedari. Oke lah….Tidak mengapa, survey ini boleh dibilang gagal tetapi di lain sisi, setidaknya aku pernah menyempatkan diri untuk berkunjung di Taman Sriwedari dan menambah khasanah budaya tentang Kota Solo walau hanya genap setengah jam berkunjung.

    Pukul setengah sepuluh malam, aku mulai meninggalkan Taman Sriwedari. Lalu kembali mengayunkan langkah ke arah timur untuk mensurvey destinasi terakhir pada jalur Kereta Wisata Jaladara. Tempat yang kutuju ini masih merupakan wisata heritage, terletak setengah kilometer dari Taman Sriwedari.

    Destinasi ini berjuluk House of Danar Hadi. Tentu aku sudah mengetahui bahwa ketika tiba nanti, tempat ini sudah pasti tutup karena jam operasionalnya memang hanya sampai pukul lima sore setiap harinya. Tapi tak mengapa, aku hanya bermaksud untuk memastikan tempatnya karena aku sudah pasti merekomendasikan Divisi Acara Marketing Conference untuk memasukkan tempat ini sebagai salah satu tempat yang akan dikunjungi. Selain berbelanja batik khas Kota Solo, peserta Marketing Conference nantinya juga bisa mengunjungi Museum Batik Kuno Danar Hadi yang mengoleksi hingga sepuluh ribu jenis batik di dalamnya.

    Beberapa menit setelah sampai di tujuan, aku hanya terdiam melihat bentuk bangunan itu dan mengamati area sekitar. Perlu waktu bagiku untuk mengamati destinasi ini sebelum memutuskan untuk meninggalkannya dan berpindah ke destinasi lain. Karena malam itu, aku akan menghabiskan waktu di sekitaran Ngarsopuro Night Market sebelum pulang ke hotel untuk beristirahat.

    Aku melanjutkan ayunan langkah ke daerah Keprabon. Jarak Ngarsopuro Night Market dari House of Danar tak lebih dari satu kilometer. Aku hanya memerlukan waktu lima belas menit untuk tiba di sana.

    Tiba di Jalan Diponegoro. Perhatianku mendadak tertuju pada kerumunan di sisi barat jalan. Suara gamelan membuatku penasaran dan akhirnya aku tak kuasa menahan langkah untuk melongoknya.

    Oh, ternyata sedang ada pertunjukan Wayang Kulit di tempat itu. Lebih baik, barang setengah jam, aku tetap berdiri dan menikmati pertunjukan itu, aku sudah sangat lama tidak menonton pertunjukan wayang.

    Pertunjukan Wayang Kulit.

    Beberapa waktu menjelang jam sepuluh malam, aku menyudahi menonton pertunjukan itu dan bergegas menuju ke area Ngarsopuro Night Market. Pasar malam ini sebetulnya dibuka setiap hari Sabtu malam, sedangkan aku datang di Senin malam. Oleh karenanya, keramaian pasar malam tak tampak maksimal. Hanya ada berapa food car dan gerobak kuliner yang menjaja makanan serta minuman di beberapa titik. Tetapi tetap saja, kuputuskan untuk berhangout ria dan berbaur dengan beberapa kelompok pemuda yang tampak menikmati malam dengan menyeruput kopi dan menyantap kuliner jalanan Kota Solo.

    Mengambil sebuah tempat duduk dan menikmati secangkir coffee latte, aku mulai menghabiskan malam di tempat itu. Malam itu aku merasa puas karena petualangan sehari penuh yang kulakukan penuh dengan kenangan dan sangat memuaskan.

    Hingga tak terasa waktu hampir menginjak pukul sebelas malam. Aku memutuskan untuk segera kembali ke Amaris Hotel Sriwedari dan berisitirahat karena esok hari masih ada jadwal survey yang sangat padat.

    Food car in Ngarsopuro Night Market.
    Para pengunjung yang sedang menikmati malam.
    Akhirnya, aku bergabung dengan mereka.
    Jalan Diponegoro.

    Yuk lah….Balik….Bobo!

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Previous Story

    Sign pole on Omar Al Mukhtar Street as a marker for the presence of DECC MRT station.

