• Leaving Osaka Castle via Uemachi-suji Avenue , I headed for Tanimachi 4-chome Station. Passing rows of red-maple trees planted on each side of road, then head to station entrance which was located at the feet of mighty Osaka Museum of History.

    “Enjoy Eco Card” (another name for One Day Pass in Osaka) for 600 Yen made ut comfortable and easy to got in and out of station without having to hunt a ticket at automatic vending machine when you wanted to use the services of Osaka Metro. I just tap the card at ticket collecting gate and enjoyed traveling around Osaka as I please.

    Enjoy Eco Card.

    Taking Tanimachi Line and changing to Sennichimae Line at Tanimachi 9-chome Station, my journey stopped at Namba Station after traveling three kilometers and in fifteen minutes.

    Arriving at the eighty-five year old Namba Station, I exited towards Namba City. Namba City is a very large shopping center in this area.

    Stepping in corridor after corridor in Namba City made me interested to stop by and saw some of UNIQLO store’s winter jacket collections in a side of magnificent corridor. An interesting funny story happened to me again here. This was the result of my cheap winter jacket I was wearing. This second-hand winter jacket from Pasar Baru (a market in my town) sheded soft goose down from its inside when I tried on a UNIQLO winter jacket in dressing room. Suddenly, after I came out from fitting room, a female attendant took a broom and dustpan to clean that goose. She just smiled at me when was putting the winter jacket back into display case. Even though, I thought I wouldn’t be able to afford it, I was still determined to try it. How could I not think a thousand times to buy it if a winter jacket was priced at 12,900 Yen.

    To forgot about that embarrassing incident, I hurriedly left the store and rushed to Namba Parks. This time I started to be amazed because the access to Namba Parks kept me on indoor pedestrian path, even though Namba City and Namba Parks were in different locations. The indoor corridor continued to south and was directly connected to Namba Parks.

    After walking less than two hundred meters from the exit gate of Namba Station, I finally arrived at Namba Parks. The cool garden was designed at the top of shopping center with a contour made of steps like a terrace. I should have visited this park at night because there were a lot of lights installed which would definitely light up at night.

    A side of Namba Parks, the park above the mall.

    Namba Parks itself is also integrated with a shopping and office complex located in Naniwa City District. In the park, I only took thirty minutes because I wanted to visit Americamura soon to see the shopping and entertainment area from a different perspective.

    It was already half past two in the afternoon, I started to leave Namba Parks via original route when I came to Namba Parks.

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Suasana Naif Road/Naif Street menjelang siang.

    Lewat dari pukul sebelas pagi, aku terduduk di sebuah kedai dengan menu khas India, teletak dalam satu blok dengan Zain East Hotel tempatku menginap. Kali ini aku akan menikmati sarapan yang sangat terlambat, karena mendekati waktu makan siang maka menu chicken fry dan chai kali ini akan berfungsi sekaligus sebagai makan siang….Duh, pinter….Hemat bukan main.

    Kedai-kedai India memang selalu menjadi penyelamat kantong bagiku selama berpetualang di Timur Tengah. Kali ini aku menebus menuku hanya dengan 7 Dirham saja.

    Tak berlama-lama di kedai itu, aku segera meneruskan petualangan. Kali ini aku akan menempuh rute awalku ketika tiba di Distrik Deira. Aku akan melangkahkan kaki melalui Naif Road, lalu berlanjut ke Al Musalla Road dan menyasar titik utama Baniyas Square Station.

    Yupzzz, untuk pertama kalinya aku akan menjajal Dubai Metro.

    Menempuh perjalanan kaki selama lima belas menit, aku tiba kembali di pelataran Baniyas Square. Penuh antusias, aku segera memasuki gerbang stasiun.

    Langkah pertama yang harus kulakukan untuk melakukan eksplorasi hingga sore hari adalah mentop-up saldo Nol Card di ticketing vending machine. Menemukannya dengan sangat mudah di lantai bawah, aku mengeluarkan dompet dan mengeluarkan 20 Dirham untuk mengisi saldo Nol Card yang kumiliki.

    Kini Nol Card telah siap digunakan sebagai akses masuk ke transportasi massal di Kota Dubai.

    Suasana di dalam stasiun tampak ramai, salah satu koridor tampak tertutup rapat oleh papan proyek, aku membacanya sebagai proyek penambahan gate baru di stasiun tersebut. Sedangkan di koridor tempatku melangkah, tampak terpapampang di kiri dan kanan koridor, daftar sister city yang dimiliki Dubai. Aku akan menyebutkan lima diantara sister city itu untuk kalian, yaitu Detroit (Amerika), Dundee (Skotlandia), Qingdao (Tiongkok), Lyon (Perancis) dan Amman (Yordania).

    Ticketing Vending Machine.
    Interior Dubai Metro.
    Suasana di UNION Station.
    Platform di UNION Station.
    Penampakan Dubai Metro yang elegan.

    Karena aku berada di Baniyas Square Station maka secara otmatis aku berada di Jalur Merah (Red Line) Dubai Metro.

    Tak perlu waktu lama untuk menunggu kereta Dubai Metro tiba. Tak lebih dari lima menit aku telah melompat masuk ke salah satu gerbong Dubai Metro yang memiliki warna dominan biru.

    Melihat sekilas susunan bangku maka aku teringat dengan kereta KTM Komuter milik Malaysia. Dubai Metro pun memiliki bangku yang saling berhadapan di kedua sisi memanjang dan sebagian lagi adalah bangku menghadap ke depan.

