Berburu Souvenir di Metro Point, Manila

Aku masih menikmati nostalgia dengan menikmati seporsi Busog Meal Tuna Omelette di salah satu gerai 7-Eleven di sisi Epifanio de los Santos Avenue, nasi kemasan yang menjadi makanan sehari-hariku saat menjelah Manila empat tahun silam. Murah, hanya Rp. 9.000 sudah bisa menikmati makan siang di tengah hiruk pikuk Manila.

Sewaktu kemudian, aku mulai menaiki jembatan penyeberangan terdekat. Arus manusia begitu cepat melewati jembatan penyeberangan itu, sebagian besarnya tak luput memperhatikanku yang lebih memilih diam di pertengahan jembatan dan memandangi kemacetan dari salah satu pagarnya.

Siang itu aku membatalkan diri mengunjungi Manila Baywalk, aku tak berani mengambil resiko terjebak kemacetan dan tertinggal pesawat untuk kembali ke Jakarta. Sejam ke depan aku hanya akan berkutat di sekitaran Stasiun LTR EDSA saja dan segera kembali ke NAIA.

Perjalanan empat tahun lalu tak berbuah souvenir, kala itu Manila menjadi pijakan pertama sebelum menuju ke Hong Kong, Macau dan Shenzen. Dimana-mana, orang akan mencari souvenir di bagian akhir. Kali ini Manila adalah bagian akhir dari petualangan, maka kuputuskan untuk mencarinya.

Busog Meal Tuna Omelette kesayangan.
Jembatan penyeberangan menuju Stasiun LRT EDSA.
Menikmati kemacetan di Manila.
Penampakan Metro Point dari jembatan penyeberangan.

Kini pandanganku tertuju pada sebuah pusat perbelanjaan yang tepat bersebelahan dan terkoneksi langsung dengan Stasiun LRT EDSA. Aku sedikit berhenti mengamati stasiun itu, teringat ketika aku di geledah sebelum memasuki stasiun itu empat tahun silam karena aku terlalu asyik memotret setiap sisinya sehingga menimbulkan kecurigaan para security . Manila memang sedikit ketat dalam hal keamanan di setiap akses penting publiknya.

Aku hanya melewati gerbang stasiun itu dan beringsut masuk menuju melalui connector ke arah Metro Point. Pusat perbelanjaan yang tak cukup besar, tak lebih bagus dari Grha Cijantung. Yang kuingat hanya terdiri dari lima lantai. Di lantai kedua tersedia deretan toko yang lebih rapi daripada konter-konter yang berada di lantai bawah. Lantai bawah adalah lantai yang paling memungkinkan bagiku untuk mencari souvenir. Aku tak bisa mengeksplorasi lantai teratas, karena tampak terdapat gerai besar yang dijaga oleh security. Mungkin lantai ketiga digunakan untuk bisnis yang lebih privat dan menyasar kalangan tertentu.

Praktis aku hanya berkeliling di lantai bawah dan mencari beberapa souvenir, fridge magnet dan gantungan kunci yang akan kubagikan untuk teman-temanku di Jakarta.

Suasana pertokan di Metro Point.
Time Zone.
Bagian ujung lantai tampak sepi.

Tak membutuhkan waktu lama untuk menghabiskan setiap sisi lantai dasar. Perdagangan di lantai dasar ini lebih mirip dengan aktivitas yang sama di Pasar Baru, Jakarta. Berisik dan padat. Setelah menemukan beberapa souvenir yang kucari akhirnya kuputuskan untuk keluar dari pusat perbelanjaan itu dan bersiap untuk menuju NAIA kembali dan terbang ke Jakarta.

Crowdednya kios di lantai dasar.
Lantai dasar.

Kufikir waktuku di Manila kali ini telah menjadi transit nostalgia walau hanya berlangsung selama tiga  jam saja di tengah kesibukan kota itu.

Transportasi Umum dari NAIA ke Pusat Kota Manila

Seperti pada kunjungan pertamaku di Manila pada 2016 silam, kali ini kunjungan transitku akan menuju tempat pertama yang sama, Stasiun LRT EDSA.

Entah kenapa, Stasiun LRT EDSA selalu menjadi tempat pertama yang kutunjuk ketika memperhatikan peta transportasi kota itu. Seakan tempat itulah yang paling mudah dicapai dari Ninoy Aquino International Airport (NAIA). Kemudian dari stasiun tersebut, aku bisa menuju kemanapun sesuka hati menjelajah Manila.

EDSA adalah singkatan dari Epifanio de los Santos Avenue, nama jalan yang melintas di bawah stasiun LRT itu. Sedangkan Epifano de los Santos adalah nama sejarawan dan jurnalis terkenal Filipina.

Baiklah…Mari menuju Stasiun LRT EDSA dan mengenalnya lebih dekat.