    My adventure in West Bay area was already in extra time. But it didn’t break my spirit to keep exploring new destinations in the vicinity. I wasn’t in a hurry to leaving West Bay, even though my steps had arrived at Doha Exhibition & Convention Center (DECC) and DECC MRT station gate was already tempting in front of my eyes. In the midday heat, I made my way to a modern shopping center in this business district. It was the ​​luxury in it that attracted me to explore this entire modern mall.

    Arriving at a large T-junction, I took a right to follow the flow of vehicles on Conference Center Street. Three hundred meters later I entered City Center Doha malls’s drop off path. I didn’t go straight into it, but I tried to get the best picture in front yard of this famous shopping mall. Understandably, I had to queue with other impromptu photographers.

    Conference Center Street situation right in front of City Center Doha.
    This is the face of City Center Doha (CCD Mall).

    I slowly started to enter a mall entrance. Through an automatic glass door, I slowly stepped stairs on the right and found a information desk right in the middle of room. Meanwhile, to the left of mall entrance, you can see a large replica of a dhow boat which is a model of a traditional Middle Eastern ship. While behind the information desk, is an ice rink arena.

    Mall entrance to CCD Mall.
    Dhow Boat replica.
    Ice rink on first floor.

    Stepping floor-by-floor, I felt like playing “hide and seek” with African-looking security guards. Looks like they’ve been watching me for a long time. Maybe my arrival that didn’t look like to shopping and was just busy taking floor-to-floor photos made them watch me. I sometimes just sit on a few chairs provided on several sides of this mall. After they seem off guard, then I would immediately take pictures of some points which I targeted.

    The mall roof made from glass made my curiosity unstoppable, through the escalator I stepped one by one CCD floor until it was right under the roof. Looked so beautiful the view of skyscrapers tip.

    The view from top floor.

    Then from top floor I started to explore mall corridor on right to see some well-known stores such as QuiCksilver apparel from Australia, Columbia Sportswear from America, Adidas from Germany, Sun & Sand Sports and also Max Fashion from Dubai.

    Al Afkar Art Gallery on fifth floor.

    Please note that this mall is connected to three international standard hotels, namely Shangri-La Doha, Marriot Marquis Hotel and Rotana City Center Doha. It occupies an area of ​​14 hectares and has 350 shops in it. Built by Aamal Company Q.P.S.C, the retail market leader in Qatar. This is the largest shopping mall in West Bay area which is located right in the heart of business district

    Right wing corridor.

    Before ending my visitation, I went down to ground floor to see restaurant area. I saw that there was a place which was so crowded compared to other places in same location, i.e dining tables in front of House of Tea, a cafe company from Qatar.

    House of Tea in restaurant zone.
    Mosque and toilet.

    That was a little story about City Center Doha which is the largest modern shopping center in West Bay area.

    Next Story—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Aku tiba dari Singkawang tepat pukul lima sore.
    Lobby G-Hotel Pontianak.

    Aku disapa dengan ramah oleh security yang berjaga di depan lobby. Membuatku bersiap diri untuk merasakan hotel kelas wisatawan. Maklum selama ini aku lebih sering menginap di hotel kelas backpacker.

    Sehari sebelum berangkat menuju Pontianak, aku memesan hotel ini melalui sebuah e-commerce penginapan ternama seharga Rp. 212.000 per malam. Kali ini aku kan menikmati perjalanan jauh pertamaku semasa pandemi.

    “Reservasi online atas nama  Donny Suryanto, kak”, aku bertanya kepada resepsionis wanita yang berjaga.

    “Sebentar ya, pak…Saya cek dahulu”, dia mulau menjelajahi desktopnya, “Menginap untuk tiga malam ya, Bapak Donny Suryanto”.

    “Yupzz, benar kak”, aku mengangguk

    Usai menyelesaikan administrasi, aku diantarkan oleh seorang staff pria menuju kamar. Aku sempatkan berbincang dengannya di lift. Informasi yang kutangkap adalah staff muda itu berasal dari Solo dan terdampar di Pontianak karena mengikuti ayahnya yang bertugas sebagai tentara. Aku pun memberikan informasi kepadanya bahwa aku adalah pengembara yang manjalani hobby menulis.

    Keluar dari lift, aku sudah berada di lantai 3 dan dihantarkan oleh staff hotel tersebut hingga di depan pintu kamar bernomor 319.

    Usai staff tersebut undur diri, aku mulai memasuki kamar, menaruh backpack, mencuci muka dan bersiap kembali melakukan eksplorasi menjelang gelap. Aku bermaksud untuk menghabiskan malam di tepian Sungai Kapuas.

    Koridor kamar di Lantai 3.
    Tempatku beristirahat.
    Teman di malam hari.

    Perjalanan itu akan kuceritakan nanti saja ya.

    Kembali ke G-Hotel….

    Saat pagi tiba, aku biasa turun ke lantai 1 untuk berburu sarapan di restoran hotel. Kondisi yang masih berstatus pandemi, membuatku selalu turun ke lantai 1 sepagi mungkin demi menghindari padatnya pengunjung restoran yang tentunya itu akan menimbulkan resiko.

    Walaupun aku senantiasa memantau di dalam aplikasi PeduliLindungi bahwa kasus aktif COVID-19 di daerah aku menginap adalah nihil, tetapi aku tetap berusaha menjaga protokol kesehatan. Tentu akan menjadi lebih repot apabila aku terpapar dan harus menjalani isolasi di Pontianak….Bisa lebih boros lagi kan?

    G-Hotel merupakan hotel berbintang tiga yang berlokasi tepat di pusat kota, di sisi Jalan Jendral Urip tepatnya, di daerah Tengah, Pontianak Kota. Hotel ini juga kunilai strategis apabila diukur jaraknya dari destinasi wisata unggulan karena hanya berjarak satu kilometer di barat Taman Alun Kapuas yang merupakan viewpoint terbaik menikmati pesona Sungai Kapuas. Jarak sejauh itu bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama seperempat jam saja.

    Apa hal menarik lainnya?

    Nah, apabila aku bosan dengan makanan hotel maka di sekitar Jalan Jendral Urip juga terdapat “UP2U”food court serta kedai kopi “Kopi S’Kampoeng” .  Aku sendiri berkesempatan bersantap di dua kedai itu.

    Restoran G-Hotel Pontianak.
    Kedai kopi di sekitaran G-Hotel.

    Tentu menginap di G-Hotel Pontianak telah menjadi sebuah pengalaman tersendiri selama berpetualang di masa pandemi. Mungkin di masa-masa mendatang, kondisi yang selalu tak menentu seperti ini akan mempengaruhi bahkan merubah gaya travelling yang selama ini aku jalani dengan cara layaknya cowboy.

    Kita lihat saja nanti, apakah memang benar demikian?….

    Mari kita lanjutkan perjalanan menelusuri keindahan Pontianak….

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Previous Story

    Indonesian made noodles was caught when displaying at Abdulla Ali Bumatar mini market.

    Indonesian made noodles was caught when displaying at Abdulla Ali Bumatar mini market.

    Dinner….Finally I tasted my favorite noodles after two weeks of adventure leaving my hometown. Made the mood for my trip back to top level.

    Next day….Near noon but still freezing cold, at ten o’clock in the morning, I started my second day of adventure in Qatar. Take my Karwa Bus subscription which had number 12, I went to Al Ghanim Bus Station. For the third time, I would take a Karwa Bus with a different number.

    Here it wass….Karwa Bus No. 76 to West Bay.

    Ten minutes later, I was hurtling towards West Bay via Al Corniche Street. Since this is a circular service, I let myself flow with the flow of Karwa Bus. I didn’t get off when bus started to reaching the West Bay area, the bus turned at Al Fundug Street, continued on Omar Al Mukhtar Street, and switched to Conference Center Street, then closed its circular route on Al Corniche Street to return to Al Ghanim Bus Station.

    I got off right at the beginning of West Bay area which was near the most famous skyscraper in Qatar, Burj Doha. The bullet-shaped building which was the Best Tall Building Worldwide eight years ago.

    Three phenomenal buildings from left to right: Al Bidda Tower, Qatar Petroleum Headquarters and Burj Doha (white).
    Burj Doha was closer.

    I chose to walk inside of the corniche to feel a sensation of walking under the mighty skyscrapers on the left and the blue Persian Gulf on the right. The sights were truly extraordinary and immeasurable and were still etched in my memory until today.

    Making time for lunch.

    I started to go deeper into West Bay area, then I passed a road to the left of Burj Doha and I’m completely immersed in many towering skyscrapers of Doha.

    Tornado Tower belongs to QIPCO Holding which is engaged in investment and shares.