    Demi menuju Burj Khalifa maka aku harus berpindah ke Jalur Hijau (Green Line) dan stasiun terdekat untuk melakukan perpindahan itu adalah UNION Station yang hanya berjarak satu kilometer dari Baniyas Square Station. Hanya dibutuhkan waktu tiga menit menggunakan Dubai Metro.

    Aku melompat turun dari gerbong ketika rangkaian roda ular besi itu selesai berdecit di platform UNION Station. Aku bergegas untuk mengikuti petunjuk arah di sepanjang koridor demi menggapai platform untuk Jalur Hijau.

    Dengan mudah aku mendapatkannya dan lima menit kemudian aku sudah berada di dalam gerbong menuju Dubai Mall/Burj Khalifa Station. Kali ini aku akan melewati enam stasiun sebelum tiba di stasiun tujuan. Menempuh jarak delapan kilometer menuju selatan.

    Dalam lima belas menit akhirnya aku tiba di Dubai Mall/Burj Khalifa Station. Untuk keseluruhan perjalanan aku hanya membayar sebesar 5 Dirham saja.

    Tiba di Mall/Burj Khalifa Station
    Pintu keluar Dubai Mall/Burj Khalifa Station

    Sungguh menyenangkan bisa menikmati elegannya Dubai Metro. Kereta Dubai Metro sendiri merupakan besutan dari Mitsubishi Heavy Industries asal Negeri Matahari Terbit. Sedangkan untukku, Dubai Metro menjadi Mass Rapid Transit (MRT) keempat belas dari enam belas jenis MRT yang pernah kunaiki.

    Aku turun dari gerbong dan mulai melakukan eksplorasi kembali.

    Kisah Selanjutnya—->

  • You know this this “Handsome Role” right?…

    The picture is a scene from the movie “The Last Samurai”, when Captain Nathan, played by Tom Cruise, honorably fights with the leader of Samurai, namely Katsumoto, played by veteran Japanese actor Ken Watanabe, against the soldiers of Emperor Meiji who are trained by American Army. The background of this war is “Modernization vs Feudalism”. Emperors glorified modernization and Samurai maintained tradition.

    Those are just a few of many heartbreaking mosaics that made Japan’s history when it transformed from a conventional country to a modern one. One such mosaic is Boshin War, a civil war which left a mark of destruction and was recorded in this historical place which I visited.

    Yups….This is Osakajo….People call it as Osaka Castle or Osaka Castle.

    —-****—-

    On 09:50 hours, I stepped on the platform of Tanimachi 4-chome Station, then exited through one of its gates where Osaka Museum of History and Hoenzaka Iseki proudly stood in station’s courtyard. My steps continued to be connected on Uemachi-suji Avenue with red maple tree decorations on both sides.

    Its strong history made Osaka Castle be my first destination in the city with a nicknamed “Manchester From East”. I really didn’t want to delay and lose my first glance at king’s palace which is more than four centuries old. The distance is only six kilometers from Kaga Hotel where I stayed and the availability of Osaka Metro line to it made it so easy to access this destination.

    Did you dare to introduceing yourself to her?

    Not long in walking, I arrived at Osaka Castle, through Otemon Gate to be exact. Otemon Gate itself is on east side of palace, while on its west side is provided Aoyamon Gate. Like an ancient palace, this place is surrounded by a wide canal nearly a hundred meters long as a form of defense.

    Passing a bridge, pedestrian path began to direct every tourist to enter a side of Otemon Gate. It began with a door made of two towering steel sheets. After that, plastered walls which made from fine andesite, some of which were left intact with a length and width of almost five meters.

    Soon the second gate greeted. The gate with a size larger than the first one was nicknamed Osakajo Tamon-yagura which was composed of large, intact and sturdy wood. Through this second gate, tourists would automatically enter palace area which had an area of ​​not less than six hectares.

    In some fragments of its history, it’s told that this castle was destroyed by fire due to the Boshin War in 1868. Now the Boshin War itself has been illustrated by Tom Cruise in the preambule at the beginning of this article.

    Osakajo Tamon-yagura
    Osakajo which on fire…..

    I arrived at southern courtyard, call it as Osaka Castle Park. This is where tourists gather and enjoy the elegance of castle made by Toyotomi Hideyoshi, the leader of Japan’s Sengoku Period. I took time to take pictures with old samurai role in castle grounds. Even to got rid of loneliness, I often have fun posing behind a group of tourists who were taking pictures. Grinning horses, jumping, waving or whatever I did. Sometimes it made one of that group pointed at me while laughing after seeing their photos in their digital room. Seriously acute.

    After an hour of enjoying Osaka Castle, I decided to sit down and enjoyed the Ikayaki which I bought from one of many food truck which was neatly lined up in east courtyard. A portion of Ikayaki was priced about 300 Yen. Ups, do you know Ikayaki?…. It was a large grilled squid seasoned with mirin (Japanese seasoning).

    The original samurai armor is usually in black colour, right?.
    A food truck in Osaka Castle.

    Finishing in eating Ikayaki, or at exactly 10:30 am, I started to leave Osaka Castle area and planned to head to Naniwa City District.

    Where would I step?………

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Hampir dua jam, aku mengobok-obok beberapa blok Distrik Deira demi menemukan penginapan yang telah kupesan. Tapi selama itu pula aku tak mendapatkan apapun. Kelelahan yang disebabkan oleh terus menerusnya aku memanggul backpack seberat enam kilogram besera folding bag seberat dua kilogram membuatku terduduk lesu di pinggiran trotoar 18th Street.