Di luar bangunan terminal, security berseragam putih dengan high-powered firearms (senjata api bertenaga tinggi) memanggilku. Mereka rupanya memperhatikan aku yang sedang ragu memilih arah. Seingatku untuk menunggang Jeepney ke pusat kota, aku harus berbelok ke kiri dari exit gate terminal seperti saat kunjunganku ke Manila 2016 silam. Atau mungkin dulu turun di terminal yang berbeda kali ya?.

Security      :     “Hello Sir, come here, please!”, ucapnya dengan mimik tegas dan galak.

Aku              :     “Yes Sir”, perlahan aku mendekat, daripada menimbulkan masalah yang lebih besar.

Security      :     “Show your passport to me!”, dia menatapku tajam.

Aku              :     “This”, kuserahkan dengan tegas dan berani juga.

Security      :     “Where do you going in Manila?”, jawabnya sambil menyerahkan paspotku

Aku              :     “Can you show me, Where should I stop a bus or a  jeepney to Manila Baywalk?”.

Security      :     “It will better if you go to EDSA station, then you can go to Manila Baywalk from there”, dia menujuk ke sebuah jalan di kanan bangunan terminal.

Aku              :     “Thanks Sir

Security      :     “In Manila, if you don’t know Tagalog language, It will be better if you ask to the bus driver about their destination

Aku                    :  “Oh Okay I see”.

Aku keluar dari bangunan Terminal 1 NAIA.
Di halte kecil inilah aku menunggu bus kota menuju Stasiun LRT EDSA.

Aku terus memperhatikan setiap bus kota yang lewat, aku terus mencari tulisan EDSA di setiap kaca depan bus. Lima belas menit tak kunjung menemukannya, kuberanikan diri mulai bertanya pada setiap bus yang berhenti mengambil penumpang.

Aku                 :     “EDSA Station,Sir?”.

Kondektur    :     “No No No”,

Tanya jawab yang terulang-ulang terus hingga beberapa bus kota tak mempedulikanku karena aku bukanlah penumpangnya. Hingga akhirnya, merapatlah bus berwarnna krem kombinasi biru bertuliskan papan nama tujuan Boni, Ortigas, Cubao dan terakhir EDSA yang digantung berjajar ke bawah di kaca depannya. Tampaknya itu nama-nama stasiun LRT/MRT yang dilewati oleh bus itu.

Aku                 :     “EDSA ?”

Kondektur    :     “Come in!”

Aku memasuki bus itu dan duduk di bangku tengah sisi kanan. Di dashboard atas tertulis jelas Jayross Lucky Seven, nama perusahaan otobus itu. Bus kota yang lumayan nyaman, ber-AC dan LCD TV di bagian depan. Tak lama setelah duduk, seperti bus-bus umumnya di Indonesia, kondektur itu menghampiriku dan menarik ongkos perjalanan sebesar Rp. 9.000.

Akhirnya ketemu juga bus menuju Stasiun LRT EDSA.
Duduk dan bersiap menikmati jalanan kota Manila.

Ah, aku akan melewatkan untuk naik Jeepney kali ini. “Tak apalah, aku kan naik Jeepney ke NAIA saat pulang nanti”, batin memenangkanku. Tapi entah kenapa, tiba-tiba aku beranjak dari bangku ketika kondektur itu berteriak “EDSA….EDSA….EDSA”. Aku menangkap informasi bahwa aku telah sampai dan aku harus turun, kondektur itu tentu tak hafal satu per satu tujuan penumpangnya, sehingga membiarkanku melenggang turun dari pintu depan.

Bus itu pergi meninggalkanku. Tak tampak pertanda keberadaan jalur LRT yang terhafal jelas bentuknya di memori kepalaku dari kunjungan pertamaku dulu. “Ini belum sampai”, batinku tersenyum kecut, hingga sebuah Jeepney datang mendekat. “EDSA?” teriakku pada sopirnya. “Come on!”, jawabnya singkat. Aku naik dari pintu belakang. Entah aku masih di bilangan ke berapa dari Epifanio de los Santos Avenue. Akhirnya kesampaian lagi menaiki moda transportasi terpopuler di kalangan rakyat Filipina itu. Kini aku membayar lebih murah karena memang jaraknya sudah dekat dengan tujuan, hanya Rp. 3.000. Lima menit kemudian aku tiba di Stasiun LRT EDSA.

Naik Jeepney lagi.
Interior Jeepney, mirip angkot kan?.
Tempat Jeepney berhenti dan berangkat.

Aku hanya takjub dengan kesibukan aktivitas masyarakat Manila siang itu. Mirip jalanan di sekitaran Pasar Senen, Jakarta. Lama aku berdiri di sebuah lapak terbuka penjual buah-buahan segar. Memperhatikan kemacetan, lalu lalang Jeepney yang diperebutkan masyarakat kelas menengah ke bawah serta hilir mudik LRT Line 1 di atas kepalaku.

Ah waktu transit indah dan singkat yang kumiliki dan kunikmati……

Ini dia Stasiun LRT EDSA….Gimana bentuknya? Elok atau biasakah?

Salah Tanggal di Ninoy Aquino International Airport

Melayani 47 juta penumpang setiap tahun.

Philippine Airlines bernomor terbang PR 685 mendarat dengan mulus di salah satu runway Ninoy Aquino International Airport (NAIA). Pesawat berbadan besar itu dengan gagahnya melakukan taxiing menuju apron di Terminal 1. Seharusnya pesawat ini mendarat di Terminal 2, karena sedang proses renovasi maka terminal pun dialihkan. Terminal 1 sendiri adalah mainhub dari maskapai Cebu Pacific, sedangkan mainhub Philippine Airlines berada di Terminal 2.

Ini bukan pendaratan pertamaku di Philippines karena aku telah menjajah negeri itu empat tahun silam. Kini aku kembali mendarat di NAIA, bukan untuk berkunjung tetapi hanya untuk transit saja sebelum benar-benar tiba di Jakarta. Bukan Donny namanya kalau transit hanya digunakan untuk berdiam diri di bandara….Yes, aku akan menuju pusat kota dalam rentang waktu 7 jam masa transit.

Pemberian nama Ninoy Aquino International Airport sendiri didedikasikan untul Almarhum Ninoy Aquino Jr yang terbunuh di Terminal 1 selepas pulang dari pengasingannya di Amerika Serikat pada tahun 1983.

Aroma perayaan natal masih terasa @conveyor belt.
Tourist Information Center.
Arrival Hall.

PR 685 perlahan melewati hanggar milik Lufthansa Technik Philippines, Inc. yang merupakan perusahaan jasa maintenance pesawat di bandara itu, berpapasan dengan deretan maskapai kuning “Cebu Pacific” yang merupakan Low Cost Carrier (LCC) kebanggaan Negeri Duterte, melalui Terminal 2 Domestic Departure dan akhirnya berhenti di Terminal 1.

Staff cantik Philippine Airlines membawa papan kecil bertulis “transfer” dan berdiri di tengah koridor untuk mengumpulkan para penumpang yang akan meneruskan penerbangan ke destinasi berikutnya. Mereka akan dibawa oleh Airport Shuttle Transfer Service menuju ke Terminal 2. Aku yang menyatakan hendak menuju ke pusat kota semasa transit diberikan secarik kertas yang harus diisi dan akan dilampirkan bersama tiket menuju Jakarta untuk diserahkan ke konter imigrasi.

Staff Imigrasi : “Where will you go in transit time?”.

Aku : “Manila Baywalk, Sir

Staff Imigrasi : “What for?

Aku : “Just sightseeing, Sir”.

Percakapan singkat di konter imigrasi yang meloloskanku dengan stempel imigrasi Philippines di paspor hijauku. Aku harus bertanya kepada petugas Aviation Security demi menemukan lokasi penitipan bagasi untuk menaruh backpack supaya membuat langkahku menjadi lebih ringan menuju pusat kota. Aku menyerahkan Rp. 60.000 kepada petugas Baggage Assistance Counter dan dia menaruh backpackku pada sebuah rak.

Berburu Peso di money changer.
Baggage Assistance Counter.
Rak-rak penyimpanan bagasi milik Orbit Air Systems (Perusahaan ground handling di NAIA).

Melewari exit gate, aku menuju ke sebuah konter milik PLTD Enterprise yang menawarkan free SIM Card dengan brand “Smart 5G” untuk para traveler. Paket data yang mereka tawarkan kutolak dengan halus karena aku hanya membutuhkan layanan GPS saja dari prepaid SIM Card itu.

Departure

Setelah selesai dalam jelajah singkat kota, aku diturunkan sopir bus kota di Terminal 1. Menghemat waktu, aku menuju ke tempat penitipan bagasi dan mengambil backpack. Lalu menuju ruang tunggu Airport Shuttle Transfer Service untuk berpindah ke Terminal 2, terminal dimana aku akan terbang menuju Jakarta.

Terminal 2 sendiri selesai dibangun pada tahun 1998 dan dijuluki Terminal Centennial karena penyelesaiannya bertepatan dengan peringatan seratus tahun deklarasi kemerdekaan Philippines dari penjajahan Spanyol. Terminal ini awalnya dirancang oleh Aéroports de Paris.

Di depan Terminal 2, aku diturunkan. Banyak titik lokasi tertutup oleh papan proyek, menunjukkan bahwa terminal ini sedang direnovasi. Peso tersisa yang gagal tertukar di money changer Terminal 1 dengan alasan uang yang kutukar adalah adalah pecahan kecil, akhirnya bisa kutukarkan di sebuah money changer di luar bangunan Terminal 2. Kini Peso sudah berubah menjadi Dolar Amerika.

Sedikit insiden terjadi di konter imigrasi, seorang petugas imigrasi keturunan Spanyol sedikit bingung dan bertanya kepada staf imigrasi lainnya. Ternyata tanggal yang yang terstempel di pasporku saat memasuki Manila tadi pagi adalah masih tanggal esok hari.

Arah ke Airport Shuttle Transfer Service Terminal 1.
Airport Shuttle Transfer Service @Terminal 1.
Drop off zone Terminal 2.

Staff Imigrasi     :     “When do you entering Manila? “.

Aku                        :     “Last morning, Sir”.

Staff Imigrasi     :     “Why don’t you check  the date?

Aku                        :     “What’s wrong, Sir”.

Staff Imigrasi     :     “The date in your free visa is tomorrow”.

Aku                        :     “Oh I’m sorry, I don’t aware about it

Staff Imigrasi     :     “Can you show you arrival and departure boarding pass?

Aku                        :     “These are, Sir

Staff Imigrasi     :     “Okay, It’s no problem. You can go”.

Akhirnya aku diizinkan keluar Manila dan bersiap pulang ke tanah air. Aku merasa sangat tenang, karena telah tiba tiga jam sebelum boarding time. Tapi berjam-jam duduk di ruang tunggu, aku tak segera menenukan nomor penerbanganku PR 535 di layar informasi LCD. Aku memberanikan diri memasuki Mabuhay Lounge untuk menanyakan jadwal resmi penerbanganganku kepada staf Philippine Airlines yang bertugas di lounge reception. Dia mengatakan bahwa penerbangan mengalamai delay yang belum bisa diinformasikan hingga kapan, tetapi aku ditunjukkan nomor gate dimana aku harus menunggu yaitu Gate 11.

Baru sebentar aku duduk di Gate 11, terdengarlah pengumuman bahwa penerbangan ditunda hingga pukul 23:00 dikarenakan gangguan lalu lintas penerbangan sebagai dampak meletusnya gunung Taal di daerah Tagaytay.

Check-in counter.
Departure Hall.
Laptop station.
Mabuhay Lounge.
Waiting room di depan Gate 11.

Tepat pukul 23:00, aku mulai boarding dan meninggalkan banyak kesan di Ninoy Aquino International Airport.  Terimakasih NAIA, sampai jumpa lagi.

Philippine Airlines PR 685 dari Doha (DOH) ke Manila (MNL)

Jalur penerbangan PR 685 (sumber: https://www.radarbox.com).

Jika ingin merasakan sensasi menunggang airline komersial pertama di Asia maka naiklah Philippine Airlines, maka secara otomatis kamu akan tertasbih telah menaiki maskapai tertua di Benua Asia. Dan Philippine Airlines menjadi maskapai ke-28 yang kunaiki sepanjang perjalananku menjadi seorang backpacker.

Dimulai dengan insiden kecil  yang cukup membuat malu. Sore itu area depan konter check-in tampak melompong, kontan setelah nomor pernerbangan PR 685 berstatus “open”, aku melenggang kangkung menelusuri liukan alur yang dibentuk oleh boarder tape.

Dan tiba-tiba terdengar suara lantang….

Hi, please queue, Sir!” tegur ground staff yang otomatis mengerem langkahku. Dia menunjuk antrian penumpang asal Philippines yang bermula dari sebuah tiang bangunan. Mereka semua menertawakanku dan menyungkurkan mukaku dalam rasa malu. Berusaha tersenyum tetapi tetap saja tak bisa menyembunyikan kecut muka, aku melewati para penumpang itu yang hampir sepanjang antrian tertawa memandangiku. Hingga akhirnya, aku sudah berdiri di antrian, jauh di belakang.

Check-in counter.
Tiket ke-11 dalam petualangan akhir tahunku.

Meninggalkan area check-in dan menyelesaikan urusan di konter imigrasi, langkahku tertahan sekejap.

Asal mana pak?“, sapaku pada dua lelaki paruh baya yang sedari tadi memegangi paspor hijau bergambar garuda. “Loh, ada orang Indonesia nih, cak“, tegas seorang darinya kepada teman sebelahnya. Aku hanya tersenyum untuk menghangatkan suasana.

Naik Qatar Airways juga ya mas?“, pertanyaan yang mungkin berharap kita bertiga bisa terbang sepesawat. “Saya mampir Manila dulu pak, naik Philippine Airlines, tujuan akhir saya Jakarta. Bapak berdua mau kemana? “, tanyaku singkat sebelum berpisah. Kedua lelaki itu tampak berbenah memasukkan setiap berkas imigrasi, paspor dan tiketnya ke dalam tas. “Kami dari Surabaya, mas“, senyumnya hangatnya membuatku merasa tak jauh dari rumah.

Menurut tuturnya, kedua lelaki itu sedang ada tugas dari perusahaannya di Doha. Sedangkan aku menjawab dengan percaya diri bahwa aku baru saja selesai backpackeran sendirian di Timur Tengah. “Wah hebat si mas, keliling sendirian“, ucapan penutupnya sebelum kami berpisah menuju gate masing-masing.

Kemudian aku menuruni escalator dan melewati duty free zone di sekitar maskot “Lamp Bear”. Berlanjut lagi dengan menaiki escalator untuk menaiki skytrain menuju concourse D. Menemukan gate yang kumaksud, maka terduduklah aku sembari mengunyah paratha tersisa untuk makan malam sambil menunggu Philippine Airlines tiba menjemput.

Tepat pukul 20:45, aku mulai boarding melalui aerobridge. Aku memasuki pesawat dari koridor kabin sebelah kiri. Begitu terduduk di window seat berbilangan 39K, impian kemegahan kabin yang sedari semula saat membeli tiket akhirnya sirna.  Ternyata pesawat ini tak dilengkapi LCD screen di setiap bangkunya. Terbayang sudah, penerbangan panjang sejauh 7.277 Km ini pasti akan membosankan.

Airbus 330-300.
Sayap yang memamerkan kegagahan.
Mulai mencari tempat duduk.
Nah ini dia, tempat dudukku selama 9 jam 35 menit.

Aku duduk bersebelahan dengan wanita tambun di sisi kiri sedangkan di ujung baris terduduk lelaki paruh baya berpostur sebaliknya, jangkung dan kurus. Sembilan puluh persen penumpang tentu berkebangsaan Philippines. Karena ini pesawat negara mereka.

Aku terus memperhatikan pramugari berpotongan rambut bob, berlipstik ungu dan berpostur semampai. Siapa yang meragukan kecantikan para pinay, Philippines memang penghasil para wanita cantik di dunia….Hahaha.

Setelah mendemokan prosedur keselamatan terbang, pramugari dan pramugara itu membagikan amenities berupa selimut, handuk, sikat dan pasta gigi. Aku mulai membaca beberapa prosedur keamanan pesawat Airbus ini. Membaca infight magazinenya dan bersiap untuk santap malam kedua kali setelah take-off.

Thanks 12Go.
Selamat tinggal Hamad International Airport.
Selimut untuk setiap penumpang.
Mabuhay….Inflight magazine milik Philippine Airlines.

Sir, I have ordered the menu. My menu should  a Jain Meal, not Seafood Meal, Sir”, tanyaku pada seorang pramugara. “Dinner menu must be ordered 3 hours before flight, Have you order it?”, jawabnya sedikit tegas. Daripada menimbulkan keributan yang tak mengenakkan, aku mengalah saja. Begitulah aku, selalu menghindari gesekan dan cenderung mengalah pada setiap perselisihan….Hebat ya guwe, mulia banget….Hahaha.

Menu makan malam: nasi dan ikan laut.
Ternyata Jean Meal pesananku keluar di pagi hari bersama kopi…Oalah, ndeso tenan.
Indah sekali bukan, rentangan garis-garis emas bentukan pelita bumi Doha?. Lihat perairan Teluk Persia itu!.

Setelah semua penumpang selesai dengan dinnernya masing-masing, awak kabin mulai meminta setiap penumpang yang duduk di window seat untuk menutup jendela. Ah, aku tak mendengarkan perintah, malahan memperhatikan wajah ayu pramugari yang kukagumi sedari tadi. Aku baru tersadar akan perintah ketika pramugari itu tersenyum terus dan menunjuk jendelaku sembari menaik turunkan telunjuknya sebagai isyarat bagiku untuk segera menutupnya….”Iya mbak, aku ngerti kok, cuma sedang terpesona denganmu saja”, batinku menjawab senyumannya. Kejadian itu membuat penumpang di sebelahku tertawa….Kacau kan guwe?.

Malam itu penerbanganku sangat mulus tanpa turbulensi. Pilot menginformasikan bahwa aku sedang melaju di dalam selongsong terbang dengan kecepatan 800 Km per jam. Luar biasa. Malam itu aku tak tidur nyenyak, terus gelisah menunggu tiba di Manila. Entah sampai dimana, pramugari itu kembali berkeliling di koridor kabin dan meminta setiap penumpang di window seat untuk membuka kembali jendelanya.

Inilah drama alam yang baru pertama kali ku alami. Aku menutup jendela dalam gulita dan tiba-tiba membukanya dalam kondisi terang benderang. Bak permianan sulap di angkasa, matahari sepertinya lebih cepat muncul dari waktu normalnya.

Selamat pagi….Entah aku berada dimana?.
Gunung yang menyembul di kerumunan awan….Menakjubkan.

Antrian di setiap toilet begitu panjang. Dengan gagapnya, aku pun mulai mengantri. Aku harus bergosok gigi dan menyeka  muka dengan air hangat sebelum mendarat.  Inilah kegiatan sikat gigi di pesawat terbang untuk pertama kalinya dalam hidupku.

Tak lama setelah duduk kembali, pilot memberitahukan bahwa flag carrier milik Philippines ini akan segera mendarat di mainhubnya, yaitu Ninoy Aquino International Airport (NAIA). Maskapai berlogo dua layar biru dan merah yang melambangkan bendera kebesaran negara dan sunburst kuning delapan sinar ini akan mendarat di Terminal 1 sesuai rencana.

Bersiap mendarat di Manila.

Pesawat mendarat dengan mulusnya di runway dan kemudian taxiing dengan menampilkan pemandangan cepat tentang hiruk pikuknya suasana bandara. Aku pantas berterimakasih pada jasa maskapain berusia 79 tahun ini.

Rindu Cebu Pacific….Teringat menunggangnya empat tahun silam.
Thank you Philippine Airlines “The Heart of the Filipino”.

Saatnya transit dan menjelajah Manila dalam waktu singkat.

Yuksss…..Berkelana lagi!

Alternatif untuk tiket pesawat dari Doha ke Manila bisa dicari di 12Go atau link berikut: https://12go.asia/?z=3283832

Free Attractions Around Intramuros

2 January 2016.

Jalur Keliling Intramuros (Eng)

8:17am, I finished to check-in at Where2Next Hostel. Initially I would to go by LRT, but finally I decided to walk. A whole day I would visit venues in Intramuros. Distance from hostel to Intramuros is about 3.5 km and  I can reach by walk in 45 minutes…. but I stopped at several places, so it would be a long trip and would finish until afternoon.

The first impression of seeing the Philippine streets is…. “Jakarta is better” … .No far yet I walked along Adriatico Street, I found a child was still sleep on a bed of cardboard at sidewalk.

But I still could enjoy, because my traveling goal is to find the behaviors of the city … .. so I don’t look for something that always beautiful and nice.

I also found Arabic Kitchen Restaurant on this avenue …… just through….not for eat there….hahaha.

Rizal Monument.

After walking about 1,8 km to the northwest of Where2Next Hostel, I arrived at Rizal Park. But the tourist spot wasn’t the park, but the spot was Rizal Monument, because there was soldiers guarding this monument, so it becames a attraction for tourists.

CIMG1685

And a adding view for me was the Philippines giant flag on this monument. Yes, that’s my habit when traveling … .. looking for a giant flag of the country to photograph spot.

National Museum

After satisfied in Rizal Monument, I walked again about 1 km along Padre Burgos Avenue towards the National Museum. Before arriving at the National Museum, actually I through the Planetarium, because of wasn’t my destination, yesss I passed it.

CIMG1703

Free entrance for the National Museum. So I would be satisfied here. It is supposed to do …. The mandatory venue that must be visited in every country is their national museum. Because you can know the their history.

Dodger…. hahaha …..besides looking for giant flags, my habit is visiting free tourist spots… … if you ask to me why I do that … .. I will answer, my money is for trip tickets next year … ..hahaha.

Manila City Hall

I continued to walk about 500m to north along Taft Avenue to Manila City Hall. Oh yes, the Mayor of Manila works in this building. No long time sightseeing there, just taked some pictures around it because I’ve been impatient to come in the area of Intramuros.

IMG-20160102-WA0014

Intramuros Wall

After leaving Manila City Hall, I started to enter the gate of Intramuros. Clearly, the fort wall surrounds the old area of Intramuros. Amazing, in the fortress of Intramuros old town which more than 400 years old was used for government activities and people’s daily life.

This is one of many entrance Intramuros gates and it is nearest from Manila City Hall. About 300m walk along Victoria Street on west side of Manila City Hall. In Intramuros gate, I attached by Pedicab (Philippines tricycle rickshaw). Because of intend to walk, I rejected their offering. I let the driver give up for following me.

CIMG1717

San Agustin Church and Museum

I just admire the European style around the church, I didn’t come in to the museum, because tourists have to pay to see the museum.

CIMG1739

After satisfied, I had a lunch to 7-Eleven near the church. Spent enough for 42 pesos (Rp 12,600), I got lunch for the first day in Philippines. Here’s the details: 13 pesos (Rp 3,900) to pay 500ml mineral water and 29 pesos (Rp 8,700) for a lunch package of rice and tuna omlet was produced by Manila 7-Eleven. I noticed that in every 7-Eleven I visited in Manila, there was a mobile charging station, but the electricity was sold for 5 Pesos (Rp 1,500) and there was also a small machine labeled CLiQQ. I don’t know how to use it but every visitor who comes always come first to this machine. Some point are gived to loyal customers from it.

Palacio Del Gobernador Building

Located on General Luna Street in Southwest Plaza De Rome. This building is used for some offices. Two of them are the Philippines Election Commission Office and the administrative office of the Intramuros region.

CIMG1770

Cathedral of Manila

If you are at Plaza De Rome and facing the Palacio del Gobernador then this cathedral is on the left of you. Yesss, It is Manila’s cathedral……….. classic certainly.

CIMG1757

Bureau of Treasury Building

The building is facing the Palacio Del Gobernador each other and separated by Plaza De Rome in the middle. This elongated white building is the Philippines tax and financial office. So …. Palacio Del Gobernador Building, the Cathedral of Manila and the Bureau of Treasury Buliding surround a park called Plaza De Rome.

CIMG1752

Fort Santiago

From Plaza De Rome, I walked to Fort Santiago about 300 meters from it. Yes, the name is Fort … surely this is a old building of Manila city defense that was built when the Spanish colonial govern. When I went there, Fort Santiago had a celebration event, because of crowded, I just joined in. I’ve made itinerary to spend 80 pesos (Rp 24,000) for ticket, but I din’t spend out money for sightseeing around the Fort. I walked along Plaza Moriones for about 200m before reach Fort Santiago gate.

CIMG1794

Due to the late afternoon and drizzling, I decided to go to hostel by a 10 peso fare jeepney (Rp 3,000) to Central Terminal. I was dropped by driver across the Taft Avenue and must walked down to underground crossing Taft Avenue to reach Central Terminal. Crossing the tunnel  under Taft Avenue was actually terrible because of dull wall and quiet, but I felt comfortable because a security was assigned to guard the tunnel. He was provided a small table and chair for sit. Funny….a tunnel with a security…. hihihi.

From Central Terminal, I ride LRT Line 1 (yellow Line) and get off at Quirino Ave Terminal, just paid 12 pesos (Rp 3,600). Then continued by pedicab for 80 pesos (Rp 24.000) to go to Where2Next Hostel.

Tempat Wisata Gratis di Sekitar Intramuros

2 Januari 2016.

Jalur Keliling Intramuros (Eng)

Ini rute gw keliling Intramuros

Jam 8:17 selesai check-in di Where2Next Hostel. Awalnya mo naek LRT, tapi gw putusin jalan kaki aja. Seharian niat banget bakal habisin venue di Intramuros. Jarak hostel-Intramuros sekitar 3,5km sekitar 45 menit jalan kaki….tapi kan gw mampir-mampir, ya pasti bakal sampai sore disana.

Kesan pertama melihat jalanan Philippine….”Jakarta is better”….belum juga lama menyusuri Adriatico Street gw nemuin anak masih pulas dijalanan beralas potongan kardus.

Tapi gw sih tetap bisa menikmati, karena gw backpackeran tujuannya memang untuk lihat sifat dan tingkah laku sebuah kota….jadi ga selalu cari yang indah dan bagus.

Gw juga lihat Arabic Kitchen Restaurant……lewat doank tapi….hehehe

Rizal Monument.

Setelah berjalan 1,8 km ke barat laut  Where2Next Hostel gw  sampai di Rizal Park. Tetapi spot turis bukan terletak di tamannya tetapi di Rizal Monument nya, karena ada tentara yang menjaga monument ini sehingga menjadi atraksi tersendiri buat turis.

CIMG1685Dan nilai plus buat gw adalah ada bendera raksasa Philippine di monumen ini. Ya itulah kebiasaan gw saat traveling…..mencari bendera raksasa negara setempat untuk spot foto.

National Museum

Setelah puas di Rizal Monument, gw jalan lagi 1 km menyusuri jalanan Padre Burgos menuju National Museum. Sebelum sampai di National Museum sebetulnya gw lewat Planetarium, tapi karena bukan tujuan, ya gw lewatin aja.

CIMG1703Masuk National Museum ini free. Jadi gw bisa puas-puasin disini. Memang sudah seharusnya kan….venue wajib yang harus dikunjungi di setiap negara adalah museum nasionalnya. Karena gw bisa tahu sejarah bangsa itu.

Ngeles..hahaha…..maklum selain cari bendera, kebiasaan gw adalah mengunjungi tempat wisata gratisan……kalau ditanya kenapa gw begitu…..tinggal gw jawab, uangnya buat beli tiket trip tahun depan…..hahaha.

Manila City Hall

Gw lanjutin jalan 500m ke utara menyusuri Taft Avenue menuju Manila City Hall. Oh ya, walikota Manila bekerja di gedung ini ya gaes. Gw gak lama-lama disini, cuma numpang foto-foto bentar disekitar gedung karena udah ga sabar masuk ke area Intramuros

 

IMG-20160102-WA0014

Intramuros Wall

Selepas meninggalkan Manila City Hall, gw mulai masuk ke gerbang Intramuros. Terlihat jelas,  dinding banteng yang mengelilingi kawasan tua Intramuros. Takjub aja, didalam benteng kota tua Intramuros yang sudah berusia lebih dari 400 tahun dipakai aktivitas pemerintahan dan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Ini adalah salah satu gerbang masuk kawasan Intramuros terdekat dari Manila City Hall. Hanya berjarak 300m menyusuri Victoria Street di sebelah barat Manila City Hall. Di area ini gw sempat ditempel ama Pedicab (becaknya Philipina). Tapi karena gw niatnya jalan kaki ya terpaksa gw tolak terus. Gw biarin sampai si abangnya nyerah ngikutin gw.

CIMG1717

San Agustin Church and Museum.

Gw hanya mengagumi nuansa kental Eropa saja di sekitar gereja, gw ga masuk karena harus bayar lagi untuk melihat isi museum.

CIMG1739

Setelah puas berkeliling, gw mampir 7-Eleven dekat gereja. Cukup keluarin uang 42 peso (Rp. 12.600) gw sudah bisa lunch buat hari pertama di Philippine. Ini rinciannya: 13 peso (Rp. 3.900) buat bayar 500ml mineral water dan makan siang paket nasi dan omlet tuna produksi 7-Eleven Manila seharga 29 peso (Rp. 8.700).

Yang gw perhatikan, di setiap 7-Eleven yang gw kunjungi di Manila ada ada handphone charging station, tapi listriknya dijual 5 Peso (Rp. 1.500) dan juga ada mesin kecil bertuliskan CLiQQ. Gw sih ga tau cara gunainnya tapi setiap pengunjung yang datang selalu ke mesin ini. Kayak semacam pemberian poin untuk pelanggan setianya.

Palacio Del Gobernador Building

Terletek di General Luna Street di Barat Daya Plaza De Rome. Ini adalah bangunan yang digunakan untuk beberapa kantor. Salah satunya adalah Kantor Komisi Pemilihan Umum Philippine dan kantor administrasi wilayah Intramuros.

CIMG1770

 

Cathedral of Manila

Kalo lo di Plaza De Rome menghadap ke Palacio del Gobernador maka Katedral ini ada di sebelah kiri lo.  Yang jelas ini Katedralnya Manila………..klasik yang pasti

CIMG1757

Bureau of Treasury Buliding

Bangunan ini berhadap-hadapan dengan Palacio Del Gobernador dan dipisahkan oleh Plaza De Rome saja. Gedung warna putih memanjang ini adalah kantor pajak dan keuangannya Philippine.

So….Palacio Del Gobernador Building, Cathedral of Manila dan Bureau of Treasury Buliding berada mengelilingi taman yang bernama Plaza De Rome ya gaes.

CIMG1752

Fort Santiago

Dari Plaza De Rome gw lanjut jalan kaki ke Fort Santiago yang jaraknya Cuma 300-an meter. Ya namanya juga Fort…pasti ini bangunan benteng pertahanan kota Manila tempoe doeloe yang dibangun saat kolonial Spanyol berkuasa.

Waktu gw kesana Fort Santiago sedang ada acara hajatan begitu, karena saking ramainya gw ikut-ikutan masuk. Gw udah buat itinerary masuk Fort seharga 80 peso (Rp. 24.000), tapi pas disana gw malah kagak keluar uang sepeserpun keliling Fort ini. Gw susuri Plaza Moriones sepanjang 200m sebelum bener-bener masuk ke Fort Santiago.

CIMG1794

Karena keburu sore dan mulai gerimis gw putuskan pulangnya naik jeepney 10 peso (Rp. 3.000) ke Central Terminal. Gw diturunin abang sopirnya di seberang Taft Ave dan musti menyusuri penyeberangan bawah tanah untuk mencapai Central Terminal. Penyeberangan yang melewati bagian bawah jalan protokol Taft Ave ini sebetulnya boleh dibilang ngeri karena catnya burem dan sepi tetapi gw merasa nyaman saja karena ada 1 orang security ditugaskan menjaga terowongan ini. Bahkan si security disediakan meja kecil dan kursi untuk dia duduk. Lucu liatnya, diterowongan ada satpam….hihihi

Dari Central Terminal gw naik LRT Line 1 (yellow Line) dan  turun di Quirino Ave Terminal dan cukup membayar 12 peso (Rp. 3.600). Baru nyambung naik  pedicab 80 peso (Rp. 24.000) menuju Where2Next Hostel.