    I arrived at Al Funduq Street and this streets were very busy. The car runs very slowly because the shoulder of the road is used as a parking lot for vehicles. Looking like that parking was still a problem in West Bay area…..Similar to Jakarta, isn’t it?

    From left to right: Ministry of Justice Building (white), Al Fardan Twin Building (workspace provider), Woqod Tower for offices (pointed out).
    Navigation Tower (Building for offices with adjoining architecture).

    In a moment, I was in the heart of West Bay area. Located at the end of Al Funduq Street, which then traffic was directed through country’s protocol streets, namely Majlis Al Ta’awon Street and Omar Al Mukhtar Street.

    The left bend is the end of Al Funduq Street.
    My photo with background of Palm Tower (offices tower).
    Omar Mukhtar Street view towards DECC.

    The sun was at its highest when I entered the center of West Bay. Activities in this area were also starting to get busy. A protocol road with five lanes in each segment was starting to become congested with vehicles. I slowly approached DECC (Doha Exhibition & Convention Center) which was the main event venue in Doha.

    You need to know, apart from Karwa Bus number 76, West Bay is a business district which can be accessed by Doha Metro Red Line. There are at least two MRT stations in this area, namely West Bay QIC Station and DECC Station.

    The entrance to DECC MRT Station is set against the west side of DECC Building.

    Before leaving West Bay area, I would briefly visit one of shopping centers in this area which providing ice rink facilities.

    Come on!….Seeing for a moment.

    Next Story—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Eksplorasiku di Singkawang harus usai lebih cepat. Menjelang tengah hari, aku mempercepat langkah menuju penginapan untuk bebenah. Seperti jalur pulang semalam, aku kembali melahap ruas Jalan Niaga, Jalan Kepol Mahmud dan Jalan Pasar Turi dengan cepat dan tanpa sekalipun berhenti walau hati tetap ingin mengambil foto di beberapa titik menarik.

    Aku tiba di penginapan tepat satu jam sebelum keberangkatan ke Pontianak. Berbasuh dan melakukan packing dengan cepat, maka aku tiba di lobby hotel tepat waktu. Dengan segera aku menyerahkan kunci dan resepsionis wanita yang berjaga mengembalikan uang deposit kepadaku.

    Terimakasih Hotel Sahabat Baru yang telah menjadi persinggahan murah nan ramah bagiku selama berada di Singkawang.

    “Bang Bagus, sudah sampai mana?”, aku menelpon pengemudi taksi yang sudah kukenal semenjak menginjakkan kaki di Pontianak.

    “Lima belas menit lagi sampai hotel, Bang….Mohon ditunggu ya!”, Bang Bagus menjelaskan singkat.

    Aku tak melanjutkan percakapan karena faham bahwa dia sedang berada di belakang kemudi.

    Sementara itu, perut lapar yang kurasakan belum juga mendapatkan solusi. Dari resepsionis hotel aku mendapatkan informasi bahwa kantin hotel tidak menjual makanan dan sementara itu, Yess! Coffee & Dessert yang berada lima puluh meter di selatan hotel juga tampak belum membuka diri.

    “Sudahlah aku akan menahan lapar untuk sementara waktu”, aku memutuskan beberapa saat sebelum Agya merah yang dikendarai Bang Bagus tiba di depan lobby.

    Taksi itu telah diisi oleh dua penumpang lain, berarti aku menjadi penumpang terakhir yang bergabung dalam perjalanan panjang itu.

    Tanpa basa-basi, pedal gas telah diinjak kembali dan taksi perlahan merangsek meninggalkan Singkawang. Tentu aku tak akan terlalu sibuk memperhatikan atmosfer jalanan, karena aku telah melewati rute ini saat menuju ke Singkawang dari Pontianak.

    Hotel Sahabat Baru di daerah Pasiran.
    Hati-hati ya Bang Bagus…..

    Aku lebih banyak diam menahan lapar, sementara aku faham bahwa taksi akan berhenti dua jam lagi untuk melakukan break. Aku terus mengutuk diri karena terlalu teledor tak mempersiapkan sesuatu.

    Satu jam menahan lapar, aku melihat gelagat Bang Bagus yang berada di balik kemudi yang tampak gelisah karena diserang rasa kantuk. Dan hal itu membawa kabar baik tentunya, karena seperti dugaanku, dia akan berhenti mencari kopi.

    Benar adanya, beberapa menit setelahnya, dia menghentikan mobil di sebuah minimarket untuk melakukan break singkat. Begitu dia keluar dari mobil, maka aku pun turut turun dan mencari pengganjal perutdi minimarket.

    Usai meminum kopi dan menghisap sebatang rokok, Bang Bagus pun segera menjalankan taksi menuju Pontianak.

    Dalam perjalanan ini, taksi melakukan break di Rumah Makan Putri Duyung di daerah Sungai Kunyit. Di rumah makan itu aku menghabiskan seporsi nasi sayur dan ayam seharga Rp. 28.000 sebagai pengganti makan siangku yang sudah sangat terlambat.

    Rumah Makan Putri Duyung.
    Suasana di belakang restoran.
    Suasana sepanjang jalan dari Singkawang ke Pontianak.
    Tugu Jam Sungai Pinyuh di pertigaan Jalan Jenderal Ahmad Yani dan Jalan Pontianak-Sei Pinyuh

    Aku sendiri tiba di Pontianak setelah melakukan perjalanan selama lima jam dan Bang Bagus mengantarkanku hingga lobby G-Hotel yang menjadi tempat persinggahanku selama mengeksplorasi Pontianak.

    Yuk, kita intip bagaiamana dalaman G-Hotel, Nih dia mukanya:

    G-Hotel.

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Previous Story

    West Bay area from distance.

    I left the busyness of Dhow Harbor to head to my next destination. At first glance, I passed a row of Catamaran ferries which leaning in a side of beach with guarding by big body security guards. What I understood at a glance was that this was part of cruise to Doha’s famous Banana Islands Resort. This was tourism activity of wealthy tourists who have to spend about 400 Riyal per night for just staying in a banana-shaped artificial island in the Persian Gulf.

    I continued along corniche promenade. A forbidden path for cyclists that allowed every tourist to enjoy corniche view very freely on the wide expanse of promenade.

    I arrived at the beginning of a very large city park. Being parked Doha Hop On Hop Off Bus in this park showed that this spot was one of main destinations for sightseeing tours around the city. Right next to the shelter, lied the front gate of a spot which was marked by a circular pond. The spot was the Museum of Islamic Art.

    Front gate of the Museum of Islamic Art.

    Simultaneously I was in a large park called MIA Park. MIA stands for Museum of Islamic Art. As the name implies, before going to it, everyone could certainly understand that this park was located right in front of the Museum of Islamic Art.

    Starting to explore the park in its south side.

    This park covering an area of ​​​​approximately thirty hectares which orbited on a semicircular corniche. And MIA Park surrounded it on north, east and south sides. Fifty percent of the entire park was green area while the other half was used as a plaza, promenade, parking area and other public facilities.

    Semicircular corniche with openings to the sea in its west.
    Free water station around the corniche.

    This park was often be the official state venue for celebration of national holidays, but it was also often used as a venue for musical performances, bazaar activities or other regular concerts. The park also provided several food & cafe trucks for visitors at several points. Meanwhile, specifically on Tuesdays and starting on 17:00 hours, this park became a special public area for women who were usually led by personal trainers in cardio and fitness training.

    Location for MIA Bazaar.
    Dareen Sweets…..Cafe truck in the park area.

    In the eastern area of park there was a fairly long plaza, bordered by shady trees on both sides and in the middle there was a pond along the plaza. Creating cool conditions when the heat stinged the city. While next to this eastern plaza, there were kids playgrounds which were very spacious for the size of a park.

    East Plaza MIA Park.

    Stepping in the park on north side, I was presented with a garden shape which resembled a hill, rising from the south side and descending sharply towards the sea on the north side. Sitting on a slope with a view of West Bay area that looked closer to my eyes was a satisfaction in itself. To pampering visitors in enjoying the view of a scatter of skyscrapers, a large coffee shop area was provided on the north side of this park.

    MIA Park Coffee Shop.

    Back in the original direction heading my starting point, I passed a different promenade from the direction which I came from. Now I passed the southernmost promenade which was directly adjacent to Al Corniche Street. View of street on the left side was buildings with modern architecture. I could also see the Qatar Museum Gallery and a very large MIA Parking area.

    The QNB Head Office and “The Fountain” were separated by Al Corniche Street in southwest of the park

    With finishing in my visittion to MIA Park, my first day of exploration in Qatar was over. I would start my second day trip tomorrow.

    Where was the next destination?….

    Next Story—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Gerbang Taman Sriwedari.

    Karena Loji Gandrung pernah digunakan oleh Kolonel Gatot Subroto sebagai pusat komado dalam menghadapi Operatie Kraai yang dilancarkan Belanda pada Desember 1948. Itulah sebuah alasan yang nantinya akan kuketahui kenapa patung yang dipilih untuk ditempatkan di depan Loji Gandrung adalah patung Jenderal Gatoto Subroto.

    Kini kita akan bicara topik lain….

    Dahulu….

    Sebelum Stadion Manahan dibangun oleh Keluarga Cendana melalui Yayasan Ibu Tien Soeharto pada tahun 1998. Kota Solo memiliki stadion sepakbola yang kecil tapi legendaris. Stadion yang telah melahirkan klub sepakbola profesional yang pernah mencatatkan sejarah dalam persepakbolaan Indonesia, yaitu Arseto Solo FC. Stadion itu sendiri bernama Stadion Sriwedari. Penamaan ini sendiri tentu terkait dengan letaknya yang berada di area Sriwedari.

    Malam itu, tentu aku tidak berniat mengunjungi Stadion Sriwedari selepas berkunjung ke Loji Gandrung untuk mencari informasi. Hanya perlu kamu ketahui bahwa di sisi timur stadion legendaris itu terdapat taman budaya yang terkenal dengan pementasan Seni Wayang Orang. Taman budaya ini terkenal dengan sebutan Taman Sriwedari.

    Lima belas menit lewat dari pukul sembilan malam, keluar dari gerbang Loji Gandrung, aku melanjutkan perjalanan survey menuju timur sejauh setengah kilometer. Menyusuri sisi selatan Jalan Slamet Riyadi, aku melangkah dalam keramaian malam. Hingga aku tiba pada sebuah name board bertajuk “I Love Solo” yang terletak di sebuah taman kecil di bawah sebuah pohon besar, tepat ditengah trotoar lebar. Inilah penanda bahwa langkahku telah sampai di tujuan.

    Tempat hangout di depan Taman Sriwedari.
    Patung Gatotkaca dan Pregiwa.

    Aku disambut sebuah gapura megah dengan topeng “Buto” di atasnya disusul dengan sambutan patung Gatotkaca dan Pregiwa dengan warna emas di bagian halaman. Dari situ saja, aura budaya tanah jawa tercium sangat kuat. Sementara sebuah pendopo besar menggenapi salah satu sisi taman.

    Dari informasi yang kubaca pada sebuah kalender event di salah satu titik. Tepat dua bulan sebelum kunjunganku, tempat ini telah menghelat sebuah pagelaran tahunan dalam usaha peletarian Seni Wayang Orang yaitu Festiwal Wayang Bocah ke-7. Rupanya Kota Solo sangat gencar dalam melestarikan budaya. Memiliki event budaya dari usia dini hingga menyediakan tempat budaya seperti Taman Sriwedari ini adalah bukti nyatanya.

    Di bagian belakang-timur pendopo berdiri Gedung Kesenian Solo. Sementara di sisi kanannya tampak beberapa papan proyek rapi mengelilingi THR (Taman Hiburan Rakyat) Sriwedari. Aku mendapatan informasi bahwa taman ini telah ditutup dan akan digantikan keberadaannya dengan Masjid Taman Sriwedari. THR Sriwedari sendiri adalah salah satu legenda taman hiburan di pusat Kota Solo pada masa lalu. Dahulu kawasan ini dikenal dengan sebutan Bon Rojo (kebon rojo/kebun raja) pada era Paku Buwono X.

    Sementara di sebelah belakang-barat pendopo terletaklah Gedung Wayang Orang Sriwedari. Gedung inilah yang berperan penting dalam pelestarian Kesenian Wayang Orang yang telah berfungsi hampir satu abad lamanya.

    Taman Sriwedari menjadi satu tempat yang layak dikunjungi apabila saat pelaksanaan Marketing Conference nanti terdapat event budaya. Akan tetapi jika tidak ada, maka kemungkinan menjadi sangat kecil untuk mengunjunginya.

    Kisah Selanjutnya—->