    Jalanan mulai tampak ramai dengan aktivitas warga lokal, tetapi aku sudah terlalu lelah untuk memperhatikan aktivitas itu. Aku masih tak percaya telah kehilangan penginapan yang kupesan secara daring. Aku telah kehilangan 55 Dirham atas pemesanan itu.

    “Tak ada cara lain selain mencari hotel secara langsung di lokasi terdekat”, aku membatin penuh keberatan karena akan menambah anggaran perjalanan lagi.

    Aku berpikir cepat, aku harus mencari penginapan dengan harga di antara 55-225 Dirham. 55 Dirham merujuk pada harga kamar yang kupesan secara daring, sedangkan 225 Dirham merujuk pada harga kamar Al Farij Hotel yang kutanyakan beberapa waktu lalu ketika mencari lokasi penginapan.

    Dalam benak, aku hanya mengingat ada sebuah hotel di seberang blok yang kulewati beberapa waktu sebelumnya. Aku lupa nama lengkapnya, tetapi begitu ingat dengan lokasinya. Agak sedikit masuk ke dalam gang.

    Maka tanpa pikir panjang, aku segera bangkit dan melangkah menuju hotel tersebut. Sembari mengingat jalan, aku terus melangkah cepat. Aku tak mau kehilangan banyak waktu eksplorasi hanya karena telah kehilangan kamar yang kupesan.

    Tak susah untuk menemukannya. Hotel itu tepat berada di sebuah gang di sisi selatan 20th Street.

    “Ini hotel bintang satu, harusnya aku mendapatkan harga yang lebih murah dari Al Farij Hotel”, aku berargumentasi dalam hati.

    Tanpa ragu aku memasuki lobbynya yang sederhana dengan dinding keramik dominan merah. Menuju meja resepsionis, aku disambut oleh seorang staff pria berperawakan Timur Tengah.

    “200 Dirham for rate, Sir”, jawabnya singkat ketika aku menanyakan tarif hotel tersebut.

    “Can I get a room for 125 Dirham”, baru kali ini dalam seumur hidup aku menawar harga hotel….Gila memang,

    Staff itu hanya tersenyum menatapku.

    “I am just a backpacker with minimun budget”, aku lanjut berseloroh.

    “Okay….Okay….I give you 150 Dirham. Deal….?”, staff pria itu tampaknya hanya sekali saja memberikan penawaran menarik itu.

    “Deal….”, aku bergegas membayarnya dalam mata uang Dollar Amerika karena aku hanya memiliki jumlah Diham yang tidak terlalu banyak.

    “You can check-in now”, dia memberikan bonus kepadaku untuk bisa masuk kamar tiga jam lebih cepat.

    Usai menyelesaikan masalah administrasi, aku diantar oleh staff laki-laki lain melalui lift untuk menuju kamar.

    “I’m from Bangladesh, Sir”, begitu staff pria itu menjelaskan ketika aku bertanya di dalam lift mengenai asal usulnya.

    Lewat dari jam sepuluh pagi aku pun sudah memiliki kamar untuk eksplorasiku di Dubai. Rasa letih yang luar biasa, memaksaku untuk merebahkan badan sejenak. Aku memasang alarm untuk satu jam ke depan, khawatir aku akan terlelap hingga gelap.

    Benar adanya, alarm itu menjaga waktuku dengan baik. Berbunyi dengan keras di dekat telinga kananku, menghentikan dengkuranku, anggap saja diriku mendengkur dalam tidur karena kelelahan yang teramat sangat. Aku mencuci muka dan bersiap melakukan eksplorasi.

    Aku kembali melihat itinerary yang kubuat. “Aku harus merombak aturan main ini, aku tak mau kehilangan destinasi penting hanya karena kebodohanku kehilangan waktu demi mencari penginapan sedari pagi”, aku berseloroh tegas kepada diriku sendiri.

    “Burj Khalifia….Ya Burj Khalifa”, aku menjetikkan jari dengan kepercayaan diri tinggi.

    Kisah Selanjutnya—->

  • A quarter of an hour to nine….I left Kaga Hotel in Nishinari City District after leaving my backpack in reception area. I rushed to Dobutsuen-mae Station. But first, I had to stuff something into my stomach before arriving at station. Since midnight last night, when I arrived in Osaka, I haven’t eaten a bite.

    I decided to look for the nearest convenience store. On the way to station, I found a FamilyMart on the edge of Saka-suji Avenue. I won’t be munching on onigiri again for breakfast. I’ve been bored since two days ago routinely chewing that food. Finally I chose a cup noodle and immediately took the queue in front of cashier. Waiting my turn, one by one, FamilyMart customers completed their payment. I only reflexively followed forward when the queue in front also advanced, but actually my eyes never looked ahead.

    Cashier : “Hello”

    I still didn’t budge.

    Cashier: “Hello”

    I still thought thar it was the turn of someone who queueing in front of me

    Cashier: “Helloooo….Sir. You…..Sir”.

    Me: “Oh it’s my turn, sorry” The cashier just smiled when he saw my face was red with embarrassment. Damn….She and the queue behind me were grinning in unison because they caught me staring at a corner of a shelf with many adult magazines neatly arranged. Luckily the cashier didn’t offer me to buy the magazine….I was embarrassed.

    This kind of thing is common in Japan…..

    After paying, I headed to a dispenser. Pour hot water into cup noodles and took a corner of that convenience store to eat it.

    Cashier: “Helloooo Sir, eat outside, please!”

    Ohhh….I was embarrassed, expelled out again, even though I was avoiding cold air outside. In the end, I still ate my cup noodles while standing in front of minimarket while chilling happily….My fate.

    Moments later, I were eaten all my noodles until there was no gravy left. I continued to the north. Arriving at the intersection of Abiko-suji Avenue, I immediately headed underground through one of gates belonging to Dobutsuen-mae Station which is on the south bank of main road.

    Me: “Hello, How can I get a One Day Pass, Sir”. I made sure not to buy it too long like what happened two days ago in Tokyo.

    Security Officer: “Doko e ikitai desu ka?”, apparently this man couldn’t speak English.

    Me: “Osaka Castle, Sir”.

    Security Officer: “Hooooohhhh….”. He didn’t even know

    Me: “Osakajo”.

    That security officer then smiled nodding and ushered me through a corridor and then he pointed to an automatic vending machine.

    “Arigatou Gozaimasu”, I told him. Even though if you are looking for a machine like this, I can too. Is the One Day Pass sold separately from the machine, that’s what I meant…..Hmmh.

    Never mind, I started hitting that automatic vending machine button. I could smile with relief because this machine was not as complicated as the one in Tokyo. I put in a 1,000 Yen sheet, pressed the “ENGLISH” button, continued to the “CARD” button and finally I found the “ONE DAY PASS” button for 600 Yen.

    That night was the first overseas New Year’s Eve for me. I purposely bought an One Day Pass because I was going home after midnight, after New Year’s Eve Countdown of course.

    Now I was getting ready to take Osaka Metro. It was also my first time experiencing subways in Japan after having only tasted surface trains nine times in a row since my arrival in Tokyo.

    I started at Midosuji Line and then changed to Tanimhaci Line at Tennoji Station. Drove north for five kilometers and within fifteen minutes, I finally arrived at Tanimachi 4-chome Station in Chuo City District.

    I immediately exited through the exit gate where Osaka Museum of History building and the historical landmark Hoenzaka Iseki are located. From there, I continued along Uemachi-suji Avenue towards Osaka Castle which was only one kilometer away.

    Osaka Museum of History.
    Hoenzaka iseki, 5th Century warehouse building in Japan.
    Isn’t that a maple tree?
    I arrived at Otemon gate of Osaka Castle

    Let’s exploring Osakajo…..

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Sedari sebelumnya, di salah satu pojok perempatan, tepat di depan toko eletronik berdinding kaca tanpa aktivitas dan masih tertutup rapat, aku terus mencari kata atau tanda “Traveler Bed Space For Male”. Itulah nama yang tertera di e-Conformation Letter yang kudapatkan atas pemesanan kamar di salah satu e-commerce penginapan.

    Tak mendapatkan tanda apapun, aku memutuskan untuk menetapkan radius pencarian hingga satu blok di sekitar toko elektronik itu. Aku belum akan mematikan harapan untuk mendapatkan kamar yang telah kupesan.

    Bergeraklah diriku ke utara. Di salah satu gang aku melihat ada sebuah gedung tunggal yang tampaknya berfungsi sebagai apartemen, berwarna coklat dan tidak terlalu tinggi. Tampak para penghuni berlalu lalang walaupun tak terlalu banyak. Aku memutuskan masuk ke dalam lobby yang tak berpenjaga.

    “Good morning, Sir. Can you help me? Do you know this place?”, aku menunjukkan e-confirmation letter yang kupegang sedari tadi kepadanya.

    “I’m not sure about this place. I think I don’t know this place, Sir”, dia membaca lembaran yang kuberikan sembari menggaruk-garuk kepalanya sebagai pertanda dia kebingungan.

    Aku pun meninggalkan Gedung itu setelah lelaki paruh baya itu meluncur ke atas menggunakan lift berukuran kecil.

    Aku gagal di percobaan pertama.

    Kasihan banget tuh orang….Kehilangan kamar.
    Cari kemana ya?….Ya Allah.

    Untuk selanjutnya langkahku tiba di ujung blok. Masih tak nampak tanda-tanda yang kucari, aku memutuskan mengikuti kontur blok menuju timur. Hingga aku tiba di sebuah tailor shop dengan dua pekerja yang tampak sibuk menjahit sebuah gamis. Tanpa pikir panjang, kuketuklah pintu toko jahit itu. Maka tergopohlah seorang dari mereka ke arah pintu setelah melihat keberadaanku.

    Masih menanyakan dengan cara yang sama aku mencoba bercakap dengannya. Aku merasa kali ini percakapan hanya berjalan searah. Lelaki berperawakan Asia Selatan itu, Bangladesh tebakanku, hanya menunjukkan jarinya pada nama peninginapan di e-confirmation letter yang kutunjukkan kepadanya.

    Traveler Bed Space For Male….Uhmmm….Uhmmmmm”, dia menatapku setelah membaca, kemudian membuang pandangannya lagi pada surat konfirmasi yang kupegang. Kali ini telunjuknya menunjuk pada alamat penginapan yang kupesan.

    Maka setelahnya, dia melambai-lambaikan tangan kanannya, pertanda dia menyerah tanpa mampu sepatah katapun mengucapkan kata-kata,

    Percobaan kedua pun sama….Mengalami kegagalan.

    Langkahku kini tiba di ujung blok yang lain. Konturnya memaksaku menuju ke selatan. Di sisi itu aku sudah kehilangan akal sehat, aku tetiba memasuki sebuah flat empat lantai dengan desain melebar di sepanjang jalan.  Ada spanduk besar di atasnya dengan bacaan singkat “ To Let”, entah kenapa banyak bangunan di Distrik Deira yang menyertakan kata itu.

    Tak menemukan siapapun di lantai pertama, aku melangkah ke lantai kedua. Hanya sepi yang kudapat di lantai kedua, membuatku terus menanjak hingga lantai ketiga. Bahkan sampai lantai keempat pun, tak ada siapa-siapa yang kutemukan. Aku hanya mendengar suara-suara penghuni di kamarnya masing-masing.

    “Mungkin masih terlalu pagi”, bagitulah alasan yang kubuat sendiri untuk para penghuni yang masih enggan keluar kamar.

    Melangkah gontai mengantarkanku tiba di ujung terakhir blok yang akan kulewati. Di blok sebelah selatan itu aku dihadapkan pada sebuah hotel bintang tiga, Al Farij Hotel namanya. Wajahku berubah sumringah, aku hanya berharap dengan bertanya kepada siapapun yang bekerja di bidang perhotelan akan memberikan titik terang atas keberadaan kamar yang kupesan.

    Sebagai langkah pertama, aku bertanya kepada security yang bertugas. Maka bertemulah aku dengan petugas keamanan asal Philippina di depan hotel.

    “The address is good….This is a same street with this hotel….Uhmmm. But, I never know about this hotel”, begitulah dia berbicara sambil tetap mengarahkan pandangannnya ke surat konformasi yang kuberikan.

    Masih berusaha untuk membantu, dia membawaku ke dalam lobby hotel, berharap teman resepsionisnya yang juga asal Philippina bisa menbantuku.

    “Oh, I’m sorry, Sir. I don’t know about this hotel before”, dia bicara sembari menatapku penuh kesedihan. Mungkin perempuan muda itu berempati kepadaku yang sama-sama berasal dari Asia Tenggara.

    Aku merasa harapanku telah sirna. Aku pun memutuskan untuk memesan kamar di Al Farij Hotel yang sekarang aku sedang berada di lobbynya.

    “How much the cheaper room in this hotel, Ms?”, aku bertanya kepada resepsionis muda itu.

    “The remain room which we have is about 225 Dirham in rate, Sir”, perempuan itu menjelaskan.

    “Oh, Okay”….Bukan, aku bukan menerima harga itu. Melainkan menolaknya dan memutuskan untuk pergi dari hotel itu. Harga itu terlalu mahal bagiku.

    Mengucapkan terimakasih kepada resepsionis muda dan security tersebut, aku kembali melangkah. Kali ini aku jelas menuju ke titik semula. Itu artinya, hingga kembali ke titik awal, aku tak menemukan dimana penginapan yang telah kupesan.

    Aku kembali menatap lekat toko elektronik berdinding kaca tanpa akivitas yang masih saja tak memberikan pentunjuk.

    Ketika berdiri termangu, mendekatlah seorang Asia Tenggara. Dia menatap wajaku lekat-lekat sebelum memulai percakapan. Ya Tuhan, kini aku mendengar Bahasa Tagalog melintas di telingaku. Aku menunggu lelaki itu hingga akhir kata yang dia ucapkan. Lalu aku membalasnya,

    “I’m sorry, brother. I don’t understand Tagalog. I’m from Indonesia”, aku bicara padanya dengan rasa sedih. Sepertinya dia juga sedang mencari sesuatu.

    “Come on….Think something, Donny!”, naluriku kembali menyela untuk tak terlalu lama larut dalam kebingungan.

    Aku kembali melangkah, kali ini menuju ke blok lain yang berada di sebelah barat.

    Menjelajah sisi demi sisi, jengkal demi jengkal, gang demi gang, aku tak kunjung menemukan petunjuk. Hingga aku bertemu dengan dua pemuda yang sedang duduk di tepi trotoar dengan segelas kopi di masing-masing tangannya. Maka kuputuskan bertanya untuk terakhir kali kepada mereka.

    Kedua pemuda itu melihat e-confirmation letterku dengan seksama. Mereka detail melihat informasi demi informasi yang tertera. Bukan nama atau alamat penginapan yang dia sasar. Melainkan koordinat dari letak penginapan itu.

    Berburu koordinat di layar telepon pintar, mereka akhirnya mereka menemukan lokasinya. Aku dengan sigap memfoto koordinat yang tertampil di layar telepon pintar itu.

    “Yesss”, hatiku berteriak girang setelah mendapat informasi itu.

    “Hi, by the way, Where are both of you coming from?”, pertanyaan terakhir terlontar dari bibirku.

    “We are Russian but lived in Dubai since we were kids”, salah satu mereka menjawab setelah menyeruput kopi di cangkir kertasnya.

    Mencoba di blok lain.
    Dikiranya sudah dapat….Ternyata prankkkk.

    “Oh, yaaah….I myself come from Indonesia. Thanks you, brother”, aku memperkenalkan sekaligus undur diri dari hadapan mereka berdua.

    Kini aku melangkah untuk menemukan koordinat itu, tak jauh, aku hanya menempuh langkah dalam lima menit dan akhirnya aku menemukan titik penginapan itu.

    Ya, titik yang sama dengan titik semula dimana aku mengalami kebingungan….Sebuah toko elektronik berdinding kaca tanpa aktivitas.

    “You are in big trouble, Donny….Big trouble”, aku menyumpahi diriku sendiri.

    Kisah Selanjutnya—->

  • I already have a ticket worth 1,060 Yen to go to Shin-Imamiya Station in Naniwa City District. Meanwhile, time continued to move away from the dawn. I was still standing on one of platforms, waiting for JR Kansai Airport Rapid Service train to arrive. On another platform, a train with a futuristic design was parked waiting for its scheduled departure.

    Haruka Express Train bound for Kyoto. It costs 3,400 Yen one way. Interested?….

    Not long after, the conventional model train slowly but surely slowed down entering platform from northeast side. Within seconds, the metal wheels squeaked against steel track and came to a complete stop in front of me. An officer immediately docked at the front of the carriage and stood watching towards the rear end of train. After all passengers got out, he waved at me and directed me to enter the train. Maybe he had been observing me as a foreigner who lookedhj a little different from most passengers.

    I was going to go up…. It was cheap.

    I entered the first carriage and took a single left seat near the door. Fifteen minutes to go to seven in the morning, when JR Kansai Airport Rapid Service started speeding away from Kansai Airport Station. Heading north towards downtown.

    Not long after the train was running, the first spectacular view appeared from carriage window. The vast expanse of Osaka Bay decorated with a tinge of dawn became a beautiful charm to welcome my first morning in Osaka Prefecture.

    After four kilometers, the train crossed a steel bridge which straddled the bay. Then passed under a flyover which stretched along the beach in Rinku Town area. The combination of the calmness of bay, the tinge of dawn, the situation of half-dark streets and city lights which have not been reluctant to go out, beautify the rhythm of my morning journey.

    Rinku Town area.

    The sight paused for a moment at Rinku Town Station. The train had to drop off and picked up some passengers.

    Leaving Rinku Town Station, the train continued on Nankai-Kuko Line. The Nankai-Kuko Line itself is a train line which starts from Kansai Airport Station in the south and ends at Namba Station in the north with a total length of nearly fifty kilometers.

    Far away from Rinku Town, this time the scenery changed to a stretch of farmland located around Izumisano Town. The agricultural lands were combined with several small landing house complexes owned by residents. At some point, several medium-sized apartments began to appear. Meanwhile, dry rivers looked neat with guardrails at its edges.

    Expanse of agricultural land and housing.

    Within thirty minutes, the train began to enter the densely built urban area, in Nishi City District to be exact. There was no more agricultural land there. The view only contained housing, apartments, offices as well as health and shopping centers.

    This time I myself would not complete the trip until the last stop point, namely Namba Station. I would stop at Shin-Imamiya Station, one station away before arriving at Namba Station.

    I got off at Shin-Imamiya Station at fifty minutes of JR Kansai Airport Rapid Service train ride. I immediately left Shin-Imamiya Station on Abiko-suji Avenue. Then turned right, headed south down an five meters wide alley. After walking for three hundred meters I arrived at Hotel Kaga.

    Along the way to Hotel Kaga, I walked with great confidence without needing to ask anyone about hotel location because I really understood route to get there from the map I brought.

    I entered Kaga Hotel which was predominantly brick red in color. Greeted by a friendly male receptionist. But it was still too early to be able to check-in. I really only meant to leave my backpack and immediately explore Osaka until evening.

    But to speed up the check-in process later, I decided to pay in advance. After receiving a receipt and placing my backpack in reception area, I finally left the hotel which costed for 1,800 Yen per night and headed straight for Osaka Castle.

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Baniyas Square….Tampak Dubai Bus bernomor 77 dan Mahboubi Medical Centre yang tinggi menjulang.

    Pagi itu jalanan masih lengang. Namun kondisi itu tak serta merta mencuatkan takut dalam hati . Aku diturunkan oleh Dubai Bus Nomor 77 di sebuah alun-alun, Baniyas Square namanya, alun-alun yang terbentuk dari persilangan dua jalan protokol yaitu Al Maktoum Hospital Road dan Al Musalla Road. Dengan berdiri di tempat itu, berarti aku sudah berada di tepian barat Distrik Deira. Dan ketika menginjakkan kaki di Baniyas Square, tengara penting yang menarik perhatianku adalah Mahboubi Medical Centre yang tertampil dalam warna coklat dengan kelir hijau.

    Langkah kaki mulai kuayun dengan mengitari zebra cross yang terlukis melingkari perempatan besar. Walaupun jalanan terlihat kosong, aku tak cukup nyali untuk mengompas jalur. Khawatir dihakimi peraturan lalu lintas yang kerap kali menyuguhkan denda, apalagi kuperhatikan ada beberapa unit CCTV yang mengintai ke arah perempatan. Menjadikanku harus sering berhenti menunggu nyala lampu hijau walaupun sebetulnya jalanan kosong melompong.

    Usai menaklukkan perempatan, aku menyusuri tepian Al Musalla Road yang sunyi. Al Musalla Road sendiri merupakaan jalan dengan trotoar pembatas kecil di kedua ruasnya. Dalam langkah, sesekali aku berpapasan dengan warga lokal berumur yang sedang menikmati jogging pagi. Tak ragu mereka melemparkan senyum kepadaku, membuatku semakin berani melawan kelengangan kota.

    Selanjutnya aku tiba di sebuah taman yang cukup lebar, kondisinya juga masih sunyi, Naif Park namanya. Aku terduduk di bangku beton tepat di depan taman itu. Menaruh backpack dan menyempatkan diri untuk menghirup panjang kesegaran udara pagi dan sejenak melepas pegal badan di bangku itu. Hanya saja rehatku terganggu oleh serakan poster mini seukuran kartu nama yang menawarkan jasa pijat dengan foto-foto seksi wanita Kerala….”Jangan-jangan pijat plus-plus ini mah”, batinku berprasangka buruk sembari melihat tajam foto-foto itu….Astagfirullah.

    Tenaga telah terisi ulang, langkahku berlanjut dengan merubah haluan menuju timur, menyisir jalanan lain, yaitu Naif Road yang tak kalah lebar dengan Al Musalla Road. Hanya saja pembatas kedua ruas kini berganti menjadi jalur tanaman hias yang menghias sepanjang jalan.

    Aku sengaja mengompas jalan supaya tiba lebih cepat di penginapan. Oleh karenanya usai melangkah sejauh tiga ratus meter di Naif Road maka aku memotong jalur dengan memasuki sebuah gang kecil demi menuju ke utara. Maka menyeliplah aku diantara bangunan-bangunan ruko dan rukan sekian lantai di salah satu sentra ekonomi milik Distrik Deira.

    Melintas di Al Musalla Road.
    Masih di Al Musalla Road.
    Kacau…..Banyak nemu beginian di trotoar dan bangku taman.
    Suasanan Naif Park.
    Memasuki Naif Street.

    Strategiku untuk mencapai penginapan sangatlah mudah. Aku hanya perlu mencocokkan titik penginapan yang dijelaskan pada cetakan surat konfirmasi pemesanan kamar dengan titik biru yang terus bergerak pada layar GPS telepon pintar yang terus kuamati sedari awal.

    Singkat cerita, setelah meliak-liuk di beberapa jalan tembus, akhirnya aku tiba tepat di titik yang dimaksud. Di salah satu titik perempatan berukuran sedang, aku berdiri termangu, mengamati lekat-lekat sebuah toko peralatan elektronik dengan dinding kaca yang masih tertutup rapat, tidak ada pertanda adanya penginapan sama sekali.

    Aku yang memiliki waktu bicara gratis tiga menit dari SIM Card Du Mobile akhirnya mencoba menelpon nomor penginapan yang tertera di surat konfimasi pemesanan.

    “tut tut tut tut….”, begitulah bunyinya…..

    Instingku mengatakan bahwa aku telah kehilangan jejak….Aku sedang tidak dalam kondisi yang baik-baik saja…..

    “Plaaakkkk….”, sebuah tepukan keras mendarat di pundak kananku.

    “Nepalese….Nepalese?”, lelaki muda bertubuh kurus tinggi dan berbadan gelap menengadahkan  telapak tangan yang kelima jarinya menunjuk ke mukaku.

    “Nup….Nup…Indonesia”, aku menjawab tidak antusias.

    “You like Nepalese, bro”, dia melempar senyum sembari menggelengkan kepalanya.

    “Oh, thanks….”, aku menjawab sekenanya.

    Lelaki muda itu pun angkat kaki dari hadapan dan aku kembali masuk dalam kebingungan…..

    Do something, Donny….Do something!”, aku memarahi diriku sendiri

    Kisah Selanjutnya—->

  • Arriving at Kansai International Airport (KIX), Osaka.

    I descended Peach Aviation with flight number MM6320 via manual ladder. Then I was taken using Narita apron shuttle bus to Terminal 2 building. Finally, I arrived in Osaka and stepped onto airport which had won “The Best Low Cost Airline Terminal in the World” in Skytrax version.

    Since this was a domestic flight, of course I didn’t need to be busy dealing with immigration. I stepped on the floor of Terminal 2 building on exactly midnight. I think it would be better if I immediately looked for a place to close my eyes for next five hours. I also felt very tired because from the morning when I checked out until the afternoon I walked around Tokyo carrying a 6 kg backpack. The expensive transportation costs didn’t allow me to put my backpack in hotel first when exploring Tokyo. Because of course it costed a lot of money to just go back and forth to hotel just for  taking a backpack in hotel when you want to leave Tokyo. As a result, I had to carry my backpack wherever my feet went until I arrived in Osaka.

    My instincts were very quick to find the best seat, I was now in an area on west side of Terminal 2 building which was quite. Four chairs without armrests made the perfect treat for that evening. Not thinking long, I immediately acquired one of them, made my backpack as a pillow and I quickly fell asleep on it.

    Zzzzzz…..The remain, I didn’t know what was going on around.

    —-****—-

    Greekkk…..praakkk…..Buughhh…..Kraackkk.

    I gasped and suddenly woke up. Sitting with a headache, I saw clearly a group of tall and beautiful Chinese girls were already sitting in front of me. Two of them noticed me who was in a disheveled condition, then smiled. It was impossible for me to continue sleeping in front of them. Looked like they just landed and out of nowhere.

    The clock needle was still perched at number four. That means I’ve slept even four hours. I drank the remaining mineral water. And in an instant, that girls were busy with their respective devices.

    I immediately took out my toiletries pack and put my thick jacket into my backpack. I immediately went to the toilet. Entering the airport toilet in the morning was a strategy to enjoy clean toilets because usually the cleaning service just finished cleaning it and no one had used it yet.

    Sure enough, I was the first to enter the toilet that morning. Extraordinarily clean, regarding to the cleanliness of public facilities in Japan, no need to ask, they are the experts. That morning, for real, for the first time I used a toilet with a full of button control panel . I put my backpack on clean toilet floor and started my morning activities in it. I guessed, I was too long because of the preoccupation with trying to operate all kinds of button next to the toilet. I pressed no less than ten types of button, from the flushing/sound button to the warm seat button. Not hard, almost 40 minutes I mastered the toilet.

    Oh, Donny….All the way to Japan just to try the toilet….Damn

    Using free shuttle bus to Terminal 1.

    After brushing my teeth in front of the sink. I started to prepare myself to head to the city. I immediately looked for the whereabouts of train station. Following an instructions, I was directed to a free shuttle bus to transfer to Terminal 1, because train to downtown was there.

    I boarded to free shuttle bus. Traveling a distance of about 2 km and less than ten minutes I arrived at Terminal 1 at exactly six in the morning. I started hunting for train tickets.

    “Which train must I take to get the cheapest price to Shin-Imamiya Station, Ms?”, I asked to female clerk sitting at ticket sales desk.

    “JR Kansai Airport Rapid for 1,060 Yen, Sir”

    “Okay, I take that”

    Preparing to go to Osaka.

    Not long after, JR Kansai Airport Rapid Train arrived. I immediately entered one of its carriages which was dominantly silver with a blue color, then sat on one of its single seats. Less than five minutes, the train departed. That’s how Japanese trains awere, never late and always on time.

    15 minutes later…..

    Osaka Bay

    I was so surprised that its carriage passed through a giant iron bridge which straddled the sea. All my life, I just found out that Kansai International Airport (KIX) is located in the middle of the sea, 5 Km from the nearest mainland in Osaka city. Wasn’t this a wonderful experience?……

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Tetiba terbangun….

    Aku tetiba terbangun dari tidur, jam biologisku mengatakan bahwa sudah saatnya untuk melaksanakan Shalat Subuh. Masih mengucek mata, aku memperhatikan sekitar, mencari tengara yang bisa mengarahkanku menuju musholla.

    Aku mendapatkan tengara itu di dekat escalator, maka dengan sigap aku menujunya. Dengan mudah aku menemukan Prayer Room itu di lantai atas.

    Entah kenapa, Shalat Subuh itu berlangsung sangat khusyu’. Entah karena imamnya memang seorang Arab dengan lafal Al Qur’an yang bagus atau karena rasa bersyukurku kepada Sang Kuasa yang telah mengantarkan pada titik petualangan hinga sejauh ini.

    Usai shalat, tanpa membuang waktu, aku keluar dari Terminal 1 dan menuju halte bus yang berlokasi tepat di depan pintu masuk bangunan bandara. Halte itu sudah penuh dengan calon penumpang ketika aku tiba. Membuatku mengalah untuk berdiri sembari menunggu kedatangan bus. Kali ini aku menyasar bus bernomor 77.

    Mencari bus menuju pusat kota.
    Suasana pagi di depan bangunan bandara.

    Tak lama menunggu, bus itu pun datang. Tapi ada sesuatu yang mengganjal ketika aku hendak menaiki bus itu. “Apa iya, kota semodern Dubai akan menerima pembayaran cash di atas bus?”, aku bertanya kepada diriku sendiri.

    Untuk mengusir keraguan itu maka aku bertanya kepada seseorang di halte bus.

    “You must buy Nol Card at Dubai Metro station. Go to the top floor, Sir!”, dia menunjukkan jarinya ke lantai atas bangunan terminal bandara.

    Mengucapkan terimakasih atas petunjuknya, maka aku segera beranjak dari halte bus demi menuju Airport T1 Station di lantai atas.

    Menemukannya dengan mudah maka aku segera mengantri di loket Dubai Metro. Tak berselang lama, akhirnya aku mendapatkan Nol Card seharga 25 Dirham. Kini aku bersiap menuju ke pusat kota menggunakan kartu transportasi itu.

    Kembali ke halte, aku akhirnya mendapatkan kembali Dubai Bus Nomor 77. Aku memasuki melalui pintu tunggal di bagian tengah dan mentap Nol Card di fare machine. Aku melihat kartuku berkurang 3 Dirham dan tujuanku adalah Baniyas Square Station yang berlokasi di Distrik Deira.

    Sangkala sudah tergelincir jauh dari pukul enam pagi ketika bus yang kunaiki mulai merangsek melalui Airport Road, lalu berlanjut ke Al Maktoum Road untuk menuju tujuan akhir.

    Sepanjang perjalanan, suasana masih gelap, tak sedikit pertokoan yang masih menyalakan lampu, begitu pula dengan kendaraan-kendaraan yang melintasi jalanan kota masih menyorotkan lampu di sepanjang jalan.

    Perjalananku memasuki pusat kota Dubai boleh dibilang tak terlalu jauh, hanya berjarak tak lebih dari enam kilometer dan hanya membutuhkan waktu tempuh sekitar dua puluh menit.

    Berburu Nol Card.
    Interior Dubai Bus Nomor 77.
    Penampakan Mall Al Ghurair Centre (merah) dan  Al Masraf Building (menjulang di kejauhan) dari Al Rigga Road.
    Dubai Bus Nomor 77.
    Gerbang Baniyas Square Station.
    Salah satu sisi Baniyas Square.

    Lewat pukul tujuh pagi, akhirnya bus tiba di Baniyas Square. Baniyas Square sendiri adalah alun-alun utama di Distrik Deira yang merupakan salah satu pusat sejarah kota megapolitan Dubai.

    Aku harus segera menemukan penginapan yang sudah kupesan melalu e-commerce penginapan ternama secara daring.

    Tak pernah kusangka, di sinilah masalah besar akan datang menderaku……

    Kisah Selanjutnya—->