• <—-Kisah Sebelumnya

    Setidaknya aku bisa menepati waktu kepada diriku sendiri. Tepat dua jam lamanya aku menikmati area Umm Suqeim dengan pemandangan taman dan pantai terbaik.

    Tepat pukul empat sore aku sudah mengemasi kamera mirrorlessku ke dalam folding bag. Aku melangkah pergi meninggalkan Umm Suqeim Beach.

    Aku melangkah cepat menyusuri jalanan di sisi barat Umm Suqeim Park yang merupakan jalan tembus menuju jalanan utama. Dengan cepat aku tiba di perempatan yang terbentuk dari Jumeirah Beach Street dan Al Thanya Street. Menyeberangi perempatan itu, aku menyasar halte bus Umm Suqeim, Park 2. Itulah sisi yang tepat untuk mencegat Dubai Bus No. 8 untuk kembali lagi menuju area Al Fahidi di pinggiran Dubai Creek.

    Hanya perlu menunggu lima menit untuk menunggu bus itu tiba di halte tempatku menunggu. Dengan wajah sumringah aku menaiki bus itu.

    Aku akan tiba di bandara tepat waktu malam ini”, aku mengepalkan tangan di bangku belakang.

    Bus melaju perlahan meninggalkan area Umm Suqeim.

    Perjalanan sedikit melambat di perjalanan karena seorang ibu dengan anak kecilnya yang menaiki bus mendapatkan masalah karena Nol Card yang dimilikinya kehabisan saldo. Pengemudi bus berpeawakan Asia Selatan itu tampak cukup bersabar membantu ibu tersebut. Tetap dibawanya sang ibu lalu pada sebuah halte bus yang berukuran besar, sang pengemudi turun untuk membantu ibu tersebut men-top up saldo Nol Cardnya di RTA Bus Ticket Machine.

    Usai kejadian itu, bus pun berfokus menuju Al Ghubaiba Bus Station.

    Setelah menempuh perjalanan sejauh hampir dua puluh kilometer dan waktu tempuh hampir satu jam lamanya, akhirnya Dubai Bus No. 8 mulai merangsek mendekati area Al Fahidi yang arus lalu lintasnya semakin padat.

    Aku bersiap diri untuk turun di Al Ghubaiba Metro Station sebelum bus benar-benar tiba di depot terakhirnya, Al Ghubaiba Bus Station.

    Aku berhasil turun di Al Ghubaiba Metro Bus Stop yang berlokasi di sisi barat Al Falah Street, tepat berseberangan dengan Al Shindagha Museum.

    Sebelum menyeberangi jalanan, mataku cukup awas melihat keberadaan stasiun Dubai Metro di seberang timur jalan. Itulah Al Ghubaiba Metro Station yang menjadi tujuanku.

    Umm Suqeim, Park 2 Bus Stop.
    Dubai Bus No. 8 akhirnya tiba juga.
    Pemandangan taman bunga yang indah di sepanjang perjalanan.
    Al Ghubaiba Metro Bus Stop di tepian Al Falah Street.

    Kini perjalananku menuju penginapan akan berpindah moda menggunakan kereta.

    Aku bergegas memasuki stasiun dan menuju ke ruangan bawah tanah untuk menangkap keberangkatan Dubai Metro Green Line terdekat. Aku akan menuju tujuan akhir di Baniyas Square Station yang terletak di Distrik Deira.

    Tahapan perjalanan terakhir itu akan melalui terowongan bawah air milik Dubai Metro yang berada tepat di bawah aliran air Dubai Creek.

    Perjalanan menggunakan kereta ini menempuh jarak sejauh tiga kilometer dan waktu tempuh sekitar seperempat jam.

    Menjelang pukul setengah enam sore akhirnya aku tiba di Baniyas Square Station.

    Tiba di stasiun Dubai Metro.
    Area parkir sepeda di depan stasiun.
    Gerbang Al Ghubaiba Metro Station.
    Ruangan bagian dalam Al Ghubaiba Metro Station.

    Secara keseluruhan perjalanan, aku membayar tarif sebesar 12,5 Dirham. 5 Dirham untuk membayar tarif bus dari Umm Suqeim Park menuju Al Ghabaiba Metro Station, sedangkan 7,5 Dirham untuk membayar tarif Dubai Metro dari Al Ghubaiba Metro Station menuju Baniyas Square Station.

    Kini perjalananku menuju penginapan hanya berjarak tak lebih dari satu kilometer. Aku akan berjalan menujunya lalu mengambil backpack yang kutitipkan di resepsionis Zain East Hotel. Dan untuk kemudian aku akan bergegas menuju Dubai International Airport demi menuju ke Muscat.

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Waktu terus bergulir, kali ini sudah pukul tiga sore. Aku pun bergegas meninggalkan Umm Suqeim Park untuk memulai eksplorasi di kawasan pantainya, Umm Suqeim Beach tentunya.

    Melalui gerbang sisi utara, akhirnya aku berhasil keluar dari taman. Aku berdiri sejenak mengawasi pemandangan di depanku.

    Pemandangan pertama adalah keramaian pengunjung dalam berburu makanan di Wide Range Fish & Grill Restaurant. Outlet es krim yang berada tepat di depan restoran tentu menjadi idolanya.

    Pemandangan berikutya adalah banyaknya wisatawan yang berjemur di pantai.

    Umm Suqeim Beach memang sering disebut dengan julukan Sunset Beach karena pantai inilah tempat terpopuler untuk menikmati matahari tenggelam di pesisir pantai utara Dubai. Tak heran, sembari menunggu drama alam itu terjadi, para pengunjung banyak yang menjemur diri di sepanjang pantai. Tentu, pengelola pantai menyediakan banyak bilik untuk berganti baju atau bahkan mandi setelah sesiangan menikmati pantai.

    Selain sebagai tempat berjemur, Umm Suqeim Beach juga memiliki surfing zone untuk memfasilitasi para penggemar selancar yang sedang berkunjung ke Dubai. Tampak banyak papan peringatan untuk tidak berenang di sepanjang surfing zone tersebut.

    Untuk menunjang keselamatan di sepanjang pantai maka tersedia menara-menara pemantau yang ditempati oleh par lifeguard.

    Bagi wisatawan yang tidak ingin merasa capek untuk menyusuri Umm Suqeim Beach yang membentang hampir sepanjang satu kilometer, maka disediakan pula penyewaan sepeda serta tersedia jalur bersepada dengan dasar paving block yang tersusun rapi membentang di sepanjang pantai.

    Lalu bagaimana dengan pengunjung yang tak mau berpanas ria sepertiku?

    Untuk pengunjung yang hendak menikmati pantai tanpa tersengat matahari maka pengelola pantai menyediakan satu view point yang terlindung oleh atap dan berposisi sedikit lebih tinggi dari area sekitar.

    Kebersihan pantai adalah satu hal yang menarik perhatianku saat mengunjugi Umm Suqeim Beach. Tak ada satu pun sampah yang tercecer di sepanjang hamparan pasir putihnya. Tampak dengan jelas bahwa tempat sampah berukuran besar ditempatkan di sepanjang pantai dengan interval teratur.

    Pintu keluar sisi utara Umm Suqeim Beach yang menjadi akses menuju pantainya.
    Al Darmeet Street yang membentang di sepanjang Umm Suqeim Beach.
    Para wisatawan yang memilih berjemur.
    Itu dia kontainer yang berfungsi sebagai bilik ganti dan mandi.
    Sepedanya habis disewa.
    Viewpont berpelindung.
    Ujung barat pantai.

    Pemandangan terakhit yang bisa kulihat adalah kesibukan di ujung pantai sisi timur dan baratnya. Deretan crane raksasa menjadikan penanda bahwa pada sisi itu sedang dilakukan reklamasi besar-besaran untuk menciptakan area-area komersial dan hospitality baru di kawasan tersebut.

    Prediksi itu sudah jelas karena di sebelah barat Umm Suqeim Beach berdiri megah hotel bintang lima ternama yang untuk menginap di dalamnya saja harus mengeluarkan anggaran tak kurang dari dua puluh juta Rupiah per malamnya. Tak lain lagi, hotel itu adalah Burj Al Arab.

    Hotel lain yang tampak ikonik arsitektur bangunannya adalah Marsa Al Arab yang berdiri megah menyejajari Burj Al Arab di sisi timurnya.

    Beruntung aku bisa berinteraksi dengan beberapa wisatawan yang sedang mengunjungi pantai. Beberapa dari mereka meminta bantuanku untuk mengambilkan foto mereka dengan latar belakang Burj Al Arab. Tampaknya kebanyakan wisatawan yang datang ke pantai ini adalah mereka yang penasaran dengan penampakan Burj Al Arab dari jarak dekat. Termasuk dengan niatku tentunya, sama saja.

    Akhirnya sebelum kunjungan berakhir, akupun meminta bantuan kepada seorang wisatawan asal Jepang untuk mengabadikan diriku bersama Burj Al Arab.

    Disempurnakan dengan Burj Al Arab.

    Kisah Selanjutnya—->

  • A guest post from Khusboo Mehta

    Bali ranks high on the bucket list of most travel enthusiasts. It isn’t hard to understand why as these islands are captivating and picturesque. This makes Bali honeymoon packages highly sought after among travellers. Bali is most famous for its beaches. The waters here are warm and vibrant with their various shades of turquoise. The beaches have white sands which are almost silky in their appearance which adds to the allure. In addition to that one can also find many towering cliffs nearby which provide unbeatable panoramic views of the scenery. So, it’s a given that any tourist on a trip here has to go to the beaches. The question which arises then is which ones should a tourist choose, as it is easy to get confused with many options. So, keeping that in mind we have compiled a list of the most beautiful beaches in Bali:

    Image Credits: Unsplash
    1. Amed Beach
    2. Jimbaran bay
    3. Sanur Beach
    4. Seminyak Beach
    5. Legian Beach
    6. Nusa Dua Beach
    7. Suluban Beach
    8. Kuta Beach
    9. Kelingking beach
    10. Crystal beach

    1. Amed Beach:

    The best beaches in Bali can be found on the northeastern coast. An excellent example of one such beach is the black sand Amed beach. The biggest draw for tourists at this beach is the marine life and the reefs which line the ocean floor. As a result of this marine biodiversity, outdoor activities like snorkelling and diving are popular here. A worthwhile spectacle to watch out for while diving is the historical shipwreck. These all add up to create quite an alluring experience for couples while on their Bali honeymoon package. The divers out there can also visit Tulamben, which is another hot dive spot. With so much on offer, it is definitely one of the most beautiful beaches in Bali.

    2. Jimbaran bay:

    Two things stand out in particular when Jimbaran bay is spoken of – soft sands and a tranquil environment. So much so that it can be said that no trip is complete without visiting the coveted Jimbaran Bay. However, the biggest steal of the show here has to be the sunsets. There are plenty of luxury stays here and you will have no shortage of options when choosing accommodation here. If you do decide to stay here then do try the seafood as it is as fresh as it can possibly get. Lastly, book an exclusive romantic table at the Bawang Merah Beachfront Restaurant if you want to up the romance on your trip.

    3. Sanur Beach:

    The Sanur Beach can be thought of as a dialed-back version of any popular Miami beach. With lesser crowds, it sure makes for a peaceful experience. There are plenty of “ Warungs ” here which give you a sense of being at one with the culture here. The beach is clean and welcoming. The most popular outdoor activities to engage in here are – sailing and kitesurfing. Don’t forget to visit the Sindhu market while you are here to try the delicious Martabak.

    4. Seminyak Beach:

    Image Credits: Unsplash

    The Seminyak beach is touted as Bali’s “ most upscale and stylish beach resort area ”. It is true that this list of the most beautiful beaches in Bali would remain incomplete without including Seminyak. One can find numerous high-end restaurants and eclectic fashion boutiques here. Some of those upmarket and luxurious accommodations can be found here. Prime among them is the Oberoi Beach Resort which was one of the first of its kind in the region. The Seminyak beach is famous in particular for its surf. This makes it popular among the surfing community. However, if you aren’t as keen on venturing into the waters then you can always lie back and soak up some sunshine on its white sands. The Seminyak also offers spectacular sunrise and sunset views. So, do spend a day here and soak in the beauty of this gorgeous beach.

    5. Legian Beach:

    The Legian Beach is located in between its more crowded siblings – Seminyak and Kuta. It offers a much quieter and more relaxing experience to its visitors. There are plenty of watersports activities that one can engage in here like – bodyboarding, surfing, and so on. Again there are plenty of options for those who aren’t into outdoor sports. They can take their pick from picnicking, bike rides, kite-flying, and even making the seaside classic sandcastles. All in all, the Legian beach offers a very relaxing and laidback ambiance that most visitors will appreciate.

    6. Nusa Dua Beach:

    Image Credits: Unsplash

    Nusa Dua takes care of every eclectic craving you can possibly have on your trip. From spas to golf courses, Nusa has got it all. Nusa Dua is enclosed within a gated compound and boasts of the most pretty beaches in all of Bali. This upscale beach is serene and quiet. It also offers opulent accommodations and has 20 big resorts on the beach. One can walk endlessly on the beach’s pristine white sand and take a quick dip in the waters to cool off. Do head to one of the restaurants here for a scrumptious meal. Lastly, if you like to shop then do head to the “ Bali collection ”. Located at the far end of the beach, it has several upscale shops. With luxury and beauty available on-demand, it is one of the most beautiful beaches in Bali.

    7. Suluban Beach:

    Image Credits: Unsplash

    The Suluban beach is located in the southern region of Bali near Uluwatu. The journey to get here through a boardwalk and a cave in itself is picturesque. Once you are at the beach you will be greeted by waves that are optimal for surfing, along with tide pools and small caves. Do visit the restaurants and cafes situated set on top of the cliff for some spectacular sunset views. It is worth noting that the water here can get choppy at times, so it isn’t the best for swimming for children.

    8. Kuta Beach:

    Image Credits: Unsplash

    Kuta will bring to mind Miami beaches. Located close to the Ngurah Rai International Airport, this golden sand beach is always the hub for action. It has its origins as a humble fishing village but in present times it is so much more. Today, Kuta Beach serves as the location for many vibrant resorts. There are many choices when it comes to accommodations to choose from and at night one can groove to lively music. It is also like many other beaches in Bali – a hot surfing spot. Kuta Beach is so popular that most Bali travel packages feature accommodations near it. However, it is recommended that if you are looking for a quieter trip you should look for options further inland.

    9. Kelingking beach:

    Shots from Kelingking beach are postcard and advertisement worthy. Nestled between high limestone cliffs this secluded beach is surely brag-worthy. It is situated near the azure hued Manta Bay and Nusa Penida Island. It isn’t the easiest to reach in terms of access but the views which are mentioned earlier are well worth the effort. This beach isn’t particularly crowded so it is advisable to pack necessary supplies. It also serves as a good swim location for even novice swimmers.

    10. Crystal beach:

    Located near the west coast of the Nusa Penida island, this beach is technically not in Bali. However, that doesn’t make it not worth paying attention to but rather the opposite. The Crystal Bay features translucent blue-green waters which make for a great visit any day. It has a healthy and thriving coral reef lining its shores which makes it a diving hotspot. However, it is recommended that you make a note of the strong current that are present here sometimes. It may come off as undeveloped to visitor’s eyes but the small establishments here cater to almost every need one can have.

    We hope our list of the most beautiful beaches in Bali helps you plan an enjoyable journey. And if not, we suggest you check out Pickyourtrail. We offer you the best deals and offers on travel packages. You can customise your itinerary to your liking. Our travel agents assist you at every step of your journey so that you have a hassle-free journey. We wish you happy travels.

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Waktu telah menunjukkan pukul dua siang ketika aku melangkah melewati sisi barat Stasiun Pengisian Bahan Bakar Emarat. Emarat sendiri adalah perusahaan minyak milik pemerintah Uni Emirat Arab. Tepat di ujung sisi barat SPBU itu terdapat gerbang untuk memasuki Umm Suqeim Park.

    Perutku berbunyi tepat ketika aku melangkah memasuki taman. “Saatnya makan siang”, aku membatin.

    Oleh karenanya, aku memutuskan untuk langsung menuju ke toilet demi mencuci tangan. Toilet itu mudah ditemukan di sisi timur. Memasuki toilet aku sungguh takjub karena toilet itu berpenampakan layaknya toilet bandara….Modern, bersih dan wangi.

    Selepas itu, aku segera menuju ke tengah taman, mencari tempat yang nyaman dan teduh untuk duduk, mengeluarkan foldable lunch box yang berisi beberapa kerat roti tawar, lalu aku mulai menyantapnya sebagai menu makan siang. Cara bersantap demikian masih saja menjadi caraku untuk menghemat anggaran selama mengeksplorasi kota-kota besar di kawasan Timur Tengah.

    Hanya perlu waktu lima belas menit untuk menghabiskan beberapa kerat roti tawar tersebut. Aku pun segera beranjak dari tempat duduk yang berposisi tepat di bawah pohon rindang dan mulau menelusuri taman.

    Karena terletak tepat di pinggiran Umm Suqeim Beach maka sudah pasti bahwa dasar dari taman ini adalah pasir. Pasir putih itu membentang menjadi alas utama yang membuat taman tepi pantai itu terlihat sangat unik dan istimewa.

    Sedangkan bunga warna-warni yang tumbuh di segenap penjuru taman menjadikan taman itu terlihat sangat asri dan menyenangkan. Bunga-bunga itu dirawat dengan menggunakan metode drip irrigation. Dengan metode ini, air kan dialirkan melalui selang di atas atau dibawah tanah dan dijatuhkan tepat di akar tanaman dengan cara menetes sehingga akan menghemat sumberdaya air di sekitar lokasi taman.

    Untuk pepohonan, tentu pohon palem masih menjadi pohon yang paling dominan ditanam karena memang palem adalah salah satu tumbuhan khas Jazirah Arab.

    Kuperhatikan dengan seksama bahwa selain tempat duduk di area terbuka, Umm Suqeim Park juga menyediakan bangku-bangku dengan berpelindung umbrella shade ataupun naungan yang tebuat dari kayu dengan atap polycarbonate bening dan tebal.

    Lalu fasilitas apa yang terinstall di Umm Suqeim Park?

    Terlihat jelas bahwa taman seluas sekitar tiga hektar ini juga dilengkapi dengan jogging track beraspal. Bahkan di sepanjang jogging track tersebut dilengkapi dengan deretan tiang lampu. Tentu hal itu memberikan jaminan kepada masyarakat lokal dan wisatawan bahwa Umm Suqeim Park bisa digunakan untuk beolahraga di malam hari.

    Sedangkan children’s play area juga disediakan dengan perlengkapan bermain seperti ayunan, see-saws and monkey bar yang membuat anak-anak bisa ikut beraktivitas ketika sebuah keluarga berkunjung.

    Umm Suqeim Park juga menyediakan area parkir bagi mereka yang hendak bermain ke taman bersama keluarga dengan cara berkendara.

    Sementara bagi pengunjung yang hendak menikmati taman dengan cara bersantai sembari menyeruput kopi maka pengelola Umm Suqeim Park juga menyediakan beberapa cafe dan restoran.

    Misalnya saja di pintu taman sisi utara terdapat outlet Wide Range, sebuah fish and grill restaurant. Tak hanya itu, tepat di tengah taman pun terdapat cafe dan restoran untuk bersantai, outlet kuliner itu bernama Hot Fish.

    Mulai memasuki taman.
    Toilet di dalam taman.
    Dominan beralaskan pasir putih.
    Bunga yang hidup dengan metode drip irrigation. Terlihat jogging track yang cukup lebar di sebelahnya.
    Tempat duduk beratapkan pelindung.
    children’s play area.
    Wide Range Fish and Grill Restaurant

    Pemandangan lain yang kudapatkan selama berkunjung di taman tersebut adalah masifnya promosi Dubai Dolphinarium yang dilakukan di beberapa bagian taman, baik menggunakan standing banner maupun flyer yang disediakan dibeberapa titik masuk.

    Dubai Dolphinarium sendiri adalah destinasi wisata indoor dengan pertunjukan lumba-lumba dan anjing laut di dalamnya.  Wisata tersebut terletak di sebuah kawasan yang bernama Umm Hurair 2,  tepat di sisi barat Dubai Creek.

    Berkeliling taman selama hampir satu jam, selalu saja mudah menemukan pemandangan nan memukau. Pemandangan itu tak lain karena Umm Suqeim Park memiliki latar berupa arsitektur ikonik Burj Al Arab. Tak pelak Umm Suqeim Park telah menjadi salah satu taman terbaik di Dubai.

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Previous Story

    After returning from Banpo Bridge in Seocho District, I immediately rushed to bed to prepare myself for tomorrow’s adventure. Tomorrow was my last chance to enjoy Seoul because the day after tomorrow I had to leave to my homeland.

    Huhuhu….Sad

    —-****—-

    The morning sun shone through the window in the sloping wall of hotel’s room. The hour hand had passed eight number. After morning prayer, I slipped back under blanket, refusing cold morning air which was able to penetrate window pane.

    Realizing that I overslept, I jumped out of the bunk bed, grabbed a toiletries bag and an orange microfiber towel, then wet my body with a warm shower of Kimchee Guesthouse Sinchon. The other occupants were still asleep, continuing their respective dreams, faint light snoring could be heard from the inn corridor. Lucky me, that was an opportunity to linger in the shared bathroom.

    Actually, my habit of lingering in the bathroom when traveling always has an excuse. That consistent warm showers hit my calf muscles is the most effective fatigue-relieving therapy. No need to look for the services of a masseuse to make the body fresh again.

    After showering and fully dressed in winter equipments, I went down to the first floor and chose to sit for a while in the shared-lobby. Joined by some diligent tourists, they were the first to get up and ate their breakfast which they had prepared in the inn’s refrigerator. Several beautiful tourists from “Land of Red Bears” and a group of travelers from “Matador Country” looked solemn with their own homemade breakfast.

    I? ….Yup, I was just a little busy opening the map and trying to make a visitation pattern that day. As soon as they finished their breakfast and started to leave the shared-lobby, I also left the inn. I didn’t know where they were going, but I had determined myself to go to the “Tower of Love”, especially if not Namsan Tower, a television transmitter tower as high as 237 meters and 52 years old.

    Before entering Hongik University Station, I carried out my morning ritual, which was breakfast with the same menu formula, cup noodles and packaged white rice, bored but had no choice.

    Can you afford to eat like this for four days?….Hahaha.

    Repeating the habit of fighting boredom, I shouted “Kamsahamnida” to the cashier before exiting 7-Eleven. Usually I always waited for the cashier to wave before exiting convenience store’s door. Getting the wave I meant, I finally got out of the convenience store and fast stepped towards Seoul Metro Line 2 platform.

    A few seconds after Seoul Metro stopped at the platform, I jumped in. The quiet morning atmosphere made the Seoul Metro line of carriages looked deserted. The iron snake began to exploring the underground passages. Station after station I quickly passed until finally I got off at Euljiro sam (3)-ga Station to change to Seoul Metro Line 3. Now my last destination was Chungmuro ​​Station.

    It took almost thirty minutes to arrive at Chungmuro ​​Station. At the final destination, I exited the gate, then rushed to find a bus stop which would be passed by bus number two to get to Namsan Tower.

    Not even five minutes of waiting, the bus arrived. I took a seat in the middle and in an instant dissolved following the groans of bus engines as I climbed the road about two kilometers from Chungmuro ​​Station.

    Slowly but surely, the bus arrived at Namsan Tower courtyard. The bus stops at a long bus stop to share with other numbered buses.

    The distance between Namsan Tower and bus stop, which was around 600 meters, must be taken with a swing of my steps. Finally I had to be willing to pant for the rest of path to Namsan Tower. In the middle of my step, I didn’t have time to feel the gasping because I often stopped and was fascinated by the scenery below which showed the beauty of Seoul from the height of Mount Namsan. I could imagine if the night comes….How beautiful.

    In front of Namsan Tower or N Seoul Tower as its official name.

    Climbing Namsan Tower is indeed synonymous with lovebirds’ love. At the top of tower, lovers will buy a padlock, then naming the padlock with their names, which are then marked with a red heart. Then the couple will lock the padlock on a long display case which displays various love locks from several periods of time.

    Well….What should I write when I buy a padlock?

    Ups….Who’s in love?

    Namsan Tower in addition to presenting an aerial landscape of Seoul, also offers several well-known restaurants which might be cheap for those who are intoxicated with romance, for me it makes no difference, restaurants are still expensive items.

    Visiting Namsan Tower does feel bland if you do it alone. That’s the reason why I didn’t linger on top. I decided to get off and chose to sip coffee made by G-25 minimarket across from bus stop.

    Entering the mini market, brewing a cup of hot coffee, then sipping it slowly. But I continued to be filled with curiosity with every sip. I continued to observe the passing of buses with different numbers, not just the number 2 bus like the one I was riding earlier.

    “Is it possible if I can find a bus which can directly go to Namdaemun Market from here without having to return to Chungmuro ​​Station”, I critically thought with curiosity.

    I decided to take a sip of black coffee while walking towards the long bus stop opposite the mini market. I was so solemn ‘combing one by one the route boards attached to the bus stop.

    “Yes…I get it”, I cheerfully exclaimed when I found bus number 402 which could directly take me to Namdaemun Market from Namsan Tower.

    So I just had to wait for the bus while I finish my coffee………

    Next Story—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Berbincang hangat dengan Sanu, seorang pekerja muda asal Kerala, membuat waktu tak terasa telah terlewati selama beberapa saat. Perjuangan seorang Sanu yang terlahir dari seorang keluarga sederhana di kotanya mampu membuatku berempati atas semua kerja kerasnya mengadu nasib di kota megapolitan Dubai.

    Aku yang khusyu’ mnendengarkan semua ceritanya tiba-tiba melempar pandangan ke arah sebelah. Bus berwarna merah dengan kelir putih itu mendecit singkat, berhenti tepat di sebelah kiriku, meninggalkan hempasan angin yang segar menerpa wajah. Selanjutnya bus itu berhenti dengan mesin yang masih berbunyi langsam.

    Umm Suqeim, Sir”, aku sekali lagi memastikan tujuan ketika pengemudi turun dari pintu depan,

    Yes, Umm Suqeim”, jawab pengemudi asal Bangladesh itu. Aku faham kebangsaan pengemudi itu karena dengan jelas melihat emblem bendera Bangladesh di tas pinggang yang dia kenakan.

    Aku dan Sanu pun bergegas memasuki bus. Men-tap Nol Card yang kami miliki, lalu duduk di bangku sedikit di belakang dan untuk beberapa menit kemudian, kami menunggu bus kembali berangkat di rutenya.

    Perjalanan sepanjang hampir dua puluh kilometer ini harus ditebus dengan tarif sebesar 5 Dirham. Aku mengetahuinya ketika men-tap Nol Card di automatic fare collection machine yang terletak di salah satu tiang bus.

    Menjelang pukul satu siang, bus mulai merangsek keluar dari Al Ghubaiba Bus Station, melintasi Al Khaleej Street, melalui kawasan Al Rifa yang menampilkan perpaduan kawasan pemukiman elit, pusat perbelanjaan dan beberapa brand hotel ternama. Sedangkan di sisi barat perjalanan adalah penampang melebar Mina’ Rashid. Pelabuhan itu dinamakan demikian untuk menghormati mendiang Sheikh Rashid bin Saeed Al Maktoum yang merupakan Emir dari Emirat Dubai.

    Perjalanan berlanjut di kawasan Al Mina, sebuah kawasan yang lebih didominasi oleh deretan apartemen mewah dan hotel-hotel mewah semacam Crowne Plaza, Hyat dan Hilton. Bus yang kunaiki terus melaju di jalanan lebar Al Mina Street.

    Interior Dubai Bus No. 8
    Al Mina Street.
    Turun di halte bus Umm Suqeim, Park 1.
    SPBU Emarat, perusahaan minyak milik pemerintah UEA.
    Dubai Bus No. 8 melanjutkan perjalanan setelah menurunkanku di tujuan.

    Lepas melintasi kawasan Al Mina maka untuk selanjutnya perjalanan selama hampir satu jam itu, sebagian porsinya dihabiskan di sepanjang Jumeirah Beach Road yang merupakan ruas jalan utama di sepanjang pantai utara Dubai. Jalanan selebar hampir tiga puluh meter itu memiliki tiga ruas di setiap arahnya. Sedangkan deretan pohon palem tampak berjajar rapi membatasi kedua arahnya.

    Aku yang gelisah dengan terus memandangi penunjuk waktu di gawai pintar selalu berharap eksplorasi di destinasi terakhir itu tidak ada kendala apapun yang menghadang. Adanya sedikit saja kendala akan memperkecil peluangku dalam mengejar keberangkata Swiss Air LX 242 menuju Muscat pada malam harinya.

    Menjelang pukul dua siang, bus pun tiba di destinasi yang kutuju. Aku diturunkan di halte bus Umm Suqeim, Park 1.

    Aku bersiap melakukan eksplorasi terakhir di Dubai.

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Tepat tengah hari aku terduduk di pelataran utara Al Fahidi Fort. Aku duduk tepat di depan Dhow Boat –perahu tradisional khas Timur Tengah– yang menjadi property milik Dubai Museum. Sementara sang surya menyelinap malu di balik gumpalan awan yang melindungi kota dari sinar teriknya.

    Para pengunjung masih berlalu lalang di hadapan demi menikmati nostalgia masa lalu Dubai di seantero museum. Sementara aku sedang berpikir keras, mencoba mempertaruhkan waktu antara menyudahi petualangan atau menambah lagi satu area destinasi.

    Destinasi itu berjarak hampir dua puluh kilometer di arah selatan, tepat di pesisir pantai Jumeirah. Daerah itu bernama Umm Suqeim, area pantai dimana bangunan hotel ternama Burj Al Arab berada. Letaknya di sebelah utara pulau reklamasi elit Palm Jumeirah yang kukunjungi sehari sebelumnya.

    Aku berpikir keras karena siang itu aku mulai memiliki faktor pembatas, yaitu penerbangan menuju Muscat pada malam harinya.

    Kuperkirakan membutuhkan waktu tak kurang dari tiga setengah jam untuk perjalanan pulang pergi hingga tiba di penginapan kembali. Tentu aku harus kembali ke penginapan untuk mengambil backpack yang kutitipkan di Zain East Hotel semenjak check-out pagi hari sebelumnya.

    Sementara itu, paling tidak membutuhkan waktu sekitar dua jam untuk mengeksplorasi kawasan Umm Suqeim. Jadi paling tidak aku akan sampai kembali di penginapan pada pukul enam sore. Penerbanganku ke Muscat sendiri akan dimulai pada pukul sembilan malam.

    “Tidak usah ragu, Donny….Masih cukup waktu untuk melakukan eksplorasi tambahan…Cepat….Cepat….Cepat”, aku meyakinkan diriku sendiri untuk membuang rasa ragu

    Aku pun segera menetapkan rute dan titik tolak untuk berangkat. Aku yang tak memiliki kuota internet lagi, segera memahami peta secara manual. Beruntung sebuah aplikasi berbasis peta memecahkan permasalahan itu, aku diarahkan oleh aplikasi itu untuk menggunakan jasa Dubai Bus No. 8 yang berangkat dari Al Ghubaiba Bus Station.

    Kuperhatikan dengan cemat di dalam peta digital bahwa terminal bus itu berada sekitar satu setengah kilometer di barat tempatku berdiri, Dubai Museum.

    Aku segera mengayunkan langkah cepat menujunya. Aku tiba dalam dua puluh menit, dengan nafas tersengal aku memasuki terminal itu dari sisi 16th Street di sisi barat terminal.

    Begitu memasuki area terminal aku terdiam sejenak. Memperhatikan segenap penjuru terminal. Aku menyunggingkan senyum oleh karena perwujudan terminal yang diluar dugaanku sendiri. Al Ghubaiba Bus Station hanyalah sebuah tanah lapang beraspal yang disekat sekat dengan concrete barrier. Hanya ada beberapa platform yang diberikan atap, sisanya adalah tanah lapang dengan tiang-tiang penanda rute.

    Dari sekian luas terminal, tentu akan membutuhkan banyak waktu jika aku harus menyisirnya satu per satu demi menemukan platform dimana Dubai Bus No. 8 akan berangkat. Untuk menyingkat waktu itu, aku bertanya ke seorang petugas terminal yang tampak mengatur lalu lintas di dalamnya.

    “Over there…In west side near McDonald’s outlet, Sir”, petugas itu menjelaskan sembari menunjukkan tangannya jelas ke satu titik.

    Hanya sedikit bagian dar terminal yang berkanopi.
    Mari lihat lebih dekat!
    Penampakan sebagian besar terminal. Area terbuka yang luas.
    Platform Dubai Bus No.8 dengan tujuan akhir Ibn Battuta Metro Station.

    Dengan petunjuk itu, aku pun menemukan platform dengan mudah. Dan ketika berdiri di depan platform, naluri blogger mendorongku untuk segera mengambil beberapa foto yang kuanggap perlu.

    Wait….Wait….Wait. Don’t take picture with me in it”, tegur seorang pria India yang duduk di bangku platform. Dia mendekatiku dan memintaku memperlihatkan foto yang baru saja kuambil. Aku pun mengabulkannya.

    Yes…this….you must delete this photo”, dia menunjuk ke layar kamera mirrorlessku.

    Okay, Sir…No Matter, I deletes it now”, aku menenangkannya.

    Usai kejadian itu, aku pun duduk bersebelahan dengannya dan kami berdua malah bercakap akrab sembari menunggu kedatangan bus.

    Sebut saja namanya Sanu yang merantau dari tempat kelahirannya di India demi mengadu nasib di kota megapolitan Dubai.

    Percakapan hangat itu terasa begitu cepat dan segera terhenti karena Dubai Bus No. 8 telah tiba di platform.

    Saatnya menuju Umm Suqeim….

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Previous Story

    The majestic Banpo Bridge straddles Han River.

    Luckily I didn’t sink into a deep nap in Kimchee Guesthouse Sinchon. A little past five in the afternoon I woke up. Immediately unpacking contents of my backpack, I looked for a toiletries bag and microfiber towel for my first bathing needs since 35 hours ago.

    I purposely splashed myself with warm water for a long time even though I knew there was an innkeeper who knocked on the door several times as a sign asking me to hurry up and finishing my bathing soon.

    After washing my socks, I got out of bathroom and smiled at a female guest from China who had been waiting all that time. Of course my warm smile was reciprocated by frown lips from her. “I’m sorry. Ms, It’s been a long time since I’ve taken a bath, I’m so sorry …..” .

    After changing clothes and wearing all winter equipments, I prepared to visit Seoul again until night.

    I still remembered words from my office mates who asked me to visit a bridge which was often used as a setting in famous Korean dramas. Even though I heeded them when I left, for some reason, that afternoon I had a strong desire to visit it too. My friends said, when night fallen, Banpo Bridge often had rainbow fountains, a mix of fountains and light show in both sides of bridge. “Okay, there’s nothing wrong with me to going there even though I’m not a fan of Korean dramas”, I finally decided on a goal.

    From Hongik University Station, I would now head to Seoul Express Bus Terminal Station, where I first set my steps in Seoul. The feeling of fullness from a piece of Kimbab which I ate at Hongik University Station that afternoon was gone. Now my stomach was starting to loudly sound as celebrating my hunger. But due to concerned about being stuck by night at Banpo Bridge for that night, I decided to put off my desire for dinner.

    I immediately walked to Hongik University Station, picked up the arrival of Seoul Metro Line 2 and headed to destination I was aiming for. I really understood Seoul Metro line because I had been staring at the map since that morning, making me aware that I had to transit in Euljiro 3 (sam)-ga Station first and had to change rode in Seoul Metro Line 3.

    It took approximately half an hour to reaching Seoul Express Bus Terminal Station. Exiting gate 8-1 in the station, I walked to Banpo Hangang Park, the best side to enjoy beautiful Banpo Bridge.

    It took 20 minutes to get to the park in the banks of Han River. Entering the park, which was getting dark with minimal lighting, was actually a little daunting. Luckily there was a group of Korean families who entered the park and headed for the same place. By pretending to show composure I stalked them from behind….Hahaha, you coward, Donny.

    That family group who were busy walking while preparing some cameras made me believe that they were going to Banpo Bridge view point. It was true, that local family and I finally arrived at river bank together.

    Yeaaa….. arrived too.

    The appearance of Banpo Bridge with sparkling lights did look beautiful as it straddled Han River. I was very enthusiastic about sitting on the bank of river waiting for the moment when rainbow fountain show started. Second by second, minute by minute, even though I had volunteered to be rolled up in the cold city temperature, the show never came.

    As a result, with the end that local family visitation because of same disappointment, I was forced to resign from that place. “Yes, It will bad when I have to be alone in the bank of a river that is quiet and dark like this…”, I growled while holding back hunger which had been really messing with my concentration.

    Walking away from the beauty of Banpo Bridge, I was really lucky to see the existence of a small 7-Eleven outlet in other side of park. The light from inside indicated that that outlet was still open. Then without thinking long, I hastened my steps closer to it. “This will be delicious, if I eat cup noodles with rice …”, my enthusiasm came while remembering the simple way of eating that I always practiced during my visitation to South Korea.

    I shouted with joy that I got it. The excitement grew even more because 7-Eleven outlet provided a tent in outside to eat food which be purchased from that outlet. Uniquely, the tent was warmed by a fan whose its blades were made from heating filaments.

    Wow….

    Next Story—->

  • <—-Previous Story

    Forgot to take a photo while staying…. Hihihi.

    I was still standing motionless in north of square to enjoying the majesty of Gwanghwamun Gate , the six-century gate belonging to Gyeongbok Palace. Gwanghwamun Square with its andesite rock floor and a mix of green garden grass seemed to be starting to fill up with the flow of tourists visiting.

    Apart from the statue of Admiral Yi Sunshin, the golden statue of King Sejong, the Great-the fourth king of Joseon Dynasty was an important destination for travelers. They were too fascinated by that statues when I preferred to pay attention to the bustle of United States Embassy in the edge of Sejong-daero Avenue next to National Museum of Korean Contemporary History.

    It didn’t feel like time had passed since midday, the rest of sleepiness after spending the night in Seoul Express Bus Terminal made me unable to hide the sleepiness in my eyelids. My body which hadn’t been soaked in water since 30 hours ago also made me not feel comfortable.

    “It’s better to just go back to the inn”, so excited, my mind aborted my enthusiasm to continue exploration. “Damn….I give up this time”, I was groaning in annoyance, I entered the gates of Gwanghwamun Station.

    “Goodbye Jongno District”, I quietly thought as I jumped into Seoul Metro Line 5 carriage. Without noticing commotion inside the carriage, I immediately headed to an empty seat near carriage’s connection. Without further ado, I immediately closed my eyes because of sleepiness.

    Now, I was heading to Hongik University Station with one stop at Chungjeongno Station because to get to Kimchee Guesthouse Sinchon in Seodaemun District I had to take Seoul Metro Line 2.

    24 minutes later I arrived at my destination. Before actually leaving Hongik University Station, I took time to go to T-Money card vending machine at the corner of corridor to refill my T-Money which was almost out of balance. That time I filled my Seoul city travel card with 10,000 Won, more than enough for the end of my adventure in Seoul.

    My back and forth at Hongik University Station ended up at a G-25 minimarket for a simple lunch. I managed to get a piece of packaged Kimbab for just 1,300 Won. Enough or not, that was the only lunch that I had to accept.

    After eating it in convenience store table, I immediately climbed the escalator which rose to surface, passed Sinchon-ro 2-gil alley, crossed Sinchon-ro Avenue, then rushed to the inn.

    “Hooohh….You, Donny. Welcome, your room is ready”, said the same receptionist who greeted me this morning.

    “Hi, Sir….Thank you. I think I should go to bed soon….Hahaha”, I lihgtly answered while clutching my blue backpack which I had put in the corner of front room since this morning.

    “Oh yeah, you look tired”

    “Yes, I spent my last night at Seoul Express Bus Terminal”, I agreed.

    After receptionist scanned my passport which I gave to him, the room key was given. Not waiting long, I immediately went upstairs, entered the room, took off my winter jacket and shoes, then immediately jumped into bunk bed to daub myself until afternoon.

    Next Story—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Membelakangi Bur Dubai Al Kabeer Masjid, aku menatap kuat bangunan mirip benteng di hadapan. Aku berdiri tepat di sisi utaranya dan tampak area parkir sisi utara itu dipenuhi oleh kendaraan. Sebuah pertanda bahwa bangunan benteng itu sedang ramai dikunjungi para wisatawan.

    Kuperhaikan jelas bahwa keramaian itu terletak di sisi barat benteng, tampak bendera Uni Emirat Arab berkibar megah berdampingan dengan bendera Dubai Culture & Arts Authority di sisi itu.

    “Itu pastilah pintu masuk menuju benteng”, aku mengambil kesimpulan cepat.

    Kuputuskan untuk berjalan melingkar memotong arus Ali bin Abi Taleb Street dan aku berhasil mencapai sisi barat benteng dengan cepat. Benteng itu terletak berseberangan dengan gedung Kementrian Keuangan Uni Emirat Arab.

    Dubai Museum”, aku membaca papan nama itu.

    Memasuki area depan maka pemandangan tiga buah meriam kuno menyambutku. Hanya perlu membayar uang masuk sebesar 3 Dirham untuk bisa menikmati sisi dalam Dubai Museum.

    Inilah bekas benteng abad ke-18 yang kini bertransformasi menjadi museum pameran multimedia tentang sejarah & warisan budaya lokal. Al Fahidi Fort adalah nama asli benteng tersebut.

    Di dalamnya tertampil sejarah Dubai sebelum minyak bumi ditemukan di Uni Emirat Arab. Disebutkan pada masa itu, mayoritas warga lokal masih memperjuangkan ekonominya dengan menyelam untuk berburu mutiara dan mencari ikan.

    Perahu-perahu masa lalu yang berusia lebih dari seabad dan digunakan untuk berburu hasil laut pun ditampilkan di museum ini.

    Tak tanggung-tanggung, pemerintah Uni Emirat Arab menyediakan lahan seluas lebih dari satu hektar untuk menempatkan Dubai Museum di kawawan Al Fahidi Historical District tersebut.

    Sisi utara Al Fahidi Fort.
    Yuk masuk….
    Ini dia bagian depannya.
    Dinamakan juga sebagai Dubai Museum.
    Dubai Museum sisi selatan.

    Dari papan informasi di pintu museum, aku mengetahui informasi mengenai waktu berkunjung di Dubai Museum, yaitu hari Sabtu hingga hari Kamis (pukul 08:30 sd 20:30), hari Jum’at (pukul 14:30 sd 20:30) dan Hari Libur Nasional (pukul 08:30 sd 20:30).

    Larangan umum seperti menyentuh benda bersejarah di dalam museum, makan dan minum di dalam museum, merokok, membuang sampah sembarangan, anak-anak harus ditemani orang dewasa dan pengawasan oleh CCTV sudah pasti ada pada papan informasi

    Namun dua hal yang membuatku antusias yaitu larangan membawa tas berbobot berat ke dalam museum, jika pengunjung membawa tas jenis itu maka dia harus menaruhnya di pos keamanan. Satu lagi yang membuatku hatiku riang adalah tersedianya pemandu wisata gratis untuk pengunjung.

    Pemandu wisata gratis inilah yang kumanfaatkan sebaik mungkin untuk menjelajah seisi museum dengan banyak informasi yang kuterima.

    Pemandu wisata itu menjelaskan dengan gamblang bahwa tembok kota adalah wujud arsitektur yang menonjol dari konteks perkotaan pada kota-kota tua. Tembok tersebut mengelilingi kota untuk bertahan dan menyelamatkan mereka dari serangan musuh. Sepanjang sejarah, terdapat banyak contoh dinding kota yang memainkan peranan penting dalam melindungi kota, sebut saja Kota Kairo, Damaskus dan Baghdad.

    Di masa lalu, Kota Dubai sendiri memiliki dua tembok kota. Tembok kota tertua dibangun di kawasan Bur Dubai yang dibangun pada tahun 1.800. Tembok itu mengelilingi kota tua yang didalamnya termasuk Al-Faheidi Fort, Masjid Agung Bur Dubai, dan perumahan warga. Sedangkan tembok kota kedua dibangun di Distrik Deira yang dibangun pada pertengahan Abad ke-19.

    Tembok kota Bur Dubai dibangun menggunakan batu koral dan gypsum. Ketebalannya mencapai 50 cm, dengan panjang tak kurang dari 600 meter dan ketinggian mencapai 2,5 meter. Sayangnya di permulaan Abad ke-20, tembok kota itu dihancurkan untuk mengakomodasi pemekaran kota.

    Satu-satunya bukti tersisa dari tembok kota tersebut tentunya adalah pondasinya yang kemudian direstorasi pada tahun 2001 oleh Bagian Bangunan Bersejarah Pemerintah Kota Dubai.

    Hmhhh….Menarik ya.

    Jadi inget tembok kota Batavia yang ditemukan pula pondasinya…..

    Kisah Selanjutnya